-->

Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Saya Tidak Akan Memilih Prabowo, Selamanya

    Saya Tidak Akan Memilih Prabowo, Selamanya

    Dinis menghabiskan seluruh masa remajanya untuk mencari sang ayah. Kini Dinis berusia 18 tahun, dan ayahnya menghilang sebelum Dinis berusia 3 tahun. Dinis adalah puteri Yadin Muhidin, aktivis yang jadi korban penculikan Mei 1998. Hingga hari ini Dinis hanya bisa menerka-nerka di mana ayahnya. Kalaulah ayahnya telah mati, bagi Dinis itu lebih baik dari pada menunggu dalam ketidakpastian.

    Ayah Dinis pernah memprotes kebijakan pemerintah Seoharto yang menindas. Kini dia hilang. Sangatlah mudah untuk benak saya bicara: ada yang salah.

    Saya tidak bisa membayangkan bila sayalah Dinis itu. Entah bagaimana saya bisa bertahan dengan hidup yang demikian. Saya harus menelusuri setiap informasi sumir yang didapatkan, mengikuti sumber data yang selalu enggan mengungkapkan, menenangkan ibu yang dirundung sedih berkepanjangan, sambil diam-diam berdoa pada Tuhan supaya ayah segera ditemukan---apapun keadaannya.

    Kini Prabowo Subianto yang diduga menculik ayah Dinis maju jadi calon presiden Indonesia. Kita telah ditantang keadaan untuk kembali melibatkan benak terdalam. Bagaimana bisa terduga penculik ingin jadi pemimpin bangsa? Memang, Prabowo belum diputuskan bersalah atau tidak, sebab pengadilan belum dibuat. Namun status abu-abu Prabowo adalah seperti membeli kucing di dalam karung---bahkan lebih berbahaya.

    Kita ingin calon presiden kita jelas, bersalah atau tidak? Kalau merasa tidak bersalah, bawalah segala bukti, jelaskan semuanya pada Komnas HAM, Kejaksaan Agung, dan Dewan Pertimbangan Presiden. Jangan hanya diam dan menyuruh tim sukses serta simpatisan membantah semua dugaan. Buktikan.

    Kalau pun dugaan penculikan ini dikesampingkan, Prabowo tetap dibuntuti sederet potensi masalah. Prabowo punya koalisi obesitas. Di dalamnya, ada Hatta Radjasa yang anaknya tidak dipenjara setelah menewaskan 2 orang lewat tabrakan, serta Aburizal Bakrie yang bertanggungjawab atas berubahnya Sidoarjo jadi lautan lumpur.

    Prabowo juga berkoalisi dengan dua partai Islam PPP dan PKS. Bekas menteri agama dari PPP dan gubernur Jawa Barat dari PKS kerap berkomentar menyakitkan terhadap korban intoleransi seperti Ahmadiyah dan Syiah. Kemudian Prabowo juga didukung oleh FPI yang ikut bertanggung jawab atas intoleransi tadi.

    Prabowo juga didukung oleh musisi Ahmad Dhani, yang dalam lagu kampanye Prabowo memakai baju pejabat militer Nazi Jerman. Gerakan Nazi yang rasis dan fasis telah membunuh jutaan Yahudi di Jerman. Praktis Dhani disebut kalangan internasional sebagai tidak sensitif.

    Prabowo juga gembar-gembor membawa nuansa Orde Baru yang militeristik. Kita tahu Orde Baru adalah rangkuman dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Orde Baru adalah masa ketika pendapat warga dibungkam, dan 13 orang bisa hilang begitu saja dengan dalih menyelamatkan ratusan juta warga lainnya. Ingat, Orde Baru juga telah menggusur lahan petani atas nama pembangunan!

    Mari kita cek daftarnya. Koalisi kebal hukum, kader menyebalkan, artis fasis, nuansa militer dan pemerintahan yang anti-kritik. Semuanya komposisi sempurna untuk pemerintahan yang diktatoris, diskriminatif, dan menindas. Potensi ini berkumpul di telapak tangan Prabowo Subianto.

    Tak perlulah kita membahas hak azasi manusia. Ini bukan soal pengadilan Ad Hoc yang diteriakkan para aktivis di seberang Istana Negara. Pun bukan soal instrumen HAM internasional yang dicetuskan PBB. Ini bukan soal peta politik Indonesia, bukan soal pilpres saja.

    Ini soal benak kita, soal Dinis yang mencari ayahnya. Ditambah 12 keluarga aktivis lain yang sudah 16 tahun menanti kabar anggota keluarga mereka. Memilih Prabowo adalah tega membiarkan Dinis menunggu lagi 5 tahun, 10 tahun, atau mungkin selamanya.

    Ini juga soal kemungkinan anggota keluarga kita hilang jika Prabowo berkuasa. Dan itu bisa siapa saja: ayah, ibu, kakak, adik, saya, Anda sendiri.

    Esok Dinis akan menentukan pilihan, begitu pun saya, dan Anda. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ayah Anda hilang karena dianggap mengganggu roda pemerintahan. Silakan pilih Prabowo jika Anda mau nasi yang Anda makan adalah buah tangan petani yang lahannya digusur oleh pemerintah berdarah. Silakan pilih Prabowo jika Anda bersedia ibadah di seberang Istana Negara karena kebetulan Anda tidak memeluk agama mayoritas. Saya tidak.

    Saya tidak akan memilih Prabowo Subianto, selamanya.*** 

    Foto milik tempo.co

     
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13