#BDGLautanDamai* :
Belajar Toleransi Dari Interaksi

 

Sahabat-sahabatku yang baik hati, izinkan saya cerita di sini.

Satu Minggu pagi saya berjalan-jalan sendiri. Melewati SD Banjarsari memang iseng sekali. Tiba-tiba satu benda amat menarik hati. Dari luar pagar saya pandangi, malah saya yang jadi malu sendiri. Benar-benar malu tanpa henti. Membuat saya merasa tidak tahu diri.

Benda itu sebenarnya sederhana sekali. Terpasang di salah satu sisi, bentuknya burung gagah berdiri. Itulah lambang Garuda Pancasila yang sakti. Yang mencengkram semboyan Bhinneka Tunggal Ika di kaki.

Dulu sekali, setidaknya ketika saya diajari, semboyan itu begitu dipuji. Kalimat itu, katanya, telah menyatukan seantero negeri. Dari Merauke di kanan hingga Sabang di kiri. Namun kini kusadari. Semboyan itu kini tak lagi sakti.

Mengapa saya berani bilang begini? Tak perlu sulit mencari. Mata kita sebetulnya sudah disuguhkan berbagai bukti. Lihatlah di televisi. Berbagai konflik marak di sana sini. Ada antara suku itu dan ini, ada pula perusakan Gereja GKI, bahkan perkelahian antara muslim dan kristiani. Pernah juga di Bandung yang kita cintai. Syahrini pasti jawab begini: Pokoknya sesuatu sekali! Apa kata pendiri bangsa kita melihat semua ini?

Kita semua memang tak tahu diri. Lambang itu kini sudah tak berfungsi. Untuk itu saya berniat meloncat pagar untuk mencopot benda tadi. Namun segera saya urungkan niat ini. Bukan karena takut disangka pencuri. Bukan juga takut dihakimi warga hingga mati. Hanya saja sekilas saya mengulas memori. Dulu sekali, meski berbagai agama suku etnis mewarnai negeri, tempat ini tetap punya harmoni. Saya bisa bermain kartu dengan orang Betawi keturunan Sulawesi. Teman saya yang tionghoa memanggang babi, tetangganya yang muslim tak merasa sakit hati. Rasanya senang sekali. Andai itu semua hadir kembali.

Saat perlahan menjauhi sekolah, saya berkata dalam hati. Saya tahu kondisi itu kini jadi ilusi. Tapi, saya pikir lagi, kenapa tidak kita bawa ke masa kini? Tak perlu mencari. Kita buat saja sendiri. Tak perlu demo di sana sini. Tak perlu melulu belajar hak azasi, yang terpenting adalah interaksi.

Karena pertemuan kemarin jadi bukti. Baik itu orang Islam atau Kristiani. Semua berbagi makanan dengan kanan dan kiri. Berbincang pada yang belum kita kenali. Dan ternyata, tak ada sesuatu yang buruk terjadi. Saya sadari, penduduk ibu pertiwi masih punya nurani. Bandung ini masih layak kita tinggali. Negeri ini masih patut kita cintai.

Salam cinta dari lubuk hati, untuk #BDGLautanDamai.

______________________________________

*Menulis dengan seluruh kalimat berakhir 'I' ternyata sulit sekali. Hihihi...

Comments

  1. Tulisan ini asli menggugah hati! Terus semangat menginspirasi! Semoga bukan cuma mimpi, bahwa damai di Indonesia bisa makin menjadi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin... semoga Tuhan mendengar doa ini.

      Terimakasih atas komentar yang amat membesarkan hati :)

      Delete
  2. huruf i-nya ada berapa ya ?
    keren yoo ,,
    :)

    ReplyDelete
  3. iseng lg blogwalking nemu ini,,
    dan very surprising, tau ini tulisan kamu..rio rahardian ik jurnal,
    What you say is very inspiring and writing about it is awesome...
    May you have a successful writing career and many blessings to you and yours...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waw thanks for visiting and supporting my blog, teh mila :D

      Delete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"