Kenapa #StraightPride Membuatmu Nampak Tolol?

Untuk heteroseksual yang ketakutan


Pekan lalu saya baru bangun tidur ketika membuka Facebook saya. Di linimasa, mata saya langsung memincing pada poster bertuliskan #StraightPride, dan masih bingung karenanya hingga kini.

Saya bukan gay, dan saya tidak punya rencana menikahi lelaki. Saya sendiri masih nggak ngerti kenapa ada yang merasa terancam dengan kebijakan Mahkamah Agung Amerika Serikat itu. Soalnya itu kan di negara Paman Sam. Tapi seandainya saya warga negara Amerika Serikat pun, saya tetap akan membiarkan aturan itu dengan 3 alasan.

Keputusan Mahkamah Agung Amerika hanya menyatakan pernikahan sesama jenis disahkan oleh negara. Mahkamah tidak memaksa seluruh warganya menikah dengan sesama jenis toh? Jadi kalau Anda lelaki yang menyukai perempuan, ya nikahilah perempuan. Beres!

Apakah Anda sekretaris yang mengurusi kehidupan pribadi setiap orang?

Hey, Anda tidak boleh makan cokelat karena saya lagi diet. Anda tak boleh berolahraga karena saya sedang capek. Loh, apa hak saya melarang-larang? Karena itu Anda juga tak berhak memaksa orang lain tidak makan karena Anda sedang puasa. Juga Anda tidak berhak melarang pernikahan sesama jenis karena Anda tidak melakukannya. 

Alasan selanjutnya: homoseksualitas bukan penyakit, juga bukan penyakit menular. Ilmu pengetahuan---dengan metode yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan---telah menyatakan bahwa homoseksualitas adalah variasi orientasi seks. Bukan penyakit. Bukan penyakit menular. Homoseksualitas juga sudah dicoret dari daftar penyakit jiwa World Health Organization (WHO) sejak 1990. Banyak yang percaya orientasi seksual adalah genetik---meski ini masih diperdebatkan.

Ingat, legalisasi hukum tidak otomatis membuat jumlah homo berlipat ganda. Toh homo akan tetap demikian sebagaimana hetero akan tetap demikian. Kelompok homo tidak akan melahirkan anak-anak yang otomatis homo---toh mereka tidak bisa melakukan pro-kreasi. 

Alasan terakhir adalah sikap negara. Dengan mengeluarkan kebijakan ini, Amerika mengatakan homo juga warga negara yang punya hak-hak sipil yang sama dengan hetero. Siapa pun sama di hadapan hukum dan dilindungi. Dan Anda tidak perlu jadi homo untuk menghormati hak-hak mereka.

Legalisasi ini adalah kesetaraan antara hetero-homo. Bukan kemenangan homo atas hetero seperti yang dibilang orang-orang. Well, kalau orang yang suka menindas dan punya otak sengklek sih pikirannya kalah-menang terus. Susah emang.

Amerika juga telah pamit dari ruang privat warganya dan tidak ikut campur. Pemerintahnya menetapkan diri hanya mengurus ruang publik: korupsi, kemiskinan, dan keamanan. Di tanah air, kondisinya terbalik. Korupsi yang jelas merugikan rakyat dibiarkan, masalah orientasi seks diricuhkan.
 
Kini, jika hetero tidak setuju dengan homo, menganggapnya berdosa, itu terserah. Biar Tuhan yang memutuskannya di surga. Kini yang penting jangan saling berkelahi dan mari hidup bersama-sama selama di dunia.

Kalau Anda yakin sebagai hetero, ya sudah, jalani. Jadi hetero kok merasa inferior? Jangan-jangan Anda sebetulnya merasa homo tapi takut mengungkapkannya? Lalu Anda hanya bisa kesal sendiri sambil memposting poster-poster bertuliskan #StraightPride sebagai pelampiasan? 

Duh, kasihan!


Gay Pride tidak lahir untuk merayakan gay, tapi hak untuk hidup tanpa siksaan. Jadi, ketimbang berpikir kenapa tak ada Straight Pride, bersyukurlah karena itu tidak perlu ada.

Comments

  1. well said, Yo... terima kasih untuk tulisannya... :-)

    ReplyDelete
  2. Ini keren banget!! Thanks udah mengisi waktu saya barusan dengan bacaan yang bermutu *bro hugs*

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM