Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Perbedaan, Perjalanan, Perdamaian

    Perbedaan, Perjalanan, Perdamaian


    Oleh Rio Rahadian Tuasikal

    *Untuk dosen komunikasi lintas budaya, pelancong, penulis dan aktivis toleransi. Yang untuk menciptakan damai, semuanya harus bersindikat.


    Pemandu Keraton Yogyakarta, turis lokal dan turis asing tertawa bersama di kompleks 
    Keraton, Selasa (30/10/12) lalu.

    “Perjalanan bisa bikin damai atau konflik,” kata penulis perjalanan Agustinus Wibowo, dalam Kongkow Buku “Titik Nol” di Stikom Bandung, Senin (25/3) malam. Hal itu, katanya, bergantung pada sikap turis dan pribumi sendiri. Bila saling memaksakan cara pandang, tentu akan menimbulkan perpecahan. Tapi jika saling buka pandangan, akan buat saling pengertian.

    Bagaimana perdamaian bisa dimulai lewat jalan-jalan? Penjelasan dimulai dari stigma, yakni sikap curiga pada budaya lain. Misalnya kita percaya bahwa orang Batak itu galak, orang Amerika itu penuh syahwat dan sebagainya. Sadar atau tidak, asumsi ini ditanamkan oleh orang tua dan guru kita sejak lahir. Alhasil, saking nyamannya dengan budaya sendiri, kita sampai alergi dengan budaya lain. Jadi nyaman dengan persamaan, gerah dengan perbedaan.

    Alergi pada perbedaan itulah yang jadi benih konflik. Sesederhana itu. Tertumpuk demikian lama hingga mengendap dalam alam bawah sadar. Bila ada faktor pemicu terjadi, mereka akan mudah disulut. Jika ada kericuhan, misalnya, suka dipandang sebagai konflik etnis atau agama. Padahal bisa jadi masalah awalnya bukan soal itu.

    Maka bagaimana Indonesia akan terjaga bila penduduknya masih saling curiga? Jawabannya cuma dua kata : bongkar stigma. Upaya ini bisa dimulai dari interkasi, dan itu berarti jalan-jalan. Lewat interkasi, kita berkenalan dengan wajah asli orang berbagai budaya. Jangan lupa untuk saling terbuka. Dengan sendirinya, rasa curiga pada orang berbeda akan luntur juga.

    Orang yang terbiasa menghadapi perbedaan akan punya pemahaman lebih baik soal orang asing. Pada gilirannya, rasa saling mengerti itu membawa kita ke gerbang perdamaian. Maka benar juga yang ditulis travel blogger Trinity dalam bukunya, “Menurut saya, salah satu cara termudah untuk mendukung keberagaman adalah dengan jalan-jalan sebanyak-banyaknya biar otaknya nggak picik dan biar lebih toleran.”

    Jika perdamaian dimulai seasyik itu, ya maka begitulah.
  • Mengulang Relasi Manis Tionghoa-Sunda (2)

    Mengulang Relasi Manis Tionghoa-Sunda (2)

    Teks oleh Rio Rahadian Tuasikal / @riorahadiant

    Sila baca bagian pertamanya di bagian 1.

    Jalan Raya Pos pada 1938. Sekarang jadi Jalan Asia-Afrika (sumber wikipedia.org dari Tropen Museum)
     Menurut pendiri Komunitas Aleut! Ridwan Hutagalung, alasan warga Tionghoa didatangkan ke Bandung ada dua versi. Pertama, guna membantu pembuatan jalan raya pos (groote postweg) pada masa Daendels tahun 1808. Mereka dihadirkan karena dikenal handal dalam pertukangan. Versi lain menyebutkan warga Tionghoa ke Bandung lantaran lari dari “Java Oorlog” atau perang Diponegoro tahun 1825.

    Di Bandung, kawasan pecinan diperkirakan sebelah barat alun-alun. Dalam majalah Mooi Bandoeng tahun 1935, Profesor Dr. Godee Molsbergen memperkirakan pasar pertama dibuat pada 1812 di kampung Ciguriang, belakang Gedung Kepatihan sekarang.

    Dalam attayaya.net, dijelaskan penyebaran penduduk Tionghoa ini. Tahun 1885 warga Tionghoa mulai menyebar ke Jln. Kelenteng. Pecinan di Jln. Kelenteng ditandai dengan pembangunan Vihara Satya Budhi. Menurut keterangan pengurus Vihara Satya Budhi, pecinan di Bandung seperti rumah-rumah toko pada umumnya, tak ada asesoris khusus seperti pecinan di daerah lain di Indonesia. Warganya pun beragam, tak hanya keturunan Tionghoa.

    Pecinan berkembang pesat disekitar Pasar Baru sejak 1905. Umumnya warga Tionghoa menjadi pedagang. Salah satunya, Tan Sioe How yang mendirikan kios jamu ”Babah Kuya” di Jln. Belakang Pasar, tahun 1910. Selain Babah Kuya, warga Tionghoa lain pun banyak yang mendirikan kios di wilayah ini. Selain di Pasar Baru, kawasan pecinan juga tumbuh di Suniaraja dan Citepus tahun 1914. 
    Warga Tionghoa penjaga toko (sumber aleut.wordpress.com)

    Di blog ini pula, Soeria Disastra mengatakan hubungan warga Tionghoa dan Pribumi sekitar abad ke-19 dekat sekali. Akan tetapi, Belanda tidak senang melihat kedekatan itu. Belanda pun memisahkan Tionghoa dan Pribumi dari segi ekonomi. Warga Tionghoa dijadikan perantara perekonomian bangsa Eropa dan pribumi. Menjual rempah-rempah dari pribumi ke Belanda untuk di ekspor. Lama kelamaan kedekatan dua pihak pun memudar.

    Setelah 88 tahun tertutup, akhinya pada 1852 Priangan dinyatakan terbuka oleh Hindia Belanda. Barulah gelombang imigran warga Tionghoa berdatangan. Buku Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung menampilkan datanya. Tahun 1874, tercatat 6 keluarga tinggal di sini. Tahun 1906, warga Tionghoa tercatat sebanyak 3.700. Bandingkan dengan pribumi yang 41.000 dan Eropa yang 2.100.

    Tahun 1911, Belanda mencabut semua larangan soal Tionghoa. Maka melejitlah angka pertumbuhan warga Tionghoa di pecinan Bandung hingga lewat 10.000 di tahun 1929. Namun ini hanya berlangsung singkat karena Jepang keburu masuk di tahun 1942. Bagi pendatang Tionghoa, Bandung adalah daerah terakhir yang dimasuki dan dihuni. Karenanya peninggalan mereka juga tidak banyak. 
    Pecinan Bandung yang hancur di sana-sini (sumber aleut.wordpress.com)

    Kejayaan pecinan makin redup seiring terjadinya Bandung Lautan Api tahun 1946. Ketika pribumi memilih meninggalkan Bandung setelah membakarnya, warga Tionghoa memilih pindah ke utara. Di attayaya.net, generasi keempat kios “Babah Kuya” Sie Tjoe Liong (75) menjelaskan situasi ini. Tahun itu Bandung terpisah menjadi bagian utara dan selatan. Kedua wilayah dibatasi rel kereta api yang membujur dari Cimahi hingga Kiara Condong.

    Saat pribumi kembali dari pengungsian di luar kota, mereka menemukan properti-properti milik warga Tionghoa yang masih ditinggalkan. Mereka merusak bangunan dan menjarah isinya. Akhirnya saat ini kita tidak dapat menemukan banyak peninggalan bangunan khas Tionghoa di Bandung. Lebih dari itu, hubungan kedua pihak jadi tegang.

    Akibat insiden itu, warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegalega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi. Dengan demikian, dari Pasar Baru, kawasan pecinan meluas ke daerah-daerah tersebut. Pada akhirnya, warga Tionghoa dan pribumi pun bersatu kembali.

    Kelenteng Bandung (sumber templesymbolchineseculture.wordpress.com)

    Kini sudah 67 tahun sejak Bandung Lautan Api. Hubungan keduanya yang bermula harmonis harus naik turun oleh berbagai faktor. Sekarang keduanya telah lebur dalam nama Indonesia, setelah enam abad sejak pertemuan pertama mereka.

    Bisa jadi memori itulah yang membuat nenek-nenek sipit dan mahasiswi berkerudung kompak bertepuk tangan atas puisi di awal. Mungkin pula sejarah itu yang menuntun Soeria Disastra merangkai kata-katanya. Kerinduan akan keharmonisan hubungan yang dibangun moyang mereka. Kini keduanya sepakat rindu relasi yang manis dan hangat. Semanis jeruk-jeruk bundar, sehangat lampion terang, yang menghiasi altar kelenteng Bandung tiap kali imlek hadir. [] 
  • Mengulang Relasi Manis Tionghoa-Sunda (1)

    Mengulang Relasi Manis Tionghoa-Sunda (1)

    Teks oleh Rio Rahadian Tuasikal / @riorahadiant

    Soeria Disastra (sumber sundanews.com)

    “Tak pernah kau Cina-kan aku! Di matamu aku Tionghoa, di hatimu aku Indonesia,” pekik Soeria Disastra, sastrawan Tionghoa Indonesia membacakan puisi di mimbar. Tepuk tangan lalu menyeruak, menghela Soeria yang sedang baca ‘Ketemu di Jalan’ soal Gus Dur. Soeria lanjutkan sampai akhir dan mendapat sambutan meriah kembali.

    Suasana di atas terjadi di diskusi ‘Gus Dur, Bapak Tionghoa Indonesia’ akhir Sabtu (26/1) lalu. Acara yang bertempat di gereja sekolah BPK 5, Bandung itu dihadiri 130-an peserta. Mereka adalah warga Bandung keturunan Tionghoa, anggota Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia, dan lainnya. Acara diadakan oleh Jaringan Kerja Antarumat Beragama dalam mengenang kepergian Gus Dur 2009 lalu.

    Saling temu dua kalangan di atas, di gereja pula, adalah potret Bandung yang heterogen namun harmonis. Hal ini seolah ingin meruntuhkan gambaran dari data The Wahid Institute tiga tahun ke belakang. Dalam data itu disebutkan angka tindak kekerasan berbau suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Di Jawa Barat, dengan Bandung sebagai ibukota, ada 57 di 2010, naik jauh hingga 128 di 2011, dan turun ke 102 di 2012.
    Gambar Pecinan Bandung di salah satu publikasi zaman kolonial (sumber aleut.wordpress.com)
    Salah satu seteru SARA antara warga keturunan Tionghoa dan pribumi di Bandung pernah terjadi 40 tahun lalu. Saat itu 5 Agustus 1973 di Pecinan Bandung, pribumi melempari rumah warga dengan kayu dan batu. Dari obrolan yang beredar, kejadian itu berawal dari senggolan gerobak pribumi dengan mobil milik Tionghoa. Akhirnya, kerusuhan meledak di mana-mana. Sebelum itu, ada juga ketegangan akibat Bandung Lautan Api Maret 1946.

    Data di atas akan aneh bila dibandingkan saat etnis Tionghoa datang ke Nusantara tahun 1400 dulu. Dalam buku Gus Dur, Bapak Tionghoa Indonesia ditulis bahwa Kaisar Yung Lo (berkuasa 1403-1424) menugaskan Laksamana Cheng Ho (lahir 1371) membuka jalur dagang ke Asia Tenggara. Kedua pihak lalu membangun kerjasama ekonomi tanpa sekalipun adu senjata. Sejak hubungan baik ini, makin banyak etnis Tionghoa datang ke Nusantara.

    Laksamana Cheng Ho (sumber forum.kompas.com)

    Ketika pelaut Belanda pertama kali tiba di Banten tahun 1596, mereka melihat ekonomi aktif oleh masyarakat Tionghoa yang telah lama menetap di sana dan berhubungan baik dengan warga setempat. Maka Belanda mengundang warga Tionghoa datang ke Batavia untuk jadi penggerak.

    Ryzki, anggota Komunitas pecinta sejarah Aleut!, menambahkan. Bagi Gubernur Jenderal J.P. Coen waktu itu, warga Tionghoa lebih disukai lantaran bukan hanya rajin, juga tidak berperang. Warga Tionghoa kala itu jadi pedagang eceran dari barang yang diimpor Belanda.

    Sekilas soal komunitas ini. Komunitas Aleut! adalah komunitas pecinta sejarah. Mereka menelusuri tempat-tempat bersejarah di Kota Bandung dan menceritakan kisah-kisah tempat itu. Mereka mengambil sumber dari berbagai buku.

    Ryzki menjelaskan, kota-kota pesisir lain seperti Semarang dan Surabaya, warga Tionghoa sudah banyak yang menetap. Selepas kerusuhan antara pribumi dan Tionghoa tahun 1740, VOC melakukan pembatasan wilayah tinggal. Kawasan untuk warga Tionghoa disebut Chineesche kamp atau pecinan. Di pecinan itu, warga Tionghoa hidup dalam tradisi Tiongkok yang kental. 
    Kawasan Pecinan Lama (sumber aleut.wordpress.com)

    Buku Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung menyebutkan ringkasnya ada empat masa perpindahan. Abad 17 merupakan masa derasnya kedatangan imigran Tionghoa ke Nusantara, setelah sebelumnya mereka datang secara sporadis dan kontinu dalam jangka waktu yang lama. Dilanjutkan imigrasi tahun 1850-an ketika di Tiongkok berlangsung Perang Candu dan pemberontakan Taiping.

    Perpindahan besar terjadi pula tahun 1925-1930 saat kekacauan disertai pertempuran dan perebutan kekuasaan di Tiongkok. Terakhir, eksodus ke Indonesia terjadi tahun 1949 ketika terjadi pertempuran antara komunisme gongchandang dan nasionalisme guomindang.

    Berbeda dengan pecinan lain di Pulau Jawa, pecinan Bandung tidak secara tegas diberi gerbang. Hal ini karena Bandung bukan daerah pesisir selayaknya Semarang atau Surabaya. Pembentukkan Pecinan dua kota tadi adalah imigran pertama yang masih memegang kebudayaannya. Sedangkan yang ke Bandung adalah warga atau keturunan dari pecinan-pecinan tersebut.

    Gaya orang Tionghoa (sumber aleut.wordpress.com)
    Selain itu, sejak pemerintahan VOC, daerah Priangan memang telah tertutup bagi para pendatang. April 1764 dikeluarkan larangan untuk etnis Tionghoa, Eropa atau pun kelompok lain yang bukan penduduk asli Priangan untuk masuk. Karenanya, kedatangan warga Tionghoa ke Bandung adalah kesengajaan Belanda.

    Masih penasaran sama Pecinan Bandung? Lanjut di bagian 2


  • Buku : Maryam

    Buku : Maryam

    Oleh Rio Rahadian Tuasikal


    Judul                     : Maryam
    Penulis                  : Okky Madasari
    Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
    Cetakan               : 2012
    Tebal                     : 275 halaman
    ISBN                      : 978-979-22-8009-8

    Maryam bercerai dan kembali ke kampungnya di Lombok. Rumah tangganya di Jakarta tak bisa bertahan akibat cek cok dengan mertua. Terlebih lagi pernikahannya itu tak direstui orangtua Maryam sendiri. Dia berharap pulang ke keluarganya akan memperbaiki semua. Dia ingin meminta maaf karena sempat kabur dari keluarganya. Namun Maryam menemukan keluarganya tidak lagi di rumahnya dulu.

    Maryam yang kebingungan harus mencari ke berbagai tempat soal keluarganya. Selama pencarian itu dia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari tetangganya dulu. Satu per satu informasi dia dapatkan, semuanya menjelaskan apa yang menimpa keluarganya. Ternyata keluarganya diusir dari desa itu. Maryam semakin paham kenapa semuanya berubah.

    Selepas bertemu keluarganya, karena rasa bersalah, Maryam berubah. Dia berharap bisa memulai babak kehidupan baru. Maryam menikah lagi dengan jodoh dari orangtuanya. Ingin membangun rumah tangga yang bahagia pula sejahtera. Saat Maryam mengandung, keluarganya mendapat pengusiran lagi. Kali ini Maryam merasakan sendiri derita yang dulu menimpa keluarganya.

    Kini orangtua Maryam dan tetangganya tinggal di pengungsian. Mereka yang diusir dari rumah yang padahal dibeli dari hasil usaha sendiri. Sempat mereka mencoba pulang namun rumah mereka sudah hancur. Tak ada harta yang tertinggal, mereka kembali ke pengungsian dan memulai lagi hidup dari nol. Maryam berkesimpulan, hidupnya akan lebih mudah seandainya keluarganya bukan penganut Ahmadiyah.

    Memaknai perbedaan

    Dewasa ini, kasus kekerasan berlatar SARA makin sering terjadi. Kalangan aktivis keragaman mulai mempromosikan toleransi dan anti-diskriminasi. Seminar, lokakarya dan deklarasi banyak dilakukan. Yang datang biasanya kalangan moderat yang sudah sepakat untuk sepakat. Justru di tempat lain, pelaku kekerasan adalah masyarakat awam, di level akar rumput, yang bingung menangani perbedaan. Aktivis sibuk sendiri dengan ide-idenya.

    Penulis Okky Madasari menjawab tantangan itu. Lewat lika-liku kehidupan tokoh Maryam, penulis menceritakan diskriminasi yang selama ini Ahmadiyah alami. Soal bagaimana menghadapi stigma di sekolah sejak kanak-kanak hingga jenjang pernikahan. Pembaca dibawa mengenal kehidupan bertetangga yang awalnya biasa saja tapi berubah drastis setelah warga diprovokasi. Sebetulnya pembaca hanya menelusuri kisah keluarga yang sehari-hari dan bisa dialami siapa saja. 
     
    Tak berhenti di situ, penulis pun menjelaskan bagaimana hak-hak sipil mereka telah dikebiri. Lewat peristiwa pengusiran dari rumah milik mereka sendiri. Melalui kisah pemimpin daerah yang meminta mereka beralih keyakinan saja. Juga dari kehadiran wartawan yang tak kunjung merubah keadaan. Kisah amat pribadi yang sebetulnya membingkai sebuah urusan besar di Indonesia. Tidak hanya mengingatkan soal Ahmadiyah, tapi juga puluhan peristiwa serupa di seluruh negeri.

    Sepanjang 8 bab buku ini, penulis mengambil posisi netral. Tak sekali pun penulis menjelaskan Ahmadiyah, baik doktrin atau pun sejarah ajarannya. Penulis juga tidak melakukan penilaian terhadap ajaran itu. Dia hanya menceritakan kegiatan mereka sehari-hari, seperti pengajian dan kumpul-kumpul. Justru karena itu pembaca bisa melihat peristiwa ini dari kacamata kemanusiaan. Melihat Maryam serta keluarganya sebagai manusia yang punya hak-hak sipil juga.

    Lewat dialog para tokohnya, penulis menceritakan bagaimana pemahaman masyarakat soal perbedaan keyakinan. Pembaca juga sedikitnya bisa memahami pemikiran kelompok Ahmadiyah soal keberadaan mereka sendiri. Termasuk pandangan dari kelompok Ahmadiyah kepada kalangan lain juga sebaliknya.

    Penulis menyandarkan kisah novelnya pada berbagai kejadian nyata. Misalnya di Parung tahun 2005, perusakan rumah di Lombok tahun 2005 dan pengungsian ke gedung Transito, Mataram tahun 2006. Kisah ini diperkuat oleh riset langsung penulisnya di Lombok. Berita-berita di televisi dan koran tak luput memperkaya suasana cerita.

    Lewat novel ini, penulis menerjemahkan gagasan kebhinekaan ke dalam bahasa awam. Tanpa perlu menerangkan konsep hak azasi, pembaca bisa memahami sulitnya hidup sebagai minoritas. Tidak terjebak pada konsep akademik dan teologis. Tidak neko-neko, merakyat dan sederhana. Melalui pengalaman personal Maryam itu, tersimpan pula kerinduan akan toleransi antarumat beragama.

    Novel ini cocok sekali bagi yang mendalami isu keragaman, kerukunan dan hak azasi. Kisah ini pun bisa menambah khazanah pemahaman soal konflik berlatar SARA. Alur detailnya membantu memahami pemicu-pemicu konflik yang kerap terjadi. Kisah sehari-hari yang digunakan bisa membawa pembacanya belajar berbesar-hati menerima orang-orang yang berbeda. Namun demikian, meski membawa isu besar, novel ini tetap cocok sebagai bacaan sehari-hari. ***

    Penulis, blogger, penikmat keragaman
  • #CherishYIC : Ini Bidah, Bukan Bid’ah

    #CherishYIC : Ini Bidah, Bukan Bid’ah

    Oleh @riotuasikal
     
    Romo Risdo (tiga kiri atas) bersama jemaat bidah unyu-unyu rahmatullah.
    “Kamu pernah di persekutuan mana?” tanya Risdo pada saya siang itu. Saya jelaskan saya muslim dan dia heran. Katanya wajah saya Kristen mirip injil. Saya tertawa karena memang sering disebut demikian. Delapan jam berselang, bersama Okky, Otniel dan Andre, kami habiskan tiga jam bergumul soal gereja dan teologi Kristen. Saya muslim sendirian dan jadi target penginjilan saudara-saudara.

    Tak perlu kaget. Karena sebetulnya ‘target penginjilan’ adalah lelucon kami. Otniel yang Protestan bahkan menciptakan metode baptis baru selain percik dan selam, yakni celup. Akhirnya berulang kali Risdo dan Otniel bilang akan membaptis saya dengan metode celup. Kata mereka tiga jam itu adalah katekisasi (tahapan sebelum baptis) pertama saya. Semua terbahak.

    Beruntunglah saya berada di Youth Interfaith Camp, di Lembang. Berkenalan dengan orang-orang yang tersatukan dalam kasih. Dari Kamis (7/3) hingga Sabtu (9/3) kemarin, saya dan 77 pemuda Islam, Protestan, Katolik, Orthodoks dan Buddha lain dibekali banyak soal perdamaian. Kami saling berinteraksi, berbincang, dan mencek stigma masing-masing.

    “Kamu pasti nggak jago nyanyi, kamu kan muslim,” kata Risdo lagi. Saya tertawa lagi. Baiklah, orang muslim memang tak punya orgel sebesar alaihim di masjidnya. Bagaimana bisa punya, sandal saja hilang apalagi bila punya organ. Saya pikir orang Kristen memang lebih sering latihan nyanyi lewat kidung. Maka orang yang suaranya paling merdu adalah orang Kristen, yang kuliah di universitas kristen, yang jadi anggota paduan suara universitas dan gerejanya. Oh haleluya! Hahaha.

    Sejak tersatukan di kelompok Bandung, saya jadi domba tersesat. Rasanya besok saya harus ke kotak pengakuan dosa sambil berurai air mata. Oh tidak, tentu saya cuma bercanda. Kenapa saya cerita demikian gila? Soalnya ejekan tentang pak haji dan pastor, baptis celup, pindah agama lantaran sekardus mie instan, juga soal taubat bersama terlontar begitu saja. Tak ada yang tersinggung, semua tertawa. Maka inilah yang namanya merayakan perbedaan.

    Kami mengangkat, untuk tidak bilang mengorbankan, Risdo jadi Romo kami. Romo Risdo lalu menyatakan kami jemaatnya yang dia beri nama Bidah, bukan bid’ah. Penyebutannya nyaris sama namun maknanya begitu kontras. Bila bid’ah adalah istilah untuk sesuatu yang dinilai melenceng, nama Bidah adalah akronim dari Beda Itu Indah. Kami adalah jemaat bidah yang terkasih.

    Meski pelaksananya dari Gereja Kristen Pasundan, tak ada halangan untuk muslim. Panitia menyediakan waktu saya untuk bersekutu dengan Tuhan setiap Dzuhur, Ashar dan tiga waktu lainnya. Terpujilah karena pergumulan saya soal kristenisasi tak ada di sini. Karena toh sebetulnya kristenisasi memang tak pernah ada secara masif. Puji Tuhan.

    Di saat teduh ini saya memuji Tuhan. Tuhan, terimakasih saya boleh ikut kegiatan ini. Terimakasih atas kasih yang Kau beri pada kami anak-Mu. Puji Tuhan, saya tetap Islam. Sebagaimana yang lain tetap pada agamanya semula. Sebab pluralisme bukan bid’ah, hanya menegaskan bahwa beda itu indah. Dan saya sadar bahwa kesaksian saya ini Kristen banget. Boleh tepuk tangan. []
  • Parahyangan Rumah Semua Kalangan

    Parahyangan Rumah Semua Kalangan

    Oleh Rio Rahadian Tuasikal

    Jawa Barat dapat predikat baru.Yakni provinsi dengan angka kasus intoleransi tertinggi. Data The Wahid Institute menyebutkan angka tindak kekerasan berbau suku,agama,ras,dan antargolongan (SARA) tiga tahun ke belakang.

    Di Jawa Barat ada 57 kasus pada 2010 naik jauh hingga 128 kasus pada 2011,dan turun ke 102 kasus di 2012.Bukan capaian yang perlu dibanggakan. Tersebutlah beberapa kasus menonjol di antaranya sejak 2008 izin mendirikan bangunan GKI Yasmin Bogor dicabut pemerintah kotanya.Kasus sama diderita oleh HKBP di Bekasi pada Januari 2010. Masih seputar rumah ibadah, ada 12 kasus pelarangan, penyegelan, dan penutupan gereja yang bertumpuk sepanjang tahun 2010.

    Laporan tahunan Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM tahun 2010 menyebutkan, Jawa Barat memuat 53% kasus rumah ibadah di Indonesia dengan 21 kasus mengalahkan DKI Jakarta yang di posisi kedua, yakni 15% dengan 6 kasus. Tahun 2011 masih diwarnai kasus penutupan gereja.Misalnya GPIB Jemaat Galilea Villa Galaksi di Bekasi, Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) juga Gereja Mekargalih di Sumedang. Selain soal tempat ibadah, ada pula soal pelarangan aktivitas Ahmadiyah yang menimbulkan banyak kekerasan lain sepanjang tahun.

    Tercatat tiga kasus berupa pendudukan masjid, perusakan rumah, dan pembakaran aset milik Ahmadiyah. Polemik Ahmadiyah berlanjut hingga November 2012. Saat itu, kegiatan donor darah PMI dihentikan Kesbangpol Kota Bandung. Alasannya, hanya karena bekerja sama dengan Ahmadiyah. Menurut SETARA Institute,kasus itu ditambah sejumlah kasus lain hingga mencapai 103 kasus.

    Bensin dan Korek Api

    Kekerasan yang terjadi khususnya di Jawa Barat disebabkan beberapa faktor. Ada faktor umum seperti sejarah, kesenjangan, dan pendidikan multikulturalisme di Jawa Barat. Semuanya saling memperkuat dan mengendap-ngendap. Ketiganya membentuk sikap yang ibarat bensin siap terbakar kapan pun ada pemicu. Perpecahan berbau SARA sudah ada sejak era kolonial.

    Menurut Dekan Fikom Unpad Prof Deddy Mulyana,isu SARA memang dijadikan dasar pemecahan sejak itu.Pemerintah ketika itu khawatir masyarakat bersatu sehingga perbedaan selalu diungkit-ungkit. Berabad- abad diajari demikian rupanya cukup membuat sebagian masyarakat kita mengadopsinya. Kotak-kotak antaretnis makin menguat saat era Orde Baru. Warga keturunan Tionghoa sulit diakui hak-hak sipilnya. Akhirnya, mereka berwiraswasta dan inilah yang menyebabkan kesenjangan itu ada.

    Menurut Jayadi Damanik dari Komnas HAM, biasanya kasus intoleransi bermotif ekonomi. “Bukan bentuk kesetiaan terhadap agamanya,” tegasnya. Misalnya, ada retribusi dari kafe dan warung untuk ormas radikal supaya tidak kena razia. Ada pula ormas radikal yang memasok bahan di Bogor dan melarang pedagang memasok dari tempat lain. Selain faktor bensin, kini ada faktor korek api. Faktor pemicu adalah kejadian-kejadian yang mandiri,terlihat dan insidental.

    Dua faktor ini adalah politisasi agama dan komodifikasi agama. Bagi budayawan Acep Zamzam Noor, ini adalah contoh politisi lugu, yang dengan entengnya membawa simbol-simbol agama ke ranah politik.Akhirnya,agama hanya dipinjam untuk menarik suara kelompok agama tertentu.

    Momen Perbaikan

    Pemilihan Gubernur Jabar menjadi momen bagus untuk mengubah semuanya. Jawa Barat butuh pemimpin yang berani menjunjung perbedaan. Dengan segenap upaya mengisi sendi-sendi toleransi di masyarakat awam. Publik perlu yang setuju membela hak-hak sipil kalangan minoritas. Jabar perlu pemimpin dengan tindakan langsung sekaligus visi ke depan.

    Dalam jangka pendek,dia harus tegas menindak ormas intoleran. Jangka panjang, pemimpin perlu mengembangkan pendidikan multikulturalisme di Jabar.Bisa didukung dengan acara yang melibatkan beragam warga untuk datang. Mempersilakan warga berinteraksi dan dengan sendirinya merobohkan stigma yang telanjur dipercayai.

    Butuh waktu, memang. Namun, potensi itu ada, tinggal soal komitmen saja.Untuk mewujudkan kembali Bumi Parahyangan yang toleran.Parahyangan yang jadi rumah bagi semua kalangan. []
     ____________________________________________________
    *Tulisan ini dimuat di harian Seputar Indonesia suplemen Jawa Barat
    http://www.seputar-indonesia.com/news/parahyangan-rumah-semua-kalangan
    Sumber gambar www.citizenjurnalism.com
  • #KirabCapGoMeh: Barongsay Untuk Semua

    #KirabCapGoMeh: Barongsay Untuk Semua

    Teks dan Foto oleh : Rio Rahadian Tuasikal / @riotuasikal

    Kepala naga sebesar satu meter. “Aaaaaaa!” teriak gadis kecil dari tengah kerumunan penonton. Kepala liong yang ada di depannya itu langsung mundur sedikit, kikuk. Seorang peserta parade lalu tersenyum menenangkan gadis tadi, bilang tak apa-apa. Namun gadis tadi tetap tak berkutik, ayahnya hanya bisa mendorongnya dari belakang. 


    Pukul empat sore sudah sampai di jalan Sudirman, Kota Bandung Sabtu (2/3) kemarin. Biasanya jalan ini penuh dengan mobil, namun spesial untuk Kirab Cap Go Meh 2013, Sudirman disesaki barongsay. Sebanyak 30 kelompok barongsay dari berbagai kota hadir memenuhi jalan. Mereka membawa barongsay, liong, patung dewa-dewi, lampion, grup musik, serta dupa yang semerbak.

    Parade yang diperkirakan berisi 7000 personel itu mulai dari jalan Cibadak. Dari Vihara Dharma Ramsi, mereka berpawai ke Astana Anyar, Sudirman, Kelenteng, Paskal Hyper Square, Gardu Jati dan kembali ke Cibadak. Semuanya adalah kawasan Pecinan Kota Bandung. Dari semua jalan, hanya Sudirman dan separuh Cibadak yang ditutup total. Di sisanya, peserta pawai, penonton, pedagang dan pengendara harus rela berbagi macet.

    Acara ini memang menyambut Cap Go Meh yang jatuh 25 Februari lalu. Artinya menutup perayaan pergantian tahun Imlek, yakni 15 hari pasca-Imlek. Sepanjang rute sejauh 2 km itu, barongsay dan liong akan menepi untuk dua alasan. Angpao dan altar.

    Bila ada warga yang mengacungkan angpao dari depan tokonya, mereka akan menghampiri. Kadang dibawa masuk pula ke toko itu, keluar dengan angpao. Bila ada altar, baik itu di depan kelenteng atau pun toko, mereka akan melakukan pai. Yakni menunduk hormat beberapa kali. Tiap selesai hormat, mulut barongsay akan diserbu tangan-tangan yang memegang angpao.


    Meski barongsay adalah warisan budaya Tionghoa, warga yang hadir amat beragam. Ada yang berkerudung, ada yang berkalung salib, berkulit putih, kuning, hitam, singkatnya heterogen betul. Semuanya kompak bertepuk tangan riuh tiap kali liong selesai beratraksi zigzag atau spiral. Tak hanya penonton, pemain liong pun beragam latar belakangnya, bukan cuma keturunan Tionghoa semata.

    Pemandangan ini akan aneh bila melihat catatan kelam Bandung. Mundur 40 tahun lalu, tepat di jalan Astana Anyar. Pernah ada satu seteru berabu SARA antara warga keturunan Tionghoa dan pribumi di Bandung. Saat itu 5 Agustus 1973, pribumi melempari rumah warga dengan kayu dan batu. Dari obrolan yang beredar, kejadian itu berawal dari senggolan gerobak pribumi dengan mobil milik Tionghoa. Akhirnya, kerusuhan meledak di penjuru kota.


    Namun, sore ini, semuanya memilih tak peduli catatan keruh tadi. Semuanya bebas-bebas saja berinteraksi di sini. Siapa pun boleh jadi pemain liong, jadi penonton, atau memberi angpao. Termasuk bila tiga suster dari SMA Trinitas di jalan Kelenteng begitu antusias menonton atraksi. Beberapa dari peserta parade mengajak mereka berbincang lalu tertawa.

    Ditandai dengan pesta kembang api, parade ini berakhir pukul 8 malam. Di finish jalan Cibadak, suara ledakan berpadu dengan simbal, genderang, juga riuh penonton. Pemain barongsay mulai lepaskan kostumnya, wangi dupa mulai kendur. Semuanya berbaur, aksi barongsay hari ini telah mengayomi segala perbedaan. []
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13