Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Kekejaman dengan Bungkus Merah Putih

    Kekejaman dengan Bungkus Merah Putih


    Untuk Bambang di Solo


    Salah satu anggota keluarga saya sedang terjerat narkoba untuk kedua kalinya, ketika pengedar narkoba asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran bersiap menghadapi eksekusi mati di Indonesia.

    Jika ditanya apakah keduanya harus dihukum, saya adalah orang yang selalu setuju. Sebab saya sudah merasakan sendiri bagaimana zat adiktif itu mengguncang hubungan sosial dan ekonomi keluarga kami---dua kali! Tapi, jika pertanyaannya haruskah pengedar narkoba dihukum mati? Saya menjawab tidak.

    Sebab sampai sekarang tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan hukuman mati bisa memutus rantai narkoba. Malahan, dengan dibunuhnya pengedar kelas teri, informasi mengenai jaringan narkoba di atasnya akan hilang. Maka mafia-mafia kelas kakap akan terus mengeruk keuntungan sambil menari-nari. 

    Itulah kenapa hati saya terluka ketika melihat Bambang, warga Solo, Jawa Tengah, mengirimkan dua peti mati ke kedutaan Australia di Jakarta, pekan lalu. Dua peti itu dia bungkus dengan bendera Australia, lengkap dengan foto kedua terpidana mati di masing-masing peti. 

    Aksi ini dia lakukan sebagai dukungan terhadap rencana pemerintah Indonesia mengeksekusi dia pengedar narkoba asal negeri kangguru. “Kedaulatan di negara ini harus ditegakkan,” ucapnya angkuh.

    Perasaan saya makin tercerai berai ketika melihat puluhan siswa SD, Februari lalu, yang mengikuti “Koin untuk Australia”. Mereka mengumpulkan uang sebagai bentuk protes terhadap pernyataan PM Abott yang mengungkit bantuan Australia saat Aceh dilanda tsunami 2004 silam.  

    Meski saya juga tidak suka pernyataan Abott yang memperdagangkan misi kemanusiaan, tapi kelakuan anak itu lebih memilukan! Tahu apa mereka soal narkoba, hukuman mati, dan hubungan diplomatik kedua negara?

    Kemudian media massa Indonesia bersikap tidak adil. Metrotvnews.com menulis Australia mengintervensi pelaksanaan hukuman mati. Tapi, bukankah pemerintah Indonesia juga akan memberi pembelaan yang sama kepada warga negaranya yang terancam hukuman mati di Hongkong dan Saudi Arabia? Kenapa kita menyebut pemerintah Indonesia menolong sedangkan pemerintah Australia ikut campur?

    Nasionalisme macam apa ini? Kenapa kita bangga merah putih tapi menginjak martabat manusia di saat yang sama? Saya setuju bahwa hukum di Indonesia harus berdaulat, tanpa intervensi Australia atau negara mana pun. Tapi kok, hukuman kita itu barbar dan dangkal ya? Dari 198 negara di dunia, kenapa bangsa Indonesia ini masih menjalankan hukuman mati---bersama 34 negara lainnya?

    Jangan lupa: eksekusi mati muncul saat pemerintah mengeluarkan kebijakan tidak populer. Dan ini patut kita curigai. Ingat, enam nama pertama muncul Januari lalu setelah Polycarpus, si pembunuh aktivis HAM Munir, bebas bersyarat. Lalu sekarang muncul nama-nama jilid dua ketika pemerintah memilih Budi Gunawan, pejabat kepolisian yang diduga korup, sebagai calon tunggal Kapolri. 

    Masih ada sisa 48 terpidana mati narkoba yang bisa dicicil kapan pun pemerintah butuh tameng. Sementara rakyat terus berteriak mendukung pemerintahnya yang kejam dan menanggalkan rasa kemanusiaan.***


  • Kopi Rasa Emosi

    Kopi Rasa Emosi



    Untuk nenek tua penjual kopi

    Sudirman Central Business District, Jumat malam pekan lalu.

    Saya baru selesai santap malam seharga 40 ribu Rupiah di Chicken Story, masih memegang jus stroberi, ketika akhirnya melewati seorang nenek yang duduk di trotoar.

    Ditemani termos dan koper tua berisi sachet minuman serta bungkus rokok, nenek itu melihat saya.

    “Kopi, De?” tanyanya, yang langsung membuat leher saya lemas sehingga akhirnya mengangguk.

    “Yang Tora Bika ya, Bu.”

    “Empat ribu Rupiah,” ujarnya sambil menaburkan choco granule.

    Ketika saya pergi sambil menggenggam kopi buatan si nenek, mata saya becek. Saya tidak tahu emosi apakah itu.

    Ketika saya mengambil tegukan pertama kopi tersebut, ingatan saya ditarik ke beberapa waktu sebelumnya.

    Siang di hari yang sama, saya baru saja melipir ke Starbucks di US Embassy bersama sejumlah teman. Vanilla latte 40 ribu Rupiah.  Juga, selama sebulan belakangan ini, saya kerap menyambangi Seven Eleven dan Family Mart di kawasan Blok M, Jakarta. Famima chicken dan yaki satsuumage total dua puluh ribu Rupiah, atau chicken katsu dua puluh enam ribu Rupiah. Ya, saya tidak hanya makan nasi, saya juga membeli gengsi!

