-->

Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Liburan Tenang dan Senang di Grand Hotel Lembang

    Liburan Tenang dan Senang di Grand Hotel Lembang

    Bayangkan sebuah tempat liburan yang sejuk, udara segar, dengan pemandangan alam yang terbentang luas untuk melepas penat. Maka kita akan segera membayangkan Lembang, Bandung, yang merangkum semua keunggulan itu, ditambah jaraknya yang juga dekat.

    Pesona Lembang adalah magnet bagi wisatawan, baik domestik maupun internasional. Ketika kita berkunjung ke situ, tentu kita membutuhkan tempat bermalam yang berkualitas dan terjangkau. Kedua kehebatan ini dimiliki oleh Grand Hotel Lembang. Tidak hanya lokasinya yang strategis, namun juga terjangkau, ditambah terkenal akan keindahan panoramanya. Pemesanannya pun sangat praktis, bisa dilakukan secara online lewat Traveloka


    Berlokasi di kaki Gunung Tangkuban Perahu, kita akan merasa makin dekat dengan legenda Sangkuriang yang terkenal itu.Hotel bintang 3 ini berdiri sejak tahun 1916, menjadikannya salah satu hotel tertua dan terbesar di daerah Lembang. 

    Dekat dengan Lokasi-Lokasi Wisata

    Lokasi Grand Hotel Lembang sangat strategis, dekat dengan Floating Market, Rumah Sosis, Boscha Observatorium, dan De Ranch Lembang. Semuanya bisa diakses mulai dari 5-30 menit saja.

    Floating Market - wisata kuliner dengankonsep pasar terapung. 
    (Sumber bisbandung.com)
    Rumah Sosis - mencicipi sosis enak, dari kecil sampai jumbo
    (Sumber: anekatempatwisata.com)

    Bosscha - mengamati bintang dan menjelajah luar angkasa. 
    (Sumber: bosscha.itb.ac.id)


    De Ranch - sensasi berkuda sambil menikmati panorama.
    (Sumber: initempatwisata.com)

    Grand Hotel Lembang juga sangat dekat dengan pusat perbelanjaan dan wisata kuliner unik yang enak serta terjangkau, semua bisa diakses hanya dengan berjalan kaki. Lebih penting lagi adalah banyak spot menarik untuk mengabadikan foto dengan nuansa alam memukau.

    Fasilitas Lengkap

    Bagi yang tertarik bermalam di Grang Hotel Lembang, hotel ini memiliki total 205 kamar. Hotel ini juga ditambah meeting room untuk 1000 orang. Kamar yang ditawarkan pun bermacam-macam sesuai kebutuhan.

    1. Standard Room (64 kamar)













    Weekend : Rp 658.000,-
    Weekdays : Rp 578.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis.

    2. Superior (81 kamar)
     












    Weekend : Rp 784.000,-
    Weekdays : Rp 678.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis

    3. Deluxe (43 kamar)













    Weekend : Rp 790.000,-
    Weekdays : Rp 728.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis.

     4. Cempaka Suite (6 kamar)













    Weekend : Rp 2.500.000,-
    Weekdays : Rp 2.000.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis.

    5. Azalea Family Suite (1 kamar)













    Weekend : Rp 1.916.000,-
    Weekdays : Rp 1.846.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis.

    Dengan fasilitas yang lengkap dan pemandangan yang luar biasa, pengunjung akan betah berlama-lama menginap. Nikmati waktu berlibur yang sangat berkesan dan tak terlupakan, hanya  Grand Hotel Lembang.
      
    Grand Hotel Lembang
    Jalan Raya Lembang No. 272, Lembang, Bandung Barat.


  • LGBT dan Grasak Grusuk Grindr*

    LGBT dan Grasak Grusuk Grindr*

    *Dimuat di situs Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk.org)



    Niat pemerintah untuk memblokir aplikasi kencan Grindr mulai berbuah aksi. Jumat (30/10/2016) lalu, teman saya yang gay mengatakan sudah tidak bisa mengakses aplikasi tersebut. Dari dia pula, saya mengetahui bahwa pihak Grindr telah memikirkan upaya pemerintah itu, dan menganjurkan penggunanya memakai VPN untuk mengakses Grindr lewat server lain.

    Teman saya menyatakan komunitas LGBT tidaklah bodoh. Bahwa mereka akan selalu menemukan cara untuk tetap berkomunikasi dengan sesama, baik itu lewat Grindr, Blued, Hornet, dan aplikasi sejenisnya.

    Memang bagus kalau komunitas LGBT bisa tetap terhubung dan menjadi dirinya sendiri. Tapi ini bukan soal seberapa internet-savvy seorang gay untuk mengakses aplikasi itu. Bukan soal seberapa solid komunitas LGBT akan mencari jalan keluar. Bukan soal VPN. Masalah sebenarnya adalah pemerintah melakukan sensor dunia maya, diperparah dengan bias terhadap warganya.

    Dalam hemat saya, pemerintah melakukan 3 kekeliruan ketika memblokir Grindr. Kesalahan pemerintah ini adalah melanggar kebebasan sipil, salah sasaran, dan menerapkan standar ganda.

    Sebuah negara demokrasi, yang menghormati kebebasan sipil dan wilayah privat, tidak berhak membatasi sebuah aplikasi kencan. Romantika adalah urusan warga, bukan urusan negara. Terlepas dari apapun yang dilakukan warga dalam aplikasi itu, dari cari teman sampai jual produk, biarkan jadi urusan warga. Kewajiban negara adalah membenahi urusan publik: menghapus kemiskinan, memberantas korupsi, mengurangi macet. Mohon dicatat, warga tidaklah membayar pajak supaya aparatur mengurusi kencan, moral, atau selangkangan.

    Hal kedua adalah pemerintah menggunakan jalan pintas memblokir aplikasi kencan demi apa yang disebut “memberantas prostitusi anak”. Pemblokiran ini sebenarnya tidak menyelesaikan masalah. Sebab prostitusi anak bisa dilakukan lewat aplikasi apa saja –mau Facebook, Twitter, Grindr, Blogger, Whatsapp, Friendster, atau fax sekalipun. Ibarat pisau yang bisa digunakan untuk banyak hal, kalaulah ada yang menggunakannya untuk membunuh, apa kita harus melenyapkannya dari seluruh dunia? Tidak.

    Kesalahan ketiga menurut saya merupakan pangkal masalahnya: bias negara. Pemerintah–memang sudah sejak di dalam pikiran–memandang LGBT sebagai suatu penyakit dan salah. Padahal, WHO telah mencoret homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa sejak 1990, juga Kemenkes melakukan hal yang sama terhadap PPDGJ III sejak 1993.

    Di samping itu, kita semua tahu, sejumlah kasus prostitusi anak dilakukan juga oleh orang heteroseksual. Artinya, tak ada hubungan prostitusi dengan orientasi seks. Mau homoseksual atau heteroseksual, prostitusi anak adalah prostitusi anak. Pemerintah seharusnya hanya memakai seragam kedinasan mereka dan meninggalkan jaket moralnya di rumah. Satu-satunya alat yang harus digunakan pemerintah adalah hukum, bukan dasar suka tidak suka.

    Pemblokiran Grindr dan jajaran aplikasi lainnya menunjukkan kemalasan pemerintah dalam mengurai akar utama prostitusi anak. Akhirnya pemerintah hanya menjadikan Grindr sebagai kambing hitam, dan LGBT sebagai musuh bersama. Sedih melihat pemerintah berlindung di bawah ketiak moral hanya untuk menutupi fakta bahwa dia tidak becus mengurusi tata negara.

    Rio Tuasikal, penerima fellowship “Better Journalism for LGBTI” dari AJI-UNDP
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13