Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Mengapik Ruang Publik

    Mengapik Ruang Publik


    Warga, pegiat sosial dan mahasiswa seni menyehatkan lapangan mereka

    "Wah ini bentuk asli dari gambarnya," teriak Keket, MC gelaran Tamansari Festival, sambil menunjuk bagian belakang Ciwalk. Di lapang Taman Hewan, Jumat (21/9) sore itu, puluhan mahasiswa seni rupa ITB sedang memural dinding sekitar lapang. Belasan gambar itu menyoal harapan bagi Kota Bandung, sepeti air bersih dan penghijauan.



    Yang membuat Keket teriak hanyalah satu gambar. Di gambar itu ada gedung tinggi yang berusaha ditumbangkan warga dengan tambang. Di sela kaki warga ada tunas tanaman hijau. Bagi Keket, berdiri di depan gambar itu dan tengadah ke Ciwalk, lukisan itu jadi nyata.

    Kontradiksi terasa begitu besar di sini. Selain Ciwalk, konstruksi apartemen di Cihampelas pun ikut menutup lapang ini dari jalan di barat. Kebun binatang menutupnya dari timur. Bila ingin masuk, kita harus naik motor tiga menit, jalannya tak cukup untuk mobil.


    Meski demikian, bagi arsitek seperti Ridwan Kamil, kampung ini punya potensi besar. Untuk itu komunitas Bandung Creative City Forum yang digawanginya berinisiatif membenahi tempat ini. Dalam istilahnya, mereka lakukan akupuntur kota. Dalam bahasa mereka, saraf kota harus dirawat agar terus berdenyut, kota pun tetap sehat.

    Saat mulai dikerjakan, lapang di RT 02 RW 08, Kelurahan Lebak Siliwangi Kecamatan Coblong itu begitu ramai. Anak-anak berlarian di sela-sela tas dan ember cat. Mereka berinteraksi dengan mahasiswa yang asik mengoas. Sedangkan para orangtua berkumpul di pinggir lapang saja, mereka sudah membantu siapkan konsumsi dan bawa air.


    Sejak dulu, lapangan semen itu biasa saja. Luasnya tak sampai 200 meter dan catnya mulai pudar. Lapang ini adalah tempat bermain anak. Menurut Etty, seorang warga, lapang ini memang sering dipakai berbagai acara seperti peluncuran film dan seminar. Namun setelah mural itulah lapangan ini benar-benar dimanfaatkan.

    Meski berluas tetap, kini lapangan itu sudah jadi fokus kegiatan warga. Senada dengan Etty, seorang tokoh pemuda bernama Ape bilang, setelah mural itu, acara nikah, sunat, hajat bahkan wisuda TK jadi kerap digelar di sini.

    Bagi Anda yang suka ke Ciwalk, tak ada salahnya bila mampir ke lapang di belakangnya. Di sini tak ada penjual roti atau donat berkelas, memang. Namun tempat ini menawarkan interaksi, kesederhanaan dan ketulusan. Ketiganya tak bisa dibeli di Ciwalk, silakan mencoba. (Arif/Bagja/Maorachmansyah/Ogi/Rio)


  • #DiversityYouthCamp: Perbedaan Adalah Perayaan!

    #DiversityYouthCamp: Perbedaan Adalah Perayaan!

    Dari pada hanya ditoleransi, kita rayakan saja sekalian

    Adzan ashar berkumandang saat naskah sumpah pemuda hendak dibacakan. Di Maha Vihara Mojopahit, Mojokerto, Minggu (28/10) sore itu, 45 orang dengan latar berbeda melakukan upacara sederhana. Perbedaan agama, suku dan orientasi seks, membuat barisan 3 shaf itu beraneka warna.

    Saya yang Sunda berbaris di shaf dua. Di depan saya adalah seorang gay, di kirinya ada lesbian, sebelah kirinya lagi adalah lelaki pesantren. Di bagian tengah ada kolaborasi penganut Ahmadiyah, heteroseksual dan perempuan Jawa. Pemimpin pasukan kami adalah transgender.


    Tak lama berselang para pembaca teks maju. Mereka adalah gay, transgender dan perempuan Kristen heteroseksual. Mereka baca di depan Nay Wahid selaku pembina upacara. Upacara ini menutup Diversity Youth Camp yang dilakukan sejak Jumat (2/10) siang.

    Saya sendiri bergabung sejak Jumat malam. Berkenalan dengan aneka orang. Selama tiga hari, kami mendapat 4 materi soal keanekaragaman agama, orientasi seks juga HAM. Kami berdiskusi, kami presentasi, dan membuat rencana aksi. Satu bekal penting untuk bisa damai SARA di Indonesia.


    Namun bagi saya pribadi, interaksi kami jauh lebih berharga. Seperti saat perempuan Jawa mengobrol soal penulisan, juga saat lelaki Madura menyoal kerusuhan. Seperti saat gay bertanya pada lelaki pesantren, juga lesbian yang minta foto bersama biksu.

    Bagi lubuk terdalam hati saya, tak ada yang lebih indah dari ini. Yakni saat semuanya berkumpul di aula, cukup sambil lesehan saja, tertawa keras memaklumi ketidakahuan saya yang bodohnya menyebut satu kata Jawa yang ternyata amat kasar. Tawa yang menandai sebuah perayaan bagi perbedaan.

    Selamat sumpah pemuda, selamat berbeda! []

    - Mojokerto, 28 Oktober 2012




  • Membongkar Batas Stereotip

    Membongkar Batas Stereotip

    Penilaian kita diuji dalam perjalanan ini

    "Jangan berteman dengan Mutiari, dia Jawa," tegas ibu saya di satu siang 12 tahun lalu. Nasihat rasis itu terlalu sering saya dengar. Tidak hanya ibu, baik guru, teman dan pemuka agama saya pun turut serta bilang. Hingga usia 20 ini, saya masih dengar hal mirip, stereotip tadi pun sampai mengendap di otak. Namun di usia ini pula lah, kepercayaan saya diuji.

    Teman-teman baru, mereka orang Jawa

    Jumat pagi lalu, saat perjalanan kereta ke Solo, saya sebelahan dengan nenek Jawa-Tionghoa. Ngomongnya medok, sekitar mata sipitnya keriput, di lehernya ada kalung salib. Saya khawatir perjalanan ini takkan nyaman. Ternyata kekhawatiran saya sia-sia.

    Nenek tadi mengajak saya basa-basi hingga ngobrol panjang. Mulai dari asal dan tujuan, lalu soal Solo, Jokowi, pecel di Kroya, bule Belanda di belakang kami, dan hobi menulis saya. Dia tawarkan keripik pisan dan stik keju. Dia bahkan hampir mentraktir saya pecel saat kereta berhenti di Kroya.

    Malamnya, saat di bus menuju Mojokerto, saya bertemu kondektur. Dengan intonasi rendah dia merespon permintaan tujuan saya. Dia pun mengajak saya basa-basi soal asal dan tujuan ke Mojokerto, juga soal kegiatan yang akan saya ikuti. Saat hampir sampai, dia hampiri saya dan mengingatkan untuk turun. Dia menutupnya dengan petunjuk arah yang harus saya ambil selanjutnya.

    Minggu malam, saat di bus menuju Yogya, saya bertemu bapak bertopi. Kepalanya terjeduk ransel saya yang besar, saya minta maaf dan tanpa berpikir lama ia bilang tak apa-apa. Seorang mbak yang duduk di pinggir saya pun tak sungkan menjawab basa-basi saya.

    Senin dini hari, saat sampai di terminal Yogya, saya bertemu supir ojek. Di perjalanan, dia bilang tujuan saya jauh, tapi ia tidak licik memutar jalan agar dapat uang lebih. Saat bannya kempes, dia beritahu saya dan meminta maaf.

    Senin siang, saat saya duduk di teras rumah kakak, saya mengulas semuanya. Entah kenapa ibu saya bilang itu 12 tahun lalu. Ternyata yang saya dengar berbalik dengan yang saya alami. Mungkin ibu, guru, teman dan pemuka agama saya perlu pergi ke Mojokerto seorang diri. Bukan untuk sekadar berfoto di Vihara Buddha Tidur seperti yang saya sukai. Tapi untuk menguji penilaian tak berdasar yang selama ini mereka percayai. []

    -Yogyakarta, 29 Oktober 1012



  • #KemilauNusantara: Mari Merayakan Perbedaan!

    #KemilauNusantara: Mari Merayakan Perbedaan!

    Keberagaman tak pernah seramai ini

    Teks dan foto oleh : Rio Rahadian

    Bayangkan sebuah pesta multibudaya. Tempat orang-orang dari budaya berbeda bergembira bersama. Ya, itulah yang terjadi di Kemilau Nusantara Sabtu (6/10) kemarin, saat ratusan orang dari 41 budaya berkumpul di area Gedung Sate, Bandung.

    Mereka semua berkelompok dalam kontingen dan berpawai. Pawai yang dimulai dari area Pusat Dakwah Islam Jawa Barat menuju Gedung Sate itu berlangsung selama tiga jam. Selama itu pula, pasukan aneka warna itu menjadi pusat perhatian pengguna jalan, juga para pemakai kamera.

    Angklung jangkung dari Kabupaten Tasikmalaya
    Kontingen Sulawesi Tenggara
    Spesial di pagi itu, Bandung menjadi etalase nusantara [*]. Semuanya berbaris rapih dalam kelompoknya, sudah dengan dekorasi khas budayanya. Sebut saja kontingan Kabupaten Sukabumi yang mengarak Ratu Laut Selatan, lengkap dengan pasukannya. Ada juga Kalimantan Barat yang mengenakan pakaian adat bermotif Dayak, dengan bulu burung Enggang menghias sela jari dan kepala mereka. Melihatnya, kita akan ingat dengan karnaval anak tiap Agustus, hanya saja ini lebih massal dan otentik.

    Tiap-tiap kamera memburu mereka, dengan sigap mereka berpose, bahkan ada yang langsung unjuk kebolehan. Misalnya saja manusia lumpur dari kontingen Jawa Barat yang langsung tiduran begitu kita mendekat, atau Jawa Timur yang langsung bernyanyi meriah dan orang-orang didepannya bergaya untuk para fotografer. Tak sedikit pula pengunjung yang mencuri kesempatan untuk foto bersebelahan dengan peserta pawai. 
    Kontingen Jawa Timur
    Kontingen Jawa Timur
    Sampai di area panggung utama, tiap kontingen menunjukkan aksi mereka. Suasana riuh tiap kali kontingen masuk. Bagaimana tidak? Tiap kontingen menampilkan tarian khas masing-masing. DKI Jakarta misalnya, mereka menggotong ondel-ondel raksasa setinggi 10 meter. Sumatera Selatan tak mau kalah, mereka tampilkan tarian ditemani lantunan akordeon dan rebana, dan masih banyak lainnya.

    Usai semua berpawai, acara dilanjutkan di satu panggung kecil, di halaman Gedung Sate. Panggung diisi oleh pertunjukkan tradisional lagi. Kali ini Sumatera Selatan membawakan tari dan lagu, lalu Kalimantan Barat kemudian Depok menyajikan tarian khas masing-masing. Tepuk tangan pengunjung ramai tiap satu penampilan usai. Selepasnya adalah pengumuman juara, Jawa Timur kembali jadi juara nasional, untuk tingkat provinsi ada Kota Bogor.

    Penampilan dari Kalimantan Barat
    Sementara itu berlangsung, di kursi penonton, semuanya berinteraksi. Ada pengunjung yang meminta foto bersama kontingen Maluku Utara, ada orang Papua menggelar barang dagangannya berupa tas anyam dan tetumbuhan, ada yang saling sapa dan saling panggil, juga yang berbagi kue unyil penganan khas Bogor. Mereka semua berbeda, dan itulah yang mereka rayakan. Selamat berbeda!

    ___________________________________

    [*] Dari 41 kontingen, 21 adalah kontingen provinsi yakni Aceh, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Sebanyak 20 lainnya adalah kontingen kota kabupaten di Jawa Barat yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten dan Kota Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kabupaten Majalengka, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Karawang, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Subang, Kota Cimahi, Kabupaten Ciamis, Kota Depok, Kota Banjar dan Kabupaten dan Kota Bekasi. Hampir semua kabupaten kota punya kesamaan, musik pengiringnya sama-sama musik pengiring kuda lumping.
  • #KemilauNusantara: Perbedaan Patut Dirayakan (dalam Foto)

    #KemilauNusantara: Perbedaan Patut Dirayakan (dalam Foto)

    Foto oleh : Rio Rahadian

    Berikut adalah foto-foto yang berhasil saya himpun selama Kemilau Nusantara, Sabtu (6/10) kemarin.


  • Travel Makes Tolerance

    Travel Makes Tolerance

    "Travel makes tolerance," said Trinity author of The Naked Traveler, on a talkshow at BIP on Thursday (5/10). She said that because, the people who go travel are often meet new cultures, and then, being multicultured. That multicultural condition makes us to think in vary way, and in turn, make us a multiperspective person.

    I think, that multiperspectiveness what makes us won't judge cultures or it's people. That state of mind makes us can see culture in a positive way, as a way of life of certain people in earth. When it got the peak, we understand why people do these and not those. We just know, and don't mind why it is so unusual. That is tolerance.

    Travel makes tolerance.
    I have to agree. []

    Yes, it's her and me
  • Joget Telunjuk

    Joget Telunjuk




    "Menarinya yang benar," ujar seseorang dari belakangku. "Hah apa?" tanyaku. "Menarinya jangan main-main. Biar orang tahu kesenian Jawa Barat itu seperti apa," jelasnya tegas. Menemukan titik terang, kujawab saja ringkas, "saya pengunjung". Dan dia melipir menuju anak-anak seni binaannya yang baru saja berjoget seperti monyet.

    Miskomunikasi barusan terjadi tepat Jumat (5/10) kemarin di Living History : I'm Proud to be Indonesia di Paris Van Java. Saat itu, saya dan 9 peserta lain sedang berdiri dekat panggung, bergilir berjoget untuk hadiah dari MC. Meski dia salah orang, bukan tanpa alasan dia menegurku tadi.

    Baru satu menit sebelumnya adalah giliran saya. Saya yang tak begitu kenal joget tradisi Sunda, sekilas berpikir. Saya dapat ide. Maka saya angkat telunjuk tangan kanan saya tinggi-tinggi secara diagonal. Berhenti barang dua detik seperti penikmat disko 70an, dan penonton terkesiap. Dan saya menggoyang badan dan pinggul maju mundur dengan posisi tangan tetap. Ya, kau pasti tahu goyang telunjuk yang biasa dipakai bapak-bapak untuk goyang di kelurahan itu. Penonton terkekeh dan jelas saya tidak juara. 

    Saya masih malu bila mengingatnya, jujur saja kini pun saya sedang cengar-cengir. Tapi apa pun yang saya lakukan saat itu memang tidak keren, terlebih bagi seorang pecinta budaya. Maaf ya, saya akan belajar lebih banyak deh. []
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13