Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Untuk yang penasaran dengan nama saya.




Singkat kata, "Tuasikal" adalah nama keluarga. Itu merupakan marga dari ayah saya, pemberian kakek yang asli Ambon. Iya, nama ini sama dengan Amri Tuasikal, Anggota DPR yang diberitakan nikah siri dengan penyanyi Cita Citata.

Saya sudah hapal betul bagaimana teman-teman dan guru saya semasa kecil kesulitan mengucapkannya, kepeleset menjadi Tausikal, atau yang paling parah adalah menjadikannya lelucon "tua bangka" suka-suka mereka.

Dulu saya bahkan menyembunyikan nama itu. Saya lebih memilih menggunakan nama depan dan tengah saya "Rio Rahadian" lalu menyingkat marga itu jadi "T." saja. Namun, semasa kuliah, ada sesuatu yang menarik saya untuk kembali ke akar Ambon. Maka saya menulisnya lengkap, dan belakangan mengganti nama seluruh media sosial saya justru menjadi "Rio Tuasikal". Bonus: "Rio Tuasikal" hanya ada satu di Google!

Menyandang nama Tuasikal ini sebetulnya repot juga. Sebab saya harus menjelaskan kompleksitas sejarah kenapa saya punya nama itu. Template-nya adalah itu marga Ambon dari kakek, dia migrasi ke Pulau Jawa; Dia kemudian menikah dengan nenek yang orang Sunda, menghasilkan ayah saya yang berdarah separuh Ambon namun besar di tanah Pasundan; Lalu ayah saya menikah dengan ibu yang orang Tasikmalaya.

Ambon, Maluku (Google Maps)

Kemudian muncul masalah baru: menjelaskan identitas saya yang culturally ambigous. Saya lahir di Tasikmalaya, tumbuh dan sekolah di Bandung, bekerja di Jakarta. Namun saya tidak bisa berbicara bahasa Sunda secara lancar, logat Sunda saya nyaris tidak ada, karena di rumah pakai bahasa Indonesia.

Mengaku Ambon juga tidak bisa. Saya tidak berbudaya atau berbahasa Ambon. Dan dengan melihat fitur wajah Ambon-Sunda saya, tidak ada yang percaya akan itu semua!

Paling sering adalah saya dikira Kristen karena namanya terdengar "Indonesia Timur". Padahal Tuasikal adalah marga (atau di Ambon dikenal sebagai fam) muslim. 

Paling sedih adalah kalau ada orang Ambon (yang mengenali saya dari fitur wajah atau nama) bertanya ke saya: "kapan terakhir pulang ke Ambon?". Jawaban saya getir: "belum pernah" lalu saya menjelaskan kisah migrasi kakek saya kembali. 

Adik Saya ke Tanah Leluhur di Ambon

Ayah saya lima bersaudara, dan semuanya termasuk sepupu saya (secara tragis namun juga entah untuk apa) belum pernah ke Ambon. Sampai tiba-tiba tahun ini adik saya Riz Tuasikal yang bekuliah di Universitas Gadjah Mada harus KKN, dan dia memilih untuk melakukannya di Ambon, Maluku!

Saya sedikit banyak merasa penasaran sekaligus bangga. Akhirnya ada juga yang ke tanah leluhur. Seperti apakah rasanya pulang ke kampung kakek? Apakah masih ada saudara jauh yang mengenali adik saya?

Adik saya sampai di Ambon Juni kemarin dan apa yang terjadi melampaui bayangan saya. 

"Kakak tahu nggak kalau desa tempat ade KKN ternyata desanya opah (kakek)?" ujarnya saat kami chatting lewat Instagram message, menyebut Desa Oryana.

"Wah beneran?" saya merasa takjub.

Jadi ketika sampai Ambon, adik saya menginap di rumah warga yang ternyata marga Tuasikal juga. Saat mengobrol, adik saya menceritakan kisah kakek (seperti template saya di atas) dan terkejutlah dia. Lelaki itu, yang adik saya panggil om Syarif, mengonfirmasi nama kakek "Muhammad Tuasikal toh?"

Rupanya kampung itu tidak pernah mendengar kabar kakek saya setibanya di Pulau Jawa. Selanjutnya adalah drama. Adik saya menceritakan dua kejadian di mana orang memeluknya sambil menangis. Kemudian muncul kerabat kakek kami yang terkejut dengan kehadiran cucu temannya ini! 

Adik saya bertemu om Amin, yang ternyata keponakan kakek, dan secara bangga mengenalkan adik saya sebagai "Ini beta punya anak." Bagian terbaiknya adalah adik saya mendapat THR lebaran total Rp 500 ribu dari jajaran om dan kakak sepupu barunya.

Adik saya (kiri) bersama sepupunya yang hilang. Sebetulnya yang hilang adalah adik saya haha..
(gambar: IG @rizraharyan)

Kisah adik saya mengajarkan saya banyak hal. Dulu mungkin saya sungkan menyandang nama ini. Namun setelah semuanya, ada sebagian diri saya yang ingin menelusuri akar Ambon ini --- di samping akar Tasikmalaya-Sumedang dari ibu. Meski saya tidak bisa berbahasa Ambon (dan hanya pernah makan ikan kuah kuning sekali) saya tetap mewarisi darah itu. Terlihat di wajah dan warna kulit saya. Dan saya bangga memilikinya. 

Comments

  1. Hah aku seneng parah bacanya! Hahaha. Adik kamu kebetulan KKN di sana itu what are the odds, kan? Semoga kapan-kapan kamu juga bisa ke sana ya, Rio!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ya ampun Gita kamu kok girang sih? Iya, sebuah kesempatan yang bikin takjub kan? Amin semoga bisa ke sana :) Thanks for stepping by

      Delete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran