Perlawanan, Perempuan Lawan Kekerasan



Ketika mengobrol dengan Aty Suandi di Bandung November lalu, saya disadarkan akan dua hal. Pertama, bagi perempuan, kegiatan memilih baju adalah pilihan penting sekaligus berbahaya. Kedua, bagi perempuan, naik angkutan umum adalah perjuangan menghindari pelecehan. Saya terkejut, ternyata dua hal biasa bagi lelaki seperti saya, bisa sepenting itu buat perempuan.

Untuk urusan baju, sebagai laki-laki, saya tinggal mencari baju yang nyaman dan mencocokkan warnanya sesekali. Sementara perempuan harus selalu mengambil langkah ekstra untuk menimbang. Apakah baju ini akan baik-baik saja? Akankah terlalu menarik perhatian? Sebab perempuan sadar, salah-salah pilih, perempuan bisa jadi korban perkosaan---lucunya, disalahkan karena pakaian yang ia gunakan.

Saat itu Aty menceritakan pengalamannya jadi korban street harassment. “Saya merasakan pantat saya dipegang-pegang, saya merasa itu sengaja,” kisahnya. Dia juga menceritakan bahwa dirinya sering dipanggil-panggil dan digoda oleh laki-laki di jalanan. “Perempuan dipanggil kiw kiw, kkrrr kkrrr, neng neng,” jelas Aty. Dia percaya 95% perempuan mengalami pelecehan serupa semasa hidupnya.

Buat Aty, pelecehan di jalanan adalah pertarungan setiap perempuan, setiap hari. Hal tersebut adalah anak tangga pertama menuju sederet bentuk kekerasan terhadap perempuan.


Perempuan dan Kekerasan Seksual

Kata perempuan dan kekerasan terpisah sekian ratus halaman di KBBI. Tapi, di dunia nyata, keduanya sangat dekat seperti dua sisi mata uang. Perempuan selalu rentan dengan kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

Komnas Perempuan mencatat ada 15 jenis kekerasan seksual yang terjadi selama 1998-2013[1]. Jenis kekerasan ini dikutip Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) dalam selebarannya, meliputi: Perkosaan; Intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan; Pelecehan seksual; Eksploitasi seksual; Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual; Prostitusi paksa; dan perbudakan seksual.

Mengenai prostitusi dan perbudakan, saya ingat yang diceritakan Lola Amanda, penyiar Sex and de Kota di Green Radio Jakarta. Dia mengenal perempuan yang dijual suaminya untuk memenuhi kebutuhan suami akan narkoba. Perempuan itu juga disiram air keras dan diancam cerai. Perempuan itu terkena HIV/AIDS dari suaminya yang tidak pernah mau mengaku. Kini perempuan itu positif HIV/AIDS, ditinggal mati suami, hidup bersama anaknya yang juga positif HIV/AIDS. Total, kami berdua menghitung perempuan itu mengalami kekerasan 8 lapis. Sekali lagi, 8 lapis!

Kembali ke bentuk kekerasan. Delapan selanjutnya adalah: Pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung; Pemaksaan kehamilan; Pemaksaan aborsi; Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi; Penyiksaan seksual; Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual; Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan (misalnya sunat perempuan); dan Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

Soal yang terakhir itu, Komnas Perempuan pada Agustus 2013 mencatat ada 334 peraturan diskriminatif, 265 di antaranya menyasar perempuan atas nama moral dan agama. Peraturan ini antara lain soal cara berpakaian, prostitusi dan pornografi, pemisahan ruang publik laki-laki dan perempuan, serta pembatasan jam keluar malam[2]. Tidak ada satu pun yang membatasi laki-laki.

Selama 40 tahun kekerasan tersebut menimpa perempuan, demikian laporan Menemukan Kembali Indonesia dari Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran yang dirilis Oktober 2014. KKPK adalah kumpulan hampir 50 lembaga yang mencatat aksi kekerasan dan pelanggaran HAM sejak Orde Baru. KKPK menulis, “Teror dilakukan menyasar bukan saja kepada hak kewarganegaraan mereka, namun juga tubuh mereka.” Membacanya, saya tidak bisa membayangkan jika jadi salah satu korban.

Berikut adalah data-data terbaru yang dihimpun Komnas Perempuan.




Setelah Kenali, Tangani!

Terlalu banyak data-data dan bukti-bukti bahwa perempuan jadi korban kekerasan seksual. Kata Aty, semua kekerasan terhadap perempuan berakar dari cara pandang yang salah. Perempuan dianggap sebagai barang dan bisa dimiliki. Perempuan dianggap lebih lemah dari laki-laki. Seringkali, perempuan juga tidak diuntungkan oleh tafsir agama yang lelaki-sentris. Ini terbentuk dan mengakar selama berabad-abad.

Untuk itu perlu penyadaran bagi laki-laki dan perempuan tentang kesetaraan dan emansipasi. Klise memang. Bahwa terlepas dari perbedaan yang ada, kedua jenis kelamin adalah setara, punya hak yang sama sebagai manusia. Tidak ada satu pun yang boleh jadi korban kekerasan dan disiksa.

Menyadarkan masyarakat memang adalah perjalanan panjang. Tapi perlawanan terhadap kekerasan itu ternyata bisa dimulai setiap hari dan oleh diri sendiri. Spesial buat laki-laki, jagalah pandangan. Bagi perempuan yang digoda atau diraba di jalanan, jangan ragu untuk bicara. Perempuan jangan menganggap diri baik-baik saja jika memang di dalam hati kesal mengalami pelecehan.

Jangan biarkan rabaan atau panggilan melecehkan berlanjut jadi perkosaan! Tepis tangan-tangan jahil berotak mesum itu. Lindungi bagian-bagian tubuhmu yang sering jadi target dengan tas atau buku. Protes laki-laki yang memanggil-manggilmu di pinggir jalan.

Lakukan itu setiap hari sampai setiap orang di sekitarmu akhirnya sadar kamu berharga. Dengan demikian kamu sudah melakukan perlawanan, jadi perempuan melawan kekerasan. Setidaknya kamu bisa memilih baju atau naik angkutan umum tanpa lagi ada rasa khawatir.***

[1]www.komnasperempuan.or.id/2014/12/15-bentuk-kekerasan-seksual-sebuah-pengenalan/
[2]www.jurnalperempuan.org/peraturan-diskrimintaif-terhadap-perempuan.html

www.ippi.or.id
www.ippi.or.id