Kenapa Budaya Tradisi Harus Lestari?

Oleh : Rio Rahadian Tuasikal
Seni kuda lumping di Braga Festival akhir September lalu. Kegiatan ini merupakan wujud pelestarian budaya
“Harusnya ada tembikar, nanti diisi air dan bunga,” jelas Ahmad, sebut saja demikian, dari komunitas Pijar .

“Memang itu artinya apa?” tanya Keket, pemandu acara, yang makin penasaran.

“Tembikar itu kan dari tanah, lalu ada air, jadi artinya tanah air. Kalau bunga berarti harum. Jadi, tanah air kita harus harum namanya, artinya kita harus menjaga nama baik tanah air kita.”

“Wah, ternyata ada banyak filosofi yang terkandung ya, Kang?”

Ahmad tersenyum mantap, menyetujui pernyataan Keket.

Tepuk tangan pengunjung lantas riuh menyambut penjelasan itu.

Demikian cakap-cakap yang sempat saya dengar dalam gelaran HelarFest di bilangan Tamansari, Bandung, Kamis (20/9) lalu. Saat itu Keket sedang mewawancarai satu anggota Pijar, Komunitas Menempa Bandung, yang turut hadir dan sedang unjuk kebolehan membuat kujang. Di sela-sela proses tempa itu, Ahmad menjelaskan perlengkapannya, salah satunya tembikar. Tembikar mewadahi air yang nantinya disiram untuk mendinginkan besi panas menyala.

Arti Budaya Tradisi

Setiap produk budaya memang tidak dibuat sembarangan. Di balik penemuannya, produk budaya selalu punya tujuan. Tujuan kujang misalnya, adalah fungsional sebagai senjata. Tapi kujang bukan sekadar senjata, ada pula nilai yang terselip di tiap detailnya.

Seperti kujang, cerita rakyat misalnya Bawang Merah Bawang Putih, Si Kancil dan Pangeran Palasari juga menyimpan banyak nilai. “Kita menyampaikan cerita-cerita itu, terutama pada anak anak, untuk mencontohkan atau mengajarkan nilai-nilai,” kata Carol Ember dalam bukunya.[1]

Contoh lain adalah batik yang juga menampung nilai. “Batik dari Yogyakarta dan Solo punya beberapa filosofi dan makna yang diimbuhkan di motifnya. Misalnya saja motif parang rusak... Nama parang rusak berarti “perang melawan kebiasaan buruk”. Motif ini berisi uceng atau ornamen nyala api yang menyimbolkan kemarahan, dan mlinjon atau blumbangan sebagai simbol nafsu”.[2]

Nilai-nilai itu dimasukkan karena nenek moyang kita ingin berpesan pada kita banyak hal. Dalam hal batik parang rusak, Sultan Agung Hanyakrakusuma, pembuatnya, ingin berpesan pada penerusnya untuk melawan kebiasaan buruk. Bisa dikatakan, menurutnya, kebiasaan buruk tidak baik bagi kelangsungan hidup kita.

Nenek moyang atau pendahulu kita telah mengalami banyak hal di zamannya, dan melalui nilai-nilai yang diwariskan, ia berharap penerusnya bisa hidup lebih mudah bila menghadapi permasalahan serupa. Lebih lengkapnya, “Nilai,” sebut Deddy Mulyana dalam bukunya, “memberitahu anggota budayanya apa yang baik atau buruk, benar atau salah, apa yang kita perjuangkan, serta apa yang kita takutkan, dan lainnya”.[3] Singkatnya nilai adalah semacam petunjuk cara hidup.

Produk kuliner pun mewakili nilai-nilai. Proses pembuatan rendang yang delapan jam misalnya, menanamkan pentingnya kesabaran. “Di Belanda,” tulis Pakar kuliner William Wongso dalam artikelnya, “tidak ada orang yang mau menghabiskan waktu delapan jam membuat rendang... Seiring dengan pergeseran rasa, ada nilai-nilai yang luntur juga”.[4]

Nilai-nilai, atau masyarakat kita suka menyebutnya dengan “filosofi yang terkandung”, adalah hal yang abstrak. Oleh karena itu, moyang kita perlu menyampaikannya melalui sarana. Sarana penampung nilai itu yakni produk budaya, baik berbentuk gagasan, kebiasaan juga artefak. Semuanya adalah budaya tradisi. Bila tradisinya hilang, nilai akan menguap juga. “Itu,” kata Ahmad lagi, “adalah bahasa simbol”. Itulah kenapa produk budaya seperti kujang, cerita rakyat, batik dan rendang harus dilestarikan.

Hal Terbaik yang Bangsa Ini Bisa Dapatkan

Bila nilai-nilai tadi kita temukan, lalu kita terapkan, tentu hidup kita akan lebih mudah. Sayangnya, karena bentuknya yang abstrak, nilai-nilai kerap tidak terlihat. Pada akhirnya, usaha untuk melestarikan budaya tradisi selintas tidak memiliki keuntungan bagi masyarakat masa kini. Sebenarnya tidak demikian, karena budaya tradisi juga bisa ditempatkan di hal lain, yakni pariwisata.

Bila sudah ditempatkan di sudut pandang pariwisata, budaya tradisi dapat memberi fungsi ekonomi bagi yang melestarikannya. Sebut saja pelaku seni di Saung Angklung Udjo yang kerap dikunjungi wisatawan lokal juga mancanegara. Setiap harinya, mereka mendulang keuntungan jutaan rupiah, selain itu mereka pun sudah melestarikan seni angklung.

“Budaya adalah bagian dari pariwisata,” tulis Yudasmoro Minasiani, penulis untuk majalah Garuda Inflight dalam bukunya. Maka bagi Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau dengan kebudayaan yang beragam pula, kita memiliki aset pariwisata budaya yang tak terhitung jumlahnya. “Bayangkan,” lanjut Yudasmoro lagi, “sejumlah penulis asing rela melintasi ribuan kilometer demi menulis tentang budaya daerah-daerah di Indonesia”.[5]

Pendapat Yudasmoro di atas bukan tanpa alasan, data dari Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif menyebutkan, angka pelancong mancanegara pada 2011 mencapai lebih dari 7,6 juta orang dengan jumlah transaksi mencapai 158 triliun. Angka tersebut mengisi 5 persen dari APBN Indonesia.[6] Itulah hal terbaik yang bisa bangsa ini dapatkan melalui pelestarian budaya tradisi, selain tentunya menjamin nilai-nilai sampai pada generasi penerus.

Selain sebagai objek pariwisata, produk budaya tradisi pun memberi kontribusi langsung bagi masyarakat sehari-hari. Orang-orang di Kampung Budaya Sindangbarang di Bogor, pembuat papeda di Ambon, koki rendang di Padang, pedagang rujak kuah pindang di Bali, perajin batik di Lasem, dalang wayang kulit di televisi, bahkan pemain suling di perempatan adalah contoh mikro mencari keuntungan langsung dari pelestarian budaya. Meski demikian, memang tak bisa dipungkiri ada pula pelaku budaya yang semata mencari keuntungan darinya, tidak sekaligus ingin melestarikannya.

Jutaan orang di Indonesia mendapatkan penghasilan setiap hari dari produk-produk budaya, maka bila tradisi-tradisi tadi sirna, jutaan orang pula yang akan kehilangan pekerjaan. Fungsi penopang ekonomi yang signifikan itulah yang bisa didapatkan bangsa Indonesia melalui pelestarian budaya.

Rekonsiliasi Budaya Tradisi dan Kehidupan Modern Plato pernah bilang, “nilai-nilai baik tak pernah ketinggalan zaman”. Tentu termasuk nilai-nilai luhur dari budaya Indonesia. Nilai-nilai ke-Indonesia-an seperti gotong-royong, musyawarah, dan kebersamaan, adalah apa yang dianjurkan nenek moyang kita untuk dilakukan. Kita tidak bisa serta merta meniru nilai-nilai budaya asing, karena itu adalah anjuran nenek moyang mereka, maka bagaimana pun kita harus memilahnya.

Dari pemaparan sebelumnya, budaya tradisi dalam kehidupan modern punya dua fungsi yakni budaya (sarana penampung nilai) dan ekonomi. Baik fungsi budaya dan ekonomi harus bergandengan tangan, tidak boleh timpang. Hal itu karena fungsi budaya sulit eksis bila masyarakat tidak melihat keuntungan darinya, begitu pun fungsi ekonomi takkan eksis bila produk budaya tadi telah sirna. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan.

Dalam sudut pandang ekonomi, kita melihat sektor pariwisata kita berkembang pesat dari tahun ke tahun. Banyak di antara mereka mengunggulkan potensi tradisional mereka. Kita pun sudah melihat dukungan pemerintah dalam hal ini, contohnya pemerintah Bandung yang memberdayakan komunitas seni dalam Braga Festival tiap tahunnya.

Dari sudut pandang budaya, adalah tugas budayawan dan akademisi untuk menyibak tabir nilai luhur yang tersembunyi di balik motif batik, bentuk kujang, lirik lagu Medan, bentuk rumah Honai atau cara pembuatan sasando. Saatnya nilai-nilai tadi bangun kembali dan memecahkan masalah akhir-akhir ini, misalnya untuk bersatu melawan korupsi. Saatnya masyarakat melakukan reaktualisasi nilai-nilai itu, menemukan solusi yang sebenarnya ada di tradisi kita sendiri.

Mencari nasihat nenek moyang bukan berarti ketinggalan zaman, lagi pula benar kata fesyen Lazuli Sarae di Bandung dalam jargonnya, “local value, modern spirit!”.

Referensi:
Buku

Ember, Carol R dan Melvin Ember. 1977. Cultural Anthropology. New Jersey: Prentice-Hall
Mulyana, Deddy. 2012. Cultures and Communication. Bandung: Rosda
Yudasmoro. 2012. Travel Writer. Solo: Metagraf

Majalah

National Geographic Traveler, Kuliner Sebagai Identitas Bangsa, edisi Agustus 2012
Tempo English Edition, The Tales of Batik, edisi 21-27 Desember 2011

Publikasi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2011. http://www.budpar.go.id/budpar/asp/detil.asp?c=5&id=1749


Sumber kutipan

[1] Ember, Carol R dan Melvin Ember. 1977. Cultural Anthropology. New Jersey: Prentice-Hall hal.281
[2] The Tales of Batik, Tempo English Edition, edisi 21-27 Desember 2011 hal.37
[3] Mulyana, Deddy. 2012. Cultures and Communication. Bandung: Rosda hal.14
[4] William Wongso. “Kuliner Sebagai Identitas Bangsa.” National Geographic Traveler edisi Agustus 2012 hal.23
[5] Yudasmoro. 2012. Travel Writer. Solo: Metagraf hal.160
[6] Laporan Akuntabilitas Kinerja Kemenparekraf 2011 hal 22

Comments

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"