Sunday, December 13, 2015

Why a Sport Looser Like Me Keep Going to Gym for 5 Months

For sport teachers,

 

As you maybe already know, I have joined Fitness First since July - and feel pleasure about it.

I still remember my first class on the club, it was Body Combat. It's a series of non-contact martial arts that pumps your cardio to the highest beat. With Mico as the instructor, there were only four members in the class. Oh no!

As a guy with poor sports background in high school, that tiny class was intimidating me. Back in 2006, I was a student with a terrible score in sport. I got 30, yes that small, for joining the class only twice. The biggest reason is that I am afraid. I have never been a star in the soccer field since forever. I usually fail to get the ball, and when I do, I kick it wrong. It applies too to any sport you can mention: basket ball, volley ball. I obviously can be proud that I am good at chess - but well that's not physical.

Thinking about my past, my legs were shaking.

"Any first timer?" Mico's question shocked me.

I looked outside, pretending to be familiar with this class while I am not. But my heart couldn't lie: What if I can't follow the movement? What if I get tired too soon? What if I am weak for real? What if I slain? How can I hide?

And, the class started. God help me...

AIA! AIA! AIA!

As I hardly jab and kick - which both terms I knew just that time - my worries gradually turned into nothing. Hey, Mico just smiled and gave instruction about the right position - and didn't evaluate me nor others at all. Even when I stopped a while to drink or breathe, Mico didn't mention it. And, that's how my first class went OK.

So I get the similar experience in all classes I attended. From the total workout of Body Pump to funky dance of Body Jam, or Gentle Flow Yoga, or even the session with personal trainer, the instructors never judged anyone.

"Just dance," a Body Jam instructor Winna told me.

"This is about yourself, not others," a Yoga teacher Farida said.

From them, I learned that sports should not be considered as competition, no one should be evaluated or ranked. This is not a training for Olympic - and no one is an athlete anyway. Here, everybody have their own capacity, all you have to do is start from your position, and everyone feels secure about themselves.

This is hugely important for everyone. Simply think of people with obessity who were trying to get rid of that belly fat. They must have double pressures: body capacity and people who underestimate them. Thanks to the non-judgement environment gym has to offer, they only need to focus about health and not label. It will strongly help people who want to be healthier.

So that's how I keep going to the gym in recent months. My body has changed a bit more muscular, well, but the most valuable point is my frame of thinking. Sport is fun-centered, not rank-centered. It's a health-concious, not a health check. The only comparison you will have is you vs yourself. And I am jubilant to see everybody's involved.

Sports teachers, please kindly consider this. 

Picture is from imgtrendy.com

Friday, October 16, 2015

Ngalay di Markas PBB (Bagian 1)

Dasar emang anak alay, mau liputan di UN Headquarters juga tetap alay.

Gue masih senyum-senyum kalau ingat belasan tahun lalu membaca tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa di buku pelajaran, dan masih nggak percaya kemarin bisa menginjak markasnya, di New York pula!

Gue meliput UN General Assembly ke-70 akhir September lalu - lewat beasiswa liputan dari Copenhagen Consensus Center.

Foto ID Card buluk banget. Abaikan.
Hari pertama debut gue sudah terhalang blokade polisi sebelum masuk UNHQ.

"You have to wait," kata mbak-mbak NYPD itu.

Gue tunggu lah sampai 15 menit sampai iring-iringan mobil lewat. Gue lihat benderanya kayak Bangladesh - eh atau Spanyol ya? Benderanya ada dua warna dan bergambar singa. Tapi waktu orang di dalam mobil itu melambaikan tangan, dan orang-orang teriak kegirangan, lah itu kan bendera Vatikan - dan itu Paus Fransiskus! Baru ingat doi bakal berpidato di PBB pagi itu.

Telat sadar itu Paus Fransiskus, jadi fotonya jelek.


Anyway, liputan di UNHQ itu rempong banget. Kompleks Markas PBB itu segede gambreng - ada gedung sekretariat, gedung Majelis Umum, gedung utara, sampai taman mawar yang aduhai. Setiap masuk bangunan, barang kita harus dipindai lagi dan lagi.

Ada beberapa area yang hanya bisa dilewati pejabat, ada yang lorongnya muter-muter kayak labirin, ada yang mesti lewat eskalator, belum lagi nama ruangannya sama tapi bangunannya beda. Gue nyari conference room 4 setengah jam nggak ketemu tahunya beda gedung Ya Tuhaaaan!


Coba tebak mana bendera Indonesia? Negara anggota PBB ada 193.

Gedung tinggi itu namanya Secretariat Building - tempatnya Sekjen Ban Ki-moon. Gedung yang panjang di depannya itu General Assembly- tempatnya para pemimpin dunia sidang.

Rombongan delegasi negara-negara juga unik bikin mata tak tahan melirik. Rombongan dari negara-negara Afrika, misalnya, cowok-cowoknya pakai jas dan ceweknya pakai baju gombrang dan penutup kepala. Dari 10 orang yang gue temui, semuanya beda negara dan dari ras berbeda-beda. Waktu lihat orang yang gue kira dari Indonesia, tahunya Filipina! Magandang hapon sa iyo. Untung belum tanya-tanya. 

Bersambung ke bagian 2 ya.

Sunday, August 23, 2015

This Woman Searches for Disappeared Husband

I interviewed Shui Meng, in Jakarta, Aug 20 (Aisyah Khairunnisa/@aiskhairun)
Shui Meng has spent three years searching for his husband, Sombath Somphone.

Sombath Somphone was recently awarded with the Special Award for Human Rights in Gwangju, South Korea. He went missing mysteriously in 2012 – many suspect he was forcibly disappeared because of his work empowering communities across Laos. International human rights groups have appealed to the government to investigate the case. 

This is the wife's story.

Sunday, August 16, 2015

Anak Yang Menyapa Tuhan dari Seberang Istana

AJI-UNICEF Award - Best Reporting on Children Issues (2015) Nominee in radio




---

Empat hari sebelum Natal, pemerintah belum juga membuka segel gereja Yasmin yang sah. Bertahun-tahun jemaat merayakan kelahiran juru selamat di seberang Istana. Selama itu pula anak-anak GKI Yasmin, seperti Edo, tumbuh besar dalam kebingungan. Jurnalis KBR Rio Tuasikal bertemu dengan Edo saat ibadah di seberang Istana, kemarin. Berikut kisahnya.


 

Siang terik di seberang Istana Merdeka, Jakarta.

Untuk ke-79 kalinya, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia beribadah sambil menagih janji negara. Masih dengan payung warna warni dan kursi plastik yang dijejerkan di aspal.

Mengenakan topi putih, Edo, 13 tahun, mengeluarkan handuk dan melap keringat di mukanya.

“Harapan utamanya sih untuk membuka segel gereja. Karena kan IMB-nya juga sepengetahuan Edo sudah sah. Mau ibadah saja kok susah sih? Ini ibadah buat Tuhan loh, bukan untuk siapa-siapa,” katanya.

"Tidak sekhusyuk di gereja langsung. Jadi antara terkena sinar matahari, dan beribadah kepada Tuhan, serta berharap presiden memberikan respon. Jadi tercampur aduk pikirannya," jelasnya.

Sudah dua tahun, setiap bulannya, Edo ke istana bersama sang ibu.

"Dulu belum begitu mengerti. Masih bingung juga. Ini ibadah ngapain sampai ke Jakarta, kan gerejanya di Bogor? Ngapain panas-panas? Kenapa di depan istana? Pertama kali itu,” ujar Edo.

Edo ingat 2010 lalu, ketika kelompok intoleran memprotes gerejanya sambil berkata kasar.

“Ngapain mereka di sini? Kenapa mereka bawa kayu dan ada yang bawa golok juga? Ini mau ibadah loh, bukan mau tawuran. Ngapain bawa alat kayak gitu sih? Ya bingung. Rasa takut dan rasa marah tuh jadi satu.”

Sejak itu pula, Edo berusaha melawan prasangka. Dia enggan mencap seluruh muslim jahat.

“Kalau melihat teman-teman muslim Edo sih, Edo mengganggap mereka sebagai saudara ya. Ada juga di tempat les itu nanya, dengar Edo bikin surat, dia memberi kata-kata tetap semangat. Membuat Edo hanya tidak menyukai orang-orang muslim yang memprotes, yang sempat membawa alat-alat dan mengancam GKI Yasmin."

Tapi sekeras apa pun Edo mencoba, dirinya tetap takut setiap kali melihat orang berbaju muslim.

"Kalau melihat orang yang memakai pakaian seperti itu tiba-tiba lewat, agak gemetar, rasa takutnya masih ada dalam diri Edo. Edo masih merasakan teror. Di dalam pikiran itu seperti ada rasa khawatir,”  kata Edo pelan.

Bagi pelajar SMP seperti Edo, pengalaman ini datang terlalu cepat. Dia hanya bisa diam setiap melihat anak-anak gereja lain beribadah dengan damai.

“Yang paling pertama itu iri. Kenapa mereka bisa ibadah, dan Edo nggak. Mereka tuh bisa duduk dengan tenang, duduk diam tidak takut. Sedangkan Edo? Berdiri di depan gereja saja sudah gemetaran, sudah ada rasa teror,”

Dari kasus gerejanya, Edo jadi meragukan Indonesia.

“Pelajaran PKN, bhinneka tuggal ika. Itu tidak Edo rasakan di GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia. Semboyannya dikemanakan? Apa dibuang begitu saja? Sila kelima, keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Yang lain bisa beribadah. Tapi kenapa GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia ini tidak diperlakukan secara adil?”

Pagar gereja Yasmin kini telah bolong. Belum lama, Edo diajak ibunya menyelinap ke gerejanya, dan melihat halaman gereja dipenuhi ilalang satu meter, sementara bangunan gereja ditutupi tanaman rambat. Di dalam, Edo melihat sisa hiasan Natal empat tahun lalu.

“Kesan yang pertama dapat. Sudah lama banget ya berjuang. Dan itu sedih sih sebenarnya. Jadi, setelah melihat itu ya, sudah lama banget kenapa nggaka da respon, nggak ada pemerintah. Jadi sedih gitu ya,”

"Yaa.. nggak bisa dikata-katakan lagi lah,”

Edo lalu diam, matanya berkaca-kaca.***