-->

Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • #3 Verifikasi: Kuncinya Cuma Curiga

    #3 Verifikasi: Kuncinya Cuma Curiga




    Sebuah koran di Bandung pada November 2013 mengutip perkataan saya, “Jangan sampai Bandung ada kekerasan lagi, jangan sampai ada intoleransi dan mampu dihayati bersama guna menjaga Bandung.” Namun saya tak merasa benar-benar mengatakan frasa terakhir. Tulisan di atas mengindikasikan penghayatan pada intoleransi. Padahal maksud saya justru menghayati “jangan sampai ada intoleransi”. Ini menimbulkan penafsiran ganda.

    Adalah betul saya bicara seperti itu, namun jurnalis harusnya berusaha keras membuat kalimat yang mewakili maksud saya. Saya tak perlu kecewa bila editornya melakukan pemenggalan kalimat secara presisi. Pengalihan dari bahasa lisan ke bahasa tulisan membolehkan penambahan kata-kata dalam tanda kurung untuk menjelaskan konteks. Kecermatan yang seharusnya mereka pertimbangkan. 

    Selain mendisiplinkan wartawan terhadap fakta, verifikasi ini perlu untuk hilangkan bias dan tendensi yang mungkin terselip di liputanya. Bias ini bisa berupa bias gender, suku, agama, politik dan lainnya. Verifikasi juga penting lantaran saksi yang diwawancarai biasanya adalah warga yang tak terlatih menceritakan kembali apa yang dia saksikan. Mudah sekali mereka melebihkan ceritanya, mengaburkan apa yang sebenarnya terjadi.

    Guna menghindari cacat-cacat ini, ada lima hal yang dianjurkan oleh Bill Kovach dalam Sembilan Elemen Jurnalisme: Jangan menambahkan fakta, jangan menipu, transparan, jangan ikut-ikutan wartawan lain, rendah hati. Feeling atau intuisi bukanlah fakta. Jika seorang wartawan betul-betul dapat feeling, ia tak boleh menyebutkannya kecuali ia mendapatkan buktinya. Juga tidak perlu sok tahu. Bila tidak tahu atau tidak dapat datanya, sebutkan apa adanya. Cek kebenaran hasil wawancara melalui observasi dan dokumen, dan sebaliknya. 

    Verifikasi dilakukan secara cermat. Apakah sudah cek ulang setiap data yang tercantum di liputan baik itu nama, gelar, jabatan, tempat, alamat, waktu, cuaca, jumlah pelaku atau korban,  maksud dari istilah misalnya medis, kutipan yang dipotong, waktu apa dia mengeluarkan pernyataan itu? Editor perlu menggunakan rasa heran dan curiga terhadap liputan yang disetor reporter. Editor berhak bertanya “dari mana dan bagaimana data ini didapat?”

    Satu ide verifikasi yang mudah adalah pensil warna Tom French. Selesai menulis liputan, Tom  akan membacanya lagi dan menandai setiap kata di beritanya. Ia menandai mana yang sudah, sedang atau belum diverifikasi. Bila data akhirnya tidak bisa diverifikasi, ia terpaksa membuangnya.

    Akurasi, akurasi dan akurasi. Inilah disiplin yang membedakan jurnalisme dari propaganda, penulisan fiksi atau si sepupu infotainment. Propaganda membolehkan manipulasi atau pelintir fakta demi kepentingan tertentu. Fiksi menyajikan kesan personal atas yang disebut realitas. Infotainment fokus pada hal-hal sensasional dan kehidupan pribadi. Jurnalisme tidak. Jurnalisme adalah disiplin untuk menyajikan “versi terbaik dari kebenaran”, sebaik dan seburuk apa pun kebenaran itu. Curigalah! []
  • #2 Loyalitas: Pada Pebisnis, Politisi, Pemodal atau Pemirsa?

    #2 Loyalitas: Pada Pebisnis, Politisi, Pemodal atau Pemirsa?




    Ketika jurnalis menulis berita, pada siapakah berita itu ia persembahkan? Saya berharap Anda tidak dengan gampangnya menjawab pembaca atau pemirsa. Secara normatif Anda benar. Namun situasinya sekarang tak semudah itu.

    Media massa lahir karena masyarakat butuh informasi, dan di pundak wartawan itulah kepercayaan masyarakat akan kelangsungan hidupnya dititipkan. Lalu muncul pebisnis dan pemasang iklan. Kini berita dilihat sebagai barang yang dijual, kini ia bertabrakan dengan profit. Ada beberapa kasus berita terpaksa dipotong karena iklan akan lebih besar dipasang. Kadang berita terhadap perusahaan tertentu jadi bagus sebab ia memasang iklan di medianya. Televisi pun memasang banyak acara hiburan yang kontraproduktif dengan visi jurnalisme yang mencerdaskan.

    Dalam Sembilan Elemen Jurnalisme, Bill Kovach menyebut akhir-akhir ini para redaktur media di Amerika Serikat mendapatkan bonus akhir tahun berdasarkan keuntungan perusahaan, bukan kualitas liputannya. Hal ini menggeser paradigma besar dalam memandang lembaga pers jadi sebagai mesin uang. Di Chicago Tribunne, pemiliknya tidak mau membisniskan redaksi. Dia membangun dua lift terpisah: untuk redaksi dan perusahaan. Pemiliknya tak mau pencari iklan satu lift dengan reporternya.

    Lalu muncul politisi. Kadang jurnalis memberikan loyalitasnya pada walikota, presiden atau partai tertentu. Berita dibangun atas pernyataan yang dipelintir, porsi berita jadi berat sebelah. Jurnalis bisa menulis, atau tidak menulis berita, karena ia dipaksa oleh kepentingan politik tertentu.

    Indonesia punya kondisi yang lebih buruk: Pebisnis adalah pemilik media, merangkap politisi. Ada bisik-bisik di bawah meja. Media pun akhirnya kawin dengan keuntungan ekonomi dan politik tertentu. Media meninggalkan satu-satunya pihak yang akhir-akhir ini merugi: pemirsa, pembaca.

    TV telah mewakili keinginan pemodal, pebisnis dan politisi yang orangnya sama. Hari ini tvOne dan ANTV sibuk memasang gambar Aburizal Bakrie, pemiliknya yang juga ketua dan capres dari Golkar, juga pebisnis kelapa sawit dan properti. Lalu MNCTV, RCTI dan GlobalTV sibuk kampanyekan Harry Tanoe, cawapres dari Hanura, pemilik MNC Group dan pebisnis asuransi, plus Wirantonya. MetroTV sibuk promosikan Surya Paloh, pemiliknya, yang juga capres dari Nasdem.

    Lalu di mana pemirsa? Mereka dibiarkan pergi ke televisi yang dimiliki bukan oleh politisi. Tertawa melihat Sule menggampar Aziz Gagap. Lalu Bergoyang Caesar. Lalu Soimah bertanya, “Masalah buat lo?”[]
  • #1 Kebenaran: Benar yang Bagaimana?

    #1 Kebenaran: Benar yang Bagaimana?





    Wartawan AS Sonia Nazario tidak memihak siapa-siapa saat dia menulis buku pemenang Pulitzer “Enrique’s Journey”. Sonia tidak membela Enrique dan 40.000 anak lainnya yang pergi dari Amerika Tengah ke Amerika Serikat secara ilegal, untuk bertemu ibu mereka yang juga di AS secara ilegal. Sonia tidak membela pemerintahan AS yang memberlakukan peraturan ketat soal imigran gelap. Sonia tidak mengatakan salah satu dari mafia Meksiko, keluarga Amerika Tengah, perawat, pastor, atau petugas imigrasi yang terlibat dalam semua ini jadi pihak yang benar.

    Di saat yang sama, saya baru membaca “Sembilan Elemen Jurnalisme” dari Bill Kovach. Pembahasan elemen  1 “memihak pada kebenaran” adalah bagian yang paling menarik namun juga bikin bingung. Kebenaran versi siapa yang ke sanalah jurnalisme berpihak? Apakah kebenaran versi pemerintah, redaktur, pemilik media atau siapa? Dalam kasus Sonia, siapa yang benar: Enrique atau pemerintah AS?

    Bill Kovach menegaskan bahwa kebenaran yang dicapai oleh jurnalisme bukanlah kebenaran mutlak. Sebuah berita terbakarnya hutan seluas dua hektar tak lebih dari sekeping kecil kebenaran. Peristiwa banjir pun hanya bermakna jika ditempatkan dalam konteks kehidupan manusia. Menemukan konteks ini adalah sepenuhnya urusan subjektifitas insan media. Tidak ada yang objektif soal kebakaran dan banjir itu, tiap manusia melihatnya secara berbeda. Metodenyalah yang harus objektif.

    Untuk mendekati kebenaran itulah jurnalisme memulai segalanya lewat akurasi. “Akurasi, akurasi akurasi,” Itulah yang jadi moto harian Sun milik Joseph Pulitzer. Lewat akurasi dan kejujuran, jurnalis mencari fakta-fakta untuk disatukan menjadi-istilah Washington Post-"kebenaran sedekat kebenaran bisa dipastikan". Sampai di sinilah kebenaran jurnalisme itu, sebuah kebenaran fungsional agar masyarakat dapat menjalani hidupnya hari itu. Kebenaran jenis ini terbuka untuk dikritisi, terus dilengkapi dan diperbaiki.

    Benar bahwa Enrique menyeberangi Meksiko ke AS secara ilegal karena alasan kemiskinan keluarga dan kerinduan pada ibunya. Benar bahwa pemerintah AS mengencangkan aturan imingran gelap demi rakyatnya yang membayar pajak. Keduanya adalah fakta akurat dan terpercaya. Namun siapa yang benar-benar benar? Sonia hanya memberitahu Anda apa yang terjadi, bagaimana penderitaan setiap orang dan pendapatnya soal ini. Tugas jurnalisme selesai di sini, tidak lebih.

    Di samping itu, mohon tandai bahwa jurnalisme tidak menampilkan rekayasa. Jangan, misalnya, atas nama dramatisasi, seorang wartawan meminta korban gempa untuk menangis saat diliput. Jangan pula, misalnya, memadukan suara petir asli ke gambar lain yang tidak ada petirnya agar mendapat kesan berbahaya. Meski awalnya suara dan gambar itu fakta, ia jadi fiksi. Dalam jurnalisme sastrawi pun, tetap saja isinya hanya fakta, tanpa imajinasi penulisnya.

    Itulah, jurnalisme tidak akan menghadirkan kebenaran dalam versi yang utuh. Jurnalis hanya menyodorkan fakta, menghapus opini dan pendapatnya, menahan diri memberikan penilaian, jujur dan menjamin faktanya tidak dipengaruhi apapun. Jurnalisme tidak menyimpulkan. Jurnalisme menemani Anda berkesimpulan dengan apa yang disebut Carl Bernstein sebagai “versi terbaik kebenaran yang bisa didapatkan”. []
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13