Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Bismillah ..

Sabtu sore, saya dikejutkan dengan surat terbuka sdri Sheren Chamila Fahmi yang di-share teman saya di Facebook. Saya langsung tergelitik dan langsung melahap seluruh isi suratnya. Saya mengapresiasi tulisannya yang membuka ruang diskusi mengenai diskriminasi. Saya percaya ini sangat penting juga genting, dan memang harus dibahas terus menerus.

Saya setuju bahwa di berbagai tempat di dunia warga muslim telah didiskriminasi - terutama perempuan bercadar yang mudah diketahui dari penampilannya. Di banyak tempat di mana muslim jadi minoritas, warga muslim rentan menghadapi standar ganda. Hal ini misalnya terjadi di dunia kerja India [1] dan dunia kerja Prancis [2].  Di samping itu, di Amerika Serikat, 20 keluarga muslim Inggris ditolak di bandara [3].

Saya mencoba membayangkan perjuangan perempuan yang memilih bercadar di Indonesia. Terbayang mereka akan mendapatkan penolakan, cemooh, dan tuduhan yang tedeng aling-aling. Termasuk 5 pengalaman pribadi sdri Sheren yang dia ceritakan, serta pembakaran jilbab dan sindiran masker. Hal ini terjadi karena masyarakat kita belum cukup dewasa. Mereka menganggap semua orang dengan jilbab lebar dan cadar, atau bercelana cingkrang dan berjanggut lebat, sebagai kelompok radikal hanya karena penampilannya sama. Ini adalah generalisasi yang merupakan pangkal dari diskriminasi. 

Setiap insan manusia tidak ingin diperlakukan demikian. Tidak ingin dituduh. Tidak ingin mendapat label, stigma, prasangka, dan diskriminasi. Tidak ingin dinilai dari penampilan saja. Tidak ingin dipandang sebelah mata. Ingin tetap merdeka tanpa dihakimi orang-orang. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dijunjung tinggi dan dilindungi, sebagaimana ditegaskan lewat Piagam Belas Kasih berikut ini [4]. Hal itu merupakan fitrah manusia, tertanam dalam hati sdri Sheren, saya, tujuh miliar manusia lain di bumi, termasuk kelompok LGBT. 

Dalam perspektif hak asasi manusia, setiap manusia setara dan memiliki 30 hak asasi yang sama [5]. Ini berlaku universal kepada seluruh manusia - tidak memandang agama, ras, etnis, jenis kelamin, disabilitas, juga orientasi seksual. Terlepas dari apa pun identitas orang tersebut, dia adalah ciptaan Allah yang harus diperlakukan adil tidak dibeda-bedakan.

Rupanya hal ini yang diabaikan sdri Sheren dalam surat terbukanya. Dia ogah distigma sebagai ekstrimis, tapi mengatakan LGBT wajar menerima stigma karena dianggap tidak sesuai nilai di masyarakat. Dia menolak dituduh sebagai teroris tapi menuduh LGBT penuh propaganda. Dia mengatakan masyarakat melakukan diskriminasi terhadap perempuan bercadar karena belum mendapat edukasi yang cukup, tapi bukankah masyarakat mendiskriminasi LGBT juga karena belum tahu banyak mengenai kelompok itu? Bukankah ini merupakan standar ganda?

LGBT tidak mengidap penyakit. Homoseksualitas telah dihapus dari daftar penyakit jiwa oleh World Health Organisation sejak 1990 [6], juga oleh Kementerian Kesehatan dalam PPDGJ III sejak 1993 [7]. Kalaupun sdri Sheren percaya itu penyakit, ya silakan, tapi menghakimi kelompok LGBT tidak akan membuat keadaan jadi lebih baik.

Perlu diingat, hak asasi manusia bukanlah kompetisi. Bukan soal siapa menang dan siapa kalah. HAM bukan soal apakah kelompok muslim lebih banyak menerima diskriminasi ketimbang LGBT atau tidak. Tidak ada yang paling terdzalimi atau kurang terdzalimi. Kelompok mana pun yang melapor ke Komnas HAM bukanlah meminta belas kasihan, bukan berlebihan atau lebay. Sebab lembaga negara itu memang wajib menghapus segala praktik diskriminasi kepada siapapun tanpa kecuali - termasuk kelompok muslim dan LGBT.

Menghormati hak-hak LGBT sebagai warga negara tidak akan menganggu hak-hak kelompok muslim sebagai sesama warga negara. Menghormati LGBT sebagai manusia tidak akan membuat kehormatan kelompok muslim sirna.

Ketika diskriminasi ini masih terjadi kepada siapapun, ini adalah pekerjaan rumah kita seluruh warga dunia untuk menghapusnya. Bukankah dunia tanpa diskriminasi adalah keinginan seluruh umat manusia apapun identitasnya? Dan ini akan terjadi, jika dan hanya jika, setiap manusia bersikap adil sejak dalam pikirannya.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
(QS. Al Mumtahanah: 8)

Jakarta, 20 Februari 2016
Rio Rahadian Tuasikal
***

Surat Terbuka untuk LGBT dari Muslimah Bercadar