Perlawanan, Perempuan Lawan Kekerasan



Ketika mengobrol dengan Aty Suandi di Bandung November lalu, saya disadarkan akan dua hal. Pertama, bagi perempuan, kegiatan memilih baju adalah pilihan penting sekaligus berbahaya. Kedua, bagi perempuan, naik angkutan umum adalah perjuangan menghindari pelecehan. Saya terkejut, ternyata dua hal biasa bagi lelaki seperti saya, bisa sepenting itu buat perempuan.

Untuk urusan baju, sebagai laki-laki, saya tinggal mencari baju yang nyaman dan mencocokkan warnanya sesekali. Sementara perempuan harus selalu mengambil langkah ekstra untuk menimbang. Apakah baju ini akan baik-baik saja? Akankah terlalu menarik perhatian? Sebab perempuan sadar, salah-salah pilih, perempuan bisa jadi korban perkosaan---lucunya, disalahkan karena pakaian yang ia gunakan.

Saat itu Aty menceritakan pengalamannya jadi korban street harassment. “Saya merasakan pantat saya dipegang-pegang, saya merasa itu sengaja,” kisahnya. Dia juga menceritakan bahwa dirinya sering dipanggil-panggil dan digoda oleh laki-laki di jalanan. “Perempuan dipanggil kiw kiw, kkrrr kkrrr, neng neng,” jelas Aty. Dia percaya 95% perempuan mengalami pelecehan serupa semasa hidupnya.

Buat Aty, pelecehan di jalanan adalah pertarungan setiap perempuan, setiap hari. Hal tersebut adalah anak tangga pertama menuju sederet bentuk kekerasan terhadap perempuan.


Perempuan dan Kekerasan Seksual

Kata perempuan dan kekerasan terpisah sekian ratus halaman di KBBI. Tapi, di dunia nyata, keduanya sangat dekat seperti dua sisi mata uang. Perempuan selalu rentan dengan kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

Komnas Perempuan mencatat ada 15 jenis kekerasan seksual yang terjadi selama 1998-2013[1]. Jenis kekerasan ini dikutip Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) dalam selebarannya, meliputi: Perkosaan; Intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan; Pelecehan seksual; Eksploitasi seksual; Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual; Prostitusi paksa; dan perbudakan seksual.

Mengenai prostitusi dan perbudakan, saya ingat yang diceritakan Lola Amanda, penyiar Sex and de Kota di Green Radio Jakarta. Dia mengenal perempuan yang dijual suaminya untuk memenuhi kebutuhan suami akan narkoba. Perempuan itu juga disiram air keras dan diancam cerai. Perempuan itu terkena HIV/AIDS dari suaminya yang tidak pernah mau mengaku. Kini perempuan itu positif HIV/AIDS, ditinggal mati suami, hidup bersama anaknya yang juga positif HIV/AIDS. Total, kami berdua menghitung perempuan itu mengalami kekerasan 8 lapis. Sekali lagi, 8 lapis!

Kembali ke bentuk kekerasan. Delapan selanjutnya adalah: Pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung; Pemaksaan kehamilan; Pemaksaan aborsi; Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi; Penyiksaan seksual; Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual; Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan (misalnya sunat perempuan); dan Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

Soal yang terakhir itu, Komnas Perempuan pada Agustus 2013 mencatat ada 334 peraturan diskriminatif, 265 di antaranya menyasar perempuan atas nama moral dan agama. Peraturan ini antara lain soal cara berpakaian, prostitusi dan pornografi, pemisahan ruang publik laki-laki dan perempuan, serta pembatasan jam keluar malam[2]. Tidak ada satu pun yang membatasi laki-laki.

Selama 40 tahun kekerasan tersebut menimpa perempuan, demikian laporan Menemukan Kembali Indonesia dari Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran yang dirilis Oktober 2014. KKPK adalah kumpulan hampir 50 lembaga yang mencatat aksi kekerasan dan pelanggaran HAM sejak Orde Baru. KKPK menulis, “Teror dilakukan menyasar bukan saja kepada hak kewarganegaraan mereka, namun juga tubuh mereka.” Membacanya, saya tidak bisa membayangkan jika jadi salah satu korban.

Berikut adalah data-data terbaru yang dihimpun Komnas Perempuan.




Setelah Kenali, Tangani!

Terlalu banyak data-data dan bukti-bukti bahwa perempuan jadi korban kekerasan seksual. Kata Aty, semua kekerasan terhadap perempuan berakar dari cara pandang yang salah. Perempuan dianggap sebagai barang dan bisa dimiliki. Perempuan dianggap lebih lemah dari laki-laki. Seringkali, perempuan juga tidak diuntungkan oleh tafsir agama yang lelaki-sentris. Ini terbentuk dan mengakar selama berabad-abad.

Untuk itu perlu penyadaran bagi laki-laki dan perempuan tentang kesetaraan dan emansipasi. Klise memang. Bahwa terlepas dari perbedaan yang ada, kedua jenis kelamin adalah setara, punya hak yang sama sebagai manusia. Tidak ada satu pun yang boleh jadi korban kekerasan dan disiksa.

Menyadarkan masyarakat memang adalah perjalanan panjang. Tapi perlawanan terhadap kekerasan itu ternyata bisa dimulai setiap hari dan oleh diri sendiri. Spesial buat laki-laki, jagalah pandangan. Bagi perempuan yang digoda atau diraba di jalanan, jangan ragu untuk bicara. Perempuan jangan menganggap diri baik-baik saja jika memang di dalam hati kesal mengalami pelecehan.

Jangan biarkan rabaan atau panggilan melecehkan berlanjut jadi perkosaan! Tepis tangan-tangan jahil berotak mesum itu. Lindungi bagian-bagian tubuhmu yang sering jadi target dengan tas atau buku. Protes laki-laki yang memanggil-manggilmu di pinggir jalan.

Lakukan itu setiap hari sampai setiap orang di sekitarmu akhirnya sadar kamu berharga. Dengan demikian kamu sudah melakukan perlawanan, jadi perempuan melawan kekerasan. Setidaknya kamu bisa memilih baju atau naik angkutan umum tanpa lagi ada rasa khawatir.***

[1]www.komnasperempuan.or.id/2014/12/15-bentuk-kekerasan-seksual-sebuah-pengenalan/
[2]www.jurnalperempuan.org/peraturan-diskrimintaif-terhadap-perempuan.html

www.ippi.or.id
www.ippi.or.id

Comments

  1. Perempuan perlu lebh diedukasi untuk bisa melawan kekerasan, mungkin ada baiknya aktivis datang ke sekolah2 untuk memberikan pengetahuan tentang ini. Tapui saya ngga setuju kalo ada tindak pelecehan pada perempuan yang disalahkan kaerna bajunya, Saya rasa tete orang akan menyalahkan pelakunya, tapi memang disayangkan kalau perempuan menggunakan baju yang mengundang. Paling ngga seharusnya kita bisa jaga diri salah satunya dengan cara menggunakan pakaian yang sopan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, aktivis perlu dateng ke sekolah-sekolah dan memberi pengajaran dini ke para siswa :)

      Delete
  2. artikel yg menarik, memang untuk wanita sebaiknya jika keluar rumah paling tidak berpakaian yang rapih dan tidak seksi. harus cepat tanggap saat di jalanan mengalami pelechan , menghindar atau berteriak kalau perlu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teriak, lalu beri orang itu bogem kalau perlu :)

      Delete
  3. Pernah dengar Aliansi Laki-Laki Baru? - > http://lakilakibaru.or.id/ Silakan cek situs ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sering sekali dengar. Tapi belum sempat kenalan atau bertemu dengan mereka :)

      Delete
  4. Suka banget bagian yang ini:

    "Kata perempuan dan kekerasan terpisah sekian ratus halaman di KBBI. Tapi, di dunia nyata, keduanya sangat dekat seperti dua sisi mata uang. Perempuan selalu rentan dengan kekerasan, termasuk kekerasan seksua"

    Nice post, mate.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ais, makasih loh udah baca dan berkunjung. Gila gue sampai mesti buka KBBI di rak buku kantor dulu cuma buat nulis kalimat favorit elo hahaha

      Delete
  5. Oke, saya mulai dari awal, ya, Rio.
    First of all, mohon maaf untuk semua perempuan yang mengalami pelecehan seksual fisik di angkot, karena saya belum pernah (dan semoga tidak akan pernah) merasakannya. Amen. Coba pikir satu hal. Siapa sih biasanya orang-orang yang hobi raba pantat? Berpendidikan kah? Tipe bisa dinasihati, kah? Big no. Jadi solusi sederhana, gunakan pakaian yang tidak terlalu terbuka jika memang ingin naik angkutan umum. Karena lelaki yang biasa naik angkutan umum DAN suka raba-raba, bukan jenis yang bisa tobat dengan kata-kata. Mau pake ketat? Gampang. Bawa, tapi jangan dipake dulu. Dipakenya nanti kalo udah ga di angkutan umum. Simpel, kan?
    Dan ya, saya juga pernah merasakan namanya dipanggil dan digoda. Oh, well, kalo saya sih sebodo teuing. Ngapain biarin orang-orang gak penting merusak hari saya? Toh kalo saya tanggapi dingin mereka keki sendiri.
    Tapi bukan lantas kita tidak waspada. Saya sendiri masih mahasiswa tingkat lanjut yang sering pulang kuliah naik angkot jam 11-12 malam. Solusi? Sebisa mungkin duduk depan, atau kalau depan sudah terisi, pokoknya cari posisi paling dekat pintu. Kalo angkot yang saya stop banyak lelaki, mending saya nunggu 15 menit daripada naik. Jadi, waspada juga penting.
    Mengenai paparan terkait kekerasan fisik terhahap perempuan, saya setuju. Tidak ada ampun untuk itu. Tidak ada alasan apapun yang membenarkan seorang lelaki memperkosa perempuan meskipun perempuan tersebut berpakaian minim.
    Mengenai poin yang mengkritisi “tidak ada satu pun yang membatasi laki-laki”. Boleh kah saya lihat dari sudut pandang lain? Dari segi fisik, sudah jelas bahwa perempuan jika diadu dengan lelaki akan kalah. Yah, kecuali perempuannya atlet, itu beda cerita. Kemudian, cobalah lihat ini sebagai upaya untuk melindungi perempuan, bukan membatasi. Berapa banyak kasus wanita tengah malam sembunyi di taman untuk perkosa lelaki? Come on!
    “Perempuan dinggap barang dan bisa dimiliki.” Ini adalah anggapan para lelaki tidak berpendidikan atau kolot. Jadi jelas, aspek pendidikan tidak bisa diabaikan dari sini. Menurut anda bagaimana seseorang dapat menerima teori tentang kesetaraan dan emansipasi? Dasarnya ada pada Pancasila sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil & Beradab. Mata pelajaran kita waktu SD. Tenggang rasa, budi pekerti, saling menghargai. Saya masih ingat betul pelajaran PPKn jaman dulu. Jika untuk hal ini saja mereka tidak paham, bagaimana mereka dapat menerima teori kesetaraan & emansipasi?
    Satu nasihat, jangan lakukan saran “protes laki-laki yang memanggil-manggil di jalan”. Itu berbahaya!
    Bagus, Rio, tulisannya. Tapi masa kamu belum denger pidato Emma Watson di UN? Laki-laki juga menghadapi pelecehan yang sama dengan perempuan. Tidak terbatas di kalangan atas, menengah, dan bawah. Menurut kamu acara TV “Suami-Suami Takut Istri” itu apa? Itu juga bentuk pelecehan terhadap kaum lelaki. Aku nggak banyak menyaksikan KDRT terhadap wanita di tetangga-tetangga. Yang banyak aku saksikan justru KDRT terhadap lelaki. Yang dicaci dan disindir di hadapan para tetangga dan keluarga.
    Sudah pernah nonton salah satu video percobaan tentang respon masyarakat terhadap kekerasan wanita & lelaki, belum? Dalam video itu, ada sepasang aktor lelaki dan perempuan yang berpura-pura sebagai pasangan. Mereka membuat adegan di daerah ramai, di taman kota. Adegan pertama adalah kekerasan terhadap perempuan. Aktor lelaki itu mengasari kekasihnya. Respon warga? Mereka mengintervensi dan mengancam akan menelepon polisi. Menariknya, ketika digilir, aktor perempuan melakukan kekerasan terhadap lelakinya (ditampar didorong keras hingga terbentur pagar, dan dipukul), apa respon warga? Hanya tertawa.
    Menurut kamu darimana bisa ada respon seperti ini? Menurutku prosesnya sederhana. Karena dengan adanya teori “emansipasi”, kita menikmati pertunjukan kuasa perempuan di atas lelaki. Padahal tujuan utamanya bukan ini. Tujuan utamanya justru memberikan hak pendidikan dan pekerjaan yang setara. Tapi ke sini lah ujungnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu tahu perempuan-perempuan macam apa yang berteriak soal emansipasi di Amerika sana? Perempuan-perempuan yang mengharapkan lelaki untuk menggosok lututnya, membuatkan makan, mengenakan celemek.
      Saat ini Amerika dan Eropa memiliki gaung emansipasi terbesar, tetapi juga memiliki prosentase pelecehan terhadap lelaki terbesar. Miris, bukan?
      Aku perempuan, dan aku tidak suka dengan arti emansipasi yang berkembang saat ini. Cobalah dengan pidato Emma Watson di UN. Bagus sekali isi pidatonya. Emansipasi tidak hanya untuk wanita, tetapi juga untuk pria.

      Delete
    2. Well, you should write your own article you know that :p

      Aku nggak kaget kalau kamu jenis perempuan yang nggak menggubris cowok-cowok iseng itu. Aku cuma bisa berdoa semoga sikapmu itu jadi semacam penyakit menular yang menjangkit seluruh kaum hawa. Sehingga, pada saatnya kelak, semua perempuan akan berani dan mengambil otoritas dirinya sendiri.

      Soal "Suami-Suami Takut Isteri itu, aku juga setuju. Well, itu sebetulnya sangat patriaki, dan sutradara membuat lelaki dibawah kekuasaan isteri sehingga itu jadi lucu. Anyway aku nggak terlalu selera sama humor berbau seksis.

      Dan aku juga sangat ngefans sama Emma Watson. Definisi emansipasi itu adalah lepas dari penindasan. Setelahnya muncul kesetaraan. Itulah dunia ketika perempuan dan lelaki hidup berdampingan, diperlakukan adil, tanpa ada pembedaan.

      Delete
    3. setuju tuh sama komennya mudda ifah, artikel kamu terlalu lelaki sentris. jd inti komen aku yg panjang bin lebar itu sebenernya, jgn cuma bisa salahkan lelaki.
      hahahaha.
      ada banyak aspek yg terkait dg berbagai kasus di tulisanmu ini, dan kalo kita mau merubah situasi ini, kita harus sinergi dg aspek-aspek yg terkait itu. nggak simply tuntut emansipasi tp pendidikan merata aja belum.
      sedikit nyeletuk utk mbak di bawah saya, mbak Iska, kira-kira sudah nyoba lewat downtown, nggak? karena kalo lewat, saya jamin pasti digodain. standarnya sama lah, lelakinya ga terdidik secara moral.

      Delete
    4. Oh ya? Menurutmu tulsian ini lelaki-sentris? Well, aku memang nggak punya pengalaman aktual dilecehkan sih. Memang nggak mungkin mewakili perempuan korban secarautuh.

      Semua aspek memang harus dikerjakan bersamaan. Pendidikan, kesehatan, pemerataan ekonomi, tapi ya, buatku cara paling mudah melawan kekerasandi jalanan ya melawan :p

      Kamu udah pernah nonton video eksperimen "10 Hours of Walking in NYC as a Woman"?
      http://www.youtube.com/watch?v=b1XGPvbWn0A

      Delete
  6. Untuk masalah female genital mutilation, aku baru ngeuh akan hal ini tepat tahun lalu, Rio. Syok dengan berbagai alasan-nya, lebih syok lagi ketika aku tanya Ibu dan beliau tampak cuek merespon pertanyaan-ku: "bagian mana yang di sunat, mah?", "mamah msh ingat waktu itu alat buat sunatnya spt apa? Boro-boro mau tanya apa alat sunat yang dipakainya steril atau gak. Mungkin eksekusi FGM di Indonesia gak separah di Afrika sih sampe ada yang benar-benar dihabisi klitorisnya di sana. Sedihnya lagi untuk alasan menjaga keperawanan. Itu sekilas ttg FGM.

    Ada benernya juga dgn komentar di atas bahwa emansipasi juga untuk pria. Tapi mungkin tergantung wilayahnya. Di Eropa, Amerika bisa jadi emansipasi pria yang kurang diperhatikan, di Asia emansipasi wanita-nya yang rendah. Nah, mungkin satu sama lain harus saling melengkapi dan menghargai. Untuk masalah naik angkot, atau transportasi umum, well we have to act strategically smart. Lihat dulu di mana kita berpijak. Pengalaman aku waktu di Sydney, aku bisa lebih leluasa pake dress sepaha tanpa ada rasa takut, was-was akan diganggu laki-laki dan memang gak terjadi apa-apa sama aku, beda dengan di Indonesia, rasanya aku akan mikir dulu mau pakai dress sepaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, ngomong-ngomong, kenapa ya Asia dan Eropa bisa beda begitu? Kenapa bangsa kita belum bisa melihat perempuan sebagai manusia setara sementara Eropa sudah?

      Itu juga yang aku pikirkan. Kenapa ya kalau laki-laki kena kekerasan malah diketawain? Mungkin di dalam otak masyarakat itu, laki-laki tetap di atas perempuan. Sehingga laki-laki yang kena kekerasan akan dianggap lemah dan selanjutnya jadi lucu.

      Delete
    2. karena kita terjajah 3,5 abad & mereka tidak?

      Delete
    3. Dan Eropalah yang menjajah Asia? Sedihnya

      Delete
    4. Eropa perjalanannya sudah cukup panjang. Setelah mengalami 1000 tahunan masa patriarki agama, sejak Renaisans Eropa punya budaya literasi yg bagus dan perjuangan kaum perempuan merebak sejak tahun 1900an..

      Delete
    5. Kapan ya di Indonesia terdapat ekskalasi pergerakan perempuan?:D

      Delete
    6. eits, jangan salah, budaya "ketidak adilan gender" salah satunya juga diwarisi dari budaya kolonial eropa. dulu mereka pernah mengalami "dark age" penindasan perempuan, perburuan penyihir abad ke 18 contohnya. tapi pergerakan hak perempuan di eropa dan amerika sudah muncul di awal abad ke 19, dan lihat sekarang hasilnya gimana? butuh 1 abad men!

      Delete
  7. jalanan memang ga aman, apapun pakaian yg dipake korban. setahun lalu, ada kasus perempuan berjilbab yg dilecehkan di Trans Jakarta. pelakunya ditangkap dgn bantuan penumpang2 lain. lalu digelandang ke kantor polisi.

    tapi apa lingkungan rumah juga aman? toh nyatanya kejadian kekerasan terbesar terjadi di lingkungan sekitar perempuan, dgn pelaku yg dikenal & dipercaya korban.

    gwe kadang mikir, sebenernya perempuan punya tempat dimana sih? *huffftt....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya, emang bukan salah si perempuan pakai baju jenis apapun. Itu sih otak laki-lakinya ada yang sengklek hahaha..

      Nah, iya yah, jadi perempuan di mana dong? Masak iya mau dimasukin ke dalam saku? -___-

      Delete
  8. Penafsiran yang terlalu lelaki sentris, akan lebih tepat kalau ada kesalahan berpikir/fallacia disini tentang apa yang di maksud benarnya. justru apa yang ada sebnarnya memihak pada perempuan. salah 1 tujuan pembatasan sebenarnya untuk melindungi perempuan. agamapun mengajarkan kesetaraan bagi umatnya. Nah, yang perlu di garis bawahi adalah kesetaraan itu nggak harus sama porsinya. Seperti yang kita tau agama mengatur tata kehidupan manusia, baik dari hal yang kecil sampai pada hal yang besar, tidak terkcuali laki-laki. artinya harusnya dan sebenarnya ada aturan, batasan yg proporsional atas segala tatanan terhadap laki-laki. Kitab/Quran nggak selalu menyampaikn hal itu secara tersurat, kalaupun iya nggak selalu spesifik, dari sini kita dapat merujuk kesumber hukum lain yang menjelaskan hal itu secara jelas sebagi contributing argument yang valid atas penjabaran yang ada dalam kitab. mengapa kemudian misalnya salah 1 fungsi hadis adalah sebagai bayan tafsir, untuk menafsirkan ayat Quran, mengkhususkan hukum yang masih umum, memperinci yang masih universal, membatasi kemutlakan hukum, dll. Terakhir, Agama bukan media yang melegitimasi segala aturan yang sifatnya merugikan, deskriminatif, dsb terhadap siapapun, dan itu pasti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga setuju soal agama yang bukan media melegitimasi diskriminasi, agama adalah alat pembebasan bukan? Kini pertanyaannya gimana caranya agar penafsiran yang lelaki-sentris itu bisa lebih mendorong kesetaraan ya? Menurutmu?

      Delete
    2. coba dikaji ulang, sebenarnya ini melindungi atau membatasi ruang gerak perempuan? saya sih masih sepakat bahwa tafsir kitab suci itu memang lelaki sentris. hahahaha

      Delete
  9. Menarik, Ndong. Isu perempuan dan kekerasan serta usahanya untuk bebas dari itu (baca: emansipasi) sudah lama gak aku dalami. Tapi, sekarang lebih merasakan dan seru ketika harus bergulat dengan budaya kita yang meninggikan derajat kaum lelaki.

    Soal perempuan dan kekerasan kita gak bisa menyalahkan salah satu untuk semua kasus, meski harus digeneralisasi sekalipun. Tiap kejadian dan peristiwa punya keistimewaan pelaku yang terlibat dan alasannya. Maka, hukum yang ditegakkan pun harus disesuaikan.

    Berbicara soal emansipasi, sesungguhnya itu naluri kita sebagai manusia untuk bebas dari kebodohan dan masa yang terpuruk. Horkheimer (dalam Shindunata, 1983:93) menyebutkan bahwa kini manusia kehilangan sikap rasionalnya. Ini dikarenakan manusia sebagai individu tidak lagi menanyakan tuntutan-tuntutan yang dikeluarkan dan dipasang oleh masyarakat, apakah masih bisa disebut rasional atau tidak. Selama ini manusia menganggap semua tuntutan dari masyarakat tersebut dikeluarkan dan dipasang lalu berlaku untuk seterusnya. Sebagai individu, hanya bisa meniru dan menyesuaikan diri begitu saja, Sementara, mungkin secara sadar manusia berpikiran dan merasakan bahwa itu tidak manusiawi lagi.

    Belajar emansipasi wanita, bukan lagi soal menyetarakan status dan derajat akademik kita dengan lelaki, Ndong. Lebih dari itu, lihat saja sekarang, apakah ada perempuan yang menggaungkan emansipasi tapi nyatanya masih bergantung pada lelaki? Berjuang ingin sekolah tingging dan berkarir, tapi ketika pasangan lelakinya mengurus anak-anak di rumah, dia bisa mengabaikan ocehan keluarga dan tetangganya? Rasanya belum semua perempuan yang menggaungkan emansipasi bisa begitu. Benarkah kesetaraan yang diperjuangkan atau sekedar keinginan kaumnya saja untuk menjajah balik lelaki? Hahaha

    Ah, ke Dulibon lagi, yuk, Ndong! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seringkali perempuan yang berisik emansipasi justru tidak punya semangat tersebut. Misal, tidak mau melakukan pekerjaan yang disematkan maskulin: angkat kursi atau sejenisnya. Buatku, jelas, perilaku dia sudah melanggar apa yang Kartini perjuangkan.

      Contoh hidup dari emansipasi perempuan itu aku lihat di dirimu sendiri teh: mandiri, punya otoritas atas dirinya, dan kadang galak hahaha

      Ayo kita diskusi di Dulibon hingga petang menjelang! Hihi

      Delete
  10. Jadi keinget tadi subuh habis iseng nulis di blog:
    Be A PIONEER Instead of A PRISONER..

    http://t.co/6h1s5MQUph

    Salut sama tulisanmu, Yo.

    Aku pribadi yg sudah jaga diri baik2, patuh agama, dan baju sopan aja kena cobaan yg kasus di lingkungan sekitar rumah sendiri oleh org yg dikenal dan dipercaya. Tapi aku simpen sendiri dan ga pernah aku ceritain ke keluargaku terutama ortu. Segan dan malu sendiri rasanya.
    Setelah aku dewasa dan ga bisa terus lari dari trauma masa lalu dan kemungkina cobaan di masa depan, aku sepakat dg yg Rio tulis agar perempuan bertindak.
    Namun kerap kali jika cara atau komunikasi yg diupayakan pesannya tdk tersampaikan dg baik. Perempuan malah semakin dibully. Misal neriakin laki2 di jln yg iseng suit2 dsb. Malah makin dibully. Hiks.

    Jadi seperti kata Sławomir Rawicz di satu2nya bukinya "A Long Walk" yg difilmin ada Jim Sturgess-nya "The Way Back," mungkin kamu udah nonton.
    Sering kali ga ada pilihan lain atau jln keluar utk membebaskan diri menjadi a free human. Jln satu2nya adalah having free mind.
    Jd ga kebawa trauma terus dan stress.
    Alihkan stress, trauma dan ketakutan.
    Contoh gampang yg sering aku lakukan kalau jln kaki terutama di daerah yg banyak laki2 iseng adalah pakai headset dan pastikan volume musik mampu menutupi suara mereka.
    Bahkan aku juga pakai masker dan jalan lihat lurus saja. Pakai masker bukan maksud kayak org pakai cadar. Tapi ya kata WHO hitung2 cara termudah mencegah tertular virus dan bakteri selain cuci tangan. Pake masker jadi kayak sambil menyelam minum air. Kalau mau marah atau nangis di dlm masker juga jadi ga ketahuan.


    Makasih banyak sambil numpang sharing, Yo.
    Wish you win, my Bro!
    ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak bisa berkomentar banyak selain bersimpati. Aku nggak nyangka kamu pun pernah jadi korban :(

      Delete
  11. Miris sekali mengetahui berbagai perlakuan buruk yang dialami oleh perempuan...

    Sedikit sumbangsih pemikiran....

    Sekarang lagi marak fenomena Hijabers di Indonesia. Kenapa fenomena Hijab ini tidak dimanfaatkan untuk menyampaikan nilai-nilai emansipasi dan kesetaraan gender di antara perempuan..?
    Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat kita lebih mudah memahami sebuah ide jika ide itu dibalut dalam nuansa religius (contohnya ide FPI (ide desktruktif) atau ide Gusdur (ide konstruktif)).
    Begitu juga dengan ide seperti emansipasi dan kesetaraan gender akan lebih mudah dipahami dan diterima jika disampaikan via medium religius-kultural..

    Jika di luar negeri (terutama di antara masyarakat Eropa dan Amerika) memandang hijab secara negatif sebagai simbol hegemoni pria atas hidup perempuan, mengapa kita di sini tidak membalik pandangan tersebut?
    Kita bisa melakukan ithjihad dan re-interpretasi teologis atas hijab dan memandangnya sebagai simbol independensi intelektual perempuan (perempuan berhijab yang juga berwawasan luas dan mandiri) serta sebagai simbol kontrol perempuan atas tubuhnya sendiri (perempuan yang berhijab karena kemauan dan kesadaran sendiri yang juga mau menegaskan (menyampaikan pesan kepada pria) melalui hijabnya bahwa perempuan berhijab memiliki sendiri kehormatan dan martabatnya yang wajib disadari oleh pria). Tetapi jangan juga kita sampai terjebak untuk menganggap perempuan yang tidak berhijab lantas tidak independen dan tidak terhormat dan tidak bermartabat.

    Memang kendalanya adalah, masyarakat Indonesia masih suka terjebak mengagungkan simbol-simbol daripada menjunjung hakikat sesuatu. Jebakan Betmen seperti inilah yang bisa menjadi salah kaprah dan membuyarkan usaha kita untuk menyampaikan "hakikat emansipasi dan kesetaraan gender" melalui simbol Hijab. Hal ini juga pernah terjadi dalam fenomena Jilboobs atau hipokrisi / pencitraan dengan bersembunyi dibalik hijab.

    Thanks buat artikelnya bro.. sangat mencerahkan dan menginspirasi... :) Good Luckkk....!!! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu ide bagus! Benar-benar bagus!

      Kenapa nggak terpikirkan sebelumnya ya? Aku percaya beberapa perempuan yang memutuskan pakai hijab itu atas pilihannya sendiri---dan itu super duper keren.

      Tapi kok aku curiga jenis ini nggak banyak ya? Sisanya, aku kira, adalah mereka yang ikut mode belaka, biar menyenangkan lelaki, dan nggak ada sangkut pautnya sama sekali dengan isu kesetaraan.

      Isu kesetaraan ini mungkin bisa dimulai di komunitas hijabers. Salah satu yang bisa jadi titik start adalah memprofil perempuan-perempuan yang punya karya: Dian Pelangi, Ollie. Mereka keren, berprestasi, dan berjilbab!

      Gimana menurutmu bro?

      Delete
  12. Perkara gender memang tidak ada habis-habisnya. Jika membicarakan tentang "pelecehan/kekerasan" cenderung kita menyimpulkan bahwa si korban adalah wanita, dan pelakunya adalah lawan jenisnya. Padahal bisa jadi baik korban maupun pelakunya sama-sama sesama jenis.
    Kita mengistilahkan 'pelecehan' pun bergantung cara pandang tiap individu jg sih. Ada juga wanita yg sengaja berpakaian terbuka untuk tujuan melihat 'harga'nya sdri melalui reaksi orang lain. Yg pasti yg harus dibenahi adalah cara berpikir masing2 individu aja, baik wanita maupun laki-laki, sehingga tidak menuai aksi/reaksi yg tidak diinginkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, kekerasan itu tidak harus laki-laki ke perempuan. Bisa ke sesama jenis, bisa juga perempuan ke laki-laki. Ngomong-ngomong aku nggak suka kalau ada cewek yang pegang dada aku, dan itu aku sadari setelah menulis ini.

      Perempuan yang berpakaian terbuka untuk menunjukkan harga dirinya sebetulnya sah saja. Mau tertutup pun sah saja. Buatku, yang penting dia memilih baju atas kehendaknya sendiri, bukan karena memikirkan orang lain.

      Kita harus bertemu untuk mendiskusikan ini panjang lebar, Yula :D

      Delete
  13. Hal yang juga penting diketahui bahwa pelaku pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan ini bisa dijerat oleh hukum. Perempuan sebagai korban biasanya memiliki beberapa hambatan untuk menuntuk pelaku. Ntah itu ketakutan, ketidaktahuan, merasa sendirian melawan, dll.

    Akan lebih baik juga jika pada artikel dicantumkan pasal apa saja dalam KUHP dan UU yang menjadi legitimasi hukum dalam menjerat pelaku. Dan bagaimana flow pelaporannya, jika korban ingin membawa ke ranah hukum. Jadi disamping menyebarkan awareness, kita juga membangun encouragement dan dipayungi hukum.

    Semoga dengan semakin banyak, mudah dan utuh informasi tentang hal ini maka kekerasan terhadap perempuan (dan anak) akan bisa diberantas dengan optimal.

    --

    Berikut beberapa pasal yang bisa dipakai untuk menjerat pelaku:

    Pasal 63 KUHP
    (1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dan satu aturan pidana, maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu; jika berbeda-beda, yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.
    (2) Jika suatu perbuatan masuk dalam suatu aturan pidana yang umum, diatur pula dalam aturan pidana yang khusus, maka hanya yang khusus itulah yang diterapkan.

    Pasal 281 KUHP
    Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:
    1. barang siapa dengan sengaja dan terbuka melanggar kesusilaan;
    2. barang siapa dengan sengaja dan di depan orang lain yang ada di situ bertentangan dengan kehendaknya, melanggar kesusilaan.

    Pasal 315 KUHP
    Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis yang dilakukan terhadap seseorang, baik di muka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, diancam karena penghinaan ringan dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

    http://www.depkop.go.id/attachments/article/1465/03. UU-23th2004-penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.pdf

    ReplyDelete
  14. 1. Perlu dipahami bahwa kekerasan terhadap perempuan berawal dari budaya patriarki yang sudah ada sejak jaman nabi ibrahim dan mengakar dalam peradaban manusia hingga sekarang. Dalam budaya patriarki perempuan dianggap sebagai separuh setan yang membuat nafsu birahi laki laki meletup letup sehingga harus ditutup tutupi, dan separuh barang dagangan yang bisa diperjual belikan. Jaman dulu perempuan dijadikan budak yang nilainya sama seperti hewan ternak, jaman sekarang lebih dipercantik dan diberi nama lembaga pernikahan. Hal tersebut menyebabkan perempuan tidak memiliki hak atas tubuhnya.

    2. Budaya patriarki tersebut memunculkan ketidakadilan gender yang berdampak pada perempuan. Berikut contoh 4 bentuk ketidak adilan gender: (1) Marginalisasi (Peminggiran) Terjadinya apabila perempuan tidak punya akses terhadap dan kontrol di dalam mendapatkan atau memutuskan sesuatu. (2) Sub Ordinasi (Penomor duaan) Persepsi masyarakat terhadap posisi laki –laki lebih tinggi atau diatas dan perempuan di bawah, ini berengaruh dalam semua bidang kehidupan. Persepsi adat bahwa sejak lahir laki – laki dianggap raja dan harus di hormati, oleh sebab itu lekaki mempunyai hak dan kuasa yang lebih tinggi dari perempuan itu sebabnya wajar bila untuk mencapai kehendaknya, laki – laki melakukan kekerasan terhadap perempuan. (3) Stereotype (Pandangan / Citra Baku)Adanya pandanga yang sangat kuat terhadap citra diri perempuan bahwa perempuan itu lmah psikis, lemah, penurut .(4) Beban Ganda, Perempuan harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, pendidikan anak, mencari nafkah untuk anak.

    3. pendidikan tentang otoritas tubuh penting untuk diberikan kepada perempuan. Perempuan harusnya punya otoritas atas tubuhnya sendiri. Perempuan berhak memilih pilihan nya sendiri, berhijab atau memakai rok min, sampai berhak untuk mendapat perlindungan hukum ketika mendapat kasus kekerasan. Pendidikan otoritas tubuh perempuan juga penting dierikan kepada masyarakat, karena selama ini ketika ada kasus pelecehan seksual atau perkosaan yang disalahkan perempuan nya. “salah nya sendiri pake rok mini, bikin terangsang” itu komentar yang biasanya terlontar. Padahal mau pakai baju apapun, itu otonomi tubuh individu, yang harus diperbaiki itu isi otak yang kotor.

    4. lelaki seharusnya tidak hanya cukup diberi peringatan untuk menjaga mata, tapi juga dibekali pendidikan anti kekerasan. Lelaki idaman adalah lelaki yang menghormati perempuan, karena ketika mereka melecehkan perempuan, mereka juga melecehkan ibu yang melahirkan mereka.


    Rio, ini awal yang brilian untuk mengupas isu kekerasan terhadap perempuan, perdalam prespektif mu dengan membaca beragam literasi tentang feminisme yaaa...

    congrats

    ReplyDelete
  15. Mungkin kebanyakan masyarakat kita terlalu fokus untuk mendidik wanita agar tidak dilecehkan, sehingga kadang lupa untuk mendidik laki-laki agar tidak dilecehkan.
    Awalnya ya itu didikan moral untuk keduanya.

    tentang disuit-suitin itu sampai sekarang aku pun bingung bagaimana cara menghadapinya? paling aman ya jgn digubris, pasang muka sejutek mungkin, atau beri tatapan setajam silet yg pengen ngiris2 si pelaku (ini serius). atau kalau lagi ramai orang, terlebih ketika PMS datang, bisa banget aku marahin tu orang di depan umum.
    Dan ini tidak hanya terjadi padaku, temenku yg jilbabnya gede pun masih aja disuitin! Gila! Gak ngerti sih isi otaknya apaan.. -_-

    Tambahan, mengenai pernikahan, ternyata pernikahan tidak seburuk itu. Ini bukan tentang lembaganya, tapi ttg orang-orang yang menjalaninya. Ketika orang-orang menjalani pernikahan belum dewasa, dan tujuannya hanya untuk status, ya kacau. Misal, seandainya laki-laki menikah hanya untuk dilayani, ketika istri pelayanannya tidak memuaskan, KDRT bisa terjadi. Atau ketika istri hanya mengharapkan passive income dari suami, ketika suami ngasihnya kurang, pelecehan terhadap suami bisa terjadi.
    Bagiku, menikah itu hanya diperuntukkan bagi mereka yg telah dewasa. Yg tau konsekuensi dan tujuan dari pernikahan itu apa. Justru pernikahan ini sebagai media untuk mewujudkan tujuan bersama. dalam keseharian, pernikahan juga sbg media untuk saling menghormati, saling menghargai, saling melayani. Maka pernikahan adalah media yg seharusnya bebas dari kekerasan.
    Ketika itu sudah terjadi, hal ini bisa ditularkan ke lingkungan sosial.
    Namun tentu saja gesekan antara laki2 dan wanita yg intens dlm suatu pernikahan bisa menimbulkan berbagai masalah, termasuk kekerasan. Di sini lah kedewasaan itu berperan.

    Maaf yo baru bisa komen sekarang.hehe

    ReplyDelete
  16. Seorang perempuan memang harus begitu. Semua itu demi kebaikan mereka. Sangat berbeda sekali dengan lelaki yang bebas memilih tanpa menimbang terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  17. Dear rio.. suka sekali dengan tulisannya. O ya akhir-akhir ini aku sering ngobrol dengan orang dekat rumah yang mengalami kdrt. Selain itu dia rela dia poligami dan tidak dinafkahi. Suaminya seolah-olah punya otoritas penuh terhadap iatrinua. Istri dilarang berpendapat dia hanya cukup manut saja pada perkataan suami. Jika berpwndapat maka tangan yang akan menjawabnya. Mendengar cerita itu sangat miris ingin rasanya melaporkan suami ke poliai agar tidak semena-mena. Tapi si istri seperti terlihat baik-baik saja, tidak ada masalah kejadian ini berlanjut hingga 20 tahun, cukup lama bukan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya istri rela menjadi tkw di negeri orang.
    Menurutku itu karena faktor pendidikan, ketika kita yg berpendidikan kita sadar itu ketidak adilan kita harus bertindak, tapi ya bagi sebagian masyatajat masih berpikir itu
    nasib yang dia peroleh dab akhirnya berserah diri tanpa ada perlawanan sedikitpun.
    Untuk menghindari kejahatan dijalan sebagai perempuan kita harus berusaha melindungi diri sendiri, cintoh kecilnya seperti membawa semprotan minyak wangi didalam tas, menghindari angkutan umum yabg sepi penumpang dimalam hari ya setidaknya ada satu atau dua penimpang perempuan. Kalo kita berbicara gender itu tidak akan ada habisnya sampai kapanpun sebab laki-laki dan perempuan itu memang berbeda. Tapi setidaknya paling penting perempuan merasa aman dia bisa melakukan aktivitas tanpa ada dinding penghalangnya.

    Sukses ya rio

    ReplyDelete
  18. ini komen ke empat, hiks ampe frustasi deh gagal mulu...udah panjang2...
    Intinya Yo, ini soal bagaimana mencegah kekerasan pada perempuan kan ya...menurut aku, kekerasan yang dialami perempuan itu dialami seorang perempuan dari usia yang sangat kecil. Dikomentarin secara fisik, itu dialami perempuan dari kecil... Jadi perempuan tu udah biasaaaa banget dinilai secara fisik, saya curiga sejak lahir. Kalau kita mengalami sesuatu dari kecil, otomatis kita tumbuh dengan pikiran bahwa itu adalah hal yang normal. Ini sebetulnya akibat kejahatan sosial pada perempuan yang paling besar, ketika masyarakat saking terbiasanya, mengganggap sesuatu yang salah menjadi benar. Ga sadar bahwa itu salah...serem kan sebenernya.
    Jadi kalau ditanya gemana ngatasinnya, yang pertama banget menurutku si pendidikan di rumah. Karena dari sinilah nilai2 seseorang terbentuk, sebelum ketemu sama orang lain. Sebagai ibu, aku ajarkan pada anak2 untuk menghormati menghargai orang lain, dan menghargai diri mereka sendiri. Jadi kalau mereka dapat perlakuan yang tidak menyenangkan harus menolak. Ini penting karena kekerasan anak2, bukan hanya pada perempuan tapi juga pada laki2 kan ya...
    Balik lagi kepada kekerasan pada perempuan, pers memegang peranan penting banget. Marginalisasi perempuan itu di Indonesia, bisa dilihat dari judul kekerasan pd perempuan, yang cenderung menyalahkan perempuan. Pasti inget lah analisis semiotikanya, it's too obvious to ignore. Nih ya, GKI Yasmin masih banyak yang ngangkat, ada yang tau kelanjutan berita perkosaan mahasiswi UI oleh dosennya yang seniman ngetop itu? Dia dibela istri ama anaknya kan, kalo mereka yang kena pelecehan itu, gemana rasanya. Empati pada perempuan yang kena kekerasan itu masih jauh lagi...
    Standard ganda juga, kan tadi dibilang pakaian itu hak perempuan, nah sama dengan hijab. Itu hak perempuan pake, mau niatnya apa, lah emang bisa kita buktikan. Sama donk dengan cewek baju minim, siapa yang tau niatnya...
    So, sekali lagi, atasi dengan pendidikan dari rumah...sering2 bahas ini ya Yo, biar pada sadar, hehe...

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran