Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Attending Mojo Conference Asia, Bangkok

    Mojo Conference Asia 2019 gathered 250+ journalists and media-related professionals mainly from Asia to discuss, examine, and learn the newest trend in the media landscape: mobile journalism. Hosted by Konrad Adenauer Stiftung.





     

  • [Spoken Words] Someone Grabbed My Chest




    One afternoon a person I know grabbed my chest

    told me to cover it and don't be a showcase


    I dodged his hand moving towards me

    demanded his immediate apology


    But he said sorry because I was angry

    not for invading my body


    He held my back towards him to denotes

    that we're fine but I am not.


    Because it wasn't the joke that is rubbish

    But without my consent, the touch is a wrong choice.


    I choose not to fear

    I shouted to make it clear


    It is never your business

    to comment on my body and be a fashion police


    You may see a woman with burqa or bikini

    or me with a tuxedo or naked in the city

    fat, athletic, or skinny

    from all spectrum of sexuality


    Don't teach us what to wear

    But teach your brain to be aware


    this is my right to express

    and not your chance to oppress


    - Bandung, December 11, 2018


    Picture is taken from Sea School of Embodiment 



  • Ketika Berita Saya Dicap “Pro-LGBT”


    Poster unjuk rasa anti-LGBT di Bogor, Jumat (9/11/2018) siang

    Ketika laporan saya ‘Pengamat Nilai Indonesia Punya Ruang Bagi LGBT’ dikomentari 400 netizen, kemarin, saya tidak kaget kalau saya dicap bias dan pro-LGBT. Sejumlah komentar netizen menuding berita itu (dan juga media tempat saya bekerja) mendukung keberadaan minoritas gender LGBT. Tudingan yang sama disematkan pula kepada BBC Indonesia atas laporan berikut ini.

    Tapi, hey, tunggu dulu. Apakah netizen bisa menjelaskan apa itu bias dan pro-LGBT? Tidak ada yang membahasnya. Mereka bahkan tidak menyebut bagian mana dari laporan saya atau laporan BBC yang dianggap bias. Saya malah curiga mereka tidak benar-benar membaca isi laporan dan hanya menghakimi, secara reaktif, berdasarkan interpretasi mereka terhadap judul semata.

    Dari mana netizen mengambil kesimpulan bahwa laporan itu mendukung A atau B? Ketika saya menulis bahwa LGBT menjadi korban kekerasan, dan bahwa Islam punya tafsir alternatif terhadap keberadaan LGBT, apakah saya mendukung keberadaan LGBT? Saya hanya memberitahu bahwa itulah keadaannya. Laporan ini tidak meminta netizen mengubah sikap atau kepercayaannya jika mereka tidak suka LGBT, saya hanya bilang ‘ada lho pendapat lain’. Kalau tidak suka, silakan, tapi netizen tidak bisa mematahkannya hanya dengan marah-marah atau menghujat.

    Sejumlah netizen memberikan komentar tudingan terhadap BBC Indonesia atas laporannya

    Sebagai sebuah produk jurnalistik, laporan saya dan BBC bisa diuji, diukur, dan dipertanggungjawabkan. Keduanya memasukkan aspirasi dari kelompok yang menolak LGBT, dan menambah analisa pengamat, dan menambah konteks. Saya percaya bahwa keduanya telah tunduk pada disiplin jurnalisme.

    Sekarang bandingkan dua laporan itu dengan laporan ini dan laporan ini. Dua laporan ini, bersama sejumlah laporan media nasional dan lokal Bogor, melaporkan unjuk rasa itu dengan hanya mengutip kelompok anti-LGBT dan pemerintah Bogor yang isinya senada. Lalu apakah ini yang disebut keberimbangan?

    Jelas netizen tidak membicarakan keberimbangan jurnalisme melainkan menuntut jurnalis melayani ego mereka supaya hanya menulis yang ingin mereka baca. Mata dan hati mereka sudah dikunci oleh kepercayaan sendiri sehingga hanya bisa dan ingin menerima informasi yang sesuai dengan yang dipercaya. 

    Jurnalisme vs Polarisasi Masyarakat

    Sejumlah media nasional dan lokal Bogor hanya
    mengutip kelompok anti-LGBT dalam beritanya. 
    Inilah sulitnya membuat laporan atas isu kontroversial dalam masyarakat yang terpolarisasi. Orang-orang sudah terjebak dengan dikotomi pro atau kontra. Kalau tidak dukung ini berarti menolak. Kalau tidak menolak otomatis mendukung. Padahal kita semua tahu tidak seperti itu.

    Saya ingin mengedepankan analogi dengan makan bakso. Ada yang suka makan bakso dengan sambal dan kecap tapi saya lebih suka bening saja. Apakah artinya saya membenci sambal dan kecap? Tidak. Saya hanya tidak menggunakannya. Ada yang suka mie kuning ada yang bihun. Apakah yang suka mie kuning berarti harus membenci bihun? Tidak kan?

    Tidak semua orang menyukai olahraga renang. Apakah saya membenci renang? Tidak. Apakah saya mau renang? Boleh kalau ada yang ajak. Berarti suka renang? Tidak juga. Kalau tidak ada yang ajak juga tidak apa-apa. Saya biasa-biasa saja.

    Selalu ada ‘ruang antara’ mengenai semua hal. Semuanya tidak harus dilihat sebagai pro-kontra. Tidak harus suka atau benci. Selalu ada opsi ketiga ‘biasa-biasa aja sih’. Kita semua merindukan padang rumput ini. Tempat di mana orang bisa bijaksana menerima perbedaan orang lain meski mereka tidak menyukainya.

    Netizen boleh tidak suka LGBT tapi ‘nggak apa-apa kok mereka hidup kan manusia juga’. Netizen boleh banget nggak setuju dengan LGBT tanpa melakukan kekerasan atau diskriminasi terhadap mereka.

    Saya tahu dan mengalami, menawarkan 'ruang ketiga' kepada masyarakat yang terbelah itu tidak mudah dan tidak akan pernah mudah. Bagi jurnalis yang tengah melakukannya, mari kita bergandengan tangan dan saling menguatkan.*
  • Kenapa Kita Menerapkan "Sinetron Azab" pada Bencana Alam?

    Petir sering diasosiasikan sebagai murka Tuhan atau para dewa. (Gambar: bbc.com)

    Betul, kita semua setuju bahwa orang jahat harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Bahwa orang licik dan culas harus menganggung akibat dari perilakunya. Dengan demikian kita yakin keadilan telah ditegakkan dan bahwa 'kebaikan' akan selalu menang.

    Umat manusia selalu punya angan-angan tentang kebenaran tertinggi itu. Di ranah duniawi yang profan, kita menciptakan sistem hukum dan peradilan pidana untuk membuat jera individu yang telah merugikan orang lain. Sementara di ranah agama yang sakral, manusia mengenal konsep surga dan neraka. Tuhan akan mengganjar perbuatan manusia berdasarkan amalannya.

    Gagasan mengenai surga-neraka ini merupakan ejawantah alami dari kerinduan kita akan keadilan. Konsep dwitunggal ini menjadi kompas moral bagi sebagian orang. Surga-neraka secara bersamaan menjaga seseorang menganut nilai-nilai yang dianggap 'baik' oleh masyarakat dan juga peradaban. Hal ini belaku juga bagi sebagian manusia lain yang memilih sains dan filsafat sebagai kompas moralnya.

    Dalam Islam, selain surga-neraka dikenal juga konsep azab: Allah SWT menjatuhkan hukuman langsung karena ciptaannya melakukan pelanggaran besar. Azab muncul dalam beberapa manifestasi, dan karena ia menunjukkan kekuasaan Tuhan, biasanya merupakan fenomena alam.

    Sinetron "Azab" yang tayang rutin di Indosiar, misalnya, mengangkat pandangan manusia ini. Namun masalah muncul karena sinetron-sinetron ini terlalu menyederhanakan masalah. Tokoh-tokohnya dibuat hitam putih; kalau baik ya baik banget; kalau jahat ya jahat banget. Azab pun selalu digambarkan terlalu gamblang. Bencana ketika pemakaman. Azab itu hilang ketika orang-orang sudah memaafkan.



    Pesan moral sinetron ini sebetulnya tidak berbahaya seandainya penonton menjadikannya pengingat bagi diri sendiri.  Masalah muncul ketika kita menerapkan logika sinetron ini ke kehidupan nyata, bukan untuk mengevaluasi diri sendiri namun justru menghakimi orang lain. Ketika tanah kuburan seseorang kebetulan tergenang air, kita langsung berkesimpulan.

    "Wajar saja matinya aneh, selama hidupnya dia jarang sedekah."

    Sebentar.

    Dari mana kita tahu bahwa orang itu jarang sedekah? Bagaimana kita tahu Tuhan memang tengah murka? Jangan-jangan itu fenomena alam biasa? Jangan-jangan itu hanya kita yang sombong dan merasa paling tahu cara berpikir sang khalik. Kita bertindak seolah-olah jadi malaikat yang menghitung-hitung dosa orang lain. Lalu kita mencocok-cocokkan fenomena alam kepada kondisi yang dihadapi orang itu. Hanya agar kita nampak jauh lebih mulia daripada mereka.

    "Wajar saja matinya aneh, selama hidupnya dia jarang sedekah," kalimat ini bisa saja keluar dari orang yang lebih suka mengeluarkan uang untuk belanja.

    "Tuh kan gempa. Banyak orang suka berzina, sih" padahal bisa saja dirinya pernah meminjam uang kepada orang lain tapi tak pernah mengembalikan sehingga orang lain itu sakit dan akhirnya meninggal.

    ------
    Baca juga: Kenapa media Indonesia suka pakai lagu sedih kalau ada berita bencana? Bagaimana di Jepang? Simak NHK dan Warta Air Mata

    -----

    Siapakah yang berhak menentukan seseorang berdosa atau tidak? Siapa yang menghitung dosa dan pahala, juga menetapkan imbalan terhadapnya? Itu adalah hak istimewa Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak ada satu pun manusia yang bisa menghakimi orang lain. Jadi, kita jangan angkuh dan merasa paling suci.

    Dengan demikian, kita juga harus arif dan menahan diri untuk tidak menghubungkan murka Tuhan dengan fenomena seperti bencana alam. Kita tidak berhak menghakimi orang-orang. Selain itu, bagaimana kita menjelaskan catatan gempa 1973-2013 yang menunjukkan Kalimantan nyaris aman dari gempa? Apa berarti orang Kalimantan semuanya suci? 

    Kita tidak perlu menjawabnya karena itu urusan Tuhan. Tugas kita sebagai manusia bukan untuk menghakimi yang lain. Kewajiban kita adalah memberikan doa dan bantuan kepada para korban bencana alam (dan juga sedikit belajar ilmu bumi). (rt)

    Catatan gempa 1973-2013 dari USGS menunjukkan wilayah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi,
    dan sebagian Papua mengalami gempa karena berada di lempeng benua. (Gambar: Tribun Medan.com)

    *Penulis adalah jurnalis berbasis di Jakarta dan Bandung. Instagram @riotuasikal

    Catatan: Sangat disayangkan, sinetron "Azab" dan semacamnya hanya menceritakan orang-orang yang melakukan petit crime atau kejahatan mungil: mencuri, licik dalam berdagang, atau berfoya-foya. Sinetron ini tidak pernah mengangkat orang-orang yang melakukan kejahatan besar yang merugikan masyarakat luas seperti korupsi. Padahal korupsi jelas merupakan pencurian dalam skala yang lebih besar dan pasti dimurka Tuhan. 

  • Puisi: 13 Tahun Agama

    *Dibacakan pada Unmasked Open Mic "Ascendance" di Jakarta, 18 Agustus 2018


    November 2005: Ibu saya berjualan kue lebaran tapi ada sisa
    Dia meminta saya memberikannya pada tetangga
    "Tapi, mah, dia kan batak dan kristen. Tidak Lebaran kayak kita"
    "Oh tenang saja, ini kue persahabatan semata"
    Di rumah tetangga, kue disambut dengan suka cita
    Oh ternyata dia belum pernah menerima kue lebaran seumur hidupnya
    Maka sebulan sesudahnya, ketika Natal tiba...
    ...giliran keluarga saya dapat kue darinya
    Indahnya perbedaan kita.

    Tapi tahun demi tahun mengubah semuanya
    Gereja-gereja disegel orang-orang yang murka
    Ahmadiyah, Syiah, dipukuli atas dasar prasangka
    Perempuan muslim, yang siswa atau abdi negara, dipaksa pakai jilbab di kepalanya
    LGBT diusir, karena tiba-tiba selangkangan saya jadi urusan Anda semua!

    Gubernur bersih, masuk penjara; protes adzan kencang, eh dihukum juga.
    Atas nama? Pe-nis-ta-an-a-ga-ma

    Sejak kapan agama jadi dipaksa-paksa?
    Sejak kapan ini jadi watak Indonesia?

    Juni 2018: Pilkada
    Ayah saya hanya ingin memilih pemimpin yang seagama
    Ibu berkata, "iya, betul juga”

    Kemarin hari kemerdekaan kita, dan secara munafik bangga dengan keberagaman kita
    Merdeka, merdeka, merdeka!
    Padahal isinya penuh borok dan luka

    Jakarta, 16 Agustus 2018

    Pic taken by Putri Minangsari (@poetryreading)




  • Uwu, Saya Gemas Melihat Orang Melafal "Pasteur" dan "Purbaleunyi"

    Untuk yang suka mengejek orang Sunda soal 'f' dan 'v'
    Aksara 'eu' dalam bahasa Sunda (Wikimedia Commons)

    "Untuk informasi selengkapnya, kita bergabung bersama Jurnalis Kompas TV Nadia Hafizha di gerbang tol Past(e)r, Bandung, Jawa Barat."

    Eh apa? Paster atau Pasteur? 

    Musim mudik seperti ini, nama pintu tol Pasteur dan tol Purbaleunyi, keduanya di Bandung, selalu masuk berita---dan banyak orang selalu keliru ketika melafalkannya. Baik itu reporter televisi, pejabat atau petugas Kementerian Perhubungan, termasuk pemudik sendiri yang melewati Jawa Barat.


    Mereka keliru mengucapkannya sebagai Paster, dengan 'e' biasa seperti dalam menyenangkan. Padahal seharusnya 'eu'. Bunyinya kira-kira kayak temen Spongebob, si Patrick Star pas lagi bengong. Saking susahnya cari video yang bisa menjelaskan itu, berikut saya bikin video sendiri hahaha..


    Sedikit pengetahuan Basa Sunda. Tidak seperti banyak yang lain, bahasa ini memiliki tiga jenis e: ada é, e, dan eu. Yang pertama (é) bacanya seperti enak. Yang kedua (e) seperti sedih. Yang ketiga (eu) ini adalah keajaiban bahasa Sunda yang hanya lidah penutur asli yang dapat melakukannya. Eh tapi di bahasa Aceh juga ada lafalnya kok, contohnya Meulaboh.

    Bahasa Sunda punya banyak kosakata 'eu'. Misalnya peuyeum (singkong fermentasi), hareudang (gerah), dan euy (ekspresi penekanan). Ka mana euy? Saya sendiri, yang lahir di Tasikmalaya dan besar di Bandung, dari ibu yang Sunda dan ayah Sunda-Ambon, jadi terlatih bisa mengucapkannya. 

    Nah, basa Sunda juga punya keunikan lain, karena secara tradisional tidak mengenal 'f' dan 'v'. Hal ini membuat orang Sunda punya stereotip tidak bisa melafal 'f'. Saya tetap bisa sih karena dari kecil pakai bahasa Indonesia di rumah. Tapi masih banyak orang Sunda di luar sana yang kesulitan.

    Bahasa sangat mengakar tidak hanya secara budaya tapi juga fisik. Saya baru tahu bahwa bahasa melatih anatomi lidah-mulut menjadi fleksibel dengan bunyi tertentu dan tidak terhadap bunyi yang lain. Inilah yang disebut aksen. 

    Orang Jepang bilang 'bully' menjadi 'burry', orang Tiongkok melafal 'world' sebagai 'woh', dan orang Prancis malah melafalkan 'hospital' jadi 'opital'. Semua karena lidah kita, apapun bahasa ibunya, berangsur kaku ketika kita mencapai usia tertentu. 

    Di Amerika Serikat, di mana migran datang dengan berbagai logat bahasa, upaya menetralisasi aksen menjadi bisnis besar. Modifikasi aksen jadi pilihan sebagian mereka yang mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau ketiga. Accent reduction ini misalnya didorong organisasi American Speech–Language–Hearing Association (ASHA) dan Accent Reduction Training Association (ARTA). Meski pemerintah AS menjamin kesempatan kerja adil bagi semua orang, tetap saja aksen menjadi semacam halangan sosial yang bagi sebagian orang ingin dihilangkan. 

    Saya termasuk yang percaya aksen adalah bagian dari diri kita. Jika ada yang ingin menghilangkan silakan, yang ingin mempertahankan juga silakan. Tidak perlu ada pemaksaan. Begitu pun dengan orang Sunda yang terjebak dengan 'p', dan orang non-Sunda yang belepotan menyebut Purbaleunyi. Sama-sama gemas saja. Ternyata di situlah indahnya keberagaman kita. 

    Satu hal terakhir. Saya ingin mengklarifikasi tuduhan yang selama ini dialamatkan kepada orang Sunda. Kata siapa orang Sunda nggak bisa ngomong 'f'? Itu mah pitnah!***

  • Banyak Orang Mengira Saya Merayakan Natal

    Sumber

    Sebetulnya tidak apa-apa juga orang-orang mengucapkan selamat Natal kepada saya, meski saya tidak merayakannya. Saya tidak tersinggung atau apa. Hanya saja ini terjadi setiap tahun dan menarik untuk diceritakan.

    Natal tahun ini, ada sejumlah teman yang mengucapkan lewat Facebook dan Whatsapp. Lalu di kantor VOA, seorang kolega memberi saya ucapan Natal. Saya terima dengan senyum, "Terimakasih, pak, tapi saya tidak merayakan Natal." Lalu dia mengernyitkan dahi dan bertanya apakah saya seorang muslim.

    Ini terjadi sepanjang sejarah hidup saya. Sejak kecil. Orang seringkali menduga, mengira, menebak-nebak saya sebagai pemeluk Kristen dan saya merayakan Natal. Saya sebetulnya tidak pernah menyadari betapa banyak orang yang berpikiran demikian sampai terjadi peristiwa berikut.

    Dalam suatu kemah lintas-iman di Bandung, teman saya Risdo Simangunsong, bertanya "kamu pernah di persekutuan mana?" Lalu saya melongok. "Hah?" Karena pada saat itu saya belum mengerti bahwa persekutuan adalah komunitas atau kegiatan yang diikuti umat Kristen untuk memperdalam agama. Usai hening dua detik Risdo kembali dengan pertanyaan baru: "kamu muslim?"

    Saat kuliah di Bandung, banyak teman saya mengajak saya ke gereja. "Kamu gereja di mana?" Kadang saya jelaskan dengan pelan bahwa saya terlahir muslim. Kadang saya balas dengan senyuman paling manis karena takut menyinggung.

    Lucunya, tidak pernah sekali pun dalam 4 tahun kuliah saya ada yang mengajak saya sholat Jumat atau ke masjid. Atau dalam kesempatan lain, teman saya bengong setelah melihat saya sholat. "Aku kira kamu bukan Islam," katanya. Hahaha...

    Mungkin orang menebak dari wajah dan nama saya - dan orang mengandalkan stereotip untuk mengambil kesimpulan. Memang sekilas wajah saya terlihat dari Indonesia Timur begitu pun nama "Rio" dan "Tuasikal". Wajah saya adalah harmonisasi antara ibu (Sunda Tasikmalaya-Sumedang) dan ayah (Sunda-Ambon). Sementara nama "Tuasikal" sendiri adalah fam Ambon dari garis keturunan kakek yang sebetulnya adalah marga muslim.

    Cara orang untuk bertanya mengenai agama saya juga lucu. Kadang orang memakai perumpamaan. "Rio, kamu ke masjid atau ke gereja?" ucap saudara ibu kos saya satu hari. "Kamu Natal atau Lebaran?" tanya editor saya satu kali ketika dia memikirkan apakah saya diberi libur lebaran atau libur Natal. (Iya, jurnalis tetap bekerja di hari raya).

    Sebetulnya saya sudah tahu maksud pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi saya suka kesal jika orang enggan bertanya langsung. Seolah agama itu tabu benar, terlarang, atau hal yang patut disembunyikan. Padahal, jika kita enggan membicarakan agama secara terbuka, di situlah bibit-bibit kesalahpahaman tumbuh.

    Saya lebih hormat dengan orang yang bertanya, "kamu agama apa?" tanpa embel-embel lain atau meminta maaf terlebih dahulu. Misalnya saja teman saya di Washington DC, Susan Que asal Tiongkok. "What's your religion?" tanya dia di dalam mobil Uber. "I was born muslim," jawab saya langsung. Ternyata dia menanyakan agama karena ingin memberikan saya siomay buatannya yang memakai daging babi, dan memastikan apakah saya makan babi. Ini kocak juga sih.

    Saya gembira ketika orang menebak-nebak. Kalau mereka bertanya soal agama atau nama saya, saya akan dengan senang hati menjelaskannya. Dan kendati saya tidak merayakan Natal, saya ingin mengucapkan selamat Natal buat kawan kristiani yang merayakan. Damai di hati damai di bumi. []
  • Kenapa Nama Saya "Rio"? (Versi Bahasa Indonesia)

    Click here for English version.


    Untuk yang penasaran dengan nama depan saya.

    Tinggal selama beberapa bulan di Amerika Serikat membuat saya menyadari bagian dari diri saya yang menarik bagi banyak orang: nama saya, Rio. Ini bahasa Portugal yang artinya "sungai" tapi saya tidak punya darah Iberia (setidaknya sepengetahuan saya karena saya belum mengambil tes DNA leluhur). Saya akan membahasnya di bagian akhir. Tapi sekarang saya akan menceritakan 3 skenario utama bagaimana orang-orang menanggapi nama saya.

    Paling sering, orang menganggap "Rio" terlalu mudah dan mustahil. Bagaimana mungkin orang Asia seperti saya punya nama yang sederhana? Kerap kali, di Starbucks, pramusaji memastikan ulang nama saya kalau-kalau dia salah dengar. "Rio seperti R-I-O?" tanya mereka beberapa kali. "Ya, Rio yang itu," kata saya.

    Tapi tidak selalu seperti itu kejadiannya. Kadang-kadang ada orang yang ingin memastikan apakah Rio betulan nama saya atau nama panggilan saja. "Oh, bukan. Itu nama resmi dan ada di semua dokumen resmi," ujar saya tegas. Kemudian saya baru menyadari bahwa sebagian di antara mereka sebelumnya tidak tahu bahwa orang Indonesia menggunakan alfabet Latin yang sama seperti di AS dan Eropa. Mereka berpikir Indonesia punya huruf yang berbeda seperti Thailand (อักษรไทย), India (देवनागरी), atau Jepang (ひらがな).

    Paling menarik adalah ketika saya bertemu teman-teman Hispanik. Teman saya dari Kolombia, Emma Pabon, mengatakan saya adalah satu-satunya orang Asia yang namanya bisa diucapkan dengan mudah. Meski nama saya bahasa Portugis dan dia berbahasa Spanyol, keduanya tetap mirip. "Apa kamu dari Brasil?" adalah pertanyaan umum yang sering diajukan. Dan saya akan membalas kira-kira, "saya dari Indonesia sebetulnya, tapi nama saya memang ada hubungannya dengan Brasil."

    Di samping tiga hal itu, mungkin dengan melihat wajah saya, kadang orang menebak-nebak apakah saya datang dari Amerika Selatan dan mencoba memulai percakapan dalam bahasa Spanyol. "Habla Español?" Ini terjadi di minimarket dan pinggir jalan. Saya suka dengan bahasa Spanyol tapi untuk saat ini saya tidak bisa bahasa itu. 

    Saya melihat di Indonesia, "Rio" bukanlah nama selazim "Joko", "Rizky" atau "Dani". Lalu kenapa orangtua saya memberikan nama ini? Sebagai gambaran, saya punya dua latar belakang budaya berbeda. Ayah saya setengah Ambon (campuran Melayu-Papua, kira-kira Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik) dan setengah Sunda (Melayu). Sementara garis ibu saya sepenuhnya Sunda dari Tasikmalaya dan Sumedang. Kenapa mereka tidak memberikan nama Sunda layaknya "Asep" atau "Andri?"

    Jadi campuran seperempat Ambon mungkin berhubungan dengan nama saya. Sebagai catatan, Portugal adalah orang Eropa pertama yang datang ke Ambon pada 1512, sebelum Belanda pada 1605. Ketika zaman perdagangan dan penjajahan, banyak orang Ambon yang kawin campur dengan orang Eropa. Tapi sejarah ini rupanya juga tidak berhubungan dengan nama saya. 

    Jadi "Rio" keluar begitu saja? Tidak. Saya sebetulnya dinamai berdasarkan kota Rio de Janeiro di Brasil. Inspirasinya datang dari ayah saya, seorang dewasa muda pada 80-an, jatuh cinta dengan lagu dari kuintet Jerman, Trio Rio. Single mereka mengenai tiga kota gemerlap "New York, Rio, Tokyo" jadi nomor tiga di tangga lagu Jerman pada 1986 dan akhirnya menjadi kesukaan ayah saya.  

    Ayah saya sangat menyukainya sampai-sampai dia menggunakan "Rio" sebagai nama udara ketika dulu main radio amatir (atau yang lazim disebut nge-break). Ketika inilah, dengan nama "Rio" ayah saya bertemu ibu yang sepakat mewarisi saya nama itu.  

    Itulah sejarah nama saya. Lagu ini punya aspek New York dan Tokyo juga. Saya sudah berkesempatan ke kota New York dua tahun lalu dan lagi dalam waktu dekat selama saya tinggal di AS. Tapi Tokyo? Saya harus beli tiket pesawat ke sana!

    Dan inilah lagunya, selamat berjoget!


  • Why Is My Name "Rio"?





    For those who are curious about my first name.

    Been living in the US for a couple months, I am now able to recognize a part of myself that interests people the most: my name, Rio. This is actually Portuguese for "river" but I don't have Iberian blood in me. I will discuss this at the end of this writing. But first please take a look three main scenarios on how people will react to my name. 

    In most cases, some people think "Rio" is too good to be true. Like, how can an Asian guy like me has such an easy name? Oftentimes, mostly at Starbucks, the cashier will ask once again just to make sure that they are not mistaken. "Rio as R-I-O?" they asked me several times. "Yup. That Rio," I replied.

    But that's not always been the case. Few times some people want to make sure if Rio was my actual name or simply a nickname. So I said firmly,  "Oh, it's my REAL name. It's on all of the paperwork and legal documents." Later I learned, some of them didn't know that Indonesians use the same Latin alphabet like in the US and Europe. They think Indonesia has other writing systems like Thailand (อักษรไทย) or Japan (ひらがな).

    The most interesting part of my name occurred when I meet Hispanic friends. My friend from Colombia, Emma Pabon, said I am the only Asian guy that she can pronounce the name easily. Even though my name is in Portuguese and she speaks Spanish but those are quite similar. Sometimes, people will ask if I am from Brazil. And I will say something like, "I am from Indonesia, actually, but my name has something to do with Brazil."

    In addition to those, probably by looking at my face, sometimes people are guessing if I come from South America and trying to start a conversation with me in Spanish. "Habla Español?" This happened in a convenience store and at the pedestrian walk. I would love to learn Spanish but at this moment I don't speak the language. 

    Rio is not a common name in Indonesia. So why did my parents give me this name? To give you an idea, I have two cultural backgrounds in my root. My father is half Ambonese (Melanesian and Malay mix). While my maternal blood is full Malay. Why didn't my parents give me a local name like "Asep" or maybe "Andri"? 

    So "Rio" is just out of nowhere? Nope. I was actually named after Rio de Janeiro in Brazil. The inspiration was from my father, who was a young adult back in the 80s, falling in love with groove music from a German quintet, Trio Rio. Their single about three vibrant cities "New York, Rio, Tokyo," reached number three in the German chart in 1986 and found a way to my father's favorite list. 

    My father was really hooked to the song he even used "Rio" as a nickname in amateur local radio communications. During this time, my father under "Rio" name met my mother who agreed to pass me that history. 

    That's how I get this name. The song has New York aspect and Tokyo as well. I've had a chance to visit the Big Apple two years ago and again soon during my stay in the US. But Tokyo? I need to book a flight to get there!

    And here's the song, please enjoy!


  • Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

    Untuk yang penasaran dengan nama saya.




    Singkat kata, "Tuasikal" adalah nama keluarga. Itu merupakan marga dari ayah saya, pemberian kakek yang asli Ambon. Iya, nama ini sama dengan Amri Tuasikal, Anggota DPR yang diberitakan nikah siri dengan penyanyi Cita Citata.

    Saya sudah hapal betul bagaimana teman-teman dan guru saya semasa kecil kesulitan mengucapkannya, kepeleset menjadi Tausikal, atau yang paling parah adalah menjadikannya lelucon "tua bangka" suka-suka mereka.

    Dulu saya bahkan menyembunyikan nama itu. Saya lebih memilih menggunakan nama depan dan tengah saya "Rio Rahadian" lalu menyingkat marga itu jadi "T." saja. Namun, semasa kuliah, ada sesuatu yang menarik saya untuk kembali ke akar Ambon. Maka saya menulisnya lengkap, dan belakangan mengganti nama seluruh media sosial saya justru menjadi "Rio Tuasikal". Bonus: "Rio Tuasikal" hanya ada satu di Google!

    Menyandang nama Tuasikal ini sebetulnya repot juga. Sebab saya harus menjelaskan kompleksitas sejarah kenapa saya punya nama itu. Template-nya adalah itu marga Ambon dari kakek, dia migrasi ke Pulau Jawa; Dia kemudian menikah dengan nenek yang orang Sunda, menghasilkan ayah saya yang berdarah separuh Ambon namun besar di tanah Pasundan; Lalu ayah saya menikah dengan ibu yang orang Tasikmalaya.

    Ambon, Maluku (Google Maps)

    Kemudian muncul masalah baru: menjelaskan identitas saya yang culturally ambigous. Saya lahir di Tasikmalaya, tumbuh dan sekolah di Bandung, bekerja di Jakarta. Namun saya tidak bisa berbicara bahasa Sunda secara lancar, logat Sunda saya nyaris tidak ada, karena di rumah pakai bahasa Indonesia.

    Mengaku Ambon juga tidak bisa. Saya tidak berbudaya atau berbahasa Ambon. Dan dengan melihat fitur wajah Ambon-Sunda saya, tidak ada yang percaya akan itu semua!

    Paling sering adalah saya dikira Kristen karena namanya terdengar "Indonesia Timur". Padahal Tuasikal adalah marga (atau di Ambon dikenal sebagai fam) muslim. 

