Posts

Showing posts from November, 2013

Media, Prasangka, Simalakama

Image
Yang paling bertanggung jawab atas penyebaran stigma adalah media. Sebab kemampuannya untuk menyebarkan nilai secara serempak, sadar atau tidak, media telah membentuk persepsi publik mengenai identitas tertentu. Lewat film, sinetron dan iklannya, publik diajak percaya bahwa orang Batak itu begini, muslim itu begitu, gay itu demikian. Tak terhindarkan, publik pun belajar generalisasi.

Berita lebih buruknya, media kita sedang hobi mengaitkan segala sesuatunya dengan identitas. Muncul berita, “Seorang Gay Membunuh” atau “Perempuan Kristen Diperkosa”. Nah, kenapa juga gay atau Kristen harus disebutkan? Tentu kita tahu ada heteroseksual yang juga membunuh. Pun tidak ada hubungan antara pemerkosaan dan agama seseorang. Dan kita tidak bisa menentukan apakah itu buah keteledoran wartawan atau memang kesengajaan.

Bayangkan bagaimana Anda terpaksa percaya bahwa suku tertentu memang menyebalkan. Misalnya Anda belum pernah kenal orang Batak secara langsung dan hanya tahu dari berita pembunuha…

Telepenis

Image
Belahan payudaranya saya sensor.
Ketika saya menonton “Curse of the Golden Flower” dua hari lalu, saya heran dengan payudara permaisuri yang diburamkan. Seingat saya, waktu menontonnya dulu, belahan payudaranya memang terlihat, tapi saya tak begitu peduli. Kini, saat itu disensor, justru saya makin dibuat penasaran.

Barusan saja, saya melihat iklan minuman energi yang memajang puluhan laki-laki atletis tanpa atasan. Bawahan mereka jeans. Adegannya adalah mereka berlari di padang rumput. Dada mereka yang bidang itu bergoyang naik turun.
Dua visual itu sama-sama menjual badan untuk menarik perhatian. Keduanya sama-sama menyajikan dada untuk mengikat mata. Namun, marilah masuk akar soal, kenapa iklan itu tidak turut diburamkan?

Rupanya inilah yang disebut oleh Dewi Chandraningrum sebagai “kamera berkelamin”. Dalam tulisannya di buku “Jurnalisme Keberagaman”, Dewi menyoal pembedaan perlakuan media terhadap tubuh perempuan dan laki-laki. Perempuan diberi banyak batasan, sedangkan lelaki …

Tolerance Is Not a Destination

Image
Is there still racist in USA? Yes. One news in the Jakarta Post Nov. 9 answered it for me. A NFL football team called “Washington Redskins” has raised a protest in Minneapolis on Thursday. The protesters, of course, are American Indians which say such name is disrespectful. Former Minnesota Gov. Jesse Ventura supported the protesters, while Redskins owner Dan Synder said it won’t be changed.

Yes, people, racist is still out there. Even in the world’s largest democracy named the United States. It is also a shame for USA that two months earlier just cellebrated 50 years of Martin Luther King’s speech about equality. This is also a challenging moment for a nation that just breaking racial boundaries once Obama is elected.
As Americans can be racist, Indonesians can too. As we can see there is still a lot of racism, and it is unquestionable. Even in a nation that has “bhinneka tunggal ika” (unity in diversity) as a national motto, racist insult is still exists. Two days ago, my friend Nadi…