Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • [AUDIO] Saya Mewawancarai Pendemo Ahok dan Dia Kesulitan Menjawab

    [AUDIO] Saya Mewawancarai Pendemo Ahok dan Dia Kesulitan Menjawab


    Berikut adalah wawancara saya dengan Mahfud Siddiq, pendemo asal Purworejo, Jawa Tengah. Wawancara dilakukan di posko demo di Menteng, Kamis 3 November malam. Pertanyaan soal tuntutan dimulai menit 1:30.



    Transkrip

    Rio: Kalau bapak dari mana, pak?

    Mahfud : Purworejo. Purworejo, Jawa Tengah.

    Datang dari hari apa ke sini?

    Hari... semalam. Semalam.

    Itu dengan menggunakan apa pak ke sini?

    Teman Mahfud: Sebentar. Tanya dulu. Situ dari media apa?

    R: Dari radio KBR di Menteng

    T: KBRI?

    R: KBR.

    M: KBR apaan?

    R: Radio.

    M: Kantor Berita Radio? Iya iya KBR.

    Pertanyaan soal keberangkatan

    R: Iya. Bapak dari Purworedjo berapa banyak, pak?

    M: Sama rekan-rekan satu bus.

    Bapak gabung di organisasi atau datang sendiri ke sini?

    Ya datang dengan kumpulan teman-teman. Dari Karang Taruna, punya Mujahaddah, kebetulan saya pimpinan. Langsung berangkat bareng bareng.

    Bapak pimpinan di?

    Di Mujahadah

    Siap siap siap. Bisnya berapa orang itu pak satu bisnya?

    Lima puluh lima apa enam puluh sama krunya. Ya 55 lah.

    Untuk nyewa bis atau gimana pak? Uang kas atau gimana?

    Ya ada pokoknya. Kalau yang urusan manajemen itu anak-anak. Kita kan pimpinan, tinggal berangkat saja.

    Tinggal berangkat saja ya pak. (Rio tertawa kecil) Tinggal datang ya bisnya sudah disediain. 

    Pertanyaan soal tuntutan

    Pak, tuntutan buat besok apa sih yang mau disuarakan pas aksi?

    Ya itu. Seperti yang dikatakan MUI sama Habib Rizieq itu. 

    Apa pak tuntutannya?

    Ya tuntutannya ya kita kan di sini kan dukung sedangkan kita nggak berwenang kasih dukungan yang semacam ke yang agak-agak resmi pakai tanda tangan enggak. Kita moril. Moril sekaligus kita kan yang namanya mau gerak itu mesti ada yang namanya keyakinan.

    (Rio bergumam)

    Menurut bapak pernyataan Ahok itu bagaimana sih?

    Sementara kan kita orang kampung, walaupun berani datang ke Jakarta. Ya.. keyakinan saja.

    Menurut bapak… (terpotong)

    Nggak nggak nggak nggak nggak perlu kita ekspos lah kita sudah tahu Ahok. 

    Bapak tersinggung sama pernyataan dia?

    Ya kita kan bareng bareng orang banyak. Jadi nggak bsia kalau saya tersinggung saya nggak bisa. Kita kan orang banyak. Keyakinan tadi itu loh. 

    (Rio bergumam)

    Bapak sendiri sudah lihat videonya pas Ahok ngomong itu, yang ngutip Al Maidah 51?

    Ya dikit-dikit.

    Bapak pas lihatnya gimana tuh pak?

    Ya kita kan... kayak kayak gitu... pokoknya gini aja, kita keyakinan sama saudara.

    Itu ya pak yang nyatuin, mempersatukan ukhuwah-nya?

    Iya iya

    Bapak rencananya di sini berapa hari pak? 

    Kalau sudah selesai langsung pulang

    Besok langsung pulang berarti?

    Ya kalau selesai pulang.

    Kalau tidak selesai itu maksudnya gimana tuh, pak?

    Ya kalau selesai dalam arti kita sudah nggak nggak nggak bareng-bareng kita kan pulang urusan masing masing.

    Nanti pulangnya satu rombongan satu bis juga?

    (Mahfud mengangguk) Kita kan punya kerja di rumah juga. Wilayah kita juga nggak di sini. Cuma waktu kayak gini kita kan ya sama-sama. 

    Siap, makasih loh pak. 

    -selesai-



  • Liburan Tenang dan Senang di Grand Hotel Lembang

    Liburan Tenang dan Senang di Grand Hotel Lembang

    Bayangkan sebuah tempat liburan yang sejuk, udara segar, dengan pemandangan alam yang terbentang luas untuk melepas penat. Maka kita akan segera membayangkan Lembang, Bandung, yang merangkum semua keunggulan itu, ditambah jaraknya yang juga dekat.

    Pesona Lembang adalah magnet bagi wisatawan, baik domestik maupun internasional. Ketika kita berkunjung ke situ, tentu kita membutuhkan tempat bermalam yang berkualitas dan terjangkau. Kedua kehebatan ini dimiliki oleh Grand Hotel Lembang. Tidak hanya lokasinya yang strategis, namun juga terjangkau, ditambah terkenal akan keindahan panoramanya. Pemesanannya pun sangat praktis, bisa dilakukan secara online lewat Traveloka


    Berlokasi di kaki Gunung Tangkuban Perahu, kita akan merasa makin dekat dengan legenda Sangkuriang yang terkenal itu.Hotel bintang 3 ini berdiri sejak tahun 1916, menjadikannya salah satu hotel tertua dan terbesar di daerah Lembang. 

    Dekat dengan Lokasi-Lokasi Wisata

    Lokasi Grand Hotel Lembang sangat strategis, dekat dengan Floating Market, Rumah Sosis, Boscha Observatorium, dan De Ranch Lembang. Semuanya bisa diakses mulai dari 5-30 menit saja.

    Floating Market - wisata kuliner dengankonsep pasar terapung. 
    (Sumber bisbandung.com)
    Rumah Sosis - mencicipi sosis enak, dari kecil sampai jumbo
    (Sumber: anekatempatwisata.com)

    Bosscha - mengamati bintang dan menjelajah luar angkasa. 
    (Sumber: bosscha.itb.ac.id)


    De Ranch - sensasi berkuda sambil menikmati panorama.
    (Sumber: initempatwisata.com)

    Grand Hotel Lembang juga sangat dekat dengan pusat perbelanjaan dan wisata kuliner unik yang enak serta terjangkau, semua bisa diakses hanya dengan berjalan kaki. Lebih penting lagi adalah banyak spot menarik untuk mengabadikan foto dengan nuansa alam memukau.

    Fasilitas Lengkap

    Bagi yang tertarik bermalam di Grang Hotel Lembang, hotel ini memiliki total 205 kamar. Hotel ini juga ditambah meeting room untuk 1000 orang. Kamar yang ditawarkan pun bermacam-macam sesuai kebutuhan.

    1. Standard Room (64 kamar)













    Weekend : Rp 658.000,-
    Weekdays : Rp 578.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis.

    2. Superior (81 kamar)
     












    Weekend : Rp 784.000,-
    Weekdays : Rp 678.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis

    3. Deluxe (43 kamar)













    Weekend : Rp 790.000,-
    Weekdays : Rp 728.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis.

     4. Cempaka Suite (6 kamar)













    Weekend : Rp 2.500.000,-
    Weekdays : Rp 2.000.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis.

    5. Azalea Family Suite (1 kamar)













    Weekend : Rp 1.916.000,-
    Weekdays : Rp 1.846.000,-
    • King Size atau Twin Single Beds  
    • TV LCD 32” dengan 69 pilihan chanel satelit/TV kabel berlangganan
    • Harga termasuk sarapan
    • WI-FI gratis
    • Shower dan bathtub dengan air panas/dingin
    • Pelayanan 24 jam 
    • Parkir gratis.

    Dengan fasilitas yang lengkap dan pemandangan yang luar biasa, pengunjung akan betah berlama-lama menginap. Nikmati waktu berlibur yang sangat berkesan dan tak terlupakan, hanya  Grand Hotel Lembang.
      
    Grand Hotel Lembang
    Jalan Raya Lembang No. 272, Lembang, Bandung Barat.


  • LGBT dan Grasak Grusuk Grindr*

    LGBT dan Grasak Grusuk Grindr*

    *Dimuat di situs Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk.org)



    Niat pemerintah untuk memblokir aplikasi kencan Grindr mulai berbuah aksi. Jumat (30/10/2016) lalu, teman saya yang gay mengatakan sudah tidak bisa mengakses aplikasi tersebut. Dari dia pula, saya mengetahui bahwa pihak Grindr telah memikirkan upaya pemerintah itu, dan menganjurkan penggunanya memakai VPN untuk mengakses Grindr lewat server lain.

    Teman saya menyatakan komunitas LGBT tidaklah bodoh. Bahwa mereka akan selalu menemukan cara untuk tetap berkomunikasi dengan sesama, baik itu lewat Grindr, Blued, Hornet, dan aplikasi sejenisnya.

    Memang bagus kalau komunitas LGBT bisa tetap terhubung dan menjadi dirinya sendiri. Tapi ini bukan soal seberapa internet-savvy seorang gay untuk mengakses aplikasi itu. Bukan soal seberapa solid komunitas LGBT akan mencari jalan keluar. Bukan soal VPN. Masalah sebenarnya adalah pemerintah melakukan sensor dunia maya, diperparah dengan bias terhadap warganya.

    Dalam hemat saya, pemerintah melakukan 3 kekeliruan ketika memblokir Grindr. Kesalahan pemerintah ini adalah melanggar kebebasan sipil, salah sasaran, dan menerapkan standar ganda.

    Sebuah negara demokrasi, yang menghormati kebebasan sipil dan wilayah privat, tidak berhak membatasi sebuah aplikasi kencan. Romantika adalah urusan warga, bukan urusan negara. Terlepas dari apapun yang dilakukan warga dalam aplikasi itu, dari cari teman sampai jual produk, biarkan jadi urusan warga. Kewajiban negara adalah membenahi urusan publik: menghapus kemiskinan, memberantas korupsi, mengurangi macet. Mohon dicatat, warga tidaklah membayar pajak supaya aparatur mengurusi kencan, moral, atau selangkangan.

    Hal kedua adalah pemerintah menggunakan jalan pintas memblokir aplikasi kencan demi apa yang disebut “memberantas prostitusi anak”. Pemblokiran ini sebenarnya tidak menyelesaikan masalah. Sebab prostitusi anak bisa dilakukan lewat aplikasi apa saja –mau Facebook, Twitter, Grindr, Blogger, Whatsapp, Friendster, atau fax sekalipun. Ibarat pisau yang bisa digunakan untuk banyak hal, kalaulah ada yang menggunakannya untuk membunuh, apa kita harus melenyapkannya dari seluruh dunia? Tidak.

    Kesalahan ketiga menurut saya merupakan pangkal masalahnya: bias negara. Pemerintah–memang sudah sejak di dalam pikiran–memandang LGBT sebagai suatu penyakit dan salah. Padahal, WHO telah mencoret homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa sejak 1990, juga Kemenkes melakukan hal yang sama terhadap PPDGJ III sejak 1993.

    Di samping itu, kita semua tahu, sejumlah kasus prostitusi anak dilakukan juga oleh orang heteroseksual. Artinya, tak ada hubungan prostitusi dengan orientasi seks. Mau homoseksual atau heteroseksual, prostitusi anak adalah prostitusi anak. Pemerintah seharusnya hanya memakai seragam kedinasan mereka dan meninggalkan jaket moralnya di rumah. Satu-satunya alat yang harus digunakan pemerintah adalah hukum, bukan dasar suka tidak suka.

    Pemblokiran Grindr dan jajaran aplikasi lainnya menunjukkan kemalasan pemerintah dalam mengurai akar utama prostitusi anak. Akhirnya pemerintah hanya menjadikan Grindr sebagai kambing hitam, dan LGBT sebagai musuh bersama. Sedih melihat pemerintah berlindung di bawah ketiak moral hanya untuk menutupi fakta bahwa dia tidak becus mengurusi tata negara.

    Rio Tuasikal, penerima fellowship “Better Journalism for LGBTI” dari AJI-UNDP
  • C8 H10 N4 O2 *

    C8 H10 N4 O2 *

    * Finalis 7 besar Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory, diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com 


    Dari semua unsur kimia di dunia, buatmu kafein adalah yang paling istimewa. Senyawa itu membuatmu berbunga-bunga. Mendengarnya saja, kamu bisa bahagia sampai pagi buta. Dan, ini semua karena dia.

    Dia adalah satu-satunya orang yang membuatmu tertarik dengan kafein. Orang yang entah dengan sihir apa mampu membuatmu duduk terpesona. Membuatmu rela beralih dari pecinta susu cokelat menjadi pemuja kopi.

    “Kafe ini sudah mau tutup, tapi masuk saja,” kata dia, ketika kamu masuk untuk berteduh dari hujan.

    “Masih bisa pesan? Ada susu cokelat hangat?”

