-->

Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Tinggal di Amerika dan Hambatan Budaya

    Tinggal di Amerika dan Hambatan Budaya


    Figure 1: Gedung kongres Amerika Serikat, The Capitol. (Rio Tuasikal)

    Saya adalah penggemar berat mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya (Thanks to bu Iin dosen favorit saya ketika kuliah). Namun, segala pengetahuan itu sepertinya tidak berarti apa-apa ketika saya tinggal di Amerika Serikat. Selalu ada canggung, selalu ada malu, selalu ada salah.

    Saya sudah dua pekan tinggal di College Park, Maryland, sebagai bagian dari program PPIA-VOA Fellowship di Washington D.C. Saya bekerja di VOA Indonesian Service di mana seluruhnya adalah orang Indonesia, dan tinggal di rumah seorang diaspora Indonesia bersama setidaknya 5 orang Indonesia lain.  

    But most of the time I do everything alone: commute, groceries shopping, you name it. So I need to face cultural barrier like every single hour. Contoh paling sederhana adalah sapaan "hi, how you're doing?" yang saya masih menerka-nerka kapan waktu yang cocok menggunakannya kapan tidak, kepada siapa, pada situasi seperti apa.

    Hal yang paling jadi tantangan buat saya adalah aksen. Saya bisa nyaman dengan aksen Amerika pantai timur yang biasa saya tangkap dalam film atau program berita televisi. Ini pun saya belum bisa menangkap seluruh kalimatnya dengan sempurna. Apalagi kalau sudah aksen lain, Southern, Latino, atau South Asian, ya wassalam!

    Dari sejumlah komunikasi yang terjadi antara saya dengan orang-orang tersebut, saya merasa selalu kesulitan. Seringkali saya mengatakan "I'm sorry," berharap mereka bicara pelan-pelan tapi mereka malah membuat kalimatnya lebih detail dan panjang. Saya kemudian melirik sertifikat IELTS saya sambil nangis.

    Kemudian, saya juga harus memikirkan respon yang cocok ketika basa-basi. Kadang ada penjual makanan atau kasir mengajak saya ngobrol. Nah, saya harus mencari yang tepat, apakah "awesome", "cool", "sure thing", "really", "whoa", atau kombinasi semuanya. Selain itu, ada juga soal respon ketika berkenalan, mendengar terimakasih, atau diucapkan selamat datang. Biasanya saya tertawa lembut atau senyum saja. Berdoa semoga konteksnya tepat dan paling saya dianggap pendiam.

    Saya ingat pernah dimarahi oleh penjual sandwich di New York saat berkunjung dua tahun lalu. Saat itu kasirnya salah scan sandwich orang. Saya menjelaskan itu bukan milik saya. Eh mas-nya ngomel-ngomel pake aksen latin. Mau menjelaskan situasinya tapi bahasa Inggris saya kok mampet. Cuma keluar "sorry."

    Kadang saya berpikir, enak banget ya jadi warga Amerika Serikat yang memang lahir berbahasa Inggris. Sementara bagi saya, dan banyak orang lain di seluruh dunia, yang bahasa Inggris adalah bahasa kedua atau ketiga, perlu usaha ekstra agar komunikasi ini tetap lancar dan efektif.

    Saya rasa, banyak di antara orang yang saya temui menganggap saya sudah fasih sempurna sehingga mereka merasa tidak perlu menggunakan kalimat sederhana. Saya sendiri berpendapat komunikasi lintas budaya akan terjadi bila kedua belah pihak bertemu dalam level bahasa yang sama. Dan ketika pihak satu tidak fasih, tidaklah berlebihan jika pihak dua menurunkan kompleksitas leksikal-nya.

    Anyway, ini baru dua pekan di Amerika Serikat dan sejauh ini belum ada masalah komunikasi yang berarti. Yang paling parah cuma terpaksa beli sup di Latino Market karena mbaknya cuma ngomong bahasa Spanyol dan dia salah mengerti tentang pesanan saya. Eh dan saya juga sempat diajak ngobrol sama bapak-bapak pake bahasa Spanyol. (Kata teman saya, saya yang Ambon-Sunda ini mirip orang Meksiko.) #LOH

    No problemo, amigo. Embrace everything!

    Figure 2: Kosan saya di Greenbelt, College Park, Maryland. (Rio Tuasikal)

    Figure 3: Ruang rekreasi dekat kosan. (Rio Tuasikal)

  • Sampai Jumpa Lagi, Jakarta

    Sampai Jumpa Lagi, Jakarta



    Pernahkah kamu pergi ke tempat reguler, namun tiba-tiba merasa intim dan nostaljik? Hari ini aku di posisi itu.

    Aku hanya menyusuri Grand Indonesia dan Pasaraya Manggarai. Keduanya  sudah kukenal seperti teman dekat. Namun hari ini ada sesuatu yang  memintaku tidak beranjak. Merengek agar aku tidak jadi berangkat.

    Dalam beberapa hari ke depan saya akan berangkat ke Amerika Serikat. Saya akan magang bekerja di negara itu selama setahun. Hal besar yang tidak akan saya lewatkan. Saking besarnya sehingga saya masih menganggap ini masih angan-angan.

    Pada kenyataannya, masih banyak barang-barang yang belum saya bereskan. Baik untuk saya kirim ke rumah di Bandung maupun saya berikan kepada kawan. Padahal seminggu harusnya cukup untuk menyelesaikan itu semua.

    Saya bukan malas. Saya hanya ragu. Saya hanya butuh waktu. Setiap bangun, semakin dekat dengan hari keberangkatan, saya berhadapan dengan pertanyaan yang makin besar: akankah saya bertahan tanpa merindukan kota ini?

    Terimakasih Jakarta, atas segala kemacetan dan ganasnya ibukota. Juga untuk segala mimpi, ketidakberhasilan, dan pencapaian yang datang saling melengkapi.

    Cinta terbesar saya adalah untuk seluruh kawan yang mengisi tiga tahun perjalanan saya. Untuk teman, rekan kerja, kenalan, sahabat, juga orang-orang dekat. Terimakasih untuk jadi teman yang baik, mendengarkan, dan mendukung.

    Saya tidak ingin mengucapkan selamat tinggal. Sebab saya selalu akan pulang.

    Manggarai, 7 Mei 2017

  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13