Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Media, Prasangka, Simalakama

    Media, Prasangka, Simalakama

    Si Unyil sebelum punya laptop
    Yang paling bertanggung jawab atas penyebaran stigma adalah media. Sebab kemampuannya untuk menyebarkan nilai secara serempak, sadar atau tidak, media telah membentuk persepsi publik mengenai identitas tertentu. Lewat film, sinetron dan iklannya, publik diajak percaya bahwa orang Batak itu begini, muslim itu begitu, gay itu demikian. Tak terhindarkan, publik pun belajar generalisasi.

    Berita lebih buruknya, media kita sedang hobi mengaitkan segala sesuatunya dengan identitas. Muncul berita, “Seorang Gay Membunuh” atau “Perempuan Kristen Diperkosa”. Nah, kenapa juga gay atau Kristen harus disebutkan? Tentu kita tahu ada heteroseksual yang juga membunuh. Pun tidak ada hubungan antara pemerkosaan dan agama seseorang. Dan kita tidak bisa menentukan apakah itu buah keteledoran wartawan atau memang kesengajaan.

    Bayangkan bagaimana Anda terpaksa percaya bahwa suku tertentu memang menyebalkan. Misalnya Anda belum pernah kenal orang Batak secara langsung dan hanya tahu dari berita pembunuhan oleh orang yang kebetulan Batak, pencopetan di Jakarta oleh orang yang kebetulan Batak, dan segala hal buruk yang secara kebetulan berafiliasi dengan Batak. Lalu kita seenaknya berkesimpulan bahwa semua orang Batak memanglah menyebalkan. Ya, semudah itulah kita berprasangka. Inilah benih menuju perkelahian atas nama SARA.

    Lihatlah antisipasi tetangga kita Malaysia: Upin Ipin. Saya melihat ada alasan besar di balik pembuatannya, bukan kartun sekadar penghibur. Upin Ipin adalah ikhtiar edukasi pada publik. Tengoklah berbagai interaksi yang diciptakan di situ. Keseharian yang menyenangkan antara Jarjit Singh yang India, Ehsan dan Mei Mei yang Tionghoa, Mail, Fizi, Upin dan Ipin yang Melayu, bahkan Susanti dari Indonesia. Betapa berharganya pelajaran toleransi yang anak-anak Malaysia saksikan ini.

    Sebetulnya media Indonesia pernah selangkah lebih maju, dulu. Bentuknya kecil dan lucu, namanya si Unyil yang oleh UNICEF disebut sebagai “puppet with purposes”. Maksud saya Unyil yang kucing-kucingan dengan Ucrit, Usro juga Meilani. Bukan Unyil yang punya laptop dan hanya sibuk berkomentar soal proses produksi makanan kaleng. Ada pula serial Bajaj Bajuri yang mempertemukan orang berbagai suku dalam situasi komedi.

    Tayangan-tayangan demikian adalah esensial dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. Adegan Meilani yang Tionghoa bisa kucing-kucingan dengan Unyil yang Sunda adalah pelajaran penting bahwa semua tetap bisa hidup bertetangga. Adegan Mpok Hindun yang Jawa tertawa bersama Ucup yang Betawi dalam Bajaj Bajuri adalah bahasa toleransi yang mudah dipahami. Biarlah masing-masing dengan khasnya, kamu dengan gayamu, aku dengan gayaku, mari kita tertawa bersama-sama.

    Tapi ini simalakama. Okelah kita tahu bahwa meski kita berbeda-beda tetap bisa hidup bertetangga. Okelah kita tidak masalah kucing-kucingan bersama keturunan Tionghoa. Tapi di saat yang sama kita belajar semua orang Batak adalah bersikap mirip Bang Tigor, semua orang Tionghoa bersikap mirip Meilani, semua Sunda mirip Unyil, semua Malaysia mirip Upin dan Ipin. Tayangan ini ternyata mempertebal stigma juga, sementara bukan inilah yang kita harapkan. Saya akan meminta Unyil pemilik laptop menjelaskan bagaimana media membuat ini semua.***

    Referensi lanjutan :
    1. Potensi konflik lintas budaya di Indonesia dalam Cultures and Communication, Deddy Mulyana
    2. Prasangka dalam Komunikasi Lintas Budaya, Larry A. Samovar dkk
    3. Media dalam Jurnalisme Keberagaman: Sebuah Panduan Peliputan, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman
    4. Si Unyil dalam web UNICEF
    Gambar dari Wikipedia
  • Telepenis

    Telepenis


    Belahan payudaranya saya sensor.

    Ketika saya menonton “Curse of the Golden Flower” dua hari lalu, saya heran dengan payudara permaisuri yang diburamkan. Seingat saya, waktu menontonnya dulu, belahan payudaranya memang terlihat, tapi saya tak begitu peduli. Kini, saat itu disensor, justru saya makin dibuat penasaran.

    Barusan saja, saya melihat iklan minuman energi yang memajang puluhan laki-laki atletis tanpa atasan. Bawahan mereka jeans. Adegannya adalah mereka berlari di padang rumput. Dada mereka yang bidang itu bergoyang naik turun.

    Dua visual itu sama-sama menjual badan untuk menarik perhatian. Keduanya sama-sama menyajikan dada untuk mengikat mata. Namun, marilah masuk akar soal, kenapa iklan itu tidak turut diburamkan?

    Rupanya inilah yang disebut oleh Dewi Chandraningrum sebagai “kamera berkelamin”. Dalam tulisannya di buku “Jurnalisme Keberagaman”, Dewi menyoal pembedaan perlakuan media terhadap tubuh perempuan dan laki-laki. Perempuan diberi banyak batasan, sedangkan lelaki dibiarkan.

    Dewi menyomot kasus Inul Daratista yang goyangannya diprotes oleh Rhoma Irama. Padahal, menurut Dewi, Rhoma Irama pun pernah membuka kancing baju sehingga penonton bebas memandang dadanya. Tak pernah ada yang mencekalnya.

    Dua kasus itu kembar, hanya beda jenis kelamin. Nah, kenapa kita seolah menutup mata bahwa Rhoma juga menjadikan birahi sebagai bumbu seni? Inilah persisnya cerminan budaya patriarki. Dalam budaya ini, perempuan dianggap sebagai objek, dan karenanya harus dibatasi, ditutupi, dikuasai, oleh si subjek yang lelaki.

    Dalam budaya yang subjeknya laki-laki, birahi perempuan tidak dianggap, tidak dihitung, tidak ada. Biarlah mereka tak berbirahi, bila masih menggoda sunat saja vaginanya. Maka lelaki membawa kain-kain untuk menutupi perempuan. Lelaki bilang ini untuk perlindungan, padahal bentuk penguasaan.

    Di budaya yang tak menghitung perempuan, perempuan mengalami gempuran tiga sisi. Pertama, tubuhnya ditutupi, dianggap tabu dan tak boleh diganggu. Kedua, birahinya tidak dihitung. Tapi sebaliknya, inilah poin ketiga, bila ada pemerkosaan tetap saja perempuan yang disalahkan.

    Dalam dunia patriarki, lelaki bebas berkelana, sedangkan perempuan hanya boleh di tiga tempat saja: dapur, sumur dan kasur. Di dunia yang dikuasai laki-laki, media pun mewadahi keinginan dan kepentingan mereka-mereka ini.

    Maka kasihan perempuan di televisi. Saat Miss World 2013 digelar di Indonesia beberapa bulan lalu, gelombang penolakan muncul di jalanan hingga media sosial. Lelaki berargumen bahwa ajang ini hanya sebuah eksploitasi tubuh perempuan dan kepentingan kapitalis. Warga Indonesia sepatutnya menolak ini, katanya. Di sisi lain, ajang pencarian lelaki atletis L-Men of the Year 2013 digelar hampir berbarengan. Dalam ajang ini, lelaki dibiarkan bertelanjang dada, bahkan itulah poin utama penilaiannya. Meski L-Men sudah digelar sejak 2004 di Indonesia, tak pernah ada sekali pun penolakan.

    Inilah televisi saat ini. Ia menyembunyikan tubuh perempuan sambil menjualnya dalam diam. Lewat sinetron, film dan bahkan iklan, ia telah mengurung perempuan dalam dunia buatan tentang air mata. Saat perempuan melihat iklan pembersih vagina, perempuan sibuk berencana tentang memuaskan diri suami. Memuaskan suami, bukan dirinya sendiri.***
  • Tolerance Is Not a Destination

    Tolerance Is Not a Destination

    photo by minnesota.publicradio.org

    Is there still racist in USA? Yes. One news in the Jakarta Post Nov. 9 answered it for me. A NFL football team called “Washington Redskins” has raised a protest in Minneapolis on Thursday. The protesters, of course, are American Indians which say such name is disrespectful. Former Minnesota Gov. Jesse Ventura supported the protesters, while Redskins owner Dan Synder said it won’t be changed.

    Yes, people, racist is still out there. Even in the world’s largest democracy named the United States. It is also a shame for USA that two months earlier just cellebrated 50 years of Martin Luther King’s speech about equality. This is also a challenging moment for a nation that just breaking racial boundaries once Obama is elected.

    As Americans can be racist, Indonesians can too. As we can see there is still a lot of racism, and it is unquestionable. Even in a nation that has “bhinneka tunggal ika” (unity in diversity) as a national motto, racist insult is still exists. Two days ago, my friend Nadia was parking her car wrong. Someone yelled to her “Dasar Cina!” (Chinese!), without any explanation on how her race affects her parking.

    Racism is not biologically given, but taught. I remember a picture of a Negro and a white baby are touching each other. Once we see the picture, we remember that each of us has respect within. We do not need to listen to King’s speech first, even before saying ‘mama’, the spirit equality and respect are already inside.

    As we grown up, we hear too much stereotypes that made our perception changed. Tolerance and respect become unknown, unpopular. We prefer to believe in prejudice, even it has never been proven. Our interaction to other race depends on just stigma. Without even realize that such prejudice is the best seed for racism in the future.


    Like the best quality sunflower seed in the arctic, tolerance seed that fed by prejudice won’t work at all. Once tolerance has gone, racism suddenly dominates the conversation. That is why tolerance now has changed as a never-ending effort. Now, tolerance is not a start, nor a destination, but the journey itself.***
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13