Posts

Showing posts from October, 2013

Membenci Penebar Benci aka FPI?

Image
"Kalau perlu dengan FPI juga kerja sama untuk hal-hal tertentu. Iya kan? Kerja sama untuk hal hal yang baik,” kata Gamawan Fauzi, Kamis (24/10) lalu. Polemik dan bla bla bla langsung muncul di sana-sini. Di pageAnda Bertanya Habib Rizieq Menjawab, tautan pada berita ini direspon 253 komentar dan 313 jempol. Mayoritas menolak.
Penolakan masif dari publik bisa dipahami. Aksi-aksi kekerasan memang sering berhubungan dengan FPI ini. Ingat bentrok FPI dengan warga Kendal, lalu lurah Susan? Publik sudah hapal bahwa kelompok ini adalah penyebar kebencian juga pelaku kekerasan yang andal. Dan ketika Gamawan ingin buka ruang dialog dengan mereka, saya pikir: “kenapa tidak?”
Tapi harapan itu luluh berkenaan dengan sarkas yang dihujankan pada Gamawan. Di wall saya, dua teman saya bilang kerjasama atau dialog dengan FPI bakal percuma. Mereka memakai peristiwa siram oleh Munarman sebagai alasan. Dan saya tidak perlu bertanya lagi kepada mereka kenapa tidak setuju.
Di page, harapan itu maki…

Sumpah, Serapah, Cukup Sudah!

Image

Gol-Gol di Bawah Aspal

Image
“Goool!” pekik Yudi (13), pukul 1 siang itu. Restu (12) si kiper hanya bisa tertawa lantaran gagal menangkap bola. Restu lalu mengambil bola dari balik gawang, melemparnya ke empat temannya sambil terus terbahak. Begitu mendapat bola, kini Yudi mengoper pada Idpha (10), Idpha menendang, dan lagi, “Goooool!”

Bukan di lapangan futsal berbayar, mereka bermain di satu sarana sepakbola kawasan Balubur, Bandung. Nama resminya adalah Sarana Sepakbola Sekolah Sepakbola Bandung Wetan. Lapangan itu ada di kolong jalan layang Pasupati, lima menit jalan kaki dari gedung Rektorat Institut Teknologi Bandung ke arah barat. Lokasinya kurang lebih di bawah tiang pemancang utama jalan layang Pasupati.

Lapang ini beralaskan matras hitam dan dikelilingi oleh tripleks tebal berisi logo para sponsor. Di tripleks itu, tercantum nama BUMN, komunitas Bandung Creative City Forum, Badan Narkotika Nasional, Rumah Cemara dan lainnya. Sebuah kalimat begitu menonjol di antara logo-logo itu : Keadilan sosial bersepa…

Indonesia Butuh Lebih dari Karnaval

Image

Eid al-Satay Mubarak?

Image
When I went to Jatinangor this afternoon, the smell of fresh satay lingers all street long. I can easily find smokey places, and I know what is going on there, barbeque. Two hours earlier, my mom warmly welcomed my neighbor who distributes bags of meat. She got a half kilo. Then suddenly she cleaned the meat and put them in boiled water. Voila, a big bowl of gule sapi (meat curry) for our dinner.

Wether it is satay or curry, the situation is annual. I remember when I was just a little boy, Eid al-Adha came exactly on December 31, a new year’s eve, so my neighborhood could have a BBQ party. We were happy, yes, definitely. But untill now, I still don’t know the relevance of satay to the spirit of Eid.

If we take a look the history of qurban ritual, it has no relevance with satay, or any food. In Islamic tradition, it starts when Abraham the prophet received God’s message trough his dream. God asked Abraham to sacrifice, literally kill, Abraham’s only son Ismail. Heavy heart, Abraham…