Parahyangan Rumah Semua Kalangan

Oleh Rio Rahadian Tuasikal

Jawa Barat dapat predikat baru.Yakni provinsi dengan angka kasus intoleransi tertinggi. Data The Wahid Institute menyebutkan angka tindak kekerasan berbau suku,agama,ras,dan antargolongan (SARA) tiga tahun ke belakang.

Di Jawa Barat ada 57 kasus pada 2010 naik jauh hingga 128 kasus pada 2011,dan turun ke 102 kasus di 2012.Bukan capaian yang perlu dibanggakan. Tersebutlah beberapa kasus menonjol di antaranya sejak 2008 izin mendirikan bangunan GKI Yasmin Bogor dicabut pemerintah kotanya.Kasus sama diderita oleh HKBP di Bekasi pada Januari 2010. Masih seputar rumah ibadah, ada 12 kasus pelarangan, penyegelan, dan penutupan gereja yang bertumpuk sepanjang tahun 2010.

Laporan tahunan Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM tahun 2010 menyebutkan, Jawa Barat memuat 53% kasus rumah ibadah di Indonesia dengan 21 kasus mengalahkan DKI Jakarta yang di posisi kedua, yakni 15% dengan 6 kasus. Tahun 2011 masih diwarnai kasus penutupan gereja.Misalnya GPIB Jemaat Galilea Villa Galaksi di Bekasi, Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) juga Gereja Mekargalih di Sumedang. Selain soal tempat ibadah, ada pula soal pelarangan aktivitas Ahmadiyah yang menimbulkan banyak kekerasan lain sepanjang tahun.

Tercatat tiga kasus berupa pendudukan masjid, perusakan rumah, dan pembakaran aset milik Ahmadiyah. Polemik Ahmadiyah berlanjut hingga November 2012. Saat itu, kegiatan donor darah PMI dihentikan Kesbangpol Kota Bandung. Alasannya, hanya karena bekerja sama dengan Ahmadiyah. Menurut SETARA Institute,kasus itu ditambah sejumlah kasus lain hingga mencapai 103 kasus.

Bensin dan Korek Api

Kekerasan yang terjadi khususnya di Jawa Barat disebabkan beberapa faktor. Ada faktor umum seperti sejarah, kesenjangan, dan pendidikan multikulturalisme di Jawa Barat. Semuanya saling memperkuat dan mengendap-ngendap. Ketiganya membentuk sikap yang ibarat bensin siap terbakar kapan pun ada pemicu. Perpecahan berbau SARA sudah ada sejak era kolonial.

Menurut Dekan Fikom Unpad Prof Deddy Mulyana,isu SARA memang dijadikan dasar pemecahan sejak itu.Pemerintah ketika itu khawatir masyarakat bersatu sehingga perbedaan selalu diungkit-ungkit. Berabad- abad diajari demikian rupanya cukup membuat sebagian masyarakat kita mengadopsinya. Kotak-kotak antaretnis makin menguat saat era Orde Baru. Warga keturunan Tionghoa sulit diakui hak-hak sipilnya. Akhirnya, mereka berwiraswasta dan inilah yang menyebabkan kesenjangan itu ada.

Menurut Jayadi Damanik dari Komnas HAM, biasanya kasus intoleransi bermotif ekonomi. “Bukan bentuk kesetiaan terhadap agamanya,” tegasnya. Misalnya, ada retribusi dari kafe dan warung untuk ormas radikal supaya tidak kena razia. Ada pula ormas radikal yang memasok bahan di Bogor dan melarang pedagang memasok dari tempat lain. Selain faktor bensin, kini ada faktor korek api. Faktor pemicu adalah kejadian-kejadian yang mandiri,terlihat dan insidental.

Dua faktor ini adalah politisasi agama dan komodifikasi agama. Bagi budayawan Acep Zamzam Noor, ini adalah contoh politisi lugu, yang dengan entengnya membawa simbol-simbol agama ke ranah politik.Akhirnya,agama hanya dipinjam untuk menarik suara kelompok agama tertentu.

Momen Perbaikan

Pemilihan Gubernur Jabar menjadi momen bagus untuk mengubah semuanya. Jawa Barat butuh pemimpin yang berani menjunjung perbedaan. Dengan segenap upaya mengisi sendi-sendi toleransi di masyarakat awam. Publik perlu yang setuju membela hak-hak sipil kalangan minoritas. Jabar perlu pemimpin dengan tindakan langsung sekaligus visi ke depan.

Dalam jangka pendek,dia harus tegas menindak ormas intoleran. Jangka panjang, pemimpin perlu mengembangkan pendidikan multikulturalisme di Jabar.Bisa didukung dengan acara yang melibatkan beragam warga untuk datang. Mempersilakan warga berinteraksi dan dengan sendirinya merobohkan stigma yang telanjur dipercayai.

Butuh waktu, memang. Namun, potensi itu ada, tinggal soal komitmen saja.Untuk mewujudkan kembali Bumi Parahyangan yang toleran.Parahyangan yang jadi rumah bagi semua kalangan. []
 ____________________________________________________
*Tulisan ini dimuat di harian Seputar Indonesia suplemen Jawa Barat
http://www.seputar-indonesia.com/news/parahyangan-rumah-semua-kalangan
Sumber gambar www.citizenjurnalism.com

Comments

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"