Korupsi atau Ereksi? Surat Terbuka untuk Guru Besar Samsul Wahidin

Yth Bapak Samsul Wahidin, Guru Besar Pendiskreditan Perempuan,

"Dengan memilih seluruh anggota pansel perempuan, itu sudah merupakan cacat bawaan."

Tangan saya langsung gemetar ketika membaca kalimat tersebut. Pada detik itu juga saya berpikir tulisan Anda "Kontroversi Perempuan Pansel KPK" di Jawa Pos ini sangatlah berbahaya.
 
Sebetulnya saya menahan diri menulis soal Pansel KPK yang semuanya perempuan. Saya tidak mau mengapresiasi Jokowi yang memilih Destry dan tim. Tak mau sok-sokan menyebut mereka "srikandi". Sebab, jika saya melakukannya, berarti saya menilai Pansel dengan kerangka penis atau vagina. Mau kelamin apapun yang saya dukung, saya tetap seksis---dan inilah musuh yang menjebak kita.

Lalu hati saya terketuk ketika membaca racauan Anda.

Sangatlah mengecewakan membaca tulisan guru besar namun berpikiran kerdil. Sebagai akademisi senior, Anda gagal menggandeng data-data yang mendukung argumen. Misal, apakah ada penelitian yang menyebutkan perempuan tak cakap menyeleksi patriot anti-korupsi? Tunjukkan pada kami, riset hukum tata negara (atau biologi?) yang membuktikan hubungan pemberantasan korupsi dengan alat reproduksi ini. Adakah jajak pendapat atau studi kasus? Nihil.

Perempuan malah Anda anggap tidak punya kewenangan, dan memilihnya Anda tulis sebagai penyimpangan administrasi. Sejak kapan konstitusi kita hanya mengakui laki-laki?

Kenapa juga Anda memandang perempuan sebagai cacat? Ketika semua manusia dilahirkan tanpa pernah memilih jenis kelaminnya, kenapa bisa begitu angkuh dan arogan? Jika sudah menikah, apakah Anda menganggap isteri sendiri juga sebagai sesuatu yang tidak sempurna?

Alasan agama dan sosiokultural pun sangat rapuh. Sebab sudah banyak alternatif tafsir agama di mana perempuan punya hak yang sama. Pun budaya leluhur Nusantara tercatat menyejajarkan kedua kelamin, terlihat dari kesamaan bahasa bagi keduanya. Maka, ketika Anda menulis wanita jadi sumber kerusakan, sama saja berkata bahwa laki-laki lemah luar biasa tidak bisa berbuat apa-apa.

Satu-satunya argumen tanpa bias gender yang saya temukan adalah tim Pansel tidak cocok diketuai ekonom pada paragraf 14. Hey, kenapa tidak melanjutkan argumen dari sini?

Saya tegaskan, saya juga ogah bila Jokowi menghitung faktor kelamin ketika memilih anggota Pansel. Sebab, bila demikian, bagaimana pun Jokowi telah dijebak dikotomi yang sama. Dan ini tidak lebih baik dari cara berpikir tulisan Anda.

Saya tidak bilang perempuan lebih jago memberantas korupsi, begitu pun laki-laki. Juga saya tidak mau mengatakan laki-laki lebih potensial untuk melakukan rasuah. Siapa pun ya sama saja. Kita tahu Angelina Sondakh korup, Sutan Bathoegana korup, dan bukan alat kelamin mereka yang menggelapkan uang negara. Lucunya, kita juga tahu persis bukan alat kelamin Abraham Samad yang mengendus dan menangkap mereka!

Lalu kenapa kita membawa penis dan vagina ketika memikirkan bangsa? Saya jadi bertanya-tanya: ketika Anda memulai tulisannya, kira-kira ingin menulis korupsi atau sedang ereksi?

Salam dari sesama laki-laki. Bukan guru besar melainkan jurnalis KBR 68H.

- Penerbangan KMO-CGK, 26 Mei 2015

Comments

  1. Sangat disayangkan isu gender kembali menjadi alasan, terlebih keluar dari mulut sesosok guru besar. Ckckck..

    ReplyDelete
  2. Good job, Ndong. Semoga beliau keliru ketika menulis opini di Jawa Pos. Atau sedang memikirkan hal-hal terdalam perempuan ketika melihat sembilan perempuan pilihan Jokowi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"