Posts

Showing posts from 2017

Banyak Orang Mengira Saya Merayakan Natal

Image
Sebetulnya tidak apa-apa juga orang-orang mengucapkan selamat Natal kepada saya, meski saya tidak merayakannya. Saya tidak tersinggung atau apa. Hanya saja ini terjadi setiap tahun dan menarik untuk diceritakan.

Natal tahun ini, ada sejumlah teman yang mengucapkan lewat Facebook dan Whatsapp. Lalu di kantor VOA, seorang kolega memberi saya ucapan Natal. Saya terima dengan senyum, "Terimakasih, pak, tapi saya tidak merayakan Natal." Lalu dia mengernyitkan dahi dan bertanya apakah saya seorang muslim.

Ini terjadi sepanjang sejarah hidup saya. Sejak kecil. Orang seringkali menduga, mengira, menebak-nebak saya sebagai pemeluk Kristen dan saya merayakan Natal. Saya sebetulnya tidak pernah menyadari betapa banyak orang yang berpikiran demikian sampai terjadi peristiwa berikut.

Dalam suatu kemah lintas-iman di Bandung, teman saya Risdo Simangunsong, bertanya "kamu pernah di persekutuan mana?" Lalu saya melongok. "Hah?" Karena pada saat itu saya belum mengerti b…

Kenapa Nama Saya "Rio"? (Versi Bahasa Indonesia)

Image
Click here for English version.

Untuk yang penasaran dengan nama depan saya.
Tinggal selama beberapa bulan di Amerika Serikat membuat saya menyadari bagian dari diri saya yang menarik bagi banyak orang: nama saya, Rio. Ini bahasa Portugal yang artinya "sungai" tapi saya tidak punya darah Iberia (setidaknya sepengetahuan saya karena saya belum mengambil tes DNA leluhur). Saya akan membahasnya di bagian akhir. Tapi sekarang saya akan menceritakan 3 skenario utama bagaimana orang-orang menanggapi nama saya.
Paling sering, orang menganggap "Rio" terlalu mudah dan mustahil. Bagaimana mungkin orang Asia seperti saya punya nama yang sederhana? Kerap kali, di Starbucks, pramusaji memastikan ulang nama saya kalau-kalau dia salah dengar. "Rio seperti R-I-O?" tanya mereka beberapa kali. "Ya, Rio yang itu," kata saya.
Tapi tidak selalu seperti itu kejadiannya. Kadang-kadang ada orang yang ingin memastikan apakah Rio betulan nama saya atau nama panggilan saj…

Why Is My Name "Rio"?

Image
Klik untuk versi bahasa Indonesia.



For those who curious about my first name.
Been living in the US for couple months, I am now able to recognize the part of myself that interest people the most: my name, Rio. This actually Portuguese for "river" but I don't have Iberian blood in me (at least to my knowledge since I haven't taken an ancestry test yet). I will discuss this at the end of this writing. But first please take a look three main scenarios on how people will react to my name. 
In most cases, some people think "Rio" is too good to be true. Like, how can Asian guy like me has such an easy name? Oftentimes, mostly at Starbucks, the cafe register will ask once again my name just to make sure that they are not mistaken. "Rio as R-I-O?" they asked me several times. "Yup. That Rio," I replied.
But that's not always been the case. Few times some people want to make sure if Rio is my actual name or simply a nickname. "Oh no, it&…

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Image
Untuk yang penasaran dengan nama saya.




Singkat kata, "Tuasikal" adalah nama keluarga. Itu merupakan marga dari ayah saya, pemberian kakek yang asli Ambon. Iya, nama ini sama dengan Amri Tuasikal, Anggota DPR yang diberitakan nikah siri dengan penyanyi Cita Citata.

Saya sudah hapal betul bagaimana teman-teman dan guru saya semasa kecil kesulitan mengucapkannya, kepeleset menjadi Tausikal, atau yang paling parah adalah menjadikannya lelucon "tua bangka" suka-suka mereka.
Dulu saya bahkan menyembunyikan nama itu. Saya lebih memilih menggunakan nama depan dan tengah saya "Rio Rahadian" lalu menyingkat marga itu jadi "T." saja. Namun, semasa kuliah, ada sesuatu yang menarik saya untuk kembali ke akar Ambon. Maka saya menulisnya lengkap, dan belakangan mengganti nama seluruh media sosial saya justru menjadi "Rio Tuasikal". Bonus: "Rio Tuasikal" hanya ada satu di Google!

Menyandang nama Tuasikal ini sebetulnya repot juga. Sebab saya…

Tinggal di Amerika dan Hambatan Budaya

Image
Saya adalah penggemar berat mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya (Thanks to bu Iin dosen favorit saya ketika kuliah). Namun, segala pengetahuan itu sepertinya tidak berarti apa-apa ketika saya tinggal di Amerika Serikat. Selalu ada canggung, selalu ada malu, selalu ada salah.

Saya sudah dua pekan tinggal di College Park, Maryland, sebagai bagian dari program PPIA-VOA Fellowship di Washington D.C. Saya bekerja di VOA Indonesian Service di mana seluruhnya adalah orang Indonesia, dan tinggal di rumah seorang diaspora Indonesia bersama setidaknya 5 orang Indonesia lain.

But most of the time I do everything alone: commute, groceries shopping, you name it. So I need to face cultural barrier like every single hour. Contoh paling sederhana adalah sapaan "hi, how you're doing?" yang saya masih menerka-nerka kapan waktu yang cocok menggunakannya kapan tidak, kepada siapa, pada situasi seperti apa.

Hal yang paling jadi tantangan buat saya adalah aksen. Saya bisa nyaman dengan akse…

Sampai Jumpa Lagi, Jakarta

Image
Pernahkah kamu pergi ke tempat reguler, namun tiba-tiba merasa intim dan nostaljik? Hari ini aku di posisi itu.

Aku hanya menyusuri Grand Indonesia dan Pasaraya Manggarai. Keduanya  sudah kukenal seperti teman dekat. Namun hari ini ada sesuatu yang  memintaku tidak beranjak. Merengek agar aku tidak jadi berangkat.

Dalam beberapa hari ke depan saya akan berangkat ke Amerika Serikat. Saya akan magang bekerja di negara itu selama setahun. Hal besar yang tidak akan saya lewatkan. Saking besarnya sehingga saya masih menganggap ini masih angan-angan.

Pada kenyataannya, masih banyak barang-barang yang belum saya bereskan. Baik untuk saya kirim ke rumah di Bandung maupun saya berikan kepada kawan. Padahal seminggu harusnya cukup untuk menyelesaikan itu semua.

Saya bukan malas. Saya hanya ragu. Saya hanya butuh waktu. Setiap bangun, semakin dekat dengan hari keberangkatan, saya berhadapan dengan pertanyaan yang makin besar: akankah saya bertahan tanpa merindukan kota ini?

Terimakasih Jakarta,…

Day 3: The Power of Dream?

Image
#7DayWritingChallenge

It happens all the time: when I strive to have something, I don't get it. Similarly, I get bunch of things when I am simply take it easy.

I still remember when I ambitiously want to win a news anchor competition at Universitas Indonesia back in 2012. I ended up just being one of the 10 finalists. Contrary, I became the 1st winner of an essay competition at Universitas Pasundan when I just sent my writings and didn't care about it anymore.
It makes me confused and feel uncertain pretty much about 'the power of dream'. Because many movies, books, and television shows put much emphasize on the power of will. That the universe will conspire in making your dream comes true, as Paulo Coelho said in 'the Alchemist'. Likewise, man jadda wa jadda or who's being determined will be successful, as Ahmad Fuadi said in 'Negeri 5 Menara'.

The power of support and prayers also affect me the same way. Every time I compete for something, and …

Day 2: Love Doesn't Work The Way I Thought

Image
#7DayWritingChallenge

I was talking with my Aussie friend, Nicole, today, when I realized that love doesn't work the way I thought. I used to believed in true love. That one person will find his/her partner to settle down happily ever after. Build a family, grow old together, as seen on Disney movies.

But love is not that simple. We need to experience a lot of opportunities and rejection. We might find our crush often, but then they don't have mutual feeling as we do. They have a feeling towards someone else, who has a feeling towards someone other else.

On the other hand, we refuse or at least ignore people who like us, but don't attract us. Even if they already confessed their feeling, he/she is not what we are looking for. Isn't life unfair?

So we stuck in the circle or condemned cupid arrow. Our feeling is just a one way signal, no feedback received. I've been there so many times before. But I was too focused on how many people that rejected me. And I forget t…

Day 1: Sophisticated New Year's Resolution?

Image
#7DayWritingChallenge

When I visited the gym today, I saw bunch of people are doing workout there (not to mention tens other applying new membership). This gym is not always this bustling. But today was different, we know the booster: not so surprising but undoubtedly, the new year's resolution.

New year brings new hopes, targets, and resolutions. They embodied our spirit of being a new and better person. Some want to be in shape, get scholarship, settled down, new job, start business, save more money, you name it.

People then change so sudden out of nowhere. They stop smoking at once, try new strict diet, cut spending, etc. They put obsessive targets that are wonderful to be written, but apparently not applicable and against human adaptation. Consequently, it's not that unusual if most people will easily give up by the end of January, or in some cases in February.

This over-excited attitude is problematical. We put too much enthusiasm in the beginning and th…