3 Dilema Jurnalisme yang Tak Dipelajari di Kampus


Setengah tahun jadi jurnalis membuat saya ingin membuang buku-buku teks jurnalisme selama kuliah. Betapa tidak, mereka tidak memberikan banyak solusi atas dilema yang saya temui di lapangan. Saya tidak sedang mengatakan ‘berhenti baca bukumu', tapi ini soal ‘bersiaplah dengan hal-hal berikut'. 

Setia pada fakta vs menarik pembaca   

Satu kali saya menulis Jokowi yang menginstruksikan dinas DKI Jakarta membersihkan insfrastruktur kota. Saya menggunakan kata menginstruksikan ketika media-media online menggunakan memarahi. Saya ditelepon oleh editor kenapa angle berita saya basi, tapi saya tegaskan padanya Jokowi tidaklah marah. Bahkan kepala dinas beberapa kali tertawa.

Di lain waktu saya menulis KontraS yang berharap pemerintah menuntaskan kasus-kasus HAM. Seperti jurnalis lainnya, saya tidak menggunakan kata berharap, melainkan meminta, mendesak, memaksa, semata-mata agar beritanya lebih menggigit.   

Jurnalisme inilah yang belakangan saya lihat lebih tertarik dengan sensasi, dan nyaris menuju pelintiran. Saya menduga ini dimulai dengan jurnalisme online yang ringkas, permukaan, dan perlu menarik pembaca segera.   

Jurnalis harus tetap menulis apa adanya. Kalau memang merasa perlu melebihkan perkara, menggunakan kata-kata yang lebih kentara, berarti kejadiannya memang kurang nilai berita. Tidak usah ditulis saja.   

Rekaman eksklusif vs persahabatan jurnalis

Beberapa kali jurnalis lain ada yang meminta rekaman suara saya karena dia datang telambat. Saya usahakan menolak, sebagaimana kantor saya melarang meminta salinan pada orang lain. Namun saya dihadapkan dengan kemungkinan dimusuhi jurnalis lain, dan tidak mendapatkan informasi-informasi menarik yang bisa saja mereka punya.   

Amplop   

Memang mudah berkata tidak mengambil amplop berisi uang sogokan. Tapi kini, uang itu telah mengambil bentuk lain menjadi isi goodie bag sebuah seminar. Misalnya kaos kampanye, tempat minum, buku, bahkan flashdisk.

Aliansi Jurnalis Indepeden (AJI) mematok barang bisa diterima asalkan harganya di bawah 50 ribu Rupiah, dan barang elektronik semisal flashdisk harus ditolak meski kini harganya murah. Bagaimana dengan makan siang untuk wartawan, yang nasi kotak mungkin bisa diterima, tapi makan siang prasmanan di hotel ternama? Apa yang menjamin jurnalis tidak terpengaruh kaos dan makan siang?

Memasuki dunia jurnalisme adalah siap menghadapi segala kemungkinan. Selamat bersiap diri.***

Foto milik mashable.com

Comments

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM