-->

Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Writing on Ashura Day : Facing Prejudice

    Writing on Ashura Day : Facing Prejudice




    I was pretty annoyed with my interviewee’s question : “Are you Sunni or Shia?” I said I am Sunni with a plain intonation in hope he won’t ask further. When the interview has done, I am keep asking about that question. Are we really need to know other’s identity before we give our answer? Does it really matter? Will does different identity, let’s say I am an atheist, lead you to give different answer?

    His name is Suaedi, a vice leader of DKM (Dewan Keluarga Masjid, Mosque Family Council) in Al Amanah mosque, Kawaluyaan, Bandung. I met him in purpose to complete my writing about Ashura Day about three weeks before. Weeks ago, Shia’s Ashura celebration has been moved to Kiaracondong due to this DKM’s request to the police.

    Suaedi came to the mosque just before a weekly pengajian (preach) began, then I told him my purpose. He lead me to the DKM office, where he asked about my faith.

    Besides his question I’ve mentioned above, the other thing of importance for me is how he responses me. He looks like on fire when he is answering every single question about why he refused that event. He said, “According to MUI, Shia is a forbidden teaching,”-MUI is Majelis Ulama Indonesia, a council for Indonesian Islamic religious leaders.

    He also said because of Ashura event from 2008, this region of Kawaluyaan has been labeled as a center for Shia community. Never heard it myself. When he explained to me about Shia, he snobbishly said, “Shia denigrates khulafaurrasyidin(four Islam community leaders after Muhammad’s death in Sunni’s version), they pretend Muhammad’s wife in hell.” The spirit he added in those sentences also reminded me that hatred has controlled him.

    Unless I am writing for voa-islam.com, I will keep asking in the same perspective of hate. But I am not. I believe in what Tempo magazine wrote on it’s very first edition, that “journalism is not to spread hatred, but to cultivate an understanding.” Journalism is a bridge, not a wall. Therefore I need authentic and original answers from the source.

    And my fear was proven in the last part of this interview. In a need of confirmation, I asked, “Have you known each other with a Shia person?” He said shortly, “Nope.” Gotcha. Can I conclude all of his answers are only based from prejudice which is both invalid and dangerous? Can he answer  precisely the same way if, let’s say, I am Shia?[]
  • Suara-Suara di Balik Asyura (4 - habis)

    Suara-Suara di Balik Asyura (4 - habis)

    Teks dan foto oleh Rio Tuasikal


    Universitas Islam Bandung - Sabtu, 7 Desember 2013

    Suasana seminar di Unisba
    “Pilih organisasi mahasiswa yang aman, dan terbebas dari paham-paham,” ujar Acep Saiful Milah, pengurus KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dari kursi pembicara.

    Acep menambahkan, “Baik internal mau pun eksternal, kaji terlebih dahulu, baik secara AD ART-nya maupun secara pergaulannya. Bisa saja di AD ART tidak tercantum akidah Syiah, tapi secara pergaulan, di antara dialektika-dialektika yang muncul, justru Syiah.”

    “Makanya kita sebagai mahasiswa harus cerdas memilih dan memilah organisasi mahasiswa, mana saja yang terbebas dari paham-paham. Dan bukan hanya dari Syiah, banyak juga paham-paham sesat lainnya.”(RIO TUASIKAL)
  • Suara-Suara di Balik Asyura (3)

    Suara-Suara di Balik Asyura (3)


    Teks dan foto oleh Rio Tuasikal  

    Masjid Al- Amanah, Kawaluyaan- Kamis, 5 Desember

    Suasana Al Amanah
    Petang gerimis di kompleks Kawaluyaan Indah, Bandung. Ayat-ayat Al-Quran melantun dari pelantang di atas menara air. Al Amanah, masjid yang dari sanalah rekaman Quran itu diputar, ada di seberang menara air.

    Masjid itu berlantai dua, yang atas untuk ibadah, bawahnya untuk wudhu dan kelas agama anak-anak. Warna hijau muda mendominasi interior masjid. Sekitar mimbar berhias ornamen kubus cekung dan cembung berbahan logam. Ada dua AC terpasang di dalam.

    Seorang pria duduk membuka blackberry-nya selepas ia sholat maghrib.

    “Jangan ke saya, ke Pak Suaedi saja,” kata lelaki bernama Affad Ruslan itu saat saya tanyai soal acara Asyura. “Kamis kemarin Pak Suaedi jadi panitia,” imbuhnya.

    “Panitia apa, Pak?”

    “Panitia buat nge-counter acara kemarin.”

    Affad meminta saya menunggu hingga selepas Isya, sekitar pukul 7 malam. Akan ada pengajian rutin digelar di situ, dan Suaedi akan datang.

    Saya menunggu Suaedi dengan berjalan ke teras masjid. Sebuah papan pengumuman memajang informasi buat jemaat. Mulai laporan keuangan kas masjid, kegiatan jemaat cilik, termasuk penolakan terhadap Syiah. Yang terakhir ini mengambil setengah ruang mading.

    Al Amanah adalah 1 dari 7 masjid dalam Forum Komunikasi Dewan Keluarga Masjid (FKDKM) se-Kawaluyaan. Jumat (8/11) FKDKM ini menolak acara Asyura oleh Ikatan Jemaat Ahlul Bait Indonesia (IJABI) dilakukan di Istana Kana, Kawaluyaan. Lantaran tak dapat izin kepolisian, acara itu pindah lokasi ke aula Muthahhari, Kiaracondong.

    “Pernyataan mendukung gerakan anti-Syiah,” demikian judul salah satu surat di mading. Surat itu menampilkan tanda tangan pengurus 28 masjid di kawasan metro Bandung dan Kawaluyaan. Terpampang pula berita dari Koran Tempo mengenai acara Asyura yang batal.

    Dari mading ini pula saya tahu bahwa Suaedi adalah wakil ketua 1 DKM Al Amanah.

    Suaedi datang sesaat sebelum pengajian dimulai. Affad yang mengenalkan saya.

    “Di bawah saja,” kata Suaedi sambil berjalan ke ruang DKM dekat tempat wudhu. Kami berdua masuk dan duduk berhadapan, sebuah meja kecil jadi penghalang.

    “Kamu Sunni atau Syiah?” tanya Suaedi ketika saya baru duduk. Saya jawab Sunni.

    “Syiah yang ada di sini ini, enggak pernah ada koordinasi sama kita,” kata Suaedi. Menurutnya, alasannya menolak adalah karena Kawaluyaan diberitakan jadi kantung pemeluk Syiah. Acara Asyura yang sendiri sudah dilaksanakan di Kawaluyaan sejak 2008.

    “Syiah ini kan berawal dari, satu, prinsip aqidah yang berbeda, syahadat yang berbeda, sholat yang berbeda,” jelas lelaki yang mengaku jadi koordinator penolakan ini.

    Suaedi menambahkan, “Kemudian, khulafaurrasyidin (empat khilafah versi Sunni selepas Muhammad wafat) dihujat, istri rasul dianggap penghuni neraka. Dan ini kita ada testimoni. Tahun lalu ada jemaah kita, namanya Pak Mahdi. Beliau dari Hizbut Tahrir, ketua Hizbut Tahrir di Pangandaran.”

    Saat ditanya dari mana ia tahu acara tersebut, ia menjawab, “Saya dapat kabar pertama, seminggu sebelumnya itu ada orang dari FPI (Front Pembela islam).”

    Suaedi tidak ingat persis harinya, antara Selasa (5/11) atau Rabu (6/11) pekan sebelumnya. “Bada ashar ketemu orang FPI yang infokan (rencana acara Asyura di Kawaluyaan),” ungkapnya, “jelang magrib ada intel juga mengabari, dapat info didatangi FPI.”

    Setelah informasi itu, Suaedi menuturkan bahwa secepatnya ia mengumpulkan anggota FKDKM dan mengadakan musyawarah. “Akhirnya kami bikin pernyataan bersama,” katanya.

    Mengenai alasan penolakan, Suaedi mengungkapkan ada tiga hal. “Kami tidak mau daerah kami dianggap basis Syiah, karena Syiah berbeda dalam prinsip aqidah. Kemudian yang kedua, kami menyimak pengalaman yang terjadi di Madura, kemudian di Jember, ya kan? Yang sudah makan korban. Itu alasan pergerakannya. Yang ketiga adalah dari Fatwa MUI, bahwa Syiah adalah aliran terlarang,” jelasnya.

    Mereka lalu membuat surat bernomor 001/B/FKDKM/XI/2013 yang merupakan surat pertama sepanjang 2013, dan dikeluarkan bulan November.

    Surat itu kemudian disampaikan ke polsek Buah Batu, polrestabes Bandung, polda Jawa Barat, kelurahan, walikota Bandung, gubernur Jawa Barat, MUI, termasuk ormas. “Jadi kami yang bergerak di jalur formalnya, ormas yang membentengi massanya,” jelasnya.

    Surat pernyataan anti Syiah di mading Al Amanah

    FKDKM se-Kawaluyaan ini, menurut Suaedi, sudah dibuat sekitar lima tahun lalu. Saat itu pernah ada isu gereja tanpa izin di Kawaluyaan. Saya menemukan FKDKM ini belum berbadan hukum.

    Dua hari sebelum acara, ujar Suaedi, pihak FKDKM bertemu dengan pemilik gedung dan IJABI sebagai penyelenggara. “Prinsipnya, mau ketemu atau tidak ketemu, prinsip, kami tidak akan mengizinkan,” jelasnya. Dia deskripsikan pertemuan malam itu, “alot.”

    Menurut Suaedi, biasanya jemaat Syiah yang datang mencapai ribuan. Mereka berasal dari berbagai daerah termasuk di luar Jawa. Hal itu termasuk menimbulkan macet juga, katanya.

    “Tahun lalu bagaimana, Pak?” tanya saya.

    “Tahun lalu kami, tadi, kami belum dapat info awal. Dan testimoni. Dari testimoni itu kita, eee, tahu betul apa yang, apa yang dilakukan di situ gitu kan.

    Pada hari H, menurut Suaedi, penyelenggara keukeuh mengadakan acara di lokasi tersebut.

    “Bahkan yang bikin ininya lagi, ormas sudah terkumpul karena memang ada perwakilan kurang lebih 30 ormas. Kumpul hari Kamis pagi dari jam 7 sampai jam 10 malam,” jelas Suaedi, “Karena kami membentengi jangan sampai nanti betul-betul pindah ke situ.”

    Menurut Suaedi, informasi pembatalan acara dari pemilik gedung keluar Kamis pukul 12 siang. Pukul setengah 1 siang, Suaedi dapat bukti transfer pengembalian uang sewa. Dia juga mengaku ditelepon oleh kepolisian yang mengabari bahwa acara Asyura akan dipindahkan, namun Suaedi tidak percaya.

    Sepanjang hari itu, wilayah Kawaluyaan dijaga kepolisian.

    “Karena desakan dari ormas, takutnya ormas ini betul-betul, memang sih ormas kita sudah sepakat aksi ini aksi damai, enggak ada yang anarkis,” jelasnya. “Terus saya ditunjuk jadi mediator antara ormas, kepolisian dan pemilik gedung.”

    Menurut Suaedi, jadwal acara yang tercantum di gedung adalah kamuflase. “Syiah ini memang selama ini nggak bisa terang-terangan,” katanya.

    “Kamuflase gimana, Pak?”

    “Kamuflase itu bahwa di daftar acara di papan itu, jam 8 pagi sampai jam 2 itu ada pernikahan. Kemudian jam 4 itu ada tabligh akbar,” jelasnya. Di website www.majulah-ijabi.org, saya menemukan acara Asyura tersebut memang ditulis sebagai tabligh akbar.

    Kamis (14/11) sore itu, kata Suaedi, anggota ormas makin banyak. Sejak pagi, ormas yang hadir di Al Amanah hanya perwakilannya saja.

    “Nggak kumpul di depan (gedung Istana Kana), Pak?”

    “Enggak. Kalau nanti acaranya dimulai, baru bergerak,” jelasnya.

    Kehadiran ormas itu, Suaedi mengaku, sudah dimulai sejak Senin. Namun itu hanya sedikit karena bentuknya pemantauan saja.

    “Ormasnya mana saja, Pak?”

    “Dari al (tidak jelas), Istiqomah, kemudian ada Dewan Dakwah, ada FPI, kemudian Persis. Banyak banyak, saya nggak hapal.”

    “Saya baca di berita ada IHDI, ormas apa itu, Pak?”

    “Ngg.. banyak ya ada Hidayatullah, ada banyak yang ormas-ormas yang saya lihat masih ini betul,” jawabnya. Suaedi menambahkan, kunci komando ada satu yakni dari Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI).

    Suaedi menuturkan pukul setengah 4 dirinya datang langsung ke lokasi acara lantaran di Istana Kana masih ada kegiatan. Suaedi meminta bertemu dengan kepolisian dan pemilik gedung. “Tolong gedung ini mau sterilnya kapan?” hentaknya menirukan perkataannya Kamis itu.

    Menurut Suaedi, kepolisian bilang akan ada acara seremonial Asyura lebih dahulu. Suaedi menolak dan bilang, “karena di info yang saya dapatkan, di tempat ini mau ada tabligh akbar. Kalau memang tabligh akbar, beri seluas-seluasnya untuk umum bisa masuk. Artinya, ormas yang ada di Kawaluyaan ini diberi kesempatan ikut. Kalau memang tabligh akbar dan harus terbuka. Kalau nggak, sterilkan saat ini juga.”

    “Mas, nanti jam setengah lima, karena kebetulan ada acara” ujar Suaedi menirukan ucapan polisi pada dirinya.

    “Nggak bisa, pokoknya saat ini juga harus steril,” tutur Suaedi.

    Suaedi mengambarkan adu mulut antara dirinya dengan kepolisian. Kepolisian meminta beberapa waktu lagi. Suaedi memaksa lokasi disterilkan saat itu juga.

    “Kalau sampai setengah lima ada (kegiatan), jangan salahkan ormas ke sini,” tegas Suaedi menirukan ucapannya.

    Akhirnya, menurut Suaedi, acara seremonial berupa orang membawa pedang jadi dilaksanakan di Kawaluyaan. Rombongan itu dikawal oleh Brimob. “Ke lokasi pindah itu, ke tempatnya kang Dajjaludin,” ujarnya.

    “Apa, Pak?” Saya berpikir ia merujuk pada nama Jalaluddin Rakhmat, ketua dewan syura IJABI dan pejabat di sekolah Muthahhari.

    “Ya kan soalnya itu Dajjal. Dan dia memang berdiri, kamuflase di kebebasan beragama itu,” tambahnya. Dajjal dalam tradisi Islam adalah figur apokaliptik yang akan memimpin umat yang jahat menjelang kiamat. Suaedi juga menuding pihak Jalaluddin Rakhmat didukung oleh ormas-ormas yang dibayar.
    Suaedi menuturkan bahwa pihaknya juga membuat spanduk penolakan. Spanduk itu, menurutnya, banyak yang hilang beberapa waktu setelah dipasang.

    “Pokoknya kalau aparat tidak netral, ormas yang akan menetralkan,” tegas Suaedi.

    Kamis malam itu, menurut Suaedi, ada anggota ormas yang jadi provokator. Namun ia menolak mengikutinya.

    Saat ditanya harapan ke depan, Suaedi menjawab, “Syiah segera dihilangkan dari Bandung, Jawa Barat, dan kalau perlu Indonesia.”

    “Bapak sendiri pernah kenal langsung sama orang Syiah?” tanya saya.

    “Enggak.” (RIO) 
  • Suara-Suara di Balik Asyura (2)

    Suara-Suara di Balik Asyura (2)

    Bersambung dari bagian 1


    Teks dan foto oleh Rio Tuasikal  

    Sekolah Muthahhari, Kiaracondong - Selasa, 3 Desember

    Rilis pers dari IJABI
    “Dan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) sebagai ormas sudah diakui sejak lama, ya, Pak?” saya coba mengonfirmasi.

    “Iya,” kata Hesthi singkat.

    “Masak (IJABI) mesti ditulis kayak Nyonya Meneer, berdiri sejak?” celetuk Hardjoko.

    Lalu kami tertawa.

    “Di spanduk penolakan, adakah ormas-ormas yang sudah diketahui secara umum?” tanya saya. “Selain yang ditulis di berita seperti IHDI, KORDUS, UPAS, GARDA? Apakah panitia mencatat nama-nama ormasnya?”

    Hesthi menjawab singkat, “Enggak, enggak mencatat.” Ia mengaku tidak mau berspekulasi mengenai siapa-siapa saja yang namanya tercantum di spanduk penolakan. Hesthi menganjurkan, “coba tanya ke pihak DKM (Dewan Keluarga Masjid) di sana.”

    DKM yang ia maksud berjumlah 7 dan menamakan dirinya Forum Komunikasi DKM se-Kawaluyaan. FKDKM ini melayangkan surat penolakan kepada kepolisian Jumat (8/11). Hesti yakin itulah alasan kepolisian tidak keluarkan izin.

    Hesthi mempertanyakan proses pengambilan keputusan di DKM-DKM tersebut. “Biasanya DKM itu bentuknya paguyuban. Nah harusnya ada musyawarah dulu. Ada berita acara yang menyebutkan betul mereka terganggu. Jangan hanya satu orang saja yang berteriak.”

    Hesthi berkisah, dua hari sebelum acara, selepas Isya, dirinya diajak pemilik gedung Istana Kana untuk bersilaturahmi dengan pihak DKM yang menolak. Hesthi datang bersama dua koleganya dari IJABI. Pertemuan ini difasilitasi oleh kepolisian. Perwakilan DKM hadir memenuhi ruangan.

    Di tengah dialog, cerita Hesthi, pemilik gedung bernama Daniel sempat minta penjelasan mengenai duduk perkara. Daniel mengaku tidak tahu apa-apa sebab dia menganut agama Kristen.

    “Astagfirullah,” sebut beberapa hadirin.

    Daniel diminta keluar dari masjid itu.

    “Untung saya nggak disuruh ngepel (bekasnya),” ujar Hesthi terkekeh.

    Dialog itu berlangsung singkat. Pihak DKM menyatakan keberatannya. “Masalah parkir, masalah keamanan,” ujar Hesthi mengenai alasan penolakan DKM.

    “Waktu pertemuan itu, suasananya gimana, Pak?”

    “Kalau ketemu pertama kali itu gimana? Kamu ketemu sama saya pertama kali ini gimana?” Hesthi balik bertanya.

    “Mirip ini, suasana di kota santri lah,” celetuk Hardjoko tak mau ketinggalan. Kami tertawa kembali.

    Mengenai komunikasi dengan masyarakat sekitar lokasi acara, Hesthi menilai itu adalah kewajiban pemilik gedung. Dia menuturkan bahwa gedung itu disiapkan untuk berbagai acara, jadi urusan izin warga setempat mestinya sudah selesai. Lagi pula, katanya, tak pernah ada masalah sejak Asyura dari tahun 2008.

    Hesthi kembali menggarisbawahi mekanisme pengambilan keputusan di DKM-DKM itu. “Apakah ketua DKM punya fatwa yang harus diikuti, apakah solo career?”

    Mencuatnya penolakan itu, menurut Hesthi, muncul dari kebencian yang sudah lebih dulu tertanam. Kebencian DKM-DKM itu terhadap kelompok tertentu telah ditujukan ke kelompok Hesthi.

    “Di situ tuh yang mereka bilang tidak setuju peringatan Asyura oleh kelompok Syiah,” jelas Hesthi. “Saya bilang, saya ini IJABI, ormas resmi. Kalau Anda mau bicara Syiah kita diskusi baik-baik.”

    Hesthi bernada tegas saat ia berkata, “Kalau Anda menolak Asyura dari kelompok Syiah, yang ini dari IJABI. Saya tidak mau disebut sebagai kelompok Syiah dalam versi mereka.”

    “Kalau IJABI, pahamnya? tanya Azizah.

    “Kami azasnya Pancasila. Visi misinya pencerahan umat dan perberdayaan,” jelas Hesthi. “Kami dalam melaksanakan visi misi bekerjasama dengan suluruh pihak yang mau melayani masyarakat.” Hesthi menjelaskan bahwa IJABI tidak pernah pandang agama dalam melakukan kegiatannya.

    Sekali lagi dia menegaskan dirinya dari organisasi IJABI, bukan mewakili paham. “Kalau kita mengevaluasi sebuah paham, itu diskusi ilmiah,” tegasnya.

    Hesthi bilang bahwa penolakan itu salah alamat. Dia menganalogikannya dengan contoh diri sendiri, “Saya orang Boyolali. Kalau Anda pernah ditipu sama orang Boyolali, ketika mendengar nama itu Anda jadi benci.”

    “Generalisasi ya, Pak?” tanya Azizah.

    “Kalau ada Syiah seperti yang mereka kenal itu ya mungkin ada. Kalau saya tidak (seperti itu),” tegasnya.

    Bagi Hesthi, perbedaan pendapat itu merupakan hal lumrah. Perbedaan itu bisa hidup bersama-sama. Yang jadi masalah, kata Hesthi, “adalah kalau beda pendapatan.”(RIO)

  • Suara-Suara di Balik Asyura (1)

    Suara-Suara di Balik Asyura (1)

    Teks dan foto oleh Rio Tuasikal  

    Sekolah Muthahhari, Kiaracondong - Selasa, 3 Desember

    halaman depan Sekolah Muthahhari pascahujan.
    “Kamu sendiri apa? Sunni apa Syiah?” ujar Hardjoko, sore itu.

    Azizah, teman saya yang duduk di kanan saya hanya bisa tersenyum. Saya bilang pada Hardjoko, “agama dia NU (Nahdlatul Ulama), Pak.” Kami tertawa kecil.

    Hujan besar berangin baru saja mengguyur Sekolah Muthahhari, Kiaracondong, Bandung, Selasa (3/12) kemarin. Saya dan Azizah sedang berbincang dengan Hardjoko dan satu rekannya. Kami duduk di ruang tunggu Yayasan Muthahhari. Narasumber utama kami dari IJABI (Ikatan Jamaat Ahlul Bait Indonesia) Hesthi Raharja belum datang. Maka kami disilakan ngobrol sebentar dengan Hardjoko yang merupakan pengurus Ahlul Bait Indonesia (ABI), organisasi rekanan IJABI.

    Hardjoko bercerita dirinya merayakan Asyura pada Kamis (14/11) di Jakarta. Dari ponselnya, dia menunjukan foto kelompok tertentu yang sedang berdemo di depan Mall of Indonesia guna menolak acara yang dia hadiri itu.

    “Kita keluar saja, ya. Biar yang saya ceritakan lebih banyak,” ujar Hardjoko.

    Kami berempat menuju kantin sekolah Muthahhari. Dua meja panjang berwarna biru di situ terlihat kuyup karena hujan. Saat itu langit masih menyisakan gerimis. Sebuah gerobak nasi goreng sudah terparkir. Dua pemiliknya sedang sibuk memasang kain dan perabotan lain. Tepat di seberang kami ada Aula Muthahhari. Aula terpisah dari komplek utama sekolah, hanya terpaut jalan semen tiga meter.

    Tak lama Daeng Anwar bergabung bersama kami.

    “Jadi, ini aula yang kemarin dipakai, Pak?” tanya saya pada Hardjoko sambil menunjuk ke seberang jalan. “Waktu saya lihat, wah kecil juga ya.”

    “Kan rencananya emang di Kawaluyaan,” timpal Daeng. “(Kawaluyaan) Sepuluh kali lipatnya.”

    “Kemarin gimana cara memindahkan para undangan, Pak?”

    Daeng menjelaskan, panitia berusaha menghubungi sebisanya. Acara ini sendiri bersifat terbuka dan tanpa undangan. Karena itu panitia tidak punya kontak lengkap dan tak bisa menghubungi setiap rombongan yang datang.

    “Kemarin itu ada, ya, lima ribuan lah. Itu belum termasuk simpatisannya, jumlah simpatisannya kami kurang tahu.”

    “Sebagian ada yang pulang karena memang nggak muat,” tambah rekannya. “Ada beberapa bus yang pulang, nggak bisa masuk.” Daeng menjelaskan bahwa Peringatan Asyura rutin dilaksanakan di Bandung sudah sejak lama. Ia memperkirakan sudah 20 tahun lebih. Sebelum IJABI dibentuk sebagai ormas pada tahun 2000, acara ini diadakan oleh Yayasan. Daeng menambahkan, gedung serba guna Istana Kana di Kawaluyaan itu sudah sering mereka gunakan, termasuk untuk Asyura 2012.

    Aula Muthahhari, seberang kantin sekolah Muthahhari
    Hesthi Raharja pun akhirnya tiba. Usai memarkir mobilnya, ia langsung bergabung.

    “Jadi kami ingin mendata kasus-kasus selama 2013 ini,” jelas Azizah. “Kalau Ahmadiyah alhamdulillah aman. Gertakan pasti ada, tapi perusakan fisik tidak. Kalau IJABI bagaimana?”

    “Kami ini kan sering membalas kedzaliman dengan memaafkan. Jadi saya sering lupa,” jelas Hesthi sambil terkekeh. Kami semua tertawa. “Ya itu kan prinsip,” tambahnya.

    Nada bicara Hesthi jadi serius ketika bilang, “Satu kedzaliman yang tidak pernah kami lupakan itu penghulu para syuhada. Itu yang wajib kami kenang.” Hesthi buru-buru menambahkan sambil kembali tertawa, “Saya tidak bilang kita ya, saya bilang kami.”

    Kami semua tertawa.

    Hesthi menambahkan, “Mengenang kesyahidan Imam Husein itu bukan membenci pembunuhnya. Enggak. Kami bersedih karena kami tidak termasuk, atau belum termasuk, barisan para syuhada. Kami sangat berharap jadi barisan para syuhada.”

    “(Perjalanan Husein ke Karbala) itu kan bukan sebuah peperangan, 40 atau 70 orang lawan 30.000 orang. Itu memang bertujuan damai,” jelas Hesthi. Menurutnya, ada pihak tertentu yang keliru memaknai peristiwa Karbala itu sebagai peperangan. Pemaknaan itu memupuk kebencian pihak tersebut kepada pihak Hesthi.

    Saat ditanya soal kekerasan yang diterima kelompok Hesthi setahun ini, Hesthi menjelaskan bahwa kekerasan baginya adalah ajakan permusuhan yang membangkitkan kebencian. Kebencian itu mudah sekali diarahkan kepada siapa pun. “Kebencian itu buta,” tegasnya.

    “Kalau sepanjang 2013 ini ada berapa kali, Pak, intimidasi dan sebagainya?” tanya saya.

    “Intimidasi, tidak,” jawabnya pelan.

    “Jadi Bapak sudah sama sekali ...”

    Hesthi memotong, “Tidak, saya mudah melupakan.”

    Kami tertawa.

    “Kalau yang kemarin di sini masih ingat, Pak?” tanya saya sambil menunjuk Aula Muthahhari.

    “Kalau yang kemarin, kejadiannya masih ingat,” jawabnya.

    “Kalau semuanya dilupakan kami jadi bingung, Pak,” kata saya disambut tawa kami semua.

    Hesthi memulai ceritanya. Perayaan Asyura yang diadakan oleh IJABI pada Kamis (14/11) lalu terpaksa pindah lokasi. Tempat semula, Istana Kana di Kawaluyaan, tidak bisa digunakan lantaran panitia tidak punya izin kepolisian. Panitia memutuskan memindahkan acara ke Aula Muthahhari, milik sekolah Muthahhari yang berafiliasi dengan IJABI.

    Pada Selasa (12/11) sore, dua hari sebelum acara, panitia menghadap Wakasat Intelkam dan dapat surat dari Kapolrestabes Bandung. Isinya, polisi meminta panitia melengkapi persyaratan berupa surat rekomendasi dari FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Departemen Agama. Menurut Hesthi, selama menyelenggarakan Asyura belasan tahun sebelumnya, syarat itu tidak pernah muncul.

    “Apakah kegiatan ormas itu harus diizinkan oleh ormas lain, kenapa ini harus izin MUI?” tanya Hesthi retoris. “MUI itu status hukumnya apa?”

    Seorang lelaki yang sedari tadi makan nasi goreng di sebelah kami ikut menimpali, “IJABI itu ormas, sama seperti NU, Persis. Jadi haknya mesti sama.”

    Saat bertemu dengan kepolisian, polisi pun menyampaikan keberatan dari pihak yang menamakan diri FKDKM (Forum Komunikasi Dewan Kemakmuran Masjid) atas acara tersebut. FKDKM menolak Asyura dilaksanakan di Kawaluyaan. “Kenapa sekarang teh zaman berubah, yang diancam yang disuruh pergi?” tanya Hesthi.

    Meski tak ada pemblokiran jalan oleh kelompok kontra, jalan Kawaluyaan dihiasi spanduk bernada penolakan. “Kalau buat saya, itu adalah orang yang punya penyakit hati dan muncul dalam bentuk spanduk.” Soal jumlahnya, Hesthi mengaku tidak tahu persis. “Ngapain kita buang waktu menghitung kejelekan atau sakit hatinya orang?”

    Azizah bertanya, “Itu ada berapa ormas?”

    “Sekarang, perlu didefinisikan yang disebut ormas itu apa?” Hesthi meneruskan, ormas itu ada status hukumnya, termasuk data badan hukum, pengurus juga anggotanya.

    Dari sisi hukum, tambah Hesthi, kepolisian mudah dipengaruhi oleh spanduk dan pesan singkat.

    “Kalau ada yang menghadap kepolisian, menunjukkan keberatan dan mengaku ormas, mereka tidak diperiksa legalitasnya,” jelas Hesthi. “Sedangkan kami yang mau melaksanakan kegiatan dan sudah melaksanakannya bertahun-tahun, ditanyakan legalitasnya dan informasi dari lembaga yang status hukumnya sama.”

    “Dan IJABI sebagai ormas sudah diakui sejak lama, ya, Pak?” saya coba mengonfirmasi.

    “Iya,” kata Hesthi singkat.

    “Masak (IJABI) mesti ditulis kayak Nyonya Meneer, berdiri sejak...” celetuk Hardjoko.

    Lalu kami tertawa. (RIO) 

  • Media, Prasangka, Simalakama

    Media, Prasangka, Simalakama

    Si Unyil sebelum punya laptop
    Yang paling bertanggung jawab atas penyebaran stigma adalah media. Sebab kemampuannya untuk menyebarkan nilai secara serempak, sadar atau tidak, media telah membentuk persepsi publik mengenai identitas tertentu. Lewat film, sinetron dan iklannya, publik diajak percaya bahwa orang Batak itu begini, muslim itu begitu, gay itu demikian. Tak terhindarkan, publik pun belajar generalisasi.

    Berita lebih buruknya, media kita sedang hobi mengaitkan segala sesuatunya dengan identitas. Muncul berita, “Seorang Gay Membunuh” atau “Perempuan Kristen Diperkosa”. Nah, kenapa juga gay atau Kristen harus disebutkan? Tentu kita tahu ada heteroseksual yang juga membunuh. Pun tidak ada hubungan antara pemerkosaan dan agama seseorang. Dan kita tidak bisa menentukan apakah itu buah keteledoran wartawan atau memang kesengajaan.

    Bayangkan bagaimana Anda terpaksa percaya bahwa suku tertentu memang menyebalkan. Misalnya Anda belum pernah kenal orang Batak secara langsung dan hanya tahu dari berita pembunuhan oleh orang yang kebetulan Batak, pencopetan di Jakarta oleh orang yang kebetulan Batak, dan segala hal buruk yang secara kebetulan berafiliasi dengan Batak. Lalu kita seenaknya berkesimpulan bahwa semua orang Batak memanglah menyebalkan. Ya, semudah itulah kita berprasangka. Inilah benih menuju perkelahian atas nama SARA.

    Lihatlah antisipasi tetangga kita Malaysia: Upin Ipin. Saya melihat ada alasan besar di balik pembuatannya, bukan kartun sekadar penghibur. Upin Ipin adalah ikhtiar edukasi pada publik. Tengoklah berbagai interaksi yang diciptakan di situ. Keseharian yang menyenangkan antara Jarjit Singh yang India, Ehsan dan Mei Mei yang Tionghoa, Mail, Fizi, Upin dan Ipin yang Melayu, bahkan Susanti dari Indonesia. Betapa berharganya pelajaran toleransi yang anak-anak Malaysia saksikan ini.

    Sebetulnya media Indonesia pernah selangkah lebih maju, dulu. Bentuknya kecil dan lucu, namanya si Unyil yang oleh UNICEF disebut sebagai “puppet with purposes”. Maksud saya Unyil yang kucing-kucingan dengan Ucrit, Usro juga Meilani. Bukan Unyil yang punya laptop dan hanya sibuk berkomentar soal proses produksi makanan kaleng. Ada pula serial Bajaj Bajuri yang mempertemukan orang berbagai suku dalam situasi komedi.

    Tayangan-tayangan demikian adalah esensial dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. Adegan Meilani yang Tionghoa bisa kucing-kucingan dengan Unyil yang Sunda adalah pelajaran penting bahwa semua tetap bisa hidup bertetangga. Adegan Mpok Hindun yang Jawa tertawa bersama Ucup yang Betawi dalam Bajaj Bajuri adalah bahasa toleransi yang mudah dipahami. Biarlah masing-masing dengan khasnya, kamu dengan gayamu, aku dengan gayaku, mari kita tertawa bersama-sama.

    Tapi ini simalakama. Okelah kita tahu bahwa meski kita berbeda-beda tetap bisa hidup bertetangga. Okelah kita tidak masalah kucing-kucingan bersama keturunan Tionghoa. Tapi di saat yang sama kita belajar semua orang Batak adalah bersikap mirip Bang Tigor, semua orang Tionghoa bersikap mirip Meilani, semua Sunda mirip Unyil, semua Malaysia mirip Upin dan Ipin. Tayangan ini ternyata mempertebal stigma juga, sementara bukan inilah yang kita harapkan. Saya akan meminta Unyil pemilik laptop menjelaskan bagaimana media membuat ini semua.***

    Referensi lanjutan :
    1. Potensi konflik lintas budaya di Indonesia dalam Cultures and Communication, Deddy Mulyana
    2. Prasangka dalam Komunikasi Lintas Budaya, Larry A. Samovar dkk
    3. Media dalam Jurnalisme Keberagaman: Sebuah Panduan Peliputan, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman
    4. Si Unyil dalam web UNICEF
    Gambar dari Wikipedia
  • Telepenis

    Telepenis


    Belahan payudaranya saya sensor.

    Ketika saya menonton “Curse of the Golden Flower” dua hari lalu, saya heran dengan payudara permaisuri yang diburamkan. Seingat saya, waktu menontonnya dulu, belahan payudaranya memang terlihat, tapi saya tak begitu peduli. Kini, saat itu disensor, justru saya makin dibuat penasaran.

    Barusan saja, saya melihat iklan minuman energi yang memajang puluhan laki-laki atletis tanpa atasan. Bawahan mereka jeans. Adegannya adalah mereka berlari di padang rumput. Dada mereka yang bidang itu bergoyang naik turun.

    Dua visual itu sama-sama menjual badan untuk menarik perhatian. Keduanya sama-sama menyajikan dada untuk mengikat mata. Namun, marilah masuk akar soal, kenapa iklan itu tidak turut diburamkan?

    Rupanya inilah yang disebut oleh Dewi Chandraningrum sebagai “kamera berkelamin”. Dalam tulisannya di buku “Jurnalisme Keberagaman”, Dewi menyoal pembedaan perlakuan media terhadap tubuh perempuan dan laki-laki. Perempuan diberi banyak batasan, sedangkan lelaki dibiarkan.

    Dewi menyomot kasus Inul Daratista yang goyangannya diprotes oleh Rhoma Irama. Padahal, menurut Dewi, Rhoma Irama pun pernah membuka kancing baju sehingga penonton bebas memandang dadanya. Tak pernah ada yang mencekalnya.

    Dua kasus itu kembar, hanya beda jenis kelamin. Nah, kenapa kita seolah menutup mata bahwa Rhoma juga menjadikan birahi sebagai bumbu seni? Inilah persisnya cerminan budaya patriarki. Dalam budaya ini, perempuan dianggap sebagai objek, dan karenanya harus dibatasi, ditutupi, dikuasai, oleh si subjek yang lelaki.

    Dalam budaya yang subjeknya laki-laki, birahi perempuan tidak dianggap, tidak dihitung, tidak ada. Biarlah mereka tak berbirahi, bila masih menggoda sunat saja vaginanya. Maka lelaki membawa kain-kain untuk menutupi perempuan. Lelaki bilang ini untuk perlindungan, padahal bentuk penguasaan.

    Di budaya yang tak menghitung perempuan, perempuan mengalami gempuran tiga sisi. Pertama, tubuhnya ditutupi, dianggap tabu dan tak boleh diganggu. Kedua, birahinya tidak dihitung. Tapi sebaliknya, inilah poin ketiga, bila ada pemerkosaan tetap saja perempuan yang disalahkan.

    Dalam dunia patriarki, lelaki bebas berkelana, sedangkan perempuan hanya boleh di tiga tempat saja: dapur, sumur dan kasur. Di dunia yang dikuasai laki-laki, media pun mewadahi keinginan dan kepentingan mereka-mereka ini.

    Maka kasihan perempuan di televisi. Saat Miss World 2013 digelar di Indonesia beberapa bulan lalu, gelombang penolakan muncul di jalanan hingga media sosial. Lelaki berargumen bahwa ajang ini hanya sebuah eksploitasi tubuh perempuan dan kepentingan kapitalis. Warga Indonesia sepatutnya menolak ini, katanya. Di sisi lain, ajang pencarian lelaki atletis L-Men of the Year 2013 digelar hampir berbarengan. Dalam ajang ini, lelaki dibiarkan bertelanjang dada, bahkan itulah poin utama penilaiannya. Meski L-Men sudah digelar sejak 2004 di Indonesia, tak pernah ada sekali pun penolakan.

    Inilah televisi saat ini. Ia menyembunyikan tubuh perempuan sambil menjualnya dalam diam. Lewat sinetron, film dan bahkan iklan, ia telah mengurung perempuan dalam dunia buatan tentang air mata. Saat perempuan melihat iklan pembersih vagina, perempuan sibuk berencana tentang memuaskan diri suami. Memuaskan suami, bukan dirinya sendiri.***
  • Tolerance Is Not a Destination

    Tolerance Is Not a Destination

    photo by minnesota.publicradio.org

    Is there still racist in USA? Yes. One news in the Jakarta Post Nov. 9 answered it for me. A NFL football team called “Washington Redskins” has raised a protest in Minneapolis on Thursday. The protesters, of course, are American Indians which say such name is disrespectful. Former Minnesota Gov. Jesse Ventura supported the protesters, while Redskins owner Dan Synder said it won’t be changed.

    Yes, people, racist is still out there. Even in the world’s largest democracy named the United States. It is also a shame for USA that two months earlier just cellebrated 50 years of Martin Luther King’s speech about equality. This is also a challenging moment for a nation that just breaking racial boundaries once Obama is elected.

    As Americans can be racist, Indonesians can too. As we can see there is still a lot of racism, and it is unquestionable. Even in a nation that has “bhinneka tunggal ika” (unity in diversity) as a national motto, racist insult is still exists. Two days ago, my friend Nadia was parking her car wrong. Someone yelled to her “Dasar Cina!” (Chinese!), without any explanation on how her race affects her parking.

    Racism is not biologically given, but taught. I remember a picture of a Negro and a white baby are touching each other. Once we see the picture, we remember that each of us has respect within. We do not need to listen to King’s speech first, even before saying ‘mama’, the spirit equality and respect are already inside.

    As we grown up, we hear too much stereotypes that made our perception changed. Tolerance and respect become unknown, unpopular. We prefer to believe in prejudice, even it has never been proven. Our interaction to other race depends on just stigma. Without even realize that such prejudice is the best seed for racism in the future.


    Like the best quality sunflower seed in the arctic, tolerance seed that fed by prejudice won’t work at all. Once tolerance has gone, racism suddenly dominates the conversation. That is why tolerance now has changed as a never-ending effort. Now, tolerance is not a start, nor a destination, but the journey itself.***
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13