Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • #BDGLautanDamai* :
    Belajar Toleransi Dari Interaksi

    #BDGLautanDamai* :
    Belajar Toleransi Dari Interaksi

     

    Sahabat-sahabatku yang baik hati, izinkan saya cerita di sini.

    Satu Minggu pagi saya berjalan-jalan sendiri. Melewati SD Banjarsari memang iseng sekali. Tiba-tiba satu benda amat menarik hati. Dari luar pagar saya pandangi, malah saya yang jadi malu sendiri. Benar-benar malu tanpa henti. Membuat saya merasa tidak tahu diri.

    Benda itu sebenarnya sederhana sekali. Terpasang di salah satu sisi, bentuknya burung gagah berdiri. Itulah lambang Garuda Pancasila yang sakti. Yang mencengkram semboyan Bhinneka Tunggal Ika di kaki.

    Dulu sekali, setidaknya ketika saya diajari, semboyan itu begitu dipuji. Kalimat itu, katanya, telah menyatukan seantero negeri. Dari Merauke di kanan hingga Sabang di kiri. Namun kini kusadari. Semboyan itu kini tak lagi sakti.

    Mengapa saya berani bilang begini? Tak perlu sulit mencari. Mata kita sebetulnya sudah disuguhkan berbagai bukti. Lihatlah di televisi. Berbagai konflik marak di sana sini. Ada antara suku itu dan ini, ada pula perusakan Gereja GKI, bahkan perkelahian antara muslim dan kristiani. Pernah juga di Bandung yang kita cintai. Syahrini pasti jawab begini: Pokoknya sesuatu sekali! Apa kata pendiri bangsa kita melihat semua ini?

    Kita semua memang tak tahu diri. Lambang itu kini sudah tak berfungsi. Untuk itu saya berniat meloncat pagar untuk mencopot benda tadi. Namun segera saya urungkan niat ini. Bukan karena takut disangka pencuri. Bukan juga takut dihakimi warga hingga mati. Hanya saja sekilas saya mengulas memori. Dulu sekali, meski berbagai agama suku etnis mewarnai negeri, tempat ini tetap punya harmoni. Saya bisa bermain kartu dengan orang Betawi keturunan Sulawesi. Teman saya yang tionghoa memanggang babi, tetangganya yang muslim tak merasa sakit hati. Rasanya senang sekali. Andai itu semua hadir kembali.

    Saat perlahan menjauhi sekolah, saya berkata dalam hati. Saya tahu kondisi itu kini jadi ilusi. Tapi, saya pikir lagi, kenapa tidak kita bawa ke masa kini? Tak perlu mencari. Kita buat saja sendiri. Tak perlu demo di sana sini. Tak perlu melulu belajar hak azasi, yang terpenting adalah interaksi.

    Karena pertemuan kemarin jadi bukti. Baik itu orang Islam atau Kristiani. Semua berbagi makanan dengan kanan dan kiri. Berbincang pada yang belum kita kenali. Dan ternyata, tak ada sesuatu yang buruk terjadi. Saya sadari, penduduk ibu pertiwi masih punya nurani. Bandung ini masih layak kita tinggali. Negeri ini masih patut kita cintai.

    Salam cinta dari lubuk hati, untuk #BDGLautanDamai.

    ______________________________________

    *Menulis dengan seluruh kalimat berakhir 'I' ternyata sulit sekali. Hihihi...
  • Kanti Walujo :
    Masyarakat Tak Hargai Seni Wayang

    Kanti Walujo :
    Masyarakat Tak Hargai Seni Wayang

    Dr. Kanti Waluyo, M.Sc
    Kesenian wayang tak asing bagi masyarakat Indonesia. Dalam wayang terkandung filosofi yang tinggi. Saling menghargai, jujur, adil, tanggung jawab, dan loyal kepada negara, adalah nilai universal yang diusung wayang.

    Kini masyarakat Indonesia terkesan melupakan keberadaan wayang. Banyak anak muda yang tidak paham tentang wayang itu sendiri. Bahkan separuh dari 40 jenis wayang yang berasal dari Pulau Jawa sudah punah. Hal ini menjadi fakta ironis mengingat wayang Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai kebudayaan yang mengagumkan pada 7 November 2003.

    “Karena kita tidak menghargai, bahkan banyak anak muda yang tidak mengerti wayang itu apa.” ucap doktor komunikasi Unpad Kanti Walujo saat ditanya mengenai penyebab punahnya beberapa jenis wayang. Baginya, saat ditemui di Hotel Jayakarta Bandung, Jumat (12/11) sore, kepedulian masyarakat Indonesia pada wayang harus ditingkatkan.

    Perkenalan Kanti dengan wayang tidaklah biasa. Dia mengenal wayang pertama malah di Amerika. Kanti bercerita, “Saat itu saya menonton Sendratari Ramayana, yang memainkannya orang Jepang dan Amerika. Namun, guru mereka adalah orang Jawa. Saya merasa kecelek saat itu.” Dari situlah Kanti belajar wayang. Sampai Kanti menulis disertasi tentangnya.

    Bagi Kanti yang mendalami komunikasi tradisional ini, budaya sepatutnya diajarkan. Misalnya di Jepang di mana siswa sekolah dasar diajari sejenis gamelan. Hal itu bertujuan meredam emosi harakiri (bunuh diri). Menurut Kanti, alat itu mirip gamelan Jawa. Dia mengilustrasikan, “Coba kita dengarkan gamelan Jawa, adem ayem, mau ngamuk juga enggak jadi.”

    Dia menegaskan pengajaran wayang pada generasi muda patut dilakukan. Kanti pun menyambut baik pengajaran medalang bagi anak muda di Palembang. Program itu digagas pemerintah Palembang dengan bantuan dari UNESCO dan kerjasama dengan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia.

    Bagi Kanti, pembelajaran wayang di sekolah adalah keharusan. Agar anak-anak muda mengerti budayanya sendiri, ungkapnya. Selain itu, internet pun harus diberdayakan. Hal itu karena berdasarkan penelitian di Yogyakarta, banyak sekali anak-anak muda yang mengenal wayang melalui internet. Dari iseng-iseng ternyata malah tertarik. Soal pameran dan pementasan pun perlu, namun menurutnya hal itu takkan berpengaruh banyak pada anak muda.

    Saat ini informasi soal wayang seperti pertunjukan dan lainnya sulit didapat. Bagi Kanti, kurangnya daya kenal masyarakat dan informasi wayang bukanlah salah pemerintah sepenuhnya. Meski demikian ia mendorong pemerintah memberdayakan internet sebagai media publikasi. “Masyarakat juga harus dididik sebagai penonton wayang,” tegasnya.

    Bagi Kanti, penyebaran informasi lewat wayang amat efektif. Hal ini dibuktikan oleh pemerintah yang menyampaikan informasi dengan wayang sulu pada 1955. “Tokoh-tokoh yang digunakan itu Soekarno kemudian Pak RT beserta warga-warganya. Karena belum ada televisi, penyampaian melalui wayang ini efekti,” papar wanita ini.

  • Kenapa Budaya Tradisi Harus Lestari?

    Kenapa Budaya Tradisi Harus Lestari?

    Oleh : Rio Rahadian Tuasikal
    Seni kuda lumping di Braga Festival akhir September lalu. Kegiatan ini merupakan wujud pelestarian budaya
    “Harusnya ada tembikar, nanti diisi air dan bunga,” jelas Ahmad, sebut saja demikian, dari komunitas Pijar .

    “Memang itu artinya apa?” tanya Keket, pemandu acara, yang makin penasaran.

    “Tembikar itu kan dari tanah, lalu ada air, jadi artinya tanah air. Kalau bunga berarti harum. Jadi, tanah air kita harus harum namanya, artinya kita harus menjaga nama baik tanah air kita.”

    “Wah, ternyata ada banyak filosofi yang terkandung ya, Kang?”

    Ahmad tersenyum mantap, menyetujui pernyataan Keket.

    Tepuk tangan pengunjung lantas riuh menyambut penjelasan itu.

    Demikian cakap-cakap yang sempat saya dengar dalam gelaran HelarFest di bilangan Tamansari, Bandung, Kamis (20/9) lalu. Saat itu Keket sedang mewawancarai satu anggota Pijar, Komunitas Menempa Bandung, yang turut hadir dan sedang unjuk kebolehan membuat kujang. Di sela-sela proses tempa itu, Ahmad menjelaskan perlengkapannya, salah satunya tembikar. Tembikar mewadahi air yang nantinya disiram untuk mendinginkan besi panas menyala.

    Arti Budaya Tradisi

    Setiap produk budaya memang tidak dibuat sembarangan. Di balik penemuannya, produk budaya selalu punya tujuan. Tujuan kujang misalnya, adalah fungsional sebagai senjata. Tapi kujang bukan sekadar senjata, ada pula nilai yang terselip di tiap detailnya.

    Seperti kujang, cerita rakyat misalnya Bawang Merah Bawang Putih, Si Kancil dan Pangeran Palasari juga menyimpan banyak nilai. “Kita menyampaikan cerita-cerita itu, terutama pada anak anak, untuk mencontohkan atau mengajarkan nilai-nilai,” kata Carol Ember dalam bukunya.[1]

    Contoh lain adalah batik yang juga menampung nilai. “Batik dari Yogyakarta dan Solo punya beberapa filosofi dan makna yang diimbuhkan di motifnya. Misalnya saja motif parang rusak... Nama parang rusak berarti “perang melawan kebiasaan buruk”. Motif ini berisi uceng atau ornamen nyala api yang menyimbolkan kemarahan, dan mlinjon atau blumbangan sebagai simbol nafsu”.[2]

    Nilai-nilai itu dimasukkan karena nenek moyang kita ingin berpesan pada kita banyak hal. Dalam hal batik parang rusak, Sultan Agung Hanyakrakusuma, pembuatnya, ingin berpesan pada penerusnya untuk melawan kebiasaan buruk. Bisa dikatakan, menurutnya, kebiasaan buruk tidak baik bagi kelangsungan hidup kita.

    Nenek moyang atau pendahulu kita telah mengalami banyak hal di zamannya, dan melalui nilai-nilai yang diwariskan, ia berharap penerusnya bisa hidup lebih mudah bila menghadapi permasalahan serupa. Lebih lengkapnya, “Nilai,” sebut Deddy Mulyana dalam bukunya, “memberitahu anggota budayanya apa yang baik atau buruk, benar atau salah, apa yang kita perjuangkan, serta apa yang kita takutkan, dan lainnya”.[3] Singkatnya nilai adalah semacam petunjuk cara hidup.

    Produk kuliner pun mewakili nilai-nilai. Proses pembuatan rendang yang delapan jam misalnya, menanamkan pentingnya kesabaran. “Di Belanda,” tulis Pakar kuliner William Wongso dalam artikelnya, “tidak ada orang yang mau menghabiskan waktu delapan jam membuat rendang... Seiring dengan pergeseran rasa, ada nilai-nilai yang luntur juga”.[4]

    Nilai-nilai, atau masyarakat kita suka menyebutnya dengan “filosofi yang terkandung”, adalah hal yang abstrak. Oleh karena itu, moyang kita perlu menyampaikannya melalui sarana. Sarana penampung nilai itu yakni produk budaya, baik berbentuk gagasan, kebiasaan juga artefak. Semuanya adalah budaya tradisi. Bila tradisinya hilang, nilai akan menguap juga. “Itu,” kata Ahmad lagi, “adalah bahasa simbol”. Itulah kenapa produk budaya seperti kujang, cerita rakyat, batik dan rendang harus dilestarikan.

    Hal Terbaik yang Bangsa Ini Bisa Dapatkan

    Bila nilai-nilai tadi kita temukan, lalu kita terapkan, tentu hidup kita akan lebih mudah. Sayangnya, karena bentuknya yang abstrak, nilai-nilai kerap tidak terlihat. Pada akhirnya, usaha untuk melestarikan budaya tradisi selintas tidak memiliki keuntungan bagi masyarakat masa kini. Sebenarnya tidak demikian, karena budaya tradisi juga bisa ditempatkan di hal lain, yakni pariwisata.

    Bila sudah ditempatkan di sudut pandang pariwisata, budaya tradisi dapat memberi fungsi ekonomi bagi yang melestarikannya. Sebut saja pelaku seni di Saung Angklung Udjo yang kerap dikunjungi wisatawan lokal juga mancanegara. Setiap harinya, mereka mendulang keuntungan jutaan rupiah, selain itu mereka pun sudah melestarikan seni angklung.

    “Budaya adalah bagian dari pariwisata,” tulis Yudasmoro Minasiani, penulis untuk majalah Garuda Inflight dalam bukunya. Maka bagi Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau dengan kebudayaan yang beragam pula, kita memiliki aset pariwisata budaya yang tak terhitung jumlahnya. “Bayangkan,” lanjut Yudasmoro lagi, “sejumlah penulis asing rela melintasi ribuan kilometer demi menulis tentang budaya daerah-daerah di Indonesia”.[5]

    Pendapat Yudasmoro di atas bukan tanpa alasan, data dari Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif menyebutkan, angka pelancong mancanegara pada 2011 mencapai lebih dari 7,6 juta orang dengan jumlah transaksi mencapai 158 triliun. Angka tersebut mengisi 5 persen dari APBN Indonesia.[6] Itulah hal terbaik yang bisa bangsa ini dapatkan melalui pelestarian budaya tradisi, selain tentunya menjamin nilai-nilai sampai pada generasi penerus.

    Selain sebagai objek pariwisata, produk budaya tradisi pun memberi kontribusi langsung bagi masyarakat sehari-hari. Orang-orang di Kampung Budaya Sindangbarang di Bogor, pembuat papeda di Ambon, koki rendang di Padang, pedagang rujak kuah pindang di Bali, perajin batik di Lasem, dalang wayang kulit di televisi, bahkan pemain suling di perempatan adalah contoh mikro mencari keuntungan langsung dari pelestarian budaya. Meski demikian, memang tak bisa dipungkiri ada pula pelaku budaya yang semata mencari keuntungan darinya, tidak sekaligus ingin melestarikannya.

    Jutaan orang di Indonesia mendapatkan penghasilan setiap hari dari produk-produk budaya, maka bila tradisi-tradisi tadi sirna, jutaan orang pula yang akan kehilangan pekerjaan. Fungsi penopang ekonomi yang signifikan itulah yang bisa didapatkan bangsa Indonesia melalui pelestarian budaya.

    Rekonsiliasi Budaya Tradisi dan Kehidupan Modern Plato pernah bilang, “nilai-nilai baik tak pernah ketinggalan zaman”. Tentu termasuk nilai-nilai luhur dari budaya Indonesia. Nilai-nilai ke-Indonesia-an seperti gotong-royong, musyawarah, dan kebersamaan, adalah apa yang dianjurkan nenek moyang kita untuk dilakukan. Kita tidak bisa serta merta meniru nilai-nilai budaya asing, karena itu adalah anjuran nenek moyang mereka, maka bagaimana pun kita harus memilahnya.

    Dari pemaparan sebelumnya, budaya tradisi dalam kehidupan modern punya dua fungsi yakni budaya (sarana penampung nilai) dan ekonomi. Baik fungsi budaya dan ekonomi harus bergandengan tangan, tidak boleh timpang. Hal itu karena fungsi budaya sulit eksis bila masyarakat tidak melihat keuntungan darinya, begitu pun fungsi ekonomi takkan eksis bila produk budaya tadi telah sirna. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan.

    Dalam sudut pandang ekonomi, kita melihat sektor pariwisata kita berkembang pesat dari tahun ke tahun. Banyak di antara mereka mengunggulkan potensi tradisional mereka. Kita pun sudah melihat dukungan pemerintah dalam hal ini, contohnya pemerintah Bandung yang memberdayakan komunitas seni dalam Braga Festival tiap tahunnya.

    Dari sudut pandang budaya, adalah tugas budayawan dan akademisi untuk menyibak tabir nilai luhur yang tersembunyi di balik motif batik, bentuk kujang, lirik lagu Medan, bentuk rumah Honai atau cara pembuatan sasando. Saatnya nilai-nilai tadi bangun kembali dan memecahkan masalah akhir-akhir ini, misalnya untuk bersatu melawan korupsi. Saatnya masyarakat melakukan reaktualisasi nilai-nilai itu, menemukan solusi yang sebenarnya ada di tradisi kita sendiri.

    Mencari nasihat nenek moyang bukan berarti ketinggalan zaman, lagi pula benar kata fesyen Lazuli Sarae di Bandung dalam jargonnya, “local value, modern spirit!”.

    Referensi:
    Buku

    Ember, Carol R dan Melvin Ember. 1977. Cultural Anthropology. New Jersey: Prentice-Hall
    Mulyana, Deddy. 2012. Cultures and Communication. Bandung: Rosda
    Yudasmoro. 2012. Travel Writer. Solo: Metagraf

    Majalah

    National Geographic Traveler, Kuliner Sebagai Identitas Bangsa, edisi Agustus 2012
    Tempo English Edition, The Tales of Batik, edisi 21-27 Desember 2011

    Publikasi

    Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2011. http://www.budpar.go.id/budpar/asp/detil.asp?c=5&id=1749


    Sumber kutipan

    [1] Ember, Carol R dan Melvin Ember. 1977. Cultural Anthropology. New Jersey: Prentice-Hall hal.281
    [2] The Tales of Batik, Tempo English Edition, edisi 21-27 Desember 2011 hal.37
    [3] Mulyana, Deddy. 2012. Cultures and Communication. Bandung: Rosda hal.14
    [4] William Wongso. “Kuliner Sebagai Identitas Bangsa.” National Geographic Traveler edisi Agustus 2012 hal.23
    [5] Yudasmoro. 2012. Travel Writer. Solo: Metagraf hal.160
    [6] Laporan Akuntabilitas Kinerja Kemenparekraf 2011 hal 22
  • Termakan Pecel Beringharjo

    Termakan Pecel Beringharjo




    Bila Anda sedang menelusuri kawasan Malioboro, Yogyakata, lalu lapar, cobalah membeli nasi pecel. Ada enam penjual nasi pecel di depan pintu Pasar Beringharjo, tepat di ujung selatan Malioboro. Semua penjualnya ibu-ibu. Di tempat itu, Anda akan menikmatinya di trotoar, tempat orang lalu-lalang.

    Satu porsi nasi pecel diisi tiga komponen utama yakni nasi, sayuran rebus dan bumbu pecel. Biasanya nasi tak begitu banyak, hanya sebesar satu kepal tangan. Sayurannya sama banyaknya. Jenisnya amat beragam, ada kangkung, bayam dan kacang panjang. Bagi Anda pemuja pedas, penjual biasanya sediakan sambal berlimpah. Di samping nasi pecel, penjual aneka minuman pun siaga memuaskan dahaga Anda.

    Dari suap pertama, bumbu pecelnya terasa sangat gurih dan kaya. Gurih kacang langsung tersebar ke penjuru mulut. Seperti mengunyah segenggam kacang sekaligus. Kacangnya ditumbuk sangat halus hingga tak ada serpihnya. Warna bumbunya cokelat kemerahan dengan kekentalan yang mirip susu kental manis. Memudahkan kita untuk memindahkan bumbunya ke atas nasi atau pun sayur.

    Selain rasa kacang yang mendominasi, di baliknya ada kencur sesekali keluar. Seluruh bumbu dibalut pula oleh pedas dan manis yang tipis. Pedasnya tak terlalu kentara, hanya seperti sambal kemasan. Namun di sela-sela itu ada pula potongan cabai tipis, siap memberikan kejutan pedas bila Anda kebetulan menggigitnya. Semua rasa itu direkatkan oleh rasa rempah-rempah, bawang merah juga garam dan gula yang perlahan tampil.

    Dari banyaknya bahan, bumbunya memang merangsang indera pengecap Anda. Namun Anda tak perlu khawatir lidah Anda mati rasa saking asinnya. Sebelum makan, aduklah bumbu tadi pada sayur dan nasinya hingga merata. Ramainya bumbu tadi seketika berdamai dalam nasi yang tawar. Beberapa sayuran yang cenderung pahit pun sangat cocok menetralisir rasa. Keseimbangan rasa itu diperkaya pula oleh rasa manis dari kecambah. Lidah Anda bisa menari, bahkan menggelinjang saat menelusuri cita rasanya.

    Bila Anda belum puas dengan sayuran, penjual biasanya sediakan pilihan. Ada kepala ayam, ada sate telur, juga tempe yang semuanya dibacem. Ada pula mi goreng jawa, tempe goreng dan lumpia. Berbagai pilihan itu bisa jadi membuat Anda bingung memilih. Ini itu atau itu ini. Anda sibuk hingga tak sadar waktu. Tanpa sadar Anda telah termakan oleh seporsi pecel di depan Beringharjo. []
  • Buku :
    Travel Writer

    Buku :
    Travel Writer

    "Travel Writer"

    Oleh Yudasmoro Minasiani


    Penerbit Metagraf


    Cetakan Pertama, 2012

    Profesi penulis perjalanan kini mulai digandrungi anak muda. Ada yang profesional, ada yang sekadar melampiaskan hobi. Apapun tujuannya, menulis catatan perjalanan harus dibekali kemampuan jurnalistik yang mumpuni.

    Berbeda dengan tips menulis perjalanan yang selama ini ada. Yudasmoro menempatkan penulis perjalanan di rel jurnalistik. Artinya, kata Yudasmoro, penulis perjalanan tetaplah wartawan yang harus mampu melakukan wawancara dan menulis apik. Penulis perjalanan bukan sekadar yang senang bepergian atau gemar bertualang.

    Buku ini dibagi menjadi 9 bab. Buku dimulai dengan berbagai keuntungan penulis perjalanan juga motivasi untuk memulai. Hal itu dilanjutkan dengan perkenalan konsep dan tips praktis jurnalistik, fotografi, juga bepergian.

    Masuk di bagian tengah, pembaca akan dijamu oleh berbagai petunjuk teknis mengenai penulisan perjalanan. Petunjuk ini tidak berkutat soal teori, tapi dari pengalamannya menulis perjalanan selama 8 tahun. Secara akrab, ia pun menggenapinya dengan berbagai solusi untuk masalah yang biasa timbul.

    Di akhir, akan ada contoh tulisan untuk 7 tema, misalnya wisata horor atau kuliner. Contoh itu dia kutip langsung dari tulisan di majalah. Hal ini sangat membantu pembaca untuk bereksperimen dan memperkaya gaya tulisan. Pembaca pun makin dimanjakan dengan petunjuk mengirim tulisan ke media massa.

    Tiap babnya dibuka dengan kutipan soal bepergian. Sepanjang buku pun, Yudasmoro secara tegas membuat garis antara penulisan perjalanan dan fiksi. Ia tegaskan bahwa menulis perjalanan adalah tetap fakta, bukan hanya berbekal kata-kata puitis. Kemampuan memainkan adegan dan ketajaman deskripsi adalah cara agar tulisan perjalanan jadi ciamik.

    Tak hanya hal-hal baik, Yudasmoro pun secara jujur ceritakan aneka pengalaman buruknya. Misalnya saat foto liputan hilang atau saat menghadapi calo. Ia pun secara terang-terangan menyoal honor tulisan di media, serta bagaimana menaikkan pendapatan darinya.

    Mengingat buku soal ini sangat langka, buku ini sangat tepat jadi panduan. Buku ini cocok sekali bagi mereka mahasiswa jurnalistik yang ingin fokus di penulisan perjalanan. Bagi mereka yang gemar bepergian dan ingin menulis darinya, buku ini pun amat sesuai. Begitu pun bagi mereka, siapapun, yang ingin berbagi pengalamannya saat bepergian. [] (Rio Rahadian, mahasiswa Jurnalistik Unikom)
  • Diulem Abdi Dalem

    Diulem Abdi Dalem

    Nilai-nilai keraton hadir dalam bentuk manusia, makan ubi bersama

    Keringat saya meluncur dari dahi. Saat itu hampir tengah hari dan rombongan turis baru saja lewat Plataran Kedaton, Keraton Yogyakarta. Kerumunan berpakaian kaus itu bertolak belakang dengan para abdi dalem yang berpakaian formal. Para abdi memakai kemeja lurik biru tua lengkap dengan blangkonnya. 


    "Mas yang dari Bandung, ya?,” panggil salah satu abdi dalem yang sendirian lewat depan saya. Saya tadi melihatnya sebagai penjaga tiket di depan. Ia lalu duduk bersila di teduhan pohon, menepuk pasir di sebelah kakinya, memberi tanda bagi saya untuk ikut serta.

    Saat saya menghampiri, ia bertanya banyak hal. Ia bertanya pekerjaan saya, tujuan saya ke keraton dan apakah saya sendirian atau tidak. Jawaban apa pun yang saya berikan dia tak menilainya, dia hanya akan tersenyum simpul dan bertanya lagi. Kami lalu berfoto atas permintaan dia.

    “Bapak mau ubi? Ini saya beli di titik nol kilometer,” tanya saya sambil membuka keresek yang dari tadi saya bawa sekenanya. Dia tidak menjawab, tapi bangkit berdiri. Dia mengajak saya bangkit dan mengikutinya. 


    Saat kami sampai di toko suvenir di sebelah timurnya, ia menunjukkan saya foto-foto dari Sri Sultan. “Ini waktu kemarin dilantik jadi gubernur,” katanya. “Cuma dia yang dilantik sama presiden lho,” tuturnya bangga. Ia pun memperlihatkan yang lainnya, ada yang beserta Gusti Kanjeng Ratu Hemas, ada anaknya, ada saat sendiri dengan pakaian tradisional, dan lainnya.

    Puas menjelaskan, ia mengajak saya ke utara, lalu memutar lagi ke barat, dekat pertemuan kami semula. Dia tak bilang mau ke mana, tapi saat ia menunjuk satu rumah di balik bangsal Trajumas, dia tersenyum. “Kalau mau makan di sini saja, enak toh?,” tanyanya sambil terus berjalan. Tanpa perlu bicara, ia telah mengundang saya ke kediaman abdi dalem. Saat kami lewat, ada angin menjatuhkan mangga dari pohonnya, dia sempatkan mengambil itu. 
    Kami duduk ditemani alunan gamelan dari bangsal Srimenganti, tak jauh dari situ. Temannya sesama abdi dalem lewat dan menyapa. Dia lalu mengambil pisau dari lemari di depan rumah itu dan memetik satu lembar daun jati. “Sini mas, ubinya kita kupas biar enak,” ujarnya sambil memotong ubi yang dia pilih. “Monggo,” ia menyilakan mangga yang dia ambil untuk dimakan.

    Di antara ubi dan mangga, dia mengajak berbincang lagi. Dari percakapan saya tahu dia sudah 28 tahun mengabdi pada Sri Sultan. Dia juga amat semangat saat bercerita soal tugasnya saat Gunungan dua hari sebelumnya.


    Selanjutnya, dia bercerita soal tembang jawa semisal pangkur dan asmarandana. “Pungkur itu tentang menuntut ilmu,” jelasnya usai melagukannya langsung. Dia lalu mendaftar tembang lainnya seperti kinanti, wirangrong, pucung dan dangdanggula. Dia juga sempat menyindir percintaan masa kini melalui tembang asmarandana. Menurutnya, percintaan masa kini terlalu bicara harta.

    Tak hanya soal lagu, dia pun mengajari saya berbahasa Jawa. “Ada kromo inggil dan ngoko,” katanya “kromo inggil itu ‘kados pundi kabaripun?’ kalau ngoko itu ‘piye kabare?’,” jelasnya. Sebelumnya ia pun membuka-buka buku pedoman Keraton yang saya beli lalu menjelaskan peta dari tugu, Malioboro dan Keraton yang mengambil garis lurus. Dia pun menjelaskan lambang keraton, katanya itu adalah tulisan ‘HB’ untuk Hamengku Buwono dalam aksara Jawa. 



    Perbincangan kami berlanjut dengan komposisi sebagai berikut, makan ubi, mengambil mangga yang jatuh lagi, mengupas mangga, mengobrol dan tertawa. Semuanya selesai saat gamelan terhenti. Kata dia, pertunjukan di bangsal Srimenganti memang sampai tengah hari. Setiap harinya pertunjukan berbeda. Bila Selasa ada gamelan, Rabu ada wayang, hari lainnya ada tembang jawi.

    Perbincangan kami vakum, tanda kami sudah selesai. “Mas punya nomor telepon?” tanyanya pelan sambil mengeluarkan ponsel dari dalam bajunya. Siapa sangka abdi dalem punya ponsel. Saya berikan yang saya dan sebaliknya. “Nama bapak siapa?,” tanya saya. “Saya Wagito,” katanya “abdi dalem” ujarnya sambil mengulurkan tangan. Tangan kanan saya menyambutnya. Sementara tangan kiri saya membawa mangga yang dibungkuskan dia untuk saya bawa. []
  • Bhineka ala Gus Dur

    Bhineka ala Gus Dur


    Bayangkan Gus Dur berkelakar ini di gereja:
    "Satu kali ada kyai berdoa. 'Ya Allah, tolong saya, anak saya lima tapi dua masuk Kristen,' curhatnya. Tak lama Tuhan menjawab, 'Anakmu itu lima, cuma dua yang Kristen. Lah anakku cuma satu, masuk Kristen pula'"

    Mendengar itu, seluruh peserta Diversity Youth Camp, Minggu, (28/10) sore, di Maha Vihara Mojopahit, Mojokerto, lantas tertawa bersama. Pelatihan itu membahas kebhinekaan. Pesertanya ada 45 orang dari berbagai agama, suku dan orientasi seks.

    Cerita di atas diungkap oleh Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur dalam sesinya di pelatihan itu. Nay Wahid, biasa ia disapa, memastikan tak ada yang tersinggung dengan bertanya, "ada yang marah nggak?". Peserta Kristen kompak menggeleng.

    Begitulah Gus Dur, kata Nay. Ia tak hanya menoleransi keragaman, tapi malah merayakannya. Bagaimana merayakan perbedaan adalah dengan lelucon rasis, dan semuanya tertawa bersama. Gus Dur pun punya lelucon soal Kuli dan Kyai, atau soal orang Cina. Bagi Nay, orang yang bisa merayakan perbedaan hanyalah orang-orang yang sudah terpenuhi. Terpenuhi secara batin dan bukan materi. Bagi Nay, ayahnya adalah orang seperti itu.

    Selama ini Gus Dur dikatakan banyak membela kaum minoritas misalnya penganut Kristen dan etnis Tionghoa. Nay Wahid menegaskan, "Dia tidak pernah membela Kristen atau Tionghoa. Dia membela manusia, membela kemanusiaan." Nay melanjutkan di makam Gus Dur pun, bukan ditulis seorang pejuang pluralisme, tapi pejuang humanisme.

    Bagi Gus Dur, biarkanlah yang Kristen merayakan natal, biarkanlah yang Tionghoa menampilkan barongsay. Biarkanlah mereka berbeda.

    Ada satu cerita soal Guntur Romli. Diceritakan Nay, Guntur Romli dahulu amat membenci Gus Dur. Bagi Romli, Gus Dur punya pemikiran toleransi yang salah. Satu kali Gus Dur datang dan bicara di pesantren tempat Romli belajar. Di sesi pertanyaan, Romli semangat bertanya. Ia menyalahkan pemikiran Gus Dur soal toleransi.

    Di luar dugaan, Gus Dur malah menjawab, "anu siapa tadi yang Islamnya krisis? Jadi ustadz kok Islamnya krisis?". Karena bagi Gus Dur, seorang Islam yang kuat akan melindungi penganut agama lain. Hal ini karena ia tidak merasa terancam dengan keberadaan agama lain. Bila ia ketakutan dengan eksisnya agama lain, berarti ia sudah meremehkan umatnya sendiri, atau dalam bahasa Gus Dur, "Islamnya krisis".

    Bila orang berpikir Gus Dur itu aneh, maka Indonesia memang butuh orang aneh. Seaneh Gus Dur yang bukan hanya menoleransi perbedaan, tapi malah merayakannya. Selamat merayakan perbedaan! []

    - Bandung, 2 November 2012
  • Teruntuk Indonesia yang Belum Siap Beragam

    Teruntuk Indonesia yang Belum Siap Beragam



    Sahabatku yang baik,

    Bila kau kebetulan lewat sekolah dasar, lalu melihat tulisan “Bhineka Tunggal Ika”, copotlah lambang itu. Kau tahu, untuk apa lambang itu lagi hadir di sekolah kita. Semboyan itu kini jadi sekadar kata-kata.

    Sahabatku yang mungkin kaget,

    Mungkin permintaanku tadi terlalu kasar. Namun tanyakan pada dirimu sendiri, adakah yang masih berfungsi dari lambang itu? Tak perlu sulit mencari, lihat saja televisi. Berita-beritanya telah menjawab. Tengoklah konflik Syiah di Sampang, kerusuhan etnis Madura di Kalimantan dan perusakan gereja GKI di Bogor. Bukankah memang ada yang salah?

    Ada yang salah, tentu. Ingat-ingatlah saat dulu. Meski lambang tadi dipasang di ruang kelas, tepat di bawahnya guru tetap mengajarkan tentang kebaikan suku mereka, juga kejelekan suku lain. Meski lambang tadi dipasang di masjid atau gereja, di dalamnya tetaplah khutbah yang menyatakan bahwa hanya agama sendirilah yang masuk surga. Sadar tak sadar, suka tak suka, ajaran mereka telah membentuk kita jadi sensitif SARA. Berikutnya kita secara tak sadar mengejek teman pindahan dari luar daerah, atau yang berbeda agama. Tunggu saja waktunya sampai ejekan tadi mengambil bentuknya jadi pedang dan parang.

    Sahabatku yang berbeda,

    Kita tak pernah bisa memilih dilahirkan sebagai apa. Apakah jadi Kristen, Hindu, Islam, Batak, Jawa, Papua, gay, lesbian atau apa pun. Takkan pernah. Namun pada akhirnya ada satu pilihan di tangan kita. Pilih apakah kita akan mempermasalahkan perbedaan tadi atau malah merayakannya?

    Sahabatku calon pemimpin,

    Indonesia adalah negara dengan keragaman. Perlu usaha lebih untuk ciptakan damai di sini. Namun itu takkan sulit. Jadilah orang pertama yang memilih tidak memakai hinaan rasis di halaman rumah kita, jadilah orang pertama yang memilih tidak tertawa melihat cara ibadah agama lain. Jadilah orang yang memilih tersenyum pada orang apa pun identitas sosialnya. Jadilah orang yang merayakan perbedaan. Maka dengan sendirinya, tanpa perlu kau lakukan, sebenarnya kau sudah menempatkan semboyan negara di tempat yang seharusnya.

    Indonesia hanya perlu orang seperti itu.



  • #DiversityYouthCamp: Bukti Soal Perbedaan

    #DiversityYouthCamp: Bukti Soal Perbedaan

    Hai apa kabar?
    Pernah dengar yang satu ini?

    “Sunda itu plin plan, Madura itu arogan”
    “Islam itu teroris, homoseksual itu sadis.”
    “Cina tukang tipu, Jawa tukang ngadu”

    Kalimat semacam itu terlalu sering terdengar di telinga kita. Ya, itulah stereotip. Ketika kita menilai orang berdasarkan identitas sosialnya. Kita mendengarnya di pasar, di rumah, bahkan di sekolah dan kampus, di mana pun.

    Sahabatku yang baik,

    Sejak kita lahir, kita dicekoki berbagai label soal orang dari budaya lain. Jangan berteman dengan orang Kristen, jangan berteman sama lesbian, apalagi Kristen yang lesbian. Melalui nasihat-nasihatnya, orang tua kita, guru-guru kita, teman main kita, bahkan pemuka agama kita, secara tak sadar telah membuat kita makin intoleran.

    Hingga usia dua puluh tahun kini, nasihat sejenis masih saya terima. Selama itu pula, saya melihat berbagai efek besar yang mereka timbulkan. Teror terhadap Syiah di Sampang, perusakan gereja GKI di Bogor, warga Madura di Kalimantan yang bersitegang dengan pribumi, adalah hasil menumpuk dari ejekan sederhana di halaman rumah kita. Ejekan-ejekan yang berubah bentuk jadi pedang dan parang.

    Sahabatku yang baik,

    Bila sejenak kita berpikir. Adakah ejekan kita pernah terbukti? Nihil. Saya orang Sunda yang berbicara langsung, tetangga saya Batak dan murah senyum. Teman saya, dia Islam dan bukan teroris. Dua teman lelaki saya, mereka berpacaran sebelum akhirnya putus, mantan pacarnya tinggal di Surabaya masih hidup sampai sekarang. Teman saya Cina dan punya timbangan tepat, tanpa koin pemberat. Jadi, tak pernah ada bukti pasti soal stereotip. Bila ejekan-ejekan tadi tidak berdasar, lalu apa yang sebenarnya kita permasalahkan?

    Sekali lagi saya bilang, tidak ada bukti untuk itu semua, takkan pernah ada. Yang jadi bukti adalah bahwa telah banyak nyawa yang hilang, rumah yang dibakar, dan hati yang terhina. Mengapa kita harus membayar sebegitu mahal? Melihat hal itu, masihkah kita mau hidup berbekal prasangka dan curiga?

    Sahabatku yang baik,

    Tiga hari kemarin kita telah banyak dibekali. Dibekali bagaimana hidup damai di Indonesia. Situasi sederhana yang kita alami, semacam mengobrol dengan orang Kristen, berbagi camilan dengan orang Kediri, juga berbagi ruang tidur dengan homoseksual, adalah pelajaran kita yang tak ternilai. Kita mendobrak batas budaya dan berani berinteraksi dengan siapa pun.

    Dan di hari terakhir ada satu bukti yang kita buat bersama. Bukan bahwa Sunda itu plin plan atau Madura itu arogan. Bukan soal itu. Tapi bukti bahwa perbedaan itu patut kita rayakan. Dan bukankah kita berhasil melakukannya?

    Terimakasih untuk sahabat

    Salam, wassalamualaikum, om santi santi santi om


    Foto oleh : @StaraMuda
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13