Sunday, August 23, 2015

This Woman Searches for Disappeared Husband

I interviewed Shui Meng, in Jakarta, Aug 20 (Aisyah Khairunnisa/@aiskhairun)
Shui Meng has spent three years searching for his husband, Sombath Somphone.

Sombath Somphone was recently awarded with the Special Award for Human Rights in Gwangju, South Korea. He went missing mysteriously in 2012 – many suspect he was forcibly disappeared because of his work empowering communities across Laos. International human rights groups have appealed to the government to investigate the case. 

This is the wife's story.

Sunday, August 16, 2015

Anak Yang Menyapa Tuhan dari Seberang Istana

AJI-UNICEF Award - Best Reporting on Children Issues (2015) Nominee in radio




---

Empat hari sebelum Natal, pemerintah belum juga membuka segel gereja Yasmin yang sah. Bertahun-tahun jemaat merayakan kelahiran juru selamat di seberang Istana. Selama itu pula anak-anak GKI Yasmin, seperti Edo, tumbuh besar dalam kebingungan. Jurnalis KBR Rio Tuasikal bertemu dengan Edo saat ibadah di seberang Istana, kemarin. Berikut kisahnya.


 

Siang terik di seberang Istana Merdeka, Jakarta.

Untuk ke-79 kalinya, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia beribadah sambil menagih janji negara. Masih dengan payung warna warni dan kursi plastik yang dijejerkan di aspal.

Mengenakan topi putih, Edo, 13 tahun, mengeluarkan handuk dan melap keringat di mukanya.

“Harapan utamanya sih untuk membuka segel gereja. Karena kan IMB-nya juga sepengetahuan Edo sudah sah. Mau ibadah saja kok susah sih? Ini ibadah buat Tuhan loh, bukan untuk siapa-siapa,” katanya.

"Tidak sekhusyuk di gereja langsung. Jadi antara terkena sinar matahari, dan beribadah kepada Tuhan, serta berharap presiden memberikan respon. Jadi tercampur aduk pikirannya," jelasnya.

Sudah dua tahun, setiap bulannya, Edo ke istana bersama sang ibu.

"Dulu belum begitu mengerti. Masih bingung juga. Ini ibadah ngapain sampai ke Jakarta, kan gerejanya di Bogor? Ngapain panas-panas? Kenapa di depan istana? Pertama kali itu,” ujar Edo.

Edo ingat 2010 lalu, ketika kelompok intoleran memprotes gerejanya sambil berkata kasar.

“Ngapain mereka di sini? Kenapa mereka bawa kayu dan ada yang bawa golok juga? Ini mau ibadah loh, bukan mau tawuran. Ngapain bawa alat kayak gitu sih? Ya bingung. Rasa takut dan rasa marah tuh jadi satu.”

Sejak itu pula, Edo berusaha melawan prasangka. Dia enggan mencap seluruh muslim jahat.

“Kalau melihat teman-teman muslim Edo sih, Edo mengganggap mereka sebagai saudara ya. Ada juga di tempat les itu nanya, dengar Edo bikin surat, dia memberi kata-kata tetap semangat. Membuat Edo hanya tidak menyukai orang-orang muslim yang memprotes, yang sempat membawa alat-alat dan mengancam GKI Yasmin."

Tapi sekeras apa pun Edo mencoba, dirinya tetap takut setiap kali melihat orang berbaju muslim.

"Kalau melihat orang yang memakai pakaian seperti itu tiba-tiba lewat, agak gemetar, rasa takutnya masih ada dalam diri Edo. Edo masih merasakan teror. Di dalam pikiran itu seperti ada rasa khawatir,”  kata Edo pelan.

Bagi pelajar SMP seperti Edo, pengalaman ini datang terlalu cepat. Dia hanya bisa diam setiap melihat anak-anak gereja lain beribadah dengan damai.

“Yang paling pertama itu iri. Kenapa mereka bisa ibadah, dan Edo nggak. Mereka tuh bisa duduk dengan tenang, duduk diam tidak takut. Sedangkan Edo? Berdiri di depan gereja saja sudah gemetaran, sudah ada rasa teror,”

Dari kasus gerejanya, Edo jadi meragukan Indonesia.

“Pelajaran PKN, bhinneka tuggal ika. Itu tidak Edo rasakan di GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia. Semboyannya dikemanakan? Apa dibuang begitu saja? Sila kelima, keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Yang lain bisa beribadah. Tapi kenapa GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia ini tidak diperlakukan secara adil?”

Pagar gereja Yasmin kini telah bolong. Belum lama, Edo diajak ibunya menyelinap ke gerejanya, dan melihat halaman gereja dipenuhi ilalang satu meter, sementara bangunan gereja ditutupi tanaman rambat. Di dalam, Edo melihat sisa hiasan Natal empat tahun lalu.

“Kesan yang pertama dapat. Sudah lama banget ya berjuang. Dan itu sedih sih sebenarnya. Jadi, setelah melihat itu ya, sudah lama banget kenapa nggaka da respon, nggak ada pemerintah. Jadi sedih gitu ya,”

"Yaa.. nggak bisa dikata-katakan lagi lah,”

Edo lalu diam, matanya berkaca-kaca.***