Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Perlawanan, Perempuan Lawan Kekerasan

    Perlawanan, Perempuan Lawan Kekerasan



    Ketika mengobrol dengan Aty Suandi di Bandung November lalu, saya disadarkan akan dua hal. Pertama, bagi perempuan, kegiatan memilih baju adalah pilihan penting sekaligus berbahaya. Kedua, bagi perempuan, naik angkutan umum adalah perjuangan menghindari pelecehan. Saya terkejut, ternyata dua hal biasa bagi lelaki seperti saya, bisa sepenting itu buat perempuan.

    Untuk urusan baju, sebagai laki-laki, saya tinggal mencari baju yang nyaman dan mencocokkan warnanya sesekali. Sementara perempuan harus selalu mengambil langkah ekstra untuk menimbang. Apakah baju ini akan baik-baik saja? Akankah terlalu menarik perhatian? Sebab perempuan sadar, salah-salah pilih, perempuan bisa jadi korban perkosaan---lucunya, disalahkan karena pakaian yang ia gunakan.

    Saat itu Aty menceritakan pengalamannya jadi korban street harassment. “Saya merasakan pantat saya dipegang-pegang, saya merasa itu sengaja,” kisahnya. Dia juga menceritakan bahwa dirinya sering dipanggil-panggil dan digoda oleh laki-laki di jalanan. “Perempuan dipanggil kiw kiw, kkrrr kkrrr, neng neng,” jelas Aty. Dia percaya 95% perempuan mengalami pelecehan serupa semasa hidupnya.

    Buat Aty, pelecehan di jalanan adalah pertarungan setiap perempuan, setiap hari. Hal tersebut adalah anak tangga pertama menuju sederet bentuk kekerasan terhadap perempuan.


    Perempuan dan Kekerasan Seksual

    Kata perempuan dan kekerasan terpisah sekian ratus halaman di KBBI. Tapi, di dunia nyata, keduanya sangat dekat seperti dua sisi mata uang. Perempuan selalu rentan dengan kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

    Komnas Perempuan mencatat ada 15 jenis kekerasan seksual yang terjadi selama 1998-2013[1]. Jenis kekerasan ini dikutip Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) dalam selebarannya, meliputi: Perkosaan; Intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan; Pelecehan seksual; Eksploitasi seksual; Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual; Prostitusi paksa; dan perbudakan seksual.

    Mengenai prostitusi dan perbudakan, saya ingat yang diceritakan Lola Amanda, penyiar Sex and de Kota di Green Radio Jakarta. Dia mengenal perempuan yang dijual suaminya untuk memenuhi kebutuhan suami akan narkoba. Perempuan itu juga disiram air keras dan diancam cerai. Perempuan itu terkena HIV/AIDS dari suaminya yang tidak pernah mau mengaku. Kini perempuan itu positif HIV/AIDS, ditinggal mati suami, hidup bersama anaknya yang juga positif HIV/AIDS. Total, kami berdua menghitung perempuan itu mengalami kekerasan 8 lapis. Sekali lagi, 8 lapis!

    Kembali ke bentuk kekerasan. Delapan selanjutnya adalah: Pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung; Pemaksaan kehamilan; Pemaksaan aborsi; Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi; Penyiksaan seksual; Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual; Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan (misalnya sunat perempuan); dan Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

    Soal yang terakhir itu, Komnas Perempuan pada Agustus 2013 mencatat ada 334 peraturan diskriminatif, 265 di antaranya menyasar perempuan atas nama moral dan agama. Peraturan ini antara lain soal cara berpakaian, prostitusi dan pornografi, pemisahan ruang publik laki-laki dan perempuan, serta pembatasan jam keluar malam[2]. Tidak ada satu pun yang membatasi laki-laki.

    Selama 40 tahun kekerasan tersebut menimpa perempuan, demikian laporan Menemukan Kembali Indonesia dari Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran yang dirilis Oktober 2014. KKPK adalah kumpulan hampir 50 lembaga yang mencatat aksi kekerasan dan pelanggaran HAM sejak Orde Baru. KKPK menulis, “Teror dilakukan menyasar bukan saja kepada hak kewarganegaraan mereka, namun juga tubuh mereka.” Membacanya, saya tidak bisa membayangkan jika jadi salah satu korban.

    Berikut adalah data-data terbaru yang dihimpun Komnas Perempuan.




    Setelah Kenali, Tangani!

    Terlalu banyak data-data dan bukti-bukti bahwa perempuan jadi korban kekerasan seksual. Kata Aty, semua kekerasan terhadap perempuan berakar dari cara pandang yang salah. Perempuan dianggap sebagai barang dan bisa dimiliki. Perempuan dianggap lebih lemah dari laki-laki. Seringkali, perempuan juga tidak diuntungkan oleh tafsir agama yang lelaki-sentris. Ini terbentuk dan mengakar selama berabad-abad.

    Untuk itu perlu penyadaran bagi laki-laki dan perempuan tentang kesetaraan dan emansipasi. Klise memang. Bahwa terlepas dari perbedaan yang ada, kedua jenis kelamin adalah setara, punya hak yang sama sebagai manusia. Tidak ada satu pun yang boleh jadi korban kekerasan dan disiksa.

    Menyadarkan masyarakat memang adalah perjalanan panjang. Tapi perlawanan terhadap kekerasan itu ternyata bisa dimulai setiap hari dan oleh diri sendiri. Spesial buat laki-laki, jagalah pandangan. Bagi perempuan yang digoda atau diraba di jalanan, jangan ragu untuk bicara. Perempuan jangan menganggap diri baik-baik saja jika memang di dalam hati kesal mengalami pelecehan.

    Jangan biarkan rabaan atau panggilan melecehkan berlanjut jadi perkosaan! Tepis tangan-tangan jahil berotak mesum itu. Lindungi bagian-bagian tubuhmu yang sering jadi target dengan tas atau buku. Protes laki-laki yang memanggil-manggilmu di pinggir jalan.

    Lakukan itu setiap hari sampai setiap orang di sekitarmu akhirnya sadar kamu berharga. Dengan demikian kamu sudah melakukan perlawanan, jadi perempuan melawan kekerasan. Setidaknya kamu bisa memilih baju atau naik angkutan umum tanpa lagi ada rasa khawatir.***

    [1]www.komnasperempuan.or.id/2014/12/15-bentuk-kekerasan-seksual-sebuah-pengenalan/
    [2]www.jurnalperempuan.org/peraturan-diskrimintaif-terhadap-perempuan.html

    www.ippi.or.id
    www.ippi.or.id

  • Natal Kevin, Natal Edo

    Natal Kevin, Natal Edo

    Untuk Edward Matthew Sitorus (Edo) beserta jemaat GKI Yasmin.



    Kevin McCallister dalam serial Home Alone punya masalah rutin setiap Natal: Harry dan Marv, dua pencuri kelas teri. Bocah 8 tahun itu harus berhadapan dengan duo rampok, dua tahun berturut-turut, baik di rumahnya di Illinois atau di hotel di New York. Lalu, dengan cerdik, Kevin selalu bisa menjebak mereka secara menggelikan. Ingat wajah Harry ketika rambutnya terbakar? Kita terpingkal-pingkal. Sungguh sajian Natal yang selalu bikin rindu.

    Tidak ada yang lucu dengan Natal Edo. Natal Edo tidak akan mengocok perutmu atau membuatmu terpingkal-pingkal jika membicarakannya. Anak 13 tahun ini tidak berurusan dengan dua perampok konyol. Tapi setiap Natal Edo juga punya dua masalah rutin. Bukan manusia, tapi diskriminasi dan ketidakpastian hukum.

    Edo adalah jemaat gereja GKI Yasmin, Bogor, yang disegel pemerintah kota Bogor sejak 2010. Penyegelan dilakukan atas desakan kelompok intoleran. Gereja ini seharusnya sudah dibuka. Sebab dalam proses hukum yang berakhir di Mahkamah Agung, 2011, pengadilan memutuskan gereja itu sah. Sekali lagi, sah.

    Namun Walikota Bogor terus ngeles dengan berbagai alasan. Dari walikota lama, Diani Budiarto, hingga walikota baru yang awalnya penuh harapan namun belakangan mengecewakan, Bima Arya. Keduanya masih berlandasan pada argumen lawas. Akhirnya, Edo dan jemaat Yasmin sudah 5 tahun tidak bisa ibadah di gereja mereka sendiri, hingga Natal tadi pagi.

    Bersama-sama sang ibu dan jemaat lainnya, Edo mengalami perjuangan lima tahun tidak kenal henti. Sudah dua tahun ini, setiap bulannya, Edo melewati puluhan kilometer Bogor-Jakarta untuk ibadah Minggu dua mingguan di seberang Istana Merdeka. Di sana Edo mendengar konstitusi dan hak asasi manusia. Edo mendengar diskriminasi oleh negara. Adakah semuanya mudah dipahami pelajar SMP ini? Buat saya, itu semua datang terlalu cepat.

    Ketika saya tanya perasaannya melihat anak-anak se-usianya merayakan Natal di gereja lain, Edo menjawab pelan, "Kenapa mereka bisa duduk ibadah dengan tenang? Kenapa Edo nggak?"

    Seharusnya Edo merayakan Natal dengan sukacita, bukan memperingati ketidakadilan yang gerejanya terima. Seharusnya Edo sibuk menghias pohon Natal di rumahnya, latihan bernyanyi untuk tampil di gereja, tidak memikirkan gerejanya yang dirampas. Seharusnya masa kecil Edo lengkap dengan Santa Klaus, kado, dan tertawa menonton Home Alone.

    Saya membayangkan sekuel Home Alone di mana Kevin dan keluarga McCallister memutuskan berlibur ke Bogor, Natal mendatang. Lalu Kevin melewati kompleks Yasmin, bertemu Edo, dan melihat ada yang tidak beres. Adakah Kevin punya ide cerdik selesaikan masalah ini?***

    Rio Tuasikal menulis keberagaman manusia. Kini jurnalis Kantor Berita Radio 68H---yang percaya demokrasi dan hak asasi manusia. Ikuti kicau lewat Twitter @riotuasikal
  • What We Can Learn from #IllRideWithYou

    What We Can Learn from #IllRideWithYou

     

    It has been a week since Man Haron Monis attacked Cafe Lindt in Sydney, but the spirit of #IllRideWithYou is relevant forever.

    The inspiration within the hashtag derived from a simple act on a train. We remember how Rachael Jacobs said to a women who silently removed her jilbab, to keep wearing it. Yes, Rachael understands that the woman was afraid if someone will attack her because of what Monis have done in other place. But Rachael will ride with her.

    I simply cannot understand how Rachael was thinking that day. How can Rachael were trying to protect a woman with jilbab, while at the same time, there is a crazy man, attacked a cafe with the symbol of the same religion which jilbab comes from. If I were Rachael, I will punch the woman at once as a revenge.

    But Rachael was true. And fortunately she was followed by good and fabulous people across Australia and the globe!

    The hashtag #IllRideWithYou showed us how cool people avoid judgement, stereotype, and generalization.

    It says like, "There is nothing wrong with jilbab, since there is no relation between appearance and behaviour."

    And it continues like, "Okay, Monis is crazy, but it doesn't mean all moslems are the same." In Islam: tabayyun.

    Australians has proved us that solidarity has no religion boundaries. It has no business if you are wearing jilbab or not, once you are human, I'll protect you. United Nations and the global community call it humanity. We call it kindness.

    That's why Aussie moslems--- even moslems from other countries--- said thanks to the people involved in the hashtag. Because we all are really tired with prejudice et cetera. We are tired of being rejected just because of what we believe or wear, jilbab or rosary.

    If christian-majority-secular-state Australia has protected our moslem brothers and sisters fighting prejudice, so why moslem-majority-Pancasila-state-Indonesia cannot do the same to fellow Christian citizens?

    Why do GKI Yasmin and HKBP Filadelfia will celebrate Xmas outside their legal churches, again this year?

    Are we brave enough to say to them, "Just go to your church. And if you are afraid, I'll ride with you"?***




    Rio Tuasikal writes on human diversity. Now a reporter for radio news agency KBR 68H---which believes in democracy and human rights. Follow his Twitter @riotuasikal.
  • [Audio] Membuka Segel Masjid Kami

    [Audio] Membuka Segel Masjid Kami

    Simak di Saga portalkbr.com



    Tiga hari sebelum Ramadhan, masjid Nur Khilafat milik jemaat muslim Ahmadiyah Ciamis disegel bupati. Keputusan ini dibuat atas desakan kelompok intoleran. Jemaat sudah memprotes bupati namun tidak dapat jawaban. Seminggu berlalu, mereka membuka segel masjid mereka sendiri. Saya datang ke lokasi di detik-detik pembukaan segel.

    SAGA KBR 68H
    Membuka Segel Masjid Kami I
    SAGA KBR 68H
    Membuka Segel Masjid Kami II
  • 150km, Kejujuran dan Rasa Hormat*

    150km, Kejujuran dan Rasa Hormat*


    “Pakai KTM atau yang biasa?” tanya petugas travel Jakarta-Bandung itu pada saya, sore hujan itu. 
     
    Nah, inilah dia. Pertanyaan ini lagi-lagi keluar. Program promosi untuk mahasiswa itu menawarkan potongan harga dua puluh ribu rupiah. Syaratnya hanya fotokopi kartu tanda mahasiswa. 
     
    Saya sudah lulus tahun lalu, dan saya selalu menolak tawaran diskon tersebut, selalu bilang tidak. Tapi khusus saat itu pikiran saya berkata lain, “Sekali ini saja. Tidak apa-apa. Tidak ada yang tahu.” Lidah saya lalu angkat bicara: Lumayan untuk segelas full-leaf brewed tea di gerai kopi terkemuka berinisial S.

    Saya menimbang-nimbang. Ini kesempatan langka. Toh petugas itu tidak akan repot-repot mencek status mahasiswa saya ke almamater. Lagi pula selama ini saya jujur. Tak apalah sekali ini, sebagai hadiah bagi usaha saya bertahan setahun penuh.

    Untuk pertama kali akhirnya saya bicara, “KTM mas.” Lalu selembar uang hijau pulang ke dompet saya.

  • Gelisah Bersama Wahib*

    Gelisah Bersama Wahib*

    Oleh Rio Tuasikal


    Siang terik di bundaran HI Jakarta, perayaan Hari Perdamaian Internasional. Saya bertemu Ridho, 20 tahun, yang baru menampilkan tarian modern dalam acara itu bersama 4 temannya. Kini dia duduk-duduk di trotoar dengan sesama anggota Next Step Crew. Dia menceritakan pada saya, pendapatnya soal perdamaian.

    “Perdamaian adalah ketika semuanya indah,” katanya lalu tersenyum canggung.

    Saya mendengar jawaban Ridho sambil tersenyum. Jawabannya mungkin tidak secerkas Ahmad Wahib, yang bila ditanya pertanyaan yang sama bisa menjabarkan A hingga Z. Teologis ke sosiologis, runut dan sistematis, dan bahkan menjadi satu catatan harian tersendiri. Tapi, setidaknya, Ridho berbagi kegelisahan yang sama dengan Wahib di usia yang pula sama.

    Kemudian saya seperti melihat diri saya sendiri ketika Ridho menceritakan pendapatnya soal kelompok intoleran. “Mereka seperti tidak punya agama. Orang yang beragama tidak akan merusak hubungan antar-agama,” katanya.

    Saya seperti bercermin. Seketika saya seperti menembus waktu dan kembali ke dua tahun lalu. Saat saya berusia 20 tahun. Saat saya mulai merasakan kegelisahan yang sama.

    Kala itu saya jengah dengan sikap sejumlah orang yang mengatasnamakan agama untuk aniaya. Saya tidak habis pikir, bagaimana bibir orang bisa meneriakkan nama Tuhan dan di waktu yang sama ada orang berdarah karena tangannya. Saya tidak pernah menemukan jawabannya hingga sekarang.

    Saya muslim dan saya gelisah. Saat itu saya tak punya tempat mengadu, bahkan Tuhan sekali pun. Sebab saya merasa Tuhan sendiri jadi menyeramkan. Karenanya saya diam dan memilih membisu, mengurung diri dari keramaian wacana.

  • 3 Dilema Jurnalisme yang Tak Dipelajari di Kampus

    3 Dilema Jurnalisme yang Tak Dipelajari di Kampus


    Setengah tahun jadi jurnalis membuat saya ingin membuang buku-buku teks jurnalisme selama kuliah. Betapa tidak, mereka tidak memberikan banyak solusi atas dilema yang saya temui di lapangan. Saya tidak sedang mengatakan ‘berhenti baca bukumu', tapi ini soal ‘bersiaplah dengan hal-hal berikut'. 

    Setia pada fakta vs menarik pembaca   

    Satu kali saya menulis Jokowi yang menginstruksikan dinas DKI Jakarta membersihkan insfrastruktur kota. Saya menggunakan kata menginstruksikan ketika media-media online menggunakan memarahi. Saya ditelepon oleh editor kenapa angle berita saya basi, tapi saya tegaskan padanya Jokowi tidaklah marah. Bahkan kepala dinas beberapa kali tertawa.

    Di lain waktu saya menulis KontraS yang berharap pemerintah menuntaskan kasus-kasus HAM. Seperti jurnalis lainnya, saya tidak menggunakan kata berharap, melainkan meminta, mendesak, memaksa, semata-mata agar beritanya lebih menggigit.   

    Jurnalisme inilah yang belakangan saya lihat lebih tertarik dengan sensasi, dan nyaris menuju pelintiran. Saya menduga ini dimulai dengan jurnalisme online yang ringkas, permukaan, dan perlu menarik pembaca segera.   

    Jurnalis harus tetap menulis apa adanya. Kalau memang merasa perlu melebihkan perkara, menggunakan kata-kata yang lebih kentara, berarti kejadiannya memang kurang nilai berita. Tidak usah ditulis saja.   

    Rekaman eksklusif vs persahabatan jurnalis

    Beberapa kali jurnalis lain ada yang meminta rekaman suara saya karena dia datang telambat. Saya usahakan menolak, sebagaimana kantor saya melarang meminta salinan pada orang lain. Namun saya dihadapkan dengan kemungkinan dimusuhi jurnalis lain, dan tidak mendapatkan informasi-informasi menarik yang bisa saja mereka punya.   

    Amplop   

    Memang mudah berkata tidak mengambil amplop berisi uang sogokan. Tapi kini, uang itu telah mengambil bentuk lain menjadi isi goodie bag sebuah seminar. Misalnya kaos kampanye, tempat minum, buku, bahkan flashdisk.

    Aliansi Jurnalis Indepeden (AJI) mematok barang bisa diterima asalkan harganya di bawah 50 ribu Rupiah, dan barang elektronik semisal flashdisk harus ditolak meski kini harganya murah. Bagaimana dengan makan siang untuk wartawan, yang nasi kotak mungkin bisa diterima, tapi makan siang prasmanan di hotel ternama? Apa yang menjamin jurnalis tidak terpengaruh kaos dan makan siang?

    Memasuki dunia jurnalisme adalah siap menghadapi segala kemungkinan. Selamat bersiap diri.***

    Foto milik mashable.com
  • Berpegangan Tangan dalam Kepelangian

    Berpegangan Tangan dalam Kepelangian



    Tanggal 17 Agustus bagi jemaat Ahmadiyah bukanlah soal upacara, lomba makan kerupuk, atau karnaval. Hari kemerdekaan baginya adalah sekali lagi menagih janji negara yang belakangan menelantarkan mereka.

    Semua tahu lagu Indonesia Raya diciptakan oleh W. R. Soepratman. Namun tak banyak yang tahu sang maestro adalah penganut Ahmadiyah.

    Sudah 69 tahun lagu itu berkumandang di seantero negeri. Selama itu pula jemaat Ahmadiyah hidup sebagai warga negara Indonesia. Namun belakangan, kehidupan mereka diganggu oleh kelompok yang dibutakan oleh prasangka berkedok agama.

    Kelompok Ahmadiyah pun jadi korban serangkaian kekerasan sejak Lombok (2002), Parung (2005), Manis Lor (2010), Cisalada (2010), Cikeusik (2011), Bandung (2012), plus sederet peristiwa lainnya. Mereka terluka, sebagian tewas, sementara perlindungan negara entah pergi ke mana.

    Di Lombok, mereka terpaksa mengungsi di penampungan selama 8 tahun. Mereka tinggal di aula besar dan setiap keluarga hanya dibatasi kain serta kardus. Pasangan suami istri harus berhubungan seks dalam diam karena bisa saja dipergoki oleh anak tetangga.

    Mereka jadi korban karena, tak ada alasan lain, iman mereka. Mereka manusia tapi tidak diperlakukan selayaknya manusia. Luka sobek bisa sembuh dalam sepekan. Namun perasaan mereka yang diinjak-injak akan selamanya berbekas dalam ingatan.

    Bagaimana bisa kita begitu munafik menyanyikan lagu ciptaan Ahmadi, sementara kelompoknya kita usir dari rumah mereka?

    Ingat pula jemaat GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Syiah Sampang, dan lainnya, yang juga sama-sama warga Indonesia seperti saya dan Anda. Masih sudikah mereka jadi bagian bangsa yang mau menerima mereka asalkan mereka jadi orang lain?

    Soekarno dan Hatta tidak pernah mempermasalahkan kepercayaan Soepratman saat memilih lagu Indonesia Raya sebagai pengiring kemerdekaan. Begitu pula jajaran pendiri bangsa sepakat melupakan perbedaan agama dan memilih bekerjasama demi mimpi jadi bangsa merdeka. 

    Mereka berjanji membangun negara di mana setiap orang diterima sebagaimana dirinya sendiri. Mereka sepakat jadi bangsa di mana tidak ada satu orang pun, atas alasan apa pun, bisa didiskriminasi.

    Pendahulu kita telah berjanji berpegangan tangan dalam kepelangian. Kini beranikah kita, sekali lagi, mengulangnya?***
  • Saya Tidak Akan Memilih Prabowo, Selamanya

    Saya Tidak Akan Memilih Prabowo, Selamanya

    Dinis menghabiskan seluruh masa remajanya untuk mencari sang ayah. Kini Dinis berusia 18 tahun, dan ayahnya menghilang sebelum Dinis berusia 3 tahun. Dinis adalah puteri Yadin Muhidin, aktivis yang jadi korban penculikan Mei 1998. Hingga hari ini Dinis hanya bisa menerka-nerka di mana ayahnya. Kalaulah ayahnya telah mati, bagi Dinis itu lebih baik dari pada menunggu dalam ketidakpastian.

    Ayah Dinis pernah memprotes kebijakan pemerintah Seoharto yang menindas. Kini dia hilang. Sangatlah mudah untuk benak saya bicara: ada yang salah.

    Saya tidak bisa membayangkan bila sayalah Dinis itu. Entah bagaimana saya bisa bertahan dengan hidup yang demikian. Saya harus menelusuri setiap informasi sumir yang didapatkan, mengikuti sumber data yang selalu enggan mengungkapkan, menenangkan ibu yang dirundung sedih berkepanjangan, sambil diam-diam berdoa pada Tuhan supaya ayah segera ditemukan---apapun keadaannya.

    Kini Prabowo Subianto yang diduga menculik ayah Dinis maju jadi calon presiden Indonesia. Kita telah ditantang keadaan untuk kembali melibatkan benak terdalam. Bagaimana bisa terduga penculik ingin jadi pemimpin bangsa? Memang, Prabowo belum diputuskan bersalah atau tidak, sebab pengadilan belum dibuat. Namun status abu-abu Prabowo adalah seperti membeli kucing di dalam karung---bahkan lebih berbahaya.

    Kita ingin calon presiden kita jelas, bersalah atau tidak? Kalau merasa tidak bersalah, bawalah segala bukti, jelaskan semuanya pada Komnas HAM, Kejaksaan Agung, dan Dewan Pertimbangan Presiden. Jangan hanya diam dan menyuruh tim sukses serta simpatisan membantah semua dugaan. Buktikan.

    Kalau pun dugaan penculikan ini dikesampingkan, Prabowo tetap dibuntuti sederet potensi masalah. Prabowo punya koalisi obesitas. Di dalamnya, ada Hatta Radjasa yang anaknya tidak dipenjara setelah menewaskan 2 orang lewat tabrakan, serta Aburizal Bakrie yang bertanggungjawab atas berubahnya Sidoarjo jadi lautan lumpur.

    Prabowo juga berkoalisi dengan dua partai Islam PPP dan PKS. Bekas menteri agama dari PPP dan gubernur Jawa Barat dari PKS kerap berkomentar menyakitkan terhadap korban intoleransi seperti Ahmadiyah dan Syiah. Kemudian Prabowo juga didukung oleh FPI yang ikut bertanggung jawab atas intoleransi tadi.

    Prabowo juga didukung oleh musisi Ahmad Dhani, yang dalam lagu kampanye Prabowo memakai baju pejabat militer Nazi Jerman. Gerakan Nazi yang rasis dan fasis telah membunuh jutaan Yahudi di Jerman. Praktis Dhani disebut kalangan internasional sebagai tidak sensitif.

    Prabowo juga gembar-gembor membawa nuansa Orde Baru yang militeristik. Kita tahu Orde Baru adalah rangkuman dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Orde Baru adalah masa ketika pendapat warga dibungkam, dan 13 orang bisa hilang begitu saja dengan dalih menyelamatkan ratusan juta warga lainnya. Ingat, Orde Baru juga telah menggusur lahan petani atas nama pembangunan!

    Mari kita cek daftarnya. Koalisi kebal hukum, kader menyebalkan, artis fasis, nuansa militer dan pemerintahan yang anti-kritik. Semuanya komposisi sempurna untuk pemerintahan yang diktatoris, diskriminatif, dan menindas. Potensi ini berkumpul di telapak tangan Prabowo Subianto.

    Tak perlulah kita membahas hak azasi manusia. Ini bukan soal pengadilan Ad Hoc yang diteriakkan para aktivis di seberang Istana Negara. Pun bukan soal instrumen HAM internasional yang dicetuskan PBB. Ini bukan soal peta politik Indonesia, bukan soal pilpres saja.

    Ini soal benak kita, soal Dinis yang mencari ayahnya. Ditambah 12 keluarga aktivis lain yang sudah 16 tahun menanti kabar anggota keluarga mereka. Memilih Prabowo adalah tega membiarkan Dinis menunggu lagi 5 tahun, 10 tahun, atau mungkin selamanya.

    Ini juga soal kemungkinan anggota keluarga kita hilang jika Prabowo berkuasa. Dan itu bisa siapa saja: ayah, ibu, kakak, adik, saya, Anda sendiri.

    Esok Dinis akan menentukan pilihan, begitu pun saya, dan Anda. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ayah Anda hilang karena dianggap mengganggu roda pemerintahan. Silakan pilih Prabowo jika Anda mau nasi yang Anda makan adalah buah tangan petani yang lahannya digusur oleh pemerintah berdarah. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ibadah di seberang Istana Negara karena kebetulan Anda tidak memeluk agama mayoritas. Saya tidak.

    Saya tidak akan memilih Prabowo Subianto, selamanya.*** 

    Foto milik tempo.co

     
  • Dari Kebun ke Sabun

    Dari Kebun ke Sabun

    Teks dan foto oleh Rio Tuasikal. Ditulis untuk www.portalkbr.com


    Entin, warga desa Sarongge

    Sore di Saung Sarongge, Desa Sarongge, Cianjur, Entin (44) datang membawa dua keranjang sabun sereh hutan buatannya. Kepada wartawan yang datang, dia sibuk menjelaskan bagaimana membuat sabunnya yang wangi.

    "Satu kocokan (bahan) bisa untuk 20 batang. Satu sore habis dzuhur bisa bikin 100 batang," ujar Entin yang bernama asli Kartini.

    Sabun sereh telah jadi usaha Entin selama satu setengah tahun terakhir. Sebelumnya dia bertani di Sarongge di kawasan hutan Gunung Gede sejak 1990. Dia menanam kol, wortel, kentang, dan bawang daun.

    Pemerintah pada 2003 melebarkan wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sampai ke lahan Entin. Entin meninggalkan lahannya pada 2009 dan hanya menggarap kebun tomat kecil peninggalan orangtuanya di luar kawasan taman nasional.

    Sebanyak 155 keluarga penggarap lahan sempat memprotes perluasan itu meski akhirnya menyerahkan lahannya ke pemerintah. Kini bekas kebun warga ditanami pohon kembali agar jadi hutan penjaga ekosistem. Sementara warga dicarikan pekerjaan sampingan agar tak kembali ke hutan.

    Bekas kebun warga yang kini ditanami pohon agar kembali jadi hutan.


    Kelompok ibu Sarongge jadi sasaran pemberdayaan dari Green Initiative Foundation (Yayasan Prakarsa Hijau). Mereka dilatih mengolah jamur, membuat kerajinan tangan, hingga membuat sabun sereh. Sebanyak 20 ibu dilatih menjadi kelompok sabun sereh, namun kini tersisa 3 orang termasuk Entin. Para ibu enggan bertahan dengan keuntungan kecil.

    "Kebanyakan anggota mundur karena lama (pembuatannya). Wah kalau satu bulan (baru dijual) bagaimana cara anak saya makan?" ujar Etnin menirukan alasan rekannya.

    Sementara itu, Entin mengaku belum menikmati keuntungannya selama 7 bulan terakhir. Setiap hasil penjualan akan dibelikan bahan-bahan untuk produksi selanjutnya.

    Suami Entin ikut bekerja sampingan lewat kerajinan tangan. Keranjang dari bungkus plastik kopi yang Entin bawa sore itu adalah karya suaminya. Hampir setiap hari, Entin dan suami pergi ke kebun hingga sore, dan mengerjakan usaha sampingan menjelang malam. “Sekarang saya harus bisa membagi waktu. Waktu untuk membuat sabun, untuk menjualnya seperti sekarang," katanya.

    Sabun serehnya dia jual 15 ribu rupiah secara terbatas kepada wisatawan, di festival, atau di Green Radio Jakarta. Dia sedang mengurus izin BPOM agar sabunnya bisa masuk supermarket atau hotel berkelas.

    Sabun sereh buatan Entin dan kelompoknya

    Sejalan dengan Sarongge yang menjadi desa wisata, usaha Entin kini membawanya pada hal lain. Dia bisa bertemu presiden SBY yang pada 2013 datang ke Sarongge untuk menanam pohon. “Sangat bangga, sampai menangis saya bisa jabat tangan sama SBY,” katanya lalu tertawa.

    Dia juga senang bisa bertemu wisatawan Belanda, Inggris, dan Selandia Baru yang datang. “Kalau sekarang bisa menambah ilmu, ketemu teman-teman, adik-adik (wartawan), sama orang-orang besar," kata Entin lagi.

    Entin berjanji untuk bertani seumur hidup meski usaha sabunnya kelak jadi besar. Sementara untuk usahanya, dia ingin bantuan alat suling minyak sereh teknologi tinggi yang lebih efisien. Entin ingin menyuling minyak sereh sendiri dan tak perlu lagi membelinya ke perbatasan Bandung yang jauh.

    Usaha sabun ini kini masih beromzet kecil. Namun kata Entin itu lebih baik dari pada menghabiskan pagi hingga sore di kebun saja. "Bikin sabun itu paling senang, hobi," kata Entin lalu tertawa.***
  • Menolak Pilpres Primordial

    Menolak Pilpres Primordial


    Ketika capres tertentu dituduh keturunan Tionghoa dan Kristen akhir-akhir ini, saya sadar Pilpres ini lebih menjengkelkan dari yang saya bayangkan. Sila cek linimasa media sosialmu, ada sederet kampanye yang sebagian besarnya bertemakan suku dan agama. Mulai dari foto, teks, hingga berita yang isinya rumor semata. Ia mengundang banyak pihak berdebat panjang yang melibatkan dalil-dalil kitab suci.

    Sementara itu, saya mencari di linimasa Facebook saya perdebatan visi-misi capres dan tidak menemukannya. Tidak ada yang membahas 9 halaman visi-misi Prabowo-Hatta atau 42 halaman visi-misi Jokowi-JK. Sepertinya kita memang lebih gemar mengorek iman calon pemimpin ketimbang programnya menjaga kedaulatan pangan. Kita juga lebih tertarik dengan warna kulit calon pemimpin ketimbang caranya menjamin hak azasi manusia.

    Buat saya, suku dan agama tidak pernah menjamin apa-apa. Saya kenal orang Batak yang galak, juga yang tidak. Saya kenal orang Kristen jahat, juga yang baik. Sifat baik dan buruk ada di semua pemeluk agama. Siapa yang bisa menjamin orang yang rajin ibadah tidak akan korup, ketika seorang menteri agama yang pernah naik haji pun jadi tersangka korupsi? Maka tidak ada hubungan antara suku dan agama seseorang dengan sikapnya.

    Kampanye yang menjual satu agama pun telah melukai Indonesia. Ini karena presiden yang terpilih nanti akan memimpin negara yang didirikan bukan oleh satu pemeluk agama. Ia akan memimpin Indonesia yang memiliki ratusan kepercayaan, suku, etnis, dan budaya. Ia tidak hanya memimpin mayoritas Islam di Jawa, tapi juga Katholik di Nusa Tenggara Timur, Protestan di Sulawesi, Hindu di Bali. Ia akan jadi milik bersama bagi seluruh warga negara apapun agamanya.

    Kadang kita tidak ingat bahwa Pilpres bukanlah urusan dua bulan, tapi membentuk Indonesia 5 tahun ke depan. Karena itu kampanye bernuansa SARA akan berbahaya buat Indonesia. Jika materi kampanye kita tidak berubah, saya kuatir kita terjebak prasangka yang sama bahkan ketika 9 Juli sudah selesai. Ini harus dihentikan sekarang juga.

    Saya mengajak pendukung kedua belah pihak, Prowo atau Projo, untuk berhenti menjadikan agama dan suku barang dagangan. Berhentilah hanya memikirkan suku dan agama, ajaklah akal sehat turut serta. Buang jauh embel-embel etnis dan suku. Sementara dalil agama bisa tetap digunakan untuk mencari kriteria pemimpin bersifat luhur, lalu cari orang yang cocok dengan daftar itu. Jangan pilih orangnya dahulu baru mencari teks suci yang membenarkan pilihanmu.

    Mari mulai dengan membahas program yang kedua capres ini tawarkan. Lihat program hak azasi manusia, kedaulatan bangsa, ekonomi dan infrastruktur, ketahanan pangan dan kesejahteraan sosial, jaminan terhadap kelompok rentan, kesetaraan gender, juga layanan pendidikan dan kesehatan. Unduh di situs KPU sekarang. Lalu kita bisa berdebat secara jernih dan produktif.***

    Foto milik www.postkotanews.com
  • Menolak Homophobia, Sekali Lagi

    Menolak Homophobia, Sekali Lagi

    Untuk lesbian, gay, biseksual, dan waria

     

    Minggu (18/5) siang di Car Free Day Jakarta, lelaki feminin dan perempuan maskulin berparade. Mereka membentangkan bendera pelangi dan berteriak, “Stop stigma, kekerasan dan diskriminasi pada LGBT.”

    International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHOT) diperingati setiap 17 Mei di 120 negara. Kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) Indonesia memulainya sejak 2007. Tahun 2014 ini, peringatan serupa dilangsungkan di sejumlah kota besar seperti Medan, Surabaya, Makassar. 

    Kamis (22/5) siang, kelompok LGBT berkumpul di Komnas Perempuan untuk sekali lagi memperingati IDAHOT. Mereka mengundang banyak media dan hanya tiga yang hadir. 

    “Karena fobia ini memunculkan banyak masalah, kekerasan, diskriminasi dan stigma terhadap LGBT,” kata Yuli Rustinawati, koordinator Forum LGBT Indonesia. 

    Perempuan seperti dirinya sering dilecehkan orang sekitar, dan dia tidak sendirian. LSM Arus Pelangi mencatat pada 2013 ada 89,3% LGBT di Indonesia yang pernah mengalami kekerasan karena orientasi seksualnya. 

    LGBT menerima diskriminasi beragam bentuk. Ada remaja LGBT yang putus sekolah karena tak tahan diejek temannya, lalu dibuang keluarga. Sementara kelompok waria hanya buka salon atau jadi pekerja seks setelah terus-terusan ditolak perusahaan.  Ditemukan pula perempuan lesbian yang diperkosa gigolo sewaan keluarganya dengan berharap orientasi seksnya bisa berubah.

    “Kami dianggap kena penyakit menular. Padahal PBB sudah menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa,” kata Yuli. PBB melakukan itu sejak 1990 melalui badan kesehatan WHO.

    Secara global, ada 81 negara yang menghukum hubungan sesama jenis. Sebelas di antaranya memberi hukuman mati. 

    Di Indonesia, pemerintah tidak pernah keluarkan peraturan yang melindungi hak LGBT, malah sebaliknya. 

    Pada Agustus 2013 ada 342 Perda yang diskriminatif  terhadap perempuan, Komnas Perempuan mencatat. Sebanyak 264 aturan itu mengatasnamakan agama dan moralitas.  Aturan itu di antaranya mengatur pakaian perempuan, sementara laki-laki tidak.

    Meski aturan ini diarahkan pada perempuan, LGBT kena getahnya.

    “Kalau perempuan saja menerima perlakukan seperti itu, apalagi kami yang jelas berbeda,” kata Merlyn Sofjan, waria yang menulis novel ‘A Woman without V’. Kata Merlyn, transgender lah yang paling banyak mengalami kekerasan karena secara fisik mudah dikenali.

    Merlyn Sofjan

    Merlyn meminta pemerintah menjamin hak mereka dalam pekerjaan, jaminan sosial, standar hidup layak, kesehatan, pendidikan, dan ekspresi. 

    Merlyn ingat bahwa perjuangan ini sudah dilakukan sejak 1993, lewat Kongres Gay Lesbian pertama se-Indonesia, di Yogyakarta. Dia bilang 21 tahun perjuangan tidak mengubah keadaan. Dia berharap presiden baru bisa menghargai perjuangan panjang itu.

    Sementara Merlyn dan kelompoknya tidak meminta banyak. Mereka tidak mau distigma dan didiskriminasi. Mereka ingin hidup seperti warga heteroseksual, dinilai berdasarkan kemampuan dan bukan orientasi seksnya.

    Merlyn mungkin kembali turun untuk IDAHOT 2015. Sebab ia tahu perlindungan terhadap kelompoknya masih di tengah jalan. Dia bilang, “Bukan untuk kita, ini untuk generasi mendatang.” ***

    Rio Tuasikal menulis soal keberagaman manusia. Saat ini jurnalis Kantor Berita Radio terbesar di Indonesia, KBR 68H, yang juga percaya pada demokrasi dan hak azasi manusia. Ikuti Twitternya  @riotuasikal.
  • 8 Tips Menulis Feature

    8 Tips Menulis Feature

    Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal



    Jujur, berita politik dan hukum tidaklah menarik, apalagi bila ditulis sebagai berita langsung. Saya lebih tertarik mengupas persoalan sehari-hari yang dihadapi orang-orang. Soal kisah, perjuangannya, masalahnya, pendapatnya, cita-citanya, gaya hidupnya. Saya suka human interest.

    Kisah-kisah pribadi tidak cocok dengan struktur piramida terbalik. Ia tidak bisa ditulis sebagai berita langsung. Ia harus menyentuh, lezat di setiap titik dan koma, bikin ketagihan. Kisah pribadi selalu mengundang tanya hingga akhir. Itulah yang membawa saya berkenalan dengan feature, karya jurnalistik yang lebih menyenangkan.

    Feature atau karangan khas (kakhas) adalah bentuk tulisan, bukan tema. Feature berbeda dengan straight news, opini, kolom, artikel. Feature adalah berita yang menggunakan narasi, seperti novel dan cerpen. Ia kaya akan suasana dan mengajak pembaca seolah berada di lokasi kejadian. Namun, bagaimana pun ia hanya menyajikan fakta, bukan imajinasi.

    Kali ini saya ingin berbagi tips menulis feature, meski saya pun masih perlu banyak belajar. Tips-tips ini saya dapat dari sejumlah pengalaman pribadi, ditambah bacaan Janet Steele dan Yudasmoro Minasiani.

    Menulis Visual dan Auditori

    Feature seperti sebuah film. Penulis perlu menulis apa yang dilihat dan didengar untuk kuatkan suasana. Misalkan penulis mewawancarai narasumber di rumah bergaya Belanda dengan pohon jati di depannya. Perhatikan baju narasumber, gerak geriknya, situasi ruang tamu. Perhatikan juga apakah ada suara burung, kendaraan lewat, musik dangdut, atau batuk. Hindari kata sifat seperti bersih, tampan, sejuk. Ceritakan lewat deskripsi detail.

    Contoh : Lapang futsal ini beralaskan matras hitam dan dikelilingi tripleks tebal berisi logo sponsor.

    Dialog yang Melimpah

    Dalam feature, penulis boleh menggunakan dialog yang emosional dan kaya. Pilihlah kutipan narasumber yang mengundang haru, marah, benci, suka, lucu. Perhatikan juga aspek gaya bicara yang khas seperti logat, pilihan kata tertentu, intonasi. Tuliskan bahasa gaul atau bahasa daerah apa adanya. Hal ini menguatkan suasana.

    Contoh : “Udeh kagak ade serem-seremnye,” kata Yayah saat ditanya soal banjir.

    Bermain dengan Plot

    Feature tidak harus tersusun secara kronologis. Penulis bisa mulai dengan klimaks, lalu mundur ke belakang, memberi latar sejarah, maju lagi, keluarkan data, baru maju lagi.

    Contoh : Sudah sejak berangkat, sekitar 90 menit sebelumnya, Lingga asyik dengan musik.

    Ikut Jadi Tokoh dalam Cerita

    Penulis bisa ceritakan apa saja yang ditemui selama menulis cerita ini. Bagaimana orang-orang yang ditemui, bagaimana penulis bertemu orang yang akan ditanya, bagaimana wawancara dimulai atau berlangsung. Tulis juga bila wawancara sempat terpotong.

    Contoh : Dia terus menggenggam telur Paskah itu sementara saya ajak berbincang.

    Detail, Detail, Detail

    Jangan puas dengan wawancara dan pandangan mata saja. Kelilingi lokasi peristiwa, cari orang-orang yang duduk-duduk di sekitarnya. Kuping pembicaraan mereka. Apakah mereka memakai baju khas? Perhatikan grafiti di dinding. Bisa juga putar-putar rumah narasumber, tanyakan ini apa dan itu apa. Tanya hobinya, apa kebiasaannya? Apakah tangan narasumber garuk-garuk ketika bicara? Apakah di baju narasumber ada tulisan yang cocok dengan cerita yang sedang dibuat?

    Selalu Melihat Sisi Personal

    Feature bisa membahas peristiwa besar, dengan sudut yang sangat pribadi. Bila ada kasus intoleransi, tariklah itu ke pengalaman satu orang. Tanyakan apa yang dirasakan narasumber dengan kejadian itu, apakah ada perubahan dari cara hidupnya, apakah lebih mudah atau susah, tanya harapannya.

    Bukan Wawancara, Tapi Ngobrol Lama

    Feature butuh kisah yang melimpah. Untuk sebuah feature, tidak bisa tanya-tanya barang tiga pertanyaan. Feature tidak selesai dengan tanya jawab ala konferensi pers. Lupakan wawancara, buatlah ajang curhat 30 menit antara dua orang teman. Tanyakan detail-detail peristiwanya. Tanyakan hal-hal yang berbau emosi, tanya apa yang dia rasakan, apakah dia kesal atau marah. Ngobrol lagi di lain waktu, jangan cuma sekali. Ngobrol lama ini memungkinkan kisah-kisah yang lebih pribadi dan mendalam. Feature pun akan lebih menarik.

    Lahap Banyak Narasi!

    Mari belajar dari contoh. Belajar alur dan memperkaya kosakata bisa dari banyak membaca feature di media. Ada dua sumber feature berkualitas buat saya, Majalah Tempo dan National Geographic Traveller. Belajar narasi bisa juga dari membaca novel atau cerpen. Carilah novel terjemahan, tata kalimatnya kerap menarik untuk ditiru.***


    Gambar milik sites.psu.edu
  • A Girl Who Prays Under An Umbrella (Photo Story)

    A Girl Who Prays Under An Umbrella (Photo Story)


    Story and photo by Rio Tuasikal / @riotuasikal

    Asima Rohana Panjaitan joined Easter mass in front of Indonesia State Palace, Sunday, April 20, 2014

    With her sweaty hair and melting ice cream, 8 year old Asima from Filadelfia Church could not pay attention to the Easter Mass she's attending under 39°C Jakarta.

    But this is not the mass most of Christians in the world usually attend. Filadelfia chirch had to carry out a "mass on the road" with colorful umbrellas, in the front of Indonesia presidential palace, since the church is banned by local government of Bekasi, Indonesia.

    This was the third year for HKBP Filadelfia, together with another discriminated minority groupscommemorating Easter under the sunlight to demand justice. The local government follow the pressure from local intolerant groups, despite the high court in 2011 had ruled the church is legal.

    "Mass on the Road" takes place every two weeks and on every big days in front of Indonesia Presidential Palace.

    The Easter celebration here was very humble. Three baskets of Easter eggs were placed on the altar, a simple altar from a plastic table, decorated with a tablecloth. One Indonesian flag was raised on the right side of the altar.

    That afternoon, while adults were singing, Asima was just sitting in the back row. Sometimes she was observing around, sometimes she was talking with her friends.

    Asima Panjaitan was on third grade in an elementary school, when she, as the daughter of Filadelfia priest, Palti Panjaitan, filled her childhood memories by attending "mass on the road" for the fourth times.

    "Happy Easter"

    After two hours of preaches and religious songs, Asima got a well-decorated egg. She also took some colorful biscuits and other snacks. She was keeping the egg on her hand while we were having conversation

    “It is tiring but no problem. This is for my church,” she said.

    “What is happened with the church?”

    “My church is still locked. We cannot pray there.”

    Asima did not know exactly why her church was locked by city government of Bekasi. She only remembered that few Muslim groups were monitoring her church. Intolerant groups sometimes patrol around the church area.

    Asima remembered a bad experience at Christmas Eve, when his father leads the people of Filadelfia church to hold a mass in their church only to be blocked and protested by the intolerant groups. 

    “My dad was full of mud, cow’s feces, and urine. His motorcycle was dirty. They threw rotten eggs,” she added. She even saw her holy book was torned too. The Bibble was dirty and smelly.

    Asima did not have a heart to see his father was treated like that.


    Asima's father, Palti Panjaitan, lead the mass of the discriminated churces.

    Knowing some intolerant Muslim groups made Asima has no option but afraid. Asima confessed that she hates Muslims sometimes. “It is because the Muslims sometimes stress out my dad,” she explained.

    Not all Muslims are bad, said Asima, there are some nice Muslims too. But no matter how hard she tried, Asima feels uncomfortable every times she meets a woman with hijab.

    “I am afraid. If there were church events near my house, I covered my face with hands. I did not want to be seen. Our walk to the church was also protested,” she told.

    Asima is getting more afraid of Muslim groups because they once cursed his father. 

    “The Muslim groups were shouting to my dad, ‘We’ll see, he will be die! Die! For sure!’,“  Asima explained, her voice was shaking.

    Asima said, “afraid.”


    Asima is only one among many children that face discrimination since early school years.




    “Do you have Muslim friends?”

    “I have once. But they do not want to be friend with me anymore. I do not know why,” she said.

    Asima is scared, but she really hoped to bring back a warm relation with the Muslim groups. Many times she prayed. 

    “Dear God, please forgive them who have bothered my community. God, I hope my church will be still advocated by the people. Amen,” she told me the example.

    However this is Easter, a time to be happy to be among family and friends. Asima said she is glad to celebrate Easter despite the location. But deep down, she hopes to join Easter mass next year inside their church, just like other children.


    "Mr President Joko Widodo, please stop discrimination"

    For Indonesian article version, see Anak yang Menyapa Tuhan Dari Bawah Payung

    Dedicated for the children of HKBP Filadelfia and GKI Yasmin churches 

    Rio Tuasikal writes on human diversity. Now a reporter for the biggest radio news agency in Indonesia, KBR 68H, which believes in democracy and human rights. Follow his Twitter @riotuasikal.
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    Blog Archive

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13