Beda Kendaraan Beda Obroan




Saat bepergian, kita menggunakan berbagai moda guna sampai ke tujuan. Naik kereta, lalu bus, disambung naik becak. Akibat budaya Indonesia yang gemar basa-basi ramah, tiap moda menawarkan percakapan. Sadar atau tidak, tiap moda itu punya cerita dan gayanya masing-masing.

Bila Anda memilih kereta, pesawat atau perahu, Anda akan menyapa penumpang sebelah. Biasanya kalian saling tanya asal dan tujuan. Bila perjalanan lebih dari empat jam, bisa jadi ia bertanya lebih jauh soal akan apa di tujuan dan berapa lama di sana. Bisa pula ia tawarkan makanan sambil berbagi humor. Kadang ada penumpang yang mengajak ngobrol kru. Bila bertemu orang dari daerah sama, atau pernah Anda tinggali, Anda akan membangun obrolan syarat nostalgia.

Hal yang sama terjadi di bus antarkota. Bedanya, di sini kondektur atau pengamen pun bisa ikut serta merumpi. Kalian bisa bertukar pengalaman. Bila itu bis dalam kota, hal-hal barusan lebih kecil mungkin terjadi. Di situ tak banyak basa-basi.

Turun dari kereta atau bus, angkot bisa jadi pilihan. Di dalamnya, kita bisa menemukan interaksi antara ibu dari pasar dan seorang ibu muda. Karena lingkupnya lebih sempit, bisa jadi pertanyaan adalah soal alamat. Kadang penumpang bertanya soal jalur pada supir, ada juga yang menitipkan tujuannya. Bisa pula kita dapati supir yang mengobrol dengan temannya di bangku depan. Bila penumpang hanya Anda sendiri, bisa jadi kalian terlibat obrolan yang lebih pribadi seperti soal kesulitan hidupnya.

Di taksi, becak atau ojek, obrolan jauh lebih intim. Terlebih di ojek yang penumpangnya hanya Anda. Awalnya supir bertanya soal asal dan tujuan Anda. Selanjutnya ia penasaran dengan pekerjaan Anda. Bila waktu masih cukup, bisa jadi ia curhat soal politik, kesulitan ekonominya atau prestasi anaknya. Anda pun bisa ngobrol dengannya soal tempat wisata, biasanya mereka paham kondisi sehari-harinya. Namun di becak dan ojek, karena bisingnya lalu lintas, bisa jadi kalian saling berteriak tanpa sadar.

Berbeda dengan itu semua, mobil atau motor pribadi menawarkan keintiman tiada batas. Hal yang diobrolkan di sini biasanya adalah humor dan saling ejek antara sahabat. Bisa juga Anda terlibat diskusi soal akan berhenti makan di mana. Hal ini memungkinkan karena penumpangnya hampir pasti sudah Anda kenal.

Di balik kenyamanan kendaraan pribadi, kendaraan umum memberikan Anda banyak tantangan. Kendaraan umum menguji kepribadian Anda. Baik itu bus atau kereta, Anda ditantang untuk membongkar belenggu stigma. Anda ditantang untuk berani bicara dengan orang asing. Bahkan kepada mereka, yang biasanya hingga berpisah pun, tidak Anda ketahui namanya.[]

Comments

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"