Jika Kamu Berpakaian Adat untuk Merayakan Hari Kartini, You're Celebrating It All Wrong



Untuk yang memperingati Hari Kartini


Ketika saya membeli sarapan pagi ini, saya melewati sebuah masjid yang sedang memperingati Hari Kartini - tentu dengan sebuah lomba peragaan busana untuk anak.

Anak-anak kecil, baik perempuan maupun laki-laki, berpakaian adat dari berbagai daerah. Ada juga yang mengenakan seragam profesi seperti dokter, guru, atau polisi. Lalu satu dua tiga, pose. Satu dua tiga, pose. Yang menang dapat piala.

Di linimasa, sejumlah teman saya mengenakan baju adat terbaiknya untuk acara Kartini di kantor mereka. Lalu mereka mengunggahnya di Instagram, dengan hashtag, ehem, #OOTD.

"Kartini Fashion Week" ini lazim setiap tahun. Namun, apakah itu yang Kartini wariskan? Apakah dia membahas fashion ketika dia menulis surat dan curhat kepada sahabat pena Estell "Stella" Zeehandelaar di Belanda? Apakah dia bicara tentang catwalk atau gelaran Jepara's Next Top Model saat itu? Sama sekali tidak. Kartini bukanlah perancang busana dan irelevan dengan itu semua.

Tahun 1903, Kartini yang berusia 24 tahun dipaksa menikah dengan pria bernama Joyodiningrat beristeri 3 pilihan orangtuanya. Meski terpaksa mengikuti keinginan ayahnya, pada dasarnya dia menolak ide itu dan mengatakan perempuan harusnya bebas menentukan pilihan. Perempuan harusnya bebas dari penindasan

Hal lain yang Kartini alami adalah perempuan pada zamannya jarang yang bersekolah ketimbang laki-laki. Perempuan saat itu di Jepara biasa dikurung di rumah ketika beranjak remaja untuk disiapkan menikah. Kartini sendiri dikurung sejak usia 12 dan melanjutkan pendidikan di rumah, bukan sekolah. Kartini menyatakan bahwa perempuan harusnya punya kesempatan yang sama untuk pendidikan, dan tidak dibeda-bedakan karena dia perempuan. Juga bahwa pendidikan adalah pintu keluar dari penindasan.

Kartini menolak penindasan - inilah yang disebut emansipasi. Dia memvisikan masa di mana perempuan dan laki-laki bisa menentukan pilihan masing-masing, berkembang hingga potensi terbaiknya, bertarung secara adil, punya kesempatan dan diperlakukan sama. Dia memimpikan equalitas seluruh umat manusia - apapun jenis kelaminnya.

Perlu dicatat, perempuan yang bersifat maskulin, atau independen, kuat secara fisik, bekerja, tidak serta merta menjadi Kartini masa kini. Menjadi Kartini adalah mencita-citakan kesetaraan universal. Dan ini berlaku juga bagi laki-laki yang percaya pada gagasan juga masa depan yang sama.

Saya mengenal sejumlah teman saya yang jadi Kartini masa kini. Salah tiga di antaranya telah menikah dan membagi urusan rumah tangga dan anak, juga mencari nafkah, secara merata dan berdasarkan kesepakatan dengan suami. Mereka para perempuan, dan para suami mereka yang laki-laki, adalah teladan sempurna akan gagasan kekartinian. Saya bertaruh, ibu Kartini akan tersenyum melihatnya.

Hari ini, mari kita merayakan Hari Kartini dengan lebih esensial. Tak perlu lepas konde atau baju adatmu. Cukup dukung pemberdayaan perempuan agar setara dengan laki-laki dalam setiap aspek kehidupan.  Beri perempuan kesempatan. Selamat Hari Kartini. []

Comments

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"