-->

Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Perlawanan, Perempuan Lawan Kekerasan

    Perlawanan, Perempuan Lawan Kekerasan



    Ketika mengobrol dengan Aty Suandi di Bandung November lalu, saya disadarkan akan dua hal. Pertama, bagi perempuan, kegiatan memilih baju adalah pilihan penting sekaligus berbahaya. Kedua, bagi perempuan, naik angkutan umum adalah perjuangan menghindari pelecehan. Saya terkejut, ternyata dua hal biasa bagi lelaki seperti saya, bisa sepenting itu buat perempuan.

    Untuk urusan baju, sebagai laki-laki, saya tinggal mencari baju yang nyaman dan mencocokkan warnanya sesekali. Sementara perempuan harus selalu mengambil langkah ekstra untuk menimbang. Apakah baju ini akan baik-baik saja? Akankah terlalu menarik perhatian? Sebab perempuan sadar, salah-salah pilih, perempuan bisa jadi korban perkosaan---lucunya, disalahkan karena pakaian yang ia gunakan.

    Saat itu Aty menceritakan pengalamannya jadi korban street harassment. “Saya merasakan pantat saya dipegang-pegang, saya merasa itu sengaja,” kisahnya. Dia juga menceritakan bahwa dirinya sering dipanggil-panggil dan digoda oleh laki-laki di jalanan. “Perempuan dipanggil kiw kiw, kkrrr kkrrr, neng neng,” jelas Aty. Dia percaya 95% perempuan mengalami pelecehan serupa semasa hidupnya.

    Buat Aty, pelecehan di jalanan adalah pertarungan setiap perempuan, setiap hari. Hal tersebut adalah anak tangga pertama menuju sederet bentuk kekerasan terhadap perempuan.


    Perempuan dan Kekerasan Seksual

    Kata perempuan dan kekerasan terpisah sekian ratus halaman di KBBI. Tapi, di dunia nyata, keduanya sangat dekat seperti dua sisi mata uang. Perempuan selalu rentan dengan kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

    Komnas Perempuan mencatat ada 15 jenis kekerasan seksual yang terjadi selama 1998-2013[1]. Jenis kekerasan ini dikutip Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) dalam selebarannya, meliputi: Perkosaan; Intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan; Pelecehan seksual; Eksploitasi seksual; Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual; Prostitusi paksa; dan perbudakan seksual.

    Mengenai prostitusi dan perbudakan, saya ingat yang diceritakan Lola Amanda, penyiar Sex and de Kota di Green Radio Jakarta. Dia mengenal perempuan yang dijual suaminya untuk memenuhi kebutuhan suami akan narkoba. Perempuan itu juga disiram air keras dan diancam cerai. Perempuan itu terkena HIV/AIDS dari suaminya yang tidak pernah mau mengaku. Kini perempuan itu positif HIV/AIDS, ditinggal mati suami, hidup bersama anaknya yang juga positif HIV/AIDS. Total, kami berdua menghitung perempuan itu mengalami kekerasan 8 lapis. Sekali lagi, 8 lapis!

    Kembali ke bentuk kekerasan. Delapan selanjutnya adalah: Pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung; Pemaksaan kehamilan; Pemaksaan aborsi; Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi; Penyiksaan seksual; Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual; Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan (misalnya sunat perempuan); dan Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

    Soal yang terakhir itu, Komnas Perempuan pada Agustus 2013 mencatat ada 334 peraturan diskriminatif, 265 di antaranya menyasar perempuan atas nama moral dan agama. Peraturan ini antara lain soal cara berpakaian, prostitusi dan pornografi, pemisahan ruang publik laki-laki dan perempuan, serta pembatasan jam keluar malam[2]. Tidak ada satu pun yang membatasi laki-laki.

    Selama 40 tahun kekerasan tersebut menimpa perempuan, demikian laporan Menemukan Kembali Indonesia dari Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran yang dirilis Oktober 2014. KKPK adalah kumpulan hampir 50 lembaga yang mencatat aksi kekerasan dan pelanggaran HAM sejak Orde Baru. KKPK menulis, “Teror dilakukan menyasar bukan saja kepada hak kewarganegaraan mereka, namun juga tubuh mereka.” Membacanya, saya tidak bisa membayangkan jika jadi salah satu korban.

    Berikut adalah data-data terbaru yang dihimpun Komnas Perempuan.




    Setelah Kenali, Tangani!

    Terlalu banyak data-data dan bukti-bukti bahwa perempuan jadi korban kekerasan seksual. Kata Aty, semua kekerasan terhadap perempuan berakar dari cara pandang yang salah. Perempuan dianggap sebagai barang dan bisa dimiliki. Perempuan dianggap lebih lemah dari laki-laki. Seringkali, perempuan juga tidak diuntungkan oleh tafsir agama yang lelaki-sentris. Ini terbentuk dan mengakar selama berabad-abad.

    Untuk itu perlu penyadaran bagi laki-laki dan perempuan tentang kesetaraan dan emansipasi. Klise memang. Bahwa terlepas dari perbedaan yang ada, kedua jenis kelamin adalah setara, punya hak yang sama sebagai manusia. Tidak ada satu pun yang boleh jadi korban kekerasan dan disiksa.

    Menyadarkan masyarakat memang adalah perjalanan panjang. Tapi perlawanan terhadap kekerasan itu ternyata bisa dimulai setiap hari dan oleh diri sendiri. Spesial buat laki-laki, jagalah pandangan. Bagi perempuan yang digoda atau diraba di jalanan, jangan ragu untuk bicara. Perempuan jangan menganggap diri baik-baik saja jika memang di dalam hati kesal mengalami pelecehan.

    Jangan biarkan rabaan atau panggilan melecehkan berlanjut jadi perkosaan! Tepis tangan-tangan jahil berotak mesum itu. Lindungi bagian-bagian tubuhmu yang sering jadi target dengan tas atau buku. Protes laki-laki yang memanggil-manggilmu di pinggir jalan.

    Lakukan itu setiap hari sampai setiap orang di sekitarmu akhirnya sadar kamu berharga. Dengan demikian kamu sudah melakukan perlawanan, jadi perempuan melawan kekerasan. Setidaknya kamu bisa memilih baju atau naik angkutan umum tanpa lagi ada rasa khawatir.***

    [1]www.komnasperempuan.or.id/2014/12/15-bentuk-kekerasan-seksual-sebuah-pengenalan/
    [2]www.jurnalperempuan.org/peraturan-diskrimintaif-terhadap-perempuan.html

    www.ippi.or.id
    www.ippi.or.id

  • Natal Kevin, Natal Edo

    Natal Kevin, Natal Edo

    Untuk Edward Matthew Sitorus (Edo) beserta jemaat GKI Yasmin.



    Kevin McCallister dalam serial Home Alone punya masalah rutin setiap Natal: Harry dan Marv, dua pencuri kelas teri. Bocah 8 tahun itu harus berhadapan dengan duo rampok, dua tahun berturut-turut, baik di rumahnya di Illinois atau di hotel di New York. Lalu, dengan cerdik, Kevin selalu bisa menjebak mereka secara menggelikan. Ingat wajah Harry ketika rambutnya terbakar? Kita terpingkal-pingkal. Sungguh sajian Natal yang selalu bikin rindu.

    Tidak ada yang lucu dengan Natal Edo. Natal Edo tidak akan mengocok perutmu atau membuatmu terpingkal-pingkal jika membicarakannya. Anak 13 tahun ini tidak berurusan dengan dua perampok konyol. Tapi setiap Natal Edo juga punya dua masalah rutin. Bukan manusia, tapi diskriminasi dan ketidakpastian hukum.

    Edo adalah jemaat gereja GKI Yasmin, Bogor, yang disegel pemerintah kota Bogor sejak 2010. Penyegelan dilakukan atas desakan kelompok intoleran. Gereja ini seharusnya sudah dibuka. Sebab dalam proses hukum yang berakhir di Mahkamah Agung, 2011, pengadilan memutuskan gereja itu sah. Sekali lagi, sah.

    Namun Walikota Bogor terus ngeles dengan berbagai alasan. Dari walikota lama, Diani Budiarto, hingga walikota baru yang awalnya penuh harapan namun belakangan mengecewakan, Bima Arya. Keduanya masih berlandasan pada argumen lawas. Akhirnya, Edo dan jemaat Yasmin sudah 5 tahun tidak bisa ibadah di gereja mereka sendiri, hingga Natal tadi pagi.

    Bersama-sama sang ibu dan jemaat lainnya, Edo mengalami perjuangan lima tahun tidak kenal henti. Sudah dua tahun ini, setiap bulannya, Edo melewati puluhan kilometer Bogor-Jakarta untuk ibadah Minggu dua mingguan di seberang Istana Merdeka. Di sana Edo mendengar konstitusi dan hak asasi manusia. Edo mendengar diskriminasi oleh negara. Adakah semuanya mudah dipahami pelajar SMP ini? Buat saya, itu semua datang terlalu cepat.

    Ketika saya tanya perasaannya melihat anak-anak se-usianya merayakan Natal di gereja lain, Edo menjawab pelan, "Kenapa mereka bisa duduk ibadah dengan tenang? Kenapa Edo nggak?"

    Seharusnya Edo merayakan Natal dengan sukacita, bukan memperingati ketidakadilan yang gerejanya terima. Seharusnya Edo sibuk menghias pohon Natal di rumahnya, latihan bernyanyi untuk tampil di gereja, tidak memikirkan gerejanya yang dirampas. Seharusnya masa kecil Edo lengkap dengan Santa Klaus, kado, dan tertawa menonton Home Alone.

    Saya membayangkan sekuel Home Alone di mana Kevin dan keluarga McCallister memutuskan berlibur ke Bogor, Natal mendatang. Lalu Kevin melewati kompleks Yasmin, bertemu Edo, dan melihat ada yang tidak beres. Adakah Kevin punya ide cerdik selesaikan masalah ini?***

    Rio Tuasikal menulis keberagaman manusia. Kini jurnalis Kantor Berita Radio 68H---yang percaya demokrasi dan hak asasi manusia. Ikuti kicau lewat Twitter @riotuasikal
  • What We Can Learn from #IllRideWithYou

    What We Can Learn from #IllRideWithYou

     

    It has been a week since Man Haron Monis attacked Cafe Lindt in Sydney, but the spirit of #IllRideWithYou is relevant forever.

    The inspiration within the hashtag derived from a simple act on a train. We remember how Rachael Jacobs said to a women who silently removed her jilbab, to keep wearing it. Yes, Rachael understands that the woman was afraid if someone will attack her because of what Monis have done in other place. But Rachael will ride with her.

    I simply cannot understand how Rachael was thinking that day. How can Rachael were trying to protect a woman with jilbab, while at the same time, there is a crazy man, attacked a cafe with the symbol of the same religion which jilbab comes from. If I were Rachael, I will punch the woman at once as a revenge.

    But Rachael was true. And fortunately she was followed by good and fabulous people across Australia and the globe!

    The hashtag #IllRideWithYou showed us how cool people avoid judgement, stereotype, and generalization.

    It says like, "There is nothing wrong with jilbab, since there is no relation between appearance and behaviour."

    And it continues like, "Okay, Monis is crazy, but it doesn't mean all moslems are the same." In Islam: tabayyun.

    Australians has proved us that solidarity has no religion boundaries. It has no business if you are wearing jilbab or not, once you are human, I'll protect you. United Nations and the global community call it humanity. We call it kindness.

    That's why Aussie moslems--- even moslems from other countries--- said thanks to the people involved in the hashtag. Because we all are really tired with prejudice et cetera. We are tired of being rejected just because of what we believe or wear, jilbab or rosary.

    If christian-majority-secular-state Australia has protected our moslem brothers and sisters fighting prejudice, so why moslem-majority-Pancasila-state-Indonesia cannot do the same to fellow Christian citizens?

    Why do GKI Yasmin and HKBP Filadelfia will celebrate Xmas outside their legal churches, again this year?

    Are we brave enough to say to them, "Just go to your church. And if you are afraid, I'll ride with you"?***




    Rio Tuasikal writes on human diversity. Now a reporter for radio news agency KBR 68H---which believes in democracy and human rights. Follow his Twitter @riotuasikal.
  • [Audio] Membuka Segel Masjid Kami

    [Audio] Membuka Segel Masjid Kami

    Simak di Saga portalkbr.com



    Tiga hari sebelum Ramadhan, masjid Nur Khilafat milik jemaat muslim Ahmadiyah Ciamis disegel bupati. Keputusan ini dibuat atas desakan kelompok intoleran. Jemaat sudah memprotes bupati namun tidak dapat jawaban. Seminggu berlalu, mereka membuka segel masjid mereka sendiri. Saya datang ke lokasi di detik-detik pembukaan segel.

    SAGA KBR 68H
    Membuka Segel Masjid Kami I
    SAGA KBR 68H
    Membuka Segel Masjid Kami II
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13