Posts

Showing posts from 2016

[AUDIO] Saya Mewawancarai Pendemo Ahok dan Dia Kesulitan Menjawab

Berikut adalah wawancara saya dengan Mahfud Siddiq, pendemo asal Purworejo, Jawa Tengah. Wawancara dilakukan di posko demo di Menteng, Kamis 3 November malam. Pertanyaan soal tuntutan dimulai menit 1:30.


Transkrip
Rio: Kalau bapak dari mana, pak?
Mahfud : Purworejo. Purworejo, Jawa Tengah.
Datang dari hari apa ke sini?
Hari... semalam. Semalam.
Itu dengan menggunakan apa pak ke sini?
Teman Mahfud: Sebentar. Tanya dulu. Situ dari media apa?
R: Dari radio KBR di Menteng
T: KBRI?
R: KBR.
M: KBR apaan?
R: Radio.
M: Kantor Berita Radio? Iya iya KBR.
Pertanyaan soal keberangkatan

R: Iya. Bapak dari Purworedjo berapa banyak, pak?

M: Sama rekan-rekan satu bus.

Bapak gabung di organisasi atau datang sendiri ke sini?
Ya datang dengan kumpulan teman-teman. Dari Karang Taruna, punya Mujahaddah, kebetulan saya pimpinan. Langsung berangkat bareng bareng.
Bapak pimpinan di?
Di Mujahadah
Siap siap siap. Bisnya berapa orang itu pak satu bisnya?
Lima puluh limaapa enam puluh sama krunya. Ya 55 lah.
Untuk nyewa bis atau gi…

Liburan Tenang dan Senang di Grand Hotel Lembang

Image
Bayangkan sebuah tempat liburan yang sejuk, udara segar, dengan pemandangan alam yang terbentang luas untuk melepas penat. Maka kita akan segera membayangkan Lembang, Bandung, yang merangkum semua keunggulan itu, ditambah jaraknya yang juga dekat.
Pesona Lembang adalah magnet bagi wisatawan, baik domestik maupun internasional. Ketika kita berkunjung ke situ, tentu kita membutuhkan tempat bermalam yang berkualitas dan terjangkau. Kedua kehebatan ini dimiliki oleh Grand Hotel Lembang. Tidak hanya lokasinya yang strategis, namun juga terjangkau, ditambah terkenal akan keindahan panoramanya. Pemesanannya pun sangat praktis, bisa dilakukan secara online lewat Traveloka

Berlokasi di kaki Gunung Tangkuban Perahu, kita akan merasa makin dekat dengan legenda Sangkuriang yang terkenal itu.Hotel bintang 3 ini berdiri sejak tahun 1916, menjadikannya salah satu hotel tertua dan terbesar di daerah Lembang. 
Dekat dengan Lokasi-Lokasi Wisata
Lokasi Grand Hotel Lembang sangat strategis, d…

LGBT dan Grasak Grusuk Grindr*

Image
*Dimuat di situs Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk.org)



Niat pemerintah untuk memblokir aplikasi kencan Grindr mulai berbuah aksi. Jumat (30/10/2016) lalu, teman saya yang gay mengatakan sudah tidak bisa mengakses aplikasi tersebut. Dari dia pula, saya mengetahui bahwa pihak Grindr telah memikirkan upaya pemerintah itu, dan menganjurkan penggunanya memakai VPN untuk mengakses Grindr lewat server lain.

Teman saya menyatakan komunitas LGBT tidaklah bodoh. Bahwa mereka akan selalu menemukan cara untuk tetap berkomunikasi dengan sesama, baik itu lewat Grindr, Blued, Hornet, dan aplikasi sejenisnya.

Memang bagus kalau komunitas LGBT bisa tetap terhubung dan menjadi dirinya sendiri. Tapi ini bukan soal seberapa internet-savvy seorang gay untuk mengakses aplikasi itu. Bukan soal seberapa solid komunitas LGBT akan mencari jalan keluar. Bukan soal VPN. Masalah sebenarnya adalah pemerintah melakukan sensor dunia maya, diperparah dengan bias terhadap warganya.

Dalam hemat saya, pemeri…

C8 H10 N4 O2 *

Image
* Finalis 7 besar Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory, diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com 


Dari semua unsur kimia di dunia, buatmu kafein adalah yang paling istimewa. Senyawa itu membuatmu berbunga-bunga. Mendengarnya saja, kamu bisa bahagia sampai pagi buta. Dan, ini semua karena dia.

Dia adalah satu-satunya orang yang membuatmu tertarik dengan kafein. Orang yang entah dengan sihir apa mampu membuatmu duduk terpesona. Membuatmu rela beralih dari pecinta susu cokelat menjadi pemuja kopi.

“Kafe ini sudah mau tutup, tapi masuk saja,” kata dia, ketika kamu masuk untuk berteduh dari hujan.

“Masih bisa pesan? Ada susu cokelat hangat?”

“Maaf ini kedai kopi,” tandasnya.

Lalu kamu diam karena tak tahu bagaimana. Mau pergi sudah tanggung masuk. Mau beli kopi, tapi hubunganmu dengan minuman itu tidaklah bersahabat – kalau tidak disebut bermusuhan. Kamu akhirnya bungkam dan menimbang.

Kamu memang tidak terlahir sebagai pecinta kafein – baik pada teh maupun kopi. Dan peng…

Why We Compare Ourselves to Others?

Image
“I don’t see the sense in comparing ourselves to other people all the time. It’s not about being better than anyone else or having nicer things...”

I read it in “Seriously.. I’m Kidding” by Ellen DeGeneres and couldn’t say anything but agree. I think comparison makes you feel bad about yourself, no matter how good you are. But still, in reality, words are easier than actions.

I’ve been telling myself not to compare myself to others, but I can’t miss any single morning not doing so. I make comparisons both to people I consider in upper and lower level than mine. And I ended like never feel thankful of what I have, and simultaneously feel snobbish.

I don’t want to blame my past, but yeah I think it might be derived from my childhood. I remember those Eid Fitr days 10 years back, when my big family gathered in grandma’s house. It’s a nice and warm family time. I had the annual judging panel. No Simon Cowell, the judges are my aunts and uncles.

My aunt started the most avoided question: …

Bagaimana Kompas TV Keliru Meliput Razia Warteg*

Image
*Dimuat di situs Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk)

Video liputan ini di linimasa Facebook, hingga Sabtu (11/6/2016) malam, sudah ditonton 2,3 juta kali dan panen kecaman. Dalam video itu nampak petugas Satpol PP Serang, Banten, merazia sebuah warung nasi yang buka di siang hari. Terlihat ibu pemilik warung memohon kepada petugas untuk tidak menyita makanannya – meski pada akhirnya petugas mengabaikannya dan ibu itu meninggalkan warung sambil menangis.

Video 1 menit 42 detik itu mungkin hanya selintas, namun ia menunjukkan gambaran besar mengenai perspektif keliru yang digunakan jurnalis tersebut. Saya mencatat beberapa kalimat dalam naskah yang mencerminkan cara pandangnya.

“Warung ini diketahui nekat melayani konsumen pada siang hari saat bulan suci Ramadhan."

“Demi terwujudnya toleransi dan saling menghormati antar umat beragama, semua warung makan dilarang beroperasi saat siang hari.”

Teks di CG bawah layar: “Imbauan bersama demi toleransi saat Ramadhan”

Kalimat…

#RamadanStory: Closing Down Warung to Respect Ramadan?

Image
I remember when I am having dinner together with friends - one of them is Jewish - in Bandung few years back. We were at Madtari - where an instant noodle "Indomie" served with toppings like corned beef, cheese, and egg combined.

We were about to order our food when my Jewish friend explain about kosher, the law of eating equal to halal concept for Muslims.

"I can't order Indomie with such toppings, unfortunately. It is considered not kosher," he explained.

"Why?"

"Corned beef and cheese made from cow milk are just like parent and children, we cannot boil them at once," he said carefully. In Jewish law, it is called בשר בחלב‎‎ (basar bechalav) or literally meat in milk. Book of Exodus forbids "boiling a (kid) goat in its mother's milk".

So he avoided all of Indomie-related menus and just moved to toast instead.

As respect to my Jewish friend, I wanted to cancel my Indomie as I did not want to pique him. But he responded fast …

#RamadanStory : How We Ask Religion

Image
My 1st day of Ramadan was awkward.

I was putting on my shoes on Monday morning when my ibu kos greeted me at the door, and bashfully asked.

"Rio, do you fasting?"

"Yes. Why?"

"Do you celebrate Eid?"

"Yes. Why, bu?"

"I thought you celebrate Christmas."

Oh come on!

Honestly I am familiar with those annual typical questions - and I usually respond the way I did. To make it crystal clear, I did not feeling offended or attacked with that. Wasn't indignant at all. The point is not why asking my religion, but why asking my religion that way?

Back to my days as students, I was frequently asked by curious shy friends. Apparently because most people find me as religion ambiguous - well I am muslim. I remember the other way people used to know my identity.

"Do you go to the mosque or the church?"

What if I don't do both?

I know that for some people religion is an issue. Even considered as taboo. So when they talk about it, they w…

Fitness First and Transjakarta Were Celebrating Kartini's Day All Wrong

Image
To Fitness First and Transjakarta


Today, I find that our struggle for gender equality is still thousand miles away. 
This evening, Fitness First Senayan City conducted a special event for Kartini's Day named FITGIRL. The so-called carnaval consists of several classes by only female instructors wearing batik, tracks by female singers only, and the club decorated with batik. But the worst part was the merchandise was for girl  participants only.
Went home, I was waiting for a Transjakarta bus. The first bus is half pink and has huge text of "Habis Gelap Terbitlah Terang" (After darkness, there's light) written on the sides of the bus. Then the bus attendant rejected me as the bus is for female passengers only.
Wait a minute, is this how they commemorating Kartini's Day? Where is the equality between girls and boys that our national heroine has shown us decades ago? Open your history book and you'll easily find that Kartini fought for equality, not the special t…

Jika Kamu Berpakaian Adat untuk Merayakan Hari Kartini, You're Celebrating It All Wrong

Image
Untuk yang memperingati Hari Kartini

Ketika saya membeli sarapan pagi ini, saya melewati sebuah masjid yang sedang memperingati Hari Kartini - tentu dengan sebuah lomba peragaan busana untuk anak.

Anak-anak kecil, baik perempuan maupun laki-laki, berpakaian adat dari berbagai daerah. Ada juga yang mengenakan seragam profesi seperti dokter, guru, atau polisi. Lalu satu dua tiga, pose. Satu dua tiga, pose. Yang menang dapat piala.

Di linimasa, sejumlah teman saya mengenakan baju adat terbaiknya untuk acara Kartini di kantor mereka. Lalu mereka mengunggahnya di Instagram, dengan hashtag, ehem, #OOTD.

"Kartini Fashion Week" ini lazim setiap tahun. Namun, apakah itu yang Kartini wariskan? Apakah dia membahas fashion ketika dia menulis surat dan curhat kepada sahabat pena Estell "Stella" Zeehandelaar di Belanda? Apakah dia bicara tentang catwalk atau gelaran Jepara's Next Top Model saat itu? Sama sekali tidak. Kartini bukanlah perancang busana dan irelevan dengan …

Energi untuk Toleransi

Image
Perdamaian tidaklah seperti jalan-jalan ke luar kota yang bisa direncanakan untuk terjadi esok. Tidak. 
Masih ada ratusan kasus intoleransi dan diskriminasi. Masih ada puluhan gereja yang disegel atau dirobohkan - di Bogor dan Singkil misalnya - atau masjid yang susah didirikan - seperti di Tolikara. belum lagi pengungsi Syiah dan Ahmadiyah yang tidak dipedulikan negara. 
Perdamaian adalah aspirasi panjang dan menguras energi. Dan, jujur saja, kadang kita merasa perlu berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan kembali berjalan. 
Itulah yang saya dapatkan ketika mengikuti Temu Kebangsaan di Cico Resort, Bogor, 8-10 April kemarin. Ia ibarat charger yang mengisi baterai semangat ke posisi penuh 100%.
Saya bertemu dengan pribadi-pribadi seperti Riaz Muzaffar yang dengan senang hati menjawab pertanyaan mengenai Baha’i, Gilang Kusuma Achmadi yang merasa aman menyatakan dirinya sebagai Ahmadiyah, juga Rini Meilia Kania yang bangga sebagai Sunda Wiwitan.

Melihat mereka, juga 20 orang lainnya…

Apakah Propaganda LGBT Betul Ada?

Image
Istilah “Propaganda LGBT” mencuat terutama setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta UNDP menghentikan aliran dana untuk kelompok pelangi. Kelompok LGBT dituding melakukan gerakan masif yang disebut kelompok heteroseksual sebagai “agenda LGBT”.  
Namun apakah itu propaganda LGBT? Simak wawancara antara Jurnalis KBR Rio Tuasikal dengan Ienes Angela, transgender yang bekerja di organisasi penanggulangan HIV/AIDS, GWL-INA.
Bagaimana Anda menanggapi pernyataan Jusuf Kalla?
Mungkin dia berfikir NGO – karena bukan pemerintah – adalah oposisi.  Padahal kita membantu kerja pemerintah dan capaian pemerintah. Jembrengin deh SDGs (Sustainable Development Goals, Target Pembangunan Berkelanjutan) ada ratusan butir. Kalau pemerintah mau buka mata, itu target kerja pemerintah. Sebetulnya apa yang kami lakukan membantu butir-butir itu. Misalnya butir menurunkan angka HIV/AIDS. Mereka malah berpikirnya kami propaganda, membuat gerakan yang masif. 
Lalu ke manakah sebetulnya dana dari UNDP?
UNDP kan Unit…

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Bismillah ..
Sabtu sore, saya dikejutkan dengan surat terbuka sdri Sheren Chamila Fahmi yang di-share teman saya di Facebook. Saya langsung tergelitik dan langsung melahap seluruh isi suratnya. Saya mengapresiasi tulisannya yang membuka ruang diskusi mengenai diskriminasi. Saya percaya ini sangat penting juga genting, dan memang harus dibahas terus menerus.
Saya setuju bahwa di berbagai tempat di dunia warga muslim telah didiskriminasi - terutama perempuan bercadar yang mudah diketahui dari penampilannya. Di banyak tempat di mana muslim jadi minoritas, warga muslim rentan menghadapi standar ganda. Hal ini misalnya terjadi di dunia kerja India [1] dan dunia kerja Prancis [2].  Di samping itu, di Amerika Serikat, 20 keluarga muslim Inggris ditolak di bandara [3].
Saya mencoba membayangkan perjuangan perempuan yang memilih bercadar di Indonesia. Terbayang mereka akan mendapatkan penolakan, cemooh, dan tuduhan yang tedeng aling-aling. Termasuk 5 pengalaman pribadi sdri Sheren yang dia ce…

LGBT: Linglung Gegara Berita Tak-seimbang

Image
Oleh Rio Tuasikal*
Dimuat di situs Serikat Jurnalis untuk Kebergaman (SeJuk).


Sudah satu bulan sejak isu LGBT menjadi bola panas. Sejak itu pula media menghidangkan informasi bias, beracun, dan tidak bermanfaat mengenai polemik ini.
Semua dimulai ketika rektorat Universitas Indonesia meminta SGRC UI mencopot logo ‘makara’.  Tiba-tiba, media secara meleset melabel grup tersebut sebagai komunitas LGBT , padahal mereka adalah kelompok kajian di bidang kesehatan reproduksi dan gender. Ada berapa media yang mewawancarai SGRC mengenai hal ini? Bisa dihitung jari.
Selanjutnya adalah ketika Menristekdikti Mohamad Nasir melarang LGBT masuk kampus. Hanya sedikit media yang mewawancarai kelompok LGBT untuk dimintai pendapatnya. Media juga telah termakan omongan Nasir dan gagal bersikap kritis.
Contoh terburuk dilakukan oleh Harian Republika yang menulis headline “LGBT ancaman serius”. Harian nasional tersebut tidak mewawancarai satu pun orang dari kelompok LGBT untuk menyeimbangkan ber…