Tentang Kuliah di Filipina

www.global.ateneo.edu

Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih banyak atas segala doa, dukungan, dan ucapan selamat yang teman-teman, mbak mas, ibu bapak semua sampaikan. Saya tidak akan bisa kuliah lagi tanpa dorongan tanpa henti dari semuanya.

Bersamaan dengan ucapan itu, ada beberapa teman yang bertanya mengenai studi saya. Saya sudah menjawabnya secara pribadi namun ingin juga membaginya dengan khalayak lebih luas. Dan jika ada yang punya rasa ingin tahu, mungkin jawaban-jawaban ini bisa membantu memenuhinya.

1. Kamu keterima di mana?
Saya diterima sebagai mahasiswa di Ateneo de Manila University, Filipina, yang berdiri sejak 1859, salah satu universitas tertua di negara itu. Di Ateneo, ada Asian Center for Journalism (ACFJ), sebuah pusat studi jurnalistik. Saya mengambil “visual journalism”, di mana saya akan belajar visual fundamentals, visual literacy, multimedia production, dan multimedia practices. Program diploma pascasarjana ini akan berjalan setahun sampai akhir 2019.

2. Kamu dapat beasiswa apa?
Studi saya didukung Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) yang saya dapatkan Agustus 2018. KAS adalah lembaga Jerman. Namun beasiswa yang saya dapatkan adalah untuk kuliah di universitas Asia untuk S2 di bidang jurnalisme atau komunikasi politik. KAS adalah juga lembaga yang bekerjasama dengan Ateneo dalam mendirikan ACFJ.

3. Kenapa di Filipina dan tidak di Indonesia saja?
Ingat Rappler? Ya, itu media dari Filipina. Ketika masuk Indonesia, Rappler membuat terobosan dengan menggabungkan produk jurnalistik dengan online platform (live tweet, Facebook live, dll). Secara praktik konvergensi, Filipina sudah lebih maju. Secara akademik pun, kurikulum jurnalistik di negara itu sudah lebih mutakhir. Misalnya belajar data journalism saat S1, bandingkan dengan Indonesia yang baru sebatas pelatihan bagi jurnalis profesional. Ilmu-ilmu semacam ini belum ada di Indonesia, di mana kebanyakan sekolah komunikasinya menawarkan S2 komunikasi dengan kekhususan akademik, politik, atau korporasi.

4. Kamu pindah ke Manila, Filipina?
Tidak. Saya akan tetap di Indonesia. Program ini menawarkan metode distant learning sehingga saya tidak harus ke Manila. Di sisi lain, program ini mengharuskan saya tetap membuat produk jurnalistik, sesuatu yang lebih mungkin saya lakukan di Indonesia. Saya akan ke Manila sekitar November-Desember untuk final project.

5. Bukannya kemarin sudah belajar di Amerika?
Bukan. Di Amerika Serikat kemarin adalah program fellowship dari VOA untuk bekerja selama satu tahun di kantor pusat di Washington DC. Ini bukanlah program akademik.

6. Kamu nggak jadi ke Hong Kong, Jepang, atau Singapura? 
Hong Kong gagal; Jepang baru mau proses daftar tapi keburu dapat yang Filipina ini; Singapura tidak masuk daftar sasaran saya karena tidak punya program jurnalistik hanya ada media management.

7. Abis kuliah lagi mau ngapain?
Terus bekerja sebagai jurnalis di Indonesia dan mengembangkan praktik jurnalisme multimedia. Ingin menyebarkan ilmu lewat berbagai pelatihan buat sesama jurnalis, mahasiswa, dan masyarakat umum. Ingin kolaborasi dengan akademisi komunikasi untuk menulis buku tentang jurnalisme multimedia. Lalu, mungkin tahun depan, saya mau kuliah lagi untuk gelar akademik.