Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Uwu, Saya Gemas Melihat Orang Melafal "Pasteur" dan "Purbaleunyi"

    Uwu, Saya Gemas Melihat Orang Melafal "Pasteur" dan "Purbaleunyi"

    Untuk yang suka mengejek orang Sunda soal 'f' dan 'v'
    Aksara 'eu' dalam bahasa Sunda (Wikimedia Commons)

    "Untuk informasi selengkapnya, kita bergabung bersama Jurnalis Kompas TV Nadia Hafizha di gerbang tol Past(e)r, Bandung, Jawa Barat."

    Eh apa? Paster atau Pasteur? 

    Musim mudik seperti ini, nama pintu tol Pasteur dan tol Purbaleunyi, keduanya di Bandung, selalu masuk berita---dan banyak orang selalu keliru ketika melafalkannya. Baik itu reporter televisi, pejabat atau petugas Kementerian Perhubungan, termasuk pemudik sendiri yang melewati Jawa Barat.


    Mereka keliru mengucapkannya sebagai Paster, dengan 'e' biasa seperti dalam menyenangkan. Padahal seharusnya 'eu'. Bunyinya kira-kira kayak temen Spongebob, si Patrick Star pas lagi bengong. Saking susahnya cari video yang bisa menjelaskan itu, berikut saya bikin video sendiri hahaha..


    Sedikit pengetahuan Basa Sunda. Tidak seperti banyak yang lain, bahasa ini memiliki tiga jenis e: ada é, e, dan eu. Yang pertama (é) bacanya seperti enak. Yang kedua (e) seperti sedih. Yang ketiga (eu) ini adalah keajaiban bahasa Sunda yang hanya lidah penutur asli yang dapat melakukannya. Eh tapi di bahasa Aceh juga ada lafalnya kok, contohnya Meulaboh.

    Bahasa Sunda punya banyak kosakata 'eu'. Misalnya peuyeum (singkong fermentasi), hareudang (gerah), dan euy (ekspresi penekanan). Ka mana euy? Saya sendiri, yang lahir di Tasikmalaya dan besar di Bandung, dari ibu yang Sunda dan ayah Sunda-Ambon, jadi terlatih bisa mengucapkannya. 

    Nah, basa Sunda juga punya keunikan lain, karena secara tradisional tidak mengenal 'f' dan 'v'. Hal ini membuat orang Sunda punya stereotip tidak bisa melafal 'f'. Saya tetap bisa sih karena dari kecil pakai bahasa Indonesia di rumah. Tapi masih banyak orang Sunda di luar sana yang kesulitan.

    Bahasa sangat mengakar tidak hanya secara budaya tapi juga fisik. Saya baru tahu bahwa bahasa melatih anatomi lidah-mulut menjadi fleksibel dengan bunyi tertentu dan tidak terhadap bunyi yang lain. Inilah yang disebut aksen. 

    Orang Jepang bilang 'bully' menjadi 'burry', orang Tiongkok melafal 'world' sebagai 'woh', dan orang Prancis malah melafalkan 'hospital' jadi 'opital'. Semua karena lidah kita, apapun bahasa ibunya, berangsur kaku ketika kita mencapai usia tertentu. 

    Di Amerika Serikat, di mana migran datang dengan berbagai logat bahasa, upaya menetralisasi aksen menjadi bisnis besar. Modifikasi aksen jadi pilihan sebagian mereka yang mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau ketiga. Accent reduction ini misalnya didorong organisasi American Speech–Language–Hearing Association (ASHA) dan Accent Reduction Training Association (ARTA). Meski pemerintah AS menjamin kesempatan kerja adil bagi semua orang, tetap saja aksen menjadi semacam halangan sosial yang bagi sebagian orang ingin dihilangkan. 

    Saya termasuk yang percaya aksen adalah bagian dari diri kita. Jika ada yang ingin menghilangkan silakan, yang ingin mempertahankan juga silakan. Tidak perlu ada pemaksaan. Begitu pun dengan orang Sunda yang terjebak dengan 'p', dan orang non-Sunda yang belepotan menyebut Purbaleunyi. Sama-sama gemas saja. Ternyata di situlah indahnya keberagaman kita. 

    Satu hal terakhir. Saya ingin mengklarifikasi tuduhan yang selama ini dialamatkan kepada orang Sunda. Kata siapa orang Sunda nggak bisa ngomong 'f'? Itu mah pitnah!***

  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13