Thursday, September 25, 2014

Gelisah Bersama Wahib*

Oleh Rio Tuasikal


Siang terik di bundaran HI Jakarta, perayaan Hari Perdamaian Internasional. Saya bertemu Ridho, 20 tahun, yang baru menampilkan tarian modern dalam acara itu bersama 4 temannya. Kini dia duduk-duduk di trotoar dengan sesama anggota Next Step Crew. Dia menceritakan pada saya, pendapatnya soal perdamaian.

“Perdamaian adalah ketika semuanya indah,” katanya lalu tersenyum canggung.

Saya mendengar jawaban Ridho sambil tersenyum. Jawabannya mungkin tidak secerkas Ahmad Wahib, yang bila ditanya pertanyaan yang sama bisa menjabarkan A hingga Z. Teologis ke sosiologis, runut dan sistematis, dan bahkan menjadi satu catatan harian tersendiri. Tapi, setidaknya, Ridho berbagi kegelisahan yang sama dengan Wahib di usia yang pula sama.

Kemudian saya seperti melihat diri saya sendiri ketika Ridho menceritakan pendapatnya soal kelompok intoleran. “Mereka seperti tidak punya agama. Orang yang beragama tidak akan merusak hubungan antar-agama,” katanya.

Saya seperti bercermin. Seketika saya seperti menembus waktu dan kembali ke dua tahun lalu. Saat saya berusia 20 tahun. Saat saya mulai merasakan kegelisahan yang sama.

Kala itu saya jengah dengan sikap sejumlah orang yang mengatasnamakan agama untuk aniaya. Saya tidak habis pikir, bagaimana bibir orang bisa meneriakkan nama Tuhan dan di waktu yang sama ada orang berdarah karena tangannya. Saya tidak pernah menemukan jawabannya hingga sekarang.

Saya muslim dan saya gelisah. Saat itu saya tak punya tempat mengadu, bahkan Tuhan sekali pun. Sebab saya merasa Tuhan sendiri jadi menyeramkan. Karenanya saya diam dan memilih membisu, mengurung diri dari keramaian wacana.

Saya mengorbankan hubungan saya dengan Tuhan, menghukum-Nya, sebagai bentuk protes atas kengerian yang saya saksikan. Saya jadi menjaga jarak dengan Tuhan dan agama, iman pun saya bungkus dan sembunyikan di sudut ruangan.

Saya tidaklah seperti Wahib yang menuliskan segala kegalauannya dalam buku-buku catatan. Yang mungkin saja, bila saya mati muda, seorang kawan saya akan menemukan buku-buku itu dan berpikir menjadikannya sebuah buku. Arah kegalauan saya, sayangnya, tidak ke situ.

Saya membiarkan mata angin memimpin pelarian. Saya diantarkan pada kelompok lintas iman yang sangat terbuka, yang dengan tangan terbuka menerima muslim tanggung seperti saya. Namanya Jaringan Kerja Antarumat Beragama, Jakatarub, berbasis di Bandung.

Untuk pertama kalinya, saya bisa makan bersama orang Syiah, menjadi makmum di masjid Ahmadiyah, berfoto di depan pohon natal di gereja, atau makan kue di kong miao. Ini bukanlah sebuah ruang diskusi di mana kami membahas isu politik atau sosial paling aktual. Bukan sejenis forum yang diikuti Mukti Ali, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo, dan Ahmad Wahib dulu.

Ini hanyalah ruang bersama antara orang yang berbeda, yang duduk bersebelahan sambil berbagi makanan yang dibawa. Ajaibnya, menghabiskan waktu bersama mereka telah membantu saya kembali berani menyapa Yang Maha Kuasa. Siapa sangka mereka yang dicap sesat justrulah yang menyelamatkan iman saya?

Itu membuat saya sampai pada kesimpulan yang sama dengan Ahmad Wahib ketika menyatakan, “haruskah aku memusuhi mereka yang bukan Islam dan sampai hatikah memasukkan mereka ke dalam neraka?”

Tidak.


Menggelisahkan Indonesia

Kegelisahan Ahmad Wahib adalah seperti meneropong ke masa depan. Dia lahir di Sampang 1942, tapi jiwanya seolah sudah berkunjung ke tahun 2012 ketika konflik Sunni-Syiah pecah di sana. Saya percaya dia bukan seorang cenayang. Tapi kekuatirannya memang melampaui waktu.

Sudah 40 tahun lebih sejak Wahib tertabrak motor di persimpangan jalan, dan akhirnya meninggalkan kita. Namun kegelisahannya tetap hidup. Ia relevan dan seolah mewakili Indonesia saat ini. The Wahid Institute menyodorkan bukti kegelisahan Wahib.

Lembaga ini mencatat, tahun 2012 saja ada 274 kasus pelanggaran kebebasan beragama1. Artinya rata-rata 22 kasus tiap bulan, artinya sekitar satu kasus tiap dua hari. Angka ini terus naik dari 121 kasus (2009), 184 kasus (2010), dan 267 kasus (2011)2.

Sebutlah GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Ahmadiyah di Mataram, juga Syiah di Sampang, sebagai kasus utama. Plus ratusan kasus kebencian lain. Deretan ini menambah rapor merah kebhinnekaan yang seharusnya berakhir di Poso dan Sampit. Kegelisahan Wahib itu terbukti, dan dia takkan bangga meski perkiraannya benar.

Kini Indonesia mulai bimbang dengan dirinya sendiri. Orang-orang mulai menutup hidung dengan yang berbau kebhinnekaan. Orang bisa saja menyanyikan Indonesia Raya setiap upacara bendera, menjelaskan sejarah kemerdekaan bangsa, ikut karnaval 17-an juga, tapi masih berpikir tiga kali bila harus bertetangga dengan yang beda agama.

Jangan-jangan inilah yang Wahib takutkan dan tumpahkan di buku catatan. Ketika tidak setuju berubah jadi saling tinju, dan tidak sepakat berubah jadi saling sikat. Ketika mendengarkan sudah terlalu tabu jika itu soal perbedaan. Ketika kebhinnekaan malah jadi bumerang, yang jadi senjata sekarang, tapi kemudian balik menyerang entah kapan.

Mungkinkah Wahib sendiri sudah membayangkan bahwa kemajemukan Indonesia adalah bom waktu yang akan meledak entah kapan?

“Saya tidak mau menjadi orang munafik, sok suci, dan semacam itu,” kata Wahib. Mungkin Wahib saat itu sudah memperkirakan bangsa ini akan diisi orang yang munafik: Orang-orang yang mendompleng nama Tuhan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, orang-orang yang bisa mengenakan topeng alim hanya untuk duduk di kekuasaan, atau orang-orang yang bicara moral sampai berbusa padahal korupsi.

Kini, pundak bangsa ini dipenuhi beban-beban kemunafikan. Bicara soal kemajemukan, setiap hari kita disuguhi tontonan petinggi agama yang menyuarakan kebencian. Di saat yang sama, polisi memilih tunduk pada tekanan kelompok intoleran dan alakadarnya melindungi korban.

Saya tidak habis pikir dengan cara berpikir kita yang sudah jungkir balik. Kita bisa marah, menghujat, dan melaporkan mahasiswa pascasarjana Universitas Gajah Mada yang meluapkan kekesalannya di media sosial. Perempuan itu dianggap menyakiti warga kota Yogyakarta. Tapi kita semua kompak bungkam ketika di kota yang sama, beberapa bulan sebelumnya, ada tokoh agama yang jelas-jelas menentang Indonesia. Dan ngomong-ngomong, polisi lebih suka memproses hukum kasus yang pertama. Tidak mengejutkan bila polisi membiarkan yang kedua.

Media massa kita bahkan membuat situasinya lebih buruk. Televisi kita nampaknya hobi mempertemukan pihak-piahk yang berseteru tanpa itikad mencari solusi. Mereka mempertontonkan perseteruan, dan perkelahian secara telanjang. Media ikut menghakimi para korban sebagai pihak yang jadi dalang permusuhan. Lagi-lagi urusan keuntungan bicara di balik semua ini. Di akhir, media akan melenggang pergi ketika isunya tidak hangat lagi. Ia melipir tanpa ada perasaan bersalah.

Kasus-kasus intoleransi sudah bermunculan di sana sini, bicara perbedaan orang sudah mulai alergi, dan aparat negara selalu sibuk sendiri. Situasinya sangat menyebalkan dan ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Inilah waktu yang tepat untuk sekali lagi menggelisahkan ibu pertiwi.


Belajar Wahib

Saya termasuk orang yang baru mempelajari Ahmad Wahib. Saya pernah melihat bukunya di sebuah pameran buku besar empat tahun lalu. Saat itu, bahkan, saya salah membaca nama belakangnya sebagai Wahidmungkin nama Gus Dur lebih mudah saya kenali.

Ketika membaca buku itu, saya seolah menjelajahi pengalaman diri sendiri. Saya seolah berjalan-jalan di antara memori yang usang, yang sudah pernah saya taruh di laci dan dikunci rapat. Saya menengok ke belakang memang dengan kegelisahan yang sama, tapi kali ini saya punya semangat untuk menyudahinya.

Dari Ahmad Wahib, saya belajar menambahkan tanda tanya di akhir setiap dogma yang saya percayai. Memilih tidak langsung percaya dengan setiap pendapat pemuka agama. Saya belajar percaya bahwa manusia bisa menemukan Tuhan dengan caranya sendiri, dan tentu lewat pilihan bebasnya.

Saya belajar percaya bahwa Tuhan menggenapkan agama dengan cinta, yang akan bekerja dengan mekanisme yang sama. Saya belajar dari Wahib bahwa Tuhan menghendaki siapapun hidup aman dan damai bersama. Dari situ pula, saya berani mengutuk aksi kelompok intoleran meski mereka berbalut jubah agama. Karena saya melihat agama hanya topeng belaka.

Dari Wahib, saya menemukan sederet inspirasi untuk toleransi. Bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan. Bahwa kemajemukan adalah tempat untuk siapa pun bisa belajar, dan menemukan hal-hal baru yang bisa saja tidak pernah kelihatan. Dalam perbedaan ini, kita diajarkan untuk beragama dengan rendah hati, untuk menyediakan kuping dan bersedia menerima penjelasan, untuk menunda label-label sesat atau masuk neraka, untuk bisa duduk bersebelahan dan makan kue bersama.

Dalam kondisi ini pula, kita ditantang untuk menghadapi ketidaksetujuan tidak dengan kekerasan, menghadapi perbedaan penafsiran tidak dengan percekcokan, menghadapi pertentangan dengan jalan persahabatan. Di atas semuanya, kita diajak untuk percaya bahwa beda iman tetap bisa berteman.

Kita bisa memasuki ruang tanpa batas di mana semua orang dari berbagai agama bisa berangkulan pundak ke pundak, dan tanpa segan menghadapkan muka ke kanan dan kirinya sambil berbisik pelan, “kita selalu bisa jadi teman.”

Dari Wahib jugalah saya menemukan bahwa memperjuangkan sesuatu tidak selalu berarti mudah. Saya kemudian jadi mengerti bahwa punya cita-cita tinggi adalah berarti siap dengan perbedaan pendapat, ditinggalkan teman, dan berjalan sendirian. Itu termasuk meninggalkan organisasi yang jadi tempat belajar dan amat dicintai, kehilangan orang-orang yang selama ini ada untuk berbagi, kemudian bergumul seorang diri.

Akhirnya, dari Wahib jugalah saya membaca kesungguhan. Dari Wahib, saya melihat sosok yang memilih tidak mendengarkan apa kata orang ketika tahu ada yang perlu diperjuangkan. Bahwa perjuangan adalah sebuah perjalanan yang hharus ditempuh meski belum tentu selesai. Pada akhirnya, saya belajar percaya bahwa tidak ada satu pun yang akan berakhir sia-sia. Bahkan catatan harian Wahib pun bisa jadi buku yang menarik orang dengan kegelisahan yang sama.


Setelah Gelisah: Berkata Sudah!

Di perayaan Hari Perdamaian Internasional di Bundaran HI, kegelisahan itu tidak tampil.

Saya mendengarkan Kikan menyanyikan lagu Merah Putih di panggung. Inayah Wahid menjelaskan pada saya bahwa lagu bertema kebangsaan sengaja dipilih untuk menyampaikan pesan perdamaian. Tapi bagi Inayah, lagu-lagu lain juga perlu agar menarik perhatian lebih banyak orang. Asalkan tidak menyuarakan kebencian.

Inayah menceritakan pada saya bahwa musik sengaja dipilih untuk menjangkau kaum muda. Dia melihat investasi sosial harus diarahkan pada kelompok ini. Selain itu, dia juga sengaja mengundang macam-macam komunitas.

Inayah sadar, ide-ide perdamaian selama ini hanya berhenti di seminar dan lokakarya. Padahal seharusnya ide ini bergulir dan lantang di depan umum. Apalagi mengingat setiap orang sebetulnya punya modal damai di dalam hatinya. Seharusnya semangat ini terjun seperti bola saju, yang bulat, membesar, dan bergerak supercepat.

Itulah yang membuat ratusan orang datang ke depan panggung meski siang itu amat terik. Mereka datang dari 144 komunitas yang tidak semuanya tersentuh ide perdamaian apalagi pluralisme. Sebagian mereka menyumbangkan apa yang bisa mereka lakukan: menari, menyanyi, berpantomim.

Orang-orang datang bisa saja hanya untuk menikmati musiknya, tak apa. Bisa saja ada pasangan yang kebetulan datang ke Car Free Day Jakarta, tak tahu mau ke mana, dan akhirnya memutuskan ikut perayaan perdamaian ini karena mendengar Kikan bernyanyi.

Setidaknya pertemuan mereka telah membangun dialog. Inilah ruang bersama ketika orang dari berbagai latar belakang ikut berjoget dan berjingkrak. Ini adalah ketika orang kulit hitam, putih, dan kuning bisa sama-sama keringatan; atau orang berkerudung dan berkalung salib bernyanyi bersama sekeras-kerasnya. Dan, hey, dialog tidak pernah semenyenangkan ini. Bahkan kita tak perlu repot mengucapkan pluralisme, perdamaian, toleransi dan sebagainya.

Saya yakin tidak semuanya mengenal Ahmad Wahib. Malah mungkin hanya segelintir saja yang tahu siapa itu Ahmad Wahib, tidak tertukar dengan Abdurahman Wahid. Apalagi mereka yang tahu hingga ke pergumulan dan pemikiran Wahib.

Tapi saya yakin semua berbagi kegelisahan yang sama dengan Wahib, Ridho, dan saya. Sebab kalau tidak, mereka tidak akan menghabiskan waktu yang lama mendengarkan pembawa acara Olga Lydia berulang kali berpesan menjaga perdamaian. Kalau mereka tidak rindu perdamaian, kenapa mereka menyahut seruan Olga? Bukankah ini tanda bahwa mereka juga sudah bosa dan jengah dengan konflik-konflik semacam itu?

Dari pekik mereka, saya merasakan Wahib ada di tengah-tengah kami. Dia ada di sela-sela tangan kami yang berpegangan, dia ada di sela-sela canda yang kami teriakkan. Dia ada di antara musik-musik yang dinyanyikan, baik itu soal cinta, perdamaian, atau pun bukan.

Dia ada di sini, di hati dan otak kami yang terus gelisah sambil diam-diam terus berharap semua konflik terselesaikan.

Wahib mungkin datang dan duduk bersama Djohan Effendi yang juga hadir siang itu. Wahib mungkin akan menghabiskan sepanjang waktu berdiskusi sahabat lamanya. Mungkin Wahib akan menerima laporan kondisi terkini dari Djohan, dan mungkin akan tersenyum mengetahui kegalauannya juga kini dirasakan lebih banyak orang.

Waihb barangkali terkejut ketika tahu ada konflik berkepanjangan di tempat kelahirannya Sampang. Dia mungkin tak habis pikir bagaimana konflik itu bisa meletus karena dia sendiri tahu seberapa agamis penduduk di sana.

Mungkin Wahib juga tersipu ketika tahu namanya dipinjam jadi ajang perlombaan. Dan semangatnya untuk perubahan kini telah jadi nafasnya.

Wahib mungkin akan duduk sebentar dengan Shinta, Yenny, dan Inayah Wahid. Wahib mungkin akan terlibat percakapan yang seru dengan keluarga Gus Dur ini. Dia juga bisa saja mengucapkan selamat ulang tahun buat Gus Dur.

Wahib mungkin kaget ketika tahu Djohan adalah menteri di era Gus Dur. Tapi itu tidak terlalu penting, karena Wahib bisa saja mendengar rentetan kejadian yang menjadi tonggak kemajuan kebhinnekaan Indonesia. Dan mungkin, kalau percakapannya sangat cair, mereka mengobrolkan kenapa nama Wahib dan Wahid sering tertukar.

Dia mungkin juga bergegas menemui Lukman Hakim Syaifuddin setelah diberi tahu bahwa Lukman adalah menteri agama saat ini. Wahib mungkin saja menitipkan rangkaian pesan dan wanti-wanti buat menteri. Dia juga pasti menitipkan setumpuk kegelisahannya atas kebhinnekaan di negeri tercinta. Tak lupa, Wahib berpesan agar Lukman segera menyelesaikan konflik di tanah lahirnya Madura.

Mungkin Wahib juga sesekali akan menengok ke arah panggung. Dia mungkin menyaksikan Ridho yang menari, atau Kikan yang menyanyi. Dia mungkin akan maju ke depan pentas, bertepuk tangan, lalu tertawa di sebelah Yenny Wahid ketika menyaksikan pantomim.

Bisa saja Wahib tidak sengaja datang menghampiri Ridho yang sedang saya ajak ngobrol. Mungkin saja Wahib awalnya diam-diam mendengarkan dan akhirnya memutuskan terlibat dalam percakapan. Mungkin saja Wahib merasa melihat dirinya karena bertemu dengan orang-orang yang sebaya, dengan kegelisahan yang sama.

Mungkin saja, ketika saya memperhatikan Wahib berbicara, saya berkesimpulan:

Indonesia butuh lebih banyak orang gelisah seperti Wahib. Indonesia butuh orang yang hatinya terketuk mana kala melihat kemunafikan terjadi di depan mata. Mereka yang bibirnya terasa kelu ketika melihat orang beda agama diperlakukan semena-mena. Mereka adalah orang yang seketika berdoa ketika melihat diskriminasi merajalela.

Dan menjadi Wahib tidaklah melulu mengikuti setiap gerak kehidupannyatoh dia juga bukan nabi. Menjadi Wahib juga tidaklah berarti harus ikut Himpunan Mahasiswa Islam, berdiskusi topik-topik berat dengan para tokoh, lalu lantang bicara perubahan.

Menjadi Wahib bahkan tak perlu membaca buku Pergolakan Pemikiran Islam. Bahkan tanpa perlu mengenal Ahmad Wahib.

Sebab menjadi Wahib adalah sesederhana mendengarkan nurani. Melihat ke dalam diri kita sendiri, apa yang membuat kita tersakiti, dan berjanji dalam keadaan apapun tidak melakukannya kepada orang lain.

Kini kita sudah selesai berbagi kegelisahan. Kita sudah tahu di sini dan di sana ada masalah bertebaran. Kini adalah saatnya berpegangan tangan dan berteriak lantang: cukup sudah!

Cukup sudah dengan segala permusuhan dan perkelahian. Cukup sudah dengan kata-kata makian yang isinya dari kebun binatang. Cukup sudah dengan kekerasan atas nama apa pun, bahkan agama dan Tuhan.

Sudah terlalu banyak rumah yang rusak dan harta benda yang lenyap. Tapi lebih dari itu sudah terlalu banyak orang yang menangis, terluka hatinya, dan ditinggalkan orang yang dikasihi.

Hentikan segala perbedaan perlakuan terhadap yang berbeda agama. Perlakukan semuanya sebagai sama-sama manusia. Lihat semuanya sebagai ciptaan Tuhan yang setara, punya hak yang sama, dan juga punya perasaan.

Hentikan segala cemooh kepada mereka yang dianggap akan masuk neraka. Hentikan kata-kata yang akan membuat orang terluka. Hentikan ejekan-ejekan itu, demi masa depan anak cucu kita.

Mari memulai sesuatu yang baru dan menyenangkan. Mari membangun rumah yang menerima semua orang. Rumah yang menyediakan tangan hangat untuk siapa pun bergabung. Semuanya hanya dilandaskan pada kerangka persahabatan.

Kita bisa berpegangan tangan, dalam kemajemukan. Menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah benar bangsa yang besar.

Dan mungkin Wahib akan tersenyum yang memiliki dua arti. Dia senang melihat kegelisahannya telah menggerakkan banyak orang. Sekaligus tahu bahwa perjuangan kita akan panjang.***

_______________________________________

1 Laporan Akhir Tahun Kebebasan Beragama dan Intoleransi 2012, oleh The Wahid Institute. Diunduh dari www.wahidinstitute.org
2 Ibid.

*Awalnya untuk kompetisi Ahmad Wahib Award, tapi, betul deh, telat daftar.

Tuesday, August 26, 2014

3 Dilema Jurnalisme yang Tak Dipelajari di Kampus


Setengah tahun jadi jurnalis membuat saya ingin membuang buku-buku teks jurnalisme selama kuliah. Betapa tidak, mereka tidak memberikan banyak solusi atas dilema yang saya temui di lapangan. Saya tidak sedang mengatakan ‘berhenti baca bukumu', tapi ini soal ‘bersiaplah dengan hal-hal berikut'. 

Setia pada fakta vs menarik pembaca   

Satu kali saya menulis Jokowi yang menginstruksikan dinas DKI Jakarta membersihkan insfrastruktur kota. Saya menggunakan kata menginstruksikan ketika media-media online menggunakan memarahi. Saya ditelepon oleh editor kenapa angle berita saya basi, tapi saya tegaskan padanya Jokowi tidaklah marah. Bahkan kepala dinas beberapa kali tertawa.

Di lain waktu saya menulis KontraS yang berharap pemerintah menuntaskan kasus-kasus HAM. Seperti jurnalis lainnya, saya tidak menggunakan kata berharap, melainkan meminta, mendesak, memaksa, semata-mata agar beritanya lebih menggigit.   

Jurnalisme inilah yang belakangan saya lihat lebih tertarik dengan sensasi, dan nyaris menuju pelintiran. Saya menduga ini dimulai dengan jurnalisme online yang ringkas, permukaan, dan perlu menarik pembaca segera.   

Jurnalis harus tetap menulis apa adanya. Kalau memang merasa perlu melebihkan perkara, menggunakan kata-kata yang lebih kentara, berarti kejadiannya memang kurang nilai berita. Tidak usah ditulis saja.   

Rekaman eksklusif vs persahabatan jurnalis

Beberapa kali jurnalis lain ada yang meminta rekaman suara saya karena dia datang telambat. Saya usahakan menolak, sebagaimana kantor saya melarang meminta salinan pada orang lain. Namun saya dihadapkan dengan kemungkinan dimusuhi jurnalis lain, dan tidak mendapatkan informasi-informasi menarik yang bisa saja mereka punya.   

Amplop   

Memang mudah berkata tidak mengambil amplop berisi uang sogokan. Tapi kini, uang itu telah mengambil bentuk lain menjadi isi goodie bag sebuah seminar. Misalnya kaos kampanye, tempat minum, buku, bahkan flashdisk.

Aliansi Jurnalis Indepeden (AJI) mematok barang bisa diterima asalkan harganya di bawah 50 ribu Rupiah, dan barang elektronik semisal flashdisk harus ditolak meski kini harganya murah. Bagaimana dengan makan siang untuk wartawan, yang nasi kotak mungkin bisa diterima, tapi makan siang prasmanan di hotel ternama? Apa yang menjamin jurnalis tidak terpengaruh kaos dan makan siang?

Memasuki dunia jurnalisme adalah siap menghadapi segala kemungkinan. Selamat bersiap diri.***

Foto milik mashable.com

Sunday, August 17, 2014

Berpegangan Tangan dalam Kepelangian



Tanggal 17 Agustus bagi jemaat Ahmadiyah bukanlah soal upacara, lomba makan kerupuk, atau karnaval. Hari kemerdekaan baginya adalah sekali lagi menagih janji negara yang belakangan menelantarkan mereka.

Semua tahu lagu Indonesia Raya diciptakan oleh W. R. Soepratman. Namun tak banyak yang tahu sang maestro adalah penganut Ahmadiyah.

Sudah 69 tahun lagu itu berkumandang di seantero negeri. Selama itu pula jemaat Ahmadiyah hidup sebagai warga negara Indonesia. Namun belakangan, kehidupan mereka diganggu oleh kelompok yang dibutakan oleh prasangka berkedok agama.

Kelompok Ahmadiyah pun jadi korban serangkaian kekerasan sejak Lombok (2002), Parung (2005), Manis Lor (2010), Cisalada (2010), Cikeusik (2011), Bandung (2012), plus sederet peristiwa lainnya. Mereka terluka, sebagian tewas, sementara perlindungan negara entah pergi ke mana.

Di Lombok, mereka terpaksa mengungsi di penampungan selama 8 tahun. Mereka tinggal di aula besar dan setiap keluarga hanya dibatasi kain serta kardus. Pasangan suami istri harus berhubungan seks dalam diam karena bisa saja dipergoki oleh anak tetangga.

Mereka jadi korban karena, tak ada alasan lain, iman mereka. Mereka manusia tapi tidak diperlakukan selayaknya manusia. Luka sobek bisa sembuh dalam sepekan. Namun perasaan mereka yang diinjak-injak akan selamanya berbekas dalam ingatan.

Bagaimana bisa kita begitu munafik menyanyikan lagu ciptaan Ahmadi, sementara kelompoknya kita usir dari rumah mereka?

Ingat pula jemaat GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Syiah Sampang, dan lainnya, yang juga sama-sama warga Indonesia seperti saya dan Anda. Masih sudikah mereka jadi bagian bangsa yang mau menerima mereka asalkan mereka jadi orang lain?

Soekarno dan Hatta tidak pernah mempermasalahkan kepercayaan Soepratman saat memilih lagu Indonesia Raya sebagai pengiring kemerdekaan. Begitu pula jajaran pendiri bangsa sepakat melupakan perbedaan agama dan memilih bekerjasama demi mimpi jadi bangsa merdeka. 

Mereka berjanji membangun negara di mana setiap orang diterima sebagaimana dirinya sendiri. Mereka sepakat jadi bangsa di mana tidak ada satu orang pun, atas alasan apa pun, bisa didiskriminasi.

Pendahulu kita telah berjanji berpegangan tangan dalam kepelangian. Kini beranikah kita, sekali lagi, mengulangnya?***

Tuesday, July 8, 2014

Saya Tidak Akan Memilih Prabowo, Selamanya

Dinis menghabiskan seluruh masa remajanya untuk mencari sang ayah. Kini Dinis berusia 18 tahun, dan ayahnya menghilang sebelum Dinis berusia 3 tahun. Dinis adalah puteri Yadin Muhidin, aktivis yang jadi korban penculikan Mei 1998. Hingga hari ini Dinis hanya bisa menerka-nerka di mana ayahnya. Kalaulah ayahnya telah mati, bagi Dinis itu lebih baik dari pada menunggu dalam ketidakpastian.
Ayah Dinis pernah memprotes kebijakan pemerintah Seoharto yang menindas. Kini dia hilang. Sangatlah mudah untuk benak saya bicara: ada yang salah.
Saya tidak bisa membayangkan bila sayalah Dinis itu. Entah bagaimana saya bisa bertahan dengan hidup yang demikian. Saya harus menelusuri setiap informasi sumir yang didapatkan, mengikuti sumber data yang selalu enggan mengungkapkan, menenangkan ibu yang dirundung sedih berkepanjangan, sambil diam-diam berdoa pada Tuhan supaya ayah segera ditemukan---apapun keadaannya.
Kini Prabowo Subianto yang diduga menculik ayah Dinis maju jadi calon presiden Indonesia. Kita telah ditantang keadaan untuk kembali melibatkan benak terdalam. Bagaimana bisa terduga penculik ingin jadi pemimpin bangsa? Memang, Prabowo belum diputuskan bersalah atau tidak, sebab pengadilan belum dibuat. Namun status abu-abu Prabowo adalah seperti membeli kucing di dalam karung---bahkan lebih berbahaya.
Kita ingin calon presiden kita jelas, bersalah atau tidak? Kalau merasa tidak bersalah, bawalah segala bukti, jelaskan semuanya pada Komnas HAM, Kejaksaan Agung, dan Dewan Pertimbangan Presiden. Jangan hanya diam dan menyuruh tim sukses serta simpatisan membantah semua dugaan. Buktikan.
Kalau pun dugaan penculikan ini dikesampingkan, Prabowo tetap dibuntuti sederet potensi masalah. Prabowo punya koalisi obesitas. Di dalamnya, ada Hatta Radjasa yang anaknya tidak dipenjara setelah menewaskan 2 orang lewat tabrakan, serta Aburizal Bakrie yang bertanggungjawab atas berubahnya Sidoarjo jadi lautan lumpur.
Prabowo juga berkoalisi dengan dua partai Islam PPP dan PKS. Bekas menteri agama dari PPP dan gubernur Jawa Barat dari PKS kerap berkomentar menyakitkan terhadap korban intoleransi seperti Ahmadiyah dan Syiah. Kemudian Prabowo juga didukung oleh FPI yang ikut bertanggung jawab atas intoleransi tadi.
Prabowo juga didukung oleh musisi Ahmad Dhani, yang dalam lagu kampanye Prabowo memakai baju pejabat militer Nazi Jerman. Gerakan Nazi yang rasis dan fasis telah membunuh jutaan Yahudi di Jerman. Praktis Dhani disebut kalangan internasional sebagai tidak sensitif.
Prabowo juga gembar-gembor membawa nuansa Orde Baru yang militeristik. Kita tahu Orde Baru adalah rangkuman dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Orde Baru adalah masa ketika pendapat warga dibungkam, dan 13 orang bisa hilang begitu saja dengan dalih menyelamatkan ratusan juta warga lainnya. Ingat, Orde Baru juga telah menggusur lahan petani atas nama pembangunan!
Mari kita cek daftarnya. Koalisi kebal hukum, kader menyebalkan, artis fasis, nuansa militer dan pemerintahan yang anti-kritik. Semuanya komposisi sempurna untuk pemerintahan yang diktatoris, diskriminatif, dan menindas. Potensi ini berkumpul di telapak tangan Prabowo Subianto.
Tak perlulah kita membahas hak azasi manusia. Ini bukan soal pengadilan Ad Hoc yang diteriakkan para aktivis di seberang Istana Negara. Pun bukan soal instrumen HAM internasional yang dicetuskan PBB. Ini bukan soal peta politik Indonesia, bukan soal pilpres saja.
Ini soal benak kita, soal Dinis yang mencari ayahnya. Ditambah 12 keluarga aktivis lain yang sudah 16 tahun menanti kabar anggota keluarga mereka. Memilih Prabowo adalah tega membiarkan Dinis menunggu lagi 5 tahun, 10 tahun, atau mungkin selamanya.
Ini juga soal kemungkinan anggota keluarga kita hilang jika Prabowo berkuasa. Dan itu bisa siapa saja: ayah, ibu, kakak, adik, saya, Anda sendiri.
Esok Dinis akan menentukan pilihan, begitu pun saya, dan Anda. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ayah Anda hilang karena dianggap menganggu roda pemerintahan. Silakan pilih Prabowo jika Anda mau nasi yang Anda makan adalah buah tangan petani yang lahannya digusur oleh pemerintah berdarah. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ibadah di seberang Istana Negara karena kebetulan Anda tidak memeluk agama mayoritas. Saya tidak.
Saya tidak akan memilih Prabowo Subianto, selamanya.***
Foto milik tempo.co

Wednesday, June 25, 2014

Dari Kebun ke Sabun

Teks dan foto oleh Rio Tuasikal. Ditulis untuk www.portalkbr.com


Entin, warga desa Sarongge

Sore di Saung Sarongge, Desa Sarongge, Cianjur, Entin (44) datang membawa dua keranjang sabun sereh hutan buatannya. Kepada wartawan yang datang, dia sibuk menjelaskan bagaimana membuat sabunnya yang wangi.

"Satu kocokan (bahan) bisa untuk 20 batang. Satu sore habis dzuhur bisa bikin 100 batang," ujar Entin yang bernama asli Kartini.

Sabun sereh telah jadi usaha Entin selama satu setengah tahun terakhir. Sebelumnya dia bertani di Sarongge di kawasan hutan Gunung Gede sejak 1990. Dia menanam kol, wortel, kentang, dan bawang daun.

Pemerintah pada 2003 melebarkan wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sampai ke lahan Entin. Entin meninggalkan lahannya pada 2009 dan hanya menggarap kebun tomat kecil peninggalan orangtuanya di luar kawasan taman nasional.

Sebanyak 155 keluarga penggarap lahan sempat memprotes perluasan itu meski akhirnya menyerahkan lahannya ke pemerintah. Kini bekas kebun warga ditanami pohon kembali agar jadi hutan penjaga ekosistem. Sementara warga dicarikan pekerjaan sampingan agar tak kembali ke hutan.

Bekas kebun warga yang kini ditanami pohon agar kembali jadi hutan.


Kelompok ibu Sarongge jadi sasaran pemberdayaan dari Green Initiative Foundation (Yayasan Prakarsa Hijau). Mereka dilatih mengolah jamur, membuat kerajinan tangan, hingga membuat sabun sereh. Sebanyak 20 ibu dilatih menjadi kelompok sabun sereh, namun kini tersisa 3 orang termasuk Entin. Para ibu enggan bertahan dengan keuntungan kecil.

"Kebanyakan anggota mundur karena lama (pembuatannya). Wah kalau satu bulan (baru dijual) bagaimana cara anak saya makan?" ujar Etnin menirukan alasan rekannya.

Sementara itu, Entin mengaku belum menikmati keuntungannya selama 7 bulan terakhir. Setiap hasil penjualan akan dibelikan bahan-bahan untuk produksi selanjutnya.

Suami Entin ikut bekerja sampingan lewat kerajinan tangan. Keranjang dari bungkus plastik kopi yang Entin bawa sore itu adalah karya suaminya. Hampir setiap hari, Entin dan suami pergi ke kebun hingga sore, dan mengerjakan usaha sampingan menjelang malam. “Sekarang saya harus bisa membagi waktu. Waktu untuk membuat sabun, untuk menjualnya seperti sekarang," katanya.

Sabun serehnya dia jual 15 ribu rupiah secara terbatas kepada wisatawan, di festival, atau di Green Radio Jakarta. Dia sedang mengurus izin BPOM agar sabunnya bisa masuk supermarket atau hotel berkelas.

Sabun sereh buatan Entin dan kelompoknya

Sejalan dengan Sarongge yang menjadi desa wisata, usaha Entin kini membawanya pada hal lain. Dia bisa bertemu presiden SBY yang pada 2013 datang ke Sarongge untuk menanam pohon. “Sangat bangga, sampai menangis saya bisa jabat tangan sama SBY,” katanya lalu tertawa.

Dia juga senang bisa bertemu wisatawan Belanda, Inggris, dan Selandia Baru yang datang. “Kalau sekarang bisa menambah ilmu, ketemu teman-teman, adik-adik (wartawan), sama orang-orang besar," kata Entin lagi.

Entin berjanji untuk bertani seumur hidup meski usaha sabunnya kelak jadi besar. Sementara untuk usahanya, dia ingin bantuan alat suling minyak sereh teknologi tinggi yang lebih efisien. Entin ingin menyuling minyak sereh sendiri dan tak perlu lagi membelinya ke perbatasan Bandung yang jauh.

Usaha sabun ini kini masih beromzet kecil. Namun kata Entin itu lebih baik dari pada menghabiskan pagi hingga sore di kebun saja. "Bikin sabun itu paling senang, hobi," kata Entin lalu tertawa.***

Thursday, June 12, 2014

Menolak Pilpres Primordial


Ketika capres tertentu dituduh keturunan Tionghoa dan Kristen akhir-akhir ini, saya sadar Pilpres ini lebih menjengkelkan dari yang saya bayangkan. Sila cek linimasa media sosialmu, ada sederet kampanye yang sebagian besarnya bertemakan suku dan agama. Mulai dari foto, teks, hingga berita yang isinya rumor semata. Ia mengundang banyak pihak berdebat panjang yang melibatkan dalil-dalil kitab suci.

Sementara itu, saya mencari di linimasa Facebook saya perdebatan visi-misi capres dan tidak menemukannya. Tidak ada yang membahas 9 halaman visi-misi Prabowo-Hatta atau 42 halaman visi-misi Jokowi-JK. Sepertinya kita memang lebih gemar mengorek iman calon pemimpin ketimbang programnya menjaga kedaulatan pangan. Kita juga lebih tertarik dengan warna kulit calon pemimpin ketimbang caranya menjamin hak azasi manusia.

Buat saya, suku dan agama tidak pernah menjamin apa-apa. Saya kenal orang Batak yang galak, juga yang tidak. Saya kenal orang Kristen jahat, juga yang baik. Sifat baik dan buruk ada di semua pemeluk agama. Siapa yang bisa menjamin orang yang rajin ibadah tidak akan korup, ketika seorang menteri agama yang pernah naik haji pun jadi tersangka korupsi? Maka tidak ada hubungan antara suku dan agama seseorang dengan sikapnya.

Kampanye yang menjual satu agama pun telah melukai Indonesia. Ini karena presiden yang terpilih nanti akan memimpin negara yang didirikan bukan oleh satu pemeluk agama. Ia akan memimpin Indonesia yang memiliki ratusan kepercayaan, suku, etnis, dan budaya. Ia tidak hanya memimpin mayoritas Islam di Jawa, tapi juga Katholik di Nusa Tenggara Timur, Protestan di Sulawesi, Hindu di Bali. Ia akan jadi milik bersama bagi seluruh warga negara apapun agamanya.

Kadang kita tidak ingat bahwa Pilpres bukanlah urusan dua bulan, tapi membentuk Indonesia 5 tahun ke depan. Karena itu kampanye bernuansa SARA akan berbahaya buat Indonesia. Jika materi kampanye kita tidak berubah, saya kuatir kita terjebak prasangka yang sama bahkan ketika 9 Juli sudah selesai. Ini harus dihentikan sekarang juga.

Saya mengajak pendukung kedua belah pihak, Prowo atau Projo, untuk berhenti menjadikan agama dan suku barang dagangan. Berhentilah hanya memikirkan suku dan agama, ajaklah akal sehat turut serta. Buang jauh embel-embel etnis dan suku. Sementara dalil agama bisa tetap digunakan untuk mencari kriteria pemimpin bersifat luhur, lalu cari orang yang cocok dengan daftar itu. Jangan pilih orangnya dahulu baru mencari teks suci yang membenarkan pilihanmu.

Mari mulai dengan membahas program yang kedua capres ini tawarkan. Lihat program hak azasi manusia, kedaulatan bangsa, ekonomi dan infrastruktur, ketahanan pangan dan kesejahteraan sosial, jaminan terhadap kelompok rentan, kesetaraan gender, juga layanan pendidikan dan kesehatan. Unduh di situs KPU sekarang. Lalu kita bisa berdebat secara jernih dan produktif.***

Foto milik www.postkotanews.com

Thursday, May 22, 2014

Menolak Homophobia, Sekali Lagi

Untuk lesbian, gay, biseksual, dan waria

 

Minggu (18/5) siang di Car Free Day Jakarta, lelaki feminin dan perempuan maskulin berparade. Mereka membentangkan bendera pelangi dan berteriak, “Stop stigma, kekerasan dan diskriminasi pada LGBT.”

International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHOT) diperingati setiap 17 Mei di 120 negara. Kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) Indonesia memulainya sejak 2007. Tahun 2014 ini, peringatan serupa dilangsungkan di sejumlah kota besar seperti Medan, Surabaya, Makassar. 

Kamis (22/5) siang, kelompok LGBT berkumpul di Komnas Perempuan untuk sekali lagi memperingati IDAHOT. Mereka mengundang banyak media dan hanya tiga yang hadir. 

“Karena fobia ini memunculkan banyak masalah, kekerasan, diskriminasi dan stigma terhadap LGBT,” kata Yuli Rustinawati, koordinator Forum LGBT Indonesia. 

Perempuan seperti dirinya sering dilecehkan orang sekitar, dan dia tidak sendirian. LSM Arus Pelangi mencatat pada 2013 ada 89,3% LGBT di Indonesia yang pernah mengalami kekerasan karena orientasi seksualnya. 

LGBT menerima diskriminasi beragam bentuk. Ada remaja LGBT yang putus sekolah karena tak tahan diejek temannya, lalu dibuang keluarga. Sementara kelompok waria hanya buka salon atau jadi pekerja seks setelah terus-terusan ditolak perusahaan.  Ditemukan pula perempuan lesbian yang diperkosa gigolo sewaan keluarganya dengan berharap orientasi seksnya bisa berubah.

“Kami dianggap kena penyakit menular. Padahal PBB sudah menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa,” kata Yuli. PBB melakukan itu sejak 1990 melalui badan kesehatan WHO.

Secara global, ada 81 negara yang menghukum hubungan sesama jenis. Sebelas di antaranya memberi hukuman mati. 

Di Indonesia, pemerintah tidak pernah keluarkan peraturan yang melindungi hak LGBT, malah sebaliknya. 

Pada Agustus 2013 ada 342 Perda yang diskriminatif  terhadap perempuan, Komnas Perempuan mencatat. Sebanyak 264 aturan itu mengatasnamakan agama dan moralitas.  Aturan itu di antaranya mengatur pakaian perempuan, sementara laki-laki tidak.

Meski aturan ini diarahkan pada perempuan, LGBT kena getahnya.

“Kalau perempuan saja menerima perlakukan seperti itu, apalagi kami yang jelas berbeda,” kata Merlyn Sofjan, waria yang menulis novel ‘A Woman without V’. Kata Merlyn, transgender lah yang paling banyak mengalami kekerasan karena secara fisik mudah dikenali.

Merlyn Sofjan

Merlyn meminta pemerintah menjamin hak mereka dalam pekerjaan, jaminan sosial, standar hidup layak, kesehatan, pendidikan, dan ekspresi. 

Merlyn ingat bahwa perjuangan ini sudah dilakukan sejak 1993, lewat Kongres Gay Lesbian pertama se-Indonesia, di Yogyakarta. Dia bilang 21 tahun perjuangan tidak mengubah keadaan. Dia berharap presiden baru bisa menghargai perjuangan panjang itu.

Sementara Merlyn dan kelompoknya tidak meminta banyak. Mereka tidak mau distigma dan didiskriminasi. Mereka ingin hidup seperti warga heteroseksual, dinilai berdasarkan kemampuan dan bukan orientasi seksnya.

Merlyn mungkin kembali turun untuk IDAHOT 2015. Sebab ia tahu perlindungan terhadap kelompoknya masih di tengah jalan. Dia bilang, “Bukan untuk kita, ini untuk generasi mendatang.” ***

Rio Tuasikal menulis soal keberagaman manusia. Saat ini jurnalis Kantor Berita Radio terbesar di Indonesia, KBR 68H, yang juga percaya pada demokrasi dan hak azasi manusia. Ikuti Twitternya  @riotuasikal.

Wednesday, April 30, 2014

8 Tips Menulis Feature

Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal



Jujur, berita politik dan hukum tidaklah menarik, apalagi bila ditulis sebagai berita langsung. Saya lebih tertarik mengupas persoalan sehari-hari yang dihadapi orang-orang. Soal kisah, perjuangannya, masalahnya, pendapatnya, cita-citanya, gaya hidupnya. Saya suka human interest.

Kisah-kisah pribadi tidak cocok dengan struktur piramida terbalik. Ia tidak bisa ditulis sebagai berita langsung. Ia harus menyentuh, lezat di setiap titik dan koma, bikin ketagihan. Kisah pribadi selalu mengundang tanya hingga akhir. Itulah yang membawa saya berkenalan dengan feature, karya jurnalistik yang lebih menyenangkan.

Feature atau karangan khas (kakhas) adalah bentuk tulisan, bukan tema. Feature berbeda dengan straight news, opini, kolom, artikel. Feature adalah berita yang menggunakan narasi, seperti novel dan cerpen. Ia kaya akan suasana dan mengajak pembaca seolah berada di lokasi kejadian. Namun, bagaimana pun ia hanya menyajikan fakta, bukan imajinasi.

Kali ini saya ingin berbagi tips menulis feature, meski saya pun masih perlu banyak belajar. Tips-tips ini saya dapat dari sejumlah pengalaman pribadi, ditambah bacaan Janet Steele dan Yudasmoro Minasiani.

Menulis Visual dan Auditori

Feature seperti sebuah film. Penulis perlu menulis apa yang dilihat dan didengar untuk kuatkan suasana. Misalkan penulis mewawancarai narasumber di rumah bergaya Belanda dengan pohon jati di depannya. Perhatikan baju narasumber, gerak geriknya, situasi ruang tamu. Perhatikan juga apakah ada suara burung, kendaraan lewat, musik dangdut, atau batuk. Hindari kata sifat seperti bersih, tampan, sejuk. Ceritakan lewat deskripsi detail.

Contoh : Lapang futsal ini beralaskan matras hitam dan dikelilingi tripleks tebal berisi logo sponsor.

Dialog yang Melimpah

Dalam feature, penulis boleh menggunakan dialog yang emosional dan kaya. Pilihlah kutipan narasumber yang mengundang haru, marah, benci, suka, lucu. Perhatikan juga aspek gaya bicara yang khas seperti logat, pilihan kata tertentu, intonasi. Tuliskan bahasa gaul atau bahasa daerah apa adanya. Hal ini menguatkan suasana.

Contoh : “Udeh kagak ade serem-seremnye,” kata Yayah saat ditanya soal banjir.

Bermain dengan Plot

Feature tidak harus tersusun secara kronologis. Penulis bisa mulai dengan klimaks, lalu mundur ke belakang, memberi latar sejarah, maju lagi, keluarkan data, baru maju lagi.

Contoh : Sudah sejak berangkat, sekitar 90 menit sebelumnya, Lingga asyik dengan musik.

Ikut Jadi Tokoh dalam Cerita

Penulis bisa ceritakan apa saja yang ditemui selama menulis cerita ini. Bagaimana orang-orang yang ditemui, bagaimana penulis bertemu orang yang akan ditanya, bagaimana wawancara dimulai atau berlangsung. Tulis juga bila wawancara sempat terpotong.

Contoh : Dia terus menggenggam telur Paskah itu sementara saya ajak berbincang.

Detail, Detail, Detail

Jangan puas dengan wawancara dan pandangan mata saja. Kelilingi lokasi peristiwa, cari orang-orang yang duduk-duduk di sekitarnya. Kuping pembicaraan mereka. Apakah mereka memakai baju khas? Perhatikan grafiti di dinding. Bisa juga putar-putar rumah narasumber, tanyakan ini apa dan itu apa. Tanya hobinya, apa kebiasaannya? Apakah tangan narasumber garuk-garuk ketika bicara? Apakah di baju narasumber ada tulisan yang cocok dengan cerita yang sedang dibuat?

Selalu Melihat Sisi Personal

Feature bisa membahas peristiwa besar, dengan sudut yang sangat pribadi. Bila ada kasus intoleransi, tariklah itu ke pengalaman satu orang. Tanyakan apa yang dirasakan narasumber dengan kejadian itu, apakah ada perubahan dari cara hidupnya, apakah lebih mudah atau susah, tanya harapannya.

Bukan Wawancara, Tapi Ngobrol Lama

Feature butuh kisah yang melimpah. Untuk sebuah feature, tidak bisa tanya-tanya barang tiga pertanyaan. Feature tidak selesai dengan tanya jawab ala konferensi pers. Lupakan wawancara, buatlah ajang curhat 30 menit antara dua orang teman. Tanyakan detail-detail peristiwanya. Tanyakan hal-hal yang berbau emosi, tanya apa yang dia rasakan, apakah dia kesal atau marah. Ngobrol lagi di lain waktu, jangan cuma sekali. Ngobrol lama ini memungkinkan kisah-kisah yang lebih pribadi dan mendalam. Feature pun akan lebih menarik.

Lahap Banyak Narasi!

Mari belajar dari contoh. Belajar alur dan memperkaya kosakata bisa dari banyak membaca feature di media. Ada dua sumber feature berkualitas buat saya, Majalah Tempo dan National Geographic Traveller. Belajar narasi bisa juga dari membaca novel atau cerpen. Carilah novel terjemahan, tata kalimatnya kerap menarik untuk ditiru.***


Gambar milik sites.psu.edu

Sunday, April 27, 2014

A Girl Who Prays Under An Umbrella


Story and photo by Rio Tuasikal / @riotuasikal

Asima Rohana Panjaitan joined Easter Mass in front of State Palace, Sunday, April 20, 2014
  
Her sweat was passing her cheek while she was eating an ice cream. Her curly hair was braided into pair, she worn a pink shirt, a logo on her hat tells us where she is come from: HKBP Filadelfia Church.

A bright and hot afternoon in the front of State Palace, Jakarta, Sunday, April 20. This was the third year for HKBP FIladelfia Bekasi and GKI Yasmin Bogor to celebrate Easter not in their churches, but in the front of president’s office. Both churches are still locked by the local government, although the court has stated both churches are legal. And now they are seeking justice, still. 

The Easter celebration here was very simple. Three baskets of Easter eggs were placed on the altar, a simple altar from a plastic table, decorated with a tablecloth. One Indonesian flag was also placed on the right side of the altar. Once again, the flag saw the people from both churches praying on a road, using plastic chairs, using colorful umbrellas to avoid sunlight.

That afternoon, the adults were singing, while that girl was only sitting in the back row. Sometimes she was observing around, sometimes she was talking with her friends.

Her name is Asima Rohana Panjaitan, 8 years old, third grade on the elementary school. When I asked her, she told me that she is the daughter of Filadelfia’s priest, Palti Panjaitan. Asima said, that day is the fourth time she joins a pray in the front of the palace.

After two hours of preaches and religious songs, Asima got an egg which is well-decorated with puppet eyes and blue paper. She also took some colorful biscuits and other snacks. She was keeping the egg on her hand while we were having conversation

“It is tired but no problem. This is for my church,” she said.

“What is happened with the church?”

“My church is still locked. We cannot pray there.”

Asima did not know exactly why her church was locked by city government of Bekasi. She only remembered that few Muslim groups were monitoring her church. The intolerant groups sometimes patrol around the church area.

Asima remembered a bad Christmas Eve, when his father leads the people of HKBP Filadelfia to hold a Mass in their church. The people were blocked by intolerant groups.

“My dad was full of mud, cow’s feces, and urine. His motorcycle was dirty. They threw rotten eggs,” she added. She even saw her holy book was torned too. The Bibble was dirty and smelly.

Asima did not have a heart to see his father treated like that.

Knowing some intolerant Muslim groups made Asima has no option but afraid. Asima  confessed that she hates Muslims sometimes. “It is because the Muslims sometimes stress out my dad,” she explained.

Asima did not judge all Muslims are bad. She said there are some nice Muslims too. But no matter how hard Asima tries, Asima feels uncomfortable every times she meets a woman with jilbab.

“I am afraid. If there were church events near my house, I covered my face with hands. I did not want to be seen. Our walk to the church was also protested,” she told.

Asima is getting more afraid of Muslim groups because they once cursed his father. 

“The Muslim groups were shouting to my dad, ‘We’ll see, he will be die! Die! For sure!’,“  Asima explained, her voice was shaking.

Asima said, “afraid.”

“Do you have Muslim friends?”

“I have once. But they do not want to be friend with me anymore. I do not know why,” she said.

Asima scared, but Asima hoped to bring back a warm relation with the Muslim groups. Many times she prays. She hopes the Muslim groups will not be cruel the her people anymore.

“Dear God, please forgive them who have bothered my people. God, I hope my church will be still advocated by the people. Amen,” she told me the example.

However this is Easter, and it is time to cheer up. Asima said she is happy to celebrate Easter even in the front of State Palace. Her deepest heart wants she celebrates it in the church.

Asima did not know that she and her people are legally deserve that celebration. She did not know that her church has passing a long journey and proven legal by the court. She did not know that the high court, on March 30, 2011, decided that HKBP Filadelfia must be opened by the city government. She has no interest of talking about constitution or human rights. Asima did not know all this.

Asima wants only to pray inside the church. Not praying under an umbrella like that afternoon, and several afternoon she never knows.***

For Indonesian version, click Anak yang Menyapa Tuhan Dari Bawah Payung

Dedicated for the children of HKBP Filadelfia and GKI Yasmin churches 

Rio Tuasikal writes on human diversity. Now a reporter for the biggest radio news agency in Indonesia, KBR 68H, which believes in democracy and human rights. Follow his Twitter @riotuasikal.