Suara-Suara di Balik Asyura (1)

Teks dan foto oleh Rio Tuasikal  

Sekolah Muthahhari, Kiaracondong - Selasa, 3 Desember

halaman depan Sekolah Muthahhari pascahujan.
“Kamu sendiri apa? Sunni apa Syiah?” ujar Hardjoko, sore itu.

Azizah, teman saya yang duduk di kanan saya hanya bisa tersenyum. Saya bilang pada Hardjoko, “agama dia NU (Nahdlatul Ulama), Pak.” Kami tertawa kecil.

Hujan besar berangin baru saja mengguyur Sekolah Muthahhari, Kiaracondong, Bandung, Selasa (3/12) kemarin. Saya dan Azizah sedang berbincang dengan Hardjoko dan satu rekannya. Kami duduk di ruang tunggu Yayasan Muthahhari. Narasumber utama kami dari IJABI (Ikatan Jamaat Ahlul Bait Indonesia) Hesthi Raharja belum datang. Maka kami disilakan ngobrol sebentar dengan Hardjoko yang merupakan pengurus Ahlul Bait Indonesia (ABI), organisasi rekanan IJABI.

Hardjoko bercerita dirinya merayakan Asyura pada Kamis (14/11) di Jakarta. Dari ponselnya, dia menunjukan foto kelompok tertentu yang sedang berdemo di depan Mall of Indonesia guna menolak acara yang dia hadiri itu.

“Kita keluar saja, ya. Biar yang saya ceritakan lebih banyak,” ujar Hardjoko.

Kami berempat menuju kantin sekolah Muthahhari. Dua meja panjang berwarna biru di situ terlihat kuyup karena hujan. Saat itu langit masih menyisakan gerimis. Sebuah gerobak nasi goreng sudah terparkir. Dua pemiliknya sedang sibuk memasang kain dan perabotan lain. Tepat di seberang kami ada Aula Muthahhari. Aula terpisah dari komplek utama sekolah, hanya terpaut jalan semen tiga meter.

Tak lama Daeng Anwar bergabung bersama kami.

“Jadi, ini aula yang kemarin dipakai, Pak?” tanya saya pada Hardjoko sambil menunjuk ke seberang jalan. “Waktu saya lihat, wah kecil juga ya.”

“Kan rencananya emang di Kawaluyaan,” timpal Daeng. “(Kawaluyaan) Sepuluh kali lipatnya.”

“Kemarin gimana cara memindahkan para undangan, Pak?”

Daeng menjelaskan, panitia berusaha menghubungi sebisanya. Acara ini sendiri bersifat terbuka dan tanpa undangan. Karena itu panitia tidak punya kontak lengkap dan tak bisa menghubungi setiap rombongan yang datang.

“Kemarin itu ada, ya, lima ribuan lah. Itu belum termasuk simpatisannya, jumlah simpatisannya kami kurang tahu.”

“Sebagian ada yang pulang karena memang nggak muat,” tambah rekannya. “Ada beberapa bus yang pulang, nggak bisa masuk.” Daeng menjelaskan bahwa Peringatan Asyura rutin dilaksanakan di Bandung sudah sejak lama. Ia memperkirakan sudah 20 tahun lebih. Sebelum IJABI dibentuk sebagai ormas pada tahun 2000, acara ini diadakan oleh Yayasan. Daeng menambahkan, gedung serba guna Istana Kana di Kawaluyaan itu sudah sering mereka gunakan, termasuk untuk Asyura 2012.

Aula Muthahhari, seberang kantin sekolah Muthahhari
Hesthi Raharja pun akhirnya tiba. Usai memarkir mobilnya, ia langsung bergabung.

“Jadi kami ingin mendata kasus-kasus selama 2013 ini,” jelas Azizah. “Kalau Ahmadiyah alhamdulillah aman. Gertakan pasti ada, tapi perusakan fisik tidak. Kalau IJABI bagaimana?”

“Kami ini kan sering membalas kedzaliman dengan memaafkan. Jadi saya sering lupa,” jelas Hesthi sambil terkekeh. Kami semua tertawa. “Ya itu kan prinsip,” tambahnya.

Nada bicara Hesthi jadi serius ketika bilang, “Satu kedzaliman yang tidak pernah kami lupakan itu penghulu para syuhada. Itu yang wajib kami kenang.” Hesthi buru-buru menambahkan sambil kembali tertawa, “Saya tidak bilang kita ya, saya bilang kami.”

Kami semua tertawa.

Hesthi menambahkan, “Mengenang kesyahidan Imam Husein itu bukan membenci pembunuhnya. Enggak. Kami bersedih karena kami tidak termasuk, atau belum termasuk, barisan para syuhada. Kami sangat berharap jadi barisan para syuhada.”

“(Perjalanan Husein ke Karbala) itu kan bukan sebuah peperangan, 40 atau 70 orang lawan 30.000 orang. Itu memang bertujuan damai,” jelas Hesthi. Menurutnya, ada pihak tertentu yang keliru memaknai peristiwa Karbala itu sebagai peperangan. Pemaknaan itu memupuk kebencian pihak tersebut kepada pihak Hesthi.

Saat ditanya soal kekerasan yang diterima kelompok Hesthi setahun ini, Hesthi menjelaskan bahwa kekerasan baginya adalah ajakan permusuhan yang membangkitkan kebencian. Kebencian itu mudah sekali diarahkan kepada siapa pun. “Kebencian itu buta,” tegasnya.

“Kalau sepanjang 2013 ini ada berapa kali, Pak, intimidasi dan sebagainya?” tanya saya.

“Intimidasi, tidak,” jawabnya pelan.

“Jadi Bapak sudah sama sekali ...”

Hesthi memotong, “Tidak, saya mudah melupakan.”

Kami tertawa.

“Kalau yang kemarin di sini masih ingat, Pak?” tanya saya sambil menunjuk Aula Muthahhari.

“Kalau yang kemarin, kejadiannya masih ingat,” jawabnya.

“Kalau semuanya dilupakan kami jadi bingung, Pak,” kata saya disambut tawa kami semua.

Hesthi memulai ceritanya. Perayaan Asyura yang diadakan oleh IJABI pada Kamis (14/11) lalu terpaksa pindah lokasi. Tempat semula, Istana Kana di Kawaluyaan, tidak bisa digunakan lantaran panitia tidak punya izin kepolisian. Panitia memutuskan memindahkan acara ke Aula Muthahhari, milik sekolah Muthahhari yang berafiliasi dengan IJABI.

Pada Selasa (12/11) sore, dua hari sebelum acara, panitia menghadap Wakasat Intelkam dan dapat surat dari Kapolrestabes Bandung. Isinya, polisi meminta panitia melengkapi persyaratan berupa surat rekomendasi dari FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Departemen Agama. Menurut Hesthi, selama menyelenggarakan Asyura belasan tahun sebelumnya, syarat itu tidak pernah muncul.

“Apakah kegiatan ormas itu harus diizinkan oleh ormas lain, kenapa ini harus izin MUI?” tanya Hesthi retoris. “MUI itu status hukumnya apa?”

Seorang lelaki yang sedari tadi makan nasi goreng di sebelah kami ikut menimpali, “IJABI itu ormas, sama seperti NU, Persis. Jadi haknya mesti sama.”

Saat bertemu dengan kepolisian, polisi pun menyampaikan keberatan dari pihak yang menamakan diri FKDKM (Forum Komunikasi Dewan Kemakmuran Masjid) atas acara tersebut. FKDKM menolak Asyura dilaksanakan di Kawaluyaan. “Kenapa sekarang teh zaman berubah, yang diancam yang disuruh pergi?” tanya Hesthi.

Meski tak ada pemblokiran jalan oleh kelompok kontra, jalan Kawaluyaan dihiasi spanduk bernada penolakan. “Kalau buat saya, itu adalah orang yang punya penyakit hati dan muncul dalam bentuk spanduk.” Soal jumlahnya, Hesthi mengaku tidak tahu persis. “Ngapain kita buang waktu menghitung kejelekan atau sakit hatinya orang?”

Azizah bertanya, “Itu ada berapa ormas?”

“Sekarang, perlu didefinisikan yang disebut ormas itu apa?” Hesthi meneruskan, ormas itu ada status hukumnya, termasuk data badan hukum, pengurus juga anggotanya.

Dari sisi hukum, tambah Hesthi, kepolisian mudah dipengaruhi oleh spanduk dan pesan singkat.

“Kalau ada yang menghadap kepolisian, menunjukkan keberatan dan mengaku ormas, mereka tidak diperiksa legalitasnya,” jelas Hesthi. “Sedangkan kami yang mau melaksanakan kegiatan dan sudah melaksanakannya bertahun-tahun, ditanyakan legalitasnya dan informasi dari lembaga yang status hukumnya sama.”

“Dan IJABI sebagai ormas sudah diakui sejak lama, ya, Pak?” saya coba mengonfirmasi.

“Iya,” kata Hesthi singkat.

“Masak (IJABI) mesti ditulis kayak Nyonya Meneer, berdiri sejak...” celetuk Hardjoko.

Lalu kami tertawa. (RIO) 

Comments

  1. Waktu di fb ga sengaja nemu tulisan Rio yang bagian 2, jadi ini baru baca sekarang yang bagian 1-nya. Masha Allah...

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM