Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Korupsi atau Ereksi? Surat Terbuka untuk Guru Besar Samsul Wahidin

    Korupsi atau Ereksi? Surat Terbuka untuk Guru Besar Samsul Wahidin

    Yth Bapak Samsul Wahidin, Guru Besar Pendiskreditan Perempuan,

    "Dengan memilih seluruh anggota pansel perempuan, itu sudah merupakan cacat bawaan."

    Tangan saya langsung gemetar ketika membaca kalimat tersebut. Pada detik itu juga saya berpikir tulisan Anda "Kontroversi Perempuan Pansel KPK" di Jawa Pos ini sangatlah berbahaya.
     
    Sebetulnya saya menahan diri menulis soal Pansel KPK yang semuanya perempuan. Saya tidak mau mengapresiasi Jokowi yang memilih Destry dan tim. Tak mau sok-sokan menyebut mereka "srikandi". Sebab, jika saya melakukannya, berarti saya menilai Pansel dengan kerangka penis atau vagina. Mau kelamin apapun yang saya dukung, saya tetap seksis---dan inilah musuh yang menjebak kita.

    Lalu hati saya terketuk ketika membaca racauan Anda.

    Sangatlah mengecewakan membaca tulisan guru besar namun berpikiran kerdil. Sebagai akademisi senior, Anda gagal menggandeng data-data yang mendukung argumen. Misal, apakah ada penelitian yang menyebutkan perempuan tak cakap menyeleksi patriot anti-korupsi? Tunjukkan pada kami, riset hukum tata negara (atau biologi?) yang membuktikan hubungan pemberantasan korupsi dengan alat reproduksi ini. Adakah jajak pendapat atau studi kasus? Nihil.

    Perempuan malah Anda anggap tidak punya kewenangan, dan memilihnya Anda tulis sebagai penyimpangan administrasi. Sejak kapan konstitusi kita hanya mengakui laki-laki?

    Kenapa juga Anda memandang perempuan sebagai cacat? Ketika semua manusia dilahirkan tanpa pernah memilih jenis kelaminnya, kenapa bisa begitu angkuh dan arogan? Jika sudah menikah, apakah Anda menganggap isteri sendiri juga sebagai sesuatu yang tidak sempurna?

    Alasan agama dan sosiokultural pun sangat rapuh. Sebab sudah banyak alternatif tafsir agama di mana perempuan punya hak yang sama. Pun budaya leluhur Nusantara tercatat menyejajarkan kedua kelamin, terlihat dari kesamaan bahasa bagi keduanya. Maka, ketika Anda menulis wanita jadi sumber kerusakan, sama saja berkata bahwa laki-laki lemah luar biasa tidak bisa berbuat apa-apa.

    Satu-satunya argumen tanpa bias gender yang saya temukan adalah tim Pansel tidak cocok diketuai ekonom pada paragraf 14. Hey, kenapa tidak melanjutkan argumen dari sini?

    Saya tegaskan, saya juga ogah bila Jokowi menghitung faktor kelamin ketika memilih anggota Pansel. Sebab, bila demikian, bagaimana pun Jokowi telah dijebak dikotomi yang sama. Dan ini tidak lebih baik dari cara berpikir tulisan Anda.

    Saya tidak bilang perempuan lebih jago memberantas korupsi, begitu pun laki-laki. Juga saya tidak mau mengatakan laki-laki lebih potensial untuk melakukan rasuah. Siapa pun ya sama saja. Kita tahu Angelina Sondakh korup, Sutan Bathoegana korup, dan bukan alat kelamin mereka yang menggelapkan uang negara. Lucunya, kita juga tahu persis bukan alat kelamin Abraham Samad yang mengendus dan menangkap mereka!

    Lalu kenapa kita membawa penis dan vagina ketika memikirkan bangsa? Saya jadi bertanya-tanya: ketika Anda memulai tulisannya, kira-kira ingin menulis korupsi atau sedang ereksi?

    Salam dari sesama laki-laki. Bukan guru besar melainkan jurnalis KBR 68H.

    - Penerbangan KMO-CGK, 26 Mei 2015
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13