Saturday, July 4, 2015

Do We Have to be Arabian to Celebrate Ramadhan?



Habibi habibi habibi ya nur al ain
Habibi habibi habibi ya nur al ain

This song always pops-up in my mind everytime I think about Ramadhan. I believe you will agree that the song is almost identical with this holy month. It catches our ears in television and shopping centers anytime.

But if you think it is religious, think it again, because you are totally wrong. Have you ever checked out the lyrics? Just google "Habibi ya Nur al Aini" and you'll be surprised to see the singer, Amr Diab, devotes the song to---guess what?---a beautiful woman. The lyrics above translated as "darling, you are the glow in my heart". 

I know, you probably think "habibi" is addressed to Prophet Muhammad (as we know that he is on the top of God's favourite list) and the song was created to adore him. But the video clip will shut up your mouth. There are beautiful women in frame, guys, enjoy it.

"Habibi" is just one of our silly and misleading ways to welcome this blessingful month---along with camel and pyramids pictures everywhere! This condition has been always like this since forever, and I don't know why people use those symbols to decorate public spaces. 

Well, I would not talk about kurma again. I did it 3 years ago and being controversy!

Look, can you imagine how camel and pyramids relate to the spirit of Ramadhan? Even pyramids are antidote to the doctrine of the Oneness of Allah. Because it symbolizes Paraoh's dignity in ancient Egypt civilization, while Paraoh called himself God. 

I don't know if I have to cry or laugh to see how people easily follow almost everything served to them. Do they ever asking why? Where is critical thinking? Thanks to capitalism for choosing the wrong yet effective promotion content.

Ramadhan is not about arabian music and dessert-thing. Ramadhan is the time to cuddle with God more often, and to help the marginalized communities. We can fast and still being ourselves as Indonesians. We could prefer batik not thawb tunic, kolak not kebab, and speak Indonesia accent not arabic. We also have plenty of religious songs from local bands like Ungu and Gigi---and they sing about God!

It's time to turn off the middle east music, and enjoy Ramadhan as yourself not anyone else.

- Lawson Pramuka, Jakarta, July 4

Picture is from flickr.com

Thursday, July 2, 2015

Kenapa #StraightPride Membuatmu Nampak Tolol?

Untuk heteroseksual yang ketakutan


Pekan lalu saya baru bangun tidur ketika membuka Facebook saya. Di linimasa, mata saya langsung memincing pada poster bertuliskan #StraightPride, dan masih bingung karenanya hingga kini.

Saya bukan gay, dan saya tidak punya rencana menikahi lelaki. Saya sendiri masih nggak ngerti kenapa ada yang merasa terancam dengan kebijakan Mahkamah Agung Amerika Serikat itu. Soalnya itu kan di negara Paman Sam. Tapi seandainya saya warga negara Amerika Serikat pun, saya tetap akan membiarkan aturan itu dengan 3 alasan.

Keputusan Mahkamah Agung Amerika hanya menyatakan pernikahan sesama jenis disahkan oleh negara. Mahkamah tidak memaksa seluruh warganya menikah dengan sesama jenis toh? Jadi kalau Anda lelaki yang menyukai perempuan, ya nikahilah perempuan. Beres!

Apakah Anda sekretaris yang mengurusi kehidupan pribadi setiap orang?

Hey, Anda tidak boleh makan cokelat karena saya lagi diet. Anda tak boleh berolahraga karena saya sedang capek. Loh, apa hak saya melarang-larang? Karena itu Anda juga tak berhak memaksa orang lain tidak makan karena Anda sedang puasa. Juga Anda tidak berhak melarang pernikahan sesama jenis karena Anda tidak melakukannya. 

Alasan selanjutnya: homoseksualitas bukan penyakit, juga bukan penyakit menular. Ilmu pengetahuan---dengan metode yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan---telah menyatakan bahwa homoseksualitas adalah variasi orientasi seks. Bukan penyakit. Bukan penyakit menular. Homoseksualitas juga sudah dicoret dari daftar penyakit jiwa World Health Organization (WHO) sejak 1990. Banyak yang percaya orientasi seksual adalah genetik---meski ini masih diperdebatkan.

Ingat, legalisasi hukum tidak otomatis membuat jumlah homo berlipat ganda. Toh homo akan tetap demikian sebagaimana hetero akan tetap demikian. Kelompok homo tidak akan melahirkan anak-anak yang otomatis homo---toh mereka tidak bisa melakukan pro-kreasi. 

Alasan terakhir adalah sikap negara. Dengan mengeluarkan kebijakan ini, Amerika mengatakan homo juga warga negara yang punya hak-hak sipil yang sama dengan hetero. Siapa pun sama di hadapan hukum dan dilindungi. Dan Anda tidak perlu jadi homo untuk menghormati hak-hak mereka.

Legalisasi ini adalah kesetaraan antara hetero-homo. Bukan kemenangan homo atas hetero seperti yang dibilang orang-orang. Well, kalau orang yang suka menindas dan punya otak sengklek sih pikirannya kalah-menang terus. Susah emang.

Amerika juga telah pamit dari ruang privat warganya dan tidak ikut campur. Pemerintahnya menetapkan diri hanya mengurus ruang publik: korupsi, kemiskinan, dan keamanan. Di tanah air, kondisinya terbalik. Korupsi yang jelas merugikan rakyat dibiarkan, masalah orientasi seks diricuhkan.
 
Kini, jika hetero tidak setuju dengan homo, menganggapnya berdosa, itu terserah. Biar Tuhan yang memutuskannya di surga. Kini yang penting jangan saling berkelahi dan mari hidup bersama-sama selama di dunia.

Kalau Anda yakin sebagai hetero, ya sudah, jalani. Jadi hetero kok merasa inferior? Jangan-jangan Anda sebetulnya merasa homo tapi takut mengungkapkannya? Lalu Anda hanya bisa kesal sendiri sambil memposting poster-poster bertuliskan #StraightPride sebagai pelampiasan? 

Duh, kasihan!


Gay Pride tidak lahir untuk merayakan gay, tapi hak untuk hidup tanpa siksaan. Jadi, ketimbang berpikir kenapa tak ada Straight Pride, bersyukurlah karena itu tidak perlu ada.

Saturday, June 27, 2015

Bulan Pesta Berkedok Agama


Saya baru menghadiri acara buka bersama sebuah partai politik yang mengundang warga lokal. Sepuluh menit sebelum magrib, banyak tamu yang sudah mengambil takjil meski panitia sudah berulang kali mengatakan jangan. Tapi satu tamu berceloteh. “Nanti nggak kebagian,” ujarnya sambil mengambil es buah lalu kabur.

Yang terjadi usai adzan lebih menyebalkan. Para tamu mengantre dari satu stand makanan ke stand makanan lain. Dari bakso ke soto. Dari gorengan ke ramen (ya, panitia menyediakan ramen). Lalu mereka membawa 2-4 piring sajian ke hadapan mereka. Makan lahap. Sebagian malah tidak habis.

Saya bukan anti makan mewah. Toh saya juga suka curi-curi waktu untuk makan di tempat berkelas. Tapi saya gemas melihat orang yang melakukan hal ini dengan dalih baru berpuasa, sebagai imbalan menjalankan tugas agama.

Bukankah puasa mengajarkan kita menghapus ego dan hasrat? Ketika kita mengambil makanan sebelum bisa dibagikan, termasuk alasan takut tidak kebagian, bukankah itu ego? Ketika kita mengambil 2-3 sajian berbeda---setelah sebelumnya meneguk takjil dua porsi pula---bukankah itu hasrat? 

Saya takut kita telah gagal melawan hawa nafsu. Kita, ternyata, hanya menunda saja. Malah, kalau dilihat lagi, nafsu makan kita jadi dua kali lipat lebih ganas ketimbang hari biasa. Yang biasanya tidak ada jadi ada. 

Kita merasa boleh makan lebih banyak dari porsi biasanya, lebih mahal dari biasanya, lebih enak dari biasanya, sebagai kompensasi rasa tersiksanya kita menahan lapar dan dahaga. 

Acara berbuka yang tak lebih dari sekadar pesta. Kita hanya pura-pura lupa. Tapi diam-diam berdoa semoga semuanya disahkan oleh Yang Maha Kuasa.

Puasa harusnya menstabilkan gula darah, tapi kok kadar gula dan lemak malah naik kayak harga sembako? Puasa harusnya membuat kita merasakan penderitaan warga ekonomi lemah. Iya tapi waktu siang saja, sehabis magrib sih bisa kembali makan sepuasnya---apalagi kita manja pilih-pilih tempat berbuka. Cek juga: jumlah agenda buka bersama di kalender kita. Penghematan? Lupakan.

Puasa harusnya menempa kita lebih rendah hati. Tapi kok, segala bentuk ibadah dan bakti sosial kita sebarkan di linimasa. Ditambah bumbu-bumbu ucapan syukur biar kelihatannya lebih syahdu padahal riya. Toh kita juga tahu Tuhan bisa mendengar syukur kita tanpa harus menyapanya di dunia maya.

Pada akhirnya, manfaat puasa itu tidak ada. Kita akan kembali jadi diri kita yang angkuh seperti 11 bulan lainnya. Untuk kemudian berpura-pura bahagia menyambut Ramadhan demi sebulan pesta berkedok agama di tahun berikutnya.***

Gambar milik bestdesignoptions.com

Wednesday, May 27, 2015

Korupsi atau Ereksi? Surat Terbuka untuk Guru Besar Samsul Wahidin

Yth Bapak Samsul Wahidin, Guru Besar Pendiskreditan Perempuan,

"Dengan memilih seluruh anggota pansel perempuan, itu sudah merupakan cacat bawaan."

Tangan saya langsung gemetar ketika membaca kalimat tersebut. Pada detik itu juga saya berpikir tulisan Anda "Kontroversi Perempuan Pansel KPK" di Jawa Pos ini sangatlah berbahaya.
Sebetulnya saya menahan diri menulis soal Pansel KPK yang semuanya perempuan. Saya tidak mau mengapresiasi Jokowi yang memilih Destry dan tim. Tak mau sok-sokan menyebut mereka "srikandi". Sebab, jika saya melakukannya, berarti saya menilai Pansel dengan kerangka penis atau vagina. Mau kelamin apapun yang saya dukung, saya tetap seksis---dan inilah musuh yang menjebak kita.

Lalu hati saya terketuk ketika membaca racauan Anda.

Sangatlah mengecewakan membaca tulisan guru besar namun berpikiran kerdil. Sebagai akademisi senior, Anda gagal menggandeng data-data yang mendukung argumen. Misal, apakah ada penelitian yang menyebutkan perempuan tak cakap menyeleksi patriot anti-korupsi? Tunjukkan pada kami, riset hukum tata negara (atau biologi?) yang membuktikan hubungan pemberantasan korupsi dengan alat reproduksi ini. Adakah jajak pendapat atau studi kasus? Nihil.

Perempuan malah Anda anggap tidak punya kewenangan, dan memilihnya Anda tulis sebagai penyimpangan administrasi. Sejak kapan konstitusi kita hanya mengakui laki-laki?

Kenapa juga Anda memandang perempuan sebagai cacat? Ketika semua manusia dilahirkan tanpa pernah memilih jenis kelaminnya, kenapa bisa begitu angkuh dan arogan? Jika sudah menikah, apakah Anda menganggap isteri sendiri juga sebagai sesuatu yang tidak sempurna?

Alasan agama dan sosiokultural pun sangat rapuh. Sebab sudah banyak alternatif tafsir agama di mana perempuan punya hak yang sama. Pun budaya leluhur Nusantara tercatat menyejajarkan kedua kelamin, terlihat dari kesamaan bahasa bagi keduanya. Maka, ketika Anda menulis wanita jadi sumber kerusakan, sama saja berkata bahwa laki-laki lemah luar biasa tidak bisa berbuat apa-apa.

Satu-satunya argumen tanpa bias gender yang saya temukan adalah tim Pansel tidak cocok diketuai ekonom pada paragraf 14. Hey, kenapa tidak melanjutkan argumen dari sini?
Saya tegaskan, saya juga ogah bila Jokowi menghitung faktor kelamin ketika memilih anggota Pansel. Sebab, bila demikian, bagaimana pun Jokowi telah dijebak dikotomi yang sama. Dan ini tidak lebih baik dari cara berpikir tulisan Anda.

Saya tidak bilang perempuan lebih jago memberantas korupsi, begitu pun laki-laki. Juga saya tidak mau mengatakan laki-laki lebih potensial untuk melakukan rasuah. Siapa pun ya sama saja. Kita tahu Angelina Sondakh korup, Sutan Bathoegana korup, dan bukan alat kelamin mereka yang menggelapkan uang negara. Lucunya, kita juga tahu persis bukan alat kelamin Abraham Samad yang mengendus dan menangkap mereka!

Lalu kenapa kita membawa penis dan vagina ketika memikirkan bangsa? Saya jadi bertanya-tanya: ketika Anda memulai tulisannya, kira-kira ingin menulis korupsi atau sedang ereksi?

Salam dari sesama laki-laki. Bukan guru besar melainkan jurnalis KBR 68H.

- Penerbangan KMO-CGK, 26 Mei 2015

Thursday, March 12, 2015

Kekejaman dengan Bungkus Merah Putih


Untuk Bambang di Solo


Salah satu anggota keluarga saya sedang terjerat narkoba untuk kedua kalinya, ketika pengedar narkoba asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran bersiap menghadapi eksekusi mati di Indonesia.

Jika ditanya apakah keduanya harus dihukum, saya adalah orang yang selalu setuju. Sebab saya sudah merasakan sendiri bagaimana zat adiktif itu mengguncang hubungan sosial dan ekonomi keluarga kami---dua kali! Tapi, jika pertanyaannya haruskah pengedar narkoba dihukum mati? Saya menjawab tidak.

Sebab sampai sekarang tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan hukuman mati bisa memutus rantai narkoba. Malahan, dengan dibunuhnya pengedar kelas teri, informasi mengenai jaringan narkoba di atasnya akan hilang. Maka mafia-mafia kelas kakap akan terus mengeruk keuntungan sambil menari-nari. 

Itulah kenapa hati saya terluka ketika melihat Bambang, warga Solo, Jawa Tengah, mengirimkan dua peti mati ke kedutaan Australia di Jakarta, pekan lalu. Dua peti itu dia bungkus dengan bendera Australia, lengkap dengan foto kedua terpidana mati di masing-masing peti. 

Aksi ini dia lakukan sebagai dukungan terhadap rencana pemerintah Indonesia mengeksekusi dia pengedar narkoba asal negeri kangguru. “Kedaulatan di negara ini harus ditegakkan,” ucapnya angkuh.

Perasaan saya makin tercerai berai ketika melihat puluhan siswa SD, Februari lalu, yang mengikuti “Koin untuk Australia”. Mereka mengumpulkan uang sebagai bentuk protes terhadap pernyataan PM Abott yang mengungkit bantuan Australia saat Aceh dilanda tsunami 2004 silam.  

Meski saya juga tidak suka pernyataan Abott yang memperdagangkan misi kemanusiaan, tapi kelakuan anak itu lebih memilukan! Tahu apa mereka soal narkoba, hukuman mati, dan hubungan diplomatik kedua negara?

Kemudian media massa Indonesia bersikap tidak adil. Metrotvnews.com menulis Australia mengintervensi pelaksanaan hukuman mati. Tapi, bukankah pemerintah Indonesia juga akan memberi pembelaan yang sama kepada warga negaranya yang terancam hukuman mati di Hongkong dan Saudi Arabia? Kenapa kita menyebut pemerintah Indonesia menolong sedangkan pemerintah Australia ikut campur?

Nasionalisme macam apa ini? Kenapa kita bangga merah putih tapi menginjak martabat manusia di saat yang sama? Saya setuju bahwa hukum di Indonesia harus berdaulat, tanpa intervensi Australia atau negara mana pun. Tapi kok, hukuman kita itu barbar dan dangkal ya? Dari 198 negara di dunia, kenapa bangsa Indonesia ini masih menjalankan hukuman mati---bersama 34 negara lainnya?

Jangan lupa: eksekusi mati muncul saat pemerintah mengeluarkan kebijakan tidak populer. Dan ini patut kita curigai. Ingat, enam nama pertama muncul Januari lalu setelah Polycarpus, si pembunuh aktivis HAM Munir, bebas bersyarat. Lalu sekarang muncul nama-nama jilid dua ketika pemerintah memilih Budi Gunawan, pejabat kepolisian yang diduga korup, sebagai calon tunggal Kapolri. 

Masih ada sisa 48 terpidana mati narkoba yang bisa dicicil kapan pun pemerintah butuh tameng. Sementara rakyat terus berteriak mendukung pemerintahnya yang kejam dan menanggalkan rasa kemanusiaan.***