Posts

Showing posts from 2013

Writing on Ashura Day : Facing Prejudice

Image

Suara-Suara di Balik Asyura (4 - habis)

Image
Teks dan foto oleh Rio Tuasikal


Universitas Islam Bandung - Sabtu, 7 Desember 2013

“Pilih organisasi mahasiswa yang aman, dan terbebas dari paham-paham,” ujar Acep Saiful Milah, pengurus KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dari kursi pembicara.

Acep menambahkan, “Baik internal mau pun eksternal, kaji terlebih dahulu, baik secara AD ART-nya maupun secara pergaulannya. Bisa saja di AD ART tidak tercantum akidah Syiah, tapi secara pergaulan, di antara dialektika-dialektika yang muncul, justru Syiah.”

“Makanya kita sebagai mahasiswa harus cerdas memilih dan memilah organisasi mahasiswa, mana saja yang terbebas dari paham-paham. Dan bukan hanya dari Syiah, banyak juga paham-paham sesat lainnya.”(RIO TUASIKAL)

Suara-Suara di Balik Asyura (3)

Image
Bersambung dari bagian 2
Teks dan foto oleh Rio Tuasikal

Masjid Al- Amanah, Kawaluyaan- Kamis, 5 Desember
Petang gerimis di kompleks Kawaluyaan Indah, Bandung. Ayat-ayat Al-Quran melantun dari pelantang di atas menara air. Al Amanah, masjid yang dari sanalah rekaman Quran itu diputar, ada di seberang menara air.

Masjid itu berlantai dua, yang atas untuk ibadah, bawahnya untuk wudhu dan kelas agama anak-anak. Warna hijau muda mendominasi interior masjid. Sekitar mimbar berhias ornamen kubus cekung dan cembung berbahan logam. Ada dua AC terpasang di dalam.

Seorang pria duduk membuka blackberry-nya selepas ia sholat maghrib.

“Jangan ke saya, ke Pak Suaedi saja,” kata lelaki bernama Affad Ruslan itu saat saya tanyai soal acara Asyura. “Kamis kemarin Pak Suaedi jadi panitia,” imbuhnya.

“Panitia apa, Pak?”

“Panitia buat nge-counter acara kemarin.”

Affad meminta saya menunggu hingga selepas Isya, sekitar pukul 7 malam. Akan ada pengajian rutin digelar di situ, dan Suaedi akan datang.

S…

Suara-Suara di Balik Asyura (2)

Image
Bersambung dari bagian 1


Teks dan foto oleh Rio Tuasikal

Sekolah Muthahhari, Kiaracondong - Selasa, 3 Desember
“Dan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) sebagai ormas sudah diakui sejak lama, ya, Pak?” saya coba mengonfirmasi.

“Iya,” kata Hesthi singkat.

“Masak (IJABI) mesti ditulis kayak Nyonya Meneer, berdiri sejak?” celetuk Hardjoko.

Lalu kami tertawa.

“Di spanduk penolakan, adakah ormas-ormas yang sudah diketahui secara umum?” tanya saya. “Selain yang ditulis di berita seperti IHDI, KORDUS, UPAS, GARDA? Apakah panitia mencatat nama-nama ormasnya?”

Hesthi menjawab singkat, “Enggak, enggak mencatat.” Ia mengaku tidak mau berspekulasi mengenai siapa-siapa saja yang namanya tercantum di spanduk penolakan. Hesthi menganjurkan, “coba tanya ke pihak DKM (Dewan Keluarga Masjid) di sana.”

DKM yang ia maksud berjumlah 7 dan menamakan dirinya Forum Komunikasi DKM se-Kawaluyaan. FKDKM ini melayangkan surat penolakan kepada kepolisian Jumat (8/11). Hesti yakin itulah alasan kepolisia…

Suara-Suara di Balik Asyura (1)

Image
Teks dan foto oleh Rio Tuasikal

Sekolah Muthahhari, Kiaracondong - Selasa, 3 Desember
“Kamu sendiri apa? Sunni apa Syiah?” ujar Hardjoko, sore itu.

Azizah, teman saya yang duduk di kanan saya hanya bisa tersenyum. Saya bilang pada Hardjoko, “agama dia NU (Nahdlatul Ulama), Pak.” Kami tertawa kecil.

Hujan besar berangin baru saja mengguyur Sekolah Muthahhari, Kiaracondong, Bandung, Selasa (3/12) kemarin. Saya dan Azizah sedang berbincang dengan Hardjoko dan satu rekannya. Kami duduk di ruang tunggu Yayasan Muthahhari. Narasumber utama kami dari IJABI (Ikatan Jamaat Ahlul Bait Indonesia) Hesthi Raharja belum datang. Maka kami disilakan ngobrol sebentar dengan Hardjoko yang merupakan pengurus Ahlul Bait Indonesia (ABI), organisasi rekanan IJABI.

Hardjoko bercerita dirinya merayakan Asyura pada Kamis (14/11) di Jakarta. Dari ponselnya, dia menunjukan foto kelompok tertentu yang sedang berdemo di depan Mall of Indonesia guna menolak acara yang dia hadiri itu.

“Kita keluar saja, ya. Bia…

Media, Prasangka, Simalakama

Image
Yang paling bertanggung jawab atas penyebaran stigma adalah media. Sebab kemampuannya untuk menyebarkan nilai secara serempak, sadar atau tidak, media telah membentuk persepsi publik mengenai identitas tertentu. Lewat film, sinetron dan iklannya, publik diajak percaya bahwa orang Batak itu begini, muslim itu begitu, gay itu demikian. Tak terhindarkan, publik pun belajar generalisasi.

Berita lebih buruknya, media kita sedang hobi mengaitkan segala sesuatunya dengan identitas. Muncul berita, “Seorang Gay Membunuh” atau “Perempuan Kristen Diperkosa”. Nah, kenapa juga gay atau Kristen harus disebutkan? Tentu kita tahu ada heteroseksual yang juga membunuh. Pun tidak ada hubungan antara pemerkosaan dan agama seseorang. Dan kita tidak bisa menentukan apakah itu buah keteledoran wartawan atau memang kesengajaan.

Bayangkan bagaimana Anda terpaksa percaya bahwa suku tertentu memang menyebalkan. Misalnya Anda belum pernah kenal orang Batak secara langsung dan hanya tahu dari berita pembunuha…

Telepenis

Image
Belahan payudaranya saya sensor.
Ketika saya menonton “Curse of the Golden Flower” dua hari lalu, saya heran dengan payudara permaisuri yang diburamkan. Seingat saya, waktu menontonnya dulu, belahan payudaranya memang terlihat, tapi saya tak begitu peduli. Kini, saat itu disensor, justru saya makin dibuat penasaran.

Barusan saja, saya melihat iklan minuman energi yang memajang puluhan laki-laki atletis tanpa atasan. Bawahan mereka jeans. Adegannya adalah mereka berlari di padang rumput. Dada mereka yang bidang itu bergoyang naik turun.
Dua visual itu sama-sama menjual badan untuk menarik perhatian. Keduanya sama-sama menyajikan dada untuk mengikat mata. Namun, marilah masuk akar soal, kenapa iklan itu tidak turut diburamkan?

Rupanya inilah yang disebut oleh Dewi Chandraningrum sebagai “kamera berkelamin”. Dalam tulisannya di buku “Jurnalisme Keberagaman”, Dewi menyoal pembedaan perlakuan media terhadap tubuh perempuan dan laki-laki. Perempuan diberi banyak batasan, sedangkan lelaki …

Tolerance Is Not a Destination

Image
Is there still racist in USA? Yes. One news in the Jakarta Post Nov. 9 answered it for me. A NFL football team called “Washington Redskins” has raised a protest in Minneapolis on Thursday. The protesters, of course, are American Indians which say such name is disrespectful. Former Minnesota Gov. Jesse Ventura supported the protesters, while Redskins owner Dan Synder said it won’t be changed.

Yes, people, racist is still out there. Even in the world’s largest democracy named the United States. It is also a shame for USA that two months earlier just cellebrated 50 years of Martin Luther King’s speech about equality. This is also a challenging moment for a nation that just breaking racial boundaries once Obama is elected.
As Americans can be racist, Indonesians can too. As we can see there is still a lot of racism, and it is unquestionable. Even in a nation that has “bhinneka tunggal ika” (unity in diversity) as a national motto, racist insult is still exists. Two days ago, my friend Nadi…