Rio Tuasikal

I am a Journalist

Rio produces article, radio piece, and digital video.


After spending a year at VOA in Washington DC, he now back to Indonesia covering politics and minority groups. He also speaks to and trains youths in writing, media literacy, and multimedia production.

He received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship in Washington DC and Konrad Adenauer Stiftung Fellowship in Manila. A Chevening scholar, currently he is pursuing MA in Media and Communication at Goldsmiths, University of London.

  • London, UK / Jakarta, Indonesia.
  • riotuasikal@gmail.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Agama Sebagai Kata Kerja

    Agama Sebagai Kata Kerja

    Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal


    Juli 2013, Paus Fransiskus mengajak para pastor untuk turun ke masyarakat, tidak di gereja saja. “Dari altar ke pasar,” demikian teman saya yang Katolik merangkumnya. Paus mengajak umatnya untuk pergi ke masyarakat yang paling dipinggirkan. Kemudian memberi mereka bantuan, melepaskan mereka dari kesusahan.

    Ajakan Sri Paus membuka mata kita: selama ini agama telah kehilangan semangatnya. Agama yang harusnya mengangkat martabat manusia, kini sebatas nama dan malah berlaku sebaliknya. Ini adalah tamparan bagi agamawan yang selama ini sibuk dari mimbar ke mimbar, tapi tak pernah melakukan apa-apa bagi tetangganya. Mereka sibuk berdiskusi soal bagaimana Tuhan itu betul-betul Mahakuasa, sementara manusia-manusia ciptaan-Nya dibiarkan kelaparan di sini dan di sana.

    Padahal, sejak awal kehadirannya, agama menetapkan misi jadi terang dunia. Pemuka agama mengaku akan membebaskan menusia dari keterpurukan, kebodohan dan penindasan. Tradisi agama mengajarkan kita untuk memperjuangkan keadilan dan kehormatan manusia, sebagaimana yang dilakukan Yesus dan Muhammad. Bahwa manusia adalah sepenuh-penuhnya harus dihormati, diperlakukan sebagaimana manusia. Sejak itulah agama punya visi kemanusiaan yang universal.

    Kini, agama justru mandul soal kemanusiaan itu. Malahan, agama menjadi alasan-alasan baru untuk menurunkan derajat manusia. Lihatlah di Suriah, Myanmar, Mesir dan Indonesia, agama justru jadi alasan untuk orang melakukan kekerasan. Agama dipinjam untuk mengesahkan kebencian dan permusuhan. Akhirnya kita sibuk berkelahi dan saling menyalahkan. Kita sampai lupa masih ada orang yang tidur beralaskan kardus, di depan Alfamart yang telah tutup tiap malamnya!

    Inilah apa yang orang sekular persisnya bicarakan. Itulah kritik dan cibiran kaum sekular sebab ternyata agama gagal menjawab persoalan abad ini. Justru, martabat manusia seperti HAM, kesetaraan gender, pluralisme budaya dan ekonomi yang adil adalah pembicaraan mereka-mereka ini. Isu-isu mengentaskan kemiskinan, menghapus kelaparan dari muka bumi, menolak kekerasan dan penindasan, dan upaya perdamaian dalam komunitas global, seluruhnya fasih keluar dari lidah-lidah tanpa ayat suci.

    Kalau kata Bambang Sugiharto, agama dan ilmu pengetahuan yang sekular ibarat orang tua dan anak. Agama telah, dalam batasan tertentu, melahirkan pengetahuan. Kini, ilmu pengetahuan sudah tumbuh besar, mendewasa, kelewat mandiri dan akhirnya kebingungan dengan perilaku orangtuanya sendiri. Sebagaimana agama bingung dengan perilaku si ilmu. Maka keduanya hanya bisa diam dan saling ejek.

    Barangkali itu satu dari banyak alasan orang yang kini memilih jadi agnostik, atau ateis. Jelas mereka kecewa, sebab problema sehari-hari mereka adalah masalah yang bisa gamblang dijelaskan oleh pengetahuan. Di sisi lain, agama menjadi ponggah, kekanakan dan gelagapan dalam menjawab pertanyaan. Maka ada berapa juta orang di luar sana yang akan melupakan agama bila pemeluk agama tidak juga bercermin dan belajar?

    Jangan-jangan kita lupa, bahwa Tuhan bukanlah di mimbar semata. Jangan-jangan kita lupa, bahwa agama bukan hanya soal kitab suci, nabi-nabi, karma, ritual, tempat ibadah atau hari raya. Lebih dari itu, beragama bukan cuma soal berapa ayat suci yang Anda hapal. Beragama bukan soal berapa panjang cambang yang Anda miliki. Tapi bagaimana Anda, sebagai wakil Sang Pemilik di muka bumi, menjadi berguna bagi manusia lainnya.

    Idenya sederhana : bagaimana misalnya Anda menyisihkan sepuluh ribu rupiah, membeli nasi goreng, lalu memberikannya pada tuna wisma yang tidur di trotoar yang Anda lewati malam ini. Bagaimana dengan meminjamkan uang pada teman yang perlu, meminjamkan jaket, menawari tumpangan, atau membantu orang yang jatuh dari motor lalu membelikannya air minum? Jika Anda melakukannya, agama bisa kembali dapatkan nafasnya, dan kaum sekular akan kehabisan bahan untuk dicerca.

    Lalu kita semua, Islam, Kristen, Khonghucu, Hindu, Buddha, agama apa pun, kaum sekular atau pun agama, bisa selesai dengan ejekan dan mulai berpegangan tangan. Kita bersama-sama sibuk membantu orang yang masih kelaparan selanjutnya. Jadi, akankah Anda melakukan agama Anda, pada setiap manusia? []
  • The Annual Questions

    The Annual Questions

    By Rio Tuasikal / @riotuasikal

    A typical family talk in a collectivist society like Indonesia

    In the first day of Idul Fitri, I saw three of my friends posted similar status on Facebook. "Kapan nikah?" (When will you get married?), they wrote, then they added a silly emoticon. Showing they are annoyed with such question. This kind of status also came last year, year by year, and so many years before.

    Yes, it has been our favorite question in Indonesia for years. Since family affairs does matter for many Indonesians, the question about marriage, girlfriend, fiance, son, and the entire relatives will emerge to show our concern. Contrary to the westerners who prefer to talk about music and politics.

    Why does family matters for most Indonesians? This is what S.D. Smith in “Global Families” (Samovar, 2010) said : various researches showing that "interdependence in family is stronger in a collectivist society" compared to an individualist society. And Indonesians, according to Hofstede, is number 3 of 50 collectivist to individualist societies. The same reason for why we do mudik (gather with family while big holiday).

    Another cultural aspect that affects this tradition is our high-context communication. In this context, people are love to have small talk, a lot of them, with our fellows. The most prominent sample for this is a question "Mau kemana?" (where are you going?) you'll hear from neighbors, even strangers, in your neighborhood. And you don't have to answer it precisely where, just put on your smile and everything is gonna be okay. This question don't need a specific answer, they only mentioning your presence by asking. 

    If smile solve your problem with "Mau kemana?", it won't work the same way with "Kapan nikah?" question. While the first one is admitting you presence, the second one really need the best answer. Since our collective culture put the attention on family affairs, marriage as the start of a family is essential.

    Relationship is the main theme for almost every conversation. Since our family will keep talking, sometimes showing off, each family success in a family talk, marriage becomes directly related to the honor of the family. And ignoring this issue will bring others to a conclusion that you are not serious with your family and parents---a big deal in our society.

    So, when will you get married? Please don't reply me with the same question. Because I don't know when will I get married. I don't have a girlfriend (yet) to marry with, and I spend a Saturday night, like now, not to date with someone, but to write this. []
  • Ramadhan Paradox

    Ramadhan Paradox



    By Rio Tuasikal / @riotuasikal



    Everytime we meet Ramadhan, we already know what will be there : takjil (sweets), music and discount! Welcoming the season, people are suddenly selling takjil in pedestrian or junction, our television suddenly make up themselves with Islamic symbols, and our shops announce their promo.

    Inside our house, we make our dinner table crowded with cookies ingredients. Our cabinet becomes a  home of our new shirts, t-shirts and pants. Our agenda is also filled with breaking fast together--with family, colleagues, our old friends, a lot of it. We pretend these are urgent. Then our expense becomes bigger and bigger. 

    In the shopping center, we realize that the way they celebrate Ramadhan is similar with how they hold a cosplay competition. Bazaar, tenants, artists, party. Fashion show, discount, music and performance. This is just about choosing the theme : cosplay or Islam?

    Maybe this is how our society treating the holy month. We spend our time to do such things.  Just to make sure that we look like a Ramadhan-lover. Or we just afraid if someone ask about why we don’t do what they do. Then we are indulged with this euphoria.

    But wait, did Muhammad really tell to do all these? Nope. The spirit of Ramadhan is the opposite. I remember Muhammad said Ramadhan is to train our empathy to the homeless, to reduce our desire into material things. Not to buying new clothes. How can we spend billions of Rupiah when there are still homeless across the city?

    Now choose : we can act as people do and lose the spirit of Ramadhan. Or we can take different step, and being people’s talk. 

    So what is Ramadhan exactly? A festival with spiritual theme? Or it is spirituality being festivalized? It can be both. Because Ramadhan is almost everything. Exclude God. []


  • It’s (Religion) Show Time

    It’s (Religion) Show Time

    By Rio Tuasikal / @riotuasikal
     
    Ceria Ramadhan, one of Trans TV Ramadhan program (photo : thejakartapost.com)

    During Ramadhan, muslims are fulfilled with much amusement. Look at our television channels, they made up themselves Islamic, often misleading to Arabic. Now our primetime is crowded with hijabs, God-around conversation, Quranic verses, and even camels.

    Today, our religions are being commodificated. It means, people sell it’s values for their personal interest. For it’s economic purposes, television has taken symbols of religion, made it simplistic, and put it everywhere. Suddenly for Ramadhan, our media made a lot of programs, shows, stories decorated with Islamic symbols. Usually doesn’t.

    Since people attracted to those symbols, by using them, television teaches us how to be a religious person. To be religious, television tells us, is to use these clothes not those, to do these things not those, to act like this not that. Television called artists to sing religious songs--even those artists suddenly have Ramadhan songs. A kind of religion-tainment.

    Then we busy make ourselves like TV said. We buy clothes on midnight sale, do many things and act as we watched on TV. We listen to the newest religious songs from our smartphone. But we forget to help the homeless, to dethrone ourselves from the center of our world and put another there, and have total surrender to God--which are the essence of Islam.

    Religious symbols used very often on media. That explains why the death of a symbol, like Uje (ustadz, Islam preacher) happened couple months ago, is very popular. Ironically, now his brother, Azwan Fai, has a routine speech program on Trans TV. Guess what, Trans TV writes : Azwan Fai, Uje’s brother. So what matters exactly, the preach or the preacher? Or directly, the value or the symbol?

    So where is the spiritual meaning of all these? None. Instead of trying to be a religious person, we focus on how we can looks as a religious person. So that’s why when Ramadhan and Idul Fitri has passed each year, everything is back to normal. The show has ended so there is no reason for us to keep our good behavior. God are forgotten, again. A temporal saleh (religiosity)?

    In this holy month of Ramadhan, a bomb exploded at Ekayana buddhist temple in Jakarta. My friend told me it is related to Ahok (vice-governor of Jakarta, a chinese-decent) who stands against preman in Jakarta. Another friend said the relation is to Rohingya case in Myanmar. Same symbol different show. []
  • Looking for Lailatul Bazaar?

    Looking for Lailatul Bazaar?

    By Rio Tuasikal / @riotuasikal



    “Have you bought trousers?” my mother asked this afternoon. The same question from the last three days. My answer was same too, I won’t buy trousers this year. I even didn’t spend any cent for fashion. I only bought 2 books instead, which are more valuable for me.

    What about you? Have you, in these last Ramadhan days, bought clothes for Idul Fitri? Big discounts are happening in malls over the city. From baju koko (a chinese-influenced muslim man outfit), gamis (a long dress) to youths style. From pious, formal to even sexy. All priced with vary discount.

    Cheap price is fulfill our needs to have new clothes in Idul Fitri. Some of us, which recieve THR (religious holidays subsidy), even will use it for irreligious purposes : buying gadget, buying clothes, or traveling. In Idul Fitri, we are like a boss with financial freedom, buying merchandise, take a lunch at popular places, then regret for not saving some money. Yes, we were more egocentric.

    This overspend was happening over the month. Malls were visited by 15% - 40% more people while Ramadhan (Kompas.com July 15), and it was not surprising. It is obvious, we like to turn our fasting challenges into fancy things. Turning our starving into traveling. We sleep, go to cinema, look for takjil (meal for breaking fast), just to wait maghrib (sunset) comes.

    I was forced to make a conclusion : Ramadhan is a culinary festival, Idul Fitri is the main stage, and, oh yes, the theme is Middle East. A month of fused with amusement, didn’t know how many ngabuburit (waiting maghrib, usually by hangout or play) or breaking fast together. Almost didn’t realize hedonism which covered by religion atmosphere. At last, to the meaning of fasting, we forget it.

    So where is the sacred spirit of Ramadhan? That we are called to live unwealth, giving empathy to the homeless, and control our desire for things. But we refused them. We preferred to catch a midnight sale, pretended it is allowed—especially with religious songs as back sound. How can we keep buying new clothes when another human somewhere is still hungry?

    I’m dreaming about returning Ramadhan and Idul Fitri noiseless. Without discount, firecrackers, and television showing too much holy texts. When it is our time to train our empathy, then entering Idul Fitri without cookies and THR. It means, we live the spirit of Ramadhan, and keep our minds busy with cleaning our heart from hatred and prejudice.

    Clear emotion. Clean heart. Were them get discount too? Yet? []
  • Halo, Jurnalisme Keberagaman

    Halo, Jurnalisme Keberagaman

    Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal
    *Dimuat di Selasar Gusdurian edisi 5

    Masjid milik jemaat Ahmadiyah di Cisalada, Bogor. (foto: HRW)


    “Pemkot Bekasi menyegel masjid Al Misbah milik jemaah aliran sesat Ahmadiyah di Pondok Gede, Bekasi, Jumat (5/4).” [1]

    Itulah keterangan foto yang ditulis Republika di situs beritanya. Lengkap dengan istilah “sesat” persis sebelum “Ahmadiyah”. Disadari atau tidak, kalimat itu telah mengajak publik menolak Ahmadiyah. Di akar rumput, berita ini bakal memicu perpecahan, atau paling tidak, melanggengkan kebencian.

    Berita timpang begini cuma satu dari ribuan bibit alergi beda. Kondisi ini dimulai selepas reformasi, yang ditandai dengan banyaknya media yang berafiliasi dengan satu agama. Dalam konteks Islam, ada nama Voice of Al Islam (voa-islam.com), Hidayatullah.com, majalah Sabili dan lainnya. Rasanya tak perlu saya ceritakan bagaimana mereka menghasut permusuhan, silakan kunjungi website mereka.

    Dalam bahasa Johan Galtung, media di atas memakai teknik jurnalisme perang. Isinya hanyalah ajakan permusuhan dan perkelahian. Banyaknya audiens dan pembaca media semacam ini menjadi tantangan bagi kepelangian Indonesia. Maka, guna menyelamatkan kebhinnekaan, satu teknik peliputan baru dirumuskan: jurnalisme keberagaman.

    Memberitakan S-A-R-A

    SARA takkan lepas dari kehidupan, begitu pun peristiwanya. Tak heran bila berita menyangkut suku, agama, ras dan golongan akan selalu ada. Yang jadi soal adalah bagaimana para jurnalis menanganinya. Terlebih pada konflik dan ketegangan lintas-identitas. Salah-salah, jurnalis bisa menelurkan anti keberagaman, mengaminkan kekerasan, sekaligus menyalahkan korban.

    Menulis berita adalah soal cara. Jurnalis menulis berita berdasarkan tiga aspek: diksi, angle dan framing. Diksi adalah pilihan kata; angle adalah bagian kejadian yang diberitakan; framing adalah kerangka pikirnya. Berita Republika di atas akan bernuansa berbeda bila ketiga aspek ini diubah.

    Bila berita seorang jurnalis menyudutkan SARA, ini bisa terjadi karena keteledoran atau kesengajaan. Sisi keteledoran menjadi lazim akibat kurangnya pengetahuan jurnalis akan keberagaman. Ada pun soal kesengajaan, inilah yang dilakukan media intoleran.

    Media-media yang menyuarakan kebencian, lewat standar jurnalistik saja, masih banyak kekurangannya. Prinsip “good journalism” seperti netral dan cover both sides sengaja diabaikan. Klarifikasi tidak mereka lakukan, opini banyak diselipkan. Mereka pun berperan ganda sebagai hakim keyakinan. Jenis media demikian, dalam definisi apapun, tak bisa dibenarkan.

    Melirik Jurnalisme Keberagaman

    Bila media bisa menambah konflik, dia bisa berlaku sebaliknya. Kini, pertarungan identitas di ranah publik tengah berlangsung sengit. Dalam kondisi begini, jurnalisme dasar tidak lagi memadai. Berita-berita yang sekadar netral, faktual dan berimbang saja tidak cukup. Perlu langkah lebih dari sekadar memberitakan, jurnalisme harus pula promosikan perdamaian.

    Inilah yang membuat jurnalisme keberagaman jadi tepat waktu. Usman Kansong menulis, jurnalisme ini ditandai dengan beberapa karakteristik, yakni: berpihak pada keberagaman dan perbedaan; berpihak pada korban; berpihak pada minoritas; sensitif gender; menjunjung HAM; dan berperspektif jurnalisme damai.

    Lewat jurnalisme keberagaman, jurnalis diharapkan menghargai perbedaan suku, agama, ras, gender dan orientasi seksual. Termasuk juga menolak diskriminasi, tidak menghakimi, serta melawan radikalisme, intoleransi dan eksklusivisme. Jurnalis tidak memberi banyak ruang terhadap permusuhan, sebaliknya lebih banyak memberitakan persaudaraan dan keharmonisan.

    Seorang jurnalis diharapkan pula memakai sudut pandang korban. Seyogianya memberikan kesempatan pada korban untuk unjuk suara, jangan sekadar melayani ludah mayoritas. Seorang jurnalis keberagaman pun mengadopsi jurnalisme damai, artinya berpihak pada penyelesaian konflik. Tidak terjebak pada sensasi yang disukai masyarakat tapi sebetulnya meracuni. Akhirnya, jurnalis menulis beritanya dalam kerangka hukum dan HAM.

    Pembahasan ini terangkum dalam buku “Jurnalisme Keberagaman” yang diluncurkan oleh Sejuk (Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman) di YLBHI, Jakarta, Mei lalu. Buku ini ditulis oleh 11 orang jurnalis dan pegiat keberagaman seperti Luthfi Assyaukanie, Budhi Kurniawan, Ahmad Junaidi dan lainnya. Buku setebal 272 halaman ini berisi pandangan dan panduan dalam meliput isu keberagaman.

    Panduan Teknis : Lakukan dan Jangan

    Secara umum, jurnalisme keberagaman menolak stigma, stereotip dan prasangka. Artinya tidak menempelkan kata sifat pada identitas tertentu. Misalnya ‘Tionghoa pemabuk’, ‘gay sadis’ atau ‘muslim teroris’. Hal ini karena pemabuk, sadis, teroris atau sifat apa pun terdapat pula pada identitas lainnya.

    Istilah-istilah yang menyudutkan pun harus diganti. Istilah ‘aliran sesat’ untuk Ahmadiyah jadi ‘aliran berbeda’ atau ‘aliran minoritas’ atau ‘Ahmadiyah’ saja. Istilah ‘orientasi menyimpang’ atau ‘abnormal’ untuk LGBTIQ menjadi ‘orientasi seksual berbeda’. Di sini, jurnalis bertindak adil dan tidak menghakimi.

    Jurnalisme keberagaman pun menghindari kalimat bertendensi. Alih-alih memakai ‘menggagahi’, ’melayani nafsu’, atau ‘merenggut kesucian’, jurnalis harus menyebut kasusnya ‘pemerkosaan’ atau ‘pencabulan’ saja. Jangan juga menyebut ‘wanita pencuri’ atau ‘perempuan pembunuh’ sebab kasus itu tidak ada hubungannya dengan kelamin mereka, sebut ‘pencuri’ saja.

    Secara khusus, perempuan korban harus ditempatkan sebagai korban. Berita pemerkosaan, misalnya, harus fokus pada penegakkan hukumnya dan jangan terpeleset menyalahkan pakaian. Jangan pula menyebut ‘keluyuran malam-malam’ karena itu malah menyalahkan korban.

    Dalam tindak kekerasan, perlu diperhatikan pula istilah ‘bentrok’ dan ‘penyerangan’. Kejadian di Cikeusik, misalnya, kerap ditulis sebagai bentrok. Padahal pemeluk Ahmadiyah saat itu sedang membela diri, bukan berkelahi. Kecermatan yang sama berlaku juga pada istilah ‘penutupan’, ‘penyegelan’ dan ‘penertiban’ terhadap rumah ibadah.

    Di atas semuanya, jurnalis perlu mengawal proses hukum pelaku hingga tuntas, jangan sibuk pada kejadiannya semata. Dengan mengikuti kaidah-kaidah di atas, berita yang dihasilkan akan mendamaikan. Inilah namanya jurnalisme keberagaman.

    Akan lebih hebat lagi bila jurnalis bersedia belajar soal kebiasaan suku, agama, dan orientasi seksual lain. Selain dari buku-buku, coba juga berinteraksi dengan orang yang dimaksud. Hal ini memungkinkan jurnalis tersebut merubuhkan stigma dan akhirnya terbiasa dengan perbedaan.

    Pekerjaan Rumah Bersama

    Indonesia perlu jurnalis yang hanya sebagai pewarta saja, tidak merangkap juru sesat-menyesatkan. Pemahaman soal keberagaman pun perlu ditanamkan kepada insan media. Hal ini bisa dilakukan lewat pelatihan dari pegiat keberagaman dan organisasi wartawan. Tidak perlu harapkan hasil instan, ini adalah investasi jangka panjang.

    Di sisi lain, publik juga harus turut serta. Siapa pun berhak mengawal proses yang menantang ini. Saatnya publik vokal mengadukan berita yang bikin gerah. Laporkan media cetak pada Dewan Pers dan media elektronik pada KPI. Dengan begini, media yang mengajak berkelahi akan capek sendiri.

    Pun, media keberagaman seperti Selasar ini patut kita lestarikan. Kita kepung pula media arus utama dengan artikel dan opini menyangkut perdamaian. Dengan demikian, setelah bertebaran dan vokal, kedamaian tak lagi sekadar impian.

    Sekarang, mari bawa karpet merah untuk dibentangkan. Lalu bersama-sama kita teriakkan, “Halo, jurnalisme keberagaman”.***

    ______________



    [1] “Warga Bekasi Tuntut Pembubaran Ahmadiyah” dalam www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-barat-nasional/13/05/13/mmq5t0-warga-bekasi-tuntut-pembubaran-ahmadiyah diakses pada Minggu (26/5) pukul 17.05 WIB
     
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Search This Blog

    @riotuasikal (2019). Powered by Blogger.

    Follow by Email

    Author

    My photo
    A multimedia journalist based in Indonesia specialized in freedom, discrimination, and under-reported communities. His focus is on how identity, politics, and media intersect and influence each other.

    Selected Piece

    Puisi: 13 Tahun Agama

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13