Thursday, March 12, 2015

Kekejaman dengan Bungkus Merah Putih


Untuk Bambang di Solo


Salah satu anggota keluarga saya sedang terjerat narkoba untuk kedua kalinya, ketika pengedar narkoba asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran bersiap menghadapi eksekusi mati di Indonesia.

Jika ditanya apakah keduanya harus dihukum, saya adalah orang yang selalu setuju. Sebab saya sudah merasakan sendiri bagaimana zat adiktif itu mengguncang hubungan sosial dan ekonomi keluarga kami---dua kali! Tapi, jika pertanyaannya haruskah pengedar narkoba dihukum mati? Saya menjawab tidak.

Sebab sampai sekarang tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan hukuman mati bisa memutus rantai narkoba. Malahan, dengan dibunuhnya pengedar kelas teri, informasi mengenai jaringan narkoba di atasnya akan hilang. Maka mafia-mafia kelas kakap akan terus mengeruk keuntungan sambil menari-nari. 

Itulah kenapa hati saya terluka ketika melihat Bambang, warga Solo, Jawa Tengah, mengirimkan dua peti mati ke kedutaan Australia di Jakarta, pekan lalu. Dua peti itu dia bungkus dengan bendera Australia, lengkap dengan foto kedua terpidana mati di masing-masing peti. 

Aksi ini dia lakukan sebagai dukungan terhadap rencana pemerintah Indonesia mengeksekusi dia pengedar narkoba asal negeri kangguru. “Kedaulatan di negara ini harus ditegakkan,” ucapnya angkuh.

Perasaan saya makin tercerai berai ketika melihat puluhan siswa SD, Februari lalu, yang mengikuti “Koin untuk Australia”. Mereka mengumpulkan uang sebagai bentuk protes terhadap pernyataan PM Abott yang mengungkit bantuan Australia saat Aceh dilanda tsunami 2004 silam.  

Meski saya juga tidak suka pernyataan Abott yang memperdagangkan misi kemanusiaan, tapi kelakuan anak itu lebih memilukan! Tahu apa mereka soal narkoba, hukuman mati, dan hubungan diplomatik kedua negara?

Kemudian media massa Indonesia bersikap tidak adil. Metrotvnews.com menulis Australia mengintervensi pelaksanaan hukuman mati. Tapi, bukankah pemerintah Indonesia juga akan memberi pembelaan yang sama kepada warga negaranya yang terancam hukuman mati di Hongkong dan Saudi Arabia? Kenapa kita menyebut pemerintah Indonesia menolong sedangkan pemerintah Australia ikut campur?

Nasionalisme macam apa ini? Kenapa kita bangga merah putih tapi menginjak martabat manusia di saat yang sama? Saya setuju bahwa hukum di Indonesia harus berdaulat, tanpa intervensi Australia atau negara mana pun. Tapi kok, hukuman kita itu barbar dan dangkal ya? Dari 198 negara di dunia, kenapa bangsa Indonesia ini masih menjalankan hukuman mati---bersama 34 negara lainnya?

Jangan lupa: eksekusi mati muncul saat pemerintah mengeluarkan kebijakan tidak populer. Dan ini patut kita curigai. Ingat, enam nama pertama muncul Januari lalu setelah Polycarpus, si pembunuh aktivis HAM Munir, bebas bersyarat. Lalu sekarang muncul nama-nama jilid dua ketika pemerintah memilih Budi Gunawan, pejabat kepolisian yang diduga korup, sebagai calon tunggal Kapolri. 

Masih ada sisa 48 terpidana mati narkoba yang bisa dicicil kapan pun pemerintah butuh tameng. Sementara rakyat terus berteriak mendukung pemerintahnya yang kejam dan menanggalkan rasa kemanusiaan.***


Thursday, March 5, 2015

Kopi Rasa Emosi



Untuk nenek tua penjual kopi

Sudirman Central Business District, Jumat malam pekan lalu.

Saya baru selesai santap malam seharga 40 ribu Rupiah di Chicken Story, masih memegang jus stroberi, ketika akhirnya melewati seorang nenek yang duduk di trotoar.

Ditemani termos dan koper tua berisi sachet minuman serta bungkus rokok, nenek itu melihat saya.

“Kopi, De?” tanyanya, yang langsung membuat leher saya lemas sehingga akhirnya mengangguk.

“Yang Tora Bika ya, Bu.”

“Empat ribu Rupiah,” ujarnya sambil menaburkan choco granule.

Ketika saya pergi sambil menggenggam kopi buatan si nenek, mata saya becek. Saya tidak tahu emosi apakah itu.

Ketika saya mengambil tegukan pertama kopi tersebut, ingatan saya ditarik ke beberapa waktu sebelumnya.

Siang di hari yang sama, saya baru saja melipir ke Starbucks di US Embassy bersama sejumlah teman. Vanilla latte 40 ribu Rupiah.  Juga, selama sebulan belakangan ini, saya kerap menyambangi Seven Eleven dan Family Mart di kawasan Blok M, Jakarta. Famima chicken dan yaki satsuumage total dua puluh ribu Rupiah, atau chicken katsu dua puluh enam ribu Rupiah. Ya, saya tidak hanya makan nasi, saya juga membeli gengsi!

Setiap kita bisa memesan itu dengan rasa bangga, lalu mengambil gambarnya untuk di-upload ke media sosial dengan perasaan angkuh tiada tara. Kemudian kita menunggu berapa like, reply atau love yang kita dapat untuk memenangkan ego kita. Tapi malam itu saya membenci semuanya.

Malam itu saya lebih senang dengan kopi sederhana, yang jadi pengingat manis soal kemiskinan, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan dunia. 

Kopi itu dihantar dengan senyum nenek tua, yang bagaimana pun terasa 3 derajat lebih manis ketimbang senyum pelayan Starbucks mana pun yang pernah saya temui. Ada perasaan tulus yang saya rasakan dari senyum nenek---mungkin karena si nenek merasa tertolong.

Perasaan itu ditukar dengan perasaan lega di dada saya. Ikatan emosi yang terjalin itu membuat kopi ini jadi yang terlezat se-kawasan SCBD, mengalahkan produk kedai kopi mana pun di Pacific Place!

Kopi rasa emosi seperti ini dijual di mana ya? Apakah ada di Chicken Story, atau di 53.000 gerai Seven Eleven di seluruh dunia? Tidak.***

Monday, March 2, 2015

Indonesia Delegates Sing "Laskar Pelangi"

Indonesia delegates sing Laskar Pelangi in recreation night, YSEALI United for Peace, in Mariapolis, Tagaytay City, the Philippines, last February.

Photo by Focolare Movement


"เบา เบา" Bao Bao by Thai Delegates


Thailand Delegates sang Bao Bao in recreation night, YSEALI United for Peace, in Mariapolis, Tagaytay City, the Philippines, last February.


Photo by Focolare Movement



Here are the lyrics, taken from Deungdutjai.com


Title: เบา เบา / Bao Bao (Tenderly)
Artist: Singular
Album: The White Room
Year: 2010

ใจหนึ่งใจ จะต้องการอะไร
Jai neung jai ja dtaung gahn arai
One heart, what does it need?

ให้มันมากมาย ให้มันวุ่นวาย
Hai mun mahk mai hai mun woon wai
We give it so much, we make it complicated

เพียงเธอนั้น ใส่ใจกันเบาเบา
Piang tur nun sai jai gun bao bao
Only you paying a gentle attention to it

พอให้สองเรา ได้ทำอะไรมากมายในตอนนี้
Por hai saung rao dai tum arai mahk mai nai dtaun nee
That’s enough for the two of us to be able to do so many things right now

(*)บางเวลาไม่เป็นไร ถ้าเธออยู่ไกล
Bahng welah mai pen rai tah tur yoo glai
Sometimes it’s all right if you’re far away

บางเวลาฉันเข้าใจ เธอลืมกันไป
Bahng welah chun kao jai tur leum gun pai
Sometimes I understand, if you’ve forgotten me

บางเวลาไม่เป็นใจ ก็ไม่ต้องเสียดาย
Bahng welah mai pen jai gor mai dtaung sia dai
Sometimes it’s discouraging, but there’s no need for regrets

ปล่อยมันไปก่อนนะ
Ploy mun pai gaun na
Let it go

(**)คิดถึงฉันสักครั้ง เมื่อไม่ได้คิดถึงใคร
Kit teung chun suk krung meua mai dai kit teung krai
Think of me when you’re not thinking of anyone else

ทำตัวตามสบาย แล้วเจอกันในความฝัน
Tum dtua dtahm sabai laeo jur gun nai kwahm fun
Do whatever you please, I’ll see you in my dreams

มีเวลาดีๆ ก็บอกให้ฉันได้ฟัง
Mee welah dee dee gor bauk hai chun dai fung
Have a good time, tell me about it

ไม่มากเกินไปกว่านั้น ค่อยๆ รักกันเบาเบา
Mai mahk gern pai gwah nun koy koy ruk gun bao bao
Not much more than that, we’ll gradually fall in love tenderly

เธอกับฉัน ยังต้องเดินทางไกล
Tur gup chun yung dtaung dern tahng glai
You and I still have to walk a long path

คงไม่สายไป ให้เวลากับใจได้เรียนรู้
Kong mai sai pai hai welah gup jai dai rian roo
It’s not too late to give our hearts some time to learn

(*,**,*,**)

คิดถึงฉันสักครั้ง เมื่อไม่ได้คิดถึงใคร
Kit teung chun suk krung meua mai dai kit teung krai
Think of me when you’re not thinking of anyone else

ทำตัวตามสบาย แล้วเจอกันในความฝัน
Tum dtua dtahm sabai laeo jur gun nai kwahm fun
Do whatever you please, I’ll see you in my dreams

มีเวลาดีๆ ก็บอกให้ฉันได้ฟัง
Mee welah dee dee gor bauk hai chun dai fung
Have a good time, tell me about it

ขอเธอแค่เพียงเท่านั้น ค่อยๆ รักกันเบาเบา
Kor tur dae piang tao nun koy koy ruk gun bao bao
I only ask you this, we’ll gradually fall in love tenderly

ค่อยๆ รักกันเบาเบา
Koy koy ruk gun bao bao
We’ll gradually fall in love tenderly

Saturday, February 28, 2015

Meet Muslim in Tagaytay, Philippines


Text and photo by Rio Tuasikal


Abu Bakar Hajiali (39) and Ismail Adapun (37)


At first, they were staring at us, strangely. 

"Assalamualaikum," said Rudi of Thailand.

Then we knew we are one muslim family, broke any border of our 3 different nationalities.

We got 30 minutes preaching in arabic and Tagalog here in a small mosque in Tagaytay City, the Philippines, a week ago. Muslim community here is not so big, maybe only 50 families.
Originally from Mindanao, now mostly of them work in a market near the mosque.

They are really humble and friendly.


 
 
 

Sakareeya (grey) and Foon (black) talked to two muslim boys.
Upin Ipin of the Philippines!