Posts

Showing posts from October, 2012

Mengapik Ruang Publik

Image

#DiversityYouthCamp: Perbedaan Adalah Perayaan!

Image
Dari pada hanya ditoleransi, kita rayakan saja sekalian

Adzan ashar berkumandang saat naskah sumpah pemuda hendak dibacakan. Di Maha Vihara Mojopahit, Mojokerto, Minggu (28/10) sore itu, 45 orang dengan latar berbeda melakukan upacara sederhana. Perbedaan agama, suku dan orientasi seks, membuat barisan 3 shaf itu beraneka warna.

Saya yang Sunda berbaris di shaf dua. Di depan saya adalah seorang gay, di kirinya ada lesbian, sebelah kirinya lagi adalah lelaki pesantren. Di bagian tengah ada kolaborasi penganut Ahmadiyah, heteroseksual dan perempuan Jawa. Pemimpin pasukan kami adalah transgender.

Tak lama berselang para pembaca teks maju. Mereka adalah gay, transgender dan perempuan Kristen heteroseksual. Mereka baca di depan Nay Wahid selaku pembina upacara. Upacara ini menutup Diversity Youth Camp yang dilakukan sejak Jumat (2/10) siang.

Saya sendiri bergabung sejak Jumat malam. Berkenalan dengan aneka orang. Selama tiga hari, kami mendapat 4 materi soal keanekaragaman agama, orientasi sek…

Membongkar Batas Stereotip

Image
Penilaian kita diuji dalam perjalanan ini

"Jangan berteman dengan Mutiari, dia Jawa," tegas ibu saya di satu siang 12 tahun lalu. Nasihat rasis itu terlalu sering saya dengar. Tidak hanya ibu, baik guru, teman dan pemuka agama saya pun turut serta bilang. Hingga usia 20 ini, saya masih dengar hal mirip, stereotip tadi pun sampai mengendap di otak. Namun di usia ini pula lah, kepercayaan saya diuji.

Jumat pagi lalu, saat perjalanan kereta ke Solo, saya sebelahan dengan nenek Jawa-Tionghoa. Ngomongnya medok, sekitar mata sipitnya keriput, di lehernya ada kalung salib. Saya khawatir perjalanan ini takkan nyaman. Ternyata kekhawatiran saya sia-sia.

Nenek tadi mengajak saya basa-basi hingga ngobrol panjang. Mulai dari asal dan tujuan, lalu soal Solo, Jokowi, pecel di Kroya, bule Belanda di belakang kami, dan hobi menulis saya. Dia tawarkan keripik pisan dan stik keju. Dia bahkan hampir mentraktir saya pecel saat kereta berhenti di Kroya.

Malamnya, saat di bus menuju Mojokerto, saya b…

#KemilauNusantara: Mari Merayakan Perbedaan!

Image
Keberagaman tak pernah seramai ini

Teks dan foto oleh : Rio Rahadian

Bayangkan sebuah pesta multibudaya. Tempat orang-orang dari budaya berbeda bergembira bersama. Ya, itulah yang terjadi di Kemilau Nusantara Sabtu (6/10) kemarin, saat ratusan orang dari 41 budaya berkumpul di area Gedung Sate, Bandung.

Mereka semua berkelompok dalam kontingen dan berpawai. Pawai yang dimulai dari area Pusat Dakwah Islam Jawa Barat menuju Gedung Sate itu berlangsung selama tiga jam. Selama itu pula, pasukan aneka warna itu menjadi pusat perhatian pengguna jalan, juga para pemakai kamera.

Spesial di pagi itu, Bandung menjadi etalase nusantara [*]. Semuanya berbaris rapih dalam kelompoknya, sudah dengan dekorasi khas budayanya. Sebut saja kontingan Kabupaten Sukabumi yang mengarak Ratu Laut Selatan, lengkap dengan pasukannya. Ada juga Kalimantan Barat yang mengenakan pakaian adat bermotif Dayak, dengan bulu burung Enggang menghias sela jari dan kepala mereka. Melihatnya, kita akan ingat dengan …

#KemilauNusantara: Perbedaan Patut Dirayakan (dalam Foto)

Image
Foto oleh : Rio Rahadian
Berikut adalah foto-foto yang berhasil saya himpun selama Kemilau Nusantara, Sabtu (6/10) kemarin.

Travel Makes Tolerance

Image
"Travel makes tolerance," said Trinity author of The Naked Traveler, on a talkshow at BIP on Thursday (5/10). She said that because, the people who go travel are often meet new cultures, and then, being multicultured. That multicultural condition makes us to think in vary way, and in turn, make us a multiperspective person.

I think, that multiperspectiveness what makes us won't judge cultures or it's people. That state of mind makes us can see culture in a positive way, as a way of life of certain people in earth. When it got the peak, we understand why people do these and not those. We just know, and don't mind why it is so unusual. That is tolerance.

Travel makes tolerance.
I have to agree. []

Joget Telunjuk

Image
"Menarinya yang benar," ujar seseorang dari belakangku. "Hah apa?" tanyaku. "Menarinya jangan main-main. Biar orang tahu kesenian Jawa Barat itu seperti apa," jelasnya tegas. Menemukan titik terang, kujawab saja ringkas, "saya pengunjung". Dan dia melipir menuju anak-anak seni binaannya yang baru saja berjoget seperti monyet.

Miskomunikasi barusan terjadi tepat Jumat (5/10) kemarin di Living History : I'm Proud to be Indonesia di Paris Van Java. Saat itu, saya dan 9 peserta lain sedang berdiri dekat panggung, bergilir berjoget untuk hadiah dari MC. Meski dia salah orang, bukan tanpa alasan dia menegurku tadi.

Baru satu menit sebelumnya adalah giliran saya. Saya yang tak begitu kenal joget tradisi Sunda, sekilas berpikir. Saya dapat ide. Maka saya angkat telunjuk tangan kanan saya tinggi-tinggi secara diagonal. Berhenti barang dua detik seperti penikmat disko 70an, dan penonton terkesiap. Dan saya menggoyang badan dan pinggul maju mundur den…