Posts

Showing posts from April, 2014

8 Tips Menulis Feature

Image
Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal



Jujur, berita politik dan hukum tidaklah menarik, apalagi bila ditulis sebagai berita langsung. Saya lebih tertarik mengupas persoalan sehari-hari yang dihadapi orang-orang. Soal kisah, perjuangannya, masalahnya, pendapatnya, cita-citanya, gaya hidupnya. Saya suka human interest.

Kisah-kisah pribadi tidak cocok dengan struktur piramida terbalik. Ia tidak bisa ditulis sebagai berita langsung. Ia harus menyentuh, lezat di setiap titik dan koma, bikin ketagihan. Kisah pribadi selalu mengundang tanya hingga akhir. Itulah yang membawa saya berkenalan dengan feature, karya jurnalistik yang lebih menyenangkan.

Feature atau karangan khas (kakhas) adalah bentuk tulisan, bukan tema. Feature berbeda dengan straight news, opini, kolom, artikel. Feature adalah berita yang menggunakan narasi, seperti novel dan cerpen. Ia kaya akan suasana dan mengajak pembaca seolah berada di lokasi kejadian. Namun, bagaimana pun ia hanya menyajikan fakta, bukan imajinasi.

Kali ini…

A Girl Who Prays Under An Umbrella

Image

Kartini, Kebaya, dan K Lainnya

Image
Untuk para perempuan

Nuansa Kartini, seharian penuh, muncul di linimasa Facebook saya. Sama seperti tiga tahun sebelumnya, ini masih soal baju-baju daerah. Dua teman saya mengucapkan selamat Hari Kartini dengan mengunggah fotonya yang berbaju adat. Teman saya yang lain, seorang PNS, harus memakai pakaian adat di kantornya spesial hari ini. Tak ada yang menyoal emansipasi.

Saya yakin Kartini tidak membayangkan perjuangannya akan berakhir jadi peragaan busana. Baik itu kebaya, atau baju daerah lainnya. Apalagi yang diperagakan anak SD, yang bisa jadi tak kenal apa yang Kartini perjuangkan.

Semasa hidupnya, Kartini tidak membicarakan kebaya. Dia memang bukan perancang busana. Ide-ide Kartini adalah bahwa perempuan dan laki-laki tidak sama, tapi setara. Kartini kesal melihat laki-laki menikah sementara perempuan dinikahkan. Kartini kesal melihat laki-laki sekolah tinggi sementara perempuan dipingit. Kartini ingin mengubah keadaan, dan dia berhasil memulai.

Kini, hampir 110 tahun selepas…

[Foto] Anak-Anak yang Menyapa Tuhan dari Bawah Payung

Image
Foto oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal
Baca juga Anak yang Menyapa Tuhan dari Bawah Payung Camera : Canon SX160
Anak-anak ini tidak pernah tahu kenapa gereja mereka digembok. Mereka hanya ingin menyapa Tuhan meski harus di jalan aspal. Mereka mengaku senang. Tapi kulit mereka tidak pernah berbohong: keringat menandai perjuangan mereka.






Anak yang Menyapa Tuhan dari Bawah Payung

Image
Teks dan foto oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal


Keringat meluncur di pipi anak perempuan itu, dan dia hanya melahap es krim. Rambut ikalnya dikepang dua, berkemeja pink, tulisan di topinya menjelaskan dari mana dia berasal: HKBP Filadelfia.

Siang terik di seberang Istana Merdeka, Minggu (20/4). Ini adalah tahun ketiga jemaat HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin merayakan Paskah di depan kantor presiden. Masih tanpa jawaban. Tiga keranjang telur Paskah mengisi altar yang dibuat dari meja plastik lipat. Bendera merah putih dipasang di kanan altar. Untuk kesekian kali, bendera menyaksikan jemaat dua gereja ini beribadah di jalanan aspal, memakai kursi plastik, berpayung warna warni yang lebar untuk menangkal panas.

Puluhan orang dewasa sedang menyanyikan pujian kristiani. Sementara anak perempuan tadi hanya duduk di barisan belakang. Sesekali dia menoleh ke kanan kiri. Sesekali dia mengobrol dengan temannya yang sebaya.

Namanya Asima Rohana Panjaitan, 8 tahun, kelas 3 Sekolah Dasar. Saat say…