Friday, December 19, 2014

[Audio] Membuka Segel Masjid Kami

Simak di Saga portalkbr.com



Tiga hari sebelum Ramadhan, masjid Nur Khilafat milik jemaat muslim Ahmadiyah Ciamis disegel bupati. Keputusan ini dibuat atas desakan kelompok intoleran. Jemaat sudah memprotes bupati namun tidak dapat jawaban. Seminggu berlalu, mereka membuka segel masjid mereka sendiri. Saya datang ke lokasi di detik-detik pembukaan segel.

SAGA KBR 68H
Membuka Segel Masjid Kami I
SAGA KBR 68H
Membuka Segel Masjid Kami II

Thursday, November 27, 2014

150km, Kejujuran dan Rasa Hormat*


“Pakai KTM atau yang biasa?” tanya petugas travel Jakarta-Bandung itu pada saya, sore hujan itu. 
 
Nah, inilah dia. Pertanyaan ini lagi-lagi keluar. Program promosi untuk mahasiswa itu menawarkan potongan harga dua puluh ribu rupiah. Syaratnya hanya fotokopi kartu tanda mahasiswa. 
 
Saya sudah lulus tahun lalu, dan saya selalu menolak tawaran diskon tersebut, selalu bilang tidak. Tapi khusus saat itu pikiran saya berkata lain, “Sekali ini saja. Tidak apa-apa. Tidak ada yang tahu.” Lidah saya lalu angkat bicara: Lumayan untuk segelas full-leaf brewed tea di gerai kopi terkemuka berinisial S.

Saya menimbang-nimbang. Ini kesempatan langka. Toh petugas itu tidak akan repot-repot mencek status mahasiswa saya ke almamater. Lagi pula selama ini saya jujur. Tak apalah sekali ini, sebagai hadiah bagi usaha saya bertahan setahun penuh.

Untuk pertama kali akhirnya saya bicara, “KTM mas.” Lalu selembar uang hijau pulang ke dompet saya.

Thursday, September 25, 2014

Gelisah Bersama Wahib*

Oleh Rio Tuasikal


Siang terik di bundaran HI Jakarta, perayaan Hari Perdamaian Internasional. Saya bertemu Ridho, 20 tahun, yang baru menampilkan tarian modern dalam acara itu bersama 4 temannya. Kini dia duduk-duduk di trotoar dengan sesama anggota Next Step Crew. Dia menceritakan pada saya, pendapatnya soal perdamaian.

“Perdamaian adalah ketika semuanya indah,” katanya lalu tersenyum canggung.

Saya mendengar jawaban Ridho sambil tersenyum. Jawabannya mungkin tidak secerkas Ahmad Wahib, yang bila ditanya pertanyaan yang sama bisa menjabarkan A hingga Z. Teologis ke sosiologis, runut dan sistematis, dan bahkan menjadi satu catatan harian tersendiri. Tapi, setidaknya, Ridho berbagi kegelisahan yang sama dengan Wahib di usia yang pula sama.

Kemudian saya seperti melihat diri saya sendiri ketika Ridho menceritakan pendapatnya soal kelompok intoleran. “Mereka seperti tidak punya agama. Orang yang beragama tidak akan merusak hubungan antar-agama,” katanya.

Saya seperti bercermin. Seketika saya seperti menembus waktu dan kembali ke dua tahun lalu. Saat saya berusia 20 tahun. Saat saya mulai merasakan kegelisahan yang sama.

Kala itu saya jengah dengan sikap sejumlah orang yang mengatasnamakan agama untuk aniaya. Saya tidak habis pikir, bagaimana bibir orang bisa meneriakkan nama Tuhan dan di waktu yang sama ada orang berdarah karena tangannya. Saya tidak pernah menemukan jawabannya hingga sekarang.

