Tuesday, August 26, 2014

3 Dilema Jurnalisme yang Tak Dipelajari di Kampus


Setengah tahun jadi jurnalis membuat saya ingin membuang buku-buku teks jurnalisme selama kuliah. Betapa tidak, mereka tidak memberikan banyak solusi atas dilema yang saya temui di lapangan. Saya tidak sedang mengatakan ‘berhenti baca bukumu', tapi ini soal ‘bersiaplah dengan hal-hal berikut'. 

Setia pada fakta vs menarik pembaca   

Satu kali saya menulis Jokowi yang menginstruksikan dinas DKI Jakarta membersihkan insfrastruktur kota. Saya menggunakan kata menginstruksikan ketika media-media online menggunakan memarahi. Saya ditelepon oleh editor kenapa angle berita saya basi, tapi saya tegaskan padanya Jokowi tidaklah marah. Bahkan kepala dinas beberapa kali tertawa.

Di lain waktu saya menulis KontraS yang berharap pemerintah menuntaskan kasus-kasus HAM. Seperti jurnalis lainnya, saya tidak menggunakan kata berharap, melainkan meminta, mendesak, memaksa, semata-mata agar beritanya lebih menggigit.   

Jurnalisme inilah yang belakangan saya lihat lebih tertarik dengan sensasi, dan nyaris menuju pelintiran. Saya menduga ini dimulai dengan jurnalisme online yang ringkas, permukaan, dan perlu menarik pembaca segera.   

Jurnalis harus tetap menulis apa adanya. Kalau memang merasa perlu melebihkan perkara, menggunakan kata-kata yang lebih kentara, berarti kejadiannya memang kurang nilai berita. Tidak usah ditulis saja.   

Rekaman eksklusif vs persahabatan jurnalis

Beberapa kali jurnalis lain ada yang meminta rekaman suara saya karena dia datang telambat. Saya usahakan menolak, sebagaimana kantor saya melarang meminta salinan pada orang lain. Namun saya dihadapkan dengan kemungkinan dimusuhi jurnalis lain, dan tidak mendapatkan informasi-informasi menarik yang bisa saja mereka punya.   

Amplop   

Memang mudah berkata tidak mengambil amplop berisi uang sogokan. Tapi kini, uang itu telah mengambil bentuk lain menjadi isi goodie bag sebuah seminar. Misalnya kaos kampanye, tempat minum, buku, bahkan flashdisk.

Aliansi Jurnalis Indepeden (AJI) mematok barang bisa diterima asalkan harganya di bawah 50 ribu Rupiah, dan barang elektronik semisal flashdisk harus ditolak meski kini harganya murah. Bagaimana dengan makan siang untuk wartawan, yang nasi kotak mungkin bisa diterima, tapi makan siang prasmanan di hotel ternama? Apa yang menjamin jurnalis tidak terpengaruh kaos dan makan siang?

Memasuki dunia jurnalisme adalah siap menghadapi segala kemungkinan. Selamat bersiap diri.***

Foto milik mashable.com

Sunday, August 17, 2014

Berpegangan Tangan dalam Kepelangian



Tanggal 17 Agustus bagi jemaat Ahmadiyah bukanlah soal upacara, lomba makan kerupuk, atau karnaval. Hari kemerdekaan baginya adalah sekali lagi menagih janji negara yang belakangan menelantarkan mereka.

Semua tahu lagu Indonesia Raya diciptakan oleh W. R. Soepratman. Namun tak banyak yang tahu sang maestro adalah penganut Ahmadiyah.

Sudah 69 tahun lagu itu berkumandang di seantero negeri. Selama itu pula jemaat Ahmadiyah hidup sebagai warga negara Indonesia. Namun belakangan, kehidupan mereka diganggu oleh kelompok yang dibutakan oleh prasangka berkedok agama.

Kelompok Ahmadiyah pun jadi korban serangkaian kekerasan sejak Lombok (2002), Parung (2005), Manis Lor (2010), Cisalada (2010), Cikeusik (2011), Bandung (2012), plus sederet peristiwa lainnya. Mereka terluka, sebagian tewas, sementara perlindungan negara entah pergi ke mana.

Di Lombok, mereka terpaksa mengungsi di penampungan selama 8 tahun. Mereka tinggal di aula besar dan setiap keluarga hanya dibatasi kain serta kardus. Pasangan suami istri harus berhubungan seks dalam diam karena bisa saja dipergoki oleh anak tetangga.

Mereka jadi korban karena, tak ada alasan lain, iman mereka. Mereka manusia tapi tidak diperlakukan selayaknya manusia. Luka sobek bisa sembuh dalam sepekan. Namun perasaan mereka yang diinjak-injak akan selamanya berbekas dalam ingatan.

Bagaimana bisa kita begitu munafik menyanyikan lagu ciptaan Ahmadi, sementara kelompoknya kita usir dari rumah mereka?

Ingat pula jemaat GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Syiah Sampang, dan lainnya, yang juga sama-sama warga Indonesia seperti saya dan Anda. Masih sudikah mereka jadi bagian bangsa yang mau menerima mereka asalkan mereka jadi orang lain?

Soekarno dan Hatta tidak pernah mempermasalahkan kepercayaan Soepratman saat memilih lagu Indonesia Raya sebagai pengiring kemerdekaan. Begitu pula jajaran pendiri bangsa sepakat melupakan perbedaan agama dan memilih bekerjasama demi mimpi jadi bangsa merdeka. 

Mereka berjanji membangun negara di mana setiap orang diterima sebagaimana dirinya sendiri. Mereka sepakat jadi bangsa di mana tidak ada satu orang pun, atas alasan apa pun, bisa didiskriminasi.

Pendahulu kita telah berjanji berpegangan tangan dalam kepelangian. Kini beranikah kita, sekali lagi, mengulangnya?***

Tuesday, July 8, 2014

Saya Tidak Akan Memilih Prabowo, Selamanya

Dinis menghabiskan seluruh masa remajanya untuk mencari sang ayah. Kini Dinis berusia 18 tahun, dan ayahnya menghilang sebelum Dinis berusia 3 tahun. Dinis adalah puteri Yadin Muhidin, aktivis yang jadi korban penculikan Mei 1998. Hingga hari ini Dinis hanya bisa menerka-nerka di mana ayahnya. Kalaulah ayahnya telah mati, bagi Dinis itu lebih baik dari pada menunggu dalam ketidakpastian.

Ayah Dinis pernah memprotes kebijakan pemerintah Seoharto yang menindas. Kini dia hilang. Sangatlah mudah untuk benak saya bicara: ada yang salah.

Saya tidak bisa membayangkan bila sayalah Dinis itu. Entah bagaimana saya bisa bertahan dengan hidup yang demikian. Saya harus menelusuri setiap informasi sumir yang didapatkan, mengikuti sumber data yang selalu enggan mengungkapkan, menenangkan ibu yang dirundung sedih berkepanjangan, sambil diam-diam berdoa pada Tuhan supaya ayah segera ditemukan---apapun keadaannya.

Kini Prabowo Subianto yang diduga menculik ayah Dinis maju jadi calon presiden Indonesia. Kita telah ditantang keadaan untuk kembali melibatkan benak terdalam. Bagaimana bisa terduga penculik ingin jadi pemimpin bangsa? Memang, Prabowo belum diputuskan bersalah atau tidak, sebab pengadilan belum dibuat. Namun status abu-abu Prabowo adalah seperti membeli kucing di dalam karung---bahkan lebih berbahaya.

Kita ingin calon presiden kita jelas, bersalah atau tidak? Kalau merasa tidak bersalah, bawalah segala bukti, jelaskan semuanya pada Komnas HAM, Kejaksaan Agung, dan Dewan Pertimbangan Presiden. Jangan hanya diam dan menyuruh tim sukses serta simpatisan membantah semua dugaan. Buktikan.

Kalau pun dugaan penculikan ini dikesampingkan, Prabowo tetap dibuntuti sederet potensi masalah. Prabowo punya koalisi obesitas. Di dalamnya, ada Hatta Radjasa yang anaknya tidak dipenjara setelah menewaskan 2 orang lewat tabrakan, serta Aburizal Bakrie yang bertanggungjawab atas berubahnya Sidoarjo jadi lautan lumpur.

Prabowo juga berkoalisi dengan dua partai Islam PPP dan PKS. Bekas menteri agama dari PPP dan gubernur Jawa Barat dari PKS kerap berkomentar menyakitkan terhadap korban intoleransi seperti Ahmadiyah dan Syiah. Kemudian Prabowo juga didukung oleh FPI yang ikut bertanggung jawab atas intoleransi tadi.

Prabowo juga didukung oleh musisi Ahmad Dhani, yang dalam lagu kampanye Prabowo memakai baju pejabat militer Nazi Jerman. Gerakan Nazi yang rasis dan fasis telah membunuh jutaan Yahudi di Jerman. Praktis Dhani disebut kalangan internasional sebagai tidak sensitif.

Prabowo juga gembar-gembor membawa nuansa Orde Baru yang militeristik. Kita tahu Orde Baru adalah rangkuman dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Orde Baru adalah masa ketika pendapat warga dibungkam, dan 13 orang bisa hilang begitu saja dengan dalih menyelamatkan ratusan juta warga lainnya. Ingat, Orde Baru juga telah menggusur lahan petani atas nama pembangunan!

Mari kita cek daftarnya. Koalisi kebal hukum, kader menyebalkan, artis fasis, nuansa militer dan pemerintahan yang anti-kritik. Semuanya komposisi sempurna untuk pemerintahan yang diktatoris, diskriminatif, dan menindas. Potensi ini berkumpul di telapak tangan Prabowo Subianto.

Tak perlulah kita membahas hak azasi manusia. Ini bukan soal pengadilan Ad Hoc yang diteriakkan para aktivis di seberang Istana Negara. Pun bukan soal instrumen HAM internasional yang dicetuskan PBB. Ini bukan soal peta politik Indonesia, bukan soal pilpres saja.

Ini soal benak kita, soal Dinis yang mencari ayahnya. Ditambah 12 keluarga aktivis lain yang sudah 16 tahun menanti kabar anggota keluarga mereka. Memilih Prabowo adalah tega membiarkan Dinis menunggu lagi 5 tahun, 10 tahun, atau mungkin selamanya.

Ini juga soal kemungkinan anggota keluarga kita hilang jika Prabowo berkuasa. Dan itu bisa siapa saja: ayah, ibu, kakak, adik, saya, Anda sendiri.

Esok Dinis akan menentukan pilihan, begitu pun saya, dan Anda. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ayah Anda hilang karena dianggap menganggu roda pemerintahan. Silakan pilih Prabowo jika Anda mau nasi yang Anda makan adalah buah tangan petani yang lahannya digusur oleh pemerintah berdarah. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ibadah di seberang Istana Negara karena kebetulan Anda tidak memeluk agama mayoritas. Saya tidak.

Saya tidak akan memilih Prabowo Subianto, selamanya.***

Foto milik tempo.co

Wednesday, June 25, 2014

Dari Kebun ke Sabun

Teks dan foto oleh Rio Tuasikal. Ditulis untuk www.portalkbr.com


Entin, warga desa Sarongge

Sore di Saung Sarongge, Desa Sarongge, Cianjur, Entin (44) datang membawa dua keranjang sabun sereh hutan buatannya. Kepada wartawan yang datang, dia sibuk menjelaskan bagaimana membuat sabunnya yang wangi.

"Satu kocokan (bahan) bisa untuk 20 batang. Satu sore habis dzuhur bisa bikin 100 batang," ujar Entin yang bernama asli Kartini.

Sabun sereh telah jadi usaha Entin selama satu setengah tahun terakhir. Sebelumnya dia bertani di Sarongge di kawasan hutan Gunung Gede sejak 1990. Dia menanam kol, wortel, kentang, dan bawang daun.

Pemerintah pada 2003 melebarkan wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sampai ke lahan Entin. Entin meninggalkan lahannya pada 2009 dan hanya menggarap kebun tomat kecil peninggalan orangtuanya di luar kawasan taman nasional.

Sebanyak 155 keluarga penggarap lahan sempat memprotes perluasan itu meski akhirnya menyerahkan lahannya ke pemerintah. Kini bekas kebun warga ditanami pohon kembali agar jadi hutan penjaga ekosistem. Sementara warga dicarikan pekerjaan sampingan agar tak kembali ke hutan.

Bekas kebun warga yang kini ditanami pohon agar kembali jadi hutan.


Kelompok ibu Sarongge jadi sasaran pemberdayaan dari Green Initiative Foundation (Yayasan Prakarsa Hijau). Mereka dilatih mengolah jamur, membuat kerajinan tangan, hingga membuat sabun sereh. Sebanyak 20 ibu dilatih menjadi kelompok sabun sereh, namun kini tersisa 3 orang termasuk Entin. Para ibu enggan bertahan dengan keuntungan kecil.

"Kebanyakan anggota mundur karena lama (pembuatannya). Wah kalau satu bulan (baru dijual) bagaimana cara anak saya makan?" ujar Etnin menirukan alasan rekannya.

Sementara itu, Entin mengaku belum menikmati keuntungannya selama 7 bulan terakhir. Setiap hasil penjualan akan dibelikan bahan-bahan untuk produksi selanjutnya.

Suami Entin ikut bekerja sampingan lewat kerajinan tangan. Keranjang dari bungkus plastik kopi yang Entin bawa sore itu adalah karya suaminya. Hampir setiap hari, Entin dan suami pergi ke kebun hingga sore, dan mengerjakan usaha sampingan menjelang malam. “Sekarang saya harus bisa membagi waktu. Waktu untuk membuat sabun, untuk menjualnya seperti sekarang," katanya.

Sabun serehnya dia jual 15 ribu rupiah secara terbatas kepada wisatawan, di festival, atau di Green Radio Jakarta. Dia sedang mengurus izin BPOM agar sabunnya bisa masuk supermarket atau hotel berkelas.

Sabun sereh buatan Entin dan kelompoknya

Sejalan dengan Sarongge yang menjadi desa wisata, usaha Entin kini membawanya pada hal lain. Dia bisa bertemu presiden SBY yang pada 2013 datang ke Sarongge untuk menanam pohon. “Sangat bangga, sampai menangis saya bisa jabat tangan sama SBY,” katanya lalu tertawa.

Dia juga senang bisa bertemu wisatawan Belanda, Inggris, dan Selandia Baru yang datang. “Kalau sekarang bisa menambah ilmu, ketemu teman-teman, adik-adik (wartawan), sama orang-orang besar," kata Entin lagi.

Entin berjanji untuk bertani seumur hidup meski usaha sabunnya kelak jadi besar. Sementara untuk usahanya, dia ingin bantuan alat suling minyak sereh teknologi tinggi yang lebih efisien. Entin ingin menyuling minyak sereh sendiri dan tak perlu lagi membelinya ke perbatasan Bandung yang jauh.

Usaha sabun ini kini masih beromzet kecil. Namun kata Entin itu lebih baik dari pada menghabiskan pagi hingga sore di kebun saja. "Bikin sabun itu paling senang, hobi," kata Entin lalu tertawa.***

Thursday, June 12, 2014

Menolak Pilpres Primordial


Ketika capres tertentu dituduh keturunan Tionghoa dan Kristen akhir-akhir ini, saya sadar Pilpres ini lebih menjengkelkan dari yang saya bayangkan. Sila cek linimasa media sosialmu, ada sederet kampanye yang sebagian besarnya bertemakan suku dan agama. Mulai dari foto, teks, hingga berita yang isinya rumor semata. Ia mengundang banyak pihak berdebat panjang yang melibatkan dalil-dalil kitab suci.

Sementara itu, saya mencari di linimasa Facebook saya perdebatan visi-misi capres dan tidak menemukannya. Tidak ada yang membahas 9 halaman visi-misi Prabowo-Hatta atau 42 halaman visi-misi Jokowi-JK. Sepertinya kita memang lebih gemar mengorek iman calon pemimpin ketimbang programnya menjaga kedaulatan pangan. Kita juga lebih tertarik dengan warna kulit calon pemimpin ketimbang caranya menjamin hak azasi manusia.

Buat saya, suku dan agama tidak pernah menjamin apa-apa. Saya kenal orang Batak yang galak, juga yang tidak. Saya kenal orang Kristen jahat, juga yang baik. Sifat baik dan buruk ada di semua pemeluk agama. Siapa yang bisa menjamin orang yang rajin ibadah tidak akan korup, ketika seorang menteri agama yang pernah naik haji pun jadi tersangka korupsi? Maka tidak ada hubungan antara suku dan agama seseorang dengan sikapnya.

Kampanye yang menjual satu agama pun telah melukai Indonesia. Ini karena presiden yang terpilih nanti akan memimpin negara yang didirikan bukan oleh satu pemeluk agama. Ia akan memimpin Indonesia yang memiliki ratusan kepercayaan, suku, etnis, dan budaya. Ia tidak hanya memimpin mayoritas Islam di Jawa, tapi juga Katholik di Nusa Tenggara Timur, Protestan di Sulawesi, Hindu di Bali. Ia akan jadi milik bersama bagi seluruh warga negara apapun agamanya.

Kadang kita tidak ingat bahwa Pilpres bukanlah urusan dua bulan, tapi membentuk Indonesia 5 tahun ke depan. Karena itu kampanye bernuansa SARA akan berbahaya buat Indonesia. Jika materi kampanye kita tidak berubah, saya kuatir kita terjebak prasangka yang sama bahkan ketika 9 Juli sudah selesai. Ini harus dihentikan sekarang juga.

Saya mengajak pendukung kedua belah pihak, Prowo atau Projo, untuk berhenti menjadikan agama dan suku barang dagangan. Berhentilah hanya memikirkan suku dan agama, ajaklah akal sehat turut serta. Buang jauh embel-embel etnis dan suku. Sementara dalil agama bisa tetap digunakan untuk mencari kriteria pemimpin bersifat luhur, lalu cari orang yang cocok dengan daftar itu. Jangan pilih orangnya dahulu baru mencari teks suci yang membenarkan pilihanmu.

Mari mulai dengan membahas program yang kedua capres ini tawarkan. Lihat program hak azasi manusia, kedaulatan bangsa, ekonomi dan infrastruktur, ketahanan pangan dan kesejahteraan sosial, jaminan terhadap kelompok rentan, kesetaraan gender, juga layanan pendidikan dan kesehatan. Unduh di situs KPU sekarang. Lalu kita bisa berdebat secara jernih dan produktif.***

Foto milik www.postkotanews.com

Thursday, May 22, 2014

Menolak Homophobia, Sekali Lagi

Untuk lesbian, gay, biseksual, dan waria

 

Minggu (18/5) siang di Car Free Day Jakarta, lelaki feminin dan perempuan maskulin berparade. Mereka membentangkan bendera pelangi dan berteriak, “Stop stigma, kekerasan dan diskriminasi pada LGBT.”

International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHOT) diperingati setiap 17 Mei di 120 negara. Kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) Indonesia memulainya sejak 2007. Tahun 2014 ini, peringatan serupa dilangsungkan di sejumlah kota besar seperti Medan, Surabaya, Makassar. 

Kamis (22/5) siang, kelompok LGBT berkumpul di Komnas Perempuan untuk sekali lagi memperingati IDAHOT. Mereka mengundang banyak media dan hanya tiga yang hadir. 

“Karena fobia ini memunculkan banyak masalah, kekerasan, diskriminasi dan stigma terhadap LGBT,” kata Yuli Rustinawati, koordinator Forum LGBT Indonesia. 

Perempuan seperti dirinya sering dilecehkan orang sekitar, dan dia tidak sendirian. LSM Arus Pelangi mencatat pada 2013 ada 89,3% LGBT di Indonesia yang pernah mengalami kekerasan karena orientasi seksualnya. 

LGBT menerima diskriminasi beragam bentuk. Ada remaja LGBT yang putus sekolah karena tak tahan diejek temannya, lalu dibuang keluarga. Sementara kelompok waria hanya buka salon atau jadi pekerja seks setelah terus-terusan ditolak perusahaan.  Ditemukan pula perempuan lesbian yang diperkosa gigolo sewaan keluarganya dengan berharap orientasi seksnya bisa berubah.

“Kami dianggap kena penyakit menular. Padahal PBB sudah menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa,” kata Yuli. PBB melakukan itu sejak 1990 melalui badan kesehatan WHO.

Secara global, ada 81 negara yang menghukum hubungan sesama jenis. Sebelas di antaranya memberi hukuman mati. 

Di Indonesia, pemerintah tidak pernah keluarkan peraturan yang melindungi hak LGBT, malah sebaliknya. 

Pada Agustus 2013 ada 342 Perda yang diskriminatif  terhadap perempuan, Komnas Perempuan mencatat. Sebanyak 264 aturan itu mengatasnamakan agama dan moralitas.  Aturan itu di antaranya mengatur pakaian perempuan, sementara laki-laki tidak.

Meski aturan ini diarahkan pada perempuan, LGBT kena getahnya.

“Kalau perempuan saja menerima perlakukan seperti itu, apalagi kami yang jelas berbeda,” kata Merlyn Sofjan, waria yang menulis novel ‘A Woman without V’. Kata Merlyn, transgender lah yang paling banyak mengalami kekerasan karena secara fisik mudah dikenali.

Merlyn Sofjan

Merlyn meminta pemerintah menjamin hak mereka dalam pekerjaan, jaminan sosial, standar hidup layak, kesehatan, pendidikan, dan ekspresi. 

Merlyn ingat bahwa perjuangan ini sudah dilakukan sejak 1993, lewat Kongres Gay Lesbian pertama se-Indonesia, di Yogyakarta. Dia bilang 21 tahun perjuangan tidak mengubah keadaan. Dia berharap presiden baru bisa menghargai perjuangan panjang itu.

Sementara Merlyn dan kelompoknya tidak meminta banyak. Mereka tidak mau distigma dan didiskriminasi. Mereka ingin hidup seperti warga heteroseksual, dinilai berdasarkan kemampuan dan bukan orientasi seksnya.

Merlyn mungkin kembali turun untuk IDAHOT 2015. Sebab ia tahu perlindungan terhadap kelompoknya masih di tengah jalan. Dia bilang, “Bukan untuk kita, ini untuk generasi mendatang.” ***

Rio Tuasikal menulis soal keberagaman manusia. Saat ini jurnalis Kantor Berita Radio terbesar di Indonesia, KBR 68H, yang juga percaya pada demokrasi dan hak azasi manusia. Ikuti Twitternya  @riotuasikal.

Wednesday, April 30, 2014

8 Tips Menulis Feature

Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal



Jujur, berita politik dan hukum tidaklah menarik, apalagi bila ditulis sebagai berita langsung. Saya lebih tertarik mengupas persoalan sehari-hari yang dihadapi orang-orang. Soal kisah, perjuangannya, masalahnya, pendapatnya, cita-citanya, gaya hidupnya. Saya suka human interest.

Kisah-kisah pribadi tidak cocok dengan struktur piramida terbalik. Ia tidak bisa ditulis sebagai berita langsung. Ia harus menyentuh, lezat di setiap titik dan koma, bikin ketagihan. Kisah pribadi selalu mengundang tanya hingga akhir. Itulah yang membawa saya berkenalan dengan feature, karya jurnalistik yang lebih menyenangkan.

Feature atau karangan khas (kakhas) adalah bentuk tulisan, bukan tema. Feature berbeda dengan straight news, opini, kolom, artikel. Feature adalah berita yang menggunakan narasi, seperti novel dan cerpen. Ia kaya akan suasana dan mengajak pembaca seolah berada di lokasi kejadian. Namun, bagaimana pun ia hanya menyajikan fakta, bukan imajinasi.

Kali ini saya ingin berbagi tips menulis feature, meski saya pun masih perlu banyak belajar. Tips-tips ini saya dapat dari sejumlah pengalaman pribadi, ditambah bacaan Janet Steele dan Yudasmoro Minasiani.

Menulis Visual dan Auditori

Feature seperti sebuah film. Penulis perlu menulis apa yang dilihat dan didengar untuk kuatkan suasana. Misalkan penulis mewawancarai narasumber di rumah bergaya Belanda dengan pohon jati di depannya. Perhatikan baju narasumber, gerak geriknya, situasi ruang tamu. Perhatikan juga apakah ada suara burung, kendaraan lewat, musik dangdut, atau batuk. Hindari kata sifat seperti bersih, tampan, sejuk. Ceritakan lewat deskripsi detail.

Contoh : Lapang futsal ini beralaskan matras hitam dan dikelilingi tripleks tebal berisi logo sponsor.

Dialog yang Melimpah

Dalam feature, penulis boleh menggunakan dialog yang emosional dan kaya. Pilihlah kutipan narasumber yang mengundang haru, marah, benci, suka, lucu. Perhatikan juga aspek gaya bicara yang khas seperti logat, pilihan kata tertentu, intonasi. Tuliskan bahasa gaul atau bahasa daerah apa adanya. Hal ini menguatkan suasana.

Contoh : “Udeh kagak ade serem-seremnye,” kata Yayah saat ditanya soal banjir.

Bermain dengan Plot

Feature tidak harus tersusun secara kronologis. Penulis bisa mulai dengan klimaks, lalu mundur ke belakang, memberi latar sejarah, maju lagi, keluarkan data, baru maju lagi.

Contoh : Sudah sejak berangkat, sekitar 90 menit sebelumnya, Lingga asyik dengan musik.

Ikut Jadi Tokoh dalam Cerita

Penulis bisa ceritakan apa saja yang ditemui selama menulis cerita ini. Bagaimana orang-orang yang ditemui, bagaimana penulis bertemu orang yang akan ditanya, bagaimana wawancara dimulai atau berlangsung. Tulis juga bila wawancara sempat terpotong.

Contoh : Dia terus menggenggam telur Paskah itu sementara saya ajak berbincang.

Detail, Detail, Detail

Jangan puas dengan wawancara dan pandangan mata saja. Kelilingi lokasi peristiwa, cari orang-orang yang duduk-duduk di sekitarnya. Kuping pembicaraan mereka. Apakah mereka memakai baju khas? Perhatikan grafiti di dinding. Bisa juga putar-putar rumah narasumber, tanyakan ini apa dan itu apa. Tanya hobinya, apa kebiasaannya? Apakah tangan narasumber garuk-garuk ketika bicara? Apakah di baju narasumber ada tulisan yang cocok dengan cerita yang sedang dibuat?

Selalu Melihat Sisi Personal

Feature bisa membahas peristiwa besar, dengan sudut yang sangat pribadi. Bila ada kasus intoleransi, tariklah itu ke pengalaman satu orang. Tanyakan apa yang dirasakan narasumber dengan kejadian itu, apakah ada perubahan dari cara hidupnya, apakah lebih mudah atau susah, tanya harapannya.

Bukan Wawancara, Tapi Ngobrol Lama

Feature butuh kisah yang melimpah. Untuk sebuah feature, tidak bisa tanya-tanya barang tiga pertanyaan. Feature tidak selesai dengan tanya jawab ala konferensi pers. Lupakan wawancara, buatlah ajang curhat 30 menit antara dua orang teman. Tanyakan detail-detail peristiwanya. Tanyakan hal-hal yang berbau emosi, tanya apa yang dia rasakan, apakah dia kesal atau marah. Ngobrol lagi di lain waktu, jangan cuma sekali. Ngobrol lama ini memungkinkan kisah-kisah yang lebih pribadi dan mendalam. Feature pun akan lebih menarik.

Lahap Banyak Narasi!

Mari belajar dari contoh. Belajar alur dan memperkaya kosakata bisa dari banyak membaca feature di media. Ada dua sumber feature berkualitas buat saya, Majalah Tempo dan National Geographic Traveller. Belajar narasi bisa juga dari membaca novel atau cerpen. Carilah novel terjemahan, tata kalimatnya kerap menarik untuk ditiru.***


Gambar milik sites.psu.edu

Sunday, April 27, 2014

A Girl Who Prays Under An Umbrella


Story and photo by Rio Tuasikal / @riotuasikal

Asima Rohana Panjaitan joined Easter Mass in front of State Palace, Sunday, April 20, 2014
  
Her sweat was passing her cheek while she was eating an ice cream. Her curly hair was braided into pair, she worn a pink shirt, a logo on her hat tells us where she is come from: HKBP Filadelfia Church.

A bright and hot afternoon in the front of State Palace, Jakarta, Sunday, April 20. This was the third year for HKBP FIladelfia Bekasi and GKI Yasmin Bogor to celebrate Easter not in their churches, but in the front of president’s office. Both churches are still locked by the local government, although the court has stated both churches are legal. And now they are seeking justice, still. 

The Easter celebration here was very simple. Three baskets of Easter eggs were placed on the altar, a simple altar from a plastic table, decorated with a tablecloth. One Indonesian flag was also placed on the right side of the altar. Once again, the flag saw the people from both churches praying on a road, using plastic chairs, using colorful umbrellas to avoid sunlight.

That afternoon, the adults were singing, while that girl was only sitting in the back row. Sometimes she was observing around, sometimes she was talking with her friends.

Her name is Asima Rohana Panjaitan, 8 years old, third grade on the elementary school. When I asked her, she told me that she is the daughter of Filadelfia’s priest, Palti Panjaitan. Asima said, that day is the fourth time she joins a pray in the front of the palace.

After two hours of preaches and religious songs, Asima got an egg which is well-decorated with puppet eyes and blue paper. She also took some colorful biscuits and other snacks. She was keeping the egg on her hand while we were having conversation

“It is tired but no problem. This is for my church,” she said.

“What is happened with the church?”

“My church is still locked. We cannot pray there.”

Asima did not know exactly why her church was locked by city government of Bekasi. She only remembered that few Muslim groups were monitoring her church. The intolerant groups sometimes patrol around the church area.

Asima remembered a bad Christmas Eve, when his father leads the people of HKBP Filadelfia to hold a Mass in their church. The people were blocked by intolerant groups.

“My dad was full of mud, cow’s feces, and urine. His motorcycle was dirty. They threw rotten eggs,” she added. She even saw her holy book was torned too. The Bibble was dirty and smelly.

Asima did not have a heart to see his father treated like that.

Knowing some intolerant Muslim groups made Asima has no option but afraid. Asima  confessed that she hates Muslims sometimes. “It is because the Muslims sometimes stress out my dad,” she explained.

Asima did not judge all Muslims are bad. She said there are some nice Muslims too. But no matter how hard Asima tries, Asima feels uncomfortable every times she meets a woman with jilbab.

“I am afraid. If there were church events near my house, I covered my face with hands. I did not want to be seen. Our walk to the church was also protested,” she told.

Asima is getting more afraid of Muslim groups because they once cursed his father. 

“The Muslim groups were shouting to my dad, ‘We’ll see, he will be die! Die! For sure!’,“  Asima explained, her voice was shaking.

Asima said, “afraid.”

“Do you have Muslim friends?”

“I have once. But they do not want to be friend with me anymore. I do not know why,” she said.

Asima scared, but Asima hoped to bring back a warm relation with the Muslim groups. Many times she prays. She hopes the Muslim groups will not be cruel the her people anymore.

“Dear God, please forgive them who have bothered my people. God, I hope my church will be still advocated by the people. Amen,” she told me the example.

However this is Easter, and it is time to cheer up. Asima said she is happy to celebrate Easter even in the front of State Palace. Her deepest heart wants she celebrates it in the church.

Asima did not know that she and her people are legally deserve that celebration. She did not know that her church has passing a long journey and proven legal by the court. She did not know that the high court, on March 30, 2011, decided that HKBP Filadelfia must be opened by the city government. She has no interest of talking about constitution or human rights. Asima did not know all this.

Asima wants only to pray inside the church. Not praying under an umbrella like that afternoon, and several afternoon she never knows.***

For Indonesian version, click Anak yang Menyapa Tuhan Dari Bawah Payung

Dedicated for the children of HKBP Filadelfia and GKI Yasmin churches 

Rio Tuasikal writes on human diversity. Now a reporter for the biggest radio news agency in Indonesia, KBR 68H, which believes in democracy and human rights. Follow his Twitter @riotuasikal.

Monday, April 21, 2014

Kartini, Kebaya, dan K Lainnya

 

Untuk para perempuan

Nuansa Kartini, seharian penuh, muncul di linimasa Facebook saya. Sama seperti tiga tahun sebelumnya, ini masih soal baju-baju daerah. Dua teman saya mengucapkan selamat Hari Kartini dengan mengunggah fotonya yang berbaju adat. Teman saya yang lain, seorang PNS, harus memakai pakaian adat di kantornya spesial hari ini. Tak ada yang menyoal emansipasi.

Saya yakin Kartini tidak membayangkan perjuangannya akan berakhir jadi peragaan busana. Baik itu kebaya, atau baju daerah lainnya. Apalagi yang diperagakan anak SD, yang bisa jadi tak kenal apa yang Kartini perjuangkan.

Semasa hidupnya, Kartini tidak membicarakan kebaya. Dia memang bukan perancang busana. Ide-ide Kartini adalah bahwa perempuan dan laki-laki tidak sama, tapi setara. Kartini kesal melihat laki-laki menikah sementara perempuan dinikahkan. Kartini kesal melihat laki-laki sekolah tinggi sementara perempuan dipingit. Kartini ingin mengubah keadaan, dan dia berhasil memulai.

Kini, hampir 110 tahun selepas wafat Kartini, perjuangannya bahkan baru beberapa langkah sejak start. Perempuan kini masih disepelekan dan dianggap tidak punya kuasa atas dirinya sendiri. Perempuan hanya diberi sedikit kesempatan dan pilihan yang terbatas. Di sini, izinkan saya hanya membahas pendidikan, bidang yang diperjuangkan Kartini, dan juga didukung tafsir agama. Saya takkan membahas perempuan pekerja atau korban pemerkosaan, sebab saya malas diceramahi polisi moral.

Akses perempuan terhadap sekolah masih tak jauh beda dengan masa Kartini dulu. BPS pada 2009 mencatat 75,69 persen perempuan usia 15 tahun ke atas hanya berpendidikan tamat SMP ke bawah. Mayoritas perempuan hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SD, yakni sebanyak 30,70 persen. Semakin tinggi tingkat pendidikan, partisipasi perempuan makin rendah, yaitu SMA 18,59 persen, dan universitas 3,02 persen.

Hal ini dijelaskan di situasi lumrah keluarga Indonesia. Ketika orangtua memutuskan apakah anaknya yang laki-laki atau perempuan yang harus lanjut ke perguruan tinggi. Seperti biasa laki-laki dimenangkan oleh keadaan. Sayang sekali orangtua tidak menilai anaknya lewat kemampuan, melainkan cara pipisnya. Alasan klise mereka adalah perempuan akan berakhir jadi ibu rumah tangga dan tak perlu pendidikan tinggi.

Tidakkah Anda merasa kesal bila saudara Anda bisa kuliah hanya karena dia laki-laki? Dan Anda lebih marah karena menjadi perempuan atau laki-laki saat lahir itu di luar kuasa kita? Kartini merasa itu sangatlah tidak adil. Kartini percaya perempuan harus diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan. Kalau pun akhirnya kalah bersaing itu soal lain. Inilah yang Kartini rasakan dan perjuangkan. Sekarang kita menyebutnya emansipasi, penghapusan penindasan.

Saya ingin kembali menegaskan bahwa Hari Kartini bukanlah Hari Kebaya. Dia bukan perancang busana. Kartini punya cita-cita sosial yang jauh melampaui zamannya. Cita-cita itu, dan inilah K yang sebenarnya: Kesetaraan. Kartini memimpikan dunia di mana laki-laki dan perempuan hidup bersama, bersaing, berkompetisi secara bebas. Punya hak yang sama di mata hukum. Tidak ada yang diremehkan. Semua boleh unjuk kemampuan.

Hari ini, mari kita rayakan gagasan Kartini tidak dengan kebaya, koteka, atau baju adat lainnya. Mari kita lanjut dengan kasus-kasus pemerkosaan, buruh migran, angka kematian ibu, di mana perempuan sering jadi korban dan luput dari perhatian. Beranikah Anda, hai perempuan?***