Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • 8 Tips Menulis Feature

    8 Tips Menulis Feature

    Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal



    Jujur, berita politik dan hukum tidaklah menarik, apalagi bila ditulis sebagai berita langsung. Saya lebih tertarik mengupas persoalan sehari-hari yang dihadapi orang-orang. Soal kisah, perjuangannya, masalahnya, pendapatnya, cita-citanya, gaya hidupnya. Saya suka human interest.

    Kisah-kisah pribadi tidak cocok dengan struktur piramida terbalik. Ia tidak bisa ditulis sebagai berita langsung. Ia harus menyentuh, lezat di setiap titik dan koma, bikin ketagihan. Kisah pribadi selalu mengundang tanya hingga akhir. Itulah yang membawa saya berkenalan dengan feature, karya jurnalistik yang lebih menyenangkan.

    Feature atau karangan khas (kakhas) adalah bentuk tulisan, bukan tema. Feature berbeda dengan straight news, opini, kolom, artikel. Feature adalah berita yang menggunakan narasi, seperti novel dan cerpen. Ia kaya akan suasana dan mengajak pembaca seolah berada di lokasi kejadian. Namun, bagaimana pun ia hanya menyajikan fakta, bukan imajinasi.

    Kali ini saya ingin berbagi tips menulis feature, meski saya pun masih perlu banyak belajar. Tips-tips ini saya dapat dari sejumlah pengalaman pribadi, ditambah bacaan Janet Steele dan Yudasmoro Minasiani.

    Menulis Visual dan Auditori

    Feature seperti sebuah film. Penulis perlu menulis apa yang dilihat dan didengar untuk kuatkan suasana. Misalkan penulis mewawancarai narasumber di rumah bergaya Belanda dengan pohon jati di depannya. Perhatikan baju narasumber, gerak geriknya, situasi ruang tamu. Perhatikan juga apakah ada suara burung, kendaraan lewat, musik dangdut, atau batuk. Hindari kata sifat seperti bersih, tampan, sejuk. Ceritakan lewat deskripsi detail.

    Contoh : Lapang futsal ini beralaskan matras hitam dan dikelilingi tripleks tebal berisi logo sponsor.

    Dialog yang Melimpah

    Dalam feature, penulis boleh menggunakan dialog yang emosional dan kaya. Pilihlah kutipan narasumber yang mengundang haru, marah, benci, suka, lucu. Perhatikan juga aspek gaya bicara yang khas seperti logat, pilihan kata tertentu, intonasi. Tuliskan bahasa gaul atau bahasa daerah apa adanya. Hal ini menguatkan suasana.

    Contoh : “Udeh kagak ade serem-seremnye,” kata Yayah saat ditanya soal banjir.

    Bermain dengan Plot

    Feature tidak harus tersusun secara kronologis. Penulis bisa mulai dengan klimaks, lalu mundur ke belakang, memberi latar sejarah, maju lagi, keluarkan data, baru maju lagi.

    Contoh : Sudah sejak berangkat, sekitar 90 menit sebelumnya, Lingga asyik dengan musik.

    Ikut Jadi Tokoh dalam Cerita

    Penulis bisa ceritakan apa saja yang ditemui selama menulis cerita ini. Bagaimana orang-orang yang ditemui, bagaimana penulis bertemu orang yang akan ditanya, bagaimana wawancara dimulai atau berlangsung. Tulis juga bila wawancara sempat terpotong.

    Contoh : Dia terus menggenggam telur Paskah itu sementara saya ajak berbincang.

    Detail, Detail, Detail

    Jangan puas dengan wawancara dan pandangan mata saja. Kelilingi lokasi peristiwa, cari orang-orang yang duduk-duduk di sekitarnya. Kuping pembicaraan mereka. Apakah mereka memakai baju khas? Perhatikan grafiti di dinding. Bisa juga putar-putar rumah narasumber, tanyakan ini apa dan itu apa. Tanya hobinya, apa kebiasaannya? Apakah tangan narasumber garuk-garuk ketika bicara? Apakah di baju narasumber ada tulisan yang cocok dengan cerita yang sedang dibuat?

    Selalu Melihat Sisi Personal

    Feature bisa membahas peristiwa besar, dengan sudut yang sangat pribadi. Bila ada kasus intoleransi, tariklah itu ke pengalaman satu orang. Tanyakan apa yang dirasakan narasumber dengan kejadian itu, apakah ada perubahan dari cara hidupnya, apakah lebih mudah atau susah, tanya harapannya.

    Bukan Wawancara, Tapi Ngobrol Lama

    Feature butuh kisah yang melimpah. Untuk sebuah feature, tidak bisa tanya-tanya barang tiga pertanyaan. Feature tidak selesai dengan tanya jawab ala konferensi pers. Lupakan wawancara, buatlah ajang curhat 30 menit antara dua orang teman. Tanyakan detail-detail peristiwanya. Tanyakan hal-hal yang berbau emosi, tanya apa yang dia rasakan, apakah dia kesal atau marah. Ngobrol lagi di lain waktu, jangan cuma sekali. Ngobrol lama ini memungkinkan kisah-kisah yang lebih pribadi dan mendalam. Feature pun akan lebih menarik.

    Lahap Banyak Narasi!

    Mari belajar dari contoh. Belajar alur dan memperkaya kosakata bisa dari banyak membaca feature di media. Ada dua sumber feature berkualitas buat saya, Majalah Tempo dan National Geographic Traveller. Belajar narasi bisa juga dari membaca novel atau cerpen. Carilah novel terjemahan, tata kalimatnya kerap menarik untuk ditiru.***


    Gambar milik sites.psu.edu
  • A Girl Who Prays Under An Umbrella (Photo Story)

    A Girl Who Prays Under An Umbrella (Photo Story)


    Story and photo by Rio Tuasikal / @riotuasikal

    Asima Rohana Panjaitan joined Easter mass in front of Indonesia State Palace, Sunday, April 20, 2014

    With her sweaty hair and melting ice cream, 8 year old Asima from Filadelfia Church could not pay attention to the Easter Mass she's attending under 39°C Jakarta.

    But this is not the mass most of Christians in the world usually attend. Filadelfia chirch had to carry out a "mass on the road" with colorful umbrellas, in the front of Indonesia presidential palace, since the church is banned by local government of Bekasi, Indonesia.

    This was the third year for HKBP Filadelfia, together with another discriminated minority groupscommemorating Easter under the sunlight to demand justice. The local government follow the pressure from local intolerant groups, despite the high court in 2011 had ruled the church is legal.

    "Mass on the Road" takes place every two weeks and on every big days in front of Indonesia Presidential Palace.

    The Easter celebration here was very humble. Three baskets of Easter eggs were placed on the altar, a simple altar from a plastic table, decorated with a tablecloth. One Indonesian flag was raised on the right side of the altar.

    That afternoon, while adults were singing, Asima was just sitting in the back row. Sometimes she was observing around, sometimes she was talking with her friends.

    Asima Panjaitan was on third grade in an elementary school, when she, as the daughter of Filadelfia priest, Palti Panjaitan, filled her childhood memories by attending "mass on the road" for the fourth times.

    "Happy Easter"

    After two hours of preaches and religious songs, Asima got a well-decorated egg. She also took some colorful biscuits and other snacks. She was keeping the egg on her hand while we were having conversation

    “It is tiring but no problem. This is for my church,” she said.

    “What is happened with the church?”

    “My church is still locked. We cannot pray there.”

    Asima did not know exactly why her church was locked by city government of Bekasi. She only remembered that few Muslim groups were monitoring her church. Intolerant groups sometimes patrol around the church area.

    Asima remembered a bad experience at Christmas Eve, when his father leads the people of Filadelfia church to hold a mass in their church only to be blocked and protested by the intolerant groups. 

    “My dad was full of mud, cow’s feces, and urine. His motorcycle was dirty. They threw rotten eggs,” she added. She even saw her holy book was torned too. The Bibble was dirty and smelly.

    Asima did not have a heart to see his father was treated like that.


    Asima's father, Palti Panjaitan, lead the mass of the discriminated churces.

    Knowing some intolerant Muslim groups made Asima has no option but afraid. Asima confessed that she hates Muslims sometimes. “It is because the Muslims sometimes stress out my dad,” she explained.

    Not all Muslims are bad, said Asima, there are some nice Muslims too. But no matter how hard she tried, Asima feels uncomfortable every times she meets a woman with hijab.

    “I am afraid. If there were church events near my house, I covered my face with hands. I did not want to be seen. Our walk to the church was also protested,” she told.

    Asima is getting more afraid of Muslim groups because they once cursed his father. 

    “The Muslim groups were shouting to my dad, ‘We’ll see, he will be die! Die! For sure!’,“  Asima explained, her voice was shaking.

    Asima said, “afraid.”


    Asima is only one among many children that face discrimination since early school years.




    “Do you have Muslim friends?”

    “I have once. But they do not want to be friend with me anymore. I do not know why,” she said.

    Asima is scared, but she really hoped to bring back a warm relation with the Muslim groups. Many times she prayed. 

    “Dear God, please forgive them who have bothered my community. God, I hope my church will be still advocated by the people. Amen,” she told me the example.

    However this is Easter, a time to be happy to be among family and friends. Asima said she is glad to celebrate Easter despite the location. But deep down, she hopes to join Easter mass next year inside their church, just like other children.


    "Mr President Joko Widodo, please stop discrimination"

    For Indonesian article version, see Anak yang Menyapa Tuhan Dari Bawah Payung

    Dedicated for the children of HKBP Filadelfia and GKI Yasmin churches 

    Rio Tuasikal writes on human diversity. Now a reporter for the biggest radio news agency in Indonesia, KBR 68H, which believes in democracy and human rights. Follow his Twitter @riotuasikal.
  • Kartini, Kebaya, dan K Lainnya

    Kartini, Kebaya, dan K Lainnya

     

    Untuk para perempuan

    Nuansa Kartini, seharian penuh, muncul di linimasa Facebook saya. Sama seperti tiga tahun sebelumnya, ini masih soal baju-baju daerah. Dua teman saya mengucapkan selamat Hari Kartini dengan mengunggah fotonya yang berbaju adat. Teman saya yang lain, seorang PNS, harus memakai pakaian adat di kantornya spesial hari ini. Tak ada yang menyoal emansipasi.

    Saya yakin Kartini tidak membayangkan perjuangannya akan berakhir jadi peragaan busana. Baik itu kebaya, atau baju daerah lainnya. Apalagi yang diperagakan anak SD, yang bisa jadi tak kenal apa yang Kartini perjuangkan.

    Semasa hidupnya, Kartini tidak membicarakan kebaya. Dia memang bukan perancang busana. Ide-ide Kartini adalah bahwa perempuan dan laki-laki tidak sama, tapi setara. Kartini kesal melihat laki-laki menikah sementara perempuan dinikahkan. Kartini kesal melihat laki-laki sekolah tinggi sementara perempuan dipingit. Kartini ingin mengubah keadaan, dan dia berhasil memulai.

    Kini, hampir 110 tahun selepas wafat Kartini, perjuangannya bahkan baru beberapa langkah sejak start. Perempuan kini masih disepelekan dan dianggap tidak punya kuasa atas dirinya sendiri. Perempuan hanya diberi sedikit kesempatan dan pilihan yang terbatas. Di sini, izinkan saya hanya membahas pendidikan, bidang yang diperjuangkan Kartini, dan juga didukung tafsir agama. Saya takkan membahas perempuan pekerja atau korban pemerkosaan, sebab saya malas diceramahi polisi moral.

    Akses perempuan terhadap sekolah masih tak jauh beda dengan masa Kartini dulu. BPS pada 2009 mencatat 75,69 persen perempuan usia 15 tahun ke atas hanya berpendidikan tamat SMP ke bawah. Mayoritas perempuan hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SD, yakni sebanyak 30,70 persen. Semakin tinggi tingkat pendidikan, partisipasi perempuan makin rendah, yaitu SMA 18,59 persen, dan universitas 3,02 persen.

    Hal ini dijelaskan di situasi lumrah keluarga Indonesia. Ketika orangtua memutuskan apakah anaknya yang laki-laki atau perempuan yang harus lanjut ke perguruan tinggi. Seperti biasa laki-laki dimenangkan oleh keadaan. Sayang sekali orangtua tidak menilai anaknya lewat kemampuan, melainkan cara pipisnya. Alasan klise mereka adalah perempuan akan berakhir jadi ibu rumah tangga dan tak perlu pendidikan tinggi.

    Tidakkah Anda merasa kesal bila saudara Anda bisa kuliah hanya karena dia laki-laki? Dan Anda lebih marah karena menjadi perempuan atau laki-laki saat lahir itu di luar kuasa kita? Kartini merasa itu sangatlah tidak adil. Kartini percaya perempuan harus diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan. Kalau pun akhirnya kalah bersaing itu soal lain. Inilah yang Kartini rasakan dan perjuangkan. Sekarang kita menyebutnya emansipasi, penghapusan penindasan.

    Saya ingin kembali menegaskan bahwa Hari Kartini bukanlah Hari Kebaya. Dia bukan perancang busana. Kartini punya cita-cita sosial yang jauh melampaui zamannya. Cita-cita itu, dan inilah K yang sebenarnya: Kesetaraan. Kartini memimpikan dunia di mana laki-laki dan perempuan hidup bersama, bersaing, berkompetisi secara bebas. Punya hak yang sama di mata hukum. Tidak ada yang diremehkan. Semua boleh unjuk kemampuan.

    Hari ini, mari kita rayakan gagasan Kartini tidak dengan kebaya, koteka, atau baju adat lainnya. Mari kita lanjut dengan kasus-kasus pemerkosaan, buruh migran, angka kematian ibu, di mana perempuan sering jadi korban dan luput dari perhatian. Beranikah Anda, hai perempuan?***
  • [Foto] Anak-Anak yang Menyapa Tuhan dari Bawah Payung

    [Foto] Anak-Anak yang Menyapa Tuhan dari Bawah Payung

    Foto oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal

    Camera : Canon SX160

    Anak-anak ini tidak pernah tahu kenapa gereja mereka digembok. Mereka hanya ingin menyapa Tuhan meski harus di jalan aspal. Mereka mengaku senang. Tapi kulit mereka tidak pernah berbohong: keringat menandai perjuangan mereka.







  • Anak yang Menyapa Tuhan dari Bawah Payung

    Anak yang Menyapa Tuhan dari Bawah Payung

    Teks dan foto oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal

    Asima Rohana Panjaitan saat ibadah Paskah di seberang Istana Merdeka, Minggu (20/4) siang.

    Keringat meluncur di pipi anak perempuan itu, dan dia hanya melahap es krim. Rambut ikalnya dikepang dua, berkemeja pink, tulisan di topinya menjelaskan dari mana dia berasal: HKBP Filadelfia.

    Siang terik di seberang Istana Merdeka, Minggu (20/4). Ini adalah tahun ketiga jemaat HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin merayakan Paskah di depan kantor presiden. Masih tanpa jawaban. Tiga keranjang telur Paskah mengisi altar yang dibuat dari meja plastik lipat. Bendera merah putih dipasang di kanan altar. Untuk kesekian kali, bendera menyaksikan jemaat dua gereja ini beribadah di jalanan aspal, memakai kursi plastik, berpayung warna warni yang lebar untuk menangkal panas.

    Puluhan orang dewasa sedang menyanyikan pujian kristiani. Sementara anak perempuan tadi hanya duduk di barisan belakang. Sesekali dia menoleh ke kanan kiri. Sesekali dia mengobrol dengan temannya yang sebaya.

    Namanya Asima Rohana Panjaitan, 8 tahun, kelas 3 Sekolah Dasar. Saat saya ajak ngobrol, saya ketahui dia puteri Palti Panjaitan, pendeta Gereja HKBP Filadelfia. Kata Asima, ini kali keempat dirinya beribadah di seberang istana.

    Usai ibadah dua jam, Asima dapat sebutir telur Paskah yang dihias mata boneka dan ornamen biru. Dia juga mengambil beberapa biskuit warna-warni dan makanan ringan lain. Telur itu dia genggam sementara saya ajak berbincang.

    Nggak apa-apalah capek. Yang penting buat mempertahankan gereja,” katanya.

    “Memang gerejanya kenapa?”

    “Gerejanya itu lagi digembok. Gak boleh gereja di sana.”

    Asima tidak tahu kenapa gerejanya digembok. Dia hanya tahu ada kelompok muslim yang mengawasinya. Kelompok itu suka duduk-duduk di sekitar lokasi gereja.

    Asima ingat sekali malam Natal yang buruk, ketika ayahnya dan jemaat Filadelfia akan misa Natal di gereja. Jemaat dihalangi kelompok intoleran.

    “Papahku penuh sama lumpur, kotoran kerbau sama air kencing. Motornya penuh dengan kotoran. Dilempari telur busuk,” tambah Asima. Bahkan kitab sucinya ikut rusak. Dia melihat Alkitab yang jadi kotor dan bau.

    Asima tidak tega melihat ayahnya diperlakukan demikian.

    Pengalaman mengenal kelompok muslim intoleran membuat Asima tak punya pilihan lain selain takut. Asima mengaku kadang kesal dengan muslim. “Soalnya yang Islam itu kadang-kadang bikin papaku stres,” katanya.

    Asima tidak mencap seluruh muslim sebagai jahat. Dia bilang ada sebagian kelompok muslim yang baik. Tapi sekeras apa pun Asima mencoba, dirinya tak nyaman kapan pun melihat orang berjilbab.

    “Aku takut. (Dulu) kalau ada acara-acara (gereja) di dekat rumah, aku tutup muka nggak mau kelihatan. Perjalanan ke gereja didemo,” ceritanya.

    Asima makin takut dengan kelompok muslim karena mereka telah menghujat ayahnya. Suaranya gemetar ketika menjelaskan.

    “Terus papa sampai dibilang gini sama orang Islam, ‘Lihat aja itu nanti, akan mati dia. Mati. Yakin. Ya kan? Hore’,” ujarnya.

    Asima bilang, “Takut.”

    “Kalau kamu punya teman orang Islam?”

    “Punya, tapi dia nggak mau berteman dengan aku lagi. Aku nggak tahu,” kata Asima.

    Kendati takut, Asima berharap bisa berhubungan baik dengan komunitas muslim. Beberapa kali, dia berdoa kepada Tuhan supaya kelompok muslim itu tidak jahat lagi.

    “Ya Tuhan ampunilah dosa-dosa orang yang sudah mengganggu jemaatku. Tuhan, saya berdoa gereja saya tetap diperjuangkan bersama jemaat lainnya. Amin,” katanya menceritakan doanya.

    Bagaimana pun ini Paskah, dan saatnya bersukacita. Asima mengaku senang merayakan Paskah meski kali ini harus di seberang Istana. Hati kecilnya ingin dia Paskah di gereja.

    Asima tidak tahu bahwa diri dan jemaatnya berhak atas Paskah di gereja itu. Dia tidak tahu bahwa gerejanya sudah melewati proses banding dan dinyatakan sah. Dia tak tahu soal Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta, yang pada 30 Maret 2011, menyatakan HKBP Filadelfia harus dibuka. Asima tidak tertarik membahas konstitusi atau hak azasi manusia. Asima tidak mengenal itu semua.

    Asima hanya ingin menyapa Tuhan dari gerejanya. Bukan dari bawah payung seperti tadi siang, dan mungkin sejumlah siang lain yang dia tak tahu berapa lagi. ***


    Untuk versi bahasa Inggris, klik A Girl Who Prays Under An Umbrella

    Untuk anak-anak jemaat HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin

  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13