Posts

Showing posts from January, 2015

Antrean Panjang & Ego Menjulang

Image
Untuk para penyerobot antrean

"Keluar kamu! Kamu nggak antre!"
Selasa petang di halte Transjakarta Dukuh Atas, seorang lelaki memanen hujatan warga lainnya karena enggan mengantre. 
Lelaki itu bersikukuh di tengah antrean meski dua petugas sudah memintanya pergi ke belakang. Ketika bus tiba dan antrean kami berkurang, sekitar lima orang meneriakinya lantang. 
Setelah disuraki panjang, well, pada akhirnya dia harus mengantre dari ujung juga–plus rasa malu yang membebani pundaknya.
Peristiwa itu tidak mengejutkan buat saya–dan mungkin kebanyakan warga Indonesia. Kita bisa melihatnya di hampir semua halte Transjakarta, saat jam sibuk pagi dan sore. Akan ada monyet-monyet tengil yang belagak perlu diistimewakan. Mereka membuat antrean sekunder, atau antrean imajiner. Lebih parah: mengantre di pintu keluar. Dan lucunya, petugas tidak memarahi mereka!
Kasus lain. Saya masih ingat 2012 lalu ketika menegur perempuan yang menyerobot antrean di minimarket di Bandung. Dia langsung men…

Tersinggung yang Terlambat 9 Abad

Image
Untuk yang memprotes hotel Zodiak


Saya muslim, dan saya menyebut Tuhan dengan nama Allah, bukan Virgo. Nama Allah dalam bahasa Arab yang berarti Tuhan dilafadzkan الله dan terdiri atas  ل, ل ,اdan ه. Sementara Virgo adalah adalah lambang ke-enam zodiak Yunani, direpresentasikan oleh gadis perawan dan berlogo ♍. 
Kalau pun keduanya mirip jika dibalik, itu adalah kebetulan yang terpaut 14 abad! Zodiak dimulai pada abad ke-7 SM, sementara Islam lahir di jazirah Arab abad ke-7 masehi.
Hotel Zodiak di Bandung pekan ini terpaksa menurunkan lambang Virgo yang dipasang di salah satu cabangnya, setelah diprotes kelompok yang mengatasnamakan Islam. Kelompok itu–lucunya–merasa tersinggung dan mengangap hotel itu menghina agama Islam lewat logo ♍ yang kata mereka seperti lafadz Allah dibalik.

Lucu melihat kelompok ini tersinggung, lebih lucu lagi melihat Walikota Ridwan Kamil yang menggubris ocehan mereka, dan paling lucu adalah media yang meliput semua kebodohan ini!

Untungnya anggota Majelis Ul…

Utan Kayu, 365 Hari Lalu

Image
Untuk redaksi Kantor Berita Radio 68H


Utan Kayu, 365 hari lalu, saya memakai kemeja biru tua dan celana jeans hitam, berdiri kaku memperkenalkan diri di ruang redaksi. Itu hari pertama saya bekerja sebagai jurnalis di KBR68H–yang kini mengubah namanya jadi KBR. Perkenalan itu berlangsung hangat, memulai deretan hari-hari yang hebat.
Dua hal pertama yang saya pelajari adalah bahwa jurnalis tidak seperti yang saya bayangkan selama ini. Juga, jurnalisme tidaklah persis seperti yang ditulis buku-buku.
Ini yang terpenting: jurnalis ternyata tidak sekucel itu. Silakan tertawa. Tapi ini penting buat saya karena saya sering menghadapi cap miring ketika kuliah jurnalisme. Masih banyak kok jurnalis yang rapih, klimis, centil, dan wangi. Beberapa perempuan jurnalis–tanpa bermaksud seksis–sering menghabiskan waktu bercermin dan membetulkan riasan wajah di sela-sela konferensi pers. Mereka merepotkan penampilan, dan itu banyak, terutama jurnalis televisi yang kita tahu dengan jelas kenapa. 
Ngomon…

Charlie, Dialogue, and Rosnida

Image

NHK dan Warta Air Mata

Image
花は 花は 花は咲く
いつか 生まれる 君に
花は 花は 花は咲く
私は 何を 残しただろう

hana wa hana wa hana wa saku
itsuka umareru kimi ni
hana wa hana wa hana wa saku
watashi wa nani wo nokoshita darou

Bunga akan mekar, ya, akan mekar
Untukmu, yang akan lahir kemudian
Bunga akan mekar, ya, akan mekar
Apa yang aku wariskan padamu?


----


Itulah reff lagu Hana wa Saku花は咲く (Bunga Akan Mekar) yang dibuat NHK Jepang, saat tsunami melanda Tohoku, Maret 2011 silam. NHK Jepang adalah lembaga penyiaran publik negara itu, dengan media televisi dan radio, mirip TVRI dan RRI digabung.
Saat itu, NHK mengumpulkan penulis lagu, komposer, plus 33 seniman dari lokasi terdampak bencana, untuk membuat lagu amal ini. Hana wa Saku juga jadi lagu tema untuk dokumenter pemulihan berjudul TOMORROW di media yang sama. Seluruh royalti lagu diberikan untuk pemulihan korban. Oke, itu hebat. Tapi pesan yang dirangkum di dalam lagu itu, optimisme, buat saya jauh lebih penting.
Kini pindahkan kanalmu ke televisi dalam negeri, lalu kamu akan melihat hal yan…