Posts

Neng Jacinda Jadi Mualaf Dong Biar Kita Meniqa

Image
Foto-foto PM Selandia Baru Jacinda Ardern pakai kerudung buat solidaritas korban teror Christchurch bikin akang kesengsem. Foto-fotonya itu lho, aduh euy, geulis pisan dan menggoda iman. Apalagi kalau pakai kosmetik yang teruji halalnya. Sudah pasti kecantikannya lebih paripurna dari pada sidang DPR yang isinya cuma 24 orang.

Waktu neng pakai kerudung hitam longgar sambil rambutnya masih keliatan, akang tuh gelisah. Geli geli basah. Bagian yang tertutup malah bikin akang tambah penasaran dengan sosok neng Jacinda. Lekuk pundaknya dan pipinya bikin akang ingin memperbanyak keturunan membangun bahtera rumah tangga.

Akang ingin sekali mengelus pipinya neng sambil diiringi lagu Doel Sumbang. Kalau neng marah akang bilang saja kerudungnya kurang tertutup. Kalau udah pakai yang tertutup, nanti akang colek lagi, terus bilang lagi menguji. Saya kan laki-laki jadi nggak apa-apa dong nggak bisa mengontrol diri, lemah melawan syahwat sendiri.

Tapi eh ngomong-ngomong neng Jacinda mau berkerudung …

Tentang Kuliah di Filipina

Image
Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih banyak atas segala doa, dukungan, dan ucapan selamat yang teman-teman, mbak mas, ibu bapak semua sampaikan. Saya tidak akan bisa kuliah lagi tanpa dorongan tanpa henti dari semuanya.

Bersamaan dengan ucapan itu, ada beberapa teman yang bertanya mengenai studi saya. Saya sudah menjawabnya secara pribadi namun ingin juga membaginya dengan khalayak lebih luas. Dan jika ada yang punya rasa ingin tahu, mungkin jawaban-jawaban ini bisa membantu memenuhinya.

1. Kamu keterima di mana?
Saya diterima sebagai mahasiswa di Ateneo de Manila University, Filipina, yang berdiri sejak 1859, salah satu universitas tertua di negara itu. Di Ateneo, ada Asian Center for Journalism (ACFJ), sebuah pusat studi jurnalistik. Saya mengambil “visual journalism”, di mana saya akan belajar visual fundamentals, visual literacy, multimedia production, dan multimedia practices. Program diploma pascasarjana ini akan berjalan setahun sampai akhir 2019.

2. Kamu dapat beasiswa apa…

[Spoken Words] Someone Grabbed My Chest

Image
One afternoon a person I know grabbed my chest

told me to cover it and don't be a showcase


I dodged his hand moving towards me

demanded his immediate apology


But he said sorry because I was angry

not for invading my body


He held my back towards him to denotes

that we're fine but I am not.


Because it wasn't the joke that is rubbish
But without my consent, the touch is a wrong choice.

I choose not to fear

I shouted to make it clear


It is never your business

to comment on my body and be a fashion police


You may see a woman with burqa or bikini

or me with a tuxedo or naked in the city

fat, athletic, or skinny

from all spectrum of sexuality


Don't teach us what to wear

But teach your brain to be aware


this is my right to express

and not your chance to oppress


- Bandung, December 11, 2018


Picture is taken from Sea School of Embodiment 



Ketika Berita Saya Dicap “Pro-LGBT”

Image
Ketika laporan saya ‘Pengamat Nilai Indonesia Punya Ruang Bagi LGBT’ dikomentari 400 netizen, kemarin, saya tidak kaget kalau saya dicap bias dan pro-LGBT. Sejumlah komentar netizen menuding berita itu (dan juga media tempat saya bekerja) mendukung keberadaan minoritas gender LGBT. Tudingan yang sama disematkan pula kepada BBC Indonesia atas laporan berikut ini.

Tapi, hey, tunggu dulu. Apakah netizen bisa menjelaskan apa itu bias dan pro-LGBT? Tidak ada yang membahasnya. Mereka bahkan tidak menyebut bagian mana dari laporan saya atau laporan BBC yang dianggap bias. Saya malah curiga mereka tidak benar-benar membaca isi laporan dan hanya menghakimi, secara reaktif, berdasarkan interpretasi mereka terhadap judul semata.

Dari mana netizen mengambil kesimpulan bahwa laporan itu mendukung A atau B? Ketika saya menulis bahwa LGBT menjadi korban kekerasan, dan bahwa Islam punya tafsir alternatif terhadap keberadaan LGBT, apakah saya mendukung keberadaan LGBT? Saya hanya memberitahu bahwa…

Kenapa Kita Menerapkan "Sinetron Azab" pada Bencana Alam?

Image
Betul, kita semua setuju bahwa orang jahat harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Bahwa orang licik dan culas harus menganggung akibat dari perilakunya. Dengan demikian kita yakin keadilan telah ditegakkan dan bahwa 'kebaikan' akan selalu menang.

Umat manusia selalu punya angan-angan tentang kebenaran tertinggi itu. Di ranah duniawi yang profan, kita menciptakan sistem hukum dan peradilan pidana untuk membuat jera individu yang telah merugikan orang lain. Sementara di ranah agama yang sakral, manusia mengenal konsep surga dan neraka. Tuhan akan mengganjar perbuatan manusia berdasarkan amalannya.

Gagasan mengenai surga-neraka ini merupakan ejawantah alami dari kerinduan kita akan keadilan. Konsep dwitunggal ini menjadi kompas moral bagi sebagian orang. Surga-neraka secara bersamaan menjaga seseorang menganut nilai-nilai yang dianggap 'baik' oleh masyarakat dan juga peradaban. Hal ini belaku juga bagi sebagian manusia lain yang memilih sains dan filsafat sebagai komp…

Puisi: 13 Tahun Agama

Image
*Dibacakan pada Unmasked Open Mic "Ascendance" di Jakarta, 18 Agustus 2018


November 2005: Ibu saya berjualan kue lebaran tapi ada sisa
Dia meminta saya memberikannya pada tetangga
"Tapi, mah, dia kan batak dan kristen. Tidak Lebaran kayak kita"
"Oh tenang saja, ini kue persahabatan semata"
Di rumah tetangga, kue disambut dengan suka cita
Oh ternyata dia belum pernah menerima kue lebaran seumur hidupnya
Maka sebulan sesudahnya, ketika Natal tiba...
...giliran keluarga saya dapat kue darinya
Indahnya perbedaan kita.

Tapi tahun demi tahun mengubah semuanya
Gereja-gereja disegel orang-orang yang murka
Ahmadiyah, Syiah, dipukuli atas dasar prasangka
Perempuan muslim, yang siswa atau abdi negara, dipaksa pakai jilbab di kepalanya
LGBT diusir, karena tiba-tiba selangkangan saya jadi urusan Anda semua!

Gubernur bersih, masuk penjara; protes adzan kencang, eh dihukum juga.
Atas nama? Pe-nis-ta-an-a-ga-ma

Sejak kapan agama jadi dipaksa-paksa?
Sejak kapan ini jadi watak Indonesia?

Uwu, Saya Gemas Melihat Orang Melafal "Pasteur" dan "Purbaleunyi"

Image
Untuk yang suka mengejek orang Sunda soal 'f' dan 'v'

"Untuk informasi selengkapnya, kita bergabung bersama Jurnalis Kompas TV Nadia Hafizha di gerbang tol Past(e)r, Bandung, Jawa Barat."

Eh apa? Paster atau Pasteur? 
Musim mudik seperti ini, nama pintu tol Pasteur dan tol Purbaleunyi, keduanya di Bandung, selalu masuk berita---dan banyak orang selalu keliru ketika melafalkannya. Baik itu reporter televisi, pejabat atau petugas Kementerian Perhubungan, termasuk pemudik sendiri yang melewati Jawa Barat.

Mereka keliru mengucapkannya sebagai Paster, dengan 'e' biasa seperti dalam menyenangkan. Padahal seharusnya 'eu'. Bunyinya kira-kira kayak temen Spongebob, si Patrick Star pas lagi bengong. Saking susahnya cari video yang bisa menjelaskan itu, berikut saya bikin video sendiri hahaha..

Sedikit pengetahuan Basa Sunda. Tidak seperti banyak yang lain, bahasa ini memiliki tiga jenis e: ada é, e, dan eu. Yang pertama (é) bacanya seperti enak. Yang ked…