Saya muslim dan saya gelisah. Saat itu saya tak punya tempat mengadu, bahkan Tuhan sekali pun. Sebab saya merasa Tuhan sendiri jadi menyeramkan. Karenanya saya diam dan memilih membisu, mengurung diri dari keramaian wacana.

Tuesday, August 26, 2014

3 Dilema Jurnalisme yang Tak Dipelajari di Kampus


Setengah tahun jadi jurnalis membuat saya ingin membuang buku-buku teks jurnalisme selama kuliah. Betapa tidak, mereka tidak memberikan banyak solusi atas dilema yang saya temui di lapangan. Saya tidak sedang mengatakan ‘berhenti baca bukumu', tapi ini soal ‘bersiaplah dengan hal-hal berikut'. 

Setia pada fakta vs menarik pembaca   

Satu kali saya menulis Jokowi yang menginstruksikan dinas DKI Jakarta membersihkan insfrastruktur kota. Saya menggunakan kata menginstruksikan ketika media-media online menggunakan memarahi. Saya ditelepon oleh editor kenapa angle berita saya basi, tapi saya tegaskan padanya Jokowi tidaklah marah. Bahkan kepala dinas beberapa kali tertawa.

Di lain waktu saya menulis KontraS yang berharap pemerintah menuntaskan kasus-kasus HAM. Seperti jurnalis lainnya, saya tidak menggunakan kata berharap, melainkan meminta, mendesak, memaksa, semata-mata agar beritanya lebih menggigit.   

Jurnalisme inilah yang belakangan saya lihat lebih tertarik dengan sensasi, dan nyaris menuju pelintiran. Saya menduga ini dimulai dengan jurnalisme online yang ringkas, permukaan, dan perlu menarik pembaca segera.   

Jurnalis harus tetap menulis apa adanya. Kalau memang merasa perlu melebihkan perkara, menggunakan kata-kata yang lebih kentara, berarti kejadiannya memang kurang nilai berita. Tidak usah ditulis saja.   

Rekaman eksklusif vs persahabatan jurnalis

Beberapa kali jurnalis lain ada yang meminta rekaman suara saya karena dia datang telambat. Saya usahakan menolak, sebagaimana kantor saya melarang meminta salinan pada orang lain. Namun saya dihadapkan dengan kemungkinan dimusuhi jurnalis lain, dan tidak mendapatkan informasi-informasi menarik yang bisa saja mereka punya.   

Amplop   

Memang mudah berkata tidak mengambil amplop berisi uang sogokan. Tapi kini, uang itu telah mengambil bentuk lain menjadi isi goodie bag sebuah seminar. Misalnya kaos kampanye, tempat minum, buku, bahkan flashdisk.

Aliansi Jurnalis Indepeden (AJI) mematok barang bisa diterima asalkan harganya di bawah 50 ribu Rupiah, dan barang elektronik semisal flashdisk harus ditolak meski kini harganya murah. Bagaimana dengan makan siang untuk wartawan, yang nasi kotak mungkin bisa diterima, tapi makan siang prasmanan di hotel ternama? Apa yang menjamin jurnalis tidak terpengaruh kaos dan makan siang?

Memasuki dunia jurnalisme adalah siap menghadapi segala kemungkinan. Selamat bersiap diri.***

Foto milik mashable.com

Sunday, August 17, 2014

Berpegangan Tangan dalam Kepelangian



Tanggal 17 Agustus bagi jemaat Ahmadiyah bukanlah soal upacara, lomba makan kerupuk, atau karnaval. Hari kemerdekaan baginya adalah sekali lagi menagih janji negara yang belakangan menelantarkan mereka.

Semua tahu lagu Indonesia Raya diciptakan oleh W. R. Soepratman. Namun tak banyak yang tahu sang maestro adalah penganut Ahmadiyah.

Sudah 69 tahun lagu itu berkumandang di seantero negeri. Selama itu pula jemaat Ahmadiyah hidup sebagai warga negara Indonesia. Namun belakangan, kehidupan mereka diganggu oleh kelompok yang dibutakan oleh prasangka berkedok agama.

Kelompok Ahmadiyah pun jadi korban serangkaian kekerasan sejak Lombok (2002), Parung (2005), Manis Lor (2010), Cisalada (2010), Cikeusik (2011), Bandung (2012), plus sederet peristiwa lainnya. Mereka terluka, sebagian tewas, sementara perlindungan negara entah pergi ke mana.

Di Lombok, mereka terpaksa mengungsi di penampungan selama 8 tahun. Mereka tinggal di aula besar dan setiap keluarga hanya dibatasi kain serta kardus. Pasangan suami istri harus berhubungan seks dalam diam karena bisa saja dipergoki oleh anak tetangga.

Mereka jadi korban karena, tak ada alasan lain, iman mereka. Mereka manusia tapi tidak diperlakukan selayaknya manusia. Luka sobek bisa sembuh dalam sepekan. Namun perasaan mereka yang diinjak-injak akan selamanya berbekas dalam ingatan.

Bagaimana bisa kita begitu munafik menyanyikan lagu ciptaan Ahmadi, sementara kelompoknya kita usir dari rumah mereka?

Ingat pula jemaat GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Syiah Sampang, dan lainnya, yang juga sama-sama warga Indonesia seperti saya dan Anda. Masih sudikah mereka jadi bagian bangsa yang mau menerima mereka asalkan mereka jadi orang lain?

Soekarno dan Hatta tidak pernah mempermasalahkan kepercayaan Soepratman saat memilih lagu Indonesia Raya sebagai pengiring kemerdekaan. Begitu pula jajaran pendiri bangsa sepakat melupakan perbedaan agama dan memilih bekerjasama demi mimpi jadi bangsa merdeka. 

Mereka berjanji membangun negara di mana setiap orang diterima sebagaimana dirinya sendiri. Mereka sepakat jadi bangsa di mana tidak ada satu orang pun, atas alasan apa pun, bisa didiskriminasi.

Pendahulu kita telah berjanji berpegangan tangan dalam kepelangian. Kini beranikah kita, sekali lagi, mengulangnya?***

Tuesday, July 8, 2014

Saya Tidak Akan Memilih Prabowo, Selamanya

Dinis menghabiskan seluruh masa remajanya untuk mencari sang ayah. Kini Dinis berusia 18 tahun, dan ayahnya menghilang sebelum Dinis berusia 3 tahun. Dinis adalah puteri Yadin Muhidin, aktivis yang jadi korban penculikan Mei 1998. Hingga hari ini Dinis hanya bisa menerka-nerka di mana ayahnya. Kalaulah ayahnya telah mati, bagi Dinis itu lebih baik dari pada menunggu dalam ketidakpastian.
Ayah Dinis pernah memprotes kebijakan pemerintah Seoharto yang menindas. Kini dia hilang. Sangatlah mudah untuk benak saya bicara: ada yang salah.
Saya tidak bisa membayangkan bila sayalah Dinis itu. Entah bagaimana saya bisa bertahan dengan hidup yang demikian. Saya harus menelusuri setiap informasi sumir yang didapatkan, mengikuti sumber data yang selalu enggan mengungkapkan, menenangkan ibu yang dirundung sedih berkepanjangan, sambil diam-diam berdoa pada Tuhan supaya ayah segera ditemukan---apapun keadaannya.
Kini Prabowo Subianto yang diduga menculik ayah Dinis maju jadi calon presiden Indonesia. Kita telah ditantang keadaan untuk kembali melibatkan benak terdalam. Bagaimana bisa terduga penculik ingin jadi pemimpin bangsa? Memang, Prabowo belum diputuskan bersalah atau tidak, sebab pengadilan belum dibuat. Namun status abu-abu Prabowo adalah seperti membeli kucing di dalam karung---bahkan lebih berbahaya.
Kita ingin calon presiden kita jelas, bersalah atau tidak? Kalau merasa tidak bersalah, bawalah segala bukti, jelaskan semuanya pada Komnas HAM, Kejaksaan Agung, dan Dewan Pertimbangan Presiden. Jangan hanya diam dan menyuruh tim sukses serta simpatisan membantah semua dugaan. Buktikan.
Kalau pun dugaan penculikan ini dikesampingkan, Prabowo tetap dibuntuti sederet potensi masalah. Prabowo punya koalisi obesitas. Di dalamnya, ada Hatta Radjasa yang anaknya tidak dipenjara setelah menewaskan 2 orang lewat tabrakan, serta Aburizal Bakrie yang bertanggungjawab atas berubahnya Sidoarjo jadi lautan lumpur.
Prabowo juga berkoalisi dengan dua partai Islam PPP dan PKS. Bekas menteri agama dari PPP dan gubernur Jawa Barat dari PKS kerap berkomentar menyakitkan terhadap korban intoleransi seperti Ahmadiyah dan Syiah. Kemudian Prabowo juga didukung oleh FPI yang ikut bertanggung jawab atas intoleransi tadi.
Prabowo juga didukung oleh musisi Ahmad Dhani, yang dalam lagu kampanye Prabowo memakai baju pejabat militer Nazi Jerman. Gerakan Nazi yang rasis dan fasis telah membunuh jutaan Yahudi di Jerman. Praktis Dhani disebut kalangan internasional sebagai tidak sensitif.
Prabowo juga gembar-gembor membawa nuansa Orde Baru yang militeristik. Kita tahu Orde Baru adalah rangkuman dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Orde Baru adalah masa ketika pendapat warga dibungkam, dan 13 orang bisa hilang begitu saja dengan dalih menyelamatkan ratusan juta warga lainnya. Ingat, Orde Baru juga telah menggusur lahan petani atas nama pembangunan!
Mari kita cek daftarnya. Koalisi kebal hukum, kader menyebalkan, artis fasis, nuansa militer dan pemerintahan yang anti-kritik. Semuanya komposisi sempurna untuk pemerintahan yang diktatoris, diskriminatif, dan menindas. Potensi ini berkumpul di telapak tangan Prabowo Subianto.
Tak perlulah kita membahas hak azasi manusia. Ini bukan soal pengadilan Ad Hoc yang diteriakkan para aktivis di seberang Istana Negara. Pun bukan soal instrumen HAM internasional yang dicetuskan PBB. Ini bukan soal peta politik Indonesia, bukan soal pilpres saja.
Ini soal benak kita, soal Dinis yang mencari ayahnya. Ditambah 12 keluarga aktivis lain yang sudah 16 tahun menanti kabar anggota keluarga mereka. Memilih Prabowo adalah tega membiarkan Dinis menunggu lagi 5 tahun, 10 tahun, atau mungkin selamanya.
Ini juga soal kemungkinan anggota keluarga kita hilang jika Prabowo berkuasa. Dan itu bisa siapa saja: ayah, ibu, kakak, adik, saya, Anda sendiri.
Esok Dinis akan menentukan pilihan, begitu pun saya, dan Anda. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ayah Anda hilang karena dianggap menganggu roda pemerintahan. Silakan pilih Prabowo jika Anda mau nasi yang Anda makan adalah buah tangan petani yang lahannya digusur oleh pemerintah berdarah. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ibadah di seberang Istana Negara karena kebetulan Anda tidak memeluk agama mayoritas. Saya tidak.
Saya tidak akan memilih Prabowo Subianto, selamanya.***
Foto milik tempo.co

Wednesday, June 25, 2014

Dari Kebun ke Sabun

Teks dan foto oleh Rio Tuasikal. Ditulis untuk www.portalkbr.com


Entin, warga desa Sarongge

Sore di Saung Sarongge, Desa Sarongge, Cianjur, Entin (44) datang membawa dua keranjang sabun sereh hutan buatannya. Kepada wartawan yang datang, dia sibuk menjelaskan bagaimana membuat sabunnya yang wangi.

"Satu kocokan (bahan) bisa untuk 20 batang. Satu sore habis dzuhur bisa bikin 100 batang," ujar Entin yang bernama asli Kartini.

Sabun sereh telah jadi usaha Entin selama satu setengah tahun terakhir. Sebelumnya dia bertani di Sarongge di kawasan hutan Gunung Gede sejak 1990. Dia menanam kol, wortel, kentang, dan bawang daun.

Pemerintah pada 2003 melebarkan wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sampai ke lahan Entin. Entin meninggalkan lahannya pada 2009 dan hanya menggarap kebun tomat kecil peninggalan orangtuanya di luar kawasan taman nasional.

Sebanyak 155 keluarga penggarap lahan sempat memprotes perluasan itu meski akhirnya menyerahkan lahannya ke pemerintah. Kini bekas kebun warga ditanami pohon kembali agar jadi hutan penjaga ekosistem. Sementara warga dicarikan pekerjaan sampingan agar tak kembali ke hutan.

Bekas kebun warga yang kini ditanami pohon agar kembali jadi hutan.


Kelompok ibu Sarongge jadi sasaran pemberdayaan dari Green Initiative Foundation (Yayasan Prakarsa Hijau). Mereka dilatih mengolah jamur, membuat kerajinan tangan, hingga membuat sabun sereh. Sebanyak 20 ibu dilatih menjadi kelompok sabun sereh, namun kini tersisa 3 orang termasuk Entin. Para ibu enggan bertahan dengan keuntungan kecil.

"Kebanyakan anggota mundur karena lama (pembuatannya). Wah kalau satu bulan (baru dijual) bagaimana cara anak saya makan?" ujar Etnin menirukan alasan rekannya.

Sementara itu, Entin mengaku belum menikmati keuntungannya selama 7 bulan terakhir. Setiap hasil penjualan akan dibelikan bahan-bahan untuk produksi selanjutnya.

Suami Entin ikut bekerja sampingan lewat kerajinan tangan. Keranjang dari bungkus plastik kopi yang Entin bawa sore itu adalah karya suaminya. Hampir setiap hari, Entin dan suami pergi ke kebun hingga sore, dan mengerjakan usaha sampingan menjelang malam. “Sekarang saya harus bisa membagi waktu. Waktu untuk membuat sabun, untuk menjualnya seperti sekarang," katanya.

Sabun serehnya dia jual 15 ribu rupiah secara terbatas kepada wisatawan, di festival, atau di Green Radio Jakarta. Dia sedang mengurus izin BPOM agar sabunnya bisa masuk supermarket atau hotel berkelas.

Sabun sereh buatan Entin dan kelompoknya

Sejalan dengan Sarongge yang menjadi desa wisata, usaha Entin kini membawanya pada hal lain. Dia bisa bertemu presiden SBY yang pada 2013 datang ke Sarongge untuk menanam pohon. “Sangat bangga, sampai menangis saya bisa jabat tangan sama SBY,” katanya lalu tertawa.

Dia juga senang bisa bertemu wisatawan Belanda, Inggris, dan Selandia Baru yang datang. “Kalau sekarang bisa menambah ilmu, ketemu teman-teman, adik-adik (wartawan), sama orang-orang besar," kata Entin lagi.

Entin berjanji untuk bertani seumur hidup meski usaha sabunnya kelak jadi besar. Sementara untuk usahanya, dia ingin bantuan alat suling minyak sereh teknologi tinggi yang lebih efisien. Entin ingin menyuling minyak sereh sendiri dan tak perlu lagi membelinya ke perbatasan Bandung yang jauh.

Usaha sabun ini kini masih beromzet kecil. Namun kata Entin itu lebih baik dari pada menghabiskan pagi hingga sore di kebun saja. "Bikin sabun itu paling senang, hobi," kata Entin lalu tertawa.***

Thursday, June 12, 2014

Menolak Pilpres Primordial


Ketika capres tertentu dituduh keturunan Tionghoa dan Kristen akhir-akhir ini, saya sadar Pilpres ini lebih menjengkelkan dari yang saya bayangkan. Sila cek linimasa media sosialmu, ada sederet kampanye yang sebagian besarnya bertemakan suku dan agama. Mulai dari foto, teks, hingga berita yang isinya rumor semata. Ia mengundang banyak pihak berdebat panjang yang melibatkan dalil-dalil kitab suci.

Sementara itu, saya mencari di linimasa Facebook saya perdebatan visi-misi capres dan tidak menemukannya. Tidak ada yang membahas 9 halaman visi-misi Prabowo-Hatta atau 42 halaman visi-misi Jokowi-JK. Sepertinya kita memang lebih gemar mengorek iman calon pemimpin ketimbang programnya menjaga kedaulatan pangan. Kita juga lebih tertarik dengan warna kulit calon pemimpin ketimbang caranya menjamin hak azasi manusia.

Buat saya, suku dan agama tidak pernah menjamin apa-apa. Saya kenal orang Batak yang galak, juga yang tidak. Saya kenal orang Kristen jahat, juga yang baik. Sifat baik dan buruk ada di semua pemeluk agama. Siapa yang bisa menjamin orang yang rajin ibadah tidak akan korup, ketika seorang menteri agama yang pernah naik haji pun jadi tersangka korupsi? Maka tidak ada hubungan antara suku dan agama seseorang dengan sikapnya.

Kampanye yang menjual satu agama pun telah melukai Indonesia. Ini karena presiden yang terpilih nanti akan memimpin negara yang didirikan bukan oleh satu pemeluk agama. Ia akan memimpin Indonesia yang memiliki ratusan kepercayaan, suku, etnis, dan budaya. Ia tidak hanya memimpin mayoritas Islam di Jawa, tapi juga Katholik di Nusa Tenggara Timur, Protestan di Sulawesi, Hindu di Bali. Ia akan jadi milik bersama bagi seluruh warga negara apapun agamanya.

Kadang kita tidak ingat bahwa Pilpres bukanlah urusan dua bulan, tapi membentuk Indonesia 5 tahun ke depan. Karena itu kampanye bernuansa SARA akan berbahaya buat Indonesia. Jika materi kampanye kita tidak berubah, saya kuatir kita terjebak prasangka yang sama bahkan ketika 9 Juli sudah selesai. Ini harus dihentikan sekarang juga.

Saya mengajak pendukung kedua belah pihak, Prowo atau Projo, untuk berhenti menjadikan agama dan suku barang dagangan. Berhentilah hanya memikirkan suku dan agama, ajaklah akal sehat turut serta. Buang jauh embel-embel etnis dan suku. Sementara dalil agama bisa tetap digunakan untuk mencari kriteria pemimpin bersifat luhur, lalu cari orang yang cocok dengan daftar itu. Jangan pilih orangnya dahulu baru mencari teks suci yang membenarkan pilihanmu.

Mari mulai dengan membahas program yang kedua capres ini tawarkan. Lihat program hak azasi manusia, kedaulatan bangsa, ekonomi dan infrastruktur, ketahanan pangan dan kesejahteraan sosial, jaminan terhadap kelompok rentan, kesetaraan gender, juga layanan pendidikan dan kesehatan. Unduh di situs KPU sekarang. Lalu kita bisa berdebat secara jernih dan produktif.***

Foto milik www.postkotanews.com

Thursday, May 22, 2014

Menolak Homophobia, Sekali Lagi

Untuk lesbian, gay, biseksual, dan waria

 

Minggu (18/5) siang di Car Free Day Jakarta, lelaki feminin dan perempuan maskulin berparade. Mereka membentangkan bendera pelangi dan berteriak, “Stop stigma, kekerasan dan diskriminasi pada LGBT.”

International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHOT) diperingati setiap 17 Mei di 120 negara. Kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) Indonesia memulainya sejak 2007. Tahun 2014 ini, peringatan serupa dilangsungkan di sejumlah kota besar seperti Medan, Surabaya, Makassar. 

Kamis (22/5) siang, kelompok LGBT berkumpul di Komnas Perempuan untuk sekali lagi memperingati IDAHOT. Mereka mengundang banyak media dan hanya tiga yang hadir. 

“Karena fobia ini memunculkan banyak masalah, kekerasan, diskriminasi dan stigma terhadap LGBT,” kata Yuli Rustinawati, koordinator Forum LGBT Indonesia. 

Perempuan seperti dirinya sering dilecehkan orang sekitar, dan dia tidak sendirian. LSM Arus Pelangi mencatat pada 2013 ada 89,3% LGBT di Indonesia yang pernah mengalami kekerasan karena orientasi seksualnya. 

LGBT menerima diskriminasi beragam bentuk. Ada remaja LGBT yang putus sekolah karena tak tahan diejek temannya, lalu dibuang keluarga. Sementara kelompok waria hanya buka salon atau jadi pekerja seks setelah terus-terusan ditolak perusahaan.  Ditemukan pula perempuan lesbian yang diperkosa gigolo sewaan keluarganya dengan berharap orientasi seksnya bisa berubah.

“Kami dianggap kena penyakit menular. Padahal PBB sudah menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa,” kata Yuli. PBB melakukan itu sejak 1990 melalui badan kesehatan WHO.

Secara global, ada 81 negara yang menghukum hubungan sesama jenis. Sebelas di antaranya memberi hukuman mati. 

Di Indonesia, pemerintah tidak pernah keluarkan peraturan yang melindungi hak LGBT, malah sebaliknya. 

Pada Agustus 2013 ada 342 Perda yang diskriminatif  terhadap perempuan, Komnas Perempuan mencatat. Sebanyak 264 aturan itu mengatasnamakan agama dan moralitas.  Aturan itu di antaranya mengatur pakaian perempuan, sementara laki-laki tidak.

Meski aturan ini diarahkan pada perempuan, LGBT kena getahnya.

“Kalau perempuan saja menerima perlakukan seperti itu, apalagi kami yang jelas berbeda,” kata Merlyn Sofjan, waria yang menulis novel ‘A Woman without V’. Kata Merlyn, transgender lah yang paling banyak mengalami kekerasan karena secara fisik mudah dikenali.

Merlyn Sofjan

Merlyn meminta pemerintah menjamin hak mereka dalam pekerjaan, jaminan sosial, standar hidup layak, kesehatan, pendidikan, dan ekspresi. 

Merlyn ingat bahwa perjuangan ini sudah dilakukan sejak 1993, lewat Kongres Gay Lesbian pertama se-Indonesia, di Yogyakarta. Dia bilang 21 tahun perjuangan tidak mengubah keadaan. Dia berharap presiden baru bisa menghargai perjuangan panjang itu.

Sementara Merlyn dan kelompoknya tidak meminta banyak. Mereka tidak mau distigma dan didiskriminasi. Mereka ingin hidup seperti warga heteroseksual, dinilai berdasarkan kemampuan dan bukan orientasi seksnya.

Merlyn mungkin kembali turun untuk IDAHOT 2015. Sebab ia tahu perlindungan terhadap kelompoknya masih di tengah jalan. Dia bilang, “Bukan untuk kita, ini untuk generasi mendatang.” ***

Rio Tuasikal menulis soal keberagaman manusia. Saat ini jurnalis Kantor Berita Radio terbesar di Indonesia, KBR 68H, yang juga percaya pada demokrasi dan hak azasi manusia. Ikuti Twitternya  @riotuasikal.