Posts

Showing posts from 2012

Beda Kendaraan Beda Obroan

Image
Saat bepergian, kita menggunakan berbagai moda guna sampai ke tujuan. Naik kereta, lalu bus, disambung naik becak. Akibat budaya Indonesia yang gemar basa-basi ramah, tiap moda menawarkan percakapan. Sadar atau tidak, tiap moda itu punya cerita dan gayanya masing-masing.

Bila Anda memilih kereta, pesawat atau perahu, Anda akan menyapa penumpang sebelah. Biasanya kalian saling tanya asal dan tujuan. Bila perjalanan lebih dari empat jam, bisa jadi ia bertanya lebih jauh soal akan apa di tujuan dan berapa lama di sana. Bisa pula ia tawarkan makanan sambil berbagi humor. Kadang ada penumpang yang mengajak ngobrol kru. Bila bertemu orang dari daerah sama, atau pernah Anda tinggali, Anda akan membangun obrolan syarat nostalgia.

Hal yang sama terjadi di bus antarkota. Bedanya, di sini kondektur atau pengamen pun bisa ikut serta merumpi. Kalian bisa bertukar pengalaman. Bila itu bis dalam kota, hal-hal barusan lebih kecil mungkin terjadi. Di situ tak banyak basa-basi.

Turun dari kereta at…

Hansamo Kolaborasikan Korea dan Sunda

Image

Budaya Travel

Image
Oleh Rio Rahadian

Cobalah pergi ke pantai Pangandaran, Jawa Barat. Seringkali kita bertemu turis asing yang berjalan-jalan. Mereka berbekal peta, menjinjing botol minum, dan menggendong ransel. Sering kita lihat bule pergi sendirian, berdua, paling banyak bertiga. Mereka berkeliling pantai cukup bertiga saja. Kalau pun ramai-ramai, biasanya karena ada pemandu wisata.
Di sudut lain, masih di pantai yang sama, kita bisa menemukan turis lokal. Pakaian memang sama saja. Bedanya, turis lokal lebih sering berkelompok. Jumlahnya paling sedikit lima, bahkan bisa mencapai belasan. Biasanya mereka adalah kawanan dalam rangka touring mengisi liburan. Ada pula yang rombongan study tour dari sekolah. Tak jarang mereka berfoto bersama di pinggir pantai.

Kebiasaan ini rupanya memang cerminan budaya. Bagi turis asing dari budaya individualis, bepergian cukup sedikit orang. Budaya individualis misalnya Amerika utara, Australia dan negara Eropa barat. Sebaliknya bagi turis lokal dari budaya kolektivis,…

#BDGLautanDamai* :
Belajar Toleransi Dari Interaksi

Image
Sahabat-sahabatku yang baik hati, izinkan saya cerita di sini.

Satu Minggu pagi saya berjalan-jalan sendiri. Melewati SD Banjarsari memang iseng sekali. Tiba-tiba satu benda amat menarik hati. Dari luar pagar saya pandangi, malah saya yang jadi malu sendiri. Benar-benar malu tanpa henti. Membuat saya merasa tidak tahu diri.
Benda itu sebenarnya sederhana sekali. Terpasang di salah satu sisi, bentuknya burung gagah berdiri. Itulah lambang Garuda Pancasila yang sakti. Yang mencengkram semboyan Bhinneka Tunggal Ika di kaki.

Dulu sekali, setidaknya ketika saya diajari, semboyan itu begitu dipuji. Kalimat itu, katanya, telah menyatukan seantero negeri. Dari Merauke di kanan hingga Sabang di kiri. Namun kini kusadari. Semboyan itu kini tak lagi sakti.

Mengapa saya berani bilang begini? Tak perlu sulit mencari. Mata kita sebetulnya sudah disuguhkan berbagai bukti. Lihatlah di televisi. Berbagai konflik marak di sana sini. Ada antara suku itu dan ini, ada pula perusakan Gereja GKI, bahkan…

Kanti Walujo :
Masyarakat Tak Hargai Seni Wayang

Image
Kesenian wayang tak asing bagi masyarakat Indonesia. Dalam wayang terkandung filosofi yang tinggi. Saling menghargai, jujur, adil, tanggung jawab, dan loyal kepada negara, adalah nilai universal yang diusung wayang.
Kini masyarakat Indonesia terkesan melupakan keberadaan wayang. Banyak anak muda yang tidak paham tentang wayang itu sendiri. Bahkan separuh dari 40 jenis wayang yang berasal dari Pulau Jawa sudah punah. Hal ini menjadi fakta ironis mengingat wayang Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai kebudayaan yang mengagumkan pada 7 November 2003.

“Karena kita tidak menghargai, bahkan banyak anak muda yang tidak mengerti wayang itu apa.” ucap doktor komunikasi Unpad Kanti Walujo saat ditanya mengenai penyebab punahnya beberapa jenis wayang. Baginya, saat ditemui di Hotel Jayakarta Bandung, Jumat (12/11) sore, kepedulian masyarakat Indonesia pada wayang harus ditingkatkan.

Perkenalan Kanti dengan wayang tidaklah biasa. Dia mengenal wayang pertama malah di Amerika. Kanti bercerita, “Saat …

Kenapa Budaya Tradisi Harus Lestari?

Image
Oleh : Rio Rahadian Tuasikal “Harusnya ada tembikar, nanti diisi air dan bunga,” jelas Ahmad, sebut saja demikian, dari komunitas Pijar .

“Memang itu artinya apa?” tanya Keket, pemandu acara, yang makin penasaran.

“Tembikar itu kan dari tanah, lalu ada air, jadi artinya tanah air. Kalau bunga berarti harum. Jadi, tanah air kita harus harum namanya, artinya kita harus menjaga nama baik tanah air kita.”

“Wah, ternyata ada banyak filosofi yang terkandung ya, Kang?”

Ahmad tersenyum mantap, menyetujui pernyataan Keket.

Tepuk tangan pengunjung lantas riuh menyambut penjelasan itu.
Demikian cakap-cakap yang sempat saya dengar dalam gelaran HelarFest di bilangan Tamansari, Bandung, Kamis (20/9) lalu. Saat itu Keket sedang mewawancarai satu anggota Pijar, Komunitas Menempa Bandung, yang turut hadir dan sedang unjuk kebolehan membuat kujang. Di sela-sela proses tempa itu, Ahmad menjelaskan perlengkapannya, salah satunya tembikar. Tembikar mewadahi air yang nantinya disiram untuk mendinginkan…

Termakan Pecel Beringharjo

Image
Bila Anda sedang menelusuri kawasan Malioboro, Yogyakata, lalu lapar, cobalah membeli nasi pecel. Ada enam penjual nasi pecel di depan pintu Pasar Beringharjo, tepat di ujung selatan Malioboro. Semua penjualnya ibu-ibu. Di tempat itu, Anda akan menikmatinya di trotoar, tempat orang lalu-lalang.
Satu porsi nasi pecel diisi tiga komponen utama yakni nasi, sayuran rebus dan bumbu pecel. Biasanya nasi tak begitu banyak, hanya sebesar satu kepal tangan. Sayurannya sama banyaknya. Jenisnya amat beragam, ada kangkung, bayam dan kacang panjang. Bagi Anda pemuja pedas, penjual biasanya sediakan sambal berlimpah. Di samping nasi pecel, penjual aneka minuman pun siaga memuaskan dahaga Anda.

Dari suap pertama, bumbu pecelnya terasa sangat gurih dan kaya. Gurih kacang langsung tersebar ke penjuru mulut. Seperti mengunyah segenggam kacang sekaligus. Kacangnya ditumbuk sangat halus hingga tak ada serpihnya. Warna bumbunya cokelat kemerahan dengan kekentalan yang mirip susu kental manis. Memudahkan…

Buku :
Travel Writer

Image
"Travel Writer"

Oleh Yudasmoro Minasiani

Penerbit Metagraf

Cetakan Pertama, 2012
Profesi penulis perjalanan kini mulai digandrungi anak muda. Ada yang profesional, ada yang sekadar melampiaskan hobi. Apapun tujuannya, menulis catatan perjalanan harus dibekali kemampuan jurnalistik yang mumpuni.
Berbeda dengan tips menulis perjalanan yang selama ini ada. Yudasmoro menempatkan penulis perjalanan di rel jurnalistik. Artinya, kata Yudasmoro, penulis perjalanan tetaplah wartawan yang harus mampu melakukan wawancara dan menulis apik. Penulis perjalanan bukan sekadar yang senang bepergian atau gemar bertualang.

Buku ini dibagi menjadi 9 bab. Buku dimulai dengan berbagai keuntungan penulis perjalanan juga motivasi untuk memulai. Hal itu dilanjutkan dengan perkenalan konsep dan tips praktis jurnalistik, fotografi, juga bepergian.

Masuk di bagian tengah, pembaca akan dijamu oleh berbagai petunjuk teknis mengenai penulisan perjalanan. Petunjuk ini tidak berkutat soal teori, tapi dari p…

Diulem Abdi Dalem

Image
Nilai-nilai keraton hadir dalam bentuk manusia, makan ubi bersama

Keringat saya meluncur dari dahi. Saat itu hampir tengah hari dan rombongan turis baru saja lewat Plataran Kedaton, Keraton Yogyakarta. Kerumunan berpakaian kaus itu bertolak belakang dengan para abdi dalem yang berpakaian formal. Para abdi memakai kemeja lurik biru tua lengkap dengan blangkonnya. 
"Mas yang dari Bandung, ya?,” panggil salah satu abdi dalem yang sendirian lewat depan saya. Saya tadi melihatnya sebagai penjaga tiket di depan. Ia lalu duduk bersila di teduhan pohon, menepuk pasir di sebelah kakinya, memberi tanda bagi saya untuk ikut serta.

Saat saya menghampiri, ia bertanya banyak hal. Ia bertanya pekerjaan saya, tujuan saya ke keraton dan apakah saya sendirian atau tidak. Jawaban apa pun yang saya berikan dia tak menilainya, dia hanya akan tersenyum simpul dan bertanya lagi. Kami lalu berfoto atas permintaan dia.

“Bapak mau ubi? Ini saya beli di titik nol kilometer,” tanya saya sambil membuka keresek…

Bhineka ala Gus Dur

Image
Bayangkan Gus Dur berkelakar ini di gereja: "Satu kali ada kyai berdoa. 'Ya Allah, tolong saya, anak saya lima tapi dua masuk Kristen,' curhatnya. Tak lama Tuhan menjawab, 'Anakmu itu lima, cuma dua yang Kristen. Lah anakku cuma satu, masuk Kristen pula'"
Mendengar itu, seluruh peserta Diversity Youth Camp, Minggu, (28/10) sore, di Maha Vihara Mojopahit, Mojokerto, lantas tertawa bersama. Pelatihan itu membahas kebhinekaan. Pesertanya ada 45 orang dari berbagai agama, suku dan orientasi seks.
Cerita di atas diungkap oleh Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur dalam sesinya di pelatihan itu. Nay Wahid, biasa ia disapa, memastikan tak ada yang tersinggung dengan bertanya, "ada yang marah nggak?". Peserta Kristen kompak menggeleng.
Begitulah Gus Dur, kata Nay. Ia tak hanya menoleransi keragaman, tapi malah merayakannya. Bagaimana merayakan perbedaan adalah dengan lelucon rasis, dan semuanya tertawa bersama. Gus Dur pun punya lelucon soal Kuli dan Kyai, at…

Teruntuk Indonesia yang Belum Siap Beragam

Image
Sahabatku yang baik,

Bila kau kebetulan lewat sekolah dasar, lalu melihat tulisan “Bhineka Tunggal Ika”, copotlah lambang itu. Kau tahu, untuk apa lambang itu lagi hadir di sekolah kita. Semboyan itu kini jadi sekadar kata-kata.

Sahabatku yang mungkin kaget,

Mungkin permintaanku tadi terlalu kasar. Namun tanyakan pada dirimu sendiri, adakah yang masih berfungsi dari lambang itu? Tak perlu sulit mencari, lihat saja televisi. Berita-beritanya telah menjawab. Tengoklah konflik Syiah di Sampang, kerusuhan etnis Madura di Kalimantan dan perusakan gereja GKI di Bogor. Bukankah memang ada yang salah?

Ada yang salah, tentu. Ingat-ingatlah saat dulu. Meski lambang tadi dipasang di ruang kelas, tepat di bawahnya guru tetap mengajarkan tentang kebaikan suku mereka, juga kejelekan suku lain. Meski lambang tadi dipasang di masjid atau gereja, di dalamnya tetaplah khutbah yang menyatakan bahwa hanya agama sendirilah yang masuk surga. Sadar tak sadar, suka tak suka, ajaran mereka telah membentuk ki…

#DiversityYouthCamp: Bukti Soal Perbedaan

Image
Hai apa kabar?
Pernah dengar yang satu ini?

“Sunda itu plin plan, Madura itu arogan”
“Islam itu teroris, homoseksual itu sadis.”
“Cina tukang tipu, Jawa tukang ngadu”

Kalimat semacam itu terlalu sering terdengar di telinga kita. Ya, itulah stereotip. Ketika kita menilai orang berdasarkan identitas sosialnya. Kita mendengarnya di pasar, di rumah, bahkan di sekolah dan kampus, di mana pun.

Sahabatku yang baik,

Sejak kita lahir, kita dicekoki berbagai label soal orang dari budaya lain. Jangan berteman dengan orang Kristen, jangan berteman sama lesbian, apalagi Kristen yang lesbian. Melalui nasihat-nasihatnya, orang tua kita, guru-guru kita, teman main kita, bahkan pemuka agama kita, secara tak sadar telah membuat kita makin intoleran.

Hingga usia dua puluh tahun kini, nasihat sejenis masih saya terima. Selama itu pula, saya melihat berbagai efek besar yang mereka timbulkan. Teror terhadap Syiah di Sampang, perusakan gereja GKI di Bogor, warga Madura di Kalimantan yang bersitegang den…

Mengapik Ruang Publik

Image