Posts

Showing posts from 2018

[Spoken Words] Someone Grabbed My Chest

Image
One afternoon a person I know grabbed my chest

told me to cover it and don't be a showcase


I dodged his hand moving towards me

demanded his immediate apology


But he said sorry because I was angry

not for invading my body


He held my back towards him to denotes

that we're fine but I am not.


Because it wasn't the joke that is rubbish
But without my consent, the touch is a wrong choice.

I choose not to fear

I shouted to make it clear


It is never your business

to comment on my body and be a fashion police


You may see a woman with burqa or bikini

or me with a tuxedo or naked in the city

fat, athletic, or skinny

from all spectrum of sexuality


Don't teach us what to wear

But teach your brain to be aware


this is my right to express

and not your chance to oppress


- Bandung, December 11, 2018


Picture is taken from Sea School of Embodiment 



Ketika Berita Saya Dicap “Pro-LGBT”

Image
Ketika laporan saya ‘Pengamat Nilai Indonesia Punya Ruang Bagi LGBT’ dikomentari 400 netizen, kemarin, saya tidak kaget kalau saya dicap bias dan pro-LGBT. Sejumlah komentar netizen menuding berita itu (dan juga media tempat saya bekerja) mendukung keberadaan minoritas gender LGBT. Tudingan yang sama disematkan pula kepada BBC Indonesia atas laporan berikut ini.

Tapi, hey, tunggu dulu. Apakah netizen bisa menjelaskan apa itu bias dan pro-LGBT? Tidak ada yang membahasnya. Mereka bahkan tidak menyebut bagian mana dari laporan saya atau laporan BBC yang dianggap bias. Saya malah curiga mereka tidak benar-benar membaca isi laporan dan hanya menghakimi, secara reaktif, berdasarkan interpretasi mereka terhadap judul semata.

Dari mana netizen mengambil kesimpulan bahwa laporan itu mendukung A atau B? Ketika saya menulis bahwa LGBT menjadi korban kekerasan, dan bahwa Islam punya tafsir alternatif terhadap keberadaan LGBT, apakah saya mendukung keberadaan LGBT? Saya hanya memberitahu bahwa…

Kenapa Kita Menerapkan "Sinetron Azab" pada Bencana Alam?

Image
Betul, kita semua setuju bahwa orang jahat harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Bahwa orang licik dan culas harus menganggung akibat dari perilakunya. Dengan demikian kita yakin keadilan telah ditegakkan dan bahwa 'kebaikan' akan selalu menang.

Umat manusia selalu punya angan-angan tentang kebenaran tertinggi itu. Di ranah duniawi yang profan, kita menciptakan sistem hukum dan peradilan pidana untuk membuat jera individu yang telah merugikan orang lain. Sementara di ranah agama yang sakral, manusia mengenal konsep surga dan neraka. Tuhan akan mengganjar perbuatan manusia berdasarkan amalannya.

Gagasan mengenai surga-neraka ini merupakan ejawantah alami dari kerinduan kita akan keadilan. Konsep dwitunggal ini menjadi kompas moral bagi sebagian orang. Surga-neraka secara bersamaan menjaga seseorang menganut nilai-nilai yang dianggap 'baik' oleh masyarakat dan juga peradaban. Hal ini belaku juga bagi sebagian manusia lain yang memilih sains dan filsafat sebagai komp…

Puisi: 13 Tahun Agama

Image
*Dibacakan pada Unmasked Open Mic "Ascendance" di Jakarta, 18 Agustus 2018


November 2005: Ibu saya berjualan kue lebaran tapi ada sisa
Dia meminta saya memberikannya pada tetangga
"Tapi, mah, dia kan batak dan kristen. Tidak Lebaran kayak kita"
"Oh tenang saja, ini kue persahabatan semata"
Di rumah tetangga, kue disambut dengan suka cita
Oh ternyata dia belum pernah menerima kue lebaran seumur hidupnya
Maka sebulan sesudahnya, ketika Natal tiba...
...giliran keluarga saya dapat kue darinya
Indahnya perbedaan kita.

Tapi tahun demi tahun mengubah semuanya
Gereja-gereja disegel orang-orang yang murka
Ahmadiyah, Syiah, dipukuli atas dasar prasangka
Perempuan muslim, yang siswa atau abdi negara, dipaksa pakai jilbab di kepalanya
LGBT diusir, karena tiba-tiba selangkangan saya jadi urusan Anda semua!

Gubernur bersih, masuk penjara; protes adzan kencang, eh dihukum juga.
Atas nama? Pe-nis-ta-an-a-ga-ma

Sejak kapan agama jadi dipaksa-paksa?
Sejak kapan ini jadi watak Indonesia?

Uwu, Saya Gemas Melihat Orang Melafal "Pasteur" dan "Purbaleunyi"

Image
Untuk yang suka mengejek orang Sunda soal 'f' dan 'v'

"Untuk informasi selengkapnya, kita bergabung bersama Jurnalis Kompas TV Nadia Hafizha di gerbang tol Past(e)r, Bandung, Jawa Barat."

Eh apa? Paster atau Pasteur? 
Musim mudik seperti ini, nama pintu tol Pasteur dan tol Purbaleunyi, keduanya di Bandung, selalu masuk berita---dan banyak orang selalu keliru ketika melafalkannya. Baik itu reporter televisi, pejabat atau petugas Kementerian Perhubungan, termasuk pemudik sendiri yang melewati Jawa Barat.

Mereka keliru mengucapkannya sebagai Paster, dengan 'e' biasa seperti dalam menyenangkan. Padahal seharusnya 'eu'. Bunyinya kira-kira kayak temen Spongebob, si Patrick Star pas lagi bengong. Saking susahnya cari video yang bisa menjelaskan itu, berikut saya bikin video sendiri hahaha..

Sedikit pengetahuan Basa Sunda. Tidak seperti banyak yang lain, bahasa ini memiliki tiga jenis e: ada é, e, dan eu. Yang pertama (é) bacanya seperti enak. Yang ked…