Thursday, April 21, 2016

Fitness First and Transjakarta Were Celebrating Kartini's Day All Wrong

To Fitness First and Transjakarta



Today, I find that our struggle for gender equality is still thousand miles away. 

This evening, Fitness First Senayan City conducted a special event for Kartini's Day named FITGIRL. The so-called carnaval consists of several classes by only female instructors wearing batik, tracks by female singers only, and the club decorated with batik. But the worst part was the merchandise was for girl  participants only.

Went home, I was waiting for a Transjakarta bus. The first bus is half pink and has huge text of "Habis Gelap Terbitlah Terang" (After darkness, there's light) written on the sides of the bus. Then the bus attendant rejected me as the bus is for female passengers only.

Wait a minute, is this how they commemorating Kartini's Day? Where is the equality between girls and boys that our national heroine has shown us decades ago? Open your history book and you'll easily find that Kartini fought for equality, not the special treat for girls!

You guys have hijacked Kartini's Day by embarassingly misinterpreting her noble ideas. Thanks for your stupidity now our future of gender-equal world even more uncertain. []

Jika Kamu Berpakaian Adat untuk Merayakan Hari Kartini, You're Celebrating It All Wrong



Untuk yang memperingati Hari Kartini


Ketika saya membeli sarapan pagi ini, saya melewati sebuah masjid yang sedang memperingati Hari Kartini - tentu dengan sebuah lomba peragaan busana untuk anak.

Anak-anak kecil, baik perempuan maupun laki-laki, berpakaian adat dari berbagai daerah. Ada juga yang mengenakan seragam profesi seperti dokter, guru, atau polisi. Lalu satu dua tiga, pose. Satu dua tiga, pose. Yang menang dapat piala.

Di linimasa, sejumlah teman saya mengenakan baju adat terbaiknya untuk acara Kartini di kantor mereka. Lalu mereka mengunggahnya di Instagram, dengan hashtag, ehem, #OOTD.

"Kartini Fashion Week" ini lazim setiap tahun. Namun, apakah itu yang Kartini wariskan? Apakah dia membahas fashion ketika dia menulis surat dan curhat kepada sahabat pena Estell "Stella" Zeehandelaar di Belanda? Apakah dia bicara tentang catwalk atau gelaran Jepara's Next Top Model saat itu? Sama sekali tidak. Kartini bukanlah perancang busana dan irelevan dengan itu semua.

Tahun 1903, Kartini yang berusia 24 tahun dipaksa menikah dengan pria bernama Joyodiningrat beristeri 3 pilihan orangtuanya. Meski terpaksa mengikuti keinginan ayahnya, pada dasarnya dia menolak ide itu dan mengatakan perempuan harusnya bebas menentukan pilihan. Perempuan harusnya bebas dari penindasan

Hal lain yang Kartini alami adalah perempuan pada zamannya jarang yang bersekolah ketimbang laki-laki. Perempuan saat itu di Jepara biasa dikurung di rumah ketika beranjak remaja untuk disiapkan menikah. Kartini sendiri dikurung sejak usia 12 dan melanjutkan pendidikan di rumah, bukan sekolah. Kartini menyatakan bahwa perempuan harusnya punya kesempatan yang sama untuk pendidikan, dan tidak dibeda-bedakan karena dia perempuan. Juga bahwa pendidikan adalah pintu keluar dari penindasan.

Kartini menolak penindasan - inilah yang disebut emansipasi. Dia memvisikan masa di mana perempuan dan laki-laki bisa menentukan pilihan masing-masing, berkembang hingga potensi terbaiknya, bertarung secara adil, punya kesempatan dan diperlakukan sama. Dia memimpikan equalitas seluruh umat manusia - apapun jenis kelaminnya.

Perlu dicatat, perempuan yang bersifat maskulin, atau independen, kuat secara fisik, bekerja, tidak serta merta menjadi Kartini masa kini. Menjadi Kartini adalah mencita-citakan kesetaraan universal. Dan ini berlaku juga bagi laki-laki yang percaya pada gagasan juga masa depan yang sama.

Saya mengenal sejumlah teman saya yang jadi Kartini masa kini. Salah tiga di antaranya telah menikah dan membagi urusan rumah tangga dan anak, juga mencari nafkah, secara merata dan berdasarkan kesepakatan dengan suami. Mereka para perempuan, dan para suami mereka yang laki-laki, adalah teladan sempurna akan gagasan kekartinian. Saya bertaruh, ibu Kartini akan tersenyum melihatnya.

Hari ini, mari kita merayakan Hari Kartini dengan lebih esensial. Tak perlu lepas konde atau baju adatmu. Cukup dukung pemberdayaan perempuan agar setara dengan laki-laki dalam setiap aspek kehidupan.  Beri perempuan kesempatan. Selamat Hari Kartini. []

Tuesday, April 19, 2016

Energi untuk Toleransi

photo by Temu Kebangsaan

Perdamaian tidaklah seperti jalan-jalan ke luar kota yang bisa direncanakan untuk terjadi esok. Tidak. 

Masih ada ratusan kasus intoleransi dan diskriminasi. Masih ada puluhan gereja yang disegel atau dirobohkan - di Bogor dan Singkil misalnya - atau masjid yang susah didirikan - seperti di Tolikara. belum lagi pengungsi Syiah dan Ahmadiyah yang tidak dipedulikan negara. 

Perdamaian adalah aspirasi panjang dan menguras energi. Dan, jujur saja, kadang kita merasa perlu berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan kembali berjalan. 

Itulah yang saya dapatkan ketika mengikuti Temu Kebangsaan di Cico Resort, Bogor, 8-10 April kemarin. Ia ibarat charger yang mengisi baterai semangat ke posisi penuh 100%.

Saya bertemu dengan pribadi-pribadi seperti Riaz Muzaffar yang dengan senang hati menjawab pertanyaan mengenai Baha’i, Gilang Kusuma Achmadi yang merasa aman menyatakan dirinya sebagai Ahmadiyah, juga Rini Meilia Kania yang bangga sebagai Sunda Wiwitan.

Melihat mereka, juga 20 orang lainnya di Tim Keberagaman, saya merasa tak kehabisan tenaga. Antusiasme itu melimpah, tumpah ruah, dan menular. Kini saya bisa berjalan kembali, oh, bahkan berlari!

Akan selalu ada rasa bosan yang datang melanda. Bersamaan dengan itu, secara tidak terkira, akan selalu ada kawan-kawan dan pengalaman baru yang menawarkan energi untuk kembali pada cita-cita.

Saya percaya, bersama pemuda, toleransi akan selalu menemukan energinya.

Rio Tuasikal, Jurnalis Kantor Berita Radio (KBR68H) dan pegiat CINTAindonesia

Monday, February 29, 2016

Apakah Propaganda LGBT Betul Ada?

Ienes Angela (Foto: Rio Tuasikal / KBR 68H)

Istilah “Propaganda LGBT” mencuat terutama setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta UNDP menghentikan aliran dana untuk kelompok pelangi. Kelompok LGBT dituding melakukan gerakan masif yang disebut kelompok heteroseksual sebagai “agenda LGBT”.  

Namun apakah itu propaganda LGBT? Simak wawancara antara Jurnalis KBR Rio Tuasikal dengan Ienes Angela, transgender yang bekerja di organisasi penanggulangan HIV/AIDS, GWL-INA.

Bagaimana Anda menanggapi pernyataan Jusuf Kalla?

Mungkin dia berfikir NGO – karena bukan pemerintah – adalah oposisi.  Padahal kita membantu kerja pemerintah dan capaian pemerintah. Jembrengin deh SDGs (Sustainable Development Goals, Target Pembangunan Berkelanjutan) ada ratusan butir. Kalau pemerintah mau buka mata, itu target kerja pemerintah. Sebetulnya apa yang kami lakukan membantu butir-butir itu. Misalnya butir menurunkan angka HIV/AIDS. Mereka malah berpikirnya kami propaganda, membuat gerakan yang masif. 

Lalu ke manakah sebetulnya dana dari UNDP?

UNDP kan United Nations Development Program. Kalau di Indonesia kan kayak Kemenko-PMK. Mereka tidak spesial memberi dana untuk LGBT, ada banyak dan salah satunya adalah penanggulangan HIV. Kebetulan, organisasi saya ini menyasar gay, waria, dan lelaki seks lelaki yang masuk populasi kunci HIV, tapi malah LGBT yang disorot. Padahal UNDP memberikan dana untuk kesehatan dan HIV. UNDP juga bekerjasama dengan Kemenkes untuk membuat layanan itu lebih ramah.  

Bagaimana jika Jusuf Kalla minta dana bantuan itu dihentikan?

Sebenarnya nggak hanya dari UNDP. Silakan saja dia mau stop seluruh bantuan internasional dari mana pun. Nggak cuma dari UNDP atau USAID. Kalau memang pemerintah bisa menyediakan sendiri apa yang komunitas butuhkan – terlepas komunitas LGBT atau bukan – kalau memang bisa dicukupkan sendiri dari APBN, APBD, apa pun, tak masalah. Bantuan luar itu kan untuk mengisi dan menutupi celah. Dari yang pemerintah lakukan, ternyata kurangnya di sini dan ini tidak bisa dilakukan pemerintah tapi komunitas. Dana itu masuk untuk membiayai komunitas kerja ini. 

Bagaimana respon Anda terhadap istilah “propaganda LGBT”?

Kalau kita disebut kampanye, betul ini kampanye layanan. Bagaimana supaya layanan HIV/AIDS diakses komunitas kami.  Kami memang mencari LGBT yang tersembunyi. Kalau mereka tersembunyi dan tak berani mengakses layanan di luar, kami beritahukan ada layanan yang sudah ramah. Bisa akses ke sana dan nggak perlu takut rahasia terbongkar, baik terkait status HIV atau gay-nya. Bukan propaganda ke straight, jadi gay yuk biar kita angkanya makin gede. Bukan itu. 

Apakah masuk akal tuduhan bahwa LGBT menularkannya orientasi seksnya?

Ini bisa dijelaskan konsep penerimaan diri. Pada saat ada seseorang merasa dirinya berbeda, itu ada tahapannya. Ada tahapan satu di mana dia merasa berbeda dari orang lain. Tahap berikutnya dia akan mencari orang yang sama dengan dia, mulai mencari komunitasnya. Saat ini dia akan lebih intens datang ke komunitas. Momen itu yang dicap sama orang sebagai ‘ketularan’. Karena sering-sering ketemu orang itu akhirnya dia gay. Padahal sebelumnya itu ada dalam tingkatan penerimaan diri. Proses tiga tahap ini yang tidak dilihat orang.

Ada yang menuduh bahwa LGBT ingin menambah jumlahnya. Bagaimana?

Kalau memang ada LGBT yang merasa tidak yakin, galau, ya kita kuatkan. Bahwa menjadi homoseksual, transgender, gay, atau lesbian itu tidak salah selama kamu bisa berbuat positif. Dan program kami tidak ada urusan dengan heteroseksual.

Ditulis untuk portalkbr.com

Saturday, February 20, 2016

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Bismillah ..

Sabtu sore, saya dikejutkan dengan surat terbuka sdri Sheren Chamila Fahmi yang di-share teman saya di Facebook. Saya langsung tergelitik dan langsung melahap seluruh isi suratnya. Saya mengapresiasi tulisannya yang membuka ruang diskusi mengenai diskriminasi. Saya percaya ini sangat penting juga genting, dan memang harus dibahas terus menerus.

Saya setuju bahwa di berbagai tempat di dunia warga muslim telah didiskriminasi - terutama perempuan bercadar yang mudah diketahui dari penampilannya. Di banyak tempat di mana muslim jadi minoritas, warga muslim rentan menghadapi standar ganda. Hal ini misalnya terjadi di dunia kerja India [1] dan dunia kerja Prancis [2].  Di samping itu, di Amerika Serikat, 20 keluarga muslim Inggris ditolak di bandara [3].

Saya mencoba membayangkan perjuangan perempuan yang memilih bercadar di Indonesia. Terbayang mereka akan mendapatkan penolakan, cemooh, dan tuduhan yang tedeng aling-aling. Termasuk 5 pengalaman pribadi sdri Sheren yang dia ceritakan, serta pembakaran jilbab dan sindiran masker. Hal ini terjadi karena masyarakat kita belum cukup dewasa. Mereka menganggap semua orang dengan jilbab lebar dan cadar, atau bercelana cingkrang dan berjanggut lebat, sebagai kelompok radikal hanya karena penampilannya sama. Ini adalah generalisasi yang merupakan pangkal dari diskriminasi. 

Setiap insan manusia tidak ingin diperlakukan demikian. Tidak ingin dituduh. Tidak ingin mendapat label, stigma, prasangka, dan diskriminasi. Tidak ingin dinilai dari penampilan saja. Tidak ingin dipandang sebelah mata. Ingin tetap merdeka tanpa dihakimi orang-orang. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dijunjung tinggi dan dilindungi, sebagaimana ditegaskan lewat Piagam Belas Kasih berikut ini [4]. Hal itu merupakan fitrah manusia, tertanam dalam hati sdri Sheren, saya, tujuh miliar manusia lain di bumi, termasuk kelompok LGBT. 

Dalam perspektif hak asasi manusia, setiap manusia setara dan memiliki 30 hak asasi yang sama [5]. Ini berlaku universal kepada seluruh manusia - tidak memandang agama, ras, etnis, jenis kelamin, disabilitas, juga orientasi seksual. Terlepas dari apa pun identitas orang tersebut, dia adalah ciptaan Allah yang harus diperlakukan adil tidak dibeda-bedakan.

Rupanya hal ini yang diabaikan sdri Sheren dalam surat terbukanya. Dia ogah distigma sebagai ekstrimis, tapi mengatakan LGBT wajar menerima stigma karena dianggap tidak sesuai nilai di masyarakat. Dia menolak dituduh sebagai teroris tapi menuduh LGBT penuh propaganda. Dia mengatakan masyarakat melakukan diskriminasi terhadap perempuan bercadar karena belum mendapat edukasi yang cukup, tapi bukankah masyarakat mendiskriminasi LGBT juga karena belum tahu banyak mengenai kelompok itu? Bukankah ini merupakan standar ganda?

LGBT tidak mengidap penyakit. Homoseksualitas telah dihapus dari daftar penyakit jiwa oleh World Health Organisation sejak 1990 [6], juga oleh Kementerian Kesehatan dalam PPDGJ III sejak 1993 [7]. Kalaupun sdri Sheren percaya itu penyakit, ya silakan, tapi menghakimi kelompok LGBT tidak akan membuat keadaan jadi lebih baik.

Perlu diingat, hak asasi manusia bukanlah kompetisi. Bukan soal siapa menang dan siapa kalah. HAM bukan soal apakah kelompok muslim lebih banyak menerima diskriminasi ketimbang LGBT atau tidak. Tidak ada yang paling terdzalimi atau kurang terdzalimi. Kelompok mana pun yang melapor ke Komnas HAM bukanlah meminta belas kasihan, bukan berlebihan atau lebay. Sebab lembaga negara itu memang wajib menghapus segala praktik diskriminasi kepada siapapun tanpa kecuali - termasuk kelompok muslim dan LGBT.

Menghormati hak-hak LGBT sebagai warga negara tidak akan menganggu hak-hak kelompok muslim sebagai sesama warga negara. Menghormati LGBT sebagai manusia tidak akan membuat kehormatan kelompok muslim sirna.

Ketika diskriminasi ini masih terjadi kepada siapapun, ini adalah pekerjaan rumah kita seluruh warga dunia untuk menghapusnya. Bukankah dunia tanpa diskriminasi adalah keinginan seluruh umat manusia apapun identitasnya? Dan ini akan terjadi, jika dan hanya jika, setiap manusia bersikap adil sejak dalam pikirannya.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
(QS. Al Mumtahanah: 8)

Jakarta, 20 Februari 2016
Rio Rahadian Tuasikal
***

Surat Terbuka untuk LGBT dari Muslimah Bercadar