Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Kado Dialog Buat Tatar Sunda*

    Kado Dialog Buat Tatar Sunda*

    Oleh Rio Rahadian Tuasikal

    “Sebetulnya arti jihad itu apa?” tanya Ivo Sarean, seorang kristiani, siang itu. Belasan pemuda langsung menegakkan duduknya. Ricky Husen, seorang muslim, menjawabnya, “Jihad adalah berjuang di jalan Tuhan. Jihad bukan kekerasan, belajar juga merupakan jihad. Islam tidak mengajarkan kekerasan kecuali untuk mempertahankan diri.”

    Dengar jawaban itu, belasan pemuda Kristen, Katolik dan Buddha lalu mengangguk. Sesi sharing agama ini berlanjut dengan pertanyaan dan jawaban yang saling mengisi. Genap dengan candaan melengkapi. Sambil duduk di kantin hotel itu, mereka saling koreksi stigma yang selama ini mereka tahu.

    Dialog barusan terjadi dalam Youth Interfaith Camp, di Hotel Cherish, Lembang, Bandung. Sejak Kamis (7/3) hingga Sabtu (9/3) kemarin, 78 pemuda-pemudi dari agama Protestan, Katolik, Kristen Orthodoks, Islam dan Buddha tinggal bersama.

    Di sini, peserta belajar keragaman lewat seminar, diskusi panel, sharing dan menonton film Mata Tertutup. Kegiatan yang bertema “Hand in Hand for Humanity” ini diadakan hasil kerjasama Gereja Kristen Pasundan (GKP), Universitas Kristen Maranatha dan Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub).

    Saling temu pemuda di atas, dalam acara yang diadakan kalangan Kristen pula, adalah potret Jawa Barat yang heterogen namun harmonis. Hal ini seolah ingin meruntuhkan data dari berbagai lembaga yang menyoroti kebebasan beragama di Indonesia. Lembaga-lembaga ini, sejak beberapa tahun terakhir, sepakat bahwa Jawa Barat adalah daerah kemarau perdamaian. Singkatnya, bicara soal kekerasan atas nama perbedaan, Jawa Barat adalah juaranya.

    Data The Wahid Institute misalnya, menyebutkan di Jawa Barat ada 57 kasus di 2010, naik jauh hingga 128 kasus di 2011, dan turun ke 102 kasus di 2012. Data lainnya, dari Center for Religious and Cross-Sultural Studies Universitas Gadjah Mada, sebut 53 persen kasus rumah ibadah nasional pada 2010 ada di Jawa Barat. Jauh melampaui daerah lain. Laporan Setara Institute mengonfirmasi posisi Jawa Barat ini.

    Tersebutlah beberapa kasus menonjol di tatar Sunda. Sejak 2008 contohnya, izin mendirikan bangunan (IMB) GKI Yasmin Bogor dicabut pemerintah kotanya. Kasus sama diderita oleh Gereja HKBP di Bekasi pada Januari 2010. Tahun yang sama diisi juga oleh penyegelan Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) di Sumedang dan Gereja PIB Villa Galaksi di Bekasi.

    Sasaran diskriminasi bukan hanya gereja, kalangan Ahmadiyah turut menerima perlakuan yang sama. Nyaris tepat dua tahun sebelum acara kemah tadi, tepatnya 3 Maret 2011, pembongkaran makam Ahmadiyah terjadi di Bandung. Jenazah dikeluarkan dan dibiarkan tergeletak di pinggir jalan oleh warga sekitar. Sebelumnya, warga telah protes rencana pemakaman warga Ahmadiyah yang menurut mereka sesat ini.

    Insiden makam itu hanya satu dari sekian kasus Ahmadiyah di Jawa Barat. Sepanjang 2011 saja, ada tiga kasus berupa pendudukan masjid, perusakan rumah, dan pembakaran aset milik Ahmadiyah. Di November 2012, kegiatan donor darah PMI dihentikan Kesbangpol Kota Bandung. Alasannya, kegiatan ini bekerjasama dengan Ahmadiyah. Di Jawa Barat, banyak kelompok yang alergi, alias tak sudi, bersahabat dengan Ahmadiyah.

    Kekerasan yang dibudayakan ini, bolehlah disebut demikian, mengambil start dari kebijakan pemerintah Jawa Barat. Selaku gubernur, Ahmad Heryawan telah mengeluarkan Peraturan Gubernur nomor 12 tahun 2011 tentang pelarangan aktivitas Ahmadiyah. Mungkin tak berhubungan dengan insiden makam, tapi uniknya peraturan ini diresmikan pada tanggal yang persis sama, 3 Maret 2011.

    Menyusul pula peraturan kota Bekasi yang bernada serupa. Inilah yang kerap dijadikan alasan ormas garis keras melanggar hak sipil Ahmadi. Sedangkan negara sendiri sudah tutup telinga, terbukti dengan abstainnya aparat yang melindungi Ahmadiyah selaku korban.

    Ricky adalah salah satu korban itu. Sejak lahir, sudah 24 tahun, dia menganut Ahmadiyah. Dia mengaku sudah kebal dengan cap sesat. Di acara Youth Interfaith Camp (YIC) ini, Ricky adalah satu-satunya Ahmadiyah di tengah dominasi Kristen, Katolik dan Islam arus utama. Namun di sini Ricky tak perlu sungkan mengakui identitasnya. Sebab semua peserta di kemah ini diterima sebagaimana dirinya.

    YIC di Lembang ini tak hanya memberi keleluasaan bagi Ricky menjadi dirinya sendiri. Dalam lingkup lebih luas, kemah ini memberi peluang bagi panorama sosial tatar Sunda agar kembali elok. Kembali jadi rumah buat semuanya. Semua dimulai dengan dialog.

    Satu dialog lepas terjadi di teras kamar peserta pada Jumat malam. Ada yang muslim arus utama, ditambah peserta Kristen yang bertanya pada Ricky soal Ahmadiyah. Meski pada akhirnya tak ada persetujuan soal teologi, itu tak jadi soal. Karena yang dicari bukan kebenaran, tapi saling pengertian. Akhirnya, semua merasa selesai dengan kesalahpahaman.

    Baik melalui sesi sharing agama, seminar mau pun perbincangan personal, masing-masing peserta telah belajar. Tidak hanya untuk mengakui perbedaan, tapi juga menerimanya. Stereotip dan prasangka antar-agama dibongkar habis-habisan. Malahan stigma itu dipinjam jadi lelucon.

    Isu radikalisme Islam, misalnya, bila di masyarakat begitu dikhawatirkan, di kemah ini justru jadi jenaka. “Kita akan hijrah, bilang bismillah!” ujar Azizah, seorang muslim, menirukan adegan di film Mata Tertutup. Di film karya Garin Nugroho itu, hijrah berarti meninggalkan Indonesia menuju Negara Islam Indonesia. Dalam film, gerakan ini digambarkan menculik orang dan merekrutnya.

    Peserta kristiani bukannya tak paham isu, tapi mereka memilih tertawa. Risdo Simangunsong, seorang kristiani, membalasnya dengan ancaman kristenisasi. Giliran peserta muslim tertawa. Saling umbar stigma dalam kerangka canda itu berlanjut sengit dengan tawa yang makin kental, tanpa perlu saling kikuk lagi.

    Saling canda ini awet sepanjang tiga hari. Mereka seolah tak peduli dengan berbagai data soal Jawa Barat di atas. Otomatis, data-data tadi tak berlaku di YIC ini. Perbedaan itu harus dirayakan, bukan diperkelahikan. Sebagaimana dibilang Indra Cahyadi, seorang buddhis, saat ditanya soal keragaman, “Pelangi takkan indah bila hanya satu warna.”

    Hanya dialoglah cara merawat perbedaan, dan dialog bukanlah debat. Bila debat mencari pemenang, dialog punya jalannya sendiri. Dalam dialog, pesertanya menyediakan ruang untuk perbedaan pendapat, juga sepakat untuk tidak sama. Sebagaimana peserta muslim menolak trinitas, dan peserta kristiani menolak Muhammad. Semuanya sah-sah saja.

    Jumat nyaris berganti Sabtu. Peserta melakukan pentas kecil di lapang hotel. Bertemankan api unggun dan bintang-bintang, mereka membawakan drama kecil, iklan, puisi, juga nyanyian. Shaddam, seorang kristiani, melakukan komedi tunggal soal sandal yang hilang di masjid. Tawa kembali mendominasi, sakit hati tak laku di sini.

    Malam makin larut, peserta larut dalam kebersamaan. Saat panitia menutup rangkaian hari itu, belasan peserta bukannya beranjak tidur melainkan tetap duduk di lapang. Mereka bernyanyi bersama, pilih-pilih lagu, makan kacang rebus lalu tertawa. Semua bergulir hingga pukul dua dini hari.

    “Mawar biar tetap mawar, melati biar tetap melati, tapi bagaimana kita menyusunnya supaya jadi taman yang indah,” ungkap Tika, seorang muslim. Di YIC, semua berbaur tanpa melebur, tak perlu ada yang berpindah agama. Bersama tidak perlu jadi sama.

    Tak peduli Ahmadiyah, Buddha, Katolik, Protestan, Orthodoks atau Islam arus utama. Dini hari itu, kacang rebus, gitar serta udara Lembang telah merangkul semua perbedaan. Ikhtiar perdamaian itu tidak perlu neko-neko rupanya. Inilah kado kecil buat tatar Sunda supaya kembali sejuk. Seperti Lembang malam saat mereka bernyanyi bersama. ***
    ______________________________
    * Masuk 10 besar lomba feature Pekan Komunikasi 2013, Universitas Indonesia
    Foto milik Pdt. Obertina Johanis
  • Menolak Air Mata*

    Menolak Air Mata*

    Oleh Rio Rahadian Tuasikal  



    Sebuah kasur kapuk terbawa arus Sungai Ciliwung, siang itu. Namun dua warga Kampung Melayu, Yayah (44) dan Ida (37), tak peduli. Mereka tetap mengobrol di jalan satu meter yang memisahkan rumah mereka dan Ciliwung. Kata Ida itu sudah sangat biasa, kasur pegas juga pernah ada. “Cuma kagak ade mobil sama motor aje,” ucap Yayah diiringi tawa keduanya. 

    Yayah dan Ida adalah dua dari sekitar 4.800 warga RW 02 di Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Mereka adalah kakak beradik, asli Bogor, menetap di sini sejak Yayah SMP. Rumah mereka bersebelahan, berdamping juga dengan rumah ibu mertua Yayah. Mereka tinggal di RT 01 yang dipimpin oleh suami Yayah sendiri. 

    Kampung seluas 480 ribu meter persegi adalah pelanggan tetap banjir. Misalnya banjir 10 meter pada 2002 dan 2007, lalu 8 meter pada 2012. Terbaru, Kampung ini banjir 50-200 sentimeter Maret lalu.

     “Udeh kagak ade serem-seremnye,” jelas Yayah saat ditanyai pandangannya soal banjir. Kata Yayah, banjir tak lagi mengganggu kehidupan warga. Mereka mengaku tak panik kala kabar banjir diumumkan. Bila banjir sepinggang, siswa tetap bersekolah. Bila setinggi dada, warga akan pindahkan barangnya ke lantai dua. Dia sendiri mengangkut barangnya ke lotengnya yang sempit. Mereka tinggal bersiap dan, ya, begitu saja.

    Bila air sudah tinggi, Yayah memaksa kedua anaknya tetap sekolah dan bekerja. Bila tidak demikian, katanya, kedua anaknya akan bermain air hingga terkena sakit. “Mau yang tue, mau yang mude, semuanye pada demen berenang di depan pos dah,” ceritanya sambil tertawa.

    Saat Yayah tertawa, seorang ibu lewat. Dia membawa alas kayu, wadah dan panci berisi nasi basi. Yayah dan Ida menyapanya singkat, sementara ibu itu membuang nasi langsung ke Ciliwung. Ikut mewarnai sungai yang sudah ramai oleh kayu, styrofoam juga bungkus mie instan. Menyusul Ida melempar plastik yang tadi berisi berondong jagung.

    Lima bulan sebelumnya, Desember 2012, Gubernur Jakarta Jokowi mengimbau warga untuk tidak buang sampah ke Ciliwung. Sampah dikumpulkan di depan kampung, yakni Jalan Jatinegara Barat. Namun lambatnya pengangkutan sampah membuat warga menjadi malas. Selain itu, mereka masih melihat sampah datang dari hulu, sehingga mereka merasa program itu tak adil. Alhasil, Ciliwung kembali jadi tempat sampah
    warga.

    Hal itu dibenarkan Ketua RW setempat, Kamaludin (52). Di rumahnya, yang bekas banjir di dindingnya ditimpa cat ungu, Kamal kisahkan kesibukan terkait banjir. Setiap banjir datang, Kamaludin melayani warga di posko di Jalan Jatinegara. Saat pra-banjir, dia bertanggung jawab memberi informasi kedatangan air pada warga. 

    Sebuah papan data ketinggian air terpampang di aula. Hanya 10 meter dari rumahnya, berseberangan dengan masjid. Tercantum di situ data 3 lokasi, yakni Katulampa, Depok dan Manggarai. Data-data didapatnya dari para penjaga pintu air. “Kalau air di Katulampa 100 sentimeter, di sini banjir dua belas jam lagi,” jelasnya. Bila informasi sampai pada warga, mereka akan bersihkan rumahnya tanpa panik.

    Di kampung ini, banjir datang dan pergi, nyaris sinonim dengan rutinitas.  Usulan relokasi dan normalisasi Ciliwung pun telah disosialisasikan. Pemerintah berencana melebarkan sungai dari 20 meter jadi 50 meter. Bila program itu berjalan nanti, Yayah dan Ida harus pindah. Kamaludin sendiri tidak perlu karena rumahnya memang jauh dari sungai. 

    Pemerintah sudah bersiap membeli tanah warga. Namun warga enggan pergi atas berbagai sebab. Yayah, Ida dan Kamaludin juga lebih suka membicarakan keseruan saat banjir dari pada program itu. Padahal pamflet telah ditempel di pos warga, lengkap dengan rencana pelebaran sungainya. 

    Pamflet itu sekadar tempelan saja. Toh saat banjir tiba, sebelah depan pos adalah kolam renang publik, gratis. Mereka menganggapnya sebagai hiburan musiman. Tempat anak Yayah dan lainnya akan bermain air. Warga tak mau terjebak panik atau drama. Alih-alih ingin dipindahkan, mereka sukarela menerima air bah. Mereka menolak air mata. ***

    _____________________
    *Feature untuk 10 besar lomba artikel feature dalam Pekan Komunikasi 2013, Universitas Indonesia, dengan beberapa revisi.

    Foto milik okezone.com
  • Membidik Kota Tua Jakarta

    Membidik Kota Tua Jakarta

    Foto oleh Rio Rahadian Tuasikal
    Camera : Samsung Galaxy Mini 

    Simak juga Seporsi Jakarta


     








  • Seporsi Jakarta

    Seporsi Jakarta

    Teks dan foto oleh Rio R. Tuasikal 



    KICIR KICIR/ INI LAGUNYA//
    LAGU LAMA/ YA TUAN/ DARI JAKARTA//
    SAYA MENYANYI/ YA TUAN/ MEMANG SENGAJA//
    UNTUK MENGHIBUR/ MENGHIBUR/ HATI NAN DUKA//

    Alunan ‘Kicir-Kicir’ terdengar di penjuru alun-alun Kota Tua, Jakarta. Di museum Seni Rupa, siang itu, sedang ada panggung musik. Siapa pun boleh datang dan duduk di kursi yang disediakan. Senandung ‘Sang Kodok’ dan ‘Jakarta Kebanjiran’ menambah nuansa Kota Tua Jakarta semakin nostalgik.

    Semuanya mengiringi apa yang terjadi di alun-alun. Lima puluh meter di depannya, dua bule sedang sibuk membaca Lonely Planet. Sedangkan para anak SD memerhatikan boneka marionette, bergoyang diiringi lagu ‘Azza’ dari Rhoma Irama. Rombongan SD lainnya sudah berbaris di depan museum Fatahillah, sebelah selatan lapang, untuk masuk.

    Di depan Fatahillah itu pula, empat figur sedang jadi primadona. Ada figur noni Belanda dengan gaun putih yang mukanya dicat putih pula. Ada figur guru yang berwarna emas, pejuang pribumi berwarna cokelat tua, dan tentara mainan berwarna hijau. Keempatnya sibuk berpose melayani pengunjung yang mau berfoto.

    Di sudut lainnya, puluhan sepeda onthel menunggu disewa. Merah muda, hijau dan biru muda. Lengkap dengan topi yang berwarna senada. Beberapa sepeda sedang berkeliling lapang diselingi tawa pengemudinya. Di sebelahnya, fotografer sedang membidik sebuah pohon besar untuk diabadikan. Menggeser-geser lensa dan mengatur masuknya cahaya.

    Di balik itu semua, seorang penjual minuman duduk di depan Fatahillah. Dia mengaku kecapaian menjual minumannya yang tersisa empat. Ada juga pemulung yang sedang meneliti setiap sudut lapang mencari botol. Seorang nenek tua berterimakasih pada pemuda yang baru memberinya uang. Tak lupa pengamen cilik yang langsung menyodorkan gelasnya kala saya bidik lewat kamera.

    Bule yang sedang berpariwisata. Pengemis yang mengandalkan rasa iba. Sebuah paradoks di Kota Tua. Berbeda-beda namun tumpah ruah di tempat yang sama. Itulah Jakarta. Seperti gado-gado yang saya santap selama melihat semuanya. ***

    Simak juga Membidik Kota Tua Jakarta
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13