Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • #Tolikara dan Kacamata Kita

    #Tolikara dan Kacamata Kita


    Lebaran ini dinodai kebencian.

    Apa yang terjadi di Tolikara, Papua, Jumat (17/7/2015) pagi, menjadi luka di tengah Idul Fitri yang bersuka cita. Sebuah masjid diberitakan dirusak oleh kelompok tak bertanggung jawab. Tapi respon yang bergulir membuat kita harus berhenti sejenak. Sebentar. Kacamata apa yang perlu kita gunakan?

    "Bantai saja mereka," tulis seorang temannya teman saya. 'Mereka' yang dimaksud adalah pelaku, yang diduga kristen. Lalu ada teman lain yang menyangkutkan ini ke masalah mayoritas-minoritas. Muslim di bumi cenderawasih ditekan karena sedikit. Jadi kristen yang jadi minoritas secara nasional bisa diberi pelajaran.

    Semakin lama cara pandang mayoritas-minoritas ini digunakan, makin suburlah balas dendam itu. Mayoritas muslim di Jawa bisa menekan minoritas kristen (baca: GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia). Lalu mayoritas kristen di Sulawesi Utara balas dendam kepada muslim di sana. Lalu Bali yang mayoritas Hindu ikut. Lalu Ambon dan Poso kembali meradang. Maka Indonesia tinggal bubar jalan!

    Buang jauh kacamata mayoritas-minoritas. Sebab, di dalam negara demokrasi, semua orang punya hak yang sama. Setiap orang dilindungi tanpa dilihat dari kelompok apa. Jumlah penganut agama hanyalah angka. Hanya untuk sensus penduduk. Bukan legitimasi melakukan kekerasan terhadap mereka yang kecil jumlahnya.

    Pakailah kacamata hukum dan hak warga negara. Ini bukan soal Islam atau Kristen, tapi negara yang loyo menghadapi warga yang arogan---apapun agamanya. Negara tidak boleh tunduk pada kekerasan atas nama Tuhan. Negara harus tampil gagah bersama hukum untuk melindungi korban. Negara harus menyeret pelaku intoleransi ke pengadilan!

    Sangatlah memuakkan menelusuri perbicangan ini. Saya muslim, tapi kenapa kita membela iman dengan dendam yang menggebu? Bukankah kejahatan tetap menang bila semua orang baik membalas dengan cara yang sama jahatnya? Kenapa benci dibalas benci?

    Di balik itu semua, apa yang persisnya terjadi di Tolikara masih sumir. Belum jelas apakah itu masjid, ruko, atau rumah warga. Surat edaran dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Tolikara pun perlu diuji kebenarannya. Betulkah itu resmi, atau buatan oknum yang ingin memecah belah? Gerakan "Papua Itu Kita" sudah menyatakan sikapnya.

    Ingat, Nabi Muhammad mengajarkan tabayyun dan berlaku adil pada pemeluk agama apapun.***

    Utan Kayu, Jakarta
    2 Syawal 1436 H 

    Rio Tuasikal menulis keberagaman manusia. Jurnalis Kantor Berita Radio 68H---yang percaya demokrasi dan hak asasi manusia. Ikuti kicau lewat Twitter @riotuasikal
  • Do We Have to be Arabian to Celebrate Ramadhan?

    Do We Have to be Arabian to Celebrate Ramadhan?



    Habibi habibi habibi ya nur al ain
    Habibi habibi habibi ya nur al ain

    This song always pops-up in my mind everytime I think about Ramadhan. I believe you will agree that the song is almost identical with this holy month. It catches our ears in television and shopping centers anytime.

    But if you think it is religious, think it again, because you are totally wrong. Have you ever checked out the lyrics? Just google "Habibi ya Nur al Aini" and you'll be surprised to see the singer, Amr Diab, devotes the song to---guess what?---a beautiful woman. The lyrics above translated as "darling, you are the glow in my heart". 

    I know, you probably think "habibi" is addressed to Prophet Muhammad (as we know that he is on the top of God's favourite list) and the song was created to adore him. But the video clip will shut up your mouth. There are beautiful women in frame, guys, enjoy it.

    "Habibi" is just one of our silly and misleading ways to welcome this blessingful month---along with camel and pyramids pictures everywhere! This condition has been always like this since forever, and I don't know why people use those symbols to decorate public spaces. 

    Well, I would not talk about kurma again. I did it 3 years ago and being controversy!

    Look, can you imagine how camel and pyramids relate to the spirit of Ramadhan? Even pyramids are antidote to the doctrine of the Oneness of Allah. Because it symbolizes Paraoh's dignity in ancient Egypt civilization, while Paraoh called himself God. 

    I don't know if I have to cry or laugh to see how people easily follow almost everything served to them. Do they ever asking why? Where is critical thinking? Thanks to capitalism for choosing the wrong yet effective promotion content.

    Ramadhan is not about arabian music and dessert-thing. Ramadhan is the time to cuddle with God more often, and to help the marginalized communities. We can fast and still being ourselves as Indonesians. We could prefer batik not thawb tunic, kolak not kebab, and speak Indonesia accent not arabic. We also have plenty of religious songs from local bands like Ungu and Gigi---and they sing about God!

    It's time to turn off the middle east music, and enjoy Ramadhan as yourself not anyone else.

    - Lawson Pramuka, Jakarta, July 4

    Picture is from flickr.com
  • Kenapa #StraightPride Membuatmu Nampak Tolol?

    Kenapa #StraightPride Membuatmu Nampak Tolol?

    Untuk heteroseksual yang ketakutan


    Pekan lalu saya baru bangun tidur ketika membuka Facebook saya. Di linimasa, mata saya langsung memincing pada poster bertuliskan #StraightPride, dan masih bingung karenanya hingga kini.

    Saya bukan gay, dan saya tidak punya rencana menikahi lelaki. Saya sendiri masih nggak ngerti kenapa ada yang merasa terancam dengan kebijakan Mahkamah Agung Amerika Serikat itu. Soalnya itu kan di negara Paman Sam. Tapi seandainya saya warga negara Amerika Serikat pun, saya tetap akan membiarkan aturan itu dengan 3 alasan.

    Keputusan Mahkamah Agung Amerika hanya menyatakan pernikahan sesama jenis disahkan oleh negara. Mahkamah tidak memaksa seluruh warganya menikah dengan sesama jenis toh? Jadi kalau Anda lelaki yang menyukai perempuan, ya nikahilah perempuan. Beres!

    Apakah Anda sekretaris yang mengurusi kehidupan pribadi setiap orang?

    Hey, Anda tidak boleh makan cokelat karena saya lagi diet. Anda tak boleh berolahraga karena saya sedang capek. Loh, apa hak saya melarang-larang? Karena itu Anda juga tak berhak memaksa orang lain tidak makan karena Anda sedang puasa. Juga Anda tidak berhak melarang pernikahan sesama jenis karena Anda tidak melakukannya. 

    Alasan selanjutnya: homoseksualitas bukan penyakit, juga bukan penyakit menular. Ilmu pengetahuan---dengan metode yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan---telah menyatakan bahwa homoseksualitas adalah variasi orientasi seks. Bukan penyakit. Bukan penyakit menular. Homoseksualitas juga sudah dicoret dari daftar penyakit jiwa World Health Organization (WHO) sejak 1990. Banyak yang percaya orientasi seksual adalah genetik---meski ini masih diperdebatkan.

    Ingat, legalisasi hukum tidak otomatis membuat jumlah homo berlipat ganda. Toh homo akan tetap demikian sebagaimana hetero akan tetap demikian. Kelompok homo tidak akan melahirkan anak-anak yang otomatis homo---toh mereka tidak bisa melakukan pro-kreasi. 

    Alasan terakhir adalah sikap negara. Dengan mengeluarkan kebijakan ini, Amerika mengatakan homo juga warga negara yang punya hak-hak sipil yang sama dengan hetero. Siapa pun sama di hadapan hukum dan dilindungi. Dan Anda tidak perlu jadi homo untuk menghormati hak-hak mereka.

    Legalisasi ini adalah kesetaraan antara hetero-homo. Bukan kemenangan homo atas hetero seperti yang dibilang orang-orang. Well, kalau orang yang suka menindas dan punya otak sengklek sih pikirannya kalah-menang terus. Susah emang.

    Amerika juga telah pamit dari ruang privat warganya dan tidak ikut campur. Pemerintahnya menetapkan diri hanya mengurus ruang publik: korupsi, kemiskinan, dan keamanan. Di tanah air, kondisinya terbalik. Korupsi yang jelas merugikan rakyat dibiarkan, masalah orientasi seks diricuhkan.
     
    Kini, jika hetero tidak setuju dengan homo, menganggapnya berdosa, itu terserah. Biar Tuhan yang memutuskannya di surga. Kini yang penting jangan saling berkelahi dan mari hidup bersama-sama selama di dunia.

    Kalau Anda yakin sebagai hetero, ya sudah, jalani. Jadi hetero kok merasa inferior? Jangan-jangan Anda sebetulnya merasa homo tapi takut mengungkapkannya? Lalu Anda hanya bisa kesal sendiri sambil memposting poster-poster bertuliskan #StraightPride sebagai pelampiasan? 

    Duh, kasihan!


    Gay Pride tidak lahir untuk merayakan gay, tapi hak untuk hidup tanpa siksaan. Jadi, ketimbang berpikir kenapa tak ada Straight Pride, bersyukurlah karena itu tidak perlu ada.
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13