Posts

Showing posts from February, 2016

Apakah Propaganda LGBT Betul Ada?

Image
Istilah “Propaganda LGBT” mencuat terutama setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta UNDP menghentikan aliran dana untuk kelompok pelangi. Kelompok LGBT dituding melakukan gerakan masif yang disebut kelompok heteroseksual sebagai “agenda LGBT”.  
Namun apakah itu propaganda LGBT? Simak wawancara antara Jurnalis KBR Rio Tuasikal dengan Ienes Angela, transgender yang bekerja di organisasi penanggulangan HIV/AIDS, GWL-INA.
Bagaimana Anda menanggapi pernyataan Jusuf Kalla?
Mungkin dia berfikir NGO – karena bukan pemerintah – adalah oposisi.  Padahal kita membantu kerja pemerintah dan capaian pemerintah. Jembrengin deh SDGs (Sustainable Development Goals, Target Pembangunan Berkelanjutan) ada ratusan butir. Kalau pemerintah mau buka mata, itu target kerja pemerintah. Sebetulnya apa yang kami lakukan membantu butir-butir itu. Misalnya butir menurunkan angka HIV/AIDS. Mereka malah berpikirnya kami propaganda, membuat gerakan yang masif. 
Lalu ke manakah sebetulnya dana dari UNDP?
UNDP kan Unit…

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Bismillah ..
Sabtu sore, saya dikejutkan dengan surat terbuka sdri Sheren Chamila Fahmi yang di-share teman saya di Facebook. Saya langsung tergelitik dan langsung melahap seluruh isi suratnya. Saya mengapresiasi tulisannya yang membuka ruang diskusi mengenai diskriminasi. Saya percaya ini sangat penting juga genting, dan memang harus dibahas terus menerus.
Saya setuju bahwa di berbagai tempat di dunia warga muslim telah didiskriminasi - terutama perempuan bercadar yang mudah diketahui dari penampilannya. Di banyak tempat di mana muslim jadi minoritas, warga muslim rentan menghadapi standar ganda. Hal ini misalnya terjadi di dunia kerja India [1] dan dunia kerja Prancis [2].  Di samping itu, di Amerika Serikat, 20 keluarga muslim Inggris ditolak di bandara [3].
Saya mencoba membayangkan perjuangan perempuan yang memilih bercadar di Indonesia. Terbayang mereka akan mendapatkan penolakan, cemooh, dan tuduhan yang tedeng aling-aling. Termasuk 5 pengalaman pribadi sdri Sheren yang dia ce…

LGBT: Linglung Gegara Berita Tak-seimbang

Image
Oleh Rio Tuasikal*
Dimuat di situs Serikat Jurnalis untuk Kebergaman (SeJuk).


Sudah satu bulan sejak isu LGBT menjadi bola panas. Sejak itu pula media menghidangkan informasi bias, beracun, dan tidak bermanfaat mengenai polemik ini.
Semua dimulai ketika rektorat Universitas Indonesia meminta SGRC UI mencopot logo ‘makara’.  Tiba-tiba, media secara meleset melabel grup tersebut sebagai komunitas LGBT , padahal mereka adalah kelompok kajian di bidang kesehatan reproduksi dan gender. Ada berapa media yang mewawancarai SGRC mengenai hal ini? Bisa dihitung jari.
Selanjutnya adalah ketika Menristekdikti Mohamad Nasir melarang LGBT masuk kampus. Hanya sedikit media yang mewawancarai kelompok LGBT untuk dimintai pendapatnya. Media juga telah termakan omongan Nasir dan gagal bersikap kritis.
Contoh terburuk dilakukan oleh Harian Republika yang menulis headline “LGBT ancaman serius”. Harian nasional tersebut tidak mewawancarai satu pun orang dari kelompok LGBT untuk menyeimbangkan ber…