    Setiap kita bisa memesan itu dengan rasa bangga, lalu mengambil gambarnya untuk di-upload ke media sosial dengan perasaan angkuh tiada tara. Kemudian kita menunggu berapa like, reply atau love yang kita dapat untuk memenangkan ego kita. Tapi malam itu saya membenci semuanya.

    Malam itu saya lebih senang dengan kopi sederhana, yang jadi pengingat manis soal kemiskinan, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan dunia. 

    Kopi itu dihantar dengan senyum nenek tua, yang bagaimana pun terasa 3 derajat lebih manis ketimbang senyum pelayan Starbucks mana pun yang pernah saya temui. Ada perasaan tulus yang saya rasakan dari senyum nenek---mungkin karena si nenek merasa tertolong.

    Perasaan itu ditukar dengan perasaan lega di dada saya. Ikatan emosi yang terjalin itu membuat kopi ini jadi yang terlezat se-kawasan SCBD, mengalahkan produk kedai kopi mana pun di Pacific Place!

    Kopi rasa emosi seperti ini dijual di mana ya? Apakah ada di Chicken Story, atau di 53.000 gerai Seven Eleven di seluruh dunia? Tidak.***

  • Indonesia Delegates Sing "Laskar Pelangi"

    Indonesia Delegates Sing "Laskar Pelangi"

    Indonesia delegates sing Laskar Pelangi in recreation night, YSEALI United for Peace, in Mariapolis, Tagaytay City, the Philippines, last February.

    Photo by Focolare Movement


  • "เบา เบา" Bao Bao by Thai Delegates

    "เบา เบา" Bao Bao by Thai Delegates


    Thailand Delegates sang Bao Bao in recreation night, YSEALI United for Peace, in Mariapolis, Tagaytay City, the Philippines, last February.


    Photo by Focolare Movement



    Here are the lyrics, taken from Deungdutjai.com


    Title: เบา เบา / Bao Bao (Tenderly)
    Artist: Singular
    Album: The White Room
    Year: 2010

    ใจหนึ่งใจ จะต้องการอะไร
    Jai neung jai ja dtaung gahn arai
    One heart, what does it need?

    ให้มันมากมาย ให้มันวุ่นวาย
    Hai mun mahk mai hai mun woon wai
    We give it so much, we make it complicated

    เพียงเธอนั้น ใส่ใจกันเบาเบา
    Piang tur nun sai jai gun bao bao
    Only you paying a gentle attention to it

    พอให้สองเรา ได้ทำอะไรมากมายในตอนนี้
    Por hai saung rao dai tum arai mahk mai nai dtaun nee
    That’s enough for the two of us to be able to do so many things right now

    (*)บางเวลาไม่เป็นไร ถ้าเธออยู่ไกล
    Bahng welah mai pen rai tah tur yoo glai
    Sometimes it’s all right if you’re far away

    บางเวลาฉันเข้าใจ เธอลืมกันไป
    Bahng welah chun kao jai tur leum gun pai
    Sometimes I understand, if you’ve forgotten me

    บางเวลาไม่เป็นใจ ก็ไม่ต้องเสียดาย
    Bahng welah mai pen jai gor mai dtaung sia dai
    Sometimes it’s discouraging, but there’s no need for regrets

    ปล่อยมันไปก่อนนะ
    Ploy mun pai gaun na
    Let it go

    (**)คิดถึงฉันสักครั้ง เมื่อไม่ได้คิดถึงใคร
    Kit teung chun suk krung meua mai dai kit teung krai
    Think of me when you’re not thinking of anyone else

    ทำตัวตามสบาย แล้วเจอกันในความฝัน
    Tum dtua dtahm sabai laeo jur gun nai kwahm fun
    Do whatever you please, I’ll see you in my dreams

    มีเวลาดีๆ ก็บอกให้ฉันได้ฟัง
    Mee welah dee dee gor bauk hai chun dai fung
    Have a good time, tell me about it

    ไม่มากเกินไปกว่านั้น ค่อยๆ รักกันเบาเบา
    Mai mahk gern pai gwah nun koy koy ruk gun bao bao
    Not much more than that, we’ll gradually fall in love tenderly

    เธอกับฉัน ยังต้องเดินทางไกล
    Tur gup chun yung dtaung dern tahng glai
    You and I still have to walk a long path

    คงไม่สายไป ให้เวลากับใจได้เรียนรู้
    Kong mai sai pai hai welah gup jai dai rian roo
    It’s not too late to give our hearts some time to learn

    (*,**,*,**)

    คิดถึงฉันสักครั้ง เมื่อไม่ได้คิดถึงใคร
    Kit teung chun suk krung meua mai dai kit teung krai
    Think of me when you’re not thinking of anyone else

    ทำตัวตามสบาย แล้วเจอกันในความฝัน
    Tum dtua dtahm sabai laeo jur gun nai kwahm fun
    Do whatever you please, I’ll see you in my dreams

    มีเวลาดีๆ ก็บอกให้ฉันได้ฟัง
    Mee welah dee dee gor bauk hai chun dai fung
    Have a good time, tell me about it

    ขอเธอแค่เพียงเท่านั้น ค่อยๆ รักกันเบาเบา
    Kor tur dae piang tao nun koy koy ruk gun bao bao
    I only ask you this, we’ll gradually fall in love tenderly

    ค่อยๆ รักกันเบาเบา
    Koy koy ruk gun bao bao
    We’ll gradually fall in love tenderly
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13