Posts

Ketika Berita Saya Dicap “Pro-LGBT”

Image
Ketika laporan saya ‘Pengamat Nilai Indonesia Punya Ruang Bagi LGBT’ dikomentari 400 netizen, kemarin, saya tidak kaget kalau saya dicap bias dan pro-LGBT. Sejumlah komentar netizen menuding berita itu (dan juga media tempat saya bekerja) mendukung keberadaan minoritas gender LGBT. Tudingan yang sama disematkan pula kepada BBC Indonesia atas laporan berikut ini.

Tapi, hey, tunggu dulu. Apakah netizen bisa menjelaskan apa itu bias dan pro-LGBT? Tidak ada yang membahasnya. Mereka bahkan tidak menyebut bagian mana dari laporan saya atau laporan BBC yang dianggap bias. Saya malah curiga mereka tidak benar-benar membaca isi laporan dan hanya menghakimi, secara reaktif, berdasarkan interpretasi mereka terhadap judul semata.

Dari mana netizen mengambil kesimpulan bahwa laporan itu mendukung A atau B? Ketika saya menulis bahwa LGBT menjadi korban kekerasan, dan bahwa Islam punya tafsir alternatif terhadap keberadaan LGBT, apakah saya mendukung keberadaan LGBT? Saya hanya memberitahu bahwa…

Kenapa Kita Menerapkan "Sinetron Azab" pada Bencana Alam?

Image
Betul, kita semua setuju bahwa orang jahat harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Bahwa orang licik dan culas harus menganggung akibat dari perilakunya. Dengan demikian kita yakin keadilan telah ditegakkan dan bahwa 'kebaikan' akan selalu menang.

Umat manusia selalu punya angan-angan tentang kebenaran tertinggi itu. Di ranah duniawi yang profan, kita menciptakan sistem hukum dan peradilan pidana untuk membuat jera individu yang telah merugikan orang lain. Sementara di ranah agama yang sakral, manusia mengenal konsep surga dan neraka. Tuhan akan mengganjar perbuatan manusia berdasarkan amalannya.

Gagasan mengenai surga-neraka ini merupakan ejawantah alami dari kerinduan kita akan keadilan. Konsep dwitunggal ini menjadi kompas moral bagi sebagian orang. Surga-neraka secara bersamaan menjaga seseorang menganut nilai-nilai yang dianggap 'baik' oleh masyarakat dan juga peradaban. Hal ini belaku juga bagi sebagian manusia lain yang memilih sains dan filsafat sebagai komp…

Puisi: 13 Tahun Agama

Image
*Dibacakan pada Unmasked Open Mic "Ascendance" di Jakarta, 18 Agustus 2018


November 2005: Ibu saya berjualan kue lebaran tapi ada sisa
Dia meminta saya memberikannya pada tetangga
"Tapi, mah, dia kan batak dan kristen. Tidak Lebaran kayak kita"
"Oh tenang saja, ini kue persahabatan semata"
Di rumah tetangga, kue disambut dengan suka cita
Oh ternyata dia belum pernah menerima kue lebaran seumur hidupnya
Maka sebulan sesudahnya, ketika Natal tiba...
...giliran keluarga saya dapat kue darinya
Indahnya perbedaan kita.

Tapi tahun demi tahun mengubah semuanya
Gereja-gereja disegel orang-orang yang murka
Ahmadiyah, Syiah, dipukuli atas dasar prasangka
Perempuan muslim, yang siswa atau abdi negara, dipaksa pakai jilbab di kepalanya
LGBT diusir, karena tiba-tiba selangkangan saya jadi urusan Anda semua!

Gubernur bersih, masuk penjara; protes adzan kencang, eh dihukum juga.
Atas nama? Pe-nis-ta-an-a-ga-ma

Sejak kapan agama jadi dipaksa-paksa?
Sejak kapan ini jadi watak Indonesia?

Uwu, Saya Gemas Melihat Orang Melafal "Pasteur" dan "Purbaleunyi"

Image
Untuk yang suka mengejek orang Sunda soal 'f' dan 'v'

"Untuk informasi selengkapnya, kita bergabung bersama Jurnalis Kompas TV Nadia Hafizha di gerbang tol Past(e)r, Bandung, Jawa Barat."

Eh apa? Paster atau Pasteur? 
Musim mudik seperti ini, nama pintu tol Pasteur dan tol Purbaleunyi, keduanya di Bandung, selalu masuk berita---dan banyak orang selalu keliru ketika melafalkannya. Baik itu reporter televisi, pejabat atau petugas Kementerian Perhubungan, termasuk pemudik sendiri yang melewati Jawa Barat.

Mereka keliru mengucapkannya sebagai Paster, dengan 'e' biasa seperti dalam menyenangkan. Padahal seharusnya 'eu'. Bunyinya kira-kira kayak temen Spongebob, si Patrick Star pas lagi bengong. Saking susahnya cari video yang bisa menjelaskan itu, berikut saya bikin video sendiri hahaha..

Sedikit pengetahuan Basa Sunda. Tidak seperti banyak yang lain, bahasa ini memiliki tiga jenis e: ada é, e, dan eu. Yang pertama (é) bacanya seperti enak. Yang ked…

Banyak Orang Mengira Saya Merayakan Natal

Image
Sebetulnya tidak apa-apa juga orang-orang mengucapkan selamat Natal kepada saya, meski saya tidak merayakannya. Saya tidak tersinggung atau apa. Hanya saja ini terjadi setiap tahun dan menarik untuk diceritakan.

Natal tahun ini, ada sejumlah teman yang mengucapkan lewat Facebook dan Whatsapp. Lalu di kantor VOA, seorang kolega memberi saya ucapan Natal. Saya terima dengan senyum, "Terimakasih, pak, tapi saya tidak merayakan Natal." Lalu dia mengernyitkan dahi dan bertanya apakah saya seorang muslim.

Ini terjadi sepanjang sejarah hidup saya. Sejak kecil. Orang seringkali menduga, mengira, menebak-nebak saya sebagai pemeluk Kristen dan saya merayakan Natal. Saya sebetulnya tidak pernah menyadari betapa banyak orang yang berpikiran demikian sampai terjadi peristiwa berikut.

Dalam suatu kemah lintas-iman di Bandung, teman saya Risdo Simangunsong, bertanya "kamu pernah di persekutuan mana?" Lalu saya melongok. "Hah?" Karena pada saat itu saya belum mengerti b…

Kenapa Nama Saya "Rio"? (Versi Bahasa Indonesia)

Image
Click here for English version.

Untuk yang penasaran dengan nama depan saya.
Tinggal selama beberapa bulan di Amerika Serikat membuat saya menyadari bagian dari diri saya yang menarik bagi banyak orang: nama saya, Rio. Ini bahasa Portugal yang artinya "sungai" tapi saya tidak punya darah Iberia (setidaknya sepengetahuan saya karena saya belum mengambil tes DNA leluhur). Saya akan membahasnya di bagian akhir. Tapi sekarang saya akan menceritakan 3 skenario utama bagaimana orang-orang menanggapi nama saya.
Paling sering, orang menganggap "Rio" terlalu mudah dan mustahil. Bagaimana mungkin orang Asia seperti saya punya nama yang sederhana? Kerap kali, di Starbucks, pramusaji memastikan ulang nama saya kalau-kalau dia salah dengar. "Rio seperti R-I-O?" tanya mereka beberapa kali. "Ya, Rio yang itu," kata saya.
Tapi tidak selalu seperti itu kejadiannya. Kadang-kadang ada orang yang ingin memastikan apakah Rio betulan nama saya atau nama panggilan saj…

Why Is My Name "Rio"?

Image
Klik untuk versi bahasa Indonesia.



For those who curious about my first name.
Been living in the US for couple months, I am now able to recognize the part of myself that interest people the most: my name, Rio. This actually Portuguese for "river" but I don't have Iberian blood in me (at least to my knowledge since I haven't taken an ancestry test yet). I will discuss this at the end of this writing. But first please take a look three main scenarios on how people will react to my name. 
In most cases, some people think "Rio" is too good to be true. Like, how can Asian guy like me has such an easy name? Oftentimes, mostly at Starbucks, the cafe register will ask once again my name just to make sure that they are not mistaken. "Rio as R-I-O?" they asked me several times. "Yup. That Rio," I replied.
But that's not always been the case. Few times some people want to make sure if Rio is my actual name or simply a nickname. "Oh no, it&…