Kenapa Kita Menerapkan "Sinetron Azab" pada Bencana Alam?

Petir sering diasosiasikan sebagai murka Tuhan atau para dewa. (Gambar: bbc.com)

Betul, kita semua setuju bahwa orang jahat harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Bahwa orang licik dan culas harus menganggung akibat dari perilakunya. Dengan demikian kita yakin keadilan telah ditegakkan dan bahwa 'kebaikan' akan selalu menang.

Umat manusia selalu punya angan-angan tentang kebenaran tertinggi itu. Di ranah duniawi yang profan, kita menciptakan sistem hukum dan peradilan pidana untuk membuat jera individu yang telah merugikan orang lain. Sementara di ranah agama yang sakral, manusia mengenal konsep surga dan neraka. Tuhan akan mengganjar perbuatan manusia berdasarkan amalannya.

Gagasan mengenai surga-neraka ini merupakan ejawantah alami dari kerinduan kita akan keadilan. Konsep dwitunggal ini menjadi kompas moral bagi sebagian orang. Surga-neraka secara bersamaan menjaga seseorang menganut nilai-nilai yang dianggap 'baik' oleh masyarakat dan juga peradaban. Hal ini belaku juga bagi sebagian manusia lain yang memilih sains dan filsafat sebagai kompas moralnya.

Dalam Islam, selain surga-neraka dikenal juga konsep azab: Allah SWT menjatuhkan hukuman langsung karena ciptaannya melakukan pelanggaran besar. Azab muncul dalam beberapa manifestasi, dan karena ia menunjukkan kekuasaan Tuhan, biasanya merupakan fenomena alam.

Sinetron "Azab" yang tayang rutin di Indosiar, misalnya, mengangkat pandangan manusia ini. Namun masalah muncul karena sinetron-sinetron ini terlalu menyederhanakan masalah. Tokoh-tokohnya dibuat hitam putih; kalau baik ya baik banget; kalau jahat ya jahat banget. Azab pun selalu digambarkan terlalu gamblang. Bencana ketika pemakaman. Azab itu hilang ketika orang-orang sudah memaafkan.



Pesan moral sinetron ini sebetulnya tidak berbahaya seandainya penonton menjadikannya pengingat bagi diri sendiri.  Masalah muncul ketika kita menerapkan logika sinetron ini ke kehidupan nyata, bukan untuk mengevaluasi diri sendiri namun justru menghakimi orang lain. Ketika tanah kuburan seseorang kebetulan tergenang air, kita langsung berkesimpulan.

"Wajar saja matinya aneh, selama hidupnya dia jarang sedekah."

Sebentar.

Dari mana kita tahu bahwa orang itu jarang sedekah? Bagaimana kita tahu Tuhan memang tengah murka? Jangan-jangan itu fenomena alam biasa? Jangan-jangan itu hanya kita yang sombong dan merasa paling tahu cara berpikir sang khalik. Kita bertindak seolah-olah jadi malaikat yang menghitung-hitung dosa orang lain. Lalu kita mencocok-cocokkan fenomena alam kepada kondisi yang dihadapi orang itu. Hanya agar kita nampak jauh lebih mulia daripada mereka.

"Wajar saja matinya aneh, selama hidupnya dia jarang sedekah," kalimat ini bisa saja keluar dari orang yang lebih suka mengeluarkan uang untuk belanja.

"Tuh kan gempa. Banyak orang suka berzina, sih" padahal bisa saja dirinya pernah meminjam uang kepada orang lain tapi tak pernah mengembalikan sehingga orang lain itu sakit dan akhirnya meninggal.

------
Baca juga: Kenapa media Indonesia suka pakai lagu sedih kalau ada berita bencana? Bagaimana di Jepang? Simak NHK dan Warta Air Mata

-----

Siapakah yang berhak menentukan seseorang berdosa atau tidak? Siapa yang menghitung dosa dan pahala, juga menetapkan imbalan terhadapnya? Itu adalah hak istimewa Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak ada satu pun manusia yang bisa menghakimi orang lain. Jadi, kita jangan angkuh dan merasa paling suci.

Dengan demikian, kita juga harus arif dan menahan diri untuk tidak menghubungkan murka Tuhan dengan fenomena seperti bencana alam. Kita tidak berhak menghakimi orang-orang. Selain itu, bagaimana kita menjelaskan catatan gempa 1973-2013 yang menunjukkan Kalimantan nyaris aman dari gempa? Apa berarti orang Kalimantan semuanya suci? 

Kita tidak perlu menjawabnya karena itu urusan Tuhan. Tugas kita sebagai manusia bukan untuk menghakimi yang lain. Kewajiban kita adalah memberikan doa dan bantuan kepada para korban bencana alam (dan juga sedikit belajar ilmu bumi). (rt)

Catatan gempa 1973-2013 dari USGS menunjukkan wilayah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi,
dan sebagian Papua mengalami gempa karena berada di lempeng benua. (Gambar: Tribun Medan.com)

*Penulis adalah jurnalis berbasis di Jakarta dan Bandung. Instagram @riotuasikal

Catatan: Sangat disayangkan, sinetron "Azab" dan semacamnya hanya menceritakan orang-orang yang melakukan petit crime atau kejahatan mungil: mencuri, licik dalam berdagang, atau berfoya-foya. Sinetron ini tidak pernah mengangkat orang-orang yang melakukan kejahatan besar yang merugikan masyarakat luas seperti korupsi. Padahal korupsi jelas merupakan pencurian dalam skala yang lebih besar dan pasti dimurka Tuhan. 

Comments

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM