Thursday, January 29, 2015

Antrean Panjang & Ego Menjulang


Untuk para penyerobot antrean

 

"Keluar kamu! Kamu nggak antre!"

Selasa petang di halte Transjakarta Dukuh Atas, seorang lelaki memanen hujatan warga lainnya karena enggan mengantre. 

Lelaki itu bersikukuh di tengah antrean meski dua petugas sudah memintanya pergi ke belakang. Ketika bus tiba dan antrean kami berkurang, sekitar lima orang meneriakinya lantang. 

Setelah disuraki panjang, well, pada akhirnya dia harus mengantre dari ujung juga–plus rasa malu yang membebani pundaknya.

Peristiwa itu tidak mengejutkan buat saya–dan mungkin kebanyakan warga Indonesia. Kita bisa melihatnya di hampir semua halte Transjakarta, saat jam sibuk pagi dan sore. Akan ada monyet-monyet tengil yang belagak perlu diistimewakan. Mereka membuat antrean sekunder, atau antrean imajiner. Lebih parah: mengantre di pintu keluar. Dan lucunya, petugas tidak memarahi mereka!

Kasus lain. Saya masih ingat 2012 lalu ketika menegur perempuan yang menyerobot antrean di minimarket di Bandung. Dia langsung menaruh belanjaannya di meja kasir meski ada ibu tua dan saya sudah duluan membuat antrean. Perempuan itu tidak terima dengan teguran saya, memanggil suaminya–yang kekar–yang kemudian menghadiahi saya bogem setengah matang. 

Bibir saya yang robek menjadikan saya kesal dua kali lipat. Oh, saya kesal tiga kali lipat pada penjaga minimarket yang hanya diam. Seandainya ada orang yang membantu saya meneriakkinya.

Buat saya, antrean–di halte, minimarket, pom bensin, atau pembagian sembako–bukan sekadar menunggu, melainkan mencerminkan sikap kita sebagai warga negara, soal modus vivendi atau hidup bersama. Antre mengajarkan kita soal keadilan, kesempatan yang sama, tanpa ada yang diistimewakan. Ini definisi warga dalam sebuah negara demokrasi, percayalah. 

Jangan lupa, akan selalu ada para pencari jalan pintas yang picik, tak tahu diri, dan supermenyebalkan. Di sinilah tugas penegak hukum menjaga keadilan dan menjelaskan peraturan. Menyusul tugas kita sebagai warga untuk mencubit petugas yang lembek, nepotis, atau malu-malu.

Di daerah kota yang mengklaim dirinya sebagai pusat peradaban, ternyata kemanusiaan kita sudah digadaikan. Kadang kita tidak peduli dengan siapa yang kita sikut ketika naik bus. Lalu kita tidak peduli dengan orang yang menyikut dan disikut selama itu tidak menimpa kita langsung. Adakah ego kita linear dengan gedung pencakar langit yang menjulang, oh, semakin tinggi?

Ruang urban adalah titik terbaik memperjuangkan keadilan dari hal terkecil. Sebab di sinilah identias kita sebagai warga kota, sekaligus manusia, diuji secara telanjang.***

Thursday, January 22, 2015

Tersinggung yang Terlambat 9 Abad


Untuk yang memprotes hotel Zodiak



Saya muslim, dan saya menyebut Tuhan dengan nama Allah, bukan Virgo. Nama Allah dalam bahasa Arab yang berarti Tuhan dilafadzkan الله dan terdiri atas  ل, ل ,ا dan ه. Sementara Virgo adalah adalah lambang ke-enam zodiak Yunani, direpresentasikan oleh gadis perawan dan berlogo ♍. 

Kalau pun keduanya mirip jika dibalik, itu adalah kebetulan yang terpaut 14 abad! Zodiak dimulai pada abad ke-7 SM, sementara Islam lahir di jazirah Arab abad ke-7 masehi.

Hotel Zodiak di Bandung pekan ini terpaksa menurunkan lambang Virgo yang dipasang di salah satu cabangnya, setelah diprotes kelompok yang mengatasnamakan Islam. Kelompok itu–lucunya–merasa tersinggung dan mengangap hotel itu menghina agama Islam lewat logo ♍ yang kata mereka seperti lafadz Allah dibalik.

Lucu melihat kelompok ini tersinggung, lebih lucu lagi melihat Walikota Ridwan Kamil yang menggubris ocehan mereka, dan paling lucu adalah media yang meliput semua kebodohan ini!

Untungnya anggota Majelis Ulama Indonesia di Bandung, Mafthuh Kholil, mengetahui kalau Virgo tidak menyinggung Tuhannya. Mungkin dia belajar zodiak dari menonton Saint Seiya seperti saya, atau membaca, atau setidaknya menelusurinya di Google.

"Zodiak, kan, berasal dari peradaban Yunani. Dan peradaban Yunani jauh lebih dulu daripada kemunculan Islam. Dari situ akan, kami kaji siapa yang meniru siapa," kata Mafthuh Kholil seperti ditulis Tempo.

Ayolah kawan, rasa tersinggung kalian terlalu cetek–kalian akan merasa malu ketika mencek Virgo di Wikipedia. Lagi pula, untuk persis dengan lafadz Allah, logo Virgo masih kekurangan sebuah alif di depannya.

Kemudian kalian terlambat sembilan abad. Sebab bukankah logo ♍ dan lafadz الله sudah pernah bertemu ketika kebudayaan Yunani Kuno berjumpa dengan Dunia Islam setidaknya di era Abbasiyah abad ke-12? Adakah yang tersinggung dengan logo ♍ saat itu? Bukankah cendikiawan Dunia Islam saat itu mempelajari Virgo sebagai rasi bintang dan membantu mereka mengembangkan astronomi?

Al Quran menyebutkan, Allah sudah menjadikan kita berbangsa-bangsa–Arab, Yunani, Indonesia, apapun–supaya saling mengenal. Mari berkenalan dengan Virgo si gadis perawan asal Yunani Kuno sebelum sekali lagi turun ke jalan. Atau mau menonton Saint Seiya supaya pelajaran ini lebih menyenangkan?***

Thursday, January 15, 2015

Utan Kayu, 365 Hari Lalu




Untuk redaksi Kantor Berita Radio 68H


Utan Kayu, 365 hari lalu, saya memakai kemeja biru tua dan celana jeans hitam, berdiri kaku memperkenalkan diri di ruang redaksi. Itu hari pertama saya bekerja sebagai jurnalis di KBR68H–yang kini mengubah namanya jadi KBR. Perkenalan itu berlangsung hangat, memulai deretan hari-hari yang hebat.

Dua hal pertama yang saya pelajari adalah bahwa jurnalis tidak seperti yang saya bayangkan selama ini. Juga, jurnalisme tidaklah persis seperti yang ditulis buku-buku.

Ini yang terpenting: jurnalis ternyata tidak sekucel itu. Silakan tertawa. Tapi ini penting buat saya karena saya sering menghadapi cap miring ketika kuliah jurnalisme. Masih banyak kok jurnalis yang rapih, klimis, centil, dan wangi. Beberapa perempuan jurnalis–tanpa bermaksud seksis–sering menghabiskan waktu bercermin dan membetulkan riasan wajah di sela-sela konferensi pers. Mereka merepotkan penampilan, dan itu banyak, terutama jurnalis televisi yang kita tahu dengan jelas kenapa. 

Ngomong-ngomong saya jurnalis radio. Yah, pada akhirnya saya harus jujur saya pernah (mungkin mendekati sepuluh kali?) melewatkan mandi karena mengejar liputan yang mepet waktunya.

Hal selanjutnya adalah ternyata jurnalis tidak sepintar itu. Beberapa kali saya bertemu jurnalis yang bertanya hanya "bagaimana menurut bapak?" kepada narasumber setelah konferensi pers 30 menit. Bukankah itu aneh jika dia bahkan tidak memberikan sedikit pun konteks ke dalam pertanyaannya? 

Tapi beberapa jurnalis saya tahu mendedikasikan dirinya untuk isu-isu tertentu. Mereka mendalami masalahnya sampai ke akar, dan selalu mengantongi sebungkus pertanyaan pamungkas untuk dilemparkan ke narasumber–itu patut diacungi jempol.

Menjadi jurnalis adalah sesederhana belajar–di mana narasumber adalah guru, dengan mata pelajaran bermacam-macam, dan seluruh kota menjadi ruang kelasnya. Tidak lupa: kawan satu media atau media lain yang asyik dan menggembirakan seperti teman bermain.

Saya lelaki beruntung bisa bergabung di KBR 68H. Di sini, saya belajar banyak untuk isu-isu yang selama ini sudah saya minati: agama, gender, dan hak asasi manusia. Jadi semacam anak tangga kedua setelah apa yang saya lakukan sebelumnya. Tentu saya juga mengenal isu politik, korupsi, dan lingkungan–lalu ketika keluarga atau teman bertanya soal isu tertentu dan kita bisa menjelaskan detail, sungguh, tak ada rasa riang gembira yang lebih dari itu. 

