Posts

Showing posts from August, 2014

3 Dilema Jurnalisme yang Tak Dipelajari di Kampus

Image
Setengah tahun jadi jurnalis membuat saya ingin membuang buku-buku teks jurnalisme selama kuliah. Betapa tidak, mereka tidak memberikan banyak solusi atas dilema yang saya temui di lapangan. Saya tidak sedang mengatakan ‘berhenti baca bukumu', tapi ini soal ‘bersiaplah dengan hal-hal berikut'. 
Setia pada fakta vs menarik pembaca   
Satu kali saya menulis Jokowi yang menginstruksikan dinas DKI Jakarta membersihkan insfrastruktur kota. Saya menggunakan kata menginstruksikan ketika media-media online menggunakan memarahi. Saya ditelepon oleh editor kenapa angle berita saya basi, tapi saya tegaskan padanya Jokowi tidaklah marah. Bahkan kepala dinas beberapa kali tertawa.
Di lain waktu saya menulis KontraS yang berharap pemerintah menuntaskan kasus-kasus HAM. Seperti jurnalis lainnya, saya tidak menggunakan kata berharap, melainkan meminta, mendesak, memaksa, semata-mata agar beritanya lebih menggigit.   
Jurnalisme inilah yang belakangan saya lihat lebih tertarik dengan sensasi, …

Berpegangan Tangan dalam Kepelangian

Image
Tanggal 17 Agustus bagi jemaat Ahmadiyah bukanlah soal upacara, lomba makan kerupuk, atau karnaval. Hari kemerdekaan baginya adalah sekali lagi menagih janji negara yang belakangan menelantarkan mereka.
Semua tahu lagu Indonesia Raya diciptakan oleh W. R. Soepratman. Namun tak banyak yang tahu sang maestro adalah penganut Ahmadiyah.
Sudah 69 tahun lagu itu berkumandang di seantero negeri. Selama itu pula jemaat Ahmadiyah hidup sebagai warga negara Indonesia. Namun belakangan, kehidupan mereka diganggu oleh kelompok yang dibutakan oleh prasangka berkedok agama.
Kelompok Ahmadiyah pun jadi korban serangkaian kekerasan sejak Lombok (2002), Parung (2005), Manis Lor (2010), Cisalada (2010), Cikeusik (2011), Bandung (2012), plus sederet peristiwa lainnya. Mereka terluka, sebagian tewas, sementara perlindungan negara entah pergi ke mana.
Di Lombok, mereka terpaksa mengungsi di penampungan selama 8 tahun. Mereka tinggal di aula besar dan setiap keluarga hanya dibatasi kain serta kardus. P…