-->

Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • [Spoken Words] Someone Grabbed My Chest

    [Spoken Words] Someone Grabbed My Chest




    One afternoon a person I know grabbed my chest

    told me to cover it and don't be a showcase


    I dodged his hand moving towards me

    demanded his immediate apology


    But he said sorry because I was angry

    not for invading my body


    He held my back towards him to denotes

    that we're fine but I am not.


    Because it wasn't the joke that is rubbish

    But without my consent, the touch is a wrong choice.


    I choose not to fear

    I shouted to make it clear


    It is never your business

    to comment on my body and be a fashion police


    You may see a woman with burqa or bikini

    or me with a tuxedo or naked in the city

    fat, athletic, or skinny

    from all spectrum of sexuality


    Don't teach us what to wear

    But teach your brain to be aware


    this is my right to express

    and not your chance to oppress


    - Bandung, December 11, 2018


    Picture is taken from Sea School of Embodiment 



  • Ketika Berita Saya Dicap “Pro-LGBT”

    Ketika Berita Saya Dicap “Pro-LGBT”


    Poster unjuk rasa anti-LGBT di Bogor, Jumat (9/11/2018) siang

    Ketika laporan saya ‘Pengamat Nilai Indonesia Punya Ruang Bagi LGBT’ dikomentari 400 netizen, kemarin, saya tidak kaget kalau saya dicap bias dan pro-LGBT. Sejumlah komentar netizen menuding berita itu (dan juga media tempat saya bekerja) mendukung keberadaan minoritas gender LGBT. Tudingan yang sama disematkan pula kepada BBC Indonesia atas laporan berikut ini.

    Tapi, hey, tunggu dulu. Apakah netizen bisa menjelaskan apa itu bias dan pro-LGBT? Tidak ada yang membahasnya. Mereka bahkan tidak menyebut bagian mana dari laporan saya atau laporan BBC yang dianggap bias. Saya malah curiga mereka tidak benar-benar membaca isi laporan dan hanya menghakimi, secara reaktif, berdasarkan interpretasi mereka terhadap judul semata.

    Dari mana netizen mengambil kesimpulan bahwa laporan itu mendukung A atau B? Ketika saya menulis bahwa LGBT menjadi korban kekerasan, dan bahwa Islam punya tafsir alternatif terhadap keberadaan LGBT, apakah saya mendukung keberadaan LGBT? Saya hanya memberitahu bahwa itulah keadaannya. Laporan ini tidak meminta netizen mengubah sikap atau kepercayaannya jika mereka tidak suka LGBT, saya hanya bilang ‘ada lho pendapat lain’. Kalau tidak suka, silakan, tapi netizen tidak bisa mematahkannya hanya dengan marah-marah atau menghujat.

    Sejumlah netizen memberikan komentar tudingan terhadap BBC Indonesia atas laporannya

    Sebagai sebuah produk jurnalistik, laporan saya dan BBC bisa diuji, diukur, dan dipertanggungjawabkan. Keduanya memasukkan aspirasi dari kelompok yang menolak LGBT, dan menambah analisa pengamat, dan menambah konteks. Saya percaya bahwa keduanya telah tunduk pada disiplin jurnalisme.

    Sekarang bandingkan dua laporan itu dengan laporan ini dan laporan ini. Dua laporan ini, bersama sejumlah laporan media nasional dan lokal Bogor, melaporkan unjuk rasa itu dengan hanya mengutip kelompok anti-LGBT dan pemerintah Bogor yang isinya senada. Lalu apakah ini yang disebut keberimbangan?

    Jelas netizen tidak membicarakan keberimbangan jurnalisme melainkan menuntut jurnalis melayani ego mereka supaya hanya menulis yang ingin mereka baca. Mata dan hati mereka sudah dikunci oleh kepercayaan sendiri sehingga hanya bisa dan ingin menerima informasi yang sesuai dengan yang dipercaya. 

    Jurnalisme vs Polarisasi Masyarakat

    Sejumlah media nasional dan lokal Bogor hanya
    mengutip kelompok anti-LGBT dalam beritanya. 
    Inilah sulitnya membuat laporan atas isu kontroversial dalam masyarakat yang terpolarisasi. Orang-orang sudah terjebak dengan dikotomi pro atau kontra. Kalau tidak dukung ini berarti menolak. Kalau tidak menolak otomatis mendukung. Padahal kita semua tahu tidak seperti itu.

    Saya ingin mengedepankan analogi dengan makan bakso. Ada yang suka makan bakso dengan sambal dan kecap tapi saya lebih suka bening saja. Apakah artinya saya membenci sambal dan kecap? Tidak. Saya hanya tidak menggunakannya. Ada yang suka mie kuning ada yang bihun. Apakah yang suka mie kuning berarti harus membenci bihun? Tidak kan?

    Tidak semua orang menyukai olahraga renang. Apakah saya membenci renang? Tidak. Apakah saya mau renang? Boleh kalau ada yang ajak. Berarti suka renang? Tidak juga. Kalau tidak ada yang ajak juga tidak apa-apa. Saya biasa-biasa saja.

    Selalu ada ‘ruang antara’ mengenai semua hal. Semuanya tidak harus dilihat sebagai pro-kontra. Tidak harus suka atau benci. Selalu ada opsi ketiga ‘biasa-biasa aja sih’. Kita semua merindukan padang rumput ini. Tempat di mana orang bisa bijaksana menerima perbedaan orang lain meski mereka tidak menyukainya.

    Netizen boleh tidak suka LGBT tapi ‘nggak apa-apa kok mereka hidup kan manusia juga’. Netizen boleh banget nggak setuju dengan LGBT tanpa melakukan kekerasan atau diskriminasi terhadap mereka.

    Saya tahu dan mengalami, menawarkan 'ruang ketiga' kepada masyarakat yang terbelah itu tidak mudah dan tidak akan pernah mudah. Bagi jurnalis yang tengah melakukannya, mari kita bergandengan tangan dan saling menguatkan.*
  • Kenapa Kita Menerapkan "Sinetron Azab" pada Bencana Alam?

    Kenapa Kita Menerapkan "Sinetron Azab" pada Bencana Alam?

    Petir sering diasosiasikan sebagai murka Tuhan atau para dewa. (Gambar: bbc.com)

    Betul, kita semua setuju bahwa orang jahat harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Bahwa orang licik dan culas harus menganggung akibat dari perilakunya. Dengan demikian kita yakin keadilan telah ditegakkan dan bahwa 'kebaikan' akan selalu menang.

    Umat manusia selalu punya angan-angan tentang kebenaran tertinggi itu. Di ranah duniawi yang profan, kita menciptakan sistem hukum dan peradilan pidana untuk membuat jera individu yang telah merugikan orang lain. Sementara di ranah agama yang sakral, manusia mengenal konsep surga dan neraka. Tuhan akan mengganjar perbuatan manusia berdasarkan amalannya.

    Gagasan mengenai surga-neraka ini merupakan ejawantah alami dari kerinduan kita akan keadilan. Konsep dwitunggal ini menjadi kompas moral bagi sebagian orang. Surga-neraka secara bersamaan menjaga seseorang menganut nilai-nilai yang dianggap 'baik' oleh masyarakat dan juga peradaban. Hal ini belaku juga bagi sebagian manusia lain yang memilih sains dan filsafat sebagai kompas moralnya.

    Dalam Islam, selain surga-neraka dikenal juga konsep azab: Allah SWT menjatuhkan hukuman langsung karena ciptaannya melakukan pelanggaran besar. Azab muncul dalam beberapa manifestasi, dan karena ia menunjukkan kekuasaan Tuhan, biasanya merupakan fenomena alam.

    Sinetron "Azab" yang tayang rutin di Indosiar, misalnya, mengangkat pandangan manusia ini. Namun masalah muncul karena sinetron-sinetron ini terlalu menyederhanakan masalah. Tokoh-tokohnya dibuat hitam putih; kalau baik ya baik banget; kalau jahat ya jahat banget. Azab pun selalu digambarkan terlalu gamblang. Bencana ketika pemakaman. Azab itu hilang ketika orang-orang sudah memaafkan.



    Pesan moral sinetron ini sebetulnya tidak berbahaya seandainya penonton menjadikannya pengingat bagi diri sendiri.  Masalah muncul ketika kita menerapkan logika sinetron ini ke kehidupan nyata, bukan untuk mengevaluasi diri sendiri namun justru menghakimi orang lain. Ketika tanah kuburan seseorang kebetulan tergenang air, kita langsung berkesimpulan.

    "Wajar saja matinya aneh, selama hidupnya dia jarang sedekah."

    Sebentar.

    Dari mana kita tahu bahwa orang itu jarang sedekah? Bagaimana kita tahu Tuhan memang tengah murka? Jangan-jangan itu fenomena alam biasa? Jangan-jangan itu hanya kita yang sombong dan merasa paling tahu cara berpikir sang khalik. Kita bertindak seolah-olah jadi malaikat yang menghitung-hitung dosa orang lain. Lalu kita mencocok-cocokkan fenomena alam kepada kondisi yang dihadapi orang itu. Hanya agar kita nampak jauh lebih mulia daripada mereka.

    "Wajar saja matinya aneh, selama hidupnya dia jarang sedekah," kalimat ini bisa saja keluar dari orang yang lebih suka mengeluarkan uang untuk belanja.

    "Tuh kan gempa. Banyak orang suka berzina, sih" padahal bisa saja dirinya pernah meminjam uang kepada orang lain tapi tak pernah mengembalikan sehingga orang lain itu sakit dan akhirnya meninggal.

    ------
    Baca juga: Kenapa media Indonesia suka pakai lagu sedih kalau ada berita bencana? Bagaimana di Jepang? Simak NHK dan Warta Air Mata

    -----

    Siapakah yang berhak menentukan seseorang berdosa atau tidak? Siapa yang menghitung dosa dan pahala, juga menetapkan imbalan terhadapnya? Itu adalah hak istimewa Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak ada satu pun manusia yang bisa menghakimi orang lain. Jadi, kita jangan angkuh dan merasa paling suci.

    Dengan demikian, kita juga harus arif dan menahan diri untuk tidak menghubungkan murka Tuhan dengan fenomena seperti bencana alam. Kita tidak berhak menghakimi orang-orang. Selain itu, bagaimana kita menjelaskan catatan gempa 1973-2013 yang menunjukkan Kalimantan nyaris aman dari gempa? Apa berarti orang Kalimantan semuanya suci? 

    Kita tidak perlu menjawabnya karena itu urusan Tuhan. Tugas kita sebagai manusia bukan untuk menghakimi yang lain. Kewajiban kita adalah memberikan doa dan bantuan kepada para korban bencana alam (dan juga sedikit belajar ilmu bumi). (rt)

    Catatan gempa 1973-2013 dari USGS menunjukkan wilayah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi,
    dan sebagian Papua mengalami gempa karena berada di lempeng benua. (Gambar: Tribun Medan.com)

    *Penulis adalah jurnalis berbasis di Jakarta dan Bandung. Instagram @riotuasikal

    Catatan: Sangat disayangkan, sinetron "Azab" dan semacamnya hanya menceritakan orang-orang yang melakukan petit crime atau kejahatan mungil: mencuri, licik dalam berdagang, atau berfoya-foya. Sinetron ini tidak pernah mengangkat orang-orang yang melakukan kejahatan besar yang merugikan masyarakat luas seperti korupsi. Padahal korupsi jelas merupakan pencurian dalam skala yang lebih besar dan pasti dimurka Tuhan. 

  • Puisi: 13 Tahun Agama

    Puisi: 13 Tahun Agama

    *Dibacakan pada Unmasked Open Mic "Ascendance" di Jakarta, 18 Agustus 2018


    November 2005: Ibu saya berjualan kue lebaran tapi ada sisa
    Dia meminta saya memberikannya pada tetangga
    "Tapi, mah, dia kan batak dan kristen. Tidak Lebaran kayak kita"
    "Oh tenang saja, ini kue persahabatan semata"
    Di rumah tetangga, kue disambut dengan suka cita
    Oh ternyata dia belum pernah menerima kue lebaran seumur hidupnya
    Maka sebulan sesudahnya, ketika Natal tiba...
    ...giliran keluarga saya dapat kue darinya
    Indahnya perbedaan kita.

    Tapi tahun demi tahun mengubah semuanya
    Gereja-gereja disegel orang-orang yang murka
    Ahmadiyah, Syiah, dipukuli atas dasar prasangka
    Perempuan muslim, yang siswa atau abdi negara, dipaksa pakai jilbab di kepalanya
    LGBT diusir, karena tiba-tiba selangkangan saya jadi urusan Anda semua!

    Gubernur bersih, masuk penjara; protes adzan kencang, eh dihukum juga.
    Atas nama? Pe-nis-ta-an-a-ga-ma

    Sejak kapan agama jadi dipaksa-paksa?
    Sejak kapan ini jadi watak Indonesia?

    Juni 2018: Pilkada
    Ayah saya hanya ingin memilih pemimpin yang seagama
    Ibu berkata, "iya, betul juga”

    Kemarin hari kemerdekaan kita, dan secara munafik bangga dengan keberagaman kita
    Merdeka, merdeka, merdeka!
    Padahal isinya penuh borok dan luka

    Jakarta, 16 Agustus 2018

    Pic taken by Putri Minangsari (@poetryreading)




  • Uwu, Saya Gemas Melihat Orang Melafal "Pasteur" dan "Purbaleunyi"

    Uwu, Saya Gemas Melihat Orang Melafal "Pasteur" dan "Purbaleunyi"

    Untuk yang suka mengejek orang Sunda soal 'f' dan 'v'
    Aksara 'eu' dalam bahasa Sunda (Wikimedia Commons)

    "Untuk informasi selengkapnya, kita bergabung bersama Jurnalis Kompas TV Nadia Hafizha di gerbang tol Past(e)r, Bandung, Jawa Barat."

    Eh apa? Paster atau Pasteur? 

    Musim mudik seperti ini, nama pintu tol Pasteur dan tol Purbaleunyi, keduanya di Bandung, selalu masuk berita---dan banyak orang selalu keliru ketika melafalkannya. Baik itu reporter televisi, pejabat atau petugas Kementerian Perhubungan, termasuk pemudik sendiri yang melewati Jawa Barat.


    Mereka keliru mengucapkannya sebagai Paster, dengan 'e' biasa seperti dalam menyenangkan. Padahal seharusnya 'eu'. Bunyinya kira-kira kayak temen Spongebob, si Patrick Star pas lagi bengong. Saking susahnya cari video yang bisa menjelaskan itu, berikut saya bikin video sendiri hahaha..


    Sedikit pengetahuan Basa Sunda. Tidak seperti banyak yang lain, bahasa ini memiliki tiga jenis e: ada é, e, dan eu. Yang pertama (é) bacanya seperti enak. Yang kedua (e) seperti sedih. Yang ketiga (eu) ini adalah keajaiban bahasa Sunda yang hanya lidah penutur asli yang dapat melakukannya. Eh tapi di bahasa Aceh juga ada lafalnya kok, contohnya Meulaboh.

    Bahasa Sunda punya banyak kosakata 'eu'. Misalnya peuyeum (singkong fermentasi), hareudang (gerah), dan euy (ekspresi penekanan). Ka mana euy? Saya sendiri, yang lahir di Tasikmalaya dan besar di Bandung, dari ibu yang Sunda dan ayah Sunda-Ambon, jadi terlatih bisa mengucapkannya. 

    Nah, basa Sunda juga punya keunikan lain, karena secara tradisional tidak mengenal 'f' dan 'v'. Hal ini membuat orang Sunda punya stereotip tidak bisa melafal 'f'. Saya tetap bisa sih karena dari kecil pakai bahasa Indonesia di rumah. Tapi masih banyak orang Sunda di luar sana yang kesulitan.

    Bahasa sangat mengakar tidak hanya secara budaya tapi juga fisik. Saya baru tahu bahwa bahasa melatih anatomi lidah-mulut menjadi fleksibel dengan bunyi tertentu dan tidak terhadap bunyi yang lain. Inilah yang disebut aksen. 

    Orang Jepang bilang 'bully' menjadi 'burry', orang Tiongkok melafal 'world' sebagai 'woh', dan orang Prancis malah melafalkan 'hospital' jadi 'opital'. Semua karena lidah kita, apapun bahasa ibunya, berangsur kaku ketika kita mencapai usia tertentu. 

    Di Amerika Serikat, di mana migran datang dengan berbagai logat bahasa, upaya menetralisasi aksen menjadi bisnis besar. Modifikasi aksen jadi pilihan sebagian mereka yang mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau ketiga. Accent reduction ini misalnya didorong organisasi American Speech–Language–Hearing Association (ASHA) dan Accent Reduction Training Association (ARTA). Meski pemerintah AS menjamin kesempatan kerja adil bagi semua orang, tetap saja aksen menjadi semacam halangan sosial yang bagi sebagian orang ingin dihilangkan. 

    Saya termasuk yang percaya aksen adalah bagian dari diri kita. Jika ada yang ingin menghilangkan silakan, yang ingin mempertahankan juga silakan. Tidak perlu ada pemaksaan. Begitu pun dengan orang Sunda yang terjebak dengan 'p', dan orang non-Sunda yang belepotan menyebut Purbaleunyi. Sama-sama gemas saja. Ternyata di situlah indahnya keberagaman kita. 

    Satu hal terakhir. Saya ingin mengklarifikasi tuduhan yang selama ini dialamatkan kepada orang Sunda. Kata siapa orang Sunda nggak bisa ngomong 'f'? Itu mah pitnah!***

  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13