Tinggal di Amerika dan Hambatan Budaya


Figure 1: Gedung kongres Amerika Serikat, The Capitol. (Rio Tuasikal)

Saya adalah penggemar berat mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya (Thanks to bu Iin dosen favorit saya ketika kuliah). Namun, segala pengetahuan itu sepertinya tidak berarti apa-apa ketika saya tinggal di Amerika Serikat. Selalu ada canggung, selalu ada malu, selalu ada salah.

Saya sudah dua pekan tinggal di College Park, Maryland, sebagai bagian dari program PPIA-VOA Fellowship di Washington D.C. Saya bekerja di VOA Indonesian Service di mana seluruhnya adalah orang Indonesia, dan tinggal di rumah seorang diaspora Indonesia bersama setidaknya 5 orang Indonesia lain.  

But most of the time I do everything alone: commute, groceries shopping, you name it. So I need to face cultural barrier like every single hour. Contoh paling sederhana adalah sapaan "hi, how you're doing?" yang saya masih menerka-nerka kapan waktu yang cocok menggunakannya kapan tidak, kepada siapa, pada situasi seperti apa.

Hal yang paling jadi tantangan buat saya adalah aksen. Saya bisa nyaman dengan aksen Amerika pantai timur yang biasa saya tangkap dalam film atau program berita televisi. Ini pun saya belum bisa menangkap seluruh kalimatnya dengan sempurna. Apalagi kalau sudah aksen lain, Southern, Latino, atau South Asian, ya wassalam!

Dari sejumlah komunikasi yang terjadi antara saya dengan orang-orang tersebut, saya merasa selalu kesulitan. Seringkali saya mengatakan "I'm sorry," berharap mereka bicara pelan-pelan tapi mereka malah membuat kalimatnya lebih detail dan panjang. Saya kemudian melirik sertifikat IELTS saya sambil nangis.

Kemudian, saya juga harus memikirkan respon yang cocok ketika basa-basi. Kadang ada penjual makanan atau kasir mengajak saya ngobrol. Nah, saya harus mencari yang tepat, apakah "awesome", "cool", "sure thing", "really", "whoa", atau kombinasi semuanya. Selain itu, ada juga soal respon ketika berkenalan, mendengar terimakasih, atau diucapkan selamat datang. Biasanya saya tertawa lembut atau senyum saja. Berdoa semoga konteksnya tepat dan paling saya dianggap pendiam.

Saya ingat pernah dimarahi oleh penjual sandwich di New York saat berkunjung dua tahun lalu. Saat itu kasirnya salah scan sandwich orang. Saya menjelaskan itu bukan milik saya. Eh mas-nya ngomel-ngomel pake aksen latin. Mau menjelaskan situasinya tapi bahasa Inggris saya kok mampet. Cuma keluar "sorry."

Kadang saya berpikir, enak banget ya jadi warga Amerika Serikat yang memang lahir berbahasa Inggris. Sementara bagi saya, dan banyak orang lain di seluruh dunia, yang bahasa Inggris adalah bahasa kedua atau ketiga, perlu usaha ekstra agar komunikasi ini tetap lancar dan efektif.

Saya rasa, banyak di antara orang yang saya temui menganggap saya sudah fasih sempurna sehingga mereka merasa tidak perlu menggunakan kalimat sederhana. Saya sendiri berpendapat komunikasi lintas budaya akan terjadi bila kedua belah pihak bertemu dalam level bahasa yang sama. Dan ketika pihak satu tidak fasih, tidaklah berlebihan jika pihak dua menurunkan kompleksitas leksikal-nya.

Anyway, ini baru dua pekan di Amerika Serikat dan sejauh ini belum ada masalah komunikasi yang berarti. Yang paling parah cuma terpaksa beli sup di Latino Market karena mbaknya cuma ngomong bahasa Spanyol dan dia salah mengerti tentang pesanan saya. Eh dan saya juga sempat diajak ngobrol sama bapak-bapak pake bahasa Spanyol. (Kata teman saya, saya yang Ambon-Sunda ini mirip orang Meksiko.) #LOH

No problemo, amigo. Embrace everything!

Figure 2: Kosan saya di Greenbelt, College Park, Maryland. (Rio Tuasikal)

Figure 3: Ruang rekreasi dekat kosan. (Rio Tuasikal)

Comments

  1. Rio, banyak cerita dan pengalaman pastinya ya. Tapi, aku percaya kok, nanti sejalannya waktu, akan lebih terbiasa. Based on my own experience, dulu zaman kuliah dan kerja yang mempertemukan aku sama dosen atau temen kerja yang beda-beda warga negara (mostly English speaking countries) dan aksennya yang beda-beda, kalau jarang denger aksennya atau pernah tapi udah lama nggak bersentuhan sama aksen itu, pasti kuping nih butuh pembiasaan lagi. Tapi, sejalannya waktu, nanti jadi biasa sendiri. Semangat, Rio! Seru banget baca2 postingan kamu di sana. Take care yaa :)

    ReplyDelete
  2. Ciyeee ciyee yg di Amrik ������.

    Kosannya terlihat enak ya, dan enak ya bs tinggal brg org Indonesia lainnya saat awal di sana, jd ga terlalu kaget *sotoy*

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"