    Paling sedih adalah kalau ada orang Ambon (yang mengenali saya dari fitur wajah atau nama) bertanya ke saya: "kapan terakhir pulang ke Ambon?". Jawaban saya getir: "belum pernah" lalu saya menjelaskan kisah migrasi kakek saya kembali. 

    Adik Saya ke Tanah Leluhur di Ambon

    Ayah saya lima bersaudara, dan semuanya termasuk sepupu saya (secara tragis namun juga entah untuk apa) belum pernah ke Ambon. Sampai tiba-tiba tahun ini adik saya Riz Tuasikal yang bekuliah di Universitas Gadjah Mada harus KKN, dan dia memilih untuk melakukannya di Ambon, Maluku!

    Saya sedikit banyak merasa penasaran sekaligus bangga. Akhirnya ada juga yang ke tanah leluhur. Seperti apakah rasanya pulang ke kampung kakek? Apakah masih ada saudara jauh yang mengenali adik saya?

    Adik saya sampai di Ambon Juni kemarin dan apa yang terjadi melampaui bayangan saya. 

    "Kakak tahu nggak kalau desa tempat ade KKN ternyata desanya opah (kakek)?" ujarnya saat kami chatting lewat Instagram message, menyebut Desa Oryana.

    "Wah beneran?" saya merasa takjub.

    Jadi ketika sampai Ambon, adik saya menginap di rumah warga yang ternyata marga Tuasikal juga. Saat mengobrol, adik saya menceritakan kisah kakek (seperti template saya di atas) dan terkejutlah dia. Lelaki itu, yang adik saya panggil om Syarif, mengonfirmasi nama kakek "Muhammad Tuasikal toh?"

    Rupanya kampung itu tidak pernah mendengar kabar kakek saya setibanya di Pulau Jawa. Selanjutnya adalah drama. Adik saya menceritakan dua kejadian di mana orang memeluknya sambil menangis. Kemudian muncul kerabat kakek kami yang terkejut dengan kehadiran cucu temannya ini! 

    Adik saya bertemu om Amin, yang ternyata keponakan kakek, dan secara bangga mengenalkan adik saya sebagai "Ini beta punya anak." Bagian terbaiknya adalah adik saya mendapat THR lebaran total Rp 500 ribu dari jajaran om dan kakak sepupu barunya.

    Adik saya (kiri) bersama sepupunya yang hilang. Sebetulnya yang hilang adalah adik saya haha..
    (gambar: IG @rizraharyan)

    Kisah adik saya mengajarkan saya banyak hal. Dulu mungkin saya sungkan menyandang nama ini. Namun setelah semuanya, ada sebagian diri saya yang ingin menelusuri akar Ambon ini --- di samping akar Tasikmalaya-Sumedang dari ibu. Meski saya tidak bisa berbahasa Ambon (dan hanya pernah makan ikan kuah kuning sekali) saya tetap mewarisi darah itu. Terlihat di wajah dan warna kulit saya. Dan saya bangga memilikinya. 
  • Tinggal di Amerika dan Hambatan Budaya


    Figure 1: Gedung kongres Amerika Serikat, The Capitol. (Rio Tuasikal)

    Saya adalah penggemar berat mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya (Thanks to bu Iin dosen favorit saya ketika kuliah). Namun, segala pengetahuan itu sepertinya tidak berarti apa-apa ketika saya tinggal di Amerika Serikat. Selalu ada canggung, selalu ada malu, selalu ada salah.

    Saya sudah dua pekan tinggal di College Park, Maryland, sebagai bagian dari program PPIA-VOA Fellowship di Washington D.C. Saya bekerja di VOA Indonesian Service di mana seluruhnya adalah orang Indonesia, dan tinggal di rumah seorang diaspora Indonesia bersama setidaknya 5 orang Indonesia lain.  

    But most of the time I do everything alone: commute, groceries shopping, you name it. So I need to face cultural barrier like every single hour. Contoh paling sederhana adalah sapaan "hi, how you're doing?" yang saya masih menerka-nerka kapan waktu yang cocok menggunakannya kapan tidak, kepada siapa, pada situasi seperti apa.

    Hal yang paling jadi tantangan buat saya adalah aksen. Saya bisa nyaman dengan aksen Amerika pantai timur yang biasa saya tangkap dalam film atau program berita televisi. Ini pun saya belum bisa menangkap seluruh kalimatnya dengan sempurna. Apalagi kalau sudah aksen lain, Southern, Latino, atau South Asian, ya wassalam!

    Dari sejumlah komunikasi yang terjadi antara saya dengan orang-orang tersebut, saya merasa selalu kesulitan. Seringkali saya mengatakan "I'm sorry," berharap mereka bicara pelan-pelan tapi mereka malah membuat kalimatnya lebih detail dan panjang. Saya kemudian melirik sertifikat IELTS saya sambil nangis.

    Kemudian, saya juga harus memikirkan respon yang cocok ketika basa-basi. Kadang ada penjual makanan atau kasir mengajak saya ngobrol. Nah, saya harus mencari yang tepat, apakah "awesome", "cool", "sure thing", "really", "whoa", atau kombinasi semuanya. Selain itu, ada juga soal respon ketika berkenalan, mendengar terimakasih, atau diucapkan selamat datang. Biasanya saya tertawa lembut atau senyum saja. Berdoa semoga konteksnya tepat dan paling saya dianggap pendiam.

    Saya ingat pernah dimarahi oleh penjual sandwich di New York saat berkunjung dua tahun lalu. Saat itu kasirnya salah scan sandwich orang. Saya menjelaskan itu bukan milik saya. Eh mas-nya ngomel-ngomel pake aksen latin. Mau menjelaskan situasinya tapi bahasa Inggris saya kok mampet. Cuma keluar "sorry."

    Kadang saya berpikir, enak banget ya jadi warga Amerika Serikat yang memang lahir berbahasa Inggris. Sementara bagi saya, dan banyak orang lain di seluruh dunia, yang bahasa Inggris adalah bahasa kedua atau ketiga, perlu usaha ekstra agar komunikasi ini tetap lancar dan efektif.

    Saya rasa, banyak di antara orang yang saya temui menganggap saya sudah fasih sempurna sehingga mereka merasa tidak perlu menggunakan kalimat sederhana. Saya sendiri berpendapat komunikasi lintas budaya akan terjadi bila kedua belah pihak bertemu dalam level bahasa yang sama. Dan ketika pihak satu tidak fasih, tidaklah berlebihan jika pihak dua menurunkan kompleksitas leksikal-nya.

    Anyway, ini baru dua pekan di Amerika Serikat dan sejauh ini belum ada masalah komunikasi yang berarti. Yang paling parah cuma terpaksa beli sup di Latino Market karena mbaknya cuma ngomong bahasa Spanyol dan dia salah mengerti tentang pesanan saya. Eh dan saya juga sempat diajak ngobrol sama bapak-bapak pake bahasa Spanyol. (Kata teman saya, saya yang Ambon-Sunda ini mirip orang Meksiko.) #LOH

    No problemo, amigo. Embrace everything!

    Figure 2: Kosan saya di Greenbelt, College Park, Maryland. (Rio Tuasikal)

    Figure 3: Ruang rekreasi dekat kosan. (Rio Tuasikal)

  • Sampai Jumpa Lagi, Jakarta



    Pernahkah kamu pergi ke tempat reguler, namun tiba-tiba merasa intim dan nostaljik? Hari ini aku di posisi itu.

    Aku hanya menyusuri Grand Indonesia dan Pasaraya Manggarai. Keduanya  sudah kukenal seperti teman dekat. Namun hari ini ada sesuatu yang  memintaku tidak beranjak. Merengek agar aku tidak jadi berangkat.

    Dalam beberapa hari ke depan saya akan berangkat ke Amerika Serikat. Saya akan magang bekerja di negara itu selama setahun. Hal besar yang tidak akan saya lewatkan. Saking besarnya sehingga saya masih menganggap ini masih angan-angan.

    Pada kenyataannya, masih banyak barang-barang yang belum saya bereskan. Baik untuk saya kirim ke rumah di Bandung maupun saya berikan kepada kawan. Padahal seminggu harusnya cukup untuk menyelesaikan itu semua.

    Saya bukan malas. Saya hanya ragu. Saya hanya butuh waktu. Setiap bangun, semakin dekat dengan hari keberangkatan, saya berhadapan dengan pertanyaan yang makin besar: akankah saya bertahan tanpa merindukan kota ini?

    Terimakasih Jakarta, atas segala kemacetan dan ganasnya ibukota. Juga untuk segala mimpi, ketidakberhasilan, dan pencapaian yang datang saling melengkapi.

    Cinta terbesar saya adalah untuk seluruh kawan yang mengisi tiga tahun perjalanan saya. Untuk teman, rekan kerja, kenalan, sahabat, juga orang-orang dekat. Terimakasih untuk jadi teman yang baik, mendengarkan, dan mendukung.

    Saya tidak ingin mengucapkan selamat tinggal. Sebab saya selalu akan pulang.

    Manggarai, 7 Mei 2017

  • Day 3: The Power of Dream?

    #7DayWritingChallenge


    It happens all the time: when I strive to have something, I don't get it. Similarly, I get bunch of things when I am simply take it easy.

    I still remember when I ambitiously want to win a news anchor competition at Universitas Indonesia back in 2012. I ended up just being one of the 10 finalists. Contrary, I became the 1st winner of an essay competition at Universitas Pasundan when I just sent my writings and didn't care about it anymore.

    It makes me confused and feel uncertain pretty much about 'the power of dream'. Because many movies, books, and television shows put much emphasize on the power of will. That the universe will conspire in making your dream comes true, as Paulo Coelho said in 'the Alchemist'. Likewise, man jadda wa jadda or who's being determined will be successful, as Ahmad Fuadi said in 'Negeri 5 Menara'.

    The power of support and prayers also affect me the same way. Every time I compete for something, and there are friends and colleagues who wish me luck, I don't get the trophy. But if I silently apply for a competition, I ended up as the best contestant. 

    Same applied when I seeking for job. Three times! Additionally when I apply for journalism awards or exchanges.

    So that's the reason behind my silence all this time. If some friends unintentionally being know about a competition of exchange I join, and asked whether I already applied, I will just answer in general and pretend it to be nothing.

    With all that in mind, I have a distinct opinion on how we should think about our dream. Apply and forget it! Should I write an adversary book to denounce all that motivational theories? 

    - Pacific Place, January 11

    Picture is taken from www.pcwallart.com
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13