Kenapa Nama Saya "Rio"? (Versi Bahasa Indonesia)

Click here for English version.


Untuk yang penasaran dengan nama depan saya.

Tinggal selama beberapa bulan di Amerika Serikat membuat saya menyadari bagian dari diri saya yang menarik bagi banyak orang: nama saya, Rio. Ini bahasa Portugal yang artinya "sungai" tapi saya tidak punya darah Iberia (setidaknya sepengetahuan saya karena saya belum mengambil tes DNA leluhur). Saya akan membahasnya di bagian akhir. Tapi sekarang saya akan menceritakan 3 skenario utama bagaimana orang-orang menanggapi nama saya.

Paling sering, orang menganggap "Rio" terlalu mudah dan mustahil. Bagaimana mungkin orang Asia seperti saya punya nama yang sederhana? Kerap kali, di Starbucks, pramusaji memastikan ulang nama saya kalau-kalau dia salah dengar. "Rio seperti R-I-O?" tanya mereka beberapa kali. "Ya, Rio yang itu," kata saya.

Tapi tidak selalu seperti itu kejadiannya. Kadang-kadang ada orang yang ingin memastikan apakah Rio betulan nama saya atau nama panggilan saja. "Oh, bukan. Itu nama resmi dan ada di semua dokumen resmi," ujar saya tegas. Kemudian saya baru menyadari bahwa sebagian di antara mereka sebelumnya tidak tahu bahwa orang Indonesia menggunakan alfabet Latin yang sama seperti di AS dan Eropa. Mereka berpikir Indonesia punya huruf yang berbeda seperti Thailand (อักษรไทย), India (देवनागरी), atau Jepang (ひらがな).

Paling menarik adalah ketika saya bertemu teman-teman Hispanik. Teman saya dari Kolombia, Emma Pabon, mengatakan saya adalah satu-satunya orang Asia yang namanya bisa diucapkan dengan mudah. Meski nama saya bahasa Portugis dan dia berbahasa Spanyol, keduanya tetap mirip. "Apa kamu dari Brasil?" adalah pertanyaan umum yang sering diajukan. Dan saya akan membalas kira-kira, "saya dari Indonesia sebetulnya, tapi nama saya memang ada hubungannya dengan Brasil."

Di samping tiga hal itu, mungkin dengan melihat wajah saya, kadang orang menebak-nebak apakah saya datang dari Amerika Selatan dan mencoba memulai percakapan dalam bahasa Spanyol. "Habla Español?" Ini terjadi di minimarket dan pinggir jalan. Saya suka dengan bahasa Spanyol tapi untuk saat ini saya tidak bisa bahasa itu. 

Saya melihat di Indonesia, "Rio" bukanlah nama selazim "Joko", "Rizky" atau "Dani". Lalu kenapa orangtua saya memberikan nama ini? Sebagai gambaran, saya punya dua latar belakang budaya berbeda. Ayah saya setengah Ambon (campuran Melayu-Papua, kira-kira Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik) dan setengah Sunda (Melayu). Sementara garis ibu saya sepenuhnya Sunda dari Tasikmalaya dan Sumedang. Kenapa mereka tidak memberikan nama Sunda layaknya "Asep" atau "Andri?"

Jadi campuran seperempat Ambon mungkin berhubungan dengan nama saya. Sebagai catatan, Portugal adalah orang Eropa pertama yang datang ke Ambon pada 1512, sebelum Belanda pada 1605. Ketika zaman perdagangan dan penjajahan, banyak orang Ambon yang kawin campur dengan orang Eropa. Tapi sejarah ini rupanya juga tidak berhubungan dengan nama saya. 

Jadi "Rio" keluar begitu saja? Tidak. Saya sebetulnya dinamai berdasarkan kota Rio de Janeiro di Brasil. Inspirasinya datang dari ayah saya, seorang dewasa muda pada 80-an, jatuh cinta dengan lagu dari kuintet Jerman, Trio Rio. Single mereka mengenai tiga kota gemerlap "New York, Rio, Tokyo" jadi nomor tiga di tangga lagu Jerman pada 1986 dan akhirnya menjadi kesukaan ayah saya.  

Ayah saya sangat menyukainya sampai-sampai dia menggunakan "Rio" sebagai nama udara ketika dulu main radio amatir (atau yang lazim disebut nge-break). Ketika inilah, dengan nama "Rio" ayah saya bertemu ibu yang sepakat mewarisi saya nama itu.  

Itulah sejarah nama saya. Lagu ini punya aspek New York dan Tokyo juga. Saya sudah berkesempatan ke kota New York dua tahun lalu dan lagi dalam waktu dekat selama saya tinggal di AS. Tapi Tokyo? Saya harus beli tiket pesawat ke sana!

Dan inilah lagunya, selamat berjoget!


Comments

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM