Teruntuk Indonesia yang Belum Siap Beragam



Sahabatku yang baik,

Bila kau kebetulan lewat sekolah dasar, lalu melihat tulisan “Bhineka Tunggal Ika”, copotlah lambang itu. Kau tahu, untuk apa lambang itu lagi hadir di sekolah kita. Semboyan itu kini jadi sekadar kata-kata.

Sahabatku yang mungkin kaget,

Mungkin permintaanku tadi terlalu kasar. Namun tanyakan pada dirimu sendiri, adakah yang masih berfungsi dari lambang itu? Tak perlu sulit mencari, lihat saja televisi. Berita-beritanya telah menjawab. Tengoklah konflik Syiah di Sampang, kerusuhan etnis Madura di Kalimantan dan perusakan gereja GKI di Bogor. Bukankah memang ada yang salah?

Ada yang salah, tentu. Ingat-ingatlah saat dulu. Meski lambang tadi dipasang di ruang kelas, tepat di bawahnya guru tetap mengajarkan tentang kebaikan suku mereka, juga kejelekan suku lain. Meski lambang tadi dipasang di masjid atau gereja, di dalamnya tetaplah khutbah yang menyatakan bahwa hanya agama sendirilah yang masuk surga. Sadar tak sadar, suka tak suka, ajaran mereka telah membentuk kita jadi sensitif SARA. Berikutnya kita secara tak sadar mengejek teman pindahan dari luar daerah, atau yang berbeda agama. Tunggu saja waktunya sampai ejekan tadi mengambil bentuknya jadi pedang dan parang.

Sahabatku yang berbeda,

Kita tak pernah bisa memilih dilahirkan sebagai apa. Apakah jadi Kristen, Hindu, Islam, Batak, Jawa, Papua, gay, lesbian atau apa pun. Takkan pernah. Namun pada akhirnya ada satu pilihan di tangan kita. Pilih apakah kita akan mempermasalahkan perbedaan tadi atau malah merayakannya?

Sahabatku calon pemimpin,

Indonesia adalah negara dengan keragaman. Perlu usaha lebih untuk ciptakan damai di sini. Namun itu takkan sulit. Jadilah orang pertama yang memilih tidak memakai hinaan rasis di halaman rumah kita, jadilah orang pertama yang memilih tidak tertawa melihat cara ibadah agama lain. Jadilah orang yang memilih tersenyum pada orang apa pun identitas sosialnya. Jadilah orang yang merayakan perbedaan. Maka dengan sendirinya, tanpa perlu kau lakukan, sebenarnya kau sudah menempatkan semboyan negara di tempat yang seharusnya.

Indonesia hanya perlu orang seperti itu.



Comments

  1. Mari tularkan virus-virus merayakan perbedaan....

    Kita tak pernah bisa memilih dilahirkan sebagai apa. ->suka banget.

    ReplyDelete
  2. "damai" sudah hadir disini rio, :)

    nice posting..

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"