Diulem Abdi Dalem

Nilai-nilai keraton hadir dalam bentuk manusia, makan ubi bersama

Keringat saya meluncur dari dahi. Saat itu hampir tengah hari dan rombongan turis baru saja lewat Plataran Kedaton, Keraton Yogyakarta. Kerumunan berpakaian kaus itu bertolak belakang dengan para abdi dalem yang berpakaian formal. Para abdi memakai kemeja lurik biru tua lengkap dengan blangkonnya. 

"Mas yang dari Bandung, ya?,” panggil salah satu abdi dalem yang sendirian lewat depan saya. Saya tadi melihatnya sebagai penjaga tiket di depan. Ia lalu duduk bersila di teduhan pohon, menepuk pasir di sebelah kakinya, memberi tanda bagi saya untuk ikut serta.

Saat saya menghampiri, ia bertanya banyak hal. Ia bertanya pekerjaan saya, tujuan saya ke keraton dan apakah saya sendirian atau tidak. Jawaban apa pun yang saya berikan dia tak menilainya, dia hanya akan tersenyum simpul dan bertanya lagi. Kami lalu berfoto atas permintaan dia.

“Bapak mau ubi? Ini saya beli di titik nol kilometer,” tanya saya sambil membuka keresek yang dari tadi saya bawa sekenanya. Dia tidak menjawab, tapi bangkit berdiri. Dia mengajak saya bangkit dan mengikutinya. 

Saat kami sampai di toko suvenir di sebelah timurnya, ia menunjukkan saya foto-foto dari Sri Sultan. “Ini waktu kemarin dilantik jadi gubernur,” katanya. “Cuma dia yang dilantik sama presiden lho,” tuturnya bangga. Ia pun memperlihatkan yang lainnya, ada yang beserta Gusti Kanjeng Ratu Hemas, ada anaknya, ada saat sendiri dengan pakaian tradisional, dan lainnya.

Puas menjelaskan, ia mengajak saya ke utara, lalu memutar lagi ke barat, dekat pertemuan kami semula. Dia tak bilang mau ke mana, tapi saat ia menunjuk satu rumah di balik bangsal Trajumas, dia tersenyum. “Kalau mau makan di sini saja, enak toh?,” tanyanya sambil terus berjalan. Tanpa perlu bicara, ia telah mengundang saya ke kediaman abdi dalem. Saat kami lewat, ada angin menjatuhkan mangga dari pohonnya, dia sempatkan mengambil itu. 
Kami duduk ditemani alunan gamelan dari bangsal Srimenganti, tak jauh dari situ. Temannya sesama abdi dalem lewat dan menyapa. Dia lalu mengambil pisau dari lemari di depan rumah itu dan memetik satu lembar daun jati. “Sini mas, ubinya kita kupas biar enak,” ujarnya sambil memotong ubi yang dia pilih. “Monggo,” ia menyilakan mangga yang dia ambil untuk dimakan.

Di antara ubi dan mangga, dia mengajak berbincang lagi. Dari percakapan saya tahu dia sudah 28 tahun mengabdi pada Sri Sultan. Dia juga amat semangat saat bercerita soal tugasnya saat Gunungan dua hari sebelumnya.


Selanjutnya, dia bercerita soal tembang jawa semisal pangkur dan asmarandana. “Pungkur itu tentang menuntut ilmu,” jelasnya usai melagukannya langsung. Dia lalu mendaftar tembang lainnya seperti kinanti, wirangrong, pucung dan dangdanggula. Dia juga sempat menyindir percintaan masa kini melalui tembang asmarandana. Menurutnya, percintaan masa kini terlalu bicara harta.

Tak hanya soal lagu, dia pun mengajari saya berbahasa Jawa. “Ada kromo inggil dan ngoko,” katanya “kromo inggil itu ‘kados pundi kabaripun?’ kalau ngoko itu ‘piye kabare?’,” jelasnya. Sebelumnya ia pun membuka-buka buku pedoman Keraton yang saya beli lalu menjelaskan peta dari tugu, Malioboro dan Keraton yang mengambil garis lurus. Dia pun menjelaskan lambang keraton, katanya itu adalah tulisan ‘HB’ untuk Hamengku Buwono dalam aksara Jawa. 


Perbincangan kami berlanjut dengan komposisi sebagai berikut, makan ubi, mengambil mangga yang jatuh lagi, mengupas mangga, mengobrol dan tertawa. Semuanya selesai saat gamelan terhenti. Kata dia, pertunjukan di bangsal Srimenganti memang sampai tengah hari. Setiap harinya pertunjukan berbeda. Bila Selasa ada gamelan, Rabu ada wayang, hari lainnya ada tembang jawi.

Perbincangan kami vakum, tanda kami sudah selesai. “Mas punya nomor telepon?” tanyanya pelan sambil mengeluarkan ponsel dari dalam bajunya. Siapa sangka abdi dalem punya ponsel. Saya berikan yang saya dan sebaliknya. “Nama bapak siapa?,” tanya saya. “Saya Wagito,” katanya “abdi dalem” ujarnya sambil mengulurkan tangan. Tangan kanan saya menyambutnya. Sementara tangan kiri saya membawa mangga yang dibungkuskan dia untuk saya bawa. []

Comments

Popular Posts