Neng Jacinda Jadi Mualaf Dong Biar Kita Meniqa

Sumber: Sunday Morning Herald 

Foto-foto PM Selandia Baru Jacinda Ardern pakai kerudung buat solidaritas korban teror Christchurch bikin akang kesengsem. Foto-fotonya itu lho, aduh euy, geulis pisan dan menggoda iman. Apalagi kalau pakai kosmetik yang teruji halalnya. Sudah pasti kecantikannya lebih paripurna dari pada sidang DPR yang isinya cuma 24 orang.

Waktu neng pakai kerudung hitam longgar sambil rambutnya masih keliatan, akang tuh gelisah. Geli geli basah. Bagian yang tertutup malah bikin akang tambah penasaran dengan sosok neng Jacinda. Lekuk pundaknya dan pipinya bikin akang ingin memperbanyak keturunan membangun bahtera rumah tangga.

Akang ingin sekali mengelus pipinya neng sambil diiringi lagu Doel Sumbang. Kalau neng marah akang bilang saja kerudungnya kurang tertutup. Kalau udah pakai yang tertutup, nanti akang colek lagi, terus bilang lagi menguji. Saya kan laki-laki jadi nggak apa-apa dong nggak bisa mengontrol diri, lemah melawan syahwat sendiri.

Tapi eh ngomong-ngomong neng Jacinda mau berkerudung sampai kapan? Engga mau istiqomah aja sekalian buat selamanya? Kebetulan di kota saya ada toko kerudung yang suka diskon besar. Promosi diskonnya suka pakai isu politik global. Padahal di pabriknya, buruhnya disuruh kerja delapan jam berdiri cuma boleh istirahat sekali.

Akang mah nggak peduli kalau neng sudah membela korban Christchurch dengan prinsip-prinsip kemerdekaan individu, keberagaman, hak asasi manusia, terserah neng. Mau perketat aturan senjata juga silakan. Merangkul dan melindungi warga Selandia Baru tanpa pandang bulu, mayoritas atau minoritas, mangga. Mau jadi pemimpin dunia untuk memerangi Islamophobia, lanjutkan. 

Buat Akang mah, yang penting neng berkerudung. Keberanian, ketegasan, dan kepintaran mah nomor sekian. Yang penting cantik sesuai sama standar agama menurut saya. Harus menurut akang sendiri, soalnya akang bener.

Saking penasarannya kagumnya sama neng, akang sampai Googling tentang neng Jacinda. Apalagi kalau bukan penasaran sama agama neng. Ternyata emang banyak yang punya pikiran sama. ‘Jacinda Ardern agama’ itu jadi suggested keyword nomor 3 di Indonesia. Nggak ada yang nyari sikap atau kebijakan. Pokoknya kalau udah satu agama, semuanya sudah benar.

Tapi, akang tuh kecewa pisan ketika tahu neng Jacinda agnostik, percaya Tuhan tapi nggak terikat sama agama manapun. Kalau beda agama mah susah neng. Soalnya menurut saya, mau neng berlaku baik sampai gimana juga tetap nggak jadi pahala kalau belum satu agama. Buat akang mah yang boleh masuk surga cuma yang satu agama. Soalnya aku mah maruk (serakah).

Sebaliknya, kalau satu agama pasti enak deh. Korupsi Al-Quran atau dana haji aja nggak bakal didemo, orang pasti lupa meski itu pakai uang negara. Disuap karena jual beli jabatan, bilang aja dijebak. Mau gelapin uang dari usaha perjalanan haji terus dipakai buat fashion show ke New York juga tyda apa-apa.

Sekarang akang nawarin, deh, neng Jacinda mau sekalian pindah agama? Mau ya neng? Sekalian akang kenalin ke petugas KUA. Biar kita sekalian meniqa. Kali-kali neng Jacinda berkenan jadi isteri ke-sekian akang. Plis, neng, supaya saya kelihatan tambah sholeh di mata orang-orang. *


*Penulis, kuli tinta yang suka main dengan kucing tetangga.


Comments

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Ketika Berita Saya Dicap “Pro-LGBT”