Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Dari Kebun ke Sabun

    Dari Kebun ke Sabun

    Teks dan foto oleh Rio Tuasikal. Ditulis untuk www.portalkbr.com


    Entin, warga desa Sarongge

    Sore di Saung Sarongge, Desa Sarongge, Cianjur, Entin (44) datang membawa dua keranjang sabun sereh hutan buatannya. Kepada wartawan yang datang, dia sibuk menjelaskan bagaimana membuat sabunnya yang wangi.

    "Satu kocokan (bahan) bisa untuk 20 batang. Satu sore habis dzuhur bisa bikin 100 batang," ujar Entin yang bernama asli Kartini.

    Sabun sereh telah jadi usaha Entin selama satu setengah tahun terakhir. Sebelumnya dia bertani di Sarongge di kawasan hutan Gunung Gede sejak 1990. Dia menanam kol, wortel, kentang, dan bawang daun.

    Pemerintah pada 2003 melebarkan wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sampai ke lahan Entin. Entin meninggalkan lahannya pada 2009 dan hanya menggarap kebun tomat kecil peninggalan orangtuanya di luar kawasan taman nasional.

    Sebanyak 155 keluarga penggarap lahan sempat memprotes perluasan itu meski akhirnya menyerahkan lahannya ke pemerintah. Kini bekas kebun warga ditanami pohon kembali agar jadi hutan penjaga ekosistem. Sementara warga dicarikan pekerjaan sampingan agar tak kembali ke hutan.

    Bekas kebun warga yang kini ditanami pohon agar kembali jadi hutan.


    Kelompok ibu Sarongge jadi sasaran pemberdayaan dari Green Initiative Foundation (Yayasan Prakarsa Hijau). Mereka dilatih mengolah jamur, membuat kerajinan tangan, hingga membuat sabun sereh. Sebanyak 20 ibu dilatih menjadi kelompok sabun sereh, namun kini tersisa 3 orang termasuk Entin. Para ibu enggan bertahan dengan keuntungan kecil.

    "Kebanyakan anggota mundur karena lama (pembuatannya). Wah kalau satu bulan (baru dijual) bagaimana cara anak saya makan?" ujar Etnin menirukan alasan rekannya.

    Sementara itu, Entin mengaku belum menikmati keuntungannya selama 7 bulan terakhir. Setiap hasil penjualan akan dibelikan bahan-bahan untuk produksi selanjutnya.

    Suami Entin ikut bekerja sampingan lewat kerajinan tangan. Keranjang dari bungkus plastik kopi yang Entin bawa sore itu adalah karya suaminya. Hampir setiap hari, Entin dan suami pergi ke kebun hingga sore, dan mengerjakan usaha sampingan menjelang malam. “Sekarang saya harus bisa membagi waktu. Waktu untuk membuat sabun, untuk menjualnya seperti sekarang," katanya.

    Sabun serehnya dia jual 15 ribu rupiah secara terbatas kepada wisatawan, di festival, atau di Green Radio Jakarta. Dia sedang mengurus izin BPOM agar sabunnya bisa masuk supermarket atau hotel berkelas.

    Sabun sereh buatan Entin dan kelompoknya

    Sejalan dengan Sarongge yang menjadi desa wisata, usaha Entin kini membawanya pada hal lain. Dia bisa bertemu presiden SBY yang pada 2013 datang ke Sarongge untuk menanam pohon. “Sangat bangga, sampai menangis saya bisa jabat tangan sama SBY,” katanya lalu tertawa.

    Dia juga senang bisa bertemu wisatawan Belanda, Inggris, dan Selandia Baru yang datang. “Kalau sekarang bisa menambah ilmu, ketemu teman-teman, adik-adik (wartawan), sama orang-orang besar," kata Entin lagi.

    Entin berjanji untuk bertani seumur hidup meski usaha sabunnya kelak jadi besar. Sementara untuk usahanya, dia ingin bantuan alat suling minyak sereh teknologi tinggi yang lebih efisien. Entin ingin menyuling minyak sereh sendiri dan tak perlu lagi membelinya ke perbatasan Bandung yang jauh.

    Usaha sabun ini kini masih beromzet kecil. Namun kata Entin itu lebih baik dari pada menghabiskan pagi hingga sore di kebun saja. "Bikin sabun itu paling senang, hobi," kata Entin lalu tertawa.***
  • Menolak Pilpres Primordial

    Menolak Pilpres Primordial


    Ketika capres tertentu dituduh keturunan Tionghoa dan Kristen akhir-akhir ini, saya sadar Pilpres ini lebih menjengkelkan dari yang saya bayangkan. Sila cek linimasa media sosialmu, ada sederet kampanye yang sebagian besarnya bertemakan suku dan agama. Mulai dari foto, teks, hingga berita yang isinya rumor semata. Ia mengundang banyak pihak berdebat panjang yang melibatkan dalil-dalil kitab suci.

    Sementara itu, saya mencari di linimasa Facebook saya perdebatan visi-misi capres dan tidak menemukannya. Tidak ada yang membahas 9 halaman visi-misi Prabowo-Hatta atau 42 halaman visi-misi Jokowi-JK. Sepertinya kita memang lebih gemar mengorek iman calon pemimpin ketimbang programnya menjaga kedaulatan pangan. Kita juga lebih tertarik dengan warna kulit calon pemimpin ketimbang caranya menjamin hak azasi manusia.

    Buat saya, suku dan agama tidak pernah menjamin apa-apa. Saya kenal orang Batak yang galak, juga yang tidak. Saya kenal orang Kristen jahat, juga yang baik. Sifat baik dan buruk ada di semua pemeluk agama. Siapa yang bisa menjamin orang yang rajin ibadah tidak akan korup, ketika seorang menteri agama yang pernah naik haji pun jadi tersangka korupsi? Maka tidak ada hubungan antara suku dan agama seseorang dengan sikapnya.

    Kampanye yang menjual satu agama pun telah melukai Indonesia. Ini karena presiden yang terpilih nanti akan memimpin negara yang didirikan bukan oleh satu pemeluk agama. Ia akan memimpin Indonesia yang memiliki ratusan kepercayaan, suku, etnis, dan budaya. Ia tidak hanya memimpin mayoritas Islam di Jawa, tapi juga Katholik di Nusa Tenggara Timur, Protestan di Sulawesi, Hindu di Bali. Ia akan jadi milik bersama bagi seluruh warga negara apapun agamanya.

    Kadang kita tidak ingat bahwa Pilpres bukanlah urusan dua bulan, tapi membentuk Indonesia 5 tahun ke depan. Karena itu kampanye bernuansa SARA akan berbahaya buat Indonesia. Jika materi kampanye kita tidak berubah, saya kuatir kita terjebak prasangka yang sama bahkan ketika 9 Juli sudah selesai. Ini harus dihentikan sekarang juga.

    Saya mengajak pendukung kedua belah pihak, Prowo atau Projo, untuk berhenti menjadikan agama dan suku barang dagangan. Berhentilah hanya memikirkan suku dan agama, ajaklah akal sehat turut serta. Buang jauh embel-embel etnis dan suku. Sementara dalil agama bisa tetap digunakan untuk mencari kriteria pemimpin bersifat luhur, lalu cari orang yang cocok dengan daftar itu. Jangan pilih orangnya dahulu baru mencari teks suci yang membenarkan pilihanmu.

    Mari mulai dengan membahas program yang kedua capres ini tawarkan. Lihat program hak azasi manusia, kedaulatan bangsa, ekonomi dan infrastruktur, ketahanan pangan dan kesejahteraan sosial, jaminan terhadap kelompok rentan, kesetaraan gender, juga layanan pendidikan dan kesehatan. Unduh di situs KPU sekarang. Lalu kita bisa berdebat secara jernih dan produktif.***

    Foto milik www.postkotanews.com
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13