Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Gus Dur adalah Ultraman Betulan

    Gus Dur adalah Ultraman Betulan

    Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal

     
     
     
    “Menumpas kejahatan dan menegakkan keadilan. Aku tak boleh menyerah!”

    Masih saya ingat kata-kata Shin Asuka, si Ultraman Dyna itu. Di episode tersebut, belasan tahun lalu, Ultraman melawan monster jahat yang menghancurkan kota. Hampir saja Ultraman kalah. Namun seperti biasa, di detik-detik terakhirnya, Ultraman berhasil mengalahkan musuh itu.

    Tak pernah bosan saya menyaksikan berbagai film tentang superhero. Dari Power Rangers, Ksatria Baja Hitam, Sailormoon, lalu Batman dan Spiderman. Disambung Harry Potter, Narnia dan Lord of the Rings. Saya terpesona dengan semangat mereka yang tak pernah menyerah. Mereka korbankan karirnya, hartanya, cinta dan hidupnya, hanya agar orang lain bisa hidup aman dan damai.

    Saat sekolah dasar, saya bermimpi punya kekuatan super untuk mengubah dunia. Betul, saya telah teracuni oleh film-film tadi. Teman-teman saya juga sama. Kami semua memainkan jurus-jurus ajaib saat jam istirahat. Setiap ada orang dewasa, kami anggap mereka monster yang harus dimusnahkan. Kami berlarian, riang gembira.

    Menuju dewasa, saya hanya bisa nyengir bila mengingatnya. Bahwa mimpi mengubah dunia adalah muluk. Bahwa saya takkan bisa terbang atau punya kekuatan bulan. Itu adalah mimpi yang tidak bisa diwujudkan, hanya bisa ditertawakan. Imajinasi kekanakan itu begitu konyol, membuat saya tertawa, tertawa dan tertawa, sampai akhirnya Gus Dur menyadarkan: dunia ini memang sedang dalam marabahaya.

    Saya ditampar, ternyata dunia ini tidaklah aman-aman saja. Namun ancaman itu tidak datang dari Godzilla, alien planet Namex atau Monster Gurita Listrik. Sebab bahaya itu muncul dalam bentuk yang samasekali berbeda. Mereka adalah suara-suara keserakahan, kebencian dan penindasan. Semuanya tidak hanya menghancurkan kota, tapi telah menggerogoti martabat kemanusiaan kita.

    Kini kita sibuk saling menyalahkan, saling curiga dan berebut kuasa. Akhirnya, di berbagai penjuru bumi, orang-orang hidup dalam kelaparan, ketakutan dan hati yang terluka. Di belahan dunia lain, kita melihat orang mengisi hidupnya dengan pertikaian dan permusuhan. Tanpa sadar kita hidup di atas dunia yang menuju hancur. Oh tidak, sekarang kita butuh superhero betulan!

    Gus Dur adalah Superhero Nyata

    Di Indonesia, Gus Dur menempatkan dirinya sebagai titik ‘P’ dalam kata perdamaian. Berbeda dengan damai versi kebanyakan orang, Gus Dur percaya itu bukan sekadar kerukunan. Sebab istilah kerukunan kesannya pasif, juga tutup mata pada konflik kecil. Lewat sosok Gus Dur, kita merombak definisi itu. Kita belajar bahwa perdamaian adalah kemerdekaan tiap insan manusia, saling bantu atas dasar sukarela, dan menolak kekerasan.

    Bicara Islam damai sering dimulai dengan nama Gus Dur. Dia telah mengembalikan Islam ke posisi semestinya: ramah dan cemerlang. Dia juga yang menunjukkan bahwa Islam, demokrasi dan hak azasi manusia punya semangat yang sama. Baik sebelum, semasa, dan setelah masa kepresidenannya, Gus Dur menjadi perisai bagi mereka yang dikucilkan.

    “Gus Dur sudah seperti ayah kami,” ujar Fam Kiun Fat (Akiun), anggota Majelis Agama Khonghucu (Makin) Bandung, Januari lalu. Di Bandung saat itu, digelar peringatan 3 tahun wafat Gus Dur yang dihadiri pula oleh Alissa Wahid. Akiun ungkapkan rasa syukur akan hadirnya sosok Gus Dur. Kini kolom agama di KTP-nya bisa diisi sesuai keinginan, tak pernah terpikirkan selama hidupnya.

    Gus Dur tidak menuntut melainkan mencontohkan. Dia telah berupaya melindungi masyarakat Kristen, keturunan Tionghoa juga Ahmadiyah. Maka dia tidak perlu malu untuk meminta pemimpin negara lain melindungi minoritas muslim di sana. Ini adalah strategi yang memukau sekaligus gesit. Ternyata sejak awal Gus Dur sudah selangkah di depan.

    Tak ada ciri superhero yang tak Gus Dur miliki. Dia menyediakan rasa hormat pada semua manusia, membela yang lemah, dan memperjuangkan keadilan; mengajak semua orang bergandengan tangan dan tidak mempermasalahkan perbedaan; kita diajak hidup damai dalam sebuah komunitas global, sungguh daftar misi yang tak gampang dijalani. Namun Gus Dur menempuh itu semua, sebab Gus Dur adalah manusia ultra, ya, ultraman.

    Sebentar, tapi, Gus Dur tidak punya kekuatan super. Gus Dur tidak punya robot Megazord atau laser dari tangannya. Lalu apa yang menjadikan Gus Dur lebih dari manusia biasa? Kenapa nama Gus Dur bisa jadi kekuatan dan harapan bagi perdamaian Indonesia, juga dunia? Saya rasa sederhana : belas kasih.

    Jurus Super: Belas Kasih
    “Prinsip belas kasih tersemat di jantung tiap agama, etika dan spiritual. Meminta kita perlakukan semua orang sebagaimana kita ingin diperlakukan,” demikian pembuka Charter For Compassion (Piagam Belas Kasih) yang dicetuskan pada 2009. Karen Armstrong, penggagasnya, mengharapkan manusia kembali pada ide ini. Bahwa kita harus tolong menolong dalam sebuah komunitas global, bukannya saling bermusuhan.

    Padahal belas kasih bukan barang baru. Sebagaimana disebutkan dalam Piagam, dia ada di semua tradisi agama dan lainnya, itu berarti manusia sudah kenali sejak zaman prasejarah. Ibarat artefak kuno, gagasan ini muncul menjawab tantangan manusia abad 21. Zaman yang serba tergelincir.

    Dunia telah menjadi saksi dahsyatnya kekuatan ini. Kita melihat bagaimana Buddha, Yesus dan Muhammad menggunakan resep yang sama, lalu mereka diikuti jutaan orang. Bunda Teresa yang menolong ribuan orang, Mahatma Gandhi yang menolak kekerasan, Nelson Mandela yang menolak balas dendam, Gus Dur yang membela keberagaman, semua diilhami semangat yang sama. Mereka mencintai manusia dan lihatlah bagaimana kini manusia mencintai mereka.

    Lewat kisah mereka, kita diajari untuk bersikap empatik, heroik, patriotik. Kita diajak mengorbankan kepentingan diri dan mementingkan orang lain tanpa kecuali, menolong yang lemah, dan memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Kita menolak kebencian, penindasan dan peperangan. Kita menolak balas dendam, memilih jalan yang bukan kekerasan. Kita diberitahu bahwa untuk berjuang tidak selalu harus mengangkat pedang.

    Belas kasih, dan orang-orang yang menggunakannya, adalah alasan untuk terus berjuang meski hanya sendirian. Manusia perlu sosok pejuang kemanusiaan yang bisa memberikan semangat hanya dengan diingat. Manusia perlu teladan yang bisa menjaganya sampai garis finish perjuangan. Manusia perlu panutan soal bagaimana menjadikan dunia ini, atau setidaknya lingkungannya, jadi lebih baik. Manusia butuh nama-nama hebat : Gus Dur, Jusuf Kalla, dan mungkin suatu hari nanti, nama kita sendiri.

    Mimpi dari Masa Kecil

    Masih banyak kejahatan di muka bumi. Masih banyak orang yang hidup dalam ketakutan. Karenanya, kesempatan untuk jadi penyelamat dunia itu masih terbuka lebar. Di Indonesia saja, tahun 2012 saja, ada 274 kasus pelanggaran kebebasan beragama. Artinya rata-rata 22 kasus tiap bulan, artinya sekitar satu kasus tiap dua hari.

    Kondisi ini nampaknya belum akan membaik. Sebab angka tadi selalu naik yakni dari 121 kasus pada 2009, 184 kasus pada 2010, dan 267 kasus pada 2011[1]. Empat kali rapor merah bagi bangsa yang punya semboyan bhinneka tunggal ika. Sebuah bukti bahwa di negara ini bahaya sedang merajalela.

    Cita-cita Gus Dur belum sepenuhnya berhasil. Setelah dia mencontohkan begitu banyak, kini ada beberapa misi yang dia wariskan untuk dilaksanakan. Ini akan sedikit menantang, tapi patut untuk diperjuangkan.

    Saya, Anda, siapa pun, memang tak bisa mengendalikan api. Namun saya mengajak semua insan, laki-laki dan perempuan, siapa pun, untuk membangunkan pahlawan yang bersemayam dalam diri. Sosok yang selama ini tanpa segan menolong orang, dan bila kita pernah melakukannya, tentu akan mudah membuatnya lebih hebat lagi.

    Saya mengajak semua orang untuk melupakan kebencian dan memulai persahabatan. Bila di antara kita ada yang masih percaya stereotip, saatnya cek kebenarannya sekarang juga. Betulkah Batak itu begini, Kristen itu begitu? Lupakan rasa curiga itu, mulailah berkenalan.

    Rubuhkan pula dinding pembatas bernama agama, suku atau apa pun itu. Sebab kita bisa saling tidak setuju, tapi tak perlu main tinju. Sebab kita beda iman, tapi tetap bisa berteman. Bila telah demikian, maka konflik atas nama perbedaan harusnya tinggal kenangan.

    Saya bermimpi tentang semua orang yang menumbuhkan jiwa ksatria dalam dirinya. Ketika mereka secara sukarela menolong sesama manusia, melupakan kebencian dan permusuhan, dan hanya sibuk membangun dunia yang lebih baik. Sebuah dunia para pecinta damai yang kompak, dengan persahabatan yang makin erat, juga kebersamaan yang makin solid.

    Mari, wahai calon superhero, kita hidupkan mimpi masa kecil untuk mengubah dunia. Di tengah kekusutan ini, adalah waktu yang tepat untuk satukan semangat, juga satukan kekuatan untuk menumpas kekerasan dan kebencian. Sudah saatnya kembalikan damai ke muka bumi ini. Gus Dur sang ultraman sudah memulai, saatnya kita selesaikan. []


    Referensi :
    • Armstrong, Karen. 2013. Compassion. Bandung : Mizan
    • “Gus Dur Sudah Seperti Ayah Kami” reportase kegiatan Sarasehan dan Diskusi Gus Dur, Bapak Tionghoa Indonesia, dalam selebaran Catatan Kecil edisi 4 oleh Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub) Bandung
    • Laporan Akhir Tahun Kebebasan Beragama dan Intoleransi 2012, oleh The Wahid Institute. Diunduh dari www.wahidinstitute.org
    • Ultraman Dyna, dari www.en.wikipedia.org/wiki/Ultraman_Dyna‎ diakses pada Kamis, 15 Agustus 2013


    [1] Laporan Akhir Tahun Kebebasan Beragama dan Intoleransi 2012, oleh The Wahid Institute. Diunduh dari www.wahidinstitute.org
  • How 9/11 Blends Us

    How 9/11 Blends Us

    By Rio Tuasikal / @riotuasikal


    When I saw the World Trade Center collapsed, 12 years ago, I was just a 9 year old boy. What I remember next was using my LEGO to build a WTC-like twin tower, also with the airplane, then I reconstructed what I saw on television. It was cool, and too, on that day I was happy.

    But what I was experienced at school the next day was totally different. My teacher suddenly said that the incident is precisely a jihad for Islam, synonym a war to West which is mostly Christians. I asked myself all the day: how can be a Muslim that cruel, or maybe I would be that cruel someday? Suddenly my Christian friends are gradually left me and my closest Muslim friends. We needed about a week to say hello again.

    Let alone my kid’s stuff, it is only about children friendship. But the world today has been changing so fast. Our telecommunication and transportation technology have made this earth a global village: small, interconnected, interdependence. Due to that globalization, my childhood problem years ago, an identity as a Muslim or a Christian, has been an international issue for today.

    The world today connects us with too many identities. We meet various people from around the world with not similar cultures, traditions, religions and even fashion styles. They collide, mingle, and interact with us as Indonesians. That made us afraid, confused and even worry. We lost the connection with our root identity, it is normal if we feel broken and hopeless.

    Some people separate the world as Islam and West, but how can they place Islam as an antithesis from West? Well, in that global dilemma, people from all cultures want to save their pride. Some people are choosing the simplest way, as Maher Zain sing, "Yes, it's easy to blame everything on the West". And the results are war here, there, everywhere. Just take a look at Sunni-Syiah in Syria, Muslim-Jews in Palestine-Israel, Muslim-Buddhist in Myanmar, et cetera et cetera.

    See? We are snobbishly fighting each other just because we are different, and we need no another reason. We blame others just to make sure that we are right. We denigrate others just to save our pride. This is called ethnocentrism, and even worse when this sentiment sublimates the real political and economic interests of the invisible hands. Are not we ridiculous?

    I am afraid of World War III, and 9/11 made my worry acceptable. I’m wondering about a peaceful earth, where Africans, Americans, Arabs, Asians, whatever, are starting to forget hatred and prejudice, and prefer friendship. Because we cannot live only as Muslim, Indonesian or Asians, we live as a global community.

    Julia Suryakusuma wrote on the Jakarta Post newspaper: now you can buy McDonald’s in Mecca, just as you can buy a halal burger in Michigan. We are blended, friends! So, forget that Islam-West simplistic separation, stop blaming and fighting each other. Let us talking about how many week, or even decade we need, to make us say hello again. []
  • Miss World in Indonesia : FPI vs RCTI

    Miss World in Indonesia : FPI vs RCTI

    by Rio Tuasikal / @riotuasikal

    The opening show of Miss World 2013 on RCTI, in Sunday night.
     
    Imagine a poster : Miss World is kafir. Decorated with photos of Hary Tanoe the CEO of MNC Group, Liliana Tanoe the judge, Daniel Mananta the host and Vania Larissa the Miss Indonesia 2013 which are all christians, and called kafir (infidels). It also says Indonesians are mostly muslims, and that’s enough to say that Indonesians have to reject Miss World.

    When I saw that propaganda tagged on my Facebook last Monday, I remember what Habib Rizieq said before, “We must reject Miss World to be held in Indonesia, they are not compatible with Indonesian culture.” Rizieq argued that Miss World will denigrate women’s honor and lead our youths become immoral and (ahem!) sex worshipers. In the name of Indonesian culture, together with his men in FPI (Front Pembela Islam, Islamic Defender Front), Rizieq has asked Hary Tanoe to cancel the show.

    Let alone about feminism, I want to see the show differently. Idioms like budaya Indonesia (Indonesian culture) and orang Timur (the East people) have been our favorite reasons to reject culture from another parts of the world. We believe that Indonesians are polite and moralist, while westerners (particularly Americans) are rude and immoral. Without wisely separate what is good or bad, we just snobbishly say that all food, film and fashion from West have attacked our pride as orang Timur.

    But what is budaya Indonesia exactly, is that wearing kebaya not bikini, speaking bahasa Indonesia not English, and dancing kecak not ballet? Then we automatically judge a women as not Indonesian just because she is wearing a tank top, and is budaya Indonesia that simple? Oh no, sometimes we don’t realize that we have simplified our high cultural values into just those symbols. If we do so, please prepare yourself for symbol war.

    Yeah, the symbol war. That is what happened in the opening show of Miss World 2013, on Sunday. Imagine, for the first time since the first Miss World in 1951, yesterday all the 131 contestants were dancing and made a "Nusantara Parade" in the traditional Indonesian costumes. Also with batik pattern everywhere, Balinese gamelan for music, red and white night dress for singers, and a medley song compiled from traditional songs of Aceh, Central Java, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara and Papua. It’s all Indonesia!

    I think the organizers have been thinking so hard and have compromised a lot about this. I think they are understand enough that if FPI refuse Miss World just because the bikini, they only have to delete it and replace it with something more Indonesian like Parade Nusantara. And voila, RCTI simply used plenty of those Indonesian symbols and the show was go on. How will Rizieq handle this paradox?

    So, if Rizieq and his folks accidentally watched the show yesterday, and saw how Miss World became more Indonesian this year, will they rethink their misleading maneuver? Their request to remove bikini has been fulfilled, and RCTI even made it sooo Indonesia, I think Rizieq will not have another reason. Sorry to say my dear FPI, but in this symbol war to grab budaya Indonesia argumentation, RCTI is definitely the winner. []
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13