Dari Kebun ke Sabun

Teks dan foto oleh Rio Tuasikal. Ditulis untuk www.portalkbr.com


Entin, warga desa Sarongge

Sore di Saung Sarongge, Desa Sarongge, Cianjur, Entin (44) datang membawa dua keranjang sabun sereh hutan buatannya. Kepada wartawan yang datang, dia sibuk menjelaskan bagaimana membuat sabunnya yang wangi.

"Satu kocokan (bahan) bisa untuk 20 batang. Satu sore habis dzuhur bisa bikin 100 batang," ujar Entin yang bernama asli Kartini.

Sabun sereh telah jadi usaha Entin selama satu setengah tahun terakhir. Sebelumnya dia bertani di Sarongge di kawasan hutan Gunung Gede sejak 1990. Dia menanam kol, wortel, kentang, dan bawang daun.

Pemerintah pada 2003 melebarkan wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sampai ke lahan Entin. Entin meninggalkan lahannya pada 2009 dan hanya menggarap kebun tomat kecil peninggalan orangtuanya di luar kawasan taman nasional.

Sebanyak 155 keluarga penggarap lahan sempat memprotes perluasan itu meski akhirnya menyerahkan lahannya ke pemerintah. Kini bekas kebun warga ditanami pohon kembali agar jadi hutan penjaga ekosistem. Sementara warga dicarikan pekerjaan sampingan agar tak kembali ke hutan.

Bekas kebun warga yang kini ditanami pohon agar kembali jadi hutan.


Kelompok ibu Sarongge jadi sasaran pemberdayaan dari Green Initiative Foundation (Yayasan Prakarsa Hijau). Mereka dilatih mengolah jamur, membuat kerajinan tangan, hingga membuat sabun sereh. Sebanyak 20 ibu dilatih menjadi kelompok sabun sereh, namun kini tersisa 3 orang termasuk Entin. Para ibu enggan bertahan dengan keuntungan kecil.

"Kebanyakan anggota mundur karena lama (pembuatannya). Wah kalau satu bulan (baru dijual) bagaimana cara anak saya makan?" ujar Etnin menirukan alasan rekannya.

Sementara itu, Entin mengaku belum menikmati keuntungannya selama 7 bulan terakhir. Setiap hasil penjualan akan dibelikan bahan-bahan untuk produksi selanjutnya.

Suami Entin ikut bekerja sampingan lewat kerajinan tangan. Keranjang dari bungkus plastik kopi yang Entin bawa sore itu adalah karya suaminya. Hampir setiap hari, Entin dan suami pergi ke kebun hingga sore, dan mengerjakan usaha sampingan menjelang malam. “Sekarang saya harus bisa membagi waktu. Waktu untuk membuat sabun, untuk menjualnya seperti sekarang," katanya.

Sabun serehnya dia jual 15 ribu rupiah secara terbatas kepada wisatawan, di festival, atau di Green Radio Jakarta. Dia sedang mengurus izin BPOM agar sabunnya bisa masuk supermarket atau hotel berkelas.

Sabun sereh buatan Entin dan kelompoknya

Sejalan dengan Sarongge yang menjadi desa wisata, usaha Entin kini membawanya pada hal lain. Dia bisa bertemu presiden SBY yang pada 2013 datang ke Sarongge untuk menanam pohon. “Sangat bangga, sampai menangis saya bisa jabat tangan sama SBY,” katanya lalu tertawa.

Dia juga senang bisa bertemu wisatawan Belanda, Inggris, dan Selandia Baru yang datang. “Kalau sekarang bisa menambah ilmu, ketemu teman-teman, adik-adik (wartawan), sama orang-orang besar," kata Entin lagi.

Entin berjanji untuk bertani seumur hidup meski usaha sabunnya kelak jadi besar. Sementara untuk usahanya, dia ingin bantuan alat suling minyak sereh teknologi tinggi yang lebih efisien. Entin ingin menyuling minyak sereh sendiri dan tak perlu lagi membelinya ke perbatasan Bandung yang jauh.

Usaha sabun ini kini masih beromzet kecil. Namun kata Entin itu lebih baik dari pada menghabiskan pagi hingga sore di kebun saja. "Bikin sabun itu paling senang, hobi," kata Entin lalu tertawa.***

Comments

  1. para ibu yang hengkang dari pelatihan GIF pada ngapain ?

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"