    “Maaf ini kedai kopi,” tandasnya.

    Lalu kamu diam karena tak tahu bagaimana. Mau pergi sudah tanggung masuk. Mau beli kopi, tapi hubunganmu dengan minuman itu tidaklah bersahabat – kalau tidak disebut bermusuhan. Kamu akhirnya bungkam dan menimbang.

    Kamu memang tidak terlahir sebagai pecinta kafein – baik pada teh maupun kopi. Dan pengalaman sepanjang hidupmu dengan minuman-minuman itu membuatmu teguh pendirian. Beberapa kali kamu mencoba kopi, itu pun kopi kemasan, kamu berakhir sakit perut dan tidak bisa tidur hingga nyaris subuh. Pada kasus lainnya, ketika kamu minum di pagi hari, kamu sakit perut berkepanjangan hingga senja menjelang.

    Kamu baru menimbang-nimbang mungkin seteguk kopi akan baik-baik saja...

    “Kalau kamu mau minum kopi, kubuatkan yang istimewa.”

    Kamu mengangguk.

    Dia membereskan sedikit cangkir di sini dan di situ, lalu semenit berselang datang menghampirimu dengan secangkit kopi berwarna cokelat terang. Mirip kopi susu.

    “Ini kopi sanger, khas Aceh,” jelasnya. “Tak ada di menu, khusus buatmu.”

    Kamu tersenyum.

    “Kopi ini memakai susu, jadi mungkin bisa jadi perkenalan bagi pecinta susu sepertimu,” katanya.

    Kamu minum kopi itu. Berdoa perutmu akan baik-baik saja esok hari. Teguk kedua. Enak juga. Dia tiba-tiba duduk di depanmu dan menatapmu serius. Teguk ketiga. Kopinya manis. Dari sela-sela gelas kamu mengintipnya: mata indah yang memantulkan cahaya mirip hazelnut. Teguk keempat. Dia tersenyum. Senyum yang menenggelamkan. Kamu terlena. Entah oleh citarasa kopi atau tatapannya.

    “Ini kopi, sebaiknya kamu menyesapnya perlahan,” katanya membuyarkan.

    “Aku hanya butuh lebih banyak latihan,” katamu lalu tertawa nanggung.

    Dia menatapmu.

    “Aku akan mampir lagi.”

    Cukup segelas kopi sanger untuk membuatmu penasaran lebih lanjut. Untuk membuatmu meneguhkan hati untuk datang kembali. Untuk menjelajahi kopi, sekali lagi, dua-tiga kali lagi.

    Dia tidak banyak bicara seperti kemarin, namun kamu menunjukkan antusiasme yang lebih kentara. Kamu harus berbohong kepada dia. Soal rasa mulasmu. Perutmu sebenarnya tidak baik-baik saja. Lambungmu rasanya masih berunjuk rasa. Namun apakah itu yang membuatmu rela, adalah segelas kopi sanger buatannya.

    Kembali di meja yang sama.

    “Kopi Aceh rasanya lebih rumit dari kopi Jawa,” jelasnya.

    “Oh ya? Coba ceritakan,” katamu.

    Kamu mengingkari janjimu untuk menyicipi kopi sanger tiga kali saja. Gelas ke gelas, malam ke malam. Perutmu terus menyuarakan penolakan. Pola tidurmu kini terganggu dan sudah tak keruan. Namun sesuatu selalu mengundang rasa penasaran. Selalu mengundang pertanyaan. Selalu ada alasan untuk kembali datang.

    “Aku resmi mencintai kopi,” katamu bangga.

    “Secepat itu kamu mengkhianati susu?”

    Sudah sepekan kamu jadi pendatang tetap dan mulai terbiasa dengan tingkat keasaman kopi itu. Kamu tidak terlalu suka dengan siksaan kafein. Apalagi dirimu tidak terlalu terbiasa. Kamu harus bangun tengah malam ke toilet karena sakit perut mendadak. Dan kamu harus mengantuk sepanjang hari karena gagal tidur malam sebelumnya.

    Tapi duduk di kedai kopi malam-malam, mendengarkan dia bercerita dan menjelaskan, adalah sungguh pengalaman yang sepadan. Kamu pergi ke kedai itu dan menghabiskan beberapa jam sebelum pulang. Kamu masih ragu apakah sebenarnya yang membuatmu bertahan?

    Ini adalah gelas kopi sanger hari ke-8.

    “Kamu harus meminumnya langsung di Aceh, di kebun keluargaku,” ujarnya spontan. Tak pernah ada pembicaraan selain kopi selama ini. Apa yang dia ucapkan barusan sangatlah mengagetkan. Kamu hanya tersenyum pura-pura abai padahal hatimu sudah seperti genderang perang.

    “Rumahku di Ulee Kareng,” tambahnya.

    Tiba-tiba kamu diam, membiarkan hening mengambil alih percakapan.

    “Kok diam?”

    Kamu masih kebingungan. Kamu berpikir apakah ini efek samping dari kafein. Kamu sempat membaca bahwa kebanyakan zat ini bisa membuatmu cemas. Namun kamu merasa ini adalah sesuatu yang berbeda. Kamu sedikit kunang-kunang. Namun kamu merasa tidak akan pingsan. Malahan kamu merasa akan bertenaga semalaman.

    “Solid rib henley-mu bagus,” ucapnya.

    Malam itu terasa manis melebihi kopi sanger itu sendiri.



    Alasan macam apalagi supaya kamu bisa datang kembali ke tempat itu hanya untuk melihatnya membuatkan resep kopi sederhana dan bercerita?

    Penjelasan apa yang kamu cari ketika membiarkan hidupmu sedikit berantakan, tidur sekenanya, namun di satu sisi kamu merasa dicukupkan? Apa yang kamu cari lagi dari gelas-gelas kopi yang belasan? Lalu kamu menerka-nerka jawaban.

    Ini bukanlah tentang kopi sanger malam-malam. Namun menemukan orang yang membuatmu rela duduk diam. Bukan soal ketepatan racikan, ini perihal tawa renyah yang menjangkau sudut ruangan. Bukan perkara kopi yang menawarkan kehangatan, ini tentang perasaan.

    Perlu berapa gelas lagi sampai akhirnya kamu percaya pada hatimu bahwa kamu sedang jatuh cinta? Butuh berapa hari lagi agar kamu meneguhkan rasa kopi menjadi rasa hati?

    Inikah kafein? Atau oksitosin?

    Malam itu kamu kembali datang dengan tenaga melimpah. Inilah kali pertamanya kamu punya alasan yang lebih jujur. Kamu datang bukan untuk minuman namun untuk seseorang.

    Kamu berpikir apakah ini waktu yang terlalu awal untuk bicara perasaan. Namun kamu enggan menipu dirimu sendiri. Kamu ingin terus di depannya, meneguk kopi sanger sampai subuh buta. Kamu ingin mendengarkannya, bercerita soal biji kopi Toraja hingga Brasilia. Tatapan teduhnya. Senyuman yang menenggelamkan. Tanpa dia, kamu lemah tak berdaya.

    Langkah gesitmu berhenti di depan kedai. Lampunya mati. Pintu dikunci. Kamu ketuk, tidak ada jawaban. Kamu ketuk, tidak ada jawaban. Kamu panggil-panggil dan tetap tidak ada jawaban.

    Kamu cemas. Kamu merasa kehilangan.

    Kenapa harus tiba-tiba menghilang ketika bahkan namanya belum kamu ketahui?

    Ada pahit yang keluar bukan dari kopi melainkan hati.

    Kamu ketuk pintunya lagi.

    Kamu ketuk-ketuk belasan kali lagi lalu memanggil-manggil dari luar tak peduli apakah ada orang memerhatikan lalu kamu ketuk lagi dengan suara dan tangan yang mulai gemetar lalu kamu ketuk lagi lalu kamu ketuk lagi lalu kamu menangis.

    Kamu membuka ponselmu.

    Search. CGK to BTJ. Tonight. Book.

    Tanpa nama, kamu akan mencarinya.

    Dia: kafeinmu.

    ---


    Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
  • Why We Compare Ourselves to Others?

    Why We Compare Ourselves to Others?


    “I don’t see the sense in comparing ourselves to other people all the time. It’s not about being better than anyone else or having nicer things...”

    I read it in “Seriously.. I’m Kidding” by Ellen DeGeneres and couldn’t say anything but agree. I think comparison makes you feel bad about yourself, no matter how good you are. But still, in reality, words are easier than actions.

    I’ve been telling myself not to compare myself to others, but I can’t miss any single morning not doing so. I make comparisons both to people I consider in upper and lower level than mine. And I ended like never feel thankful of what I have, and simultaneously feel snobbish.

    I don’t want to blame my past, but yeah I think it might be derived from my childhood. I remember those Eid Fitr days 10 years back, when my big family gathered in grandma’s house. It’s a nice and warm family time. I had the annual judging panel. No Simon Cowell, the judges are my aunts and uncles.

    My aunt started the most avoided question: “so how’s school?” Well, I never ranked #1 in the class, nor attended the best school in town, but 5 of my cousins were and did. So I just answered little and let my Mom saved me by talking to my aunt.

    Life went on but the situation remains unchanged. Last year, one of my uncle asked me why I didn’t join the selection of PNS (public servant) and join the Kemen PU (Ministry of Infrastructure) just like him. I said I am not interested and he was keep comparing my job as journalist with his.

    This year on last Eid, luckily my aunt (wife of the PNS uncle) mentioned my trip to USA and adored how good it was. Of course, it was great. But the point is my judging session went so smooth and the next was just fine.

    Then my brother sent me a LINE message: “kak, selamatkan ade dari penghakiman ini hahaha” (Please save me from this judging session LOL). I asked him what happened. He said he was fine–he is studying Physics in Gadjah Mada University so everything will be OK and he got praises–but one younger cousin was the victim this year. This cousin’s father, my uncle, keep telling him how good I am and my brother and urged him to follow us. Yes, of cours –BIG NO.

    Everyone is unique and has potential. Everyone has their own fights. Comparisons will ignore the beautiful flaw of being human. Then people can’t appreciate their existence and can’t understand how precious they are.

    If you want to keep updated about my life jusk ask, but please don’t comment. And please don’t tell me your advice is the way you express your affection, it’s just how you show control. By the time people stop judging and comparing me to others –good or bad–I will stop doing the same to myself and others.

    I acknowledge that comparing yourself to others is somehow relieving. And if you think you still need it, just keep the comparisons in your mind. Someday you will think you don’t need it eventually. Because the only person you have to beat is your yesterday self.***
  • Bagaimana Kompas TV Keliru Meliput Razia Warteg*

    Bagaimana Kompas TV Keliru Meliput Razia Warteg*



    *Dimuat di situs Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk)

    Video liputan ini di linimasa Facebook, hingga Sabtu (11/6/2016) malam, sudah ditonton 2,3 juta kali dan panen kecaman. Dalam video itu nampak petugas Satpol PP Serang, Banten, merazia sebuah warung nasi yang buka di siang hari. Terlihat ibu pemilik warung memohon kepada petugas untuk tidak menyita makanannya – meski pada akhirnya petugas mengabaikannya dan ibu itu meninggalkan warung sambil menangis.

    Video 1 menit 42 detik itu mungkin hanya selintas, namun ia menunjukkan gambaran besar mengenai perspektif keliru yang digunakan jurnalis tersebut. Saya mencatat beberapa kalimat dalam naskah yang mencerminkan cara pandangnya.

    “Warung ini diketahui nekat melayani konsumen pada siang hari saat bulan suci Ramadhan."

    “Demi terwujudnya toleransi dan saling menghormati antar umat beragama, semua warung makan dilarang beroperasi saat siang hari.”

    Teks di CG bawah layar: “Imbauan bersama demi toleransi saat Ramadhan”

    Kalimat-kalimat di atas menggambarkan poin-poin yang penting diperhatikan. Pertama, jurnalis itu (yang mungkin juga seorang muslim yang sedang berpuasa) gagal melepas jaket agamanya ketika meliput, menulis, atau mengedit, sehingga hasil liputannya sangat bias. Liputan ini bisa digunakan kelompok intoleran untuk membenarkan aksi main hakim sendiri: razia warung makan.

    Kedua, jurnalis gagal kritis terhadap penguasa dan akhirnya menulis berita yang birokrat-sentris. Hal ini terlihat dari kalimat “imbauan” yang ditulis mentah-mentah. Akibatnya, berita itu hanya jadi amplifier bagi kehendak penguasa. Toleransi dan menghormati itu seharusnya alami, tidak dipaksakan.

    Ketiga, berita ini menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman jurnalis tentang posisi negara terhadap agama – yang seharusnya terpisah dan saling menyeimbangkan. Negara tidak boleh ikut campur dalam perdebatan tafsir agama di kalangan masyarakat, dan media harus menjadi wasit yang menjaga proses itu. Namun liputan ini malah seolah membenarkan aksi agama yang menunggangi negara dan sebaliknya.

    Perspektif pemberitaan di atas, baik disengaja atau karena keteledoran, bersifat kontraproduktif bagi pengembangan demokrasi di negara yang masyarakatnya relijius. Hal ini juga menunjukkan kegagalan jurnalis menjalankan fungsinya sebagai watchdog dalam negara hukum.

    Kekeliruan ini bisa saja dilakukan oleh reporter di lapangan, maupun editor atau produser. Terbebas dari siapapun yang membentuk naskah itu, berita ini tetap tidak kontributif. Ini adalah pengingat penting bagi media – tak hanya Kompas TV namun juga media-media lain – agar lebih arif dalam meliput isu agama.

    Penulis adalah jurnalis Kantor Berita Radio (KBR)
  • #RamadanStory: Closing Down Warung to Respect Ramadan?

    #RamadanStory: Closing Down Warung to Respect Ramadan?



    I remember when I am having dinner together with friends - one of them is Jewish - in Bandung few years back. We were at Madtari - where an instant noodle "Indomie" served with toppings like corned beef, cheese, and egg combined.

    We were about to order our food when my Jewish friend explain about kosher, the law of eating equal to halal concept for Muslims.

    "I can't order Indomie with such toppings, unfortunately. It is considered not kosher," he explained.

    "Why?"

    "Corned beef and cheese made from cow milk are just like parent and children, we cannot boil them at once," he said carefully. In Jewish law, it is called בשר בחלב‎‎ (basar bechalav) or literally meat in milk. Book of Exodus forbids "boiling a (kid) goat in its mother's milk".

    So he avoided all of Indomie-related menus and just moved to toast instead.

    As respect to my Jewish friend, I wanted to cancel my Indomie as I did not want to pique him. But he responded fast and firm, "just go ahead with your Indomie. Kosher is my business, not yours."

    I was incessantly impressed by his attitude towards us and his own belief, until today.

    A Lesson for Today

    I think my experience is precisely relevant to what happened in Indonesia annually: Ramadan debate of closing warung. Have you watched the video from Kompas TV that Satpol PP of Serang, Banten, seized one warung that opened in the midday of Ramadan? Yeah, that's the problem!


    For decades, it is common to hear cliche slogans like "close your warung to respect those who fast" or "to embrace tolerance among us, government forbids warung to open", yet I strongly oppose them. Because I believe that respect is something you earn from your modest personality, not by indignantly forcing others to do so. You can't expect the world adjusts itself just to suits your mood.

    This is similar with the situation in the office or college or anywhere. You will automatically give respect to your bosses or lecturers or anyone who embrace you warm, not to those who impose strict law and demand yourself to accommodate their needs.

    The second thing is government's attitude on religion. Religion is something that the State cannot interfere. Consequently, those mayors and local politicians cannot join the public debate on religious practices. They should not compose any law "for the sake of tolerance" just to satisfy one particular group that has their own interpretation.

    Remember, tolerance has to be grown naturally. If some warung owners want to close their shops, or want to open, it is up to them. The only duty the government bears is to protect Muslim's right to fast, and others' right to not fast - and make sure there is no-one in this country is enable to use violence and neglect our law.

    Remember, nor intolerant groups or the State has the task to write down our merit and sin. Fasting is our personal business with God. So just let angel Roqib and angel Atid continue their assigned jobs.

    So when you see intolerant groups are arrogantly forcing warung to close, and think that's something good, please do think twice. Maybe people will follow their demand, yet people don't give respect and people are just afraid. And we may possibly ask those groups cordially: are you worshiping your God or just your ego?

    Jakarta, 
    June 12 
    3.15 p.m.
  • #RamadanStory : How We Ask Religion

    #RamadanStory : How We Ask Religion


    My 1st day of Ramadan was awkward.

    I was putting on my shoes on Monday morning when my ibu kos greeted me at the door, and bashfully asked.

    "Rio, do you fasting?"

    "Yes. Why?"

    "Do you celebrate Eid?"

    "Yes. Why, bu?"

    "I thought you celebrate Christmas."

    Oh come on!

    Honestly I am familiar with those annual typical questions - and I usually respond the way I did. To make it crystal clear, I did not feeling offended or attacked with that. Wasn't indignant at all. The point is not why asking my religion, but why asking my religion that way?

    Back to my days as students, I was frequently asked by curious shy friends. Apparently because most people find me as religion ambiguous - well I am muslim. I remember the other way people used to know my identity.

    "Do you go to the mosque or the church?"

    What if I don't do both?

    I know that for some people religion is an issue. Even considered as taboo. So when they talk about it, they will prefer analogy, almost silent, feeling guilty or offended, or just avoid the talk anyway.

    But the more you don't want to say religion as a noun, the more it shows the problem within your mind. If you think saying I am buddhist or I am hindu is embarrassing, it represents your classification and narrow-judgmental mind. What you have in mind is other religions are wrong or illogical, or simply think they all are not equal compared to yours.

    Contrary - and I reccomend this - just ask it firm and clear.Without adding sorry as an intro.

    "What is your religion?"

    Such question shows neutrality, and there's nothing wrong with your faith or others'.

    Only to those people who say religion as a noun - which I believe will get rid off prejudice and stereotype - I will care to spend hours to discuss about God. []

    Jakarta,
    June 8
    00:13 a.m.
  • Fitness First and Transjakarta Were Celebrating Kartini's Day All Wrong

    Fitness First and Transjakarta Were Celebrating Kartini's Day All Wrong

    To Fitness First and Transjakarta



    Today, I find that our struggle for gender equality is still thousand miles away. 

    This evening, Fitness First Senayan City conducted a special event for Kartini's Day named FITGIRL. The so-called carnaval consists of several classes by only female instructors wearing batik, tracks by female singers only, and the club decorated with batik. But the worst part was the merchandise was for girl  participants only.

    Went home, I was waiting for a Transjakarta bus. The first bus is half pink and has huge text of "Habis Gelap Terbitlah Terang" (After darkness, there's light) written on the sides of the bus. Then the bus attendant rejected me as the bus is for female passengers only.

    Wait a minute, is this how they commemorating Kartini's Day? Where is the equality between girls and boys that our national heroine has shown us decades ago? Open your history book and you'll easily find that Kartini fought for equality, not the special treat for girls!

    You guys have hijacked Kartini's Day by embarassingly misinterpreting her noble ideas. Thanks for your stupidity now our future of gender-equal world even more uncertain. []

  • Jika Kamu Berpakaian Adat untuk Merayakan Hari Kartini, You're Celebrating It All Wrong

    Jika Kamu Berpakaian Adat untuk Merayakan Hari Kartini, You're Celebrating It All Wrong



    Untuk yang memperingati Hari Kartini


    Ketika saya membeli sarapan pagi ini, saya melewati sebuah masjid yang sedang memperingati Hari Kartini - tentu dengan sebuah lomba peragaan busana untuk anak.

    Anak-anak kecil, baik perempuan maupun laki-laki, berpakaian adat dari berbagai daerah. Ada juga yang mengenakan seragam profesi seperti dokter, guru, atau polisi. Lalu satu dua tiga, pose. Satu dua tiga, pose. Yang menang dapat piala.

    Di linimasa, sejumlah teman saya mengenakan baju adat terbaiknya untuk acara Kartini di kantor mereka. Lalu mereka mengunggahnya di Instagram, dengan hashtag, ehem, #OOTD.

    "Kartini Fashion Week" ini lazim setiap tahun. Namun, apakah itu yang Kartini wariskan? Apakah dia membahas fashion ketika dia menulis surat dan curhat kepada sahabat pena Estell "Stella" Zeehandelaar di Belanda? Apakah dia bicara tentang catwalk atau gelaran Jepara's Next Top Model saat itu? Sama sekali tidak. Kartini bukanlah perancang busana dan irelevan dengan itu semua.

    Tahun 1903, Kartini yang berusia 24 tahun dipaksa menikah dengan pria bernama Joyodiningrat beristeri 3 pilihan orangtuanya. Meski terpaksa mengikuti keinginan ayahnya, pada dasarnya dia menolak ide itu dan mengatakan perempuan harusnya bebas menentukan pilihan. Perempuan harusnya bebas dari penindasan

    Hal lain yang Kartini alami adalah perempuan pada zamannya jarang yang bersekolah ketimbang laki-laki. Perempuan saat itu di Jepara biasa dikurung di rumah ketika beranjak remaja untuk disiapkan menikah. Kartini sendiri dikurung sejak usia 12 dan melanjutkan pendidikan di rumah, bukan sekolah. Kartini menyatakan bahwa perempuan harusnya punya kesempatan yang sama untuk pendidikan, dan tidak dibeda-bedakan karena dia perempuan. Juga bahwa pendidikan adalah pintu keluar dari penindasan.

    Kartini menolak penindasan - inilah yang disebut emansipasi. Dia memvisikan masa di mana perempuan dan laki-laki bisa menentukan pilihan masing-masing, berkembang hingga potensi terbaiknya, bertarung secara adil, punya kesempatan dan diperlakukan sama. Dia memimpikan equalitas seluruh umat manusia - apapun jenis kelaminnya.

    Perlu dicatat, perempuan yang bersifat maskulin, atau independen, kuat secara fisik, bekerja, tidak serta merta menjadi Kartini masa kini. Menjadi Kartini adalah mencita-citakan kesetaraan universal. Dan ini berlaku juga bagi laki-laki yang percaya pada gagasan juga masa depan yang sama.

    Saya mengenal sejumlah teman saya yang jadi Kartini masa kini. Salah tiga di antaranya telah menikah dan membagi urusan rumah tangga dan anak, juga mencari nafkah, secara merata dan berdasarkan kesepakatan dengan suami. Mereka para perempuan, dan para suami mereka yang laki-laki, adalah teladan sempurna akan gagasan kekartinian. Saya bertaruh, ibu Kartini akan tersenyum melihatnya.

    Hari ini, mari kita merayakan Hari Kartini dengan lebih esensial. Tak perlu lepas konde atau baju adatmu. Cukup dukung pemberdayaan perempuan agar setara dengan laki-laki dalam setiap aspek kehidupan.  Beri perempuan kesempatan. Selamat Hari Kartini. []
  • Energi untuk Toleransi

    Energi untuk Toleransi

    photo by Temu Kebangsaan

    Perdamaian tidaklah seperti jalan-jalan ke luar kota yang bisa direncanakan untuk terjadi esok. Tidak. 

    Masih ada ratusan kasus intoleransi dan diskriminasi. Masih ada puluhan gereja yang disegel atau dirobohkan - di Bogor dan Singkil misalnya - atau masjid yang susah didirikan - seperti di Tolikara. belum lagi pengungsi Syiah dan Ahmadiyah yang tidak dipedulikan negara. 

    Perdamaian adalah aspirasi panjang dan menguras energi. Dan, jujur saja, kadang kita merasa perlu berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan kembali berjalan. 

    Itulah yang saya dapatkan ketika mengikuti Temu Kebangsaan di Cico Resort, Bogor, 8-10 April kemarin. Ia ibarat charger yang mengisi baterai semangat ke posisi penuh 100%.

    Saya bertemu dengan pribadi-pribadi seperti Riaz Muzaffar yang dengan senang hati menjawab pertanyaan mengenai Baha’i, Gilang Kusuma Achmadi yang merasa aman menyatakan dirinya sebagai Ahmadiyah, juga Rini Meilia Kania yang bangga sebagai Sunda Wiwitan.

    Melihat mereka, juga 20 orang lainnya di Tim Keberagaman, saya merasa tak kehabisan tenaga. Antusiasme itu melimpah, tumpah ruah, dan menular. Kini saya bisa berjalan kembali, oh, bahkan berlari!

    Akan selalu ada rasa bosan yang datang melanda. Bersamaan dengan itu, secara tidak terkira, akan selalu ada kawan-kawan dan pengalaman baru yang menawarkan energi untuk kembali pada cita-cita.

    Saya percaya, bersama pemuda, toleransi akan selalu menemukan energinya.

    Rio Tuasikal, Jurnalis Kantor Berita Radio (KBR68H) dan pegiat CINTAindonesia
  • Apakah Propaganda LGBT Betul Ada?

    Apakah Propaganda LGBT Betul Ada?

    Ienes Angela (Foto: Rio Tuasikal / KBR 68H)

    Istilah “Propaganda LGBT” mencuat terutama setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta UNDP menghentikan aliran dana untuk kelompok pelangi. Kelompok LGBT dituding melakukan gerakan masif yang disebut kelompok heteroseksual sebagai “agenda LGBT”.  

    Namun apakah itu propaganda LGBT? Simak wawancara antara Jurnalis KBR Rio Tuasikal dengan Ienes Angela, transgender yang bekerja di organisasi penanggulangan HIV/AIDS, GWL-INA.

    Bagaimana Anda menanggapi pernyataan Jusuf Kalla?

    Mungkin dia berfikir NGO – karena bukan pemerintah – adalah oposisi.  Padahal kita membantu kerja pemerintah dan capaian pemerintah. Jembrengin deh SDGs (Sustainable Development Goals, Target Pembangunan Berkelanjutan) ada ratusan butir. Kalau pemerintah mau buka mata, itu target kerja pemerintah. Sebetulnya apa yang kami lakukan membantu butir-butir itu. Misalnya butir menurunkan angka HIV/AIDS. Mereka malah berpikirnya kami propaganda, membuat gerakan yang masif. 

    Lalu ke manakah sebetulnya dana dari UNDP?

    UNDP kan United Nations Development Program. Kalau di Indonesia kan kayak Kemenko-PMK. Mereka tidak spesial memberi dana untuk LGBT, ada banyak dan salah satunya adalah penanggulangan HIV. Kebetulan, organisasi saya ini menyasar gay, waria, dan lelaki seks lelaki yang masuk populasi kunci HIV, tapi malah LGBT yang disorot. Padahal UNDP memberikan dana untuk kesehatan dan HIV. UNDP juga bekerjasama dengan Kemenkes untuk membuat layanan itu lebih ramah.  

    Bagaimana jika Jusuf Kalla minta dana bantuan itu dihentikan?

    Sebenarnya nggak hanya dari UNDP. Silakan saja dia mau stop seluruh bantuan internasional dari mana pun. Nggak cuma dari UNDP atau USAID. Kalau memang pemerintah bisa menyediakan sendiri apa yang komunitas butuhkan – terlepas komunitas LGBT atau bukan – kalau memang bisa dicukupkan sendiri dari APBN, APBD, apa pun, tak masalah. Bantuan luar itu kan untuk mengisi dan menutupi celah. Dari yang pemerintah lakukan, ternyata kurangnya di sini dan ini tidak bisa dilakukan pemerintah tapi komunitas. Dana itu masuk untuk membiayai komunitas kerja ini. 

    Bagaimana respon Anda terhadap istilah “propaganda LGBT”?

    Kalau kita disebut kampanye, betul ini kampanye layanan. Bagaimana supaya layanan HIV/AIDS diakses komunitas kami.  Kami memang mencari LGBT yang tersembunyi. Kalau mereka tersembunyi dan tak berani mengakses layanan di luar, kami beritahukan ada layanan yang sudah ramah. Bisa akses ke sana dan nggak perlu takut rahasia terbongkar, baik terkait status HIV atau gay-nya. Bukan propaganda ke straight, jadi gay yuk biar kita angkanya makin gede. Bukan itu. 

    Apakah masuk akal tuduhan bahwa LGBT menularkannya orientasi seksnya?

    Ini bisa dijelaskan konsep penerimaan diri. Pada saat ada seseorang merasa dirinya berbeda, itu ada tahapannya. Ada tahapan satu di mana dia merasa berbeda dari orang lain. Tahap berikutnya dia akan mencari orang yang sama dengan dia, mulai mencari komunitasnya. Saat ini dia akan lebih intens datang ke komunitas. Momen itu yang dicap sama orang sebagai ‘ketularan’. Karena sering-sering ketemu orang itu akhirnya dia gay. Padahal sebelumnya itu ada dalam tingkatan penerimaan diri. Proses tiga tahap ini yang tidak dilihat orang.

    Ada yang menuduh bahwa LGBT ingin menambah jumlahnya. Bagaimana?

    Kalau memang ada LGBT yang merasa tidak yakin, galau, ya kita kuatkan. Bahwa menjadi homoseksual, transgender, gay, atau lesbian itu tidak salah selama kamu bisa berbuat positif. Dan program kami tidak ada urusan dengan heteroseksual.

    Ditulis untuk portalkbr.com
  • Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

    Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

    Bismillah ..

    Sabtu sore, saya dikejutkan dengan surat terbuka sdri Sheren Chamila Fahmi yang di-share teman saya di Facebook. Saya langsung tergelitik dan langsung melahap seluruh isi suratnya. Saya mengapresiasi tulisannya yang membuka ruang diskusi mengenai diskriminasi. Saya percaya ini sangat penting juga genting, dan memang harus dibahas terus menerus.

    Saya setuju bahwa di berbagai tempat di dunia warga muslim telah didiskriminasi - terutama perempuan bercadar yang mudah diketahui dari penampilannya. Di banyak tempat di mana muslim jadi minoritas, warga muslim rentan menghadapi standar ganda. Hal ini misalnya terjadi di dunia kerja India [1] dan dunia kerja Prancis [2].  Di samping itu, di Amerika Serikat, 20 keluarga muslim Inggris ditolak di bandara [3].

    Saya mencoba membayangkan perjuangan perempuan yang memilih bercadar di Indonesia. Terbayang mereka akan mendapatkan penolakan, cemooh, dan tuduhan yang tedeng aling-aling. Termasuk 5 pengalaman pribadi sdri Sheren yang dia ceritakan, serta pembakaran jilbab dan sindiran masker. Hal ini terjadi karena masyarakat kita belum cukup dewasa. Mereka menganggap semua orang dengan jilbab lebar dan cadar, atau bercelana cingkrang dan berjanggut lebat, sebagai kelompok radikal hanya karena penampilannya sama. Ini adalah generalisasi yang merupakan pangkal dari diskriminasi. 

    Setiap insan manusia tidak ingin diperlakukan demikian. Tidak ingin dituduh. Tidak ingin mendapat label, stigma, prasangka, dan diskriminasi. Tidak ingin dinilai dari penampilan saja. Tidak ingin dipandang sebelah mata. Ingin tetap merdeka tanpa dihakimi orang-orang. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dijunjung tinggi dan dilindungi, sebagaimana ditegaskan lewat Piagam Belas Kasih berikut ini [4]. Hal itu merupakan fitrah manusia, tertanam dalam hati sdri Sheren, saya, tujuh miliar manusia lain di bumi, termasuk kelompok LGBT. 

    Dalam perspektif hak asasi manusia, setiap manusia setara dan memiliki 30 hak asasi yang sama [5]. Ini berlaku universal kepada seluruh manusia - tidak memandang agama, ras, etnis, jenis kelamin, disabilitas, juga orientasi seksual. Terlepas dari apa pun identitas orang tersebut, dia adalah ciptaan Allah yang harus diperlakukan adil tidak dibeda-bedakan.

    Rupanya hal ini yang diabaikan sdri Sheren dalam surat terbukanya. Dia ogah distigma sebagai ekstrimis, tapi mengatakan LGBT wajar menerima stigma karena dianggap tidak sesuai nilai di masyarakat. Dia menolak dituduh sebagai teroris tapi menuduh LGBT penuh propaganda. Dia mengatakan masyarakat melakukan diskriminasi terhadap perempuan bercadar karena belum mendapat edukasi yang cukup, tapi bukankah masyarakat mendiskriminasi LGBT juga karena belum tahu banyak mengenai kelompok itu? Bukankah ini merupakan standar ganda?

    LGBT tidak mengidap penyakit. Homoseksualitas telah dihapus dari daftar penyakit jiwa oleh World Health Organisation sejak 1990 [6], juga oleh Kementerian Kesehatan dalam PPDGJ III sejak 1993 [7]. Kalaupun sdri Sheren percaya itu penyakit, ya silakan, tapi menghakimi kelompok LGBT tidak akan membuat keadaan jadi lebih baik.

    Perlu diingat, hak asasi manusia bukanlah kompetisi. Bukan soal siapa menang dan siapa kalah. HAM bukan soal apakah kelompok muslim lebih banyak menerima diskriminasi ketimbang LGBT atau tidak. Tidak ada yang paling terdzalimi atau kurang terdzalimi. Kelompok mana pun yang melapor ke Komnas HAM bukanlah meminta belas kasihan, bukan berlebihan atau lebay. Sebab lembaga negara itu memang wajib menghapus segala praktik diskriminasi kepada siapapun tanpa kecuali - termasuk kelompok muslim dan LGBT.

    Menghormati hak-hak LGBT sebagai warga negara tidak akan menganggu hak-hak kelompok muslim sebagai sesama warga negara. Menghormati LGBT sebagai manusia tidak akan membuat kehormatan kelompok muslim sirna.

    Ketika diskriminasi ini masih terjadi kepada siapapun, ini adalah pekerjaan rumah kita seluruh warga dunia untuk menghapusnya. Bukankah dunia tanpa diskriminasi adalah keinginan seluruh umat manusia apapun identitasnya? Dan ini akan terjadi, jika dan hanya jika, setiap manusia bersikap adil sejak dalam pikirannya.

    Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
    (QS. Al Mumtahanah: 8)

    Jakarta, 20 Februari 2016
    Rio Rahadian Tuasikal
    ***

    Surat Terbuka untuk LGBT dari Muslimah Bercadar
  • LGBT: Linglung Gegara Berita Tak-seimbang

    LGBT: Linglung Gegara Berita Tak-seimbang

    Oleh Rio Tuasikal*



    Sudah satu bulan sejak isu LGBT menjadi bola panas. Sejak itu pula media menghidangkan informasi bias, beracun, dan tidak bermanfaat mengenai polemik ini.

    Semua dimulai ketika rektorat Universitas Indonesia meminta SGRC UI mencopot logo ‘makara’.  Tiba-tiba, media secara meleset melabel grup tersebut sebagai komunitas LGBT , padahal mereka adalah kelompok kajian di bidang kesehatan reproduksi dan gender. Ada berapa media yang mewawancarai SGRC mengenai hal ini? Bisa dihitung jari.

    Selanjutnya adalah ketika Menristekdikti Mohamad Nasir melarang LGBT masuk kampus. Hanya sedikit media yang mewawancarai kelompok LGBT untuk dimintai pendapatnya. Media juga telah termakan omongan Nasir dan gagal bersikap kritis.

    Contoh terburuk dilakukan oleh Harian Republika yang menulis headline “LGBT ancaman serius”. Harian nasional tersebut tidak mewawancarai satu pun orang dari kelompok LGBT untuk menyeimbangkan berita utama. Bahkan, ketika disomasi kelompok LGBT, Republika tetap ogah melakukan kewajiban jurnalismenya untuk mewawancarai pihak kedua. Media ini malah kelabakan mencari pembelaan dari berbagai pihak.

    Selanjutnya bisa ditebak: pemberitaan LGBT ini makin linglung dan bikin bingung. Sudah hilang navigasi dan makin tidak bergizi. Dari pendapat Walikota Bandung Ridwan Kamil hingga Anggota DPR Mohammad Nasir Djamil, jurnalis makin keasyikan asal pinjam bibir orang. Dalam situasi ini, kelompok LGBT yang sudah dimarjinalkan sejak awal, kini dua kali lebih rentan mendapat kekerasan. Bahkan, ketika FPI merazia orang yang diduga gay dan lesbian di Bandung, pemerintah hanya diam dan mengabaikan hak-hak sipil para korban.

    Situasi buruk ini sangat memprihatinkan – tapi akarnya tidaklah spektakuler. Ini bukan soal apakah sebuah media mendukung LGBT atau tidak, melainkan soal kaidah jurnalisme dan kode etik yang diabaikan. Semua ini terjadi hanya karena jurnalis gagal menerapkan prinsip cover both sides sejak awal. Betul, sumber masalahnya terlalu normatif, terkesan remeh, namun ini sungguh prinsipil.

    Prinsip keberimbangan ini sangatlah penting. Apalagi ketika pernyataan para pejabat yang memicu diskriminasi ini tidak didasari pengetahuan yang memadai.

    Pada kasus Nasir, misalnya, dia tidak memakai referensi ilmiah ketika mengatakan LGBT merusak moral. Dia bahkan tidak tahu bedanya seks, gender, orientasi seksual, praktik seksual, dan identitas seksual. Menteri ini bahkan tidak up to date kalau WHO sudah menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa sejak 1990, diikuti Kemenkes yang mencoretnya dari Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi III tahun 1993. Seandainya dia lebih banyak membaca.

    Ketidaktahuan dan ketidakingintahuan pejabat publik ini seharusnya dicegah sebelum menebalkan stigma dan menularkan kedunguan kepada masyarakat. Seharusnya media sudah otomatis mengonfirmasi pendapat Nasir ke kelompok LGBT saat itu juga. Media wajib memberikan ruang yang sama lebar untuk LGBT menjelaskan kehadiran mereka dan meluruskan banyak hal. Dengan demikian, potensi kesalahpahaman akan padam sejak awal.

    Dengan menghadirkan seluruh pihak, jurnalisme akan merobohkan prasangka, membawa debat publik jadi lebih mencerdaskan. Itulah yang dilakukan Rosiana Silalahi bersama Kompas TV dan Jurnalis Rappler Febriana Firdaus. Mereka bukan membela LGBT – semata mempraktikkan jurnalisme yang benar.

    Jurnalisme rusak adalah bensin bagi korek api kebencian. Semua dimulai dari jurnalis yang tidak taat prosedur konfirmasi. Bagi siapapun jurnalis yang malas melakukan prinsip dasar ini, sila mulai tulis surat pengunduran diri.  []

    *Penulis, jurnalis KBR 68H 

  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    Blog Archive

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13