KBR 68H mengajarkan saya untuk bebas. Saya bebas memilih sudut pandang berita, yang secara menyenangkan otak saya sudah satu doktrin dengan ruang redaksi. Paling penting di atas itu semua: struktur egaliter dan budaya kerja yang menawarkan persahabatan. Sangat sedikit hari di mana saya merasa bekerja, selebihnya saya merasa bermain.

Ini sudah (atau baru?) setahun. Masih ada ribuan pengalaman yang ditawarkan, dan saya siap menelusuri belantaranya.

Terimakasih banyak. Senang mengenal kalian semua.***

Saturday, January 10, 2015

Charlie, Dialogue, and Rosnida


This week from Paris, we learned that a pen is really much stronger than a gun. A barbaric attack at the office of satirical newspaper Charlie Hebdo has left 9 cartoonists, 1 editor-in-chief, and 2 policemen (one of them, Ahmed, is a muslim) dead. Two attackers, Kouachi brothers which hijacked Islam in their brutal shooting, have been killed yesterday, AFP reported. While Al-Qaeda in Yemen declared that they are responsible for the attack.

This attack was surprisingly occured in a very bad timing. Not more than a month since another psychopath Man Haron Monis attacked Cafe Lindt in Sydney. Haron also hijacked Islam in his shameful act. 

These attacks by Monis and Kouachis, understandably, have added another prejudice that have to be faced by another 1.6 billions muslims around the world. If muslims face stigma doubled to them, just blame Monis, and now Kouachis! 

While Sydney citizens suddenly felt they have to protect muslims in Sydney by making #IllRideWithYou, there is no (yet?) solidarity campaign for muslims in Paris. Well, netizens made #JeSuisCharlie and #APenforParis for supporting the victims, the media, and the citizens, but still made nothing for muslims as a community. 

After the suspects killed, now the main question is will muslims be safe in Paris? Sadly, at least two mosques in Le Mans and Port-la-Nouvelle have been attacked in last two days.

Okay, I will say it bold, I don’t like Charlie Hebdo. This left-wing media has mocked not only Muhammad, but also Roman Catholic Churchall religious authorities in general, and even their President François Hollande. Just Google "Charlie Hebdo" on images section, and you will know the why. The editors know what they are doing. 

Hate speech? No. French court has decided so. But let alone the court’s decision, to me, mostly of Charlie’s publications are against the Charter of Compassion. To me, they do hate speech obviously, and made every attempt to dialogue even harder. No wonder Charlie Hebdo has cultivated protests from many communities.

But killing the cartoonistsby any name, even religion or God’s name–is killing! And killing hurts our common humanity. Shooting them dead is not the answer for muslims’ disappointment. Just like a boomerang. It grows hatred even more. It won’t be surprising if Charlie Hebdo (with the rest cartoonists) mock muslims again in their cover next week.

If you do not like Charlie Hebdo’s publication, prove them wrong. Do not like their cartoons? Grab your pennot your gunand fight back with another cartoons! I pretty believe using stationary as our weapon will lead us to dialogue. A progressive conversation that includes brain and excludes blood. It will strengthen our bridge of understanding between Muslims and the West.

But what happened in Aceh last week has proved dialogue is never be easy. Rosnida Sari, a lecturer from UIN Ar-Raniry has suspended from teaching after inviting her students to do dialogue in a church. She was intimidated by Acehnese clerics and fellow university lecturer, then bullied on social media.

If a satire was resulted on killing, while an attempt to build understanding was misunderstood, what can we do for now?***


Writer, a journalist of Kantor Berita Radio 68H 

Sunday, January 4, 2015

NHK dan Warta Air Mata



花は 花は 花は咲く
いつか 生まれる 君に
花は 花は 花は咲く
私は 何を 残しただろう

hana wa hana wa hana wa saku
itsuka umareru kimi ni
hana wa hana wa hana wa saku
watashi wa nani wo nokoshita darou

Bunga akan mekar, ya, akan mekar
Untukmu, yang akan lahir kemudian
Bunga akan mekar, ya, akan mekar
Apa yang aku wariskan padamu?


----


Itulah reff lagu Hana wa Saku 花は咲く (Bunga Akan Mekar) yang dibuat NHK Jepang, saat tsunami melanda Tohoku, Maret 2011 silam. NHK Jepang adalah lembaga penyiaran publik negara itu, dengan media televisi dan radio, mirip TVRI dan RRI digabung.

Saat itu, NHK mengumpulkan penulis lagu, komposer, plus 33 seniman dari lokasi terdampak bencana, untuk membuat lagu amal ini. Hana wa Saku juga jadi lagu tema untuk dokumenter pemulihan berjudul TOMORROW di media yang sama. Seluruh royalti lagu diberikan untuk pemulihan korban. Oke, itu hebat. Tapi pesan yang dirangkum di dalam lagu itu, optimisme, buat saya jauh lebih penting.

Kini pindahkan kanalmu ke televisi dalam negeri, lalu kamu akan melihat hal yang sebaliknya. Dalam longsor Banjarnegara dan Kecelakaan Air Asia, suara-suara optimisme kalah telak dengan jurnalisme sakarepmu. Alih-alih fokus pada proses evakuasi bencana dan pemulihan korban, media malah lebih gemar menulis bumbu-bumbunya.

Simak berita-berita berikut: Misteri Bau Wangi di Kuburan Massal Korban Longsor Banjarnegara di vivanews.com, Dukun Belitung: Makhluk Gaib Sembunyikan AirAsia di Goa Bawah Laut di tribunnews.com, atau Puing Ditemukan, Keluarga Korban Air Asia Histeris di tempo.co. Oh, catat pula berapa paket berita televisi yang diembel-embeli musik melow, lalu berapa ember air mata keluarga yang disorot kamerawan---plus pertanyaan reporter yang entah bodoh atau jahat tentang "bagaimana perasaan bapak?"

Terimakasih media Indonesia. Berita-berita itu akan membantu tim SAR mencari korban yang hilang, menyembuhkan luka batin penyintas, dan mencerdaskan masyarakat Indonesia secara keseluruhan, dan ehem, tentu saja tidak! Berita-berita di atas adalah contoh terbaik dari berita tidak simpatik, mengobral air mata, dan mendangkalkan pikiran kita---yang secara lucu, mereka laku.

Media Seharusnya

Kondisi ini sudah ditulis secara jeli oleh Ahmad Arif, wartawan Kompas, dalam bukunya "Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme" yang terbit 2010. Dalam meliput bencana, kata Arif, media harusnya fokus pada penanganan bencana, pemulihan korban, dan memastikan korban dapat hak-haknya. Media juga bisa dapat nilai tambah dengan membuka dompet bantuan. Dengan cara tersebut, media akan sangat efektif membantu masyarakat.

Dalam kasus kecelakaan penerbangan, buat saya, media juga perlu mempertimbangkan hal-hal berikut. Media perlu mengangkat evaluasi peraturan yang berjalan, apakah sudah dijalankan sepenuhnya?  Media juga harus mengawal investigasi kecelakaan, dan menahan diri ikut campur. Ini artinya, media tidak melangkahi pihak yang berwenang dengan membuat kesimpulan hanya dari perkiraan pengamat---termasuk membuat video rekonstruksi kecelakaan bahkan ketika black box belum ditemukan.

Media tidak lagi bisa berkilah bahwa air mata dan misteri diinginkan masyarakat. Jangan karena masyarakat kita menggemari sinetron dan acara misteri, lantas menjadikan berita bencana sepertiga sinetron dan sepertiga misteri. Kata Maman Suherman, "itu Teori Punjabi." Justru di bahu medialah tanggung jawab mencerdaskan masyarakat itu diemban. Media harus jadi pemutus kebodohan, bukan malah melanggengkannya.

Kalaulah ingin unsur human interest yang ditonjolkan, kenapa tidak datang ke rumah korban pesawat Air Asia dan menulis feature panjang sekalian? Kalau media berpendapat bahwa dukun-dukun Belitung menarik untuk diberitakan, kenapa tidak menulis aspek budaya dan kepercayaan mereka? Bukankah sajian jurnalisme yang demikian akan bermakna lebih dalam, mengandung segudang informasi, sekaligus sah dari segi jurnalisme dan penyiaran?

Berita baiknya, TV One pernah mengundang tim SAR menjelaskan peralatan yang mereka gunakan, pun MetroTV pernah membahas teknologi yang digunakan untuk mencari badan pesawat Air Asia. Ini dia berita yang berguna. Langkah selanjutnya adalah media harus berhenti membuat berita bumbu. Mereka harus mendidik masyarakat untuk optimis, dan rela berhenti mengeksploitasi korban demi rating mereka.

Lewat frekuensi publik, media hanya boleh memberitakan yang diperlukan publik---seperti NHK yang konsisten tidak menayangkan air mata. Sebab, di detik-detik yang sama, ada ratusan korban longsor Banjarnegara yang hak-haknya rentan diselewengkan, serta ratusan keluarga korban Air Asia yang perlu pemulihan. Perlu berapa bencana atau kecelakaan lagi sampai akhirnya kita akan belajar?***


Penulis, jurnalis Kantor Berita Radio 68H



Bacaan lanjut:
Penjelasan Lagu Hana wa Saku 花は咲く
Ahmad Arif menulis untuk Remotivi Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar