C8 H10 N4 O2 *

* Finalis 7 besar Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory, diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com 


Dari semua unsur kimia di dunia, buatmu kafein adalah yang paling istimewa. Senyawa itu membuatmu berbunga-bunga. Mendengarnya saja, kamu bisa bahagia sampai pagi buta. Dan, ini semua karena dia.

Dia adalah satu-satunya orang yang membuatmu tertarik dengan kafein. Orang yang entah dengan sihir apa mampu membuatmu duduk terpesona. Membuatmu rela beralih dari pecinta susu cokelat menjadi pemuja kopi.

“Kafe ini sudah mau tutup, tapi masuk saja,” kata dia, ketika kamu masuk untuk berteduh dari hujan.

“Masih bisa pesan? Ada susu cokelat hangat?”

“Maaf ini kedai kopi,” tandasnya.

Lalu kamu diam karena tak tahu bagaimana. Mau pergi sudah tanggung masuk. Mau beli kopi, tapi hubunganmu dengan minuman itu tidaklah bersahabat – kalau tidak disebut bermusuhan. Kamu akhirnya bungkam dan menimbang.

Kamu memang tidak terlahir sebagai pecinta kafein – baik pada teh maupun kopi. Dan pengalaman sepanjang hidupmu dengan minuman-minuman itu membuatmu teguh pendirian. Beberapa kali kamu mencoba kopi, itu pun kopi kemasan, kamu berakhir sakit perut dan tidak bisa tidur hingga nyaris subuh. Pada kasus lainnya, ketika kamu minum di pagi hari, kamu sakit perut berkepanjangan hingga senja menjelang.

Kamu baru menimbang-nimbang mungkin seteguk kopi akan baik-baik saja...

“Kalau kamu mau minum kopi, kubuatkan yang istimewa.”

Kamu mengangguk.

Dia membereskan sedikit cangkir di sini dan di situ, lalu semenit berselang datang menghampirimu dengan secangkit kopi berwarna cokelat terang. Mirip kopi susu.

“Ini kopi sanger, khas Aceh,” jelasnya. “Tak ada di menu, khusus buatmu.”

Kamu tersenyum.

“Kopi ini memakai susu, jadi mungkin bisa jadi perkenalan bagi pecinta susu sepertimu,” katanya.

Kamu minum kopi itu. Berdoa perutmu akan baik-baik saja esok hari. Teguk kedua. Enak juga. Dia tiba-tiba duduk di depanmu dan menatapmu serius. Teguk ketiga. Kopinya manis. Dari sela-sela gelas kamu mengintipnya: mata indah yang memantulkan cahaya mirip hazelnut. Teguk keempat. Dia tersenyum. Senyum yang menenggelamkan. Kamu terlena. Entah oleh citarasa kopi atau tatapannya.

“Ini kopi, sebaiknya kamu menyesapnya perlahan,” katanya membuyarkan.

“Aku hanya butuh lebih banyak latihan,” katamu lalu tertawa nanggung.

Dia menatapmu.

“Aku akan mampir lagi.”

Cukup segelas kopi sanger untuk membuatmu penasaran lebih lanjut. Untuk membuatmu meneguhkan hati untuk datang kembali. Untuk menjelajahi kopi, sekali lagi, dua-tiga kali lagi.

Dia tidak banyak bicara seperti kemarin, namun kamu menunjukkan antusiasme yang lebih kentara. Kamu harus berbohong kepada dia. Soal rasa mulasmu. Perutmu sebenarnya tidak baik-baik saja. Lambungmu rasanya masih berunjuk rasa. Namun apakah itu yang membuatmu rela, adalah segelas kopi sanger buatannya.

Kembali di meja yang sama.

“Kopi Aceh rasanya lebih rumit dari kopi Jawa,” jelasnya.

“Oh ya? Coba ceritakan,” katamu.

Kamu mengingkari janjimu untuk menyicipi kopi sanger tiga kali saja. Gelas ke gelas, malam ke malam. Perutmu terus menyuarakan penolakan. Pola tidurmu kini terganggu dan sudah tak keruan. Namun sesuatu selalu mengundang rasa penasaran. Selalu mengundang pertanyaan. Selalu ada alasan untuk kembali datang.

“Aku resmi mencintai kopi,” katamu bangga.

“Secepat itu kamu mengkhianati susu?”

Sudah sepekan kamu jadi pendatang tetap dan mulai terbiasa dengan tingkat keasaman kopi itu. Kamu tidak terlalu suka dengan siksaan kafein. Apalagi dirimu tidak terlalu terbiasa. Kamu harus bangun tengah malam ke toilet karena sakit perut mendadak. Dan kamu harus mengantuk sepanjang hari karena gagal tidur malam sebelumnya.

Tapi duduk di kedai kopi malam-malam, mendengarkan dia bercerita dan menjelaskan, adalah sungguh pengalaman yang sepadan. Kamu pergi ke kedai itu dan menghabiskan beberapa jam sebelum pulang. Kamu masih ragu apakah sebenarnya yang membuatmu bertahan?

Ini adalah gelas kopi sanger hari ke-8.

“Kamu harus meminumnya langsung di Aceh, di kebun keluargaku,” ujarnya spontan. Tak pernah ada pembicaraan selain kopi selama ini. Apa yang dia ucapkan barusan sangatlah mengagetkan. Kamu hanya tersenyum pura-pura abai padahal hatimu sudah seperti genderang perang.

“Rumahku di Ulee Kareng,” tambahnya.

Tiba-tiba kamu diam, membiarkan hening mengambil alih percakapan.

“Kok diam?”

Kamu masih kebingungan. Kamu berpikir apakah ini efek samping dari kafein. Kamu sempat membaca bahwa kebanyakan zat ini bisa membuatmu cemas. Namun kamu merasa ini adalah sesuatu yang berbeda. Kamu sedikit kunang-kunang. Namun kamu merasa tidak akan pingsan. Malahan kamu merasa akan bertenaga semalaman.

“Solid rib henley-mu bagus,” ucapnya.

Malam itu terasa manis melebihi kopi sanger itu sendiri.



Alasan macam apalagi supaya kamu bisa datang kembali ke tempat itu hanya untuk melihatnya membuatkan resep kopi sederhana dan bercerita?

Penjelasan apa yang kamu cari ketika membiarkan hidupmu sedikit berantakan, tidur sekenanya, namun di satu sisi kamu merasa dicukupkan? Apa yang kamu cari lagi dari gelas-gelas kopi yang belasan? Lalu kamu menerka-nerka jawaban.

Ini bukanlah tentang kopi sanger malam-malam. Namun menemukan orang yang membuatmu rela duduk diam. Bukan soal ketepatan racikan, ini perihal tawa renyah yang menjangkau sudut ruangan. Bukan perkara kopi yang menawarkan kehangatan, ini tentang perasaan.

Perlu berapa gelas lagi sampai akhirnya kamu percaya pada hatimu bahwa kamu sedang jatuh cinta? Butuh berapa hari lagi agar kamu meneguhkan rasa kopi menjadi rasa hati?

Inikah kafein? Atau oksitosin?

Malam itu kamu kembali datang dengan tenaga melimpah. Inilah kali pertamanya kamu punya alasan yang lebih jujur. Kamu datang bukan untuk minuman namun untuk seseorang.

Kamu berpikir apakah ini waktu yang terlalu awal untuk bicara perasaan. Namun kamu enggan menipu dirimu sendiri. Kamu ingin terus di depannya, meneguk kopi sanger sampai subuh buta. Kamu ingin mendengarkannya, bercerita soal biji kopi Toraja hingga Brasilia. Tatapan teduhnya. Senyuman yang menenggelamkan. Tanpa dia, kamu lemah tak berdaya.

Langkah gesitmu berhenti di depan kedai. Lampunya mati. Pintu dikunci. Kamu ketuk, tidak ada jawaban. Kamu ketuk, tidak ada jawaban. Kamu panggil-panggil dan tetap tidak ada jawaban.

Kamu cemas. Kamu merasa kehilangan.

Kenapa harus tiba-tiba menghilang ketika bahkan namanya belum kamu ketahui?

Ada pahit yang keluar bukan dari kopi melainkan hati.

Kamu ketuk pintunya lagi.

Kamu ketuk-ketuk belasan kali lagi lalu memanggil-manggil dari luar tak peduli apakah ada orang memerhatikan lalu kamu ketuk lagi dengan suara dan tangan yang mulai gemetar lalu kamu ketuk lagi lalu kamu ketuk lagi lalu kamu menangis.

Kamu membuka ponselmu.

Search. CGK to BTJ. Tonight. Book.

Tanpa nama, kamu akan mencarinya.

Dia: kafeinmu.

---


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Comments

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"