-->

Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Banyak Orang Mengira Saya Merayakan Natal

    Banyak Orang Mengira Saya Merayakan Natal

    Sumber

    Sebetulnya tidak apa-apa juga orang-orang mengucapkan selamat Natal kepada saya, meski saya tidak merayakannya. Saya tidak tersinggung atau apa. Hanya saja ini terjadi setiap tahun dan menarik untuk diceritakan.

    Natal tahun ini, ada sejumlah teman yang mengucapkan lewat Facebook dan Whatsapp. Lalu di kantor VOA, seorang kolega memberi saya ucapan Natal. Saya terima dengan senyum, "Terimakasih, pak, tapi saya tidak merayakan Natal." Lalu dia mengernyitkan dahi dan bertanya apakah saya seorang muslim.

    Ini terjadi sepanjang sejarah hidup saya. Sejak kecil. Orang seringkali menduga, mengira, menebak-nebak saya sebagai pemeluk Kristen dan saya merayakan Natal. Saya sebetulnya tidak pernah menyadari betapa banyak orang yang berpikiran demikian sampai terjadi peristiwa berikut.

    Dalam suatu kemah lintas-iman di Bandung, teman saya Risdo Simangunsong, bertanya "kamu pernah di persekutuan mana?" Lalu saya melongok. "Hah?" Karena pada saat itu saya belum mengerti bahwa persekutuan adalah komunitas atau kegiatan yang diikuti umat Kristen untuk memperdalam agama. Usai hening dua detik Risdo kembali dengan pertanyaan baru: "kamu muslim?"

    Saat kuliah di Bandung, banyak teman saya mengajak saya ke gereja. "Kamu gereja di mana?" Kadang saya jelaskan dengan pelan bahwa saya terlahir muslim. Kadang saya balas dengan senyuman paling manis karena takut menyinggung.

    Lucunya, tidak pernah sekali pun dalam 4 tahun kuliah saya ada yang mengajak saya sholat Jumat atau ke masjid. Atau dalam kesempatan lain, teman saya bengong setelah melihat saya sholat. "Aku kira kamu bukan Islam," katanya. Hahaha...

    Mungkin orang menebak dari wajah dan nama saya - dan orang mengandalkan stereotip untuk mengambil kesimpulan. Memang sekilas wajah saya terlihat dari Indonesia Timur begitu pun nama "Rio" dan "Tuasikal". Wajah saya adalah harmonisasi antara ibu (Sunda Tasikmalaya-Sumedang) dan ayah (Sunda-Ambon). Sementara nama "Tuasikal" sendiri adalah fam Ambon dari garis keturunan kakek yang sebetulnya adalah marga muslim.

    Cara orang untuk bertanya mengenai agama saya juga lucu. Kadang orang memakai perumpamaan. "Rio, kamu ke masjid atau ke gereja?" ucap saudara ibu kos saya satu hari. "Kamu Natal atau Lebaran?" tanya editor saya satu kali ketika dia memikirkan apakah saya diberi libur lebaran atau libur Natal. (Iya, jurnalis tetap bekerja di hari raya).

    Sebetulnya saya sudah tahu maksud pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi saya suka kesal jika orang enggan bertanya langsung. Seolah agama itu tabu benar, terlarang, atau hal yang patut disembunyikan. Padahal, jika kita enggan membicarakan agama secara terbuka, di situlah bibit-bibit kesalahpahaman tumbuh.

    Saya lebih hormat dengan orang yang bertanya, "kamu agama apa?" tanpa embel-embel lain atau meminta maaf terlebih dahulu. Misalnya saja teman saya di Washington DC, Susan Que asal Tiongkok. "What's your religion?" tanya dia di dalam mobil Uber. "I was born muslim," jawab saya langsung. Ternyata dia menanyakan agama karena ingin memberikan saya siomay buatannya yang memakai daging babi, dan memastikan apakah saya makan babi. Ini kocak juga sih.

    Saya gembira ketika orang menebak-nebak. Kalau mereka bertanya soal agama atau nama saya, saya akan dengan senang hati menjelaskannya. Dan kendati saya tidak merayakan Natal, saya ingin mengucapkan selamat Natal buat kawan kristiani yang merayakan. Damai di hati damai di bumi. []
  • Kenapa Nama Saya "Rio"? (Versi Bahasa Indonesia)

    Kenapa Nama Saya "Rio"? (Versi Bahasa Indonesia)

    Click here for English version.


    Untuk yang penasaran dengan nama depan saya.

    Tinggal selama beberapa bulan di Amerika Serikat membuat saya menyadari bagian dari diri saya yang menarik bagi banyak orang: nama saya, Rio. Ini bahasa Portugal yang artinya "sungai" tapi saya tidak punya darah Iberia (setidaknya sepengetahuan saya karena saya belum mengambil tes DNA leluhur). Saya akan membahasnya di bagian akhir. Tapi sekarang saya akan menceritakan 3 skenario utama bagaimana orang-orang menanggapi nama saya.

    Paling sering, orang menganggap "Rio" terlalu mudah dan mustahil. Bagaimana mungkin orang Asia seperti saya punya nama yang sederhana? Kerap kali, di Starbucks, pramusaji memastikan ulang nama saya kalau-kalau dia salah dengar. "Rio seperti R-I-O?" tanya mereka beberapa kali. "Ya, Rio yang itu," kata saya.

    Tapi tidak selalu seperti itu kejadiannya. Kadang-kadang ada orang yang ingin memastikan apakah Rio betulan nama saya atau nama panggilan saja. "Oh, bukan. Itu nama resmi dan ada di semua dokumen resmi," ujar saya tegas. Kemudian saya baru menyadari bahwa sebagian di antara mereka sebelumnya tidak tahu bahwa orang Indonesia menggunakan alfabet Latin yang sama seperti di AS dan Eropa. Mereka berpikir Indonesia punya huruf yang berbeda seperti Thailand (อักษรไทย), India (देवनागरी), atau Jepang (ひらがな).

    Paling menarik adalah ketika saya bertemu teman-teman Hispanik. Teman saya dari Kolombia, Emma Pabon, mengatakan saya adalah satu-satunya orang Asia yang namanya bisa diucapkan dengan mudah. Meski nama saya bahasa Portugis dan dia berbahasa Spanyol, keduanya tetap mirip. "Apa kamu dari Brasil?" adalah pertanyaan umum yang sering diajukan. Dan saya akan membalas kira-kira, "saya dari Indonesia sebetulnya, tapi nama saya memang ada hubungannya dengan Brasil."

    Di samping tiga hal itu, mungkin dengan melihat wajah saya, kadang orang menebak-nebak apakah saya datang dari Amerika Selatan dan mencoba memulai percakapan dalam bahasa Spanyol. "Habla Español?" Ini terjadi di minimarket dan pinggir jalan. Saya suka dengan bahasa Spanyol tapi untuk saat ini saya tidak bisa bahasa itu. 

    Saya melihat di Indonesia, "Rio" bukanlah nama selazim "Joko", "Rizky" atau "Dani". Lalu kenapa orangtua saya memberikan nama ini? Sebagai gambaran, saya punya dua latar belakang budaya berbeda. Ayah saya setengah Ambon (campuran Melayu-Papua, kira-kira Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik) dan setengah Sunda (Melayu). Sementara garis ibu saya sepenuhnya Sunda dari Tasikmalaya dan Sumedang. Kenapa mereka tidak memberikan nama Sunda layaknya "Asep" atau "Andri?"

    Jadi campuran seperempat Ambon mungkin berhubungan dengan nama saya. Sebagai catatan, Portugal adalah orang Eropa pertama yang datang ke Ambon pada 1512, sebelum Belanda pada 1605. Ketika zaman perdagangan dan penjajahan, banyak orang Ambon yang kawin campur dengan orang Eropa. Tapi sejarah ini rupanya juga tidak berhubungan dengan nama saya. 

    Jadi "Rio" keluar begitu saja? Tidak. Saya sebetulnya dinamai berdasarkan kota Rio de Janeiro di Brasil. Inspirasinya datang dari ayah saya, seorang dewasa muda pada 80-an, jatuh cinta dengan lagu dari kuintet Jerman, Trio Rio. Single mereka mengenai tiga kota gemerlap "New York, Rio, Tokyo" jadi nomor tiga di tangga lagu Jerman pada 1986 dan akhirnya menjadi kesukaan ayah saya.  

    Ayah saya sangat menyukainya sampai-sampai dia menggunakan "Rio" sebagai nama udara ketika dulu main radio amatir (atau yang lazim disebut nge-break). Ketika inilah, dengan nama "Rio" ayah saya bertemu ibu yang sepakat mewarisi saya nama itu.  

    Itulah sejarah nama saya. Lagu ini punya aspek New York dan Tokyo juga. Saya sudah berkesempatan ke kota New York dua tahun lalu dan lagi dalam waktu dekat selama saya tinggal di AS. Tapi Tokyo? Saya harus beli tiket pesawat ke sana!

    Dan inilah lagunya, selamat berjoget!


  • Why Is My Name "Rio"?

    Why Is My Name "Rio"?





    For those who are curious about my first name.

    Been living in the US for a couple months, I am now able to recognize a part of myself that interests people the most: my name, Rio. This is actually Portuguese for "river" but I don't have Iberian blood in me. I will discuss this at the end of this writing. But first please take a look three main scenarios on how people will react to my name. 

    In most cases, some people think "Rio" is too good to be true. Like, how can an Asian guy like me has such an easy name? Oftentimes, mostly at Starbucks, the cashier will ask once again just to make sure that they are not mistaken. "Rio as R-I-O?" they asked me several times. "Yup. That Rio," I replied.

    But that's not always been the case. Few times some people want to make sure if Rio was my actual name or simply a nickname. So I said firmly,  "Oh, it's my REAL name. It's on all of the paperwork and legal documents." Later I learned, some of them didn't know that Indonesians use the same Latin alphabet like in the US and Europe. They think Indonesia has other writing systems like Thailand (อักษรไทย) or Japan (ひらがな).

    The most interesting part of my name occurred when I meet Hispanic friends. My friend from Colombia, Emma Pabon, said I am the only Asian guy that she can pronounce the name easily. Even though my name is in Portuguese and she speaks Spanish but those are quite similar. Sometimes, people will ask if I am from Brazil. And I will say something like, "I am from Indonesia, actually, but my name has something to do with Brazil."

    In addition to those, probably by looking at my face, sometimes people are guessing if I come from South America and trying to start a conversation with me in Spanish. "Habla Español?" This happened in a convenience store and at the pedestrian walk. I would love to learn Spanish but at this moment I don't speak the language. 

    Rio is not a common name in Indonesia. So why did my parents give me this name? To give you an idea, I have two cultural backgrounds in my root. My father is half Ambonese (Melanesian and Malay mix). While my maternal blood is full Malay. Why didn't my parents give me a local name like "Asep" or maybe "Andri"? 

    So "Rio" is just out of nowhere? Nope. I was actually named after Rio de Janeiro in Brazil. The inspiration was from my father, who was a young adult back in the 80s, falling in love with groove music from a German quintet, Trio Rio. Their single about three vibrant cities "New York, Rio, Tokyo," reached number three in the German chart in 1986 and found a way to my father's favorite list. 

    My father was really hooked to the song he even used "Rio" as a nickname in amateur local radio communications. During this time, my father under "Rio" name met my mother who agreed to pass me that history. 

    That's how I get this name. The song has New York aspect and Tokyo as well. I've had a chance to visit the Big Apple two years ago and again soon during my stay in the US. But Tokyo? I need to book a flight to get there!

    And here's the song, please enjoy!


  • Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

    Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

    Untuk yang penasaran dengan nama saya.




    Singkat kata, "Tuasikal" adalah nama keluarga. Itu merupakan marga dari ayah saya, pemberian kakek yang asli Ambon. Iya, nama ini sama dengan Amri Tuasikal, Anggota DPR yang diberitakan nikah siri dengan penyanyi Cita Citata.

    Saya sudah hapal betul bagaimana teman-teman dan guru saya semasa kecil kesulitan mengucapkannya, kepeleset menjadi Tausikal, atau yang paling parah adalah menjadikannya lelucon "tua bangka" suka-suka mereka.

    Dulu saya bahkan menyembunyikan nama itu. Saya lebih memilih menggunakan nama depan dan tengah saya "Rio Rahadian" lalu menyingkat marga itu jadi "T." saja. Namun, semasa kuliah, ada sesuatu yang menarik saya untuk kembali ke akar Ambon. Maka saya menulisnya lengkap, dan belakangan mengganti nama seluruh media sosial saya justru menjadi "Rio Tuasikal". Bonus: "Rio Tuasikal" hanya ada satu di Google!

    Menyandang nama Tuasikal ini sebetulnya repot juga. Sebab saya harus menjelaskan kompleksitas sejarah kenapa saya punya nama itu. Template-nya adalah itu marga Ambon dari kakek, dia migrasi ke Pulau Jawa; Dia kemudian menikah dengan nenek yang orang Sunda, menghasilkan ayah saya yang berdarah separuh Ambon namun besar di tanah Pasundan; Lalu ayah saya menikah dengan ibu yang orang Tasikmalaya.

    Ambon, Maluku (Google Maps)

    Kemudian muncul masalah baru: menjelaskan identitas saya yang culturally ambigous. Saya lahir di Tasikmalaya, tumbuh dan sekolah di Bandung, bekerja di Jakarta. Namun saya tidak bisa berbicara bahasa Sunda secara lancar, logat Sunda saya nyaris tidak ada, karena di rumah pakai bahasa Indonesia.

    Mengaku Ambon juga tidak bisa. Saya tidak berbudaya atau berbahasa Ambon. Dan dengan melihat fitur wajah Ambon-Sunda saya, tidak ada yang percaya akan itu semua!

    Paling sering adalah saya dikira Kristen karena namanya terdengar "Indonesia Timur". Padahal Tuasikal adalah marga (atau di Ambon dikenal sebagai fam) muslim. 

    Paling sedih adalah kalau ada orang Ambon (yang mengenali saya dari fitur wajah atau nama) bertanya ke saya: "kapan terakhir pulang ke Ambon?". Jawaban saya getir: "belum pernah" lalu saya menjelaskan kisah migrasi kakek saya kembali. 

    Adik Saya ke Tanah Leluhur di Ambon

    Ayah saya lima bersaudara, dan semuanya termasuk sepupu saya (secara tragis namun juga entah untuk apa) belum pernah ke Ambon. Sampai tiba-tiba tahun ini adik saya Riz Tuasikal yang bekuliah di Universitas Gadjah Mada harus KKN, dan dia memilih untuk melakukannya di Ambon, Maluku!

    Saya sedikit banyak merasa penasaran sekaligus bangga. Akhirnya ada juga yang ke tanah leluhur. Seperti apakah rasanya pulang ke kampung kakek? Apakah masih ada saudara jauh yang mengenali adik saya?

    Adik saya sampai di Ambon Juni kemarin dan apa yang terjadi melampaui bayangan saya. 

    "Kakak tahu nggak kalau desa tempat ade KKN ternyata desanya opah (kakek)?" ujarnya saat kami chatting lewat Instagram message, menyebut Desa Oryana.

    "Wah beneran?" saya merasa takjub.

    Jadi ketika sampai Ambon, adik saya menginap di rumah warga yang ternyata marga Tuasikal juga. Saat mengobrol, adik saya menceritakan kisah kakek (seperti template saya di atas) dan terkejutlah dia. Lelaki itu, yang adik saya panggil om Syarif, mengonfirmasi nama kakek "Muhammad Tuasikal toh?"

    Rupanya kampung itu tidak pernah mendengar kabar kakek saya setibanya di Pulau Jawa. Selanjutnya adalah drama. Adik saya menceritakan dua kejadian di mana orang memeluknya sambil menangis. Kemudian muncul kerabat kakek kami yang terkejut dengan kehadiran cucu temannya ini! 

    Adik saya bertemu om Amin, yang ternyata keponakan kakek, dan secara bangga mengenalkan adik saya sebagai "Ini beta punya anak." Bagian terbaiknya adalah adik saya mendapat THR lebaran total Rp 500 ribu dari jajaran om dan kakak sepupu barunya.

    Adik saya (kiri) bersama sepupunya yang hilang. Sebetulnya yang hilang adalah adik saya haha..
    (gambar: IG @rizraharyan)

    Kisah adik saya mengajarkan saya banyak hal. Dulu mungkin saya sungkan menyandang nama ini. Namun setelah semuanya, ada sebagian diri saya yang ingin menelusuri akar Ambon ini --- di samping akar Tasikmalaya-Sumedang dari ibu. Meski saya tidak bisa berbahasa Ambon (dan hanya pernah makan ikan kuah kuning sekali) saya tetap mewarisi darah itu. Terlihat di wajah dan warna kulit saya. Dan saya bangga memilikinya. 
  • Tinggal di Amerika dan Hambatan Budaya

    Tinggal di Amerika dan Hambatan Budaya


    Figure 1: Gedung kongres Amerika Serikat, The Capitol. (Rio Tuasikal)

    Saya adalah penggemar berat mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya (Thanks to bu Iin dosen favorit saya ketika kuliah). Namun, segala pengetahuan itu sepertinya tidak berarti apa-apa ketika saya tinggal di Amerika Serikat. Selalu ada canggung, selalu ada malu, selalu ada salah.

    Saya sudah dua pekan tinggal di College Park, Maryland, sebagai bagian dari program PPIA-VOA Fellowship di Washington D.C. Saya bekerja di VOA Indonesian Service di mana seluruhnya adalah orang Indonesia, dan tinggal di rumah seorang diaspora Indonesia bersama setidaknya 5 orang Indonesia lain.  

    But most of the time I do everything alone: commute, groceries shopping, you name it. So I need to face cultural barrier like every single hour. Contoh paling sederhana adalah sapaan "hi, how you're doing?" yang saya masih menerka-nerka kapan waktu yang cocok menggunakannya kapan tidak, kepada siapa, pada situasi seperti apa.

    Hal yang paling jadi tantangan buat saya adalah aksen. Saya bisa nyaman dengan aksen Amerika pantai timur yang biasa saya tangkap dalam film atau program berita televisi. Ini pun saya belum bisa menangkap seluruh kalimatnya dengan sempurna. Apalagi kalau sudah aksen lain, Southern, Latino, atau South Asian, ya wassalam!

    Dari sejumlah komunikasi yang terjadi antara saya dengan orang-orang tersebut, saya merasa selalu kesulitan. Seringkali saya mengatakan "I'm sorry," berharap mereka bicara pelan-pelan tapi mereka malah membuat kalimatnya lebih detail dan panjang. Saya kemudian melirik sertifikat IELTS saya sambil nangis.

    Kemudian, saya juga harus memikirkan respon yang cocok ketika basa-basi. Kadang ada penjual makanan atau kasir mengajak saya ngobrol. Nah, saya harus mencari yang tepat, apakah "awesome", "cool", "sure thing", "really", "whoa", atau kombinasi semuanya. Selain itu, ada juga soal respon ketika berkenalan, mendengar terimakasih, atau diucapkan selamat datang. Biasanya saya tertawa lembut atau senyum saja. Berdoa semoga konteksnya tepat dan paling saya dianggap pendiam.

    Saya ingat pernah dimarahi oleh penjual sandwich di New York saat berkunjung dua tahun lalu. Saat itu kasirnya salah scan sandwich orang. Saya menjelaskan itu bukan milik saya. Eh mas-nya ngomel-ngomel pake aksen latin. Mau menjelaskan situasinya tapi bahasa Inggris saya kok mampet. Cuma keluar "sorry."

    Kadang saya berpikir, enak banget ya jadi warga Amerika Serikat yang memang lahir berbahasa Inggris. Sementara bagi saya, dan banyak orang lain di seluruh dunia, yang bahasa Inggris adalah bahasa kedua atau ketiga, perlu usaha ekstra agar komunikasi ini tetap lancar dan efektif.

    Saya rasa, banyak di antara orang yang saya temui menganggap saya sudah fasih sempurna sehingga mereka merasa tidak perlu menggunakan kalimat sederhana. Saya sendiri berpendapat komunikasi lintas budaya akan terjadi bila kedua belah pihak bertemu dalam level bahasa yang sama. Dan ketika pihak satu tidak fasih, tidaklah berlebihan jika pihak dua menurunkan kompleksitas leksikal-nya.

    Anyway, ini baru dua pekan di Amerika Serikat dan sejauh ini belum ada masalah komunikasi yang berarti. Yang paling parah cuma terpaksa beli sup di Latino Market karena mbaknya cuma ngomong bahasa Spanyol dan dia salah mengerti tentang pesanan saya. Eh dan saya juga sempat diajak ngobrol sama bapak-bapak pake bahasa Spanyol. (Kata teman saya, saya yang Ambon-Sunda ini mirip orang Meksiko.) #LOH

    No problemo, amigo. Embrace everything!

    Figure 2: Kosan saya di Greenbelt, College Park, Maryland. (Rio Tuasikal)

    Figure 3: Ruang rekreasi dekat kosan. (Rio Tuasikal)

  • Sampai Jumpa Lagi, Jakarta

    Sampai Jumpa Lagi, Jakarta



    Pernahkah kamu pergi ke tempat reguler, namun tiba-tiba merasa intim dan nostaljik? Hari ini aku di posisi itu.

    Aku hanya menyusuri Grand Indonesia dan Pasaraya Manggarai. Keduanya  sudah kukenal seperti teman dekat. Namun hari ini ada sesuatu yang  memintaku tidak beranjak. Merengek agar aku tidak jadi berangkat.

    Dalam beberapa hari ke depan saya akan berangkat ke Amerika Serikat. Saya akan magang bekerja di negara itu selama setahun. Hal besar yang tidak akan saya lewatkan. Saking besarnya sehingga saya masih menganggap ini masih angan-angan.

    Pada kenyataannya, masih banyak barang-barang yang belum saya bereskan. Baik untuk saya kirim ke rumah di Bandung maupun saya berikan kepada kawan. Padahal seminggu harusnya cukup untuk menyelesaikan itu semua.

    Saya bukan malas. Saya hanya ragu. Saya hanya butuh waktu. Setiap bangun, semakin dekat dengan hari keberangkatan, saya berhadapan dengan pertanyaan yang makin besar: akankah saya bertahan tanpa merindukan kota ini?

    Terimakasih Jakarta, atas segala kemacetan dan ganasnya ibukota. Juga untuk segala mimpi, ketidakberhasilan, dan pencapaian yang datang saling melengkapi.

    Cinta terbesar saya adalah untuk seluruh kawan yang mengisi tiga tahun perjalanan saya. Untuk teman, rekan kerja, kenalan, sahabat, juga orang-orang dekat. Terimakasih untuk jadi teman yang baik, mendengarkan, dan mendukung.

    Saya tidak ingin mengucapkan selamat tinggal. Sebab saya selalu akan pulang.

    Manggarai, 7 Mei 2017

  • Day 3: The Power of Dream?

    Day 3: The Power of Dream?

    #7DayWritingChallenge


    It happens all the time: when I strive to have something, I don't get it. Similarly, I get bunch of things when I am simply take it easy.

    I still remember when I ambitiously want to win a news anchor competition at Universitas Indonesia back in 2012. I ended up just being one of the 10 finalists. Contrary, I became the 1st winner of an essay competition at Universitas Pasundan when I just sent my writings and didn't care about it anymore.

    It makes me confused and feel uncertain pretty much about 'the power of dream'. Because many movies, books, and television shows put much emphasize on the power of will. That the universe will conspire in making your dream comes true, as Paulo Coelho said in 'the Alchemist'. Likewise, man jadda wa jadda or who's being determined will be successful, as Ahmad Fuadi said in 'Negeri 5 Menara'.

    The power of support and prayers also affect me the same way. Every time I compete for something, and there are friends and colleagues who wish me luck, I don't get the trophy. But if I silently apply for a competition, I ended up as the best contestant. 

    Same applied when I seeking for job. Three times! Additionally when I apply for journalism awards or exchanges.

    So that's the reason behind my silence all this time. If some friends unintentionally being know about a competition of exchange I join, and asked whether I already applied, I will just answer in general and pretend it to be nothing.

    With all that in mind, I have a distinct opinion on how we should think about our dream. Apply and forget it! Should I write an adversary book to denounce all that motivational theories? 

    - Pacific Place, January 11

    Picture is taken from www.pcwallart.com
  • Day 2: Love Doesn't Work The Way I Thought

    Day 2: Love Doesn't Work The Way I Thought

    #7DayWritingChallenge


    I was talking with my Aussie friend, Nicole, today, when I realized that love doesn't work the way I thought. I used to believed in true love. That one person will find his/her partner to settle down happily ever after. Build a family, grow old together, as seen on Disney movies.

    But love is not that simple. We need to experience a lot of opportunities and rejection. We might find our crush often, but then they don't have mutual feeling as we do. They have a feeling towards someone else, who has a feeling towards someone other else.

    On the other hand, we refuse or at least ignore people who like us, but don't attract us. Even if they already confessed their feeling, he/she is not what we are looking for. Isn't life unfair?

    So we stuck in the circle or condemned cupid arrow. Our feeling is just a one way signal, no feedback received. I've been there so many times before. But I was too focused on how many people that rejected me. And I forget the numbers of people who want me to be theirs.

    We tend to be with someone we like that is one galaxy away, rather than to be with someone who already next to us saying they love us. Probably we think that our admirers will always be there and it is too easy if we want to reach them back. But our lovers are challenging.

    Then here's the question: why don't we just fancy a person who coincidentally fancy us? We just flirt the one who has mutual feeling? We only fall in love once, with the person who is our destiny, til the end of time? Wouldn't it be beautiful, fair, just, and no one's hurted?

    But again, that's not how love works. So how? I don't know yet.

    One thing for sure, it is important to keep everyting in a balanced situation. Either to chase your love or accept your admirer. We may seek something further but keep in mind you have to be grateful for having someone who likes you.

    - Grand Indonesia, January 10

    Picture taken from FWallpapers.com
  • Day 1: Sophisticated New Year's Resolution?

    Day 1: Sophisticated New Year's Resolution?

    #7DayWritingChallenge


    When I visited the gym today, I saw bunch of people are doing workout there (not to mention tens other applying new membership). This gym is not always this bustling. But today was different, we know the booster: not so surprising but undoubtedly, the new year's resolution.

    New year brings new hopes, targets, and resolutions. They embodied our spirit of being a new and better person. Some want to be in shape, get scholarship, settled down, new job, start business, save more money, you name it.

    People then change so sudden out of nowhere. They stop smoking at once, try new strict diet, cut spending, etc. They put obsessive targets that are wonderful to be written, but apparently not applicable and against human adaptation. Consequently, it's not that unusual if most people will easily give up by the end of January, or in some cases in February.

    This over-excited attitude is problematical. We put too much enthusiasm in the beginning and then it wears off. The thing is, people expect to have a drastic and dramatic results, like entire look or improved financial status, in a short period of time.

    But things won't shift in seconds like fairy godmother granted Cinderella. Transformation is thousand miles away. Face it. The only way we achieve that is doing one simple thing at a time, accumulated for certain amount of time. Nothing instant in this world, guys. Even instant noodles still need 3 minutes to be served.

    Writing resolution is not about having big target. So please keep your target low, but motivation high. Don't use your whole power in the beginning. But distribute it evenly for months of resistance and patience. This is how you'll endure constant challenge to come.

    Additionally, keep in mind that you don't need to see the whole journey, just take the first step. If you come up with an idea of doing 100 push ups a day, decrease the number to five push ups only. And so saving to only Rp 5.000 a day, and so learning language to only 5 new words a day.

    Single act will do. Keep it day by day. Appreciate your small daily success. Those 5 push ups now gradually becomes 10, 20, and 50. Your savings reached 1 million, and your new language reached a whole new lexical level. And after consistent small change you eventually realized that you've traveled that far.

    Enjoy your adventure. Embrace the new you. Happy new year!

    - St. Moritz, January